Awas Merapi: Gowes Kaliurang

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

 

Bukan menantang. Rasa penasaran saja yang memacu semangat kami untuk tetap menggowes ke Kaliurang, sisi selatan Merapi, Minggu, 24 Oktober kemarin. Status salah satu gunung berapi teraktif di dunia itu sedang “siaga”.

Seloroh seorang kawan: “Karena kita pesepeda, maka kita harus mendekat.” Lho? “Iya, kalau kita peneropong atau fotografer, kita bisa melihat dari kejauhan.”

Memang, rasanya tidak ada apa-apa. Pengunjung rada berkurang, tamu penginapan menyusut, tapi penduduk tetap beraktivitas seperti biasa. Mbak Gin, pemilik warung langganan para penggowes di barat Tugu Urang, tetap bercengkerama dengan kami. “Ora ana apa-apa, Mas,” ia meyakinkan. Tidak ada apa-apa katanya. Lalu saya menyantap nasi+telor mata sapi+2 tempe+sayur terong+teh panas (pagi kemarin, susu sapi segar habis lebih awal). Rp 6.000 membungkus keceriaan.

Tidak lega dengan pernyataan Mbak Gin, saya pamit untuk menggowes lebih mendekati gunung. Saya melewati rumah Win, teman saya, yang tetap sibuk dengan bisnis persewaan mobilnya. Taman Kanak-Kanak tetap ada yang berkunjung. Kalau pun terasa ada sesuatu yang rada serius itu karena ada sebuah OB Van milih salah satu stasiun televisi nasional yang bersiap mengudarakan siaran langsung.

Sepeda saya kayuh ke arah Tlogo Putri, terminal akhir pengangkut umum jurusan Jogja-Kaliurang. Bakul-bakul oleh-oleh tetap buka seperti biasa. Beberapa pengunjung menikmati flying fox. Sopir bis wisata tidur di kolong bis menunggu pencarter kendaraannya. Kereta wisata juga hilir mudik mengangkut penumpang keliling objek wisata.

Melewati Wisma Puas, saya menyapa Bonifasia, seorang mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa asal Lampung yang sedang rehat acara. Dia bersama lebih dari seratus teman berkegiatan biasa tanpa risau oleh status Merapi.

Yang risau justru pedagang jadah tempe dan pisang di persimpangan beringin. Ketika saya membungkus penganan khas Kaliurang itu, mereka mengeluh soal sepinya pengunjung setelah media gencar memberitakan kabar tentang Merapi.Padahal, bagi warga Kaliurang, kata mereka, kondisi Merapi tidaklah membuat mereka khawatir.

Meski begitu, menurut Roni, pemilik kios koran di depan Pegadaian Pakem, banyak warga Kaliurang yang telah mengontrak rumah di Pakem, sekira 8-10 km di “bawah” Kaliurang. Ini sebentuk antisipasi untuk tidak dijejalkan di barak pengungsian nantinya. Roni, bersama Reni kembarannya, adalah agen koran besar di seputaran Pakem yang kerap jadi rujukan informasi.

Dari atas sepeda saya merasakan, dengan status “awas Merapi” hari ini, perlu ada gerak cepat untuk memperbaiki jalur evakuasi. Beberapa jalan berlubang dan bergelombang akibat beban kendaraan pengangkut material (pasir dan batu gunung) yang terlalu berat. Sayang jika untuk kepentingan pemodal besar penambang pasir jalan-jalan diperbaiki, sementara untuk rakyat yang sedang terancam keselamatannya, jalan-jalan dalam keadaan rusak.

PS: teman-teman penggowes, mohon menambahkan informasi berkaitan dengan jalur evakuasi, pos-pos pengungsian, tim tanggap bencana, dll. suwun

 

Yogyakarta, 25 Oktober 2010

 

Advertisements

Gowes Mengurangi Risiko Bencana

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

Artikel saya “Pesan Damai Pesta Sepeda” yang dimuat Kompas, 11 Oktober lalu berbuah berkah. Undangan pertemanan di akun Facebook saya berdatangan dari teman-teman pesepeda. Girangnya hati saya.

