Hidup Tanpa Belajar?

3 Comments

Hidup untuk belajar. Belajar untuk hidup.

Bagaimana memecahkan rahasia ini? “Untuk apa kita hidup?” tanya manusia muda. Untuk belajar. “Untuk apa kita belajar?” tanya manusia muda lainnya. Untuk hidup.

Kepada orang-orang muda, kerap didengungkan jargon-jargon tentang perlunya belajar. Belajar membaca. Belajar menulis. Belajar berhitung. Belajar menggambar. Belajar mewarnai. Belajar merangkai.

Supaya kelak jadi orang. Orang yang dewasa. Orang yang bijaksana, lebih dari sekadar cerdik pandai. Orang yang wicaksana, lebih dari sekadar wasis.

Belajar di sekolah. Belajar di perguruan tinggi. Dengan buku. Dengan mesin hitung. Beroleh ijazah. Beroleh status sosial.

Padahal sekolah mahal. Padahal harga buku tak selalu terjangkau. Padahal angka kerap dimanipulasi. Padahal tidak banyak guru yang layak digugu dan ditiru.

Di luar sekolah ada juga tempat belajar. Ada sanggar. Ada sekadar sekumpulan orang yang berbincang-bincang. Pada warung kopi. Pada pos ronda. Juga di bawah tenda angkringan. Ah, yang di dalam penjara pun ikut belajar.

Pengetahuan hasil belajar mengendap di kepala, mendarah daging dalam tindakan, dan mengalir dalam olah rasa. Tak berwujud, namun bisa diwariskan. Orang bisa dikenali dari wawasannya. Orang bisa dikenali dari buku yang dibacanya. Kelihatan, siapa belajar siapa hidup sekadarnya.

Lalu, kembali lagi, untuk apa manusia belajar? Hanya untuk dikenali? Hanya untuk tidak hidup sekadarnya?

Apakah keliru jika hidup dijalani sekadarnya? Jika tanpa belajar?

Rahasia kehidupan, siapa yang mau menjawab?

Kaliurang, 26 Februari 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Advertisements

Donor Darah, Gaya Hidup Baru

3 Comments

Sudah berapa kali Anda donor darah?

Pertanyaan menggelitik ini datang dari Jusuf Kalla, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). Sejak mengetuai organisasi kemanusiaan ini, JK memang langsung menggebrak. Hmmm, khas JK. Langsung bergerak, langsung mengajak. Hasilnya, pemberitaan tentang PMI langsung membombardir media belakangan.

Bagi JK, donor darah harus menjadi gaya hidup. Orang harus merasa malu jika tidak pernah donor darah. Tentu ini berlaku mereka mereka yang memenuhi syarat donor. Tidak berlaku bagi mereka yang menderita sakit tertentu, atau berat badan tidak mencapai angka minimal.

Mal, masjid, dan gereja diusulkan JK menjadi tempat donor darah. Televisi pun ia minta untuk menyediakan slot iklan sebagai wujud donor non darah. Ia pun membuka gerai PMI di mal, supaya mereka yang sedang berbelanja bisa mampir. “Kemarin kita adakan kegiatan di Senayan City. Saya tanya ke manajemen Senayan City, di situ dalam satu hari jumlah pengunjung mencapai 50.000 orang. Kalau satu persen saja yang donor darah, sudah dapat 500 kantong dalam sehari,” katanya.

Gebrakan Jusuf Kalla ini pantas disambut dengan tangan mengepal. Dengan satu kata, “Ya!” untuk donor darah. Betapa tidak. Tanpa keikutsertaan kita semua, dari mana persoalan kemanusiaan yang satu ini bisa diurai? Rasakan data ini: dari kebutuhan 4 juta kantong darah per tahun, baru 1,7 kantong terpenuhi. Sisanya? Bisa mati, bisa hidup dalam derita berkepanjangan.

Memberi Tanpa Kehilangan

Donor darah mengajari saya pengertian ungkapan ini “memberi tanpa kehilangan”. Satu kantong, 350 cc, darah yang disedot dari tubuh saya, ternyata tidak berarti kehilangan bagi saya. Justru yang hilang ini memungkinkan berlangsungnya pembaruan sel darah di tubuh kita. Hilang berarti membarui. Hilang dan akan kembali.

Itu penjelasan matematis-biologisnya. Sedangkan di balik itu, ada filosofi yang sangat mendalam, betapa donor bukan semata aspek darah, namun juga nyawa. Johanes F Koraag, seorang pendonor yang telah lebih 80 kali menghibahkan darahnya kepada orang lain, dalam bukunya “Berbagi Nyawa” (Pustaka Marwa, 2010) menegaskan ini. Darah adalah bagian penting kehidupan kita. Darah adalah kehidupan itu sendiri. Darah dan kehidupan tidak terpisahkan.

Maka, bagaimana bisa orang melepaskan darahnya untuk orang lain sementara darah itu kehidupannya? Inilah misterinya. Saat darah diambil dari tubuh kita, perasaan kehilangan itu bisa lenyap seiring dengan senyum keluarga pasien yang kita sumbang.

