Tolak Kibarkan Bendera Setengah Tiang!

1 Comment

Tengah hari tadi, Soeharto ditimbun tanah sudah. Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, jadi pelabuhan terakhir jasad tuanya. Soeharto mati. Kemarin, Minggu Wage, 27 Januari 2008 pukul 13.10, nyawanya meregang.

Atas kepergian Sang Jenderal Besar itu, pemerintah mengumumkan hari berkabung nasional selama 7 hari. Bendera setengah tiang harap dikibarkan. Emoh! Emoh! Emoh! Berkabung atas apa bendera setengah tiang itu? Atas kematian bekas penguasa orde baru itu? Nggak sudi! Mestinya, bendera setengah tiang dikibarkan untuk menandai duka atas ketidaksanggupan negara menyeret Soeharto ke peradilan. Atas harga tempe yang memahal. Uh, negara ini tak punya nyali ternyata.

Tak ada bendera setengah tiang di halaman rumah. Menonton televisi bodoh pun enggan. Tak maulah hati ini terseret oleh pencitraan busuk media penyiaran yang dengan kejinya mencekoki pemirsa bahwa Soeharto adalah tokoh besar yang harus dihargai. Apanya yang perlu dihargai? Di mana kejahatannya mesti dibuikan? Media kita bungkam. Impoten!

Tanpa bunga dan karangan duka cita, demikian menyitir salah satu lukisan Djoko Pekik. Lukisan itu rangkaian dari lukisan “1 milyar” Berburu Celeng, 1998, sejenak seusai Sang Raja Bengis dilengserkan oleh gerakan massa.

Soeharto mati. Biar saja. Rasa keadilan tak boleh turut mati. Tetap harus kita seret mereka yang sudah merampok hak hidup bangsa ini.

Advertisements

Tempe

1 Comment

Stop urusi Soeharto! Biarkan dokter yang tangani raganya! Biarkan “media bermental infotainment” mengumbar gosip “sakit kritis”, pejabat yang hilir mudik menjenguk, hingga liang lahat. Biarkan Tuhan yang menentukan hidup-matinya!

Saatnya pemerintah SBY-JK turun tangan. Den, Presiden, utamakan rakyatmu! Jangan tunda selamatkan rakyat demi menyelamatkan muka mengurus pendahulumu.

Tempe mahal sudah. Mbak Jiyem, pemilik warung di sebelah rumah, terpaksa membuat kecewa tetangga beberapa hari ini. Tempe yang dibelinya di pasar, yang sedianya dijual kembali di warungnya, habis dicegat pembeli sekeluar dari pasar. Alhasil, kami tak kebagian lagi. Sudah mahal, mesti berebut, dan belum tentu dapat pula.

Bahkan, untuk menyantap makanan sederhana pun kini tak lagi murah di negeri loh jinawi ini. Bahkan, petani yang menanam kedelai pun ikut dicekik oleh harga tempe hasil kedelai impor yang tak sanggup mereka jangkau.

Tempe telah menampar kita. Dan menyadarkan kita betapa kesengsaraan bangsa ini sungguh-sungguh nyata.

Pak Harto, terima kasih atas peninggalan derita ini. Panglima ekonomimu tumbang sudah, menyayat lapar perut kami.

Ribut Soeharto

1 Comment

Sudah beberapa hari ini media meributkan tentang kondisi kesehatan Soeharto. Kabarnya, Soeharto kritis. Rumah Sakit Pusat Pertamina, tempatnya dirawat, jadi pusat pemberitaan. Nyaris setiap jam ada breaking news untuk mengabarkan kondisi kesehatan mantan penguasa orde baru ini. Lucu sekali tingkah mereka. Seolah-olah berita tentang nyawa Soeharto jauh lebih penting dari korban banjir Bengawan Solo, longsor Karanganyar, dan korban bencana lainnya. Seolah-olah mereka sah mengalihkan konsentrasi pemberitaan ke wajah penguasa anti demokrasi itu. Tergoleknya jenderal besar itu membuat mereka lupa betapa sedih penderitaan bangsa ini akibat kekayaan bangsanya dikorupsi oleh kroni-kroni presiden kedua itu. Juga olehnya dan keluarganya.

Tanpa kesadaran ideologi, kesadaran sejarah, dan kesadaran politik yang matang, hanya dalam beberapa hari, media terjerumus ke model penceritaan infotainment. Mengejar sensasi, tanpa substansi. Seolah-olah kalau mereka menjadi yang pertama dalam memberitakan, publik dipuaskan. Mereka seperti hendak menjadi yang terhebat dengan menjadi saksi pertama kematian penghilang supersemar itu.

Kondisi kesehatan Soeharto bahkan membuat pihak tertentu salah tingkah. Ngawur lebih tepatnya.

