Lomba Menulis untuk Generasi HTML

Leave a comment

Menjelang lipatan malam, waktu telah mengunci kami untuk selekas mungkin menggunggung angka-angka yang telah kami pungut. Kami menjadi juri Lomba Menulis Cerita Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ). Ah, belagu benar kami ini. Tak seorang pun dari kami sastrawan. Alih-alih, kami pembaca partikelir belaka, yang tak saban pagi menengok karya pujangga.

Kami hanya sekumpulan pekerja kreatif. Pekerjaan kami berkutat di seputaran ide. Constantinus Elang seorang desainer logo. Banyak logo rancangannya memenangi kontes internasional. Demikian juga Jr Wahyu, yang selain menggumuli desain buku, juga langganan memenangi kontes desain luar negeri. Albert Deby adalah seorang yogi yang memperdalam ilmu soal nama. Ia konsultan nama, baik untuk pribadi maupun korporasi. Di lembaganya, sebuah LSM kemanusiaan, ia menjadi komunikator.

Danu Primanto lain lagi. Basis keilmuannya arsitektur. Basis keahliannya fotografi. Hobinya berjalan-jalan. Foto-foto dan tulisan-tulisan perjalanan ke berbagai daerah di tanah air terpampang di berbagai media. Lara Roselina, satu-satunya perempuan di keanggotaan dewan juri, adalah pembaca sastra yang kuat. Ia menulis buku. Juga menjadi editor dan desainer buku sekaligus.

Sedangkan saya tak jauh-jauh dari mereka. Selain menulis dan menyunting buku, saya juga pelatih penulisan buku. Juga pelatih penulisan jurnalistik, berkat pengalamannya sebagai jurnalis media cetak.

Toh, kecintaan kami pada karya tulis tak perlu diragukan. Setidaknya, keseharian kami di tengah-tengah pusaran arus karya tulis. Jika tak lewat media cetak, kami gemar berselancar di samudera maya.

“Aku pernah baca cerita ini! Hei! Bahkan aku pernah menceritakan ini!” Elang memecah keheningan. Ia mengingat, di mana cerita itu pernah dijumputnya.

Tombol ponsel segera dipencetnya. Ia bergegas ke luar kantor. Sinyal di dalam ruang penjurian seolah turut membeku. Di luar, ia terdengar bercakap-cakap dengan seseorang di seberang. Ia ingin memastikan ingatannya.

“Benar! Ini soal dalam sebuah psikotes!” wajah Elang berbinar. Tidak dengan kami. Kami tertegun, ada peserta yang hendak mengecoh. Nyaris saja naskah itu lolos ke podium pemenang.

Di seberang sambungan telpon yang lain, Albert Deby, yang tidak bisa hadir di sidang penentuan pemenang karena tersandera pekerjaan kantor, menyalakan sinyal peringatan.

“Kurasa, naskah itu terjemahan,” sungutnya. Kami pun menelisik kembali naskah yang ditunjuknya. Penulisnya seorang pelajar SMP. Bahasanya bagus, jauh lebih matang dari bahasa remaja seumurannya. Bukan remaja tak boleh dewasa, sebagaimana pula kaum dewasa banyak juga yang menjadi penulis remaja, namun sebuah ketidakwajaran mencubit kepekaan kami.

Kami, sebisa mungkin, mencermati setiap naskah dari kemungkinan penjiplakan. Sangat besar harapan kami, setiap peserta menyodorkan hasil karya mereka.

Saya memiliki banyak catatan tentang penyelenggaraan lomba ini. Banyak yang menarik, tak sedikit yang menjengkelkan. Dan beberapa di antaranya boleh saya bagikan di sini.

Para pemalas

Bagian menjengkelkan dulu. Begitu publikasi lomba kami sebarkan lewat jejaring internet, email ke redaksi di penuhi pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu. Mereka menanyakan hal-hal remeh-temeh, seperti: minimal tulisan berapa halaman, kapan batas waktu penyerahan naskah, atau …

Pemalas benar orang-orang ini. Sungguh menjengkelkan. Mereka menanyakan hal-hal yang sudah jelas terpapar di pengumuman yang kami sebar. Saya bersungut-sungut, inikah wajah “generasi gadget” yang serba cepat, terburu-buru, dan tidak cermat? Jika iya, betapa memprihatinkan. Malu bertanya sesat di jalan. Asal bertanya, memalukan!

Belum lagi, pertanyaan-pertanyaan tidak kreatif seperti ini: bagaimana kalau tidak punya kartu pelajar, bagaimana cara mengirimkan foto lewat email, atau boleh-tidaknya mengirimkan tulisan yang sudah dipublikasikan di blog/FB. Ini pulakah wajah “generasi html” yang serba mudah, lalu kehilangan daya kreativitas?

Film “Pelangi di Merapi”

1 Comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Tulisan saya memanen persaudaraan. Bukan saja menuai komentar dari teman-teman yang dulu pernah mencicipi lagu itu langsung dari penciptanya, namun juga dari pembaca blog ini. Dan cinta terus berdatangan. Berkat tulisan kecil nan sederhana ini, saya dipertemukan dengan keluarga Pak Maryoto. Elang, putra sulung almarhum, menemukan tulisan saya saat berselancar di internet.

Bungah hati ini membaca pesan tersebut. Bertemu dengan putra almarhum serasa mempertemukan kenangan indah dengan Pak Maryoto. Saya pun membalas pesan itu secara berbunga-bunga.

Dan kami terhubung. Elang adalah kakak kelas saya. Nuri dan Pipit, adik-adiknya, adik kelas saya. Keluarga burung yang unik.

Belum luntur bungah saya, datang surat berikutnya. Kali ini dari seorang sutradara film dokumenter. Ia sedang merampungkan produksi sebuah film dokumenter seputar letusan Merapi 26 Okt & 5 November 2010.

Kebetulan-kebetulan yang bertautan. Satu terhubung, pertalian yang lain bersimpul. Senang rasanya hadir dalam pertemuan ini.

Dan benar saja. Elang langsung menyambar.

Izin sudah turun. Keluarga Pak Maryoto merasa bangga atas kesempatan ini. Saya tak kurang bersukacitanya.

Pagi ini, suka cita itu berlimpah-limpah. Sebuah telepon menghampiri telepon genggam saya. Seseorang di seberang menyapa. “Agoes Sam, Mas.” Aha, selamat datang di Jogja Mas Agoes. Selamat merampungkan film dokumenter “Pelangi di Merapi”. Saya berjanji menemuinya di Umbulharjo, di Kampung Mbah Maridjan, sembari singgah ke rumah Pak Maryoto di Pakem, memungut syair-syair lagu “Si Gunung Merapi”:

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi


Jogja, 26 Februari 2011

Waspadai Penerbit Nakal

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Akhir tahun 2010 lalu, saya berjumpa dengan beberapa teman penulis. Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, baik lewat situs jejaring sosial maupun diskusi ringan saat saya berkunjung ke kota mereka, kami berbincang tentang dunia kami, dunia penerbitan buku.