Lebih girang lagi tatkala salah seorang teman baru, Mas Bimo, berlega hati mengirimi saya tautan ini http://forum.b2w-jogja.web.id/index.php?topic=2833.0. Segera saya mengirim sms ke Mas Thomas, si empunya gawe. Bersambut.

Pagi ini, Sabtu 16 Oktober, tiga puluh menit selepas pukul enam pagi, Waltz Hybrid saya akur mengusung saya ke titik pertemuan di Monjali, Monumen Jogja Kembali. Panitia sudah menunggu di halaman parkir timur, dekat kios penjaja souvenir.

Segera menerakan tanda hadir. Silih atasnya adalah secarik kertas putih, beberapa brosur, dan sebuah kaos hitam bertuliskan “Masyarakat Kuat Bencanane Lewat; eling lan waspada ngadepi bebaya”. Masyakarat kuat, bencana lewat; ingat dan waspada menghadapi bahaya.

Saya mendapatkan kertas bertuliskan (bahasa dan pengetikan sesuai teks asli):

——-

III. Regu Banjir: Banjir adalah bencana musiman dan diperburuk dengan adanya perubahan iklim global sekarang ini. Yogyakarta dilalui oleh beberapa sungai yang berpotensi mengakibatkan banjir. Sistem drainase yang buruk juga mengakibatkan banjir di beberapa daerah. Tempat-tempat yang akan anda tuju adalah titik-titik rawan banjir di Yogyakarta. Sebarkan poster dan tips siaga bencana di daerah-daerah tersebut.

Anda harus menuju ke daerah-daerah yang digambarkan dalam petunjuk di bawah ini:

  1. Daerah dimana Romo Mangun berkarya
  2. Daerah Universitas negeri tempat dulu para calon guru menimba ilmu
  3. Dulu adalah area Pesanggrahan Hamengku Buwono VII

——-

Usai memecahkan teka-teki yang terkandung dalam petunjuk tersebut, kami bergegas ke arah kota. Menyusuri Jalan Nyi Tjondroloekito, sepeda kami lajukan perlahan. Tujuan pertama kami adalah Perkampungan Code di Gondolayu. Mas Falon jadi pemimpin perjalanan. Teman-teman lain, yang baru saya kenal tadi, membuntuti di belakang. Kami berkenalan sembari menggowes sepanjang Monjali –Blunyah Gede – Jetis – Tugu – Code – Terban – Bundaran UGM – Samirono – Demangan – Ambarrukmo – Gowok – Sorowajan – Balaikota – Pusdalops PB.

Sampai di jembatan baru memasuki kampus UGM dari arah barat, kami berbelok ke kiri. Jalan kecil di samping jembatan kami pilih. Menurun amat curam, kami meluncur satu per satu. Hanya seorang yang tak berani menunggangi sepedanya. Ia menuntun saja. Maklum, sepedanya jenis fixie gear, yang sedang tren di Jogja. Sepeda itu tanpa rem. Perlu sedikit membungkuk untuk menghentikan putaran ban. Maka, tak mungkinlah membungkuk di turunan jika tak hendak terjungkal.

Mengenali Risiko Bencana

Pemandangan di bawah jembatan menakjubkan. Tepian sungai ini pas sekali untuk berpuisi, atau mendendangkan nyanyian air yang mengalir dari kaki Merapi itu. Ada beberapa gazebo di sana, tersebar di pinggiran kali, cocok untuk merebahkan penat. Pohon-pohon rindang juga berhimpun di bantaran.

Ini Kali Code. Di atas sana, warga menamai sungai ini Kali Boyong. Jika Merapi sedang menggelar hajatan, hembusan awan panasnya bertiup ke sini. Enam belas tahun lalu, awan panas yang dikenal dengan sebutan “wedus gembel” itu meluluhlantakkan Dusun Turgo, dusun paling atas di sisi barat daya Merapi, dan menewaskan 62 jiwa, yang sebagian di antaranya sedang menghadiri pesta perkawinan salah seorang warga.

