Pilih yang Kanan, Cari yang Sepi

2 Comments

Sedang hiruk-pikuk, jalanan oleh para pemudik. Hari ini, enam hari menjelang Idul Fitri 1432 H. Kru-kru stasiun tv sudah mencokolkan diri di titik-titik eksotik. Mereka siap menakjubkan pemandangan kemacetan sebagai tayangan unggulan. Mereka siap menghebohkan keriuhan pasar tumpah sebagai tontonan tumpah iklan.

Rasanya, hari-hari seperti ini sudah menjadi puncak. Bagi yang berpuasa, lebaran adalah perayaan akan keberhasilan mengekang hawa nafsu, sujud paling dalam kepada Allah Sang Ilahi. Bagi yang memburuh, lebaran adalah puncak pengumpulan pundi-pundi; untuk diusung sebagian ke kampung halaman. Bagi yang miskin, lebaran adalah puncak nasib kesrakat; ndomblong meratapi diri kosong melompong.

Baiklah, rayakan saja. Di jalanan, di stasiun kereta, di bandara, di pelabuhan, di pusat-pusat perbelanjaan. Silakan, rayakan. Semua boleh merayakan, berhak merayakan, merasa wajib merayakan. Ya, rayakan saja.

Supaya semua turut merayakan, cara berikut ini boleh dijajal. Saya sudah, tatkala menjadi pemudik bersepeda motor Jakarta-Jogja.

“Pilih yang Kanan, Cari yang Sepi!”

Istilah tersebut saya dapat dari Sr Irmgardis, saat kami menjelajah Timor sekian tahun lalu. Sederhana, dan membekas di hati. Saya coba di sepanjang jalur mudik.

Tatkala bensin menipis, saya tak menepi ke kiri. Saya menyeberang ke kanan. Sepi, lebih cepat terlayani. Beda dengan pompa bensin sebelah kiri, yang dijubeli kendaraan, yang untuk antri saja perlu haus.

Pun saat ingin makan. Karena saya tidak puasa, makan menjadi ritual wajib untuk menjaga daya tahan tubuh. Tidak perlu menunggu lapar. 4-5 jam perjalanan, perut layak diisi. Dan selama di jalur mudik, warung makan bertebaran di mana-mana. Ada warung lawas, ada warung musiman. Semua mereka tentu berharap dagangannya laku.

Faktanya tak selalu begitu. Tak semua warung laku. Entah karena menu yang ditawarkan di spanduk tak menarik, atau tampilan warungnya yang tak mengundang selera, atau nama warung dan menunya tak direkomendasikan di situs-situs jejaring sosial, atau tempatnya tidak strategis, atau…

Setiap pedagang, saya mengingat pesan Sr Irmgardis, pasti ingin dagangannya laku. Supaya laku, mereka pasti membuat dagangannya seenak-sebagus mungkin menurut takaran mereka. Supaya laku, mereka pasti mencari lokasi paling strategis menurut cara pandang mereka.

Bahwa faktanya tak selalu begitu karena takaran mereka beda dengan takaran orang lain. Apa yang mereka yakini enak belum tentu seenak yang dibayangkan pembeli. Jadilah pembeli melengos sesuka hati.

Maka, belajar dari Sr Irmgardis itu pula, saya mencari warung yang sepi. Kali ini tujuannya untuk meratakan rejeki. Mereka juga butuh laku. Mereka juga butuh berlebaran. Yang sudah laku biarlah laku. Yang belum laku, berilah kesempatan untuk laku.

Bahwa kemudian saya mendapati menu yang mereka hidangkan tidak enak, entah keasinan, hambar, atau minumnya teh ampas yang tak puanassss, ini persoalan lain. Kali itu saya memang tak sedang berburu makan enak. Maka, mendapati makanan yang terhidang tak enak, siaplah hati saya. Toh, sesampai di kampung, begitu berlimpah makanan enak.

Pada musim lebaran kali ini, pemandangan seperti itu kiranya tetap ada. Selalu ada warung yang tak laku, berbanding terbalik dengan bus-kereta-pesawat-kapal yang berjubel penumpang meski pengelola sudah mencekik penumpang dengan tarif tinggi. Selalu ada warung di kanan jalan, yang karena orang enggan menyeberang, enggan melirik, enggan bersusah-payah, tak mendapat cipratan THR.

Pilih yang kanan, cari yang sepi. Saya percaya, ada yang mau melakukannya. Sediakan diri menjadi penumpang becak, sesampai di stasiun tujuan. Siapa tahu, Rp 20.000 tarif yang kita sodorkan cukup untuk membeli sirup dan nastar hidangan hari raya. Isi bensin di pedagang eceran, siapa tahu receh yang kita ulungkan sebagai “bathi” jualan mereka cukup untuk menebus motor yang mereka gadaikan.

