Lomba Menulis untuk Generasi HTML

Leave a comment

Menjelang lipatan malam, waktu telah mengunci kami untuk selekas mungkin menggunggung angka-angka yang telah kami pungut. Kami menjadi juri Lomba Menulis Cerita Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ). Ah, belagu benar kami ini. Tak seorang pun dari kami sastrawan. Alih-alih, kami pembaca partikelir belaka, yang tak saban pagi menengok karya pujangga.

Kami hanya sekumpulan pekerja kreatif. Pekerjaan kami berkutat di seputaran ide. Constantinus Elang seorang desainer logo. Banyak logo rancangannya memenangi kontes internasional. Demikian juga Jr Wahyu, yang selain menggumuli desain buku, juga langganan memenangi kontes desain luar negeri. Albert Deby adalah seorang yogi yang memperdalam ilmu soal nama. Ia konsultan nama, baik untuk pribadi maupun korporasi. Di lembaganya, sebuah LSM kemanusiaan, ia menjadi komunikator.

Danu Primanto lain lagi. Basis keilmuannya arsitektur. Basis keahliannya fotografi. Hobinya berjalan-jalan. Foto-foto dan tulisan-tulisan perjalanan ke berbagai daerah di tanah air terpampang di berbagai media. Lara Roselina, satu-satunya perempuan di keanggotaan dewan juri, adalah pembaca sastra yang kuat. Ia menulis buku. Juga menjadi editor dan desainer buku sekaligus.

Sedangkan saya tak jauh-jauh dari mereka. Selain menulis dan menyunting buku, saya juga pelatih penulisan buku. Juga pelatih penulisan jurnalistik, berkat pengalamannya sebagai jurnalis media cetak.

Toh, kecintaan kami pada karya tulis tak perlu diragukan. Setidaknya, keseharian kami di tengah-tengah pusaran arus karya tulis. Jika tak lewat media cetak, kami gemar berselancar di samudera maya.

“Aku pernah baca cerita ini! Hei! Bahkan aku pernah menceritakan ini!” Elang memecah keheningan. Ia mengingat, di mana cerita itu pernah dijumputnya.

Tombol ponsel segera dipencetnya. Ia bergegas ke luar kantor. Sinyal di dalam ruang penjurian seolah turut membeku. Di luar, ia terdengar bercakap-cakap dengan seseorang di seberang. Ia ingin memastikan ingatannya.

“Benar! Ini soal dalam sebuah psikotes!” wajah Elang berbinar. Tidak dengan kami. Kami tertegun, ada peserta yang hendak mengecoh. Nyaris saja naskah itu lolos ke podium pemenang.

Di seberang sambungan telpon yang lain, Albert Deby, yang tidak bisa hadir di sidang penentuan pemenang karena tersandera pekerjaan kantor, menyalakan sinyal peringatan.

“Kurasa, naskah itu terjemahan,” sungutnya. Kami pun menelisik kembali naskah yang ditunjuknya. Penulisnya seorang pelajar SMP. Bahasanya bagus, jauh lebih matang dari bahasa remaja seumurannya. Bukan remaja tak boleh dewasa, sebagaimana pula kaum dewasa banyak juga yang menjadi penulis remaja, namun sebuah ketidakwajaran mencubit kepekaan kami.

Kami, sebisa mungkin, mencermati setiap naskah dari kemungkinan penjiplakan. Sangat besar harapan kami, setiap peserta menyodorkan hasil karya mereka.

Saya memiliki banyak catatan tentang penyelenggaraan lomba ini. Banyak yang menarik, tak sedikit yang menjengkelkan. Dan beberapa di antaranya boleh saya bagikan di sini.

Para pemalas

Bagian menjengkelkan dulu. Begitu publikasi lomba kami sebarkan lewat jejaring internet, email ke redaksi di penuhi pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu. Mereka menanyakan hal-hal remeh-temeh, seperti: minimal tulisan berapa halaman, kapan batas waktu penyerahan naskah, atau …

Pemalas benar orang-orang ini. Sungguh menjengkelkan. Mereka menanyakan hal-hal yang sudah jelas terpapar di pengumuman yang kami sebar. Saya bersungut-sungut, inikah wajah “generasi gadget” yang serba cepat, terburu-buru, dan tidak cermat? Jika iya, betapa memprihatinkan. Malu bertanya sesat di jalan. Asal bertanya, memalukan!

