Teringat Guru, Pagi Selalu Baru

1 Comment

Bu Basirah, Bu Prapti, Pak Parjo, Pak Kasimin (alm), Pak Asih, Pak Maryoto (alm), Pak Maryanto, dan Pak Kardiyat, adalah guru-guru SD saya, yang sosok mereka masih saya tanam di pekarangan subur ingatan saya. Jauh di pedalaman hati saya yang paling hulu.

Pagi yang selalu sejuk di lereng Merapi, guru-guru yang hangat menyapa, selalu memulangkan saya ke penggalan waktu yang hijau itu. Guru-guru itu memang tidak terhimpit keadaan seperti Bu Muslimah di SD Muhammadiyah, di Belitong. Saya pun tak hendak seperti Andrea Hirata yang dalam Laskar Pelangi-nya mengadegankan bagaimana sekolahnya mau rubuh.

Sekolah saya, SD Percobaan 3 Pakem, jauh lebih beruntung dari kebanyakan sekolah, bahkan di Jogja, pada waktu itu. Sewaktu bernama SDN III IKIP, dengan masa studi siswa hanya lima tahun, kami selalu digerujug kemewahan fasilitas belajar saban hari. Tidak ada buku yang perlu kami beli. Buku paket sangat komplet. Jika kurang, sekitar seribu judul buku alternatif ada di perpustakaan sekolah yang cukup modern. Untuk belajar, kami mendapatkan modul. Materi pelajaran dan soal-soal latihan ada di situ. Kami tinggal menggoreskan pena untuk bekerja.

Guru-guru muda, praktikan dari IKIP Negeri Karang Malang, rutin menyambangi kami, berbagi ilmu terbaru mereka di kampus.

Sekolah kami mewah. Ada laboratorium lengkap untuk belajar ilmu alam. Maklum, di kemudian hari, saat saya naik kelas 4, ketika nama sekolah menjadi SDN Percobaan 3, dengan masa studi menjadi 6 tahun seperti sekolah pada umumnya, sekolah yang bercokol di Kampung Sanggrahan, Jalan Kaliurang km 17 Jogja ini diamanatkan untuk menjadi sekolah berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan alam (IPA). Walhasil, replika tengkorak manusia, mikroskop, lup, preparat, dan banyak alat percobaan lainnya komplet tersedia.

Saat itu, SD Percobaan 1 dimandatkan berkonsentrasi spesialis matematika, sedang SD Percobaan 2 berfokus pada pengajaran bahasa Inggris. Sebelum tahun 1990, trend SD berbahasa Inggris belum semeluber sekarang.

Dapur untuk masak? Ya, sekolah kami punya juga. Seminggu sekali kami memasak. Tidak cowok, tidak cewek, yang bertugas di depan kompor mesti pakai celemek. Jadilah, sejak SD kami mulai mengenal cowek, sothil, irus, wajan, brambang, miri, loncang, dan segala uba rampe meracik masakan sedap lainnya.

Kemewahan lain ada pada luas lahan. Tak tahu persis berapa luasnya, yang terang pekarangan sekolah kami cukup melelahkan untuk sekadar cari keringat. Kami punya lapangan sepakbola sendiri, seluas sepertiga lapangan bola dewasa. Badminton? Ada dua lapangan resmi, bergaris beton, dan 3 lapangan liar tanpa garis dan net. Di kala senggang, lapangan-lapangan itu kami pakai untuk jek-jekan, sejenis permainan menangkap musuh dan merebut markas lawan. Juga bermain gobag sodor, sebuah permainan kuno yang mensyaratkan kemampuan berlari, berkelit, dan bekerjasama.

Kami juga punya aula kecil untuk kegiatan indoor, seperti lompat balok dan koprol. Jika Jumat tiba, karena waktu itu belum punya mushala, aula ini juga dipakai untuk sholat Jumat. Sedangkan pada sore hari secara bergilir untuk latihan menari atau kulintang. Ya, waktu SD saya ikut keduanya. Sekarang sudah lupa semuanya. Padahal, jika teringat, betapa bersyukur saya pernah dikenalkan dengan budaya tradisional bangsa seperti itu.

