Untuk Ovik, istriku: cintamu api hidupku

Dua hari lalu ulang tahun istimewa saya. Ulang tahun pertama sejak kami menikah. Ulang tahun pertama sejak menginjak usia kepala tiga. Paruh waktu yang membawa saya kepada permenungan mendalam: bagaimana ke depan.

Hidup saya menggendong beberapa predikat: suami, wartawan, penulis, editor, dan karyawan sebuah perusahaan.

Sebagai karyawan, karir saya menaik. Untuk saya, puncak karir sebagai karyawan sudah saya capai dalam usia muda. Masih tersedia banyak jenjang untuk meniti karir ke atas, sampai ke puncak berikutnya. Asal saya bekerja secara benar, berprestasi, target terpenuhi, dan perusahaan menjadi maju, eskalator kenaikan jabatan pasti saya genggam.

Sebagai editor, wartawan, dan penulis, karir saya mendalam. Bukan menaik. Ukuran keberhasilan profesi tersebut bukan pada jabatan, tetapi pada karya. Bobot karya akan menentukan seberapa dalam karir kepenulisan saya. Semakin berisi, semakin saya mendapat tempat sebagai penulis. Popularitas, keterkenalan, hanya efek belaka, bukan tujuan.

Demikian juga sebagai suami. Meski ini bukan profesi, bukan pekerjaan, namun status ini pun menyediakan jenjang karir. Juga bukan menaik, melainkan mendalam. Keberhasilan menjadi suami, sejauh referensi yang saya baca, juga pembacaan atas pengalaman banyak orang yang sudah menikah, terletak pada bagaimana ia mampu masuk ke dalam relung ruang keluarga secara total. Semakin hari semakin dalam, semakin rekat.

Saya merenungi benar panggilan hidup saya ini. Di saat yang tepat, di waktu yang kuat. Supaya hidup saya makin berarti, makin berguna, dan makin pada tempat-Nya.

Jika memilih ke atas, saya kehilangan kesempatan untuk menambah bobot hidup. Jika memilih ke dalam, saya kehilangan kesempatan untuk mengibarkan harum wangi. Jika saya tidak memilih keduanya, saya kehilangan kesempatan untuk menjawab panggilan-Nya.

Saya bertanya pada saya.

Dan jelas sekali suara hati itu. Mendalam, bukan menaik. Ke dalam, bukan ke atas. Meresap, bukan mencuat. Sebab, di sana ada mata air kedamaian, tempat benih-benih kebahagiaan bersemai.

Saya mau di sana. Di kedalaman itu. Sejak sekarang.