Awan panas berkecepatan 300 km/jam dengan suhu di atas 800 derajat Celcius itu, selama ini, memang tak pernah berhembus sampai ke kota. Yang sampai hanyalah kiriman guguran lava yang menjelma menjadi bebatuan digelontor air. Curah hujan yang tinggi di daerah hulu itulah yang potensial membanjiri aliran kali ini.

Potensi bencana inilah yang menggerakkan Forum Pengurangan Risiko Bencana menggelar kegiatan bersepeda sambil membagikan brosur dan poster tentang hal-hal apa saja yang perlu diketahui masyarakat tentang pengurangan risiko bencana. Ada beberapa kelompok selain kelompok banjir yang saya ada di dalamnya. Ada kelompok gempa bumi, ada kelompok tanah longsor, ada kelompok angin. Semua bencana itu pernah menimpa Jogja, dari skala kecil hingga besar, dari yang tidak berkorban sampai yang menyita perhatian dunia internasional seperti gempa 5,9 Skala Richter pada 27 Mei 2006.

Di negeri rawan bencana ini, memang sebaiknya kita belajar tentang kebencanaan dan risikonya. Dengan mengenalinya, kita bisa memperkecil risiko yang diakibatkannya.  Dalam hal banjir, contohnya, risiko bisa diminimalkan dengan cara membangun kesadaran masyakarat untuk tidak membuang sampah di sungai. “Beberapa orang di sini masih suka melakukannya di dekat bendungan itu,” gerutu seorang warga Blunyah Gede sembari menunjuk gambar pada brosur yang saya sodorkan.

Monumen Kesadaran

YB Mangunwijaya, alias Romo Mangun, berhasil membangun monumen hidup tentang kesadaran atas risiko bencana ini. Di bawah jembatan Gondolayu, 300 meter sebelah timur Tugu Yogyakarta, pastor-novelis-arsitek-aktivis ini mendesain kawasan bantaran sungai sebagai tempat yang layak dihuni sekaligus aman dari bahaya banjir. Ia membangun rumah-rumah warga seturut kemiringan tebing. Lebih-lebih, kesadaran warga dalam menjaga lingkungan ia tanamkan betul. Alhasil, sepeninggal Romo Mangun, sedekade lalu, perkampungan itu terjaga nilai-nilai kebersihan  lingkungannya. Mas Heri, salah seorang warga, sembari menyantap sarapan di warung depan perpustakaan, bersaksi bahwa hingga kini kampung mereka tak pernah diluberi air.

Lain halnya cerita Suster Mariane CB, pengasuh Asrama Putri Stella Duce, Samirono, saat kami menyambangi tempat itu dalam perjalanan ke Universitas Negeri Yogyakarta –yang tak jadi kami singgahi– tadi. Asrama yang dihuni remaja usia SMA itu jadi pelanggan tetap banjir saat hujan mengguyur. Padahal, kali di samping barat asrama yang terletak persis di belakang Asrama Syantikara itu hanyalah kali kecil dengan lebar sekira 2 meter. Hulunya pun hanya di Lembah UGM, tak sampai 1 km di atasnya. Posisi asrama yang lebih rendah dari aliran sungai menyebabkan air kerap meluber hingga ke kamar-kamar. Sejak tahun 1995-an, ketika saya kerap dolan ke sana, hingga kini, bencana itu jadi sahabat mereka. Dan bukan hanya mereka. Warga Klitren, sekira 1 km ke arah hilir, nyaris selalu jadi bintang pemberitaan media karena jadi pelanggan tetap banjir oleh sungai yang sama. Kondisi ini diperparah dengan keteledoran warga membangun Balai RW persis di atas kali; sebuah preseden buruk penataan lingkungan yang amat sembrono.

Sebelum menyudahi perjalanan di Pusdalops PB (Pusat Pengendalian dan Operasi Penanggulangan Bencana; ini juga preseden buruk berbahasa dalam hal penyingkatan istilah yang tidak konsisten), kami singgah di pos terakhir sesuai perintah secarik kertas yang kami lipat. Tempat itu adalah Pesanggrahan Ambarrukmo, yang gandhog tengen-nya telah dikepras untuk pendirian Ambarrukmo Plaza. Padahal itu tempat bersejarah, tempat beristirahat Sultan dan kerabat Kasultanan Yogyakarta, tempat Sultan HB VII wafat di tahun 1921. Sekarang, situs cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia No. PM. 25/PW.007/MKP/2007 itu makin terbengkalai dikepung pagar proyek pembangunan kembali Hotel Ambarrukmo.  