Semua itu menjadi menyenangkan, tentu saja, berkat sentuhan para guru. Dalam ingatan saya, mereka mengajar dengan cinta, menyapa dengan hati, dan mendidik dengan teladan. Bu Basirah, dengan tekun membimbing kami belajar mengarang. Saya pernah ikut lomba tingkat kabupaten atas rekomendasi beliau. Jika kemudian saya menjadi penulis, wartawan, dan editor, pondasi itu beliau yang meletakkan.

Advertisements

Pisowanan Agung yang Tak Agung

4 Comments

Saya ada di sana. Tapi, kali ini, saya merasa tidak menjadi warga Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perkara mau maju jadi presiden, itu hak siapa saja, termasuk Sultan HB X sekalipun. Silakan.

Namun, menggunakan acara kebesaran budaya hanya untuk menyatakan kesiapan menuju RI-1, menurut saya, maaf, kok tidak pada tempatnya. Seperti sore ini tadi.

Di hadapan ribuan masyarakat, dari berbagai daerah, yang berkumpul di Alun-Alun Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pada neton-nya Selasa Wage, Sultan mendeklamasikan sikap,

Untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakan siap maju menjadi Presiden 2009.

Hanya itu. Tidak lebih. Tidak ada pernyataan tentang kebangsaan, tentang keindonesiaan, alih-alih keistimewaan Jogja.

Sangat berbeda dengan Pisowanan Agung 20 Mei 1998. Saat itu, Sultan HB X didampingi Paku Alam VII (alm), secara lantang mengajak rakyat mendukung gerakan reformasi. Bahwa sehari kemudian Soeharto terjungkal dari kursi presiden, itu efek saja. Reformasi bertujuan lebih jauh dan luhur dari itu. Seruan Sultan pun jauh ke depan, mendukung gerakan reformasi: memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pada Pisowanan Agung 28 Oktober 2008 ini? Entah. Saya tak bisa memahami raja saya.

Sultan sudah mengikrarkan tekadnya. Saya menghormati. Siapa to saya ini? Namun, perkara memilih atau tidak, saya punya sikap: tidak! Jabatan presiden terlalu sempit untuk seorang pengageng kabudayan Jawi. Maaf.

Raflles, Hospital Dengan Servis Hotel

Leave a comment

Suatu saat dapat tugas liputan ke negeri singa. Kapan ya di Indonesia model rumah sakit seperti ini berkembang untuk kalangan kebanyakan?

Beda dengan rumah sakit lainnya, Raffles Hospital menerapkan konsep laksana hotel. Lantas, experience apa yang mereka tawarkan?

Banyak rumah sakit di Tanah Air yang mengklaim berstandar internasional. Namun, belakangan, seiring mencuatnya kasus-kasus dugaan malapraktik, klaim-klaim tersebut seolah dicibir. Tak heran bila makin banyak pasien yang “lari” berobat ke luar negeri. Salah satu negara yang menjadi tujuan utama mereka adalah Singapura. Dan menurut sumber MARKETING, sekitar 70 persen pasien internasional di rumah sakit-rumah sakit di Singapura datang dari Indonesia.

Ada dua rumah sakit besar di Singapura yang sangat dikenal publik Indonesia, yakni NationalUniversity Hospital dan Mount Elizabeth. Faktor usia dan pengalamanlah yang membuat mereka dikenal. Reputasi mereka tak diragukan lagi. Pelayanan mereka sangat mengesankan.

Menyangkut reputasi dan pelayanan pasien, inilah ungkapan perasaan Irwanto yang dimuat Kompas, 17 Oktober 2004: “Di sana (Singapura-red) saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara teliti.” Irwanto adalah korban dugaan malapraktik yang dilakukan sebuah rumah sakit internasional di Jakarta Selatan. Separuh badan doktor psikologi ini lumpuh dan keadaan itu nyaris membuatnya kehilangan semangat hidup. Bersyukurlah ia datang ke Singapura. Bukan saja perawatan secara medis yang diperolehnya, melainkan juga secara psikis. Tidak saja badannya dipulihkan, jiwa kemanusiaannya pun kembali diutuhkan, kendati ia tetap lumpuh.