Selamat berlebaran.

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Advertisements

Berlebaran di Kampung

Leave a comment

Ini lebaran pertama bersama istri. Ada perbedaan tradisi di antara kami soal cara merayakan hari kemenangan umat Islam ini. Karena terlahir di keluarga yang berada di garis “tua”, maka istri saya terbiasa dikunjungi saudara-saudara. Ia menjadi tuan rumah.

Beda dengan saya. Saya terlahir di antara dua garis itu. Di pihak bapak, kami “tua”. Di pihak ibu, kami “muda”. Tapi, lepas dari tua atau muda, kami dibiasakan untuk berkunjung ke rumah saudara. Ya ke yang tua, ya ke yang muda, kami sambung tali silaturahmi.

Seperti lebaran ini.

Saya ajak istri berkunjung ke tetangga kiri-kanan. Menurut data, ada 130 rumah di lingkungan kami yang wajib kunjung. Lemes istri saya, tidak bisa membayangkan capeknya. Untunglah, di antara sekian banyak rumah itu, sebagian adalah keluarga muda. Biasanya rumah mereka kosong. Entah ditinggal mudik, entah “tutup pintu”. Alhasil, kami tidak perlu mendatangi semua.

Toh, itu tak serta-merta melegakan kami. Siang yang begitu terik di lebaran hari pertama, memaksa kami untuk memicingkan mata, menahan sinar matahari, dan bersahabat dengan debu yang beterbangan di sepanjang jalan yang kami lalui. Kami berjalan kaki di paruh pertama. Baru di paruh kedua kami pulang dan mengambil motor. Seperti dipanggang rasanya.

Kebiasaan baru untuk istri saya. Terlebih rumah tetangga yang tua-tua kami kunjungi. Rute kami: Pakde Zaini, Mbah Paidi, Mbah Sakijo, Pakde Bejo, Mbokde Suto, Mbah Yoga, Pak Dukuh, Mbah Mitro, Mbah Joyo, Mbah Min, Mbah Ranto…. Pakde Endro, Pakde Heni, Pakde Gito, Pakde Sudi, Pak Kamsi, Pak Ponijo, Pakde Prapto, Mbah Kaum, Mbah Dirjo… Itu hanya sebagian.

Mbah Sakijo depan rumah kami. Rumahnya beralaskan tanah, tak punya WC dan kamar mandi. Ia menggelar tikar. Suguhan favoritnya adalah tape ketan dan emping. Ini kesukaan saya. Tapi, karena baru keluar rumah, dan perut saya masih penuh, saya tak menyantapnya. Baru di rumah Mbah Min, kakaknya, di ujung kampung sana, saya melumat tape lezat seperti itu.

Bersilaturahmi di kampung selalu menjadi saat-saat yang menggetarkan bagi saya. Sembari uluk salam, “Matur Mbah… sowan kula ingkang sepisan minangka bekti kaliyan panjenengan. Ingkang kaping kalih nyuwun agunging samudra pangaksami awit klenta-klentu kula salebetipun setunggal tahun punika. Lan ingkang kaping tiga, nyuwun pangestu mugi-mugi Gusti ngijabahi gegayuhan kula sa’ brayat…”, saya bisa mendengarkan denyut jantung mereka yang syarat akan pengalaman hidup.

Sebagian besar tetangga saya adalah saudara. Masih ada hubungan kekerabatan dari garis nenek. Sebagian besar dari mereka petani. Miskin, meski mereka merasa berkecukupan. Kendaraan mereka sepeda, meski anak-anak mereka kemlinthi bermotor.

Dari mereka saya selalu menyerap energi kehidupan. Tentang kerja keras, kesederhanaan, ketabahan, bersahabat dengan alam yang keras, dan pasrah kepada penyelenggaraan Ilahi.

Dari mereka saya bercermin, betapa hidup ini selalu layak untuk disyukuri. Betapa pun sulitnya.

Semangat-semangat itu yang hendak saya kenalkan kepada istri saya. Supaya ia makin siap hidup di kampung, di antara baru, di antara baja. Kami ingin tangguh seperti mereka.

Semoga tahun depan kami masih boleh menatap keriput wajah mereka, menatap bahu perkasa mereka, dan berjabat tangan erat-erat… Bercengkerama lagi di atas daun pandan, ditemani tape ketan dan emping melinjo…