Salah satu obrolan yang menarik adalah tentang bagaimana mereka merasa diperlakukan secara tidak semestinya oleh beberapa penerbit. Profesionalisme mereka terusik:

  1. Proses penerbitan naskah panjang, bertele-tele, dan nir-kepastian
  2. Proses produksi naskah tidak transparan: jadwal cetak, jumlah eksemplar, dan struktur harga buku
  3. Pelaporan penjualan tidak lancar (jika tidak meminta, mereka tidak mendapatkan laporan) dan terbuka (perbedaan angka penjualan riil dan laporan)

Belum seberapa parah. Masih bisa ditoleransi, meski tetap ada catatan khusus. Masih bisa dimaklumi, meski mereka tetap berharap ada perbaikan selekasnya.

Namun, terhadap perlakuan di bawah ini, mereka tidak mau terima:

  1. Royalti tidak dibayar penerbit. Hanya jika mereka meminta, baik lewat telepon atau datang langsung ke penerbit, hak mereka dibayarkan. Sekali-dua kali mereka mau melakukannya. Namun, lama-kelamaan mereka ogah, bagai pengemis yang tidak punya harga diri.
  2. Pajak tidak disetorkan. Kalau pun royalti dibayarkan, namun ternyata potongan pajaknya tidak disetorkan. Alhasil, ada penulis yang menangguk malu ketika laporan pajaknya ditolak. Akibatnya, mereka justru menderita kerugian material berlipat. Sudah royalti tidak dibayarkan, dan kemudian terlambat dibayarkan, mereka masih dikibuli penerbit gayus ini.

Atas perlakuan malaprofesional itu, mereka memang tidak menggugat penerbit-penerbit tersebut. Yang mereka lakukan adalah meninggalkan penerbit tersebut, tidak mau lagi menulis di sana, dan menghimpun penulis-penulis lain untuk memboikot penerbit tersebut dengan tidak menulis di sana. Situs jejaring sosial amat memudahkan gerakan mereka.

Meski gerakan mereka dilakukan di bawah permukaan, tanpa riak yang gaduh, namun dampaknya benar-benar mengguncangkan. Beberapa penerbit curang tersebut mulai kelimpungan mendapatkan naskah dari penulis-penulis profesional. Para penulis telah memasukkan mereka dalam daftar hitam penerbit.

Syukurlah, karunia kreativitas masih menyatu di jiwa penulis-penulis itu. Mereka tidak patah arang. Mereka tetap menulis. Bahwa tidak lagi menyetorkan naskah ke penerbit-penerbit hitam itu, mereka masih punya daftar penerbit putih yang bisa dipercaya. Mereka senang karena ada beberapa penerbit yang betul-betul menghargai penulis.

Penerbit-penerbit itu tampak betul-betul serius dalam mengelola perusahaannya. Mereka memiliki sistem yang baik, dan menjalankannya dengan paripurna. Tanpa diminta, mereka memberi laporan penjualan. Tanpa diminta, mereka membayarkan royalti. Tanpa diminta, mereka proaktif menyapa penulis.

Tahun 2011 ini akan menjadi milik penerbit bersih seperti itu. Meski beberapa penulis mulai merintis penerbitan sendiri untuk setidaknya karya mereka sendiri, namun mereka masih menyediakan diri berbagi naskah dengan penerbit profesional tersebut.

Catatan pendek ini kiranya jadi bekal bagi teman-teman yang berkecimpung di industri penerbitan buku: penerbit—editor, dan penulis. Industri ini akan berjalan baik jika kita bisa saling menjaga kepercayaan satu dengan yang lain.

Selamat menulis dan menerbitkan buku.

Penulis Merdeka Atas Dirinya

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Tempo hari saya berkunjung ke beberapa kota di Jawa Timur. Saya menjumpai beberapa teman penulis dan penerbit. Banyak sekali yang kami perbincangkan. Dalam waktu singkat, perbincangan kami bisa meluber ke mana-mana. Wow, dunia penulisan dan penerbitan ternyata selalu menggairahkan.

Menulis menjadi aktivitas yang menggairahkan bukan semata-mata karena aktivitas ini menyenangkan. Oh tidak. Ketika naskah sudah jadi, diterima penerbit, dan akhirnya lolos dari tekuk-lipat mesin percetakan, lalu berjejar gagah di rak toko buku, memang rasanya melulu senang. Apalagi jika kemudian ponsel dan email berisi ucapan selamat atas terbitnya buku kita. Belum lagi, undangan untuk menjadi pembicara bergantian datang.

Sangat menyenangkan. Rasanya semua lelah terhapuskan. Lho, memang menulis buku melelahkan?

Lelah amat sih tidak. Namun, menulis buku menuntut kita untuk sejenak menarik diri dari keramaian. Ini yang rada serem. Menyembunyikan ponsel dari panggilan kongkow, mematikan fesbuk supaya tidak tergoda chatting dengan sahabat, menjauhkan diri dari tayangan sinetron yang lagi seru-serunya, adalah beberapa gambaran nyata seorang penulis ketika memutuskan untuk merampungkan karyanya. Kita mesti berani mengabaikan godaan-godaan kesenangan itu untuk merawat fokus di depan layar monitor.

Tidak semua penulis mesti memenjarakan diri sedemikian ketat. Ada juga yang bisa menulis sembari melirik tayangan televisi, atau mencuri dengar kirim-kiriman salam di radio, atau sesekali menambahkan barang satu-dua alinea ketika menjemput anak sekolah. Bagi mereka yang penting disiplin dan konsentrasi. Meski punya waktu luang hanya setengah jam di sela menunggu pembeli, mereka bisa segera menancapkan perhatian pada topik yang sedang digarap.

Penulis-penulis seperti itu justru cerdik mengabaikan rasa lelah. Bagi mereka, lebih baik lelah dan nanti berbuah daripada diam dan nanti tenggelam. Mereka bertutur, impian untuk memiliki karya jauh lebih kuat mengalahkan kemanjaan diri pada rasa lelah itu. Terlebih penulis yang namanya sudah menghiasi perpustakaan-perpustakaan para pembaca, huruf dan kata adalah santapan sangat lezat untuk mengasupi 100-200 halaman. Menulis sudah menjadi napas. Sudah otomatis. Tidak perlu lagi mereka memikirkan bagaimana melahirkan kata serta merangkainya. Sama halnya mereka tidak perlu lagi bersusah payah memberi aba-aba pada hidung kapan menghela dan menghembus napas.

Bahwa ada penulis yang selalu masuk ke lorong sunyi, bersembunyi hingga ke pertapaan-pertapaan terpencil, dan membenamkan diri di palung samudera paling tak terjangkau, demi membidani sebuah buku, itu pun pilihan yang sama terbukanya. Biasanya, karya sastra sebangsa novel perlu sikap mati raga seperti ini.