Tugas Mengingatkan

Kaitannya dengan gerakan ini? Terang ada. Faktanya, ruas jalan depan Hotel Ambarrukmo, 100 meter timur Plaza Ambarrukmo, selalu banjir jika hujan turun lebat. Air yang mengalir deras dari arah Jalan Perumnas, membludak begitu saja ke Jalan Solo. Drainase yang ada tidak memadahi menampung debit air yang besar. Bisa jadi bukan bangunan-bangunan modern itu yang jadi penyebab banjir, melainkan rantai pembangunan lainnyalah biangnya.

Jika pun bukan bukan penyebabnya, bolehlah kita mengingatkan para pembangun itu untuk menghitung dampak pembangunan yang dikerjakannya. Miris, contohnya, melintas di Jalan Kaliurang ruas Kentungan di kala hujan. Akibat pembangunan wilayah yang begitu brutal di kiri-kanan, jalan itu tak ubahnya kali. Orientasi pembangunan yang tidak ramah lingkungan akan membunuh kita.

Terima kasih kepada Forum Pengurangan Risiko Bencana dan Komunitas B2W (bike to work) yang telah menyelenggarakan kegiatan santai dan penuh kesan ini. Sambil bersepeda bisa menyusuri sungai, bertegur sapa dengan warga bantaran, dan menimba aneka kearifan alam.

Mari bersepeda.

Yogyakarta, 16 Oktober 2010

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Kurir Bersepeda

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

Teror kembali menghantui kita. Kamis, 30 September kemarin, bom kembali meledak di Jakarta. Uniknya, pembawa bom mengendarai sepeda ontel. Beda dengan biasanya yang mengendarai mobil atau berjalan kaki menenteng tas.

Ini menarik. Di tengah gencarnya kampanye bersepeda, seperti Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) dan  B2W (Bike to Work), alat transportasi yang pertama kali diperkenalkan oleh Baron Karl von Drais di Mannheim, Jerman, tahun 1817 ini digunakan untuk aksi terorisme. Memang, aksi teror bom menggunakan sepeda bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, konvoi kendaraan kemanusiaan internasional diguncang bom sepeda di Afghanistan.

Tulisan pendek ini tidak hendak membahas soal terorisme, yang narasi-narasi tentangnya tak kalah meneror. Tidak. Saya hanya ingin menulis soal sepeda. Sederhana saja, sepeda sebagai alat transportasi pesan. Lebih dari sekadar alat transportasi, alat angkut, tetapi pengangkut pesan.

Sepeda Pembawa Pesan

Jauh hari sebelum kita ribut soal revitalisasi sepeda, berikut “jalur khusus sepeda”, dan belakangan “ruang tunggu sepeda” di setiap lampu merah, kita pernah punya jalur sepeda. Tepatnya di Jakarta. Tepatnya lagi di ruas Harmoni-Kota, yang belakangan populer sebagai koridor I Trans Jakarta. Dulu bikeway, kini busway. Wartawan Sindhunata, yang hobi bersepeda, dan kini tinggal di Yogyakarta sebagai pastor, pernah menulis kisah ini di Kompas betapa tahun 1979 kala itu sepeda menjadi alat transportasi andalan warga kota tersebut. Bikeway juga pernah ada di ruas Gambir-Harmoni pada tahun 1950-1960-an. Sekali melaju bisa berjejer hingga enam sepeda. Saya bayangkan suasananya mirip Jalan Samas, Parangtritis, atau Imogiri, beberapa tahun lalu, sebelum “kredit tanpa uang muka” sepeda motor menjadi raja baru.