Sekelumit kisah itu hanyalah sebagian dari alasan orang-orang Indonesia yang memilih menjalani perawatan medis di negeri jiran tersebut. Dan bukan hanya dua rumah sakit besar tadi yang menjadi tujuan. Kini mulai banyak rumah sakit baru yang tak kalah larisnya. Dengan konsep yang modern, rumah sakit-rumah sakit itu mulai dilirik. Salah satu yang bintangnya sedang bersinar adalah Raffles Hospital.

Rumah sakit ini terletak di North Bridge Road. Baru beberapa saat yang lalu di lobby dalam terpampang tulisan “Raffles Hospital”, itu pun atas permintaan pelanggan. Maklum, tanpa tulisan itu, orang akan terkecoh dengan tampilan rumah sakit yang mirip hotel. Sama sekali tidak ada “bau” rumah sakitnya.

Menurut General Manager Corporate Services Raffles Hospital, Dr Prem Kumar Nair, rumah sakit tersebut memang menerapkan konsep seperti hotel. Malah, tanpa nada berseloroh, beberapa kali Dr Prem menyebut istilah “hospitel”. “Hospital with hotel services,” terangnya.

Ia serius. Sejak MARKETING memasuki satu per satu bagian rumah sakit tersebut, nuansa pelayanan hotel memang sangat terasa. Bukan saja tata ruang yang nyaman dan fasilitas medis yang lengkap. Pelayanan yang disediakan pun sangat customer based. Service memang terasa sebagai kekuatan mereka. Soalnya, jika ditilik secara dalam, fasilitas yang ada tidak terlampau luar biasa. Boleh dibilang, hampir semua rumah sakit di negeri bersimbol “Merlion” ini memiliki standar yang sama.

Mengingat sebagian besar pasien internasional rumah sakit tersebut berasal dari Indonesia, Raffles Hospital yang menyasar segmen atas ini menyiapkan petugas khusus yang bisa berbahasa Melayu. Mereka menamainya “interpreter & secretarial service”. Dr Prem mengatakan, tujuan pelayanan seperti ini agar pasien merasa nyaman selama tinggal di sana, senyaman di rumah sendiri. Supaya pasien tidak merasa sakit. Sebaliknya, supaya termotivasi untuk sembuh.

Saking pengen membuat pasien nyaman, di bagian pelayanan pasien internasional, disediakan berbagai jasa yang mempermudah pasien dan keluarganya selama di negeri itu. Mereka sangat paham tabiat orang Indonesia. Meski sakit, dalam benak pasien dan keluarga Indonesia tetaplah traveling dan… shopping! Oleh karena itu, di Raffles International Patients Centre tersebut terdapat pelayanan yang disebut “travel planning & visitor information”. Mau city tour?Free of charge. Gratis pula untuk pengurusan visa atau pengaturan tiket. Bahkan, untuk keluarga pasien yang belum sempat check in di hotel setibanya mereka di sana, disediakan locker room yang dapat memuat tas ukuran besar. Gampang. Bisa mereka atur.

Beda dengan Mount Elizabeth yang lokasinya dekat dengan Orchad Road –surga belanja orang Indonesia, Raffles Hospital dekat dengan Bugis Junction. Di sini terdapat stasiun MRT (Mass Rapid Transportation), yang memudahkan siapa saja untuk pergi ke mana saja. Menangkap kebutuhan itu, rumah sakit ini juga menawarkan “retail therapy”. Siapa tahu belanja dapat mensugesti pasien untuk sembuh.

Pelayanan yang sangat customized ini memang menjadi visi Raffles Hospital untuk menjadikan pasien dan keluarganya sebagai the very important person. Dibenarkan Dr Prem, yang ingin ditonjolkan rumah sakit tersebut adalah experience-nya. Ini sesuai pula dengan tarif kompetitif yang ditetapkan di sana.

