Nol Kilometer

Leave a comment

Setiap berangkat dari rumah, saya selalu menekan tombol pada speedometer. Tombol itu dengan sigap menghapus sederet angka. Kembali ke nol. 000.00 km.

Dan hari pun baru. Mulai dari nol. Saat pulang, saat kembali ke nol.

Rumah adalah titik nol. Tempat semua kembali. Ya letih, penat, dan suka cita. Tempat semua dimulai.

Matahari selalu mengantar sinar baru saban paginya. Maka wajar jika saya menyambutnya dengan semangat kebaruan. Usia saya selalu baru setiap hari. Maka wajar jika orang-orang yang saya jumpai di hari itu menatap saya yang baru, saya yang tidak sama dengan kemarin, saya yang bukan penuaan dari bayi saya sendiri.

Yang kemarin sudah lewat begitu kembali ke nol kilometer. Perjalanan panjang kemarin sudah selesai begitu masuk rumah, begitu mengendap di larutan malam.

Yang hari ini adalah perjalanan dari nol. Menuju ke entah. Dan setiap hari memberi pengalaman berbeda, tergantung berapa kilometer dan bagaimana cara saya menempuhnya. Semakin banyak kilometer tercatat di kilometer, semakin berwarna hidup saya hari itu.

Namun, seberapa panjang pun perjalanan itu, sehebat-hebatnya pengembaraan hari itu, begitu memasuki gerbang rumah, saat itu juga pengembaraan itu usai. Kembali ke nol. Kembali ke kekosongan. Kembali ke nol kilometer.

Advertisements

Denyut Itu

4 Comments

Baru pulang dari rumah sakit, gatel jari-jari ini hendak menumpahkan isi hati. Hati yang berbunga-bunga. Sebuah kabar sangat istimewalah penghantarnya. Istri saya hamil. Sabtu lalu, di hari ulang tahunnya, hasil laboratoriumnya menorehkan tanda positif untuk kandungannya. Sayang, saya tidak bisa menemaninya di hari yang indah itu.

Baru siang ini saya bisa menemaninya periksa ke dokter kandungan. Kemarin siang kami sudah janjian dengan dokter yang sudah saya kenal ini, kakak kelas saya di De Britto. Nomor 15 kami kantongi sebagai urutan antrian. Diguyur hujan lebat, kami sabar mananti giliran. Sejak datang pukul 13.00, baru dua setengah jam kemudian kami dipanggil masuk ruang periksa. Maklum, di sela aktivitasnya memeriksa perut-perut buncit pasiennya, panggilan dari kamar bedah tak bisa ditolak sang dokter. Ada pasien butuh operasi mendadak.

“Nah, gene ya isa!” pekik sang dokter disusul tawanya yang lebar. Nah, ternyata bisa hamil, begitu ucapnya. Ya, bulan Oktober lalu kami sempat datang padanya karena istri saya mengeluhkan perutnya. Nihil. Tak ada tanda-tanda kehamilan. Sang dokter meminta kami bersabar, dan menawari terapi untuk mempercepat kehamilan. Terapi? Ya. Saran itu disodorkannya mengingat istri saya pernah keguguran empat bulan yang lalu, sebulan setelah kami menikah.

Sri Widayanto, Sp OG, dokter tersebut. Laki-laki, penuh canda. Saat istri saya mengantri obat, saya kembali ke ruang pemeriksaan sembari menanyakan hasil USG yang tadi belum sempat kami tanyakan.

4W3D. Empat minggu 3 hari, usia anak kami di rahim ibunya.

“Lha kok cilik banget anakmu. Ming 12 mm,” hardiknya. Waduh, kaget juga saya. Kok kecil amat ya. Habis itu, dia segera menyambarkan mulut, lha namanya juga janin, masak mau 5 meter. Hahaha. Dia ketawa keras-keras.

Saya tertegun. Istri saya hamil. Hari perkiraan lahirnya (HPL) 31 Juli 2009. “Bintange Leo. Keras anakmu,” bilang Dokter Wid. Saya tak langsung ngecek, apa benar tanggal itu Leo. Yang langsung membuat saya tersedak adalah istri saya. Pasti sifat itu menurun dari kami, dua manusia keras yang bakal menjadi orangtuanya.

Kami pulang dalam sunyi. Hati kami bersorak-sorai, namun kami tak bersuara. Sebuah proses kehidupan baru sedang bersemi di dalam rahim istri saya, yang bertumbuh di dalam hati kami. Selamat datang, Nak. Mas Oka, yang kini bersemayam di surga, pasti menemanimu di kandungan ibu.

