Film “Pelangi di Merapi”

1 Comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Tulisan saya memanen persaudaraan. Bukan saja menuai komentar dari teman-teman yang dulu pernah mencicipi lagu itu langsung dari penciptanya, namun juga dari pembaca blog ini. Dan cinta terus berdatangan. Berkat tulisan kecil nan sederhana ini, saya dipertemukan dengan keluarga Pak Maryoto. Elang, putra sulung almarhum, menemukan tulisan saya saat berselancar di internet.

Bungah hati ini membaca pesan tersebut. Bertemu dengan putra almarhum serasa mempertemukan kenangan indah dengan Pak Maryoto. Saya pun membalas pesan itu secara berbunga-bunga.

Dan kami terhubung. Elang adalah kakak kelas saya. Nuri dan Pipit, adik-adiknya, adik kelas saya. Keluarga burung yang unik.

Belum luntur bungah saya, datang surat berikutnya. Kali ini dari seorang sutradara film dokumenter. Ia sedang merampungkan produksi sebuah film dokumenter seputar letusan Merapi 26 Okt & 5 November 2010.

Kebetulan-kebetulan yang bertautan. Satu terhubung, pertalian yang lain bersimpul. Senang rasanya hadir dalam pertemuan ini.

Dan benar saja. Elang langsung menyambar.

Izin sudah turun. Keluarga Pak Maryoto merasa bangga atas kesempatan ini. Saya tak kurang bersukacitanya.

Pagi ini, suka cita itu berlimpah-limpah. Sebuah telepon menghampiri telepon genggam saya. Seseorang di seberang menyapa. “Agoes Sam, Mas.” Aha, selamat datang di Jogja Mas Agoes. Selamat merampungkan film dokumenter “Pelangi di Merapi”. Saya berjanji menemuinya di Umbulharjo, di Kampung Mbah Maridjan, sembari singgah ke rumah Pak Maryoto di Pakem, memungut syair-syair lagu “Si Gunung Merapi”:

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi


Jogja, 26 Februari 2011

Advertisements

Waspadai Penerbit Nakal

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Akhir tahun 2010 lalu, saya berjumpa dengan beberapa teman penulis. Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, baik lewat situs jejaring sosial maupun diskusi ringan saat saya berkunjung ke kota mereka, kami berbincang tentang dunia kami, dunia penerbitan buku.

Salah satu obrolan yang menarik adalah tentang bagaimana mereka merasa diperlakukan secara tidak semestinya oleh beberapa penerbit. Profesionalisme mereka terusik:

  1. Proses penerbitan naskah panjang, bertele-tele, dan nir-kepastian
  2. Proses produksi naskah tidak transparan: jadwal cetak, jumlah eksemplar, dan struktur harga buku
  3. Pelaporan penjualan tidak lancar (jika tidak meminta, mereka tidak mendapatkan laporan) dan terbuka (perbedaan angka penjualan riil dan laporan)

Belum seberapa parah. Masih bisa ditoleransi, meski tetap ada catatan khusus. Masih bisa dimaklumi, meski mereka tetap berharap ada perbaikan selekasnya.

Namun, terhadap perlakuan di bawah ini, mereka tidak mau terima:

  1. Royalti tidak dibayar penerbit. Hanya jika mereka meminta, baik lewat telepon atau datang langsung ke penerbit, hak mereka dibayarkan. Sekali-dua kali mereka mau melakukannya. Namun, lama-kelamaan mereka ogah, bagai pengemis yang tidak punya harga diri.
  2. Pajak tidak disetorkan. Kalau pun royalti dibayarkan, namun ternyata potongan pajaknya tidak disetorkan. Alhasil, ada penulis yang menangguk malu ketika laporan pajaknya ditolak. Akibatnya, mereka justru menderita kerugian material berlipat. Sudah royalti tidak dibayarkan, dan kemudian terlambat dibayarkan, mereka masih dikibuli penerbit gayus ini.

Atas perlakuan malaprofesional itu, mereka memang tidak menggugat penerbit-penerbit tersebut. Yang mereka lakukan adalah meninggalkan penerbit tersebut, tidak mau lagi menulis di sana, dan menghimpun penulis-penulis lain untuk memboikot penerbit tersebut dengan tidak menulis di sana. Situs jejaring sosial amat memudahkan gerakan mereka.

Meski gerakan mereka dilakukan di bawah permukaan, tanpa riak yang gaduh, namun dampaknya benar-benar mengguncangkan. Beberapa penerbit curang tersebut mulai kelimpungan mendapatkan naskah dari penulis-penulis profesional. Para penulis telah memasukkan mereka dalam daftar hitam penerbit.

Syukurlah, karunia kreativitas masih menyatu di jiwa penulis-penulis itu. Mereka tidak patah arang. Mereka tetap menulis. Bahwa tidak lagi menyetorkan naskah ke penerbit-penerbit hitam itu, mereka masih punya daftar penerbit putih yang bisa dipercaya. Mereka senang karena ada beberapa penerbit yang betul-betul menghargai penulis.