Untuk semakin melekat di benak masyarakat Indonesia, Raffles Hospital gencar berpromosi. Di luar iklan, Raffles Hospital juga membuka kantor representatif di Jakarta. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Jakarta Express, travel agent yang sukses membuat paket medical check up di rumah sakit ini dan berbelanja di Mustafa Center meraih penghargaan Tourism Awards dari Singapore Tourism Board sebagai “the most innovative marketing effort by foreign tour operator”. Tujuan kerja sama tersebut bukan saja untuk menarik minat pasien seperti Irwanto, namun juga mereka yang sehat, supaya mereka bisa merasakan bahwa sehat itu menyenangkan…(AA Kunto A, Majalah Marketing November 04)

Bom Bali

1 Comment

Kota Atambua sangat sepi pagi itu. Tidak banyak orang lalu-lalang di depan kantor JRS, tempat saya menginap.

Saya baru tiba di kota itu setelah delapan jam melakukan perjalanan darat dari Kupang. Berita bom yang meledak di Legian, Bali saya dapatkan saat mengakses internet menggunakan jaringan telepon. Pagi yang mengejutkan.

Sesudah itu, perkembangan berita tidak bisa saya pantau karena minimnya sumber informasi. Satu-satunya siaran televisi yang bisa ditonton di sana hanya TVRI. Jika beruntung dapat bocoran RCTI. Koran daerah Pos Kupang baru sampai di Kabupaten Belu tersebut keesokan harinya.

Di luar faktor itu, tugas peliputan di kamp-kamp pengungsian memaksa saya berkonsentrasi pada korban “bom politik referendum 30 Agustus 1999”. Menjelajah kamp di seputar Atambua dan Betun saya teruskan. Juga menyeberang ke Timor Leste.

Baru sebulan sesudah tragedi kemanusiaan, yang disebut-sebut terbesar kedua setelah Menara WTC, itu saya terbang ke Bali dari Kupang. Hotel White Rose, 100 meter dari Ground Zero menyediakan penginapan gratis kepada wartawan kala itu. Puluhan teman juru berita pun berkumpul di sana. Untuk keluar masuk, dijebolkan pagar belakang hotel. Pintu depan, persis di samping Bank Panin, di seberang Sari Club, masih terhambat puing-puing.

Getar-getar kengerian sangat terasa kala itu. Bali seperti mati tanpa upacara ngaben, tanpa upacara kehormatan. Bali jadi sia-sia. Ketatnya penjagaan terasa di mana-mana. Sontak, Bali berubah jadi kota dewa curiga. Kuta sepi. Kuta Square, yang kelak juga diledakkan bom bersamaan dengan bom Jimbaran, seketika sepi transaksi.

Suasana sepi terus bertahan hingga ketika empat tahun kemudian saya ke Bali. Saya menuliskannya di blog terdahulu:

Bali Kosong

February 13th, 2006 by kunto

Dalam bahasa Jawa, bali itu mulih, kembali. Maka, bali kosong berarti kembali kosong. Pulang kepada kehampaan.

Seperti itu pulalah yang terjadi pada Bali, pulau dewata pujaan manusia sepanjang bangsa. Kemarin, saya ke sana setelah terakhir Desember 2004. Bandara Ngurah Rai sepi. Tidak seperti lazimnya, tak ada antrian untuk sekadar mengambil bagasi. Parkiran nyaris kosong, padahal biasanya pukul sembilan pagi padat menyumpat.

By Pass menuju Nusa Dua ramai, tapi ternyata tidak di Nusa Dua. Pantai kosong, hanya ditunggu pasir yang terdesak abrasi. Hotel Westin lengang, bukan karena sedang Nyepi. Resort di tepi pantai itu sepi pengunjung. Menghadap ke timur, pantai itu seperti mengharap matahari yang tiada kunjung bersinar.