Belum lagi, pertanyaan-pertanyaan tidak kreatif seperti ini: bagaimana kalau tidak punya kartu pelajar, bagaimana cara mengirimkan foto lewat email, atau boleh-tidaknya mengirimkan tulisan yang sudah dipublikasikan di blog/FB. Ini pulakah wajah “generasi html” yang serba mudah, lalu kehilangan daya kreativitas?

Advertisements

Film “Pelangi di Merapi”

1 Comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Tulisan saya memanen persaudaraan. Bukan saja menuai komentar dari teman-teman yang dulu pernah mencicipi lagu itu langsung dari penciptanya, namun juga dari pembaca blog ini. Dan cinta terus berdatangan. Berkat tulisan kecil nan sederhana ini, saya dipertemukan dengan keluarga Pak Maryoto. Elang, putra sulung almarhum, menemukan tulisan saya saat berselancar di internet.

Bungah hati ini membaca pesan tersebut. Bertemu dengan putra almarhum serasa mempertemukan kenangan indah dengan Pak Maryoto. Saya pun membalas pesan itu secara berbunga-bunga.

Dan kami terhubung. Elang adalah kakak kelas saya. Nuri dan Pipit, adik-adiknya, adik kelas saya. Keluarga burung yang unik.

Belum luntur bungah saya, datang surat berikutnya. Kali ini dari seorang sutradara film dokumenter. Ia sedang merampungkan produksi sebuah film dokumenter seputar letusan Merapi 26 Okt & 5 November 2010.

Kebetulan-kebetulan yang bertautan. Satu terhubung, pertalian yang lain bersimpul. Senang rasanya hadir dalam pertemuan ini.

Dan benar saja. Elang langsung menyambar.

Izin sudah turun. Keluarga Pak Maryoto merasa bangga atas kesempatan ini. Saya tak kurang bersukacitanya.

Pagi ini, suka cita itu berlimpah-limpah. Sebuah telepon menghampiri telepon genggam saya. Seseorang di seberang menyapa. “Agoes Sam, Mas.” Aha, selamat datang di Jogja Mas Agoes. Selamat merampungkan film dokumenter “Pelangi di Merapi”. Saya berjanji menemuinya di Umbulharjo, di Kampung Mbah Maridjan, sembari singgah ke rumah Pak Maryoto di Pakem, memungut syair-syair lagu “Si Gunung Merapi”:

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi


Jogja, 26 Februari 2011

Waspadai Penerbit Nakal

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Akhir tahun 2010 lalu, saya berjumpa dengan beberapa teman penulis. Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, baik lewat situs jejaring sosial maupun diskusi ringan saat saya berkunjung ke kota mereka, kami berbincang tentang dunia kami, dunia penerbitan buku.

Salah satu obrolan yang menarik adalah tentang bagaimana mereka merasa diperlakukan secara tidak semestinya oleh beberapa penerbit. Profesionalisme mereka terusik:

  1. Proses penerbitan naskah panjang, bertele-tele, dan nir-kepastian
  2. Proses produksi naskah tidak transparan: jadwal cetak, jumlah eksemplar, dan struktur harga buku
  3. Pelaporan penjualan tidak lancar (jika tidak meminta, mereka tidak mendapatkan laporan) dan terbuka (perbedaan angka penjualan riil dan laporan)

Belum seberapa parah. Masih bisa ditoleransi, meski tetap ada catatan khusus. Masih bisa dimaklumi, meski mereka tetap berharap ada perbaikan selekasnya.

Namun, terhadap perlakuan di bawah ini, mereka tidak mau terima:

  1. Royalti tidak dibayar penerbit. Hanya jika mereka meminta, baik lewat telepon atau datang langsung ke penerbit, hak mereka dibayarkan. Sekali-dua kali mereka mau melakukannya. Namun, lama-kelamaan mereka ogah, bagai pengemis yang tidak punya harga diri.
  2. Pajak tidak disetorkan. Kalau pun royalti dibayarkan, namun ternyata potongan pajaknya tidak disetorkan. Alhasil, ada penulis yang menangguk malu ketika laporan pajaknya ditolak. Akibatnya, mereka justru menderita kerugian material berlipat. Sudah royalti tidak dibayarkan, dan kemudian terlambat dibayarkan, mereka masih dikibuli penerbit gayus ini.

