Makasih buat temen-temen Kelas I-6 dan kelas-kelas lain SMA Kolese de Britto angkatan 1996: Setiawan Chandra, Probo Sidhi Asmoro, Ario Nirmolo, Alex Vitadi, Robby Cahyadi, Rudi Chinmi, Anang, Mister Untu, Robert, Eko Put, ….

Lima belas tahun sudah peristiwa itu terjadi. Saya terkapar di jalan raya setelah dihajar mobil dari depan. Hendak berangkat sekolah ketika itu, pagi 5 November 1993. Baru kelas 1 SMA Kolese de Britto.

Motor saya Suzuki RC 100 ringsek. Mesin pecah, bodi lumat. Kaki saya tak kalah ajurnya. Kaki kanan remuk tulang keringnya. Tulang paha juga patah. Yang lain utuh. Saya tersadar, adik cewek saya yang saya boncengkan tak luka sedikit pun. Aneh, sekaligus bersyukur.

Jalan Kaliurang Km 8 pagi itu menjadi riuh. Banyak orang merubung dan menolong saya. “Bawa ke Sardjito saja.” Tidak, kata saya tegas-tegas. Sardjito adalah rumah sakit daerah di Jogja. Milik pemerintah. Saya menolak dibawa ke sana. Saya ingin hidup, ujar saya memberi alasan penolakan.

Ke Panti Rapih saja. Mereka mengangguk. Saya segera diusung ke mobil sedan yang sudah mereka siapkan. Ups, pendek banget mobil itu. Saya mesti merunduk dengan kaki dijepit kayu penahan. Belum terasa sakit waktu itu.

Rasa sakit yang begitu ngilu baru saya rasakan ketika tiba di Unit Gawat Darurat RS Panti Rapih, sekira 5 km dari lokasi kejadian. Ibu saya, yang perawat di sana, dan berangkat 10 menit lebih awal dari sana, pun “menyambut” kedatangan saya yang terbaring tak berdaya. Seingat saya, ibu kaget namun tidak panik. Saya pun tidak membuat suasana tambah tegang. Semua rasa sakit saya tahan. Soal menahan rasa sakit, memang saya dikenal “jago” di keluarga. Jika tidak betul-betul sakit, saya tak pernah mengeluh, apalagi berteriak-teriak.

Tak lama, bapak datang dari rumah. Beliau berusaha menguatkan saya. Ya, saya kuat. Juga Oom Muji menyusul. Sesudahnya pamong sekolah juga datang.

Teman-teman ibu pun cekatan membantu. Toh begitu, tetap saja menghabiskan 3,5 jam untuk PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan). Syukurlah, untuk sementara, darah bisa disapih, luka bisa dijinakkan. Tapi tulang? Ia masih berantakan.

Dokter Pranjono (almarhum), ahli orthopedi terkemuka waktu itu, untunglah, bersedia menunda kepulangannya ke Solo. Di tengah jalan beliau memutuskan kembali ke Jogja. Menolong saya. Alhasil, pada Jumat Pon itu, seusai terik, saya diunggahkan ke ruang operasi. Tindakan darurat ini mesti dilakukan karena, pada saat transit, ibu sempat melontarkan pertanyaan retorik kepada saya, “Le, yen sikilmu ora isa ditulungi, diamputasi ora papa ya?” Ya, jawab saya, menegaskan jawaban batin ibu saya. Dalam benak ibu, dan saya paham, pilihan itu menjadi yang terbaik dalam situasi menyelamatkan jiwa saya.

Syukurlah. Dokter Pranjono, yang pincang karena menderita polio sejak kecil itu, telaten mengurai keporak-porandaan pecahan balung saya. Dengan tekun, beliau menjumput serpihan-serpihan tulang, menatanya sedemikian rupa, seperti menjodoh-jodohkan puzzel, hingga selamatlah kaki saya dari akhir yang terpisah.

Operasi penyelamatan sebelah kaki ini tak kurang lamanya. Menjelang petang barulah tubuh lunglai saya dicomot dari ruang bedah. Pengaruh bius tentu saja masih ada. Hmm, maka saya tak ingat betul berapa banyak saudara, teman, sahabat yang menunggu di luar. Yang saya ingat, malam sesudah itu menjadi malam yang begitu panjang untuk saya. Sepergi pengaruh bius, rasa sakit mendera tiada henti. Ngilu dan nyeri. Belum boleh minum pula. Tersiksalah malam itu. Leher kering menahan sakit dan haus. Lapar sih tidak. Cairan infus plus rasa perih yang begitu akut menghapus rasa itu.

Bangsal Albertus Kamar 1 menjadi rumah saya sampai 23 hari kemudian. Selama itu, saya tidak bisa ke mana-mana. Seluruh aktivitas mulai dari tidur, mandi, kencing, beol, menerima tamu, dan menyambut komuni saya lakukan di bed sempit itu. Jangankan turun, menggerakkan kaki saja tidak bisa. Kaki kanan saya digantung 30 cm di atas permukaan bed. Bengkak. Pen yang terjahit di tulang kering tidak boleh goyah. Platin yang menusuk tulang paha saya juga tidak boleh teroyak.

Perih dan pilu menjadi sahabat saya sehari-hari. Dan akhirnya kami memang akrab. Saya bisa menikmati rasa sakit itu sebagai pengingat betapa berharganya kesehatan. Saya menikmati saat-saat tak berdaya, ketika saya tergantung pada semua orang, ketika saya tidak bisa bertopang pada diri sendiri.

Berkat sakit itu pula, saya merasakan persaudaraan yang begitu kental dari teman-teman sekolah. Saban hari selalu ada yang menengok saya. Dan saban hari pula mereka selalu berurusan dengan satpam karena mereka memaksa bezoek di luar jam kunjung.

Bukan hanya menengok. Segepok catatan pelajaran pada hari itu juga mereka kirimkan. Mereka meminta saya tetap belajar. Mereka tidak mau, gara-gara sakit saya jatuh bodoh. Tapi, namanya juga sakit, siapa yang betah membaca materi pelajaran? Apalagi tidak semua tulisan teman saya bisa dibaca.

Kelak, dua bulan kemudian, ketika saya kembali ke sekolah setelah cukup puas beristirahat sebulan di rumah, rasa persaudaraan yang lain mereka tunjukkan dengan tulus. Setiap hari, secara bergantian, mereka mengantar saya pulang. Kalau sore harinya saya ada ekskul jurnalistik atau kegiatan sekolah lainnya, mereka pun dengan lapang menyediakan tempat untuk beristirahat. Saya boleh merebahkan badan di kamar kost mereka. Boleh minum dan makan dari jatah bulanan mereka. Boleh merepoti mereka…

Mengingat itu semua, saya begitu bersyukur atas kesempatan hidup yang Allah berikan kepada saya hingga sekarang. Atas orang-orang baik yang Allah kirimkan untuk menopang pincangnya hidup saya.

Luka jahitan di kaki saya sengaja tidak saya hapus, supaya saya bisa terus mengingat betapa saya dikelilingi oleh sahabat-sahabat sejati. Inilah alasan kenapa setiap ada acara kumpul-kumpul dengan teman-teman, saya selalu memprioritaskan untuk datang. Karena mereka saya ada.