Tari kecak yang dimainkan 50 Bli, dipimpin Sang Hanoman, tak juga menurunkan ilmu pengetahuan ke akal budi mereka. Cak… cak… cak…cakcak…ccccakcccak… Langgam itu seperti hanya berdecak kehilangan roh. Kain poleng yang membalut enam pohon kelapa seperti hilang daya, tak sanggup tepis sesat. Hanya tepuk tangan ala kadarnya yang menggemuruhi pamungkasnya sendratari nan agung itu. Sesudah menari, detak gemercak Bli-Bli muda itu kembali kepada kehampaan.

Ini pasti derita berkepanjangan bagi orang Bali. Tak ada lagi turis berkerumun di seputar pura. Mereka berdoa sendiri, dalam hening yang malam. Tetamu tak lagi mampir di kios souvenir, sementara sesaji terus mengepul. Mantra memohon ampun, sembayang pengharapan itu, kini seolah tak ampuh lagi. Barangkali karena terlalu lama terbeli oleh industri wisata…

Bali sedang kembali kepada kekosongan yang sebenarnya. Bali sedang sendiri. Bali sedang tiada…

Bunyi tulisan kaos bikinan Pakuningratan, “Bali Wae Nang Djogdja.” Ya, mulih wae nang yoja…

Kalau ada perkecualian, itu di Seminyak. Kawasan bar dan diskotek itu tetap ingar-bingar hingga pagi. Setiap malam, usai berburu berita, kami selalu beringsut ke Seminyak. Minum, makan, berjoget. Hanya saja, jogetannya kaku. Minumnya pun ala kadar saja. Makan tanpa nafsu. Ada kegaguan di balik dentuman musik yang disetel keras-keras. Jika kami, para wartawan, menghabiskan waktu di sana, itu lebih merupakan cara untuk melepaskan penat yang tak tertahankan. Penat dalam menguraikan persoalan terorisme tersebut. Penat dalam berempati dengan korban yang kami wawancarai.

Saya, contohnya, sampai sekarang selalu ingat pada sosok Sony. Bapak dua anak ini bekerja di Hotel White Rose. Malam itu, ia meminta istrinya menjemput usai bekerja. Dan istrinya berangkat dari rumah di waktu-waktu seputar kejadian itu. Hilang ia. Sampai sekarang….

Bali enam tahun lalu…

Donor Darah

Leave a comment

Belum sampai rumah ketika telpon bimbit saya bergetar. Arif AB. Meski sedang menyetir, saya buru-buru mengangkat telpon itu. Telpon dari teman satu ini bisa dipastikan berhubungan dengan nyawa orang. Sebab, jika tidak mendesak amat, ia cukup berkirim pesan singkat.

Benar saja.

“Mas Kunto ada di Jogja?”

Ya.

“Bisa segera meluncur ke PMI Sardjito? Butuh 2 orang. Baru ada satu.”

Siap.

Komunikasi kami pendek saya. Kami, yang tergabung di Komunitas AB, sudah saling paham. Saya minta waktu untuk pulang dulu mengantar istri. Ia butuh segera istirahat supaya esok pagi bisa mengajar dengan bugar. Lagi pula, belanjaan brokoli, tomat, wortel, dan buah-buahan yang baru saja kami unduh di Pasar Kolombo [ada kios sayur yang buka justru pada malam hingga dini hari], sebaiknya segera kami masukkan ke lemari berpendingin supaya esok pagi tetap segar.

Berganti celana panjang, dan menyambar jaket tebal, saya bergegas meninggalkan rumah. Istri saya memilih tidur di depan TV. Ia di rumah sendirian.

Karena hujan, yang dua malam belakangan mengguyur deras kampung kami, batallah rencana saya berganti sepeda motor. Saya kembali melajukan kuda besi empat roda inventaris kantor.

Waktu menunjukkan pukul 21.30 Wib ketika saya tiba di unit transfusi darah PMI RSUP Dr Sardjito. Saya sangat hapal jalan ke ruangan itu meski akses ke sana gelap. Mas Arif sudah berdiri di depan pintu. Saya pun diperkenalkan dengan keluarga yang membutuhkan darah ini.