Atas perlakuan malaprofesional itu, mereka memang tidak menggugat penerbit-penerbit tersebut. Yang mereka lakukan adalah meninggalkan penerbit tersebut, tidak mau lagi menulis di sana, dan menghimpun penulis-penulis lain untuk memboikot penerbit tersebut dengan tidak menulis di sana. Situs jejaring sosial amat memudahkan gerakan mereka.

Meski gerakan mereka dilakukan di bawah permukaan, tanpa riak yang gaduh, namun dampaknya benar-benar mengguncangkan. Beberapa penerbit curang tersebut mulai kelimpungan mendapatkan naskah dari penulis-penulis profesional. Para penulis telah memasukkan mereka dalam daftar hitam penerbit.

Syukurlah, karunia kreativitas masih menyatu di jiwa penulis-penulis itu. Mereka tidak patah arang. Mereka tetap menulis. Bahwa tidak lagi menyetorkan naskah ke penerbit-penerbit hitam itu, mereka masih punya daftar penerbit putih yang bisa dipercaya. Mereka senang karena ada beberapa penerbit yang betul-betul menghargai penulis.

Penerbit-penerbit itu tampak betul-betul serius dalam mengelola perusahaannya. Mereka memiliki sistem yang baik, dan menjalankannya dengan paripurna. Tanpa diminta, mereka memberi laporan penjualan. Tanpa diminta, mereka membayarkan royalti. Tanpa diminta, mereka proaktif menyapa penulis.

Tahun 2011 ini akan menjadi milik penerbit bersih seperti itu. Meski beberapa penulis mulai merintis penerbitan sendiri untuk setidaknya karya mereka sendiri, namun mereka masih menyediakan diri berbagi naskah dengan penerbit profesional tersebut.

Catatan pendek ini kiranya jadi bekal bagi teman-teman yang berkecimpung di industri penerbitan buku: penerbit—editor, dan penulis. Industri ini akan berjalan baik jika kita bisa saling menjaga kepercayaan satu dengan yang lain.

Selamat menulis dan menerbitkan buku.

Penulis Merdeka Atas Dirinya

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Tempo hari saya berkunjung ke beberapa kota di Jawa Timur. Saya menjumpai beberapa teman penulis dan penerbit. Banyak sekali yang kami perbincangkan. Dalam waktu singkat, perbincangan kami bisa meluber ke mana-mana. Wow, dunia penulisan dan penerbitan ternyata selalu menggairahkan.

Menulis menjadi aktivitas yang menggairahkan bukan semata-mata karena aktivitas ini menyenangkan. Oh tidak. Ketika naskah sudah jadi, diterima penerbit, dan akhirnya lolos dari tekuk-lipat mesin percetakan, lalu berjejar gagah di rak toko buku, memang rasanya melulu senang. Apalagi jika kemudian ponsel dan email berisi ucapan selamat atas terbitnya buku kita. Belum lagi, undangan untuk menjadi pembicara bergantian datang.

Sangat menyenangkan. Rasanya semua lelah terhapuskan. Lho, memang menulis buku melelahkan?

Lelah amat sih tidak. Namun, menulis buku menuntut kita untuk sejenak menarik diri dari keramaian. Ini yang rada serem. Menyembunyikan ponsel dari panggilan kongkow, mematikan fesbuk supaya tidak tergoda chatting dengan sahabat, menjauhkan diri dari tayangan sinetron yang lagi seru-serunya, adalah beberapa gambaran nyata seorang penulis ketika memutuskan untuk merampungkan karyanya. Kita mesti berani mengabaikan godaan-godaan kesenangan itu untuk merawat fokus di depan layar monitor.

Tidak semua penulis mesti memenjarakan diri sedemikian ketat. Ada juga yang bisa menulis sembari melirik tayangan televisi, atau mencuri dengar kirim-kiriman salam di radio, atau sesekali menambahkan barang satu-dua alinea ketika menjemput anak sekolah. Bagi mereka yang penting disiplin dan konsentrasi. Meski punya waktu luang hanya setengah jam di sela menunggu pembeli, mereka bisa segera menancapkan perhatian pada topik yang sedang digarap.