Resolusi: Memilih Mendalam

3 Comments

Untuk Ovik, istriku: cintamu api hidupku

Dua hari lalu ulang tahun istimewa saya. Ulang tahun pertama sejak kami menikah. Ulang tahun pertama sejak menginjak usia kepala tiga. Paruh waktu yang membawa saya kepada permenungan mendalam: bagaimana ke depan.

Hidup saya menggendong beberapa predikat: suami, wartawan, penulis, editor, dan karyawan sebuah perusahaan.

Sebagai karyawan, karir saya menaik. Untuk saya, puncak karir sebagai karyawan sudah saya capai dalam usia muda. Masih tersedia banyak jenjang untuk meniti karir ke atas, sampai ke puncak berikutnya. Asal saya bekerja secara benar, berprestasi, target terpenuhi, dan perusahaan menjadi maju, eskalator kenaikan jabatan pasti saya genggam.

Sebagai editor, wartawan, dan penulis, karir saya mendalam. Bukan menaik. Ukuran keberhasilan profesi tersebut bukan pada jabatan, tetapi pada karya. Bobot karya akan menentukan seberapa dalam karir kepenulisan saya. Semakin berisi, semakin saya mendapat tempat sebagai penulis. Popularitas, keterkenalan, hanya efek belaka, bukan tujuan.

Demikian juga sebagai suami. Meski ini bukan profesi, bukan pekerjaan, namun status ini pun menyediakan jenjang karir. Juga bukan menaik, melainkan mendalam. Keberhasilan menjadi suami, sejauh referensi yang saya baca, juga pembacaan atas pengalaman banyak orang yang sudah menikah, terletak pada bagaimana ia mampu masuk ke dalam relung ruang keluarga secara total. Semakin hari semakin dalam, semakin rekat.

Saya merenungi benar panggilan hidup saya ini. Di saat yang tepat, di waktu yang kuat. Supaya hidup saya makin berarti, makin berguna, dan makin pada tempat-Nya.

Jika memilih ke atas, saya kehilangan kesempatan untuk menambah bobot hidup. Jika memilih ke dalam, saya kehilangan kesempatan untuk mengibarkan harum wangi. Jika saya tidak memilih keduanya, saya kehilangan kesempatan untuk menjawab panggilan-Nya.

Saya bertanya pada saya.

Dan jelas sekali suara hati itu. Mendalam, bukan menaik. Ke dalam, bukan ke atas. Meresap, bukan mencuat. Sebab, di sana ada mata air kedamaian, tempat benih-benih kebahagiaan bersemai.

Saya mau di sana. Di kedalaman itu. Sejak sekarang.

Paradigma: Apa Itu Cara Pandang?

1 Comment

Sebuah undangan sangat resmi mengantar saya ke sebuah forum bergengsi di Balai Senat Universitas Gadjah Mada. Forum itu bernama “Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada”. Agenda rapat hanya satu: mendengarkan pidato pengukuhan Dr Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA, MPhil sebagai guru besar antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Sangat menarik tema pidato yang dibawakan ahli strukturalisme Levi-Strauss ini: Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya; Sketsa Beberapa Episode. Jauh lebih menarik ketimbang menggubris hari pahlawan yang hari ini diperingati dengan upacara bendera sangat kering di berbagai instansi. Tentu, ketertarikan ini sangat dipengaruhi oleh paradigma saya, cara pandang saya, tentang sesuatu yang bernama kepahlawanan. Bagi saya, tema kepahlawanan sudah usang. Heroisme hanyalah busa pemanis bagi mereka yang tak percaya diri.

Profesor Heddy memulai paparan 32 halamannya dengan menyodorkan kritik terhadap ilmu-ilmu sosial-budaya di Indonesia. Disebutnya, mengutip Prisma, 1994, secara teoritis dan metodologis, ilmu sosial-budaya di Indonesia tidak banyak mengalami perkembangan. Berbagai kemunculan hasil penelitian tidak mampu mendorong munculnya kajian kritis atas teori serta metode yang ada. Arah perkembangannya pun tidak jelas. Tidak ada sumbangan nyata untuk mengatasi berbagai masalah sosial-budaya. Para ilmuwan sosial-budaya dinilai masih mengawang-awang, suka menghambur-hamburkan pernyataan abstrak, tidak membumi.