Tak berbasa-basi, saya segera menuju loket pendaftaran, mengisi formulir, lalu duduk di kursi tunggu. Tak sampai setengah jam, nama saya dipanggil. Cukup cepat, mengingat kerumunan pendonor semalam cukup banyak.

Mas Maryono, petugas jaga PMI, segera mempersilakan saya duduk. Tangan kanan saya julurkan. Jarum suntik ia siapkan. Jari tengah saya pun dicoblosnya. Sedikit darah yang mengalir ia tuangkan ke preparat untuk diuji golongan darahnya.

PMI tampak berusaha hati-hati. Saya sudah donor berkali-kali. Kartu donor yang diterbitkan PMI DKI Jakarta pun selalu saya gembol di dompet. Juga selalu saya tunjukkan setiap kali donor. Kartu berwarna kuning, warna untuk pemilik golongan darah AB. Toh kartu itu tidak bisa menghindarkan saya dari pemeriksaan petugas. Dari informasi yang saya peroleh, pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan jenis golongan darah, sekaligus menghindari kemungkinan penyalahgunaan oleh orang iseng. Harap mahfum, banyak vampire (calo darah) berkeliaran. Mas Arif cerita, beberapa waktu lalu ada orang mengaku darahnya AB. Begitu diperiksa, ternyata A. Patut diduga, orang tersebut hendak menangguk keuntungan di sela penderitaan tersebut. Ssst, kabarnya “harga darah” yang dipatok para calo untuk golongan darah AB paling mahal. Paling menggiurkan. Mungkin mereka tahu bahwa pemilik golongan darah ini hanya 1,5 dari 100 orang. Langka!

Usai memeriksa tekanan darah saya, Mas Maryono mempersilakan saya berbaring. Kali ini tangan kiri saya yang hendak diambil darahnya, setelah 5 bulan lalu tangan kanan saat aksi donor darah ulang tahun kantor. Pria berambut cepak yang katanya pernah bercita-cita jadi polisi itu cekatan dalam bekerja. Tak sampai 15 menit, proses penyedotan 350 cc darah dari tubuh saya selesai. Tidak pusing, seperti biasanya.

Enteng rasanya usai donor. Bukan hanya fisik, tapi juga rasa.

Secara fisik, tentu, badan lebih segar. Dengan mengeluarkan sebagian darah, maka darah di tubuh saya akan mengalami pembaruan sel-sel. Menyehatkan tubuh jika melakukan aksi seperti ini secara rutin.

Secara rasa? Ini yang membuat hidup ini sangat berarti. Setiap bisa donor, saya selalu bersyukur atas karunia hidup ini. Atas kesehatan yang melimpah untuk saya. Atas kepekaan saya pada penderitaan orang lain. Saya selalu berdoa, semoga setetes darah saya menyelamatkan jiwa dan raga orang yang membutuhkan. Semalam, darah saya untuk seorang ibu yang menderita kanker.

Bekerja, Selalu Menanam

1 Comment

Ada yang sedang singgah di kepala. Tentang bekerja.

15 tahunan saya bekerja. Sejak di bangku sekolah, saya sudah mencicipi dunia kerja. Meski kerja sederhana. Sewaktu SMP, saya sudah nyambi mendampingi pramuka sekolah lain menggelar perkemahan. 3 hari, saya diamplopi Rp 10.000. Girang bukan main saat itu.

Saat SMA juga. Wesel Rp 36.000 saya cairkan di kantor pos atas jerih saya menulis di sebuah majalah ibu kota. Cukup untuk nraktir temen-temen makan bakso di kantin. Cukup pula untuk cerita di rumah pada ibu dan bapak. Malah, sangat besar nilainya ketika saya selalu menceritakan pengalaman itu sampai sekarang.

Sewaktu SMA itu pula, saya berkenalan dengan dunia kerja yang profesional. Lamaran saya menjadi wartawan di Harian Bernas diterima. Saat itu saya baru menyelesaikan kelas 1 secara tertatih-tatih setelah tidak masuk sekolah 2 bulan gara-gara kecelakaan lalu lintas. Harian Bernas memang menerima wartawan pelajar kala itu. Koran yang manajemennya dikelola oleh Kompas itu memberi kesempatan kepada pelajar mengelola satu halaman setiap hari minggu. Satu halaman penuh tanpa iklan! Setiap minggu, tidak boleh bolong! DAN TIDAK ADA SEPESER UANG PUN UNTUK PEKERJAAN ITU!