Penulis-penulis seperti itu justru cerdik mengabaikan rasa lelah. Bagi mereka, lebih baik lelah dan nanti berbuah daripada diam dan nanti tenggelam. Mereka bertutur, impian untuk memiliki karya jauh lebih kuat mengalahkan kemanjaan diri pada rasa lelah itu. Terlebih penulis yang namanya sudah menghiasi perpustakaan-perpustakaan para pembaca, huruf dan kata adalah santapan sangat lezat untuk mengasupi 100-200 halaman. Menulis sudah menjadi napas. Sudah otomatis. Tidak perlu lagi mereka memikirkan bagaimana melahirkan kata serta merangkainya. Sama halnya mereka tidak perlu lagi bersusah payah memberi aba-aba pada hidung kapan menghela dan menghembus napas.

Bahwa ada penulis yang selalu masuk ke lorong sunyi, bersembunyi hingga ke pertapaan-pertapaan terpencil, dan membenamkan diri di palung samudera paling tak terjangkau, demi membidani sebuah buku, itu pun pilihan yang sama terbukanya. Biasanya, karya sastra sebangsa novel perlu sikap mati raga seperti ini.

Yang terang, setiap penulis merdeka atas dirinya sendiri, atas pikirannya, atas perasaannya, atas tubuhnya, atas aliran darah di ujung-ujung jarinya. Akan berapa lembar kertas kosong yang hendak dicoreti, ia pun merdeka atas itu. Hanya Tuhan yang boleh campur tangan dalam pengembaraan penulis. Itu pun jika penulis percaya Tuhan.

Dari perjumpaan saya dengan beberapa penulis, saya menyerap sinar-sinar pencerahan. Rupanya selalu ada jalan bagi penulis, kendatipun mereka kerap tersandung dan jatuh. Ditolak penerbit, buku tidak laku di pasar, atau sebaliknya buku laku tetapi royalti tidak dibayar, toh tidak membenamkan daya juang mereka. Rupanya kemerdekaan sebagai penulis selalu menyelamatkan mereka dari godaan untuk mati muda.

Mereka tetap menulis. Dan menerbitkan sendiri tulisannya. Atau, memilih menerbitkan naskah mereka di penerbit yang bisa dipercaya.

Mengenang Pak Maryoto, Pencipta Lagu “Si Gunung Merapi”

Leave a comment

[Kagem sedulur2 di pengungsian, tetaplah berpengharapan. Utk sedulur2 relawan, aparat, dan penyumbang, terima kasih atas hati anda. Merapi di dada kita!]

 

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi

 

Syair lagu tersebut ciptaan Pak Maryoto, guru SD Percobaan 3 Pakem. Ingatan saya kembali ke waktu 20-an tahun yang lalu. Pak Maryoto guru kesenian kami. Ia mengajari kami menggambar, juga menyanyi. Sosoknya begitu sederhana. Rambutnya keriting, rada gondrong, tipikal seniman. Seragam guru yang seingat saya selalu dikenakannya adalah setelan safari abu-abu.

Mungkin terkena polio sejak kecil, maaf, kaki kanannya lebih pendek dari kaki kiri. Saya tak pernah menanyakan ini. Yang terang, Pak Maryoto gemar berjalan kaki. Sepulang sekolah, ia menyusuri pinggiran Jalan Kaliurang sepanjang 400 meter menuju Pasar Pakem. Dari sana ia naik “colt” jurusan Kaliurang. Rumahnya di Paraksari, tak sampai 2 km di atas pasar yang ramai saat pasaran Legi dan Pon itu. Pun saat berangkat sekolah, ia berjalan dari pasar ke sekolah kami yang terletak di dusun Sukunan itu.

Tak ada guru kelas di sekolah saya itu. Setiap mata pelajaran diampu oleh guru di bidangnya. Dan Pak Maryoto mengampu mata pelajaran kesenian –saya tidak ingat persis nama mata pelajarannya.

Pak Maryoto pernah memarahi saya. Saat itu ia belum masuk kelas. Saya menyusul ke ruang guru. Ia pun beranjak dari meja kerjanya. Saya menguntit di belakang. Iseng saja, saya berjalan ‘jinjit’ di belakangnya, menyamakan ketinggian. Rupanya ia tahu, dan marah.