Yang terang, setiap penulis merdeka atas dirinya sendiri, atas pikirannya, atas perasaannya, atas tubuhnya, atas aliran darah di ujung-ujung jarinya. Akan berapa lembar kertas kosong yang hendak dicoreti, ia pun merdeka atas itu. Hanya Tuhan yang boleh campur tangan dalam pengembaraan penulis. Itu pun jika penulis percaya Tuhan.

Dari perjumpaan saya dengan beberapa penulis, saya menyerap sinar-sinar pencerahan. Rupanya selalu ada jalan bagi penulis, kendatipun mereka kerap tersandung dan jatuh. Ditolak penerbit, buku tidak laku di pasar, atau sebaliknya buku laku tetapi royalti tidak dibayar, toh tidak membenamkan daya juang mereka. Rupanya kemerdekaan sebagai penulis selalu menyelamatkan mereka dari godaan untuk mati muda.

Mereka tetap menulis. Dan menerbitkan sendiri tulisannya. Atau, memilih menerbitkan naskah mereka di penerbit yang bisa dipercaya.

Mengenang Pak Maryoto, Pencipta Lagu “Si Gunung Merapi”

Leave a comment

[Kagem sedulur2 di pengungsian, tetaplah berpengharapan. Utk sedulur2 relawan, aparat, dan penyumbang, terima kasih atas hati anda. Merapi di dada kita!]

 

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi

 

Syair lagu tersebut ciptaan Pak Maryoto, guru SD Percobaan 3 Pakem. Ingatan saya kembali ke waktu 20-an tahun yang lalu. Pak Maryoto guru kesenian kami. Ia mengajari kami menggambar, juga menyanyi. Sosoknya begitu sederhana. Rambutnya keriting, rada gondrong, tipikal seniman. Seragam guru yang seingat saya selalu dikenakannya adalah setelan safari abu-abu.

Mungkin terkena polio sejak kecil, maaf, kaki kanannya lebih pendek dari kaki kiri. Saya tak pernah menanyakan ini. Yang terang, Pak Maryoto gemar berjalan kaki. Sepulang sekolah, ia menyusuri pinggiran Jalan Kaliurang sepanjang 400 meter menuju Pasar Pakem. Dari sana ia naik “colt” jurusan Kaliurang. Rumahnya di Paraksari, tak sampai 2 km di atas pasar yang ramai saat pasaran Legi dan Pon itu. Pun saat berangkat sekolah, ia berjalan dari pasar ke sekolah kami yang terletak di dusun Sukunan itu.

Tak ada guru kelas di sekolah saya itu. Setiap mata pelajaran diampu oleh guru di bidangnya. Dan Pak Maryoto mengampu mata pelajaran kesenian –saya tidak ingat persis nama mata pelajarannya.

Pak Maryoto pernah memarahi saya. Saat itu ia belum masuk kelas. Saya menyusul ke ruang guru. Ia pun beranjak dari meja kerjanya. Saya menguntit di belakang. Iseng saja, saya berjalan ‘jinjit’ di belakangnya, menyamakan ketinggian. Rupanya ia tahu, dan marah.

Kemarahan itu tak mengurangi rasa senang saya padanya. Saya selalu menanti kehadirannya. Penantian saya terutama untuk menyanyi. Memegang penghapus dan penggaris kayu, ia akan mengetuk-ngetuk meja menuntun kami mengeja not yang tercantum di papan tulis. Cerialah kelas.

Saat pelajaran menyanyi, saat yang paling saya tunggu adalah ketika Pak Maryoto mengundang kami untuk maju ke depan kelas. Satu per satu. Menyanyi. Bebas, boleh pilih lagu apa saja. Beberapa teman jadi bintang kelas karena suaranya bagus –selain karena pilihan lagunya yang keren. Tidak termasuk saya tentu saja. Sampai sekarang saya tidak bisa bernyanyi dengan baik.

Meski begitu, ingatan saya kuat merekam lagu ciptaan Pak Maryoto, “Si Gunung Merapi”. Saya ingat, saat Pak Kasilan, guru kesenian saya di SMP 1 Yogyakarta meminta kami menyanyi, lagu ini yang saya lantunkan. Tidak ada tepuk tangan dari teman-teman sebab mereka tak mengenal lagi ini sebelumnya –atau karena suara saya yang blero.

Pak Maryoto sudah tiada. Ia tak lagi bisa bersaksi soal gunung yang di kakinya ia tinggal dan berkesenian.  Namun, bagi saya, ia meninggalkan warisan yang begitu berharga, yakni lagu ini. Lagu ini mengandung pesan, setiap orang boleh menilai Merapi dengan caranya. Bagi Pak Maryoto, Gunung Merapi adalah sebuah kemegahan, keanggunan, dan kebijaksanaan. Bagi Mbah Maridjan, Gunung Merapi adalah sebuah ketaatan.

Bagi saya, Gunung Merapi adalah… Bagi anda, Gunung Merapi adalah…

Merapi milik siapa saja. Tak hanya milik juru kunci, tak pula milik pendaki, yang sungguh sangat mengenal tabiat si gunung. Merapi juga milik pelancong yang hanya menjadikannya sebagai latar belakang foto, yang tak tahu apa-apa tentangnya. Merapi juga milik saya, yang sedari kecil tinggal di dadanya, yang minim sekali pemahaman tentangnya.

Aktivitas Merapi hari-hari menunjukkan keberagaman cara orang mendefinisikan Merapi. Ada yang menempatkan Merapi sebagai bencana, sehingga perlu menolong para korban; ada yang menempatkan Merapi sebagai rejeki karena tanah-tanah akan subur berkat guyuran abu, karena kali-kali akan dipenuhi pasir untuk ditambang; ada yang menempatkan Merapi sebagai simbol solidaritas sosial dalam wujud bantuan, dll.

Apa pun definisi anda, bolehlah kita sekali lagi berdendang bersama Pak Maryoto:

 

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi

 

Dada Merapi, 2 November 2010

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Awas Merapi: Gowes Kaliurang

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

 

Bukan menantang. Rasa penasaran saja yang memacu semangat kami untuk tetap menggowes ke Kaliurang, sisi selatan Merapi, Minggu, 24 Oktober kemarin. Status salah satu gunung berapi teraktif di dunia itu sedang “siaga”.

Seloroh seorang kawan: “Karena kita pesepeda, maka kita harus mendekat.” Lho? “Iya, kalau kita peneropong atau fotografer, kita bisa melihat dari kejauhan.”

Memang, rasanya tidak ada apa-apa. Pengunjung rada berkurang, tamu penginapan menyusut, tapi penduduk tetap beraktivitas seperti biasa. Mbak Gin, pemilik warung langganan para penggowes di barat Tugu Urang, tetap bercengkerama dengan kami. “Ora ana apa-apa, Mas,” ia meyakinkan. Tidak ada apa-apa katanya. Lalu saya menyantap nasi+telor mata sapi+2 tempe+sayur terong+teh panas (pagi kemarin, susu sapi segar habis lebih awal). Rp 6.000 membungkus keceriaan.