Penerbit-penerbit itu tampak betul-betul serius dalam mengelola perusahaannya. Mereka memiliki sistem yang baik, dan menjalankannya dengan paripurna. Tanpa diminta, mereka memberi laporan penjualan. Tanpa diminta, mereka membayarkan royalti. Tanpa diminta, mereka proaktif menyapa penulis.

Tahun 2011 ini akan menjadi milik penerbit bersih seperti itu. Meski beberapa penulis mulai merintis penerbitan sendiri untuk setidaknya karya mereka sendiri, namun mereka masih menyediakan diri berbagi naskah dengan penerbit profesional tersebut.

Catatan pendek ini kiranya jadi bekal bagi teman-teman yang berkecimpung di industri penerbitan buku: penerbit—editor, dan penulis. Industri ini akan berjalan baik jika kita bisa saling menjaga kepercayaan satu dengan yang lain.

Selamat menulis dan menerbitkan buku.

Penulis Merdeka Atas Dirinya

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Tempo hari saya berkunjung ke beberapa kota di Jawa Timur. Saya menjumpai beberapa teman penulis dan penerbit. Banyak sekali yang kami perbincangkan. Dalam waktu singkat, perbincangan kami bisa meluber ke mana-mana. Wow, dunia penulisan dan penerbitan ternyata selalu menggairahkan.

Menulis menjadi aktivitas yang menggairahkan bukan semata-mata karena aktivitas ini menyenangkan. Oh tidak. Ketika naskah sudah jadi, diterima penerbit, dan akhirnya lolos dari tekuk-lipat mesin percetakan, lalu berjejar gagah di rak toko buku, memang rasanya melulu senang. Apalagi jika kemudian ponsel dan email berisi ucapan selamat atas terbitnya buku kita. Belum lagi, undangan untuk menjadi pembicara bergantian datang.

Sangat menyenangkan. Rasanya semua lelah terhapuskan. Lho, memang menulis buku melelahkan?

Lelah amat sih tidak. Namun, menulis buku menuntut kita untuk sejenak menarik diri dari keramaian. Ini yang rada serem. Menyembunyikan ponsel dari panggilan kongkow, mematikan fesbuk supaya tidak tergoda chatting dengan sahabat, menjauhkan diri dari tayangan sinetron yang lagi seru-serunya, adalah beberapa gambaran nyata seorang penulis ketika memutuskan untuk merampungkan karyanya. Kita mesti berani mengabaikan godaan-godaan kesenangan itu untuk merawat fokus di depan layar monitor.

Tidak semua penulis mesti memenjarakan diri sedemikian ketat. Ada juga yang bisa menulis sembari melirik tayangan televisi, atau mencuri dengar kirim-kiriman salam di radio, atau sesekali menambahkan barang satu-dua alinea ketika menjemput anak sekolah. Bagi mereka yang penting disiplin dan konsentrasi. Meski punya waktu luang hanya setengah jam di sela menunggu pembeli, mereka bisa segera menancapkan perhatian pada topik yang sedang digarap.

Penulis-penulis seperti itu justru cerdik mengabaikan rasa lelah. Bagi mereka, lebih baik lelah dan nanti berbuah daripada diam dan nanti tenggelam. Mereka bertutur, impian untuk memiliki karya jauh lebih kuat mengalahkan kemanjaan diri pada rasa lelah itu. Terlebih penulis yang namanya sudah menghiasi perpustakaan-perpustakaan para pembaca, huruf dan kata adalah santapan sangat lezat untuk mengasupi 100-200 halaman. Menulis sudah menjadi napas. Sudah otomatis. Tidak perlu lagi mereka memikirkan bagaimana melahirkan kata serta merangkainya. Sama halnya mereka tidak perlu lagi bersusah payah memberi aba-aba pada hidung kapan menghela dan menghembus napas.

Bahwa ada penulis yang selalu masuk ke lorong sunyi, bersembunyi hingga ke pertapaan-pertapaan terpencil, dan membenamkan diri di palung samudera paling tak terjangkau, demi membidani sebuah buku, itu pun pilihan yang sama terbukanya. Biasanya, karya sastra sebangsa novel perlu sikap mati raga seperti ini.

Yang terang, setiap penulis merdeka atas dirinya sendiri, atas pikirannya, atas perasaannya, atas tubuhnya, atas aliran darah di ujung-ujung jarinya. Akan berapa lembar kertas kosong yang hendak dicoreti, ia pun merdeka atas itu. Hanya Tuhan yang boleh campur tangan dalam pengembaraan penulis. Itu pun jika penulis percaya Tuhan.

Dari perjumpaan saya dengan beberapa penulis, saya menyerap sinar-sinar pencerahan. Rupanya selalu ada jalan bagi penulis, kendatipun mereka kerap tersandung dan jatuh. Ditolak penerbit, buku tidak laku di pasar, atau sebaliknya buku laku tetapi royalti tidak dibayar, toh tidak membenamkan daya juang mereka. Rupanya kemerdekaan sebagai penulis selalu menyelamatkan mereka dari godaan untuk mati muda.

Mereka tetap menulis. Dan menerbitkan sendiri tulisannya. Atau, memilih menerbitkan naskah mereka di penerbit yang bisa dipercaya.