Kemarahan itu tak mengurangi rasa senang saya padanya. Saya selalu menanti kehadirannya. Penantian saya terutama untuk menyanyi. Memegang penghapus dan penggaris kayu, ia akan mengetuk-ngetuk meja menuntun kami mengeja not yang tercantum di papan tulis. Cerialah kelas.

Saat pelajaran menyanyi, saat yang paling saya tunggu adalah ketika Pak Maryoto mengundang kami untuk maju ke depan kelas. Satu per satu. Menyanyi. Bebas, boleh pilih lagu apa saja. Beberapa teman jadi bintang kelas karena suaranya bagus –selain karena pilihan lagunya yang keren. Tidak termasuk saya tentu saja. Sampai sekarang saya tidak bisa bernyanyi dengan baik.

Meski begitu, ingatan saya kuat merekam lagu ciptaan Pak Maryoto, “Si Gunung Merapi”. Saya ingat, saat Pak Kasilan, guru kesenian saya di SMP 1 Yogyakarta meminta kami menyanyi, lagu ini yang saya lantunkan. Tidak ada tepuk tangan dari teman-teman sebab mereka tak mengenal lagi ini sebelumnya –atau karena suara saya yang blero.

Pak Maryoto sudah tiada. Ia tak lagi bisa bersaksi soal gunung yang di kakinya ia tinggal dan berkesenian.  Namun, bagi saya, ia meninggalkan warisan yang begitu berharga, yakni lagu ini. Lagu ini mengandung pesan, setiap orang boleh menilai Merapi dengan caranya. Bagi Pak Maryoto, Gunung Merapi adalah sebuah kemegahan, keanggunan, dan kebijaksanaan. Bagi Mbah Maridjan, Gunung Merapi adalah sebuah ketaatan.

Bagi saya, Gunung Merapi adalah… Bagi anda, Gunung Merapi adalah…

Merapi milik siapa saja. Tak hanya milik juru kunci, tak pula milik pendaki, yang sungguh sangat mengenal tabiat si gunung. Merapi juga milik pelancong yang hanya menjadikannya sebagai latar belakang foto, yang tak tahu apa-apa tentangnya. Merapi juga milik saya, yang sedari kecil tinggal di dadanya, yang minim sekali pemahaman tentangnya.

Aktivitas Merapi hari-hari menunjukkan keberagaman cara orang mendefinisikan Merapi. Ada yang menempatkan Merapi sebagai bencana, sehingga perlu menolong para korban; ada yang menempatkan Merapi sebagai rejeki karena tanah-tanah akan subur berkat guyuran abu, karena kali-kali akan dipenuhi pasir untuk ditambang; ada yang menempatkan Merapi sebagai simbol solidaritas sosial dalam wujud bantuan, dll.

Apa pun definisi anda, bolehlah kita sekali lagi berdendang bersama Pak Maryoto:

 

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi

 

Dada Merapi, 2 November 2010

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Awas Merapi: Gowes Kaliurang

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

 

Bukan menantang. Rasa penasaran saja yang memacu semangat kami untuk tetap menggowes ke Kaliurang, sisi selatan Merapi, Minggu, 24 Oktober kemarin. Status salah satu gunung berapi teraktif di dunia itu sedang “siaga”.

Seloroh seorang kawan: “Karena kita pesepeda, maka kita harus mendekat.” Lho? “Iya, kalau kita peneropong atau fotografer, kita bisa melihat dari kejauhan.”

Memang, rasanya tidak ada apa-apa. Pengunjung rada berkurang, tamu penginapan menyusut, tapi penduduk tetap beraktivitas seperti biasa. Mbak Gin, pemilik warung langganan para penggowes di barat Tugu Urang, tetap bercengkerama dengan kami. “Ora ana apa-apa, Mas,” ia meyakinkan. Tidak ada apa-apa katanya. Lalu saya menyantap nasi+telor mata sapi+2 tempe+sayur terong+teh panas (pagi kemarin, susu sapi segar habis lebih awal). Rp 6.000 membungkus keceriaan.

Tidak lega dengan pernyataan Mbak Gin, saya pamit untuk menggowes lebih mendekati gunung. Saya melewati rumah Win, teman saya, yang tetap sibuk dengan bisnis persewaan mobilnya. Taman Kanak-Kanak tetap ada yang berkunjung. Kalau pun terasa ada sesuatu yang rada serius itu karena ada sebuah OB Van milih salah satu stasiun televisi nasional yang bersiap mengudarakan siaran langsung.