Tidak lega dengan pernyataan Mbak Gin, saya pamit untuk menggowes lebih mendekati gunung. Saya melewati rumah Win, teman saya, yang tetap sibuk dengan bisnis persewaan mobilnya. Taman Kanak-Kanak tetap ada yang berkunjung. Kalau pun terasa ada sesuatu yang rada serius itu karena ada sebuah OB Van milih salah satu stasiun televisi nasional yang bersiap mengudarakan siaran langsung.

Sepeda saya kayuh ke arah Tlogo Putri, terminal akhir pengangkut umum jurusan Jogja-Kaliurang. Bakul-bakul oleh-oleh tetap buka seperti biasa. Beberapa pengunjung menikmati flying fox. Sopir bis wisata tidur di kolong bis menunggu pencarter kendaraannya. Kereta wisata juga hilir mudik mengangkut penumpang keliling objek wisata.

Melewati Wisma Puas, saya menyapa Bonifasia, seorang mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa asal Lampung yang sedang rehat acara. Dia bersama lebih dari seratus teman berkegiatan biasa tanpa risau oleh status Merapi.

Yang risau justru pedagang jadah tempe dan pisang di persimpangan beringin. Ketika saya membungkus penganan khas Kaliurang itu, mereka mengeluh soal sepinya pengunjung setelah media gencar memberitakan kabar tentang Merapi.Padahal, bagi warga Kaliurang, kata mereka, kondisi Merapi tidaklah membuat mereka khawatir.

Meski begitu, menurut Roni, pemilik kios koran di depan Pegadaian Pakem, banyak warga Kaliurang yang telah mengontrak rumah di Pakem, sekira 8-10 km di “bawah” Kaliurang. Ini sebentuk antisipasi untuk tidak dijejalkan di barak pengungsian nantinya. Roni, bersama Reni kembarannya, adalah agen koran besar di seputaran Pakem yang kerap jadi rujukan informasi.

Dari atas sepeda saya merasakan, dengan status “awas Merapi” hari ini, perlu ada gerak cepat untuk memperbaiki jalur evakuasi. Beberapa jalan berlubang dan bergelombang akibat beban kendaraan pengangkut material (pasir dan batu gunung) yang terlalu berat. Sayang jika untuk kepentingan pemodal besar penambang pasir jalan-jalan diperbaiki, sementara untuk rakyat yang sedang terancam keselamatannya, jalan-jalan dalam keadaan rusak.

PS: teman-teman penggowes, mohon menambahkan informasi berkaitan dengan jalur evakuasi, pos-pos pengungsian, tim tanggap bencana, dll. suwun

 

Yogyakarta, 25 Oktober 2010

 

Kurir Bersepeda

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

Teror kembali menghantui kita. Kamis, 30 September kemarin, bom kembali meledak di Jakarta. Uniknya, pembawa bom mengendarai sepeda ontel. Beda dengan biasanya yang mengendarai mobil atau berjalan kaki menenteng tas.

Ini menarik. Di tengah gencarnya kampanye bersepeda, seperti Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) dan  B2W (Bike to Work), alat transportasi yang pertama kali diperkenalkan oleh Baron Karl von Drais di Mannheim, Jerman, tahun 1817 ini digunakan untuk aksi terorisme. Memang, aksi teror bom menggunakan sepeda bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, konvoi kendaraan kemanusiaan internasional diguncang bom sepeda di Afghanistan.

Tulisan pendek ini tidak hendak membahas soal terorisme, yang narasi-narasi tentangnya tak kalah meneror. Tidak. Saya hanya ingin menulis soal sepeda. Sederhana saja, sepeda sebagai alat transportasi pesan. Lebih dari sekadar alat transportasi, alat angkut, tetapi pengangkut pesan.

Sepeda Pembawa Pesan

Jauh hari sebelum kita ribut soal revitalisasi sepeda, berikut “jalur khusus sepeda”, dan belakangan “ruang tunggu sepeda” di setiap lampu merah, kita pernah punya jalur sepeda. Tepatnya di Jakarta. Tepatnya lagi di ruas Harmoni-Kota, yang belakangan populer sebagai koridor I Trans Jakarta. Dulu bikeway, kini busway. Wartawan Sindhunata, yang hobi bersepeda, dan kini tinggal di Yogyakarta sebagai pastor, pernah menulis kisah ini di Kompas betapa tahun 1979 kala itu sepeda menjadi alat transportasi andalan warga kota tersebut. Bikeway juga pernah ada di ruas Gambir-Harmoni pada tahun 1950-1960-an. Sekali melaju bisa berjejer hingga enam sepeda. Saya bayangkan suasananya mirip Jalan Samas, Parangtritis, atau Imogiri, beberapa tahun lalu, sebelum “kredit tanpa uang muka” sepeda motor menjadi raja baru.

Ke belakang, kita juga pernah mengenal “sepeda pos”. Sebelum keberadaannya di ujung tanduk terhempas teknologi internet, dan tergeser perusahaan-perusahaan ekspedisi modern, tahun 1950-an, PT Pos Indonesia pernah berada di hati rakyat Indonesia berkat sosok sepeda yang ditunggangi Pak Pos. sejatinya, sepeda yang dipakai biasa saja. Mereknya Falter, buatan Jerman Barat, bukan Humber, Raleigh, Philips, Gazelle, dan Fongers, dan merek berkelas lainnya. Bentuknya saja yang berbeda. Ban depan lebih kecil, berukuran 20 inchi. Di atasnya dipasang keranjang besar untuk mengusung surat. Bentuk ini persis dengan apa yang disebut “sepeda gaya Jepang” saat ini. Ukuran ban belakang lebih besar, yakni 26 inchi. Untuk mengendalikan laju, sepeda ini diperangkati hub belakang torpedo sachs. Sebutan “sepeda pos” mencuat karena sepeda jenis ini jadi kendaraan resmi pegawai pos di Indonesia, selain juga di Eropa waktu itu. Sayang, menurut informasi dari para penggemar sepeda, jumlah sepeda tipe ini tinggal sekitar 100 unit di Indonesia, seiring jarangnya Pak Pos bermotor oranye mengantar surat ke rumah kita, sebab kita telah lebih gemar ber-sms dan berkirim email.

Sepeda sebagai pembawa pesan juga pernah jadi pembicaraan tahun 1999. Kala itu beredar film Jepang berjudul “The Messengers” karya sutradara Yasuo Baba. Skenario ditulis oleh Masashi Todayama. Film ini bercerita tentang kurir sepeda dalam persaingannya dengan kurir sepeda motor. Adalah Tokyo Express, dalam film itu, yang mempekerjakan kurir bersepeda. Perusahaan ini sedang berlomba mendapatkan kepercayaan dari Perusahaan Ataka untuk menjadi kurir tetap. Lawannya adalah kurir bersepeda motor. Naomi Shimizu, mantan pengusaha pakaian yang bangkrut, dan harus menggantikan kurir Shigekazu Yokota karena telah menabraknya hingga harus dirawat di rumah sakit, berusaha mati-matian menjadi kurir bersepeda. Meski berat, Naomi berhasil mengantarkan Tokyo Express ke proyek prestisiusnya. Kurir bersepeda bisa lebih cepat dari kurir bersepeda motor. Prestasi itu berhenti ketika Naomi tak lagi bekerja di situ, ikut pacarnya.