Dalam pengalaman, setiap mendonor, saya merasa ada kebahagiaan yang tak dapat digantikan apa pun. Bahagia. Apalagi klo kelak tahu bahwa pasien yang menerima darah kita itu sehat dan bahagia. Rasa bahagia ini jauh melebihi apa pun. Satu nyawa terselamatkan…

Karena golongan darah saya langka, yakni AB, saya memilih untuk mengutamakan donor darah untuk kondisi darurat. Panggilan tengah malam, atau dini hari kala telah tidur pulas, atau waktu hujan, adalah konsekuensi yang saya ambil. Saya belajar ini dari banyak orang di sekitar saya yang begitu tulus menyediakan lipatan sikunya ditusuk jarum. Rasa lelah, kantuk, dan kadang malas itu, syukurlah, bisa saya tepis saat mengingat betapa lelah dan kantuk keluarga pasien lebih berlipat dari saya. Juga, betapa setiap pasien ingin lekas keluar dari derita yang mereka pikul.

Saya memiliki darah ini secara cuma-cuma, maka membaginya kepada sesama pun cuma-cuma. Ini sekaligus menegaskan kepada semua pihak untuk tidak berhubungan dengan vampire atau calo penghisap darah yang memang suka berkeliaran mengepung keluarga pasien yang sedang kalut. Keluarga hanya perlu menyediakan dana untuk pemeriksaaan darah di laboratorium. Dan memang tidak murah.

Jika sampai dengan masa 3 bulan tak ada panggilan darurat hinggap ke telepon genggam saya, saya menjadi pendonor sukarela di PMI atau di ajang donor darah masal. Ini saya lakukan dengan pertimbangan kesehatan saya sendiri. Supaya sel darah saya berganti dengan yang baru, donorlah solusinya. Untuk pemilik darah A, B, dan O, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari AB, saya sarankan membiasakan donor darah. Malulah pada diri sendiri dan lingkungan kalau tidak pernah donor darah.

Selamat jadi sukarelawan donor darah. Selamat menempuh gaya hidup baru: donor darah!

Jogja, 22 Februari 2010
Salam AB,
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com

]

Jenang Gus Dur

Leave a comment

”]Dalam deru hujan, sore kemarin, kami bertemu. Hujan itu rejeki, karenanya kami sambut dengan suka ria. Pada hujan itu kami serap air-air kesegaran.

Dalam lebat hujan, kami menyantap jenang sumsum. Juruh pemanis kami tuang secukupnya. Satu gelas untuk satu tubuh. Ditemani teh manis panas, kehangatan kembali merasuk ke raga. Bersama Pak Ketua RT dan tokoh warga Baciro, kami duduk melingkar. Di kursi, bukan di atas tikar.

Itu jenang Gus Dur, lebih dari sekadar jenang sumsum. Jenang Gus Dur lezat rasanya. Takarannya cekap, rasanya cakep. Jenang putih bercampur juruh coklat. Lalu menjadi putih yang coklat, dan coklat yang putih.

Jenang Gus Dur kami santap untuk memulihkan tenaga, demikian orang-orang yakini akan makna jenang sumsum. Perhelatan akbar nan sederhana usai saja kami gelar, mengenang 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid. Pekan lalu, serangkaian acara kami langsungkan di Gedung Galangpress Center. Ada pengajian dan misa, ada pula peluncuran buku “Gus Gerr” (Pustaka Marwa, 2010) dan peresmian Perpustakaan Guru Bangsa Gus Dur.

Sultan HB X berkenan hadir. Sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan menggunting pita dan membanting kendi sebagai tanda warisan pengetahuan Gus Dur bergerak ke seluruh negeri. “Nah, ngene iki sing ta karepke [Nah, seperti ini yang saya mau],” celetuk Sultan, seperti dituturkan Pak Andoyo, tokoh warga yang berada di dekat Sultan kala itu. Saya tidak mendengar langsung, karena sebagai pembawa acara, posisi berdiri saya di luar lingkaran Sultan yang didampingi adik Gus Dur, KH Hasyim Wahid.

Mencoba menangkap ungkapan Sultan, kiranya ada banyak cara dalam mengenang Gus Dur. Salah satu cara yang dipilih Galangpress adalah menerbitkan buku dan meluncurkan perpustakaan keliling. Ini sebuah upaya menerjemahkan visi keilmuan Gus Dur, bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan. Buku adalah salah satu medianya. Dan perpustakaan keliling adalah media penjangkaunya.

Mobil itu bergambar Gus Dur. Penuh. Isinya macam-macam. Selain buku tentang Gus Dur, ada ribuan buku lain dengan tema bervariasi. Ini persis Gus Dur. Dalam diri Gus Dur tidak hanya berisi Islam, NU, namun kemajemukan kehidupan. Maka, Gus Dur menjadi pribadi yang nyaman untuk ditinggali semua orang. Begitu pun, perpustakaan keliling ini, ingin menciptakan kenyamanan membaca bagi semua orang.

Gus Dur sudah kembali ke tanah. Makamnya terus saja diziarahi ribuan manusia. Ribuan acara digelar untuk mengenangnya. Tanah basah di Jombang itu sepertinya tak pernah kering di hati umat.

Dan kemarin sore, Gus Dur telah menjadi jenang sumsum. Gus Dur telah memulihkan tenaga kami, jiwa kami, jiwa kita, untuk kembali bekerja, meneruskan cita-citanya menjaga bangsa dan memerdekakan manusia sesejatinya.

Jogja, 18 Februari 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com, http://www.aakuntoa.wordpress.com]