Sepeda saya kayuh ke arah Tlogo Putri, terminal akhir pengangkut umum jurusan Jogja-Kaliurang. Bakul-bakul oleh-oleh tetap buka seperti biasa. Beberapa pengunjung menikmati flying fox. Sopir bis wisata tidur di kolong bis menunggu pencarter kendaraannya. Kereta wisata juga hilir mudik mengangkut penumpang keliling objek wisata.

Melewati Wisma Puas, saya menyapa Bonifasia, seorang mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa asal Lampung yang sedang rehat acara. Dia bersama lebih dari seratus teman berkegiatan biasa tanpa risau oleh status Merapi.

Yang risau justru pedagang jadah tempe dan pisang di persimpangan beringin. Ketika saya membungkus penganan khas Kaliurang itu, mereka mengeluh soal sepinya pengunjung setelah media gencar memberitakan kabar tentang Merapi.Padahal, bagi warga Kaliurang, kata mereka, kondisi Merapi tidaklah membuat mereka khawatir.

Meski begitu, menurut Roni, pemilik kios koran di depan Pegadaian Pakem, banyak warga Kaliurang yang telah mengontrak rumah di Pakem, sekira 8-10 km di “bawah” Kaliurang. Ini sebentuk antisipasi untuk tidak dijejalkan di barak pengungsian nantinya. Roni, bersama Reni kembarannya, adalah agen koran besar di seputaran Pakem yang kerap jadi rujukan informasi.

Dari atas sepeda saya merasakan, dengan status “awas Merapi” hari ini, perlu ada gerak cepat untuk memperbaiki jalur evakuasi. Beberapa jalan berlubang dan bergelombang akibat beban kendaraan pengangkut material (pasir dan batu gunung) yang terlalu berat. Sayang jika untuk kepentingan pemodal besar penambang pasir jalan-jalan diperbaiki, sementara untuk rakyat yang sedang terancam keselamatannya, jalan-jalan dalam keadaan rusak.

PS: teman-teman penggowes, mohon menambahkan informasi berkaitan dengan jalur evakuasi, pos-pos pengungsian, tim tanggap bencana, dll. suwun

 

Yogyakarta, 25 Oktober 2010

 

Kurir Bersepeda

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

Teror kembali menghantui kita. Kamis, 30 September kemarin, bom kembali meledak di Jakarta. Uniknya, pembawa bom mengendarai sepeda ontel. Beda dengan biasanya yang mengendarai mobil atau berjalan kaki menenteng tas.

Ini menarik. Di tengah gencarnya kampanye bersepeda, seperti Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) dan  B2W (Bike to Work), alat transportasi yang pertama kali diperkenalkan oleh Baron Karl von Drais di Mannheim, Jerman, tahun 1817 ini digunakan untuk aksi terorisme. Memang, aksi teror bom menggunakan sepeda bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, konvoi kendaraan kemanusiaan internasional diguncang bom sepeda di Afghanistan.

Tulisan pendek ini tidak hendak membahas soal terorisme, yang narasi-narasi tentangnya tak kalah meneror. Tidak. Saya hanya ingin menulis soal sepeda. Sederhana saja, sepeda sebagai alat transportasi pesan. Lebih dari sekadar alat transportasi, alat angkut, tetapi pengangkut pesan.

Sepeda Pembawa Pesan

Jauh hari sebelum kita ribut soal revitalisasi sepeda, berikut “jalur khusus sepeda”, dan belakangan “ruang tunggu sepeda” di setiap lampu merah, kita pernah punya jalur sepeda. Tepatnya di Jakarta. Tepatnya lagi di ruas Harmoni-Kota, yang belakangan populer sebagai koridor I Trans Jakarta. Dulu bikeway, kini busway. Wartawan Sindhunata, yang hobi bersepeda, dan kini tinggal di Yogyakarta sebagai pastor, pernah menulis kisah ini di Kompas betapa tahun 1979 kala itu sepeda menjadi alat transportasi andalan warga kota tersebut. Bikeway juga pernah ada di ruas Gambir-Harmoni pada tahun 1950-1960-an. Sekali melaju bisa berjejer hingga enam sepeda. Saya bayangkan suasananya mirip Jalan Samas, Parangtritis, atau Imogiri, beberapa tahun lalu, sebelum “kredit tanpa uang muka” sepeda motor menjadi raja baru.

