Takhayul Ujian Nasional

1 Comment

Republik sedang galau. Persis ABG. Pejabatnya suka meracau, rakyatnya suka melow-melow. Goyang dombret rame-rame. Asal asoi.

Korbannya anak-anak sekolah. Mereka dicekoki dengan ritual takhayul bernama UN (ujian nasional). Mengapa takhayul?

Ujian adalah tahapan biasa, sangat biasa, dalam suatu proses pembelajaran. Entah sekolah, lebih-lebih hidup, ujian itu satu paket dengan pembelajaran.  Dan banyak sekali ujian di kehidupan ini: termasuk ujian SIM.

Lucunya, ujian di dunia pendidikan formallah yang paling heboh. Seolah-olah pendidikan formal itu instrumen paling yahud dalam penentuan keberhasilan seseorang-sebangsaan. Selain ujian nasional, ujian sertifikasi guru juga tak kurang ributnya.

Sebagai sebuah ritual takhayul, UN ditempatkan layaknya pohon beringin yang keramat. UN harus disembah supaya penyembahnya tidak kesurupan. Kemenyan-dupa disulut supaya aroma mistis merebak. Lampu petromaks diredupnya supaya kesan singup didapatkan. Sajen kembang tujuh rupa berupa soal-soal yang disegel pun dijaga punggawa nagari bersenjatakan bedil.

Tak kurang, mantra-mantra magis pun dilitanikan, “Persiapkan diri kalian! Kerjakan dengan jujur! Yang tidak lulus tidak beroleh ijazah.” Koran mengutip mantra itu besar-besar. Televisi menyorot mulut-mulut pejabat yang komat-kamit melafaskannya. Radio memperdengarkan lagu-lagu penyayat hati pengiris ulu.

Alhasil, anak-anak jempling-jempling saat doa bersama menghadapi UN. Mereka takut bukan kepalang jika Tuhan Maha Besar yang dimohoni tak meluluskan doanya. Takut durhaka, mereka pun sujud sungkem ke lutut guru dan orangtua, berharap semua dosa terampuni sehingga semua soal terjawab.

Masyaallah, kenapa jadi begini? Pendidikan yang mestinya menginspirasi dan menggembirakan berbalik menjadi sedemikian menakutkan? Mau jadi apa negara ini kalau kelak dipimpin oleh generasi takhayul?

Pendidikan itu mencerahkan nalar, memelekkan rasa, mengasah menempa mental, melecut etos, menekuni proses, memperjuangkan hasil secara utuh dan simultan. Bukan menyembah berhala secara sesat dan sesaat.

Yogyakarta, 16 April 2012

AA Kunto A

[http:/www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@solusiide.com]

Advertisements

Kebakaran George-got!

1 Comment

Sayangi KeraGeorge Junus Aditjondro (GJA) jadi berita lagi. “George dituding melecehkan Keraton Yogyakarta,” bunyi headline Koran Tempo halaman Jawa Tengah & Yogyakarta edisi Jumat, 2 Desember 2011. Atas tudingan itu, sekelompok orang yang menamakan diri Forum Masyarakat Yogyakarta melaporkan George ke Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tubuh berita itu menjelaskan hal ikhwal pelaporan itu. Pada sebuah diskusi publik tentang Sultan Ground dan Pakualaman Ground di Fakultas Teknologi Pertanian, Rabu (30/11), George menyebutkan akronim keraton sebagai kera ditonton.

Selain melaporkan ke polisi, forum tersebut juga mengadukan George pada atasannya, Rektor Universitas Sanata Dharma, tempat George, masih mengutip koran tersebut, tercatat sebagai dosen Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya.

Di media jejaring sosial, George pun ramai jadi bahan gunjingan. Lebih-lebih ketika seorang aktivis menulis status di Facebook bahwa ia dan teman-temannya usai menggerudug rumah kontrakan George. Mendapati George tak di rumah, bunyi status tersebut, mereka menitipkan tiket bus Joglosemar jurusan Jogja-Semarang kepada ketua RT setempat. Mereka mengusir George dari Jogja!