Menyedihkan sekali. Tidakkah kita lupa:

  1. Siapa yang demen membungkam pers dan membredel media?
  2. Siapa yang hobi menangkap dan menculik aktivis?
  3. Siapa yang patheken kalau tidak me-recall politisi kritis?
  4. Siapa yang menjerumuskan militer sebagai centeng penguasa?
  5. Siapa yang memenjarakan “orang-orang 1965” tanpa peradilan?
  6. Siapa yang membiarkan Soekarno, pendulunya, mati mengenaskan dalam sepi?

Tokoh bengis itu sedang tak berdaya. Memaafkannya, ya, supaya jika mati, arwahnya tidak gentayangan di Tanjung Priok, Semanggi, atau Kedung Ombo. Melupakan kejahatannya, jangan, supaya bangsa ini tidak terperosok lagi ke keblingeran sejarahnya.

Hari ini saya berpakaian hitam-hitam. Berkabung atas sikap kampungan bangsa ini yang mudah lupa akan masa lalunya. Biarkan saja Soeharto mati jika memang sudah saatnya. Tapi jangan biarkan ingatan kita ikut mati sebelum saatnya.

Hadi Sugito

3 Comments

Matinya salah satu dalang kondang gagrag Ngayogyakarta. Dalang tiada, lakon belum paripurna.

KULONPROGO – Seniman dan dalang kondang Ki Hadi Sugito Kamis (10/1/2008) dimakamkan di TPU Sasana Laya Genthan, Tayuban, Panjatan Kabupaten Kulonprogo.

Almarhum meninggal pada usai 67 tahun pada Rabu(9/10/2007) sekitar pukul 09.00 WIB, di RSUD Wates akibat serangan jantung. Sebelumnya almarhum sempat dirawat selama tiga hari.

Sebelum dimakamkan, almarhum disemayamkan di rumah duka, Toyan, Triharjo, Wates, Kabupaten Kulonprogo. Hadir dalam upacara pemakaman ini, puluhan dalang, seniman dan sejumlah pejabat dilingkungan Pemkab Kulonprogo.

Salah seorang putra almarhum, Ki Sutono Hadi Sugito mengaku ayahnya sudah sekitar dua tahun ini mengalami sakit-sakitan. Beberapa kali ayahnya sempat di sejumlah rumah sakit yang ada di Wates maupun di Yogyakarta. namun tidak berlangsung lama ayahnya sembuh dan kembali menjalankan profesi dalang sampai di luar daerah.

Sesaat sebelum almarhum opname di rumah sakit, beliau minum obat  yang sudah rutin diberikan dokter. Namun tidak berselang lama, almarhum minum jamu godhogan. Jarak antara kedua kiniman ini ditengarai membuat korban menjadi tak sadarkan diri. Hingga akhirnya dilarikan di rumah sakit.

“Mungkin memang ini sudah menjadi kehendak yang kuasa. Karena dalam kondisi sakit, bapak masih menyempatkan pentas tanpa ada halangan,” jelas Sumbodo.

Figur almarhum, kata Sutono merupakan figur yang loyal terhadap seni. Ketika kondisi sakitpun, akan tetap berusaha untuk bisa memenuhi pangilan. Meskipun tidak jarang harus diwakili oleh dalang lain.

Pada bulan Januari order untuk tampi sudah lebih ari 10 lokasi. Dua diantaranya tidak bisa dipenuhi, karena menderita sakit. Termasuk rencana untuk tampil dalam pentas malam satu suro di Joglo Labuhan Pantai Glagah kemarin malam.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kulonprogo, Bambang Sumbogo BA, mengku sangat kehilangan tokoh dalang yang sudah malang melintang di dunia pakeliran.

Almarhum merupakan satu-satunya dalang yang mempunyai ciri khas berupa banyolan yang membuat penonton geli. Terkadang melalui banyolan ini, diisi dengan sindirin dan kritikan kepada siapapun. Hal itulah yang membedakan almarhum dengan dalang lain yang ada.

“Sampai saat ini belum ada dalang yang mempunyai ciri khas jogja seperti almarhum,” terang Bambang.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ki Purbo Asmoro mewakili para dalang. Ki hadi Sugito dikenal sebagai dalang yang loyal terhadap seni. Almarhum dikenal dekat dengan para juniornya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering memberikan nasehat dan arahan bagi perkembangan dan pakem seni pedalangan.

Almarhum, kini telah mewariskan seni dalang kepada lima orang anaknya. Mereka adalah Ki Sutono Hadi Sugito, Ki Sumbodo Supracoyo, Ki Totok Edi Sasongko dan Ki Wisnu Supracoyo. Kelima anaknya ini, kini sudha sering mendapat tawaran tampil di sejumlah event. (Kuntadi/Sindo/sjn)