Nama rubrik yang kami asuh adalah Gema. Semua wartawannya pelajar. Pekerjaan kami sama dengan wartawan dewasa lainnya: merencanakan, meliput, mewawancarai, mencari data, memotret, menulis, menyunting! Kalau luput dimaki. Sama! Kalau kerjaan belum selesai, sudah malam sekali pun, tidak boleh pulang. Sama!

Saya menikmati pekerjaan itu, meski di awal-awal harus tertatih-tatih. Bukan saja karena tidak punya pengalaman menulis dan bekerja di lapangan, melainkan karena kaki saya belum tegak untuk berdiri. Untuk berjalan saya masih pakai kruk penyangga. Sungguh-sungguh tertatih.

Syukurlah bahwa saya bersungguh-sungguh saat itu. Meski tidak dibayar, saya merasa menerima bayaran yang jauh lebih bernilai daripada nilai uang jika pekerjaan saya dihitung seperti karyawan profesional lainnya. Bayaran itu adalah KESEMPATAN. Kesempatan apa? Kesempatan untuk menanam. Menanam apa? Menanam kepercayaan. Kepercayaan apa? Kepercayaan bahwa saya punya kemauan, saya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan… saya selalu terbuka untuk belajar.

Tidak hanya di Gema saya bekerja tak berbayar. Di Majalah Balairung-UGM, kampus saya kuliah, dan di Sanggar Talenta, Penerbit Kanisius, saya belajar menulis, juga menerbitkan buku tanpa diimbali duit. Tahun-tahun awal bekerja di Majalah Basis dan Majalah Utusan pun sama. Jika saya butuh uang, terutama untuk membayar kuliah, saya menulis di media massa. Entah menulis opini, entah menulis resensi buku, atau reportase lainnya. Syukurlah, selama kuliah, saya mendapatkan kepercayaan dari Harian Bernas untuk menjadi kolumnis tetap di rubrik “Teropong”, bersama guru menulis saya St Kartono.

Seterusnya.

Ketika saya sampai di sini sekarang, saya berkaca ke belakang. Apakah ini buah yang saya petik dari benih yang saya tanam dulu? Ya, pasti. Kepercayaan yang satu persatu diletakkan di pundak saya, saya sadari sebagai simpul dari kepercayaan-kepercayaan kecil masa lalu yang bisa saya tuntaskan. Syukurlah jika seperti itu.

Apakah sekarang saya tidak lagi menanam? Tentu tidak.

Menanam sepanjang hayat. Jika tidak saya yang memanen, ya anak saya, keturunan saya, generasi sesudah saya.

Apa yang saya tanam sekarang? Tiada lain, bekerja semakin profesional, lebih mumpuni. Juga menanam perilaku: hormat kepada siapa pun, menghargai siapa pun, dan berempati kepada orang lain. Saya mengingatkan diri untuk tidak takabur. Roda hidup berputar. Siap di atas, siap di bawah. Siap di puncak, siap di ngarai. Siap memimpin, siap dipimpin.

Kepada teman-teman kerja, saya tidak jemu-jemu melontarkan refleksi itu. “Suatu saat kalian yang jadi pemimpin.” Saya siap dipimpin. Bisa karena mereka yang makin pintar, bisa karena saya kian tumpul.

Dengan benih-benih perilaku yang saya tanam, semoga saya selalu bisa bekerja sama dengan siapa pun, kapan pun, dalam peran apa pun.

Menanam sepanjang hidup. Bukan karena digaji tinggi, tetapi supaya belajar tiada henti.

Berlebaran di Kampung

Leave a comment

Ini lebaran pertama bersama istri. Ada perbedaan tradisi di antara kami soal cara merayakan hari kemenangan umat Islam ini. Karena terlahir di keluarga yang berada di garis “tua”, maka istri saya terbiasa dikunjungi saudara-saudara. Ia menjadi tuan rumah.