Sepeda sebagai Pesan

Dewasa ini, dalam wawasan saya, tidak ada lagi kurir bersepeda. Pak Pos telah lama tak bersepeda. Kurir kantor dan dinas pemerintah-swasta tak pula bersepeda. Yang ada hanya ojek sepeda di kawasan utara Jakarta. Di Jogja, bahkan tukang batu dan petani pun tak lagi menggowes sepeda.

Apakah berarti sepeda tak lagi jadi kurir pesan? Masih. Hanya saja, pesannya berbeda. Bukan lagi sesuatu material berupa surat atau paket yang diantar, melainkan pesan immaterial, yang tidak kelihatan, yang tidak berwujud.

Dalam pengertian sekarang, sepeda bukan lagi pengusung pesan, namun sepeda itu sendirilah pesannya. Sego Segawe dan B2W, contohnya, adalah pesan tentang kesehatan, kelestarian lingkungan, dan gaya hidup. Sepeda adalah juru kampanye habitus baru untuk kehidupan yang lebih manusiawi. Sepeda adalah penyadaran perubahan. Sepeda adalah kesadaran perlunya berubah. Sebelum manusia, ya kita ini, menjadi fosil hidup, gara-gara boros menggunakan bahan bakar fosil bumi, lebih baik kita “ngawil” sepeda.

Pesannya begitu positif. Nadanya tentang kehidupan, bukan tentang kematian. Maka, pesan apakah yang hendak disampaikan pelaku bom bersepeda itu? Semoga bukan pesan agar masyarakat takut bersepeda.

AA Kunto A,

Penggowes Sepeda, tinggal di Yogyakarta

Menjadi Pelega Dahaga Pemudik

Leave a comment

diculik dari: http://cetak.kompas.com/read/2010/09/06/16462047/menjadi.pelega.dahaga.pemudik.

Forum

Menjadi Pelega Dahaga Pemudik

Senin, 6 September 2010 | 16:46 WIB

Oleh AA KUNTO A

Ritus mudik kembali datang. Tahun 2010 ini, menurut media massa, diperkirakan jumlah pemudik mencapai angka di atas 16 juta jiwa, 5 juta di antaranya ke Jawa Tengah, dan sekitar 71.000 ke Yogyakarta. Jumlah yang tidak sedikit. Angka itu menjadi istimewa untuk diperhatikan mengingat beberapa situasi yang sejatinya tidak mendukung.

Secara ekonomi, kita sedang diimpit kenaikan harga barang yang menyebabkan kemampuan berbelanja menurun. Secara politik, kita sedang bersitegang dengan Malaysia, tempat banyak saudara kita menjadi tenaga kerja di sana yang cukup menyedot perasaan nasionalisme kita. Secara sosial, sebagian di antara kita sedang dimabukkan oleh perangkat informasi teknologi berupa situs-situs jejaring sosial di internet yang senyatanya telah memudahkan kita untuk mudik kapan pun lewat pertemuan-pertemuan maya dengan kerabat kampung.

Memulangi tradisi

Baiklah, kenyataannya arus mudik fisik tidak bisa dibendung. Jalan-jalan akan kembali dipenuhi kendaraan aneka rupa seperti bus, mobil, dan sepeda motor. Stasiun kereta dan terminal bus pun akan dijubeli penumpang yang menggotong tas-tas besar dan kardus oleh- oleh. Bandara pun akan berubah tak ubahnya limpahan terminal bus.

Pun kita, orang kampung, orang “udik”, turut bersolek menyambut pulangnya kerabat. Aneka acara seperti syawalan dan reuni disiapkan untuk menyatukan kembali balung pisah. Kita berupaya sedemikian rupa supaya saudara-saudara kita merasa nyaman selama berada di kampung halaman.

Yang sebaiknya tak luput kita perhatikan, di belakang arus fisik, ada arus batin yang lebih kuat. Saya pernah merasakannya ketika jadi perantau. Mudik adalah peristiwa yang sangat menggetarkan. Ada kebutuhan yang jauh lebih dalam daripada pertemuan fisik dengan kerabat di kampung. Getaran batin inilah yang menyuntikkan energi luar biasa untuk menembus kemacetan, untuk mengantre tiket jauh-jauh hari dengan harga yang berlipat dari hari biasa, untuk berlelah-lelah menempuh perjalanan jauh. Apa saja kebutuhan tersebut?

Pertama, kebutuhan personal. Kampung adalah perwujudan dari asal, tempat kita berakar. Di kampung, semua watak kita dibentuk. Pondasi dasar hidup kita dibangun di sana. Nilai-nilai kehidupan seperti hormat kepada orangtua, belajar supaya pintar, bekerja keras agar sukses, dan etos-etos lain diproduksi di kampung halaman. Berbeda dengan produksi pabrik yang massif, produksi nilai-nilai tersebut berlangsung begitu personal. Prosesnya sangat berbeda pada setiap orang, maka hasilnya pun begitu khas, tak ada yang sama. Heart made, meminjam pengertian hand made untuk barang kerajinan. Dan, ini bukan barang.

Kedua, kebutuhan sosial. Walaupun begitu personal, ingatan akan kampung halaman adalah juga mengenai ingatan kolektif. Kampung halaman adalah kerumunan, kebersamaan, kebersatuan. Nilai-nilai tenggang rasa (tepa selira), gotong royong, kepekaan terhadap yang miskin papa, dipupuk dalam pengalaman interaktif sesama warga kampung.

Ketiga, kebutuhan spiritual. Lebih dari sekadar personal dan sosial, mudik adalah perjalanan spiritual. Imanen. Semua yang diciptakan dari tanah akan kembali menjadi tanah. Semua yang berasal dari debu akan kembali menjadi debu. Yang semua yang ada akan kembali kepada ketiadaan. Semua yang lahir akan mati, dan lahir kembali sebagai makhluk baru. Fitri, kembali suci. Kepercayaan ini begitu kokoh mengingat hubungannya transendental dengan Sang Pemilik Hidup. Maka, mudik menjadi laku peziarahan yang sublim.

Di perantauan, kebutuhan-kebutuhan tersebut tak selalu tersedia. Bisa jadi hilang, atau setidaknya tersaput nilai-nilai baru yang mengkristal dari perjumpaan dengan perantau-perantau lainnya. Lama- kelamaan mereka menjadi asing terhadap nilai-nilai asalinya. Lebih- lebih yang merantau ke kota besar, semangat kebersamaan tergerus oleh individualisme, solidaritas sosial tergilas konvensi batas- batas hak privat, gotong royong diempas rezim pertukaran ekonomis, dan seterusnya. Atas nama modernitas, mau tak mau mereka tunduk dalam tata nilai yang baru tersebut. Bahkan, tak sedikit di antaranya justru menjadi agen reproduksi nilai-nilai baru tersebut.