Lucu tenan. Hooh, marai wetengku bangka. Guluku tengeng nyangka cangkem nyekakak. Gerrrrr…

Apa sebab saya tertawa? Sebab, lucu sekali. Hanya gara-gara bedes, munyuk, saja kok mbanyaki. Bedes adalah sebutan orang Jawa Timur untuk kera, sedang orang Jogja menamai saudara tuanya ini munyuk. Banyak adalah bahasa Jawa angsa/soang. Mbanyaki berarti panik seperti angsa. Bukankah mestinya kita menyayangi binatang, termasuk kera dan angsa?

Sebagai orang Jogja, saya tersinggung. Eits… eits… eits… kalau tersinggung berarti saya boleh mengusir orang yang membuat saya tersinggung? Lalu, teman orang yang saya usir itu tersinggung, gantilah saya diusir. Waduh, Jogja jadi kota usir-mengusir dunk… Padahal setau saya, hanya sopir andong yang boleh mengusir (Kalau nggak mudeng gojegan kere ini, jangan tersinggung ya).

Saya tidak membela George. Saya bukan teman George, walau pernah direpotkan oleh kejahilannya “menghilang dari peredaran” usai bikin heboh menerbitkan buku Gurita Cikeas, tahun lalu, saat saya masih bekerja di perusahaan yang menerbitkan bukunya itu. Meski tak terlibat dalam pengerjaan bukunya, termasuk menyunting sekali pun, saya mesti meladeni teman-teman media yang memburu pernyataannya. Obat penenang datang dari beberapa koleganya, “Dia biasa begitu. Bikin heboh, lalu menghilang.” Oh, saya pun tertawa masam. Saya memaklumi.

Saya juga tak membela keraton. Saya bukan kerabat Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Saya hanya warga Jogja kebanyakan, yang menghormati keraton sebagai alas dan payung kejogjaan saya. Lagipula, untuk apa keraton dibela? Di umurnya yang sudah sekian abad, keraton Jogja sudah terbukti mampu melewati banyak onak, baik busur kata maupun senjata baja. Dan onak beracun saja yang dihadapi.

Keraton Jogja itu entitas besar. Tak akan berkurang kebesarannya hanya oleh olok-olok George—tapi akan merosot kebesarannya kalau tidak menuntaskan kegusaran rakyat yang didiskusikan di forum itu. Tak perlu pula membela keraton secara berlebihan. Apalagi nama Jogja melekat di sini. Jogja itu bangsa besar, berhati besar. Sebaiknya tetap menggunakan cara-cara besar untuk menyelesaikan perkara, walau untuk perkara kecil ini.

Bukan dengan cara mengusir. Mengapa? Nanti bisa “salah kedaden”. Sebab, setahu saya, yang biasa mengusir itu aparat dinas kependudukan, untuk warga yang didapati tidak punya KTP. Atau kementerian luar negeri untuk warga asing yang tidak mengantongi dokumen resmi masuk ke negara kita—deportasi.

Santai saja, dab. Seperti waktu SBY datang ke Jogja jagong manten anak ragil Sultan HB X tempo hari, kita kan juga tidak nggrudug Gedung Agung dan mengusir sang presiden kan? Padahal, sikap SBY terhadap keistimewaan DIY, termasuk ucapan populernya soal “republik bukan monarkhi” kurang nylekit seperti apa? Hiks, toh SBY sendiri memilih bergaya raja, dengan pakaian adat Jogja, ketika mantu. Ndagel matikel-tikel to?

Menurut saya, sebaiknya hati rakyat Jogja tetap seluas samudera, sebagaimana Jogja berhalamankan Laut Selatan. Samudera itu menerima apa pun. Badai. Hujan. Lahar Merapi dan sampah-sampah rumah tangga yang mengalir lewat sungai-sungai. Juga ludah orang