Ke belakang, kita juga pernah mengenal “sepeda pos”. Sebelum keberadaannya di ujung tanduk terhempas teknologi internet, dan tergeser perusahaan-perusahaan ekspedisi modern, tahun 1950-an, PT Pos Indonesia pernah berada di hati rakyat Indonesia berkat sosok sepeda yang ditunggangi Pak Pos. sejatinya, sepeda yang dipakai biasa saja. Mereknya Falter, buatan Jerman Barat, bukan Humber, Raleigh, Philips, Gazelle, dan Fongers, dan merek berkelas lainnya. Bentuknya saja yang berbeda. Ban depan lebih kecil, berukuran 20 inchi. Di atasnya dipasang keranjang besar untuk mengusung surat. Bentuk ini persis dengan apa yang disebut “sepeda gaya Jepang” saat ini. Ukuran ban belakang lebih besar, yakni 26 inchi. Untuk mengendalikan laju, sepeda ini diperangkati hub belakang torpedo sachs. Sebutan “sepeda pos” mencuat karena sepeda jenis ini jadi kendaraan resmi pegawai pos di Indonesia, selain juga di Eropa waktu itu. Sayang, menurut informasi dari para penggemar sepeda, jumlah sepeda tipe ini tinggal sekitar 100 unit di Indonesia, seiring jarangnya Pak Pos bermotor oranye mengantar surat ke rumah kita, sebab kita telah lebih gemar ber-sms dan berkirim email.

Sepeda sebagai pembawa pesan juga pernah jadi pembicaraan tahun 1999. Kala itu beredar film Jepang berjudul “The Messengers” karya sutradara Yasuo Baba. Skenario ditulis oleh Masashi Todayama. Film ini bercerita tentang kurir sepeda dalam persaingannya dengan kurir sepeda motor. Adalah Tokyo Express, dalam film itu, yang mempekerjakan kurir bersepeda. Perusahaan ini sedang berlomba mendapatkan kepercayaan dari Perusahaan Ataka untuk menjadi kurir tetap. Lawannya adalah kurir bersepeda motor. Naomi Shimizu, mantan pengusaha pakaian yang bangkrut, dan harus menggantikan kurir Shigekazu Yokota karena telah menabraknya hingga harus dirawat di rumah sakit, berusaha mati-matian menjadi kurir bersepeda. Meski berat, Naomi berhasil mengantarkan Tokyo Express ke proyek prestisiusnya. Kurir bersepeda bisa lebih cepat dari kurir bersepeda motor. Prestasi itu berhenti ketika Naomi tak lagi bekerja di situ, ikut pacarnya.

Sepeda sebagai Pesan

Dewasa ini, dalam wawasan saya, tidak ada lagi kurir bersepeda. Pak Pos telah lama tak bersepeda. Kurir kantor dan dinas pemerintah-swasta tak pula bersepeda. Yang ada hanya ojek sepeda di kawasan utara Jakarta. Di Jogja, bahkan tukang batu dan petani pun tak lagi menggowes sepeda.

Apakah berarti sepeda tak lagi jadi kurir pesan? Masih. Hanya saja, pesannya berbeda. Bukan lagi sesuatu material berupa surat atau paket yang diantar, melainkan pesan immaterial, yang tidak kelihatan, yang tidak berwujud.

Dalam pengertian sekarang, sepeda bukan lagi pengusung pesan, namun sepeda itu sendirilah pesannya. Sego Segawe dan B2W, contohnya, adalah pesan tentang kesehatan, kelestarian lingkungan, dan gaya hidup. Sepeda adalah juru kampanye habitus baru untuk kehidupan yang lebih manusiawi. Sepeda adalah penyadaran perubahan. Sepeda adalah kesadaran perlunya berubah. Sebelum manusia, ya kita ini, menjadi fosil hidup, gara-gara boros menggunakan bahan bakar fosil bumi, lebih baik kita “ngawil” sepeda.

Pesannya begitu positif. Nadanya tentang kehidupan, bukan tentang kematian. Maka, pesan apakah yang hendak disampaikan pelaku bom bersepeda itu? Semoga bukan pesan agar masyarakat takut bersepeda.

AA Kunto A,

Penggowes Sepeda, tinggal di Yogyakarta