Penyembuh dahaga

Sebagai pengembara, pemudik adalah orang-orang haus. Jauh merantau, hati mereka dahaga. Pulang kampung, bagi mereka, sebentuk cara mencari kelegaan. Ada yang tidak cukup justru ketika mereka sudah terjamin kehidupan ekonominya, mapan status sosialnya, melejit karier profesionalnya. Yang tidak cukup adalah ketiga kebutuhan di atas.

Maka, sebagai orang kampung, ada cara pandang yang perlu kita benahi soal pemudik ini. Pembenahan ini perlu kita lakukan supaya kita tidak terjangkiti sindroma inferior-complex, yakni penyakit mental tahunan yang merasa kalah kelas dengan para perantau. Hanya gara-gara kita tinggal di kampung. Hanya gara-gara halaman rumah kita ketamuan mobil mewah. Hanya gara-gara bahasa kita tidak segaul mereka. Jangan keliru. Tidak semua penampilan itu otentik. Tak sedikit yang palsu, yang dikemas sedemikian rupa untuk menjaga gengsi supaya mereka tampak sukses.

Kita adalah oasis di tengah padang gurun perantauan. Sungguh berharganya kita bagi mereka. Sederhana saja yang bisa kita suguhkan kepada mereka, yakni mengembalikan keaslian identitas mereka. Ajak mereka sungkem kepada orang yang lebih tua atau dihormati, walau orang tersebut bukan siapa-siapa; untuk mengimbangi kebiasaan profesional-egaliter yang dominan berlaku di tempat kerja. Juga untuk me-nyata-kan jalinan silaturahmi yang sudah terbangun di jejaring sosial maya.

Ajak mereka berbelanja ke pasar tradisional, dan harus menawar harga; sebagai silih atas kebiasaan mereka bertransaksi kaku lewat uang plastik alias kartu. Ajak mereka berjalan kaki atau bersepeda ke kebun-kebun dan sawah petani, serta membasuh muka di mata air, supaya mereka beroleh kesegaran jiwa yang sempurna.

Selamat menyambut pemudik. Selamat memberi kelegaan.

AA KUNTO A

Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Yogyakarta

Gowes Merdeka: Menaklukkan Tanjakan Terakhir

1 Comment

Pengalaman mengalahkan bayangan. Demikian kata-kata bisa diracik.

Semula, sebagian teman peserta Gowes Merdeka Jogja-Borobudur berniat untuk cukup memancal sepeda sampai di Ancol. Separo jalan. Dalam bayangan mereka, Borobudur teramatlah jauh. Sedari awal, mereka sudah yakin tidak akan sanggup menempuh. “Bolehkah kami ikut jika tidak sampai tujuan?” pinta mereka saat menyodorkan pendaftaran nir formulir.

Tentu saja boleh. Yang tidak boleh, seperti yang saya tulis di pengumuman fesbuk, adalah berhenti di tengah jalan. Kalau mau berhenti harus minggir. Jika di tengah, bisa tertabrak!

Maka, berbondong-bondonglah teman-teman itu ke Bundaran UGM, pagi 17 Agustus 2010, petang sebelum matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 05.00 wib ketika satu per satu mereka menampakkan hidung.

Sudah ada Bang Ugartua Rumahorbo saat saya tiba. Setelan kostum merah-merah khas atlet sepeda lintas nusantara menandai keseriusan abang yang hobi sepedaan ke kantor ini. Masih gelap, dari kejauhan saya tak mengenalinya. Beda sekali penampilannya dengan keseharian sebagai eksekutif Penerbit Erlangga yang termasyur itu.

Dari ujung telpon, Danu Primanto memberi kabar sedang dalam perjalanan setelah memastikan mendapatkan pinjaman sepeda. Entah teman yang mana yang ia perdaya. Yang terang, fotografer situs berita Jogja http://www.tourjogja.com ini datang secara sumringah, dengan wajah sendunya yang senantiasa tampak teduh.

Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ngebut dari arah selatan. “Saya khawatir ditinggal,” bisiknya mendapati jumlah sepeda yang tidak sebanyak yang ia bayangkan. Ia pikir ini event akbar yang bakal diikuti ratusan atau ribuan peserta layaknya acara sepeda gembira yang kerap digelar di Jogja.

Dari arah punggung, turun dari lereng Merapi, dengan satu-satunya sepeda lipat yang ikut, datang Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku Pak Beye dan Istananya (Penerbit Kompas, 2010). Berkaos “45 Tahun Kompas Merajut Nusantara”, ia seperti hendak melanjutkan keikutsertaan dalam gowes Surabaya-Jakarta tempo hari yang sempat diikutinya di sepenggal rute saat peserta melintas di Jogja.

Berturut-turut teman-teman lain datang. Chandra Sena, Laga, Haris, Sugeng, Wompy, dan Bayu, dari Komunitas Gowes Koprol Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ada yang penuh semangat sejak beberapa hari lalu, ada yang baru semalam memutuskan ikut gara-gara dibujuk kiri-kanan.

Ada kejutan. Dua teman cewek ikut serta pula. Kejutannya bukan karena mereka cewek. Bukan pula karena mereka belum pernah bersepeda jauh. Lalu?

Mereka datang tergopoh-gopoh. Dari arah timur. Saya pikir, mereka sedang berpacu dengan matahari –dan mereka menang. Masih gelap saat mereka datang. Saya tidak lekas menyapa karena mereka, Anka dan Yuyut, langsung duduk di bibir boulevard. Anka menyelonjorkan kedua kakinya. Ia menambal kedua lututnya dengan kapas. Ups, ternyata habis terjatuh. “Tadi waktu lewat Jalan Solo, ada orang gila nglempar batu ke kami. Kami jatuh. Yuyut tak luka. Orang gila itu lari mendekat, kami pun lebih dulu lari,” ungkap Anka tanpa meminta iba. Hebat, mereka memutuskan untuk maju terus!

Alhasil, kami pun bersiap. 13 orang bergabung. Beberapa teman lain urung karena berbagai alasan. Ada yang mendadak mendapat tugas kantor. Ada yang lembur mengerjakan tugas ibunya. Ada yang kakinya pegal duluan. Ada yang tak memberi kabar.

Karena belum semua saling mengenal, kami berdiri melingkar. Saling mengenalkan diri sambil menatap wajah-wajah yang belum terbasuh sinar mentari. Pemimpin perjalanan dan penyapu di buntut rombongan pun kami tentukan.

Berangkat!

Kami memasuki kompleks Universitas Gadjah Mada. Terus ke utara, melewati samping Grha Sabha Pramana, lalu berfoto bersama di halaman Balairung. Arsitek kantor pusat UGM tersebut adalah Ir Soekarno, yang memilih untuk meninggalkan karir keinsinyurannya –dan ini tidak pernah dipertanyakan di pelajaran sejarah sekolah kita– untuk  menjadi aktivis kemerdekaan republik, menjadi presiden pertama republik, dan mati sebagai orang buangan presiden kedua republik.