Beda dengan saya. Saya terlahir di antara dua garis itu. Di pihak bapak, kami “tua”. Di pihak ibu, kami “muda”. Tapi, lepas dari tua atau muda, kami dibiasakan untuk berkunjung ke rumah saudara. Ya ke yang tua, ya ke yang muda, kami sambung tali silaturahmi.

Seperti lebaran ini.

Saya ajak istri berkunjung ke tetangga kiri-kanan. Menurut data, ada 130 rumah di lingkungan kami yang wajib kunjung. Lemes istri saya, tidak bisa membayangkan capeknya. Untunglah, di antara sekian banyak rumah itu, sebagian adalah keluarga muda. Biasanya rumah mereka kosong. Entah ditinggal mudik, entah “tutup pintu”. Alhasil, kami tidak perlu mendatangi semua.

Toh, itu tak serta-merta melegakan kami. Siang yang begitu terik di lebaran hari pertama, memaksa kami untuk memicingkan mata, menahan sinar matahari, dan bersahabat dengan debu yang beterbangan di sepanjang jalan yang kami lalui. Kami berjalan kaki di paruh pertama. Baru di paruh kedua kami pulang dan mengambil motor. Seperti dipanggang rasanya.

Kebiasaan baru untuk istri saya. Terlebih rumah tetangga yang tua-tua kami kunjungi. Rute kami: Pakde Zaini, Mbah Paidi, Mbah Sakijo, Pakde Bejo, Mbokde Suto, Mbah Yoga, Pak Dukuh, Mbah Mitro, Mbah Joyo, Mbah Min, Mbah Ranto…. Pakde Endro, Pakde Heni, Pakde Gito, Pakde Sudi, Pak Kamsi, Pak Ponijo, Pakde Prapto, Mbah Kaum, Mbah Dirjo… Itu hanya sebagian.

Mbah Sakijo depan rumah kami. Rumahnya beralaskan tanah, tak punya WC dan kamar mandi. Ia menggelar tikar. Suguhan favoritnya adalah tape ketan dan emping. Ini kesukaan saya. Tapi, karena baru keluar rumah, dan perut saya masih penuh, saya tak menyantapnya. Baru di rumah Mbah Min, kakaknya, di ujung kampung sana, saya melumat tape lezat seperti itu.

Bersilaturahmi di kampung selalu menjadi saat-saat yang menggetarkan bagi saya. Sembari uluk salam, “Matur Mbah… sowan kula ingkang sepisan minangka bekti kaliyan panjenengan. Ingkang kaping kalih nyuwun agunging samudra pangaksami awit klenta-klentu kula salebetipun setunggal tahun punika. Lan ingkang kaping tiga, nyuwun pangestu mugi-mugi Gusti ngijabahi gegayuhan kula sa’ brayat…”, saya bisa mendengarkan denyut jantung mereka yang syarat akan pengalaman hidup.

Sebagian besar tetangga saya adalah saudara. Masih ada hubungan kekerabatan dari garis nenek. Sebagian besar dari mereka petani. Miskin, meski mereka merasa berkecukupan. Kendaraan mereka sepeda, meski anak-anak mereka kemlinthi bermotor.

Dari mereka saya selalu menyerap energi kehidupan. Tentang kerja keras, kesederhanaan, ketabahan, bersahabat dengan alam yang keras, dan pasrah kepada penyelenggaraan Ilahi.

Dari mereka saya bercermin, betapa hidup ini selalu layak untuk disyukuri. Betapa pun sulitnya.

Semangat-semangat itu yang hendak saya kenalkan kepada istri saya. Supaya ia makin siap hidup di kampung, di antara baru, di antara baja. Kami ingin tangguh seperti mereka.

Semoga tahun depan kami masih boleh menatap keriput wajah mereka, menatap bahu perkasa mereka, dan berjabat tangan erat-erat… Bercengkerama lagi di atas daun pandan, ditemani tape ketan dan emping melinjo…