Karenanya, menurut Heddy, diperlukan paradigma baru untuk membenahi situasi tersebut. Dan gagasan tentang paradigma yang mau tidak mau wajid disitir adalah pandangan Thomas Kuhn, sebagaimana tertoreh di bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1970). Kata Kuhn, perubahan dalam ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah perubahan paradigma atau cara memancang suatu persoalan. Pandangannya mencakup dua hal, sebagaimana ditafsirkan oleh Newton-Smith (1981). Pertama, generalisasi simbolis milik bersama, yakni anggapan-anggapan atau asumsi-asumsi teoritis pokok yang diyakini bersama, yang tidak dipertanyakan lagi kebenarannya. Kedua, model-model, yakni analogi atau perumpamaan mengenai gejala yang dipelajari dan disepakati sebagai alat perantara (heuristic device) untuk melakukan penelitian.

Ketiga, nilai-nilai, yakni bahwa komunitas-komunitas ilmuwan pada dasarnya menganut nilai-nilai tertentu dalam kegiatan ilmiahnya. Keempat, prinsip-prinsip metafisis, yakni asumsi-asumsi yang tidak perlu diuji tetapi menentukan arah penelitian. Kelima, masalah-masalah konkret, yakni masalah-masalah yang dipelajari beserta cara-cara penyelesaiannya.

Agak sulit mengurai soal ini karena istilah paradigma sangat jarang digunakan di kalangan ilmuwan sosial-budaya, demikian hadang Heddy menjawab kesanksian penerapan istilah ini di kalangannya.

Meski sulit, Heddy berusaha menembusnya dari berbagai pintu. Ia meminjam pisau Cuff dan Payne, pinjam sabit antropolog Inggris EB Tylor tentang evolusi kebudayaan (yang berlangsung dalam tiga tahap: savagery, barbarism, dan civilization) yang kemudian disempurnakan oleh LH Morgan. Namun, oleh White, teori keduanya ini dianggap bersifat subyektif, dan technological bias-nya begitu kuat.

5 November 1993, Titik Balik Hidup

2 Comments

Makasih buat temen-temen Kelas I-6 dan kelas-kelas lain SMA Kolese de Britto angkatan 1996: Setiawan Chandra, Probo Sidhi Asmoro, Ario Nirmolo, Alex Vitadi, Robby Cahyadi, Rudi Chinmi, Anang, Mister Untu, Robert, Eko Put, ….

Lima belas tahun sudah peristiwa itu terjadi. Saya terkapar di jalan raya setelah dihajar mobil dari depan. Hendak berangkat sekolah ketika itu, pagi 5 November 1993. Baru kelas 1 SMA Kolese de Britto.

Motor saya Suzuki RC 100 ringsek. Mesin pecah, bodi lumat. Kaki saya tak kalah ajurnya. Kaki kanan remuk tulang keringnya. Tulang paha juga patah. Yang lain utuh. Saya tersadar, adik cewek saya yang saya boncengkan tak luka sedikit pun. Aneh, sekaligus bersyukur.

Jalan Kaliurang Km 8 pagi itu menjadi riuh. Banyak orang merubung dan menolong saya. “Bawa ke Sardjito saja.” Tidak, kata saya tegas-tegas. Sardjito adalah rumah sakit daerah di Jogja. Milik pemerintah. Saya menolak dibawa ke sana. Saya ingin hidup, ujar saya memberi alasan penolakan.

Ke Panti Rapih saja. Mereka mengangguk. Saya segera diusung ke mobil sedan yang sudah mereka siapkan. Ups, pendek banget mobil itu. Saya mesti merunduk dengan kaki dijepit kayu penahan. Belum terasa sakit waktu itu.

Rasa sakit yang begitu ngilu baru saya rasakan ketika tiba di Unit Gawat Darurat RS Panti Rapih, sekira 5 km dari lokasi kejadian. Ibu saya, yang perawat di sana, dan berangkat 10 menit lebih awal dari sana, pun “menyambut” kedatangan saya yang terbaring tak berdaya. Seingat saya, ibu kaget namun tidak panik. Saya pun tidak membuat suasana tambah tegang. Semua rasa sakit saya tahan. Soal menahan rasa sakit, memang saya dikenal “jago” di keluarga. Jika tidak betul-betul sakit, saya tak pernah mengeluh, apalagi berteriak-teriak.

Tak lama, bapak datang dari rumah. Beliau berusaha menguatkan saya. Ya, saya kuat. Juga Oom Muji menyusul. Sesudahnya pamong sekolah juga datang.

Teman-teman ibu pun cekatan membantu. Toh begitu, tetap saja menghabiskan 3,5 jam untuk PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan). Syukurlah, untuk sementara, darah bisa disapih, luka bisa dijinakkan. Tapi tulang? Ia masih berantakan.