Usai menjunjung sepeda melompati celah pintu pejalan kaki di pagar Balairung, kami menuju Selokan Mataram. Susur selokan pun kami mulai. Ke arah barat. Matahari sudah semburat. Melewati jembatan baru yang melangkahi Kali Code, kami terus menggowes santai ke barat, menyeberangi Jalan Magelang dan Jalan Lingkar Barat.

Begitu lepas dari sana, pemandangan alam mulai dominan menghampiri mata kami. Tidak lagi permukiman yang kami susuri, melainkan bentangan sawah yang menghijau. Air selokan yang coklat pekat, yang mengalir melawan arah kami, seperti mengiringi deras aliran darah di tubuh kami. Penuh semangat!

Di simpang Jalan Cebongan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel sepeda motor yang baru buka seintip pintu. Kami butuh pinjam kunci pas untuk membetulkan roda sepeda Yuyut yang nggesut gara-gara jatuh tadi. Beres!

Jalan beraspal di pinggir Selokan Mataram mulai naik turun sejak itu. Permukaannya mengikuti kontur tanah di sekitar aliran kali irigasi buatan zaman Jepang itu. Sedikit tanjakan memaksa kami menekan pedal lebih tegas. Sedikit turunan memanjakan kami pada udara sangat segar yang boleh kami hirup.

Sampai di ruas Seyegan, sekitar pukul 06.30 wib, kami mulai beriringan dengan adik-adik SMP yang hendak berangkat ke sekolah. Ini tanggal merah. Mereka masuk untuk ikut upacara bendera tujuh belasan. Bangga melihat mereka mau naik sepeda. Hare geneee masih ada yang mau ke sekolah keringetan?

Karena sudah hobi bersepeda, Mas Inu, Bang Ugar, dan Mas Bambang, melaju cepat di depan.  Sedang teman-teman yang lain, karena tidak pernah bersepeda, atau tidak terbiasa melaju di jalan raya (on road), tercecer di belakang. Alhasil, pada titik-titik tertentu kami saling menunggu.

Weh, pit-e antik… pit-e antik,” teriak anak-anak SMP 2 Tempel saat menggumuni sepeda lipat Mas Wisnu, saat kami berhenti di persimpangan selokan dengan jalan raya penghubung Tempel-Klangon. Mungkin ana-anak itu membatin, ada orang sudah gede kok masih mainan sepeda anak-anak.

Usai melewati jalan kampung, karena jalan tepian selokan sudah “habis” kami memasuki kawasan Ancol. Di sini, di Kali Progo ini, kepala Selokan Mataram terletak, sedang ujung ekornya ada Sungai Opak sana, sejengkal dari Candi Prambanan di timur sana.

Semula, sebagian teman hendak berbalik kanan di sini. Namun, pengalaman asyik sepanjang jalan tadi, plus komporan dari kami, mendidihkan adrenalin mereka untuk melanjutkan perjalanan. “Itu tanjakan terakhir kita,” tunjuk saya pada ruas jalan terjal di seberang sungai, menjawab keingintahuan seorang teman yang hendak meyakinkan niatnya. “Tanggung, masa udah sampai sini nggak sekalian ke Borobudur,” teman yang lain tak kalah garang memanas-manasi.

Akhirnya, ditambah bergabungnya dua teman, Andon dan Dedy Kristanto, yang menyusul, tak satu pun penggowes mengayuh mundur pedalnya. Semua maju, tak terkecuali Anka yang lecet lututnya merembeskan darah. Mas Bambang yang puasa saja bersemangat, masa yang lain loyo.

Sepenggal jalan bebatuan menanjak segera kami tempuh untuk meninggalkan Kali Progo ini. Ini tanjakan terjal pertama yang kami hadapi sejak 25 km pertama. Sebagian besar kami terpaksa memperlakukan sepeda kami layaknya sapi yang hendak disembelih. Menuntun sepeda.

Di ujung tanjakan, kelezatan lintasan halus menyambut kami. Dalam nafas yang tersengal-sengal usai menuntun, kembali saya yakinkan teman-teman bahwa di depan sana datar-datar saja. Hanya ada sedikit tanjakan. Bersemangatlah mereka melaju, melewati plang petunjuk arah tempat ziarah “Sendang Sono”.

Tahun lalu, di tanggal yang sama, saya bersepeda sendirian ke kompleks peziarahan Maria itu. Juga melewati sebagian penggal Selokan Mataram. Kali ini, melalui ajakan “iseng-iseng berhadiah” di fesbuk, saya mengajak teman-teman bergabung. Dan ternyata banyak yang berminat.

Ternyata, tanjakan terjal dan turunan curam kembali menyambut kami. Sebagian besar peserta terpaksa kembali bergelayut di samping sepeda. Gigi pedal tak ada lagi yang mau menolong. Gir paling enteng pun sudah putus asa.

Gerutu mulai terlontar. Gerutu yang justru memacu hasrat untuk terus melaju. “Kunto kurang ajar. Katanya tadi tanjakan terakhir. Nggak tahunya masih ada tanjakan lagi,” kami tertawa lepas di sebuah warung kecil di seberang Pasar Japuan-Tanjung Magelang. Jarak peserta terdepan dan terbelakang begitu jauh. Maka kami putuskan beristirahat di sana. Hanya Mas Bambang yang puasa, dan tetap puasa hingga kembali pulang nanti. Kami makan dan minum di warung soto milik ibu berkerudung itu. Ber-14 cuma habis Rp 50.000. Bang Ugar yang traktir.

Rambu-rambu di tengah jalan itu melegakan kami. “Borobudur 7 km”. Saya yakinkan teman-teman jika trek terakhir ini datar-datar saja. Tak ada lagi tanjakan. Nyatanya, sampai di Borobudur, tanjakan terakhir itu tak pernah ada. Walau kemiringannya kecil, tetap saja ada tanjakan.

Namun, syukurlah, walau tak pernah mendapati tanjakan terakhir, tak satu pun peserta menyerah. Tepat pukul 10.00 wib, kami tiba di pintu masuk Borobudur. Sesuai target. Dan untuk turut merayakan hari jadi Republik Indonesia, kami berfoto bersama sembari mengepalkan tangan kiri di atas-depan kepala. Tanpa kibaran bendera merah putih, kecuali bendera milik pengelola. Juga, tanpa sedikit pun emblem atau embel-embel keindonesiaan lain. Kami bercelana pendek, berkaos oblong, jauh dari layak jika harus upacara bendera.

Kelar berfoto di depan papan nama Taman Wisata Candi Borobudur, kami menyusuri jalan kampung di samping kompleks candi Buddha tinggalan Dinasti Syailendra abad ke-8-9 ini. Kami tidak berfoto di dalam kompleks, mendekati candi, karena oleh petugas kami dilarang masuk mengendarai sepeda. Ironis memang, di negara agraris ini, pola hidup orang-orang agraris justru disingkirkan. Tentang pelarangan sepeda ini, silakan baca tulisan saya di sini.