Ke belakang, kita juga pernah mengenal “sepeda pos”. Sebelum keberadaannya di ujung tanduk terhempas teknologi internet, dan tergeser perusahaan-perusahaan ekspedisi modern, tahun 1950-an, PT Pos Indonesia pernah berada di hati rakyat Indonesia berkat sosok sepeda yang ditunggangi Pak Pos. sejatinya, sepeda yang dipakai biasa saja. Mereknya Falter, buatan Jerman Barat, bukan Humber, Raleigh, Philips, Gazelle, dan Fongers, dan merek berkelas lainnya. Bentuknya saja yang berbeda. Ban depan lebih kecil, berukuran 20 inchi. Di atasnya dipasang keranjang besar untuk mengusung surat. Bentuk ini persis dengan apa yang disebut “sepeda gaya Jepang” saat ini. Ukuran ban belakang lebih besar, yakni 26 inchi. Untuk mengendalikan laju, sepeda ini diperangkati hub belakang torpedo sachs. Sebutan “sepeda pos” mencuat karena sepeda jenis ini jadi kendaraan resmi pegawai pos di Indonesia, selain juga di Eropa waktu itu. Sayang, menurut informasi dari para penggemar sepeda, jumlah sepeda tipe ini tinggal sekitar 100 unit di Indonesia, seiring jarangnya Pak Pos bermotor oranye mengantar surat ke rumah kita, sebab kita telah lebih gemar ber-sms dan berkirim email.

Sepeda sebagai pembawa pesan juga pernah jadi pembicaraan tahun 1999. Kala itu beredar film Jepang berjudul “The Messengers” karya sutradara Yasuo Baba. Skenario ditulis oleh Masashi Todayama. Film ini bercerita tentang kurir sepeda dalam persaingannya dengan kurir sepeda motor. Adalah Tokyo Express, dalam film itu, yang mempekerjakan kurir bersepeda. Perusahaan ini sedang berlomba mendapatkan kepercayaan dari Perusahaan Ataka untuk menjadi kurir tetap. Lawannya adalah kurir bersepeda motor. Naomi Shimizu, mantan pengusaha pakaian yang bangkrut, dan harus menggantikan kurir Shigekazu Yokota karena telah menabraknya hingga harus dirawat di rumah sakit, berusaha mati-matian menjadi kurir bersepeda. Meski berat, Naomi berhasil mengantarkan Tokyo Express ke proyek prestisiusnya. Kurir bersepeda bisa lebih cepat dari kurir bersepeda motor. Prestasi itu berhenti ketika Naomi tak lagi bekerja di situ, ikut pacarnya.

Sepeda sebagai Pesan

Dewasa ini, dalam wawasan saya, tidak ada lagi kurir bersepeda. Pak Pos telah lama tak bersepeda. Kurir kantor dan dinas pemerintah-swasta tak pula bersepeda. Yang ada hanya ojek sepeda di kawasan utara Jakarta. Di Jogja, bahkan tukang batu dan petani pun tak lagi menggowes sepeda.

Apakah berarti sepeda tak lagi jadi kurir pesan? Masih. Hanya saja, pesannya berbeda. Bukan lagi sesuatu material berupa surat atau paket yang diantar, melainkan pesan immaterial, yang tidak kelihatan, yang tidak berwujud.

Dalam pengertian sekarang, sepeda bukan lagi pengusung pesan, namun sepeda itu sendirilah pesannya. Sego Segawe dan B2W, contohnya, adalah pesan tentang kesehatan, kelestarian lingkungan, dan gaya hidup. Sepeda adalah juru kampanye habitus baru untuk kehidupan yang lebih manusiawi. Sepeda adalah penyadaran perubahan. Sepeda adalah kesadaran perlunya berubah. Sebelum manusia, ya kita ini, menjadi fosil hidup, gara-gara boros menggunakan bahan bakar fosil bumi, lebih baik kita “ngawil” sepeda.

Pesannya begitu positif. Nadanya tentang kehidupan, bukan tentang kematian. Maka, pesan apakah yang hendak disampaikan pelaku bom bersepeda itu? Semoga bukan pesan agar masyarakat takut bersepeda.

AA Kunto A,

Penggowes Sepeda, tinggal di Yogyakarta

Older Entries