Dokter Pranjono (almarhum), ahli orthopedi terkemuka waktu itu, untunglah, bersedia menunda kepulangannya ke Solo. Di tengah jalan beliau memutuskan kembali ke Jogja. Menolong saya. Alhasil, pada Jumat Pon itu, seusai terik, saya diunggahkan ke ruang operasi. Tindakan darurat ini mesti dilakukan karena, pada saat transit, ibu sempat melontarkan pertanyaan retorik kepada saya, “Le, yen sikilmu ora isa ditulungi, diamputasi ora papa ya?” Ya, jawab saya, menegaskan jawaban batin ibu saya. Dalam benak ibu, dan saya paham, pilihan itu menjadi yang terbaik dalam situasi menyelamatkan jiwa saya.

Syukurlah. Dokter Pranjono, yang pincang karena menderita polio sejak kecil itu, telaten mengurai keporak-porandaan pecahan balung saya. Dengan tekun, beliau menjumput serpihan-serpihan tulang, menatanya sedemikian rupa, seperti menjodoh-jodohkan puzzel, hingga selamatlah kaki saya dari akhir yang terpisah.

Operasi penyelamatan sebelah kaki ini tak kurang lamanya. Menjelang petang barulah tubuh lunglai saya dicomot dari ruang bedah. Pengaruh bius tentu saja masih ada. Hmm, maka saya tak ingat betul berapa banyak saudara, teman, sahabat yang menunggu di luar. Yang saya ingat, malam sesudah itu menjadi malam yang begitu panjang untuk saya. Sepergi pengaruh bius, rasa sakit mendera tiada henti. Ngilu dan nyeri. Belum boleh minum pula. Tersiksalah malam itu. Leher kering menahan sakit dan haus. Lapar sih tidak. Cairan infus plus rasa perih yang begitu akut menghapus rasa itu.

Bangsal Albertus Kamar 1 menjadi rumah saya sampai 23 hari kemudian. Selama itu, saya tidak bisa ke mana-mana. Seluruh aktivitas mulai dari tidur, mandi, kencing, beol, menerima tamu, dan menyambut komuni saya lakukan di bed sempit itu. Jangankan turun, menggerakkan kaki saja tidak bisa. Kaki kanan saya digantung 30 cm di atas permukaan bed. Bengkak. Pen yang terjahit di tulang kering tidak boleh goyah. Platin yang menusuk tulang paha saya juga tidak boleh teroyak.

Perih dan pilu menjadi sahabat saya sehari-hari. Dan akhirnya kami memang akrab. Saya bisa menikmati rasa sakit itu sebagai pengingat betapa berharganya kesehatan. Saya menikmati saat-saat tak berdaya, ketika saya tergantung pada semua orang, ketika saya tidak bisa bertopang pada diri sendiri.

Berkat sakit itu pula, saya merasakan persaudaraan yang begitu kental dari teman-teman sekolah. Saban hari selalu ada yang menengok saya. Dan saban hari pula mereka selalu berurusan dengan satpam karena mereka memaksa bezoek di luar jam kunjung.

Bukan hanya menengok. Segepok catatan pelajaran pada hari itu juga mereka kirimkan. Mereka meminta saya tetap belajar. Mereka tidak mau, gara-gara sakit saya jatuh bodoh. Tapi, namanya juga sakit, siapa yang betah membaca materi pelajaran? Apalagi tidak semua tulisan teman saya bisa dibaca.

Kelak, dua bulan kemudian, ketika saya kembali ke sekolah setelah cukup puas beristirahat sebulan di rumah, rasa persaudaraan yang lain mereka tunjukkan dengan tulus. Setiap hari, secara bergantian, mereka mengantar saya pulang. Kalau sore harinya saya ada ekskul jurnalistik atau kegiatan sekolah lainnya, mereka pun dengan lapang menyediakan tempat untuk beristirahat. Saya boleh merebahkan badan di kamar kost mereka. Boleh minum dan makan dari jatah bulanan mereka. Boleh merepoti mereka…

Mengingat itu semua, saya begitu bersyukur atas kesempatan hidup yang Allah berikan kepada saya hingga sekarang. Atas orang-orang baik yang Allah kirimkan untuk menopang pincangnya hidup saya.

Luka jahitan di kaki saya sengaja tidak saya hapus, supaya saya bisa terus mengingat betapa saya dikelilingi oleh sahabat-sahabat sejati. Inilah alasan kenapa setiap ada acara kumpul-kumpul dengan teman-teman, saya selalu memprioritaskan untuk datang. Karena mereka saya ada.