Ya, sudah. Yang penting kami sudah mencapai tujuan. Setelah cukup berpantas muka dengan jepretan kamera, kami pun bergegas kembali ke Jogja. Mampir Candi Mendut. Di siang yang sangat terik. Lewat rute yang minim “tanjakan terakhir”.

Yogyakarta, 18 Agustus 2010

Salam Gowes Merdeka,

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Candi Borobudur TAK ASYIK Dikunjungi

5 Comments

“Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi.”

PS: silakan sebarkan catatan ini ke teman-teman penggowes dan pengelola obyek wisata. mari kita perjuangan supaya Candi Borobudur, dan obyek wisata lain milik bangsa Indonesia merdeka ini, ramah kepada moda transportasi ramah lingkungan.

—————

Tepat pukul 10.00 wib 17 Agustus 2010 tadi, barisan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tiba di tujuan. Di depan papan nama “Taman Wisata Candi Borobudur” kami ber-15 merayakan 65 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Tangan kiri mengepal ke udara.

Hanya di depan papan nama saja. Tidak masuk ke dalam. Sebab, sepeda tidak boleh dibawa serta ke dalam. Harap parkir di luar, di tempat sembarangan penitipan kendaraan.

Menurut petugas jaga, sudah setahun larangan itu berlaku. Ia tidak tahu alasannya. Ah, kemunduran jika begitu. Sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Tidak menyebabkan polusi, selain bau keringat pengendaranya. Ups, bukankah pohon-pohon yang bijaksana itu bersedia menghisap bebauan polutif ini?

Saya kecewa tentu saja. Entah teman yang lain. Memang, peraturan seperti itu kewenangan pengelola lokasi. Silakan saja. Namun, saya punya harapan, ijinkanlah sepeda masuk ke kompleks candi. Tentu, tidak naik sampai ke puncak candi.

Semoga pengelola Candi Borobudur, juga Candi Prambanan dan Ratu Boko membaca ungkapan hati saya ini. Soal ini, saya memperjuangkan betul. Mari kembali hargai sepeda. Juga kendaraan-kendaraan lain yang ramah lingkungan seperti andong dan becak. Hmmm, saya harap Mas Harry van Yogya, tukang becak aktivis fesbuk, membaca ini dan mendukung desakan ini. Turunkan itu rambu-rambu yang melarang andong dan becak masuk kompleks candi. Ini kekayaan negeri kita, negeri yang sudah merdeka 65 tahun! Kok malah disingkang-singkang.

Kalau memang di dalam ada persewaan sepeda, seperti kata teman saya Agustinus Danardono, yang tadi bersama keluarga berkunjung di Borobudur, itu baik. Tetapi melarang sepeda luar masuk hanya supaya orang menyewa sepeda, menurut saya, kuranglah baik. Saya punya saran, kalau penyelenggara berdalih melarang sepeda luar masuk supaya tidak bikin semrawut, “tukar” sepeda kami dengan sepeda sewaan. Bebaskan biaya. Gratis? Ya!

Saya punya alasan, yakni supaya orang senang bersepeda. “Penukaran gratis” tadi hanya sebagai insentif atas kesadaran itu. Jogja-Borobudur hanya 40 km, dan cukup 2 jam saja mengawil pedal, lewat rute-rute yang asyik, betapa menarik jika ada kebijakan semacam ini. Jogja-Prambanan hanya 15 km (10 km dari bandara), 30 menit menggowes, juga bisa lewat rute perkampungan yang asri, asyik buat penduduk lokal dan wisatawan. Ratu Boko hanya 3 km dr Prambanan, dengan medan yang menantang bagi pendepak sepeda gunung.

Ada banyak alternatif yang bisa dipikirkan. Jangan hanya cari uang dengan sedikit-sedikit bayar. Parkir bayar, masuk bayar, pakai sepeda bayar, nyengklak kereta wisata bayar. Ribet amah! Memang, pengunjung harus ditarik bayaran untuk ongkos mengelola obyek wisata. Namun, kembalikanlah pertukaran uang-tiket itu dalam bentuk pelayanan yang mengesankan. Selain candi yang megah berdiri, yang dapat disentuh (tangible), Borobudur adalah obyek wisata yang menjual jasa intangible, yang hanya bisa dirasakan, yang hanya bisa diceritakan. Niscaya, jika cara-cara seperti ini dilakukan, para pengunjung akan dengan rela hati suka cita super gembira ria menjadi juru warta, menjadi juru kampanye obyek wisata kebanggan bangsa ini.

Kalau tidak, celakalah kita akan stempel buruk yang akan melekat. Satu pengunjung, seperti saya, kecewa, kabarnya bisa ke mana-mana. Apalagi jika yang kecewa pengunjung yang punya media, seperti Johanes Waskita Utama, wartawan olahraga Kompas, yang meninggali komentar di status saya “Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi” demikian, “cek ke prambanan juga, le, kayaknya sama aturannya. kalo lagi lomba trus rest di yogya, atlet yg rolling ke prambanan kalo gak salah selalu batal masuk krn gak bisa bawa sepedanya…” Nah lu!

Bersama kami dalam rombongan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tadi ada 2 teman wartawan. Yang satu Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku bagus yang sedang hangat jadi perbincangan “Pak Beye dan Istananya”. Satunya lagi Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen. Belum lagi ada Ugartua Rumahorgo, kepala cabang Penerbit Erlangga. Belum lagi Danu Primanto, fotografer pengelola situs wisata http://www.tourjogja.com/. Belum lagi Dedy Kristanto, peneliti di Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma. Belum lagi Anka, yang ibunya mengelola jaringan wisata Ubud-Bali. Belum lagi Andon, Chandra Sena, Sugeng, Bayu, Yuyut, dan teman-teman lulusan dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang hidup mereka sudah sangat akrab dengan internet dan jejaring sosial, yang kelak mereka akan jadi orang penting di tempatnya masing-masing….

Hmmm, sengaja saya sebut nama-nama mereka untuk menunjukkan betapa penyuka sepeda saat ini berasal dari kalangan-kalangan yang sejatinya justru bisa jadi pemasar potensial. Kepada mereka saya hembuskan kampanye “Candi Borobudur obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi”, terutama oleh pesepeda.

Karena tidak asyik, maka tadi kami memilih untuk melihat Candi Borobudur dari luar, dari kampung sebelah kompleks. Kami berpose di kejauhan, dengan latar belakang Candi Borobudur yang tersohor itu, dengan LATAR DEPAN, sepeda yang kami sohorkan.

——

Untuk bangsaku yang kabarnya sudah merdeka ini, aku rindu mendengar kabarmu sudah benar-benar merdeka.

Salam Gowes Merdeka,

Candi Borobudur TIDAK ASYIK dikunjungi, 17 Agustus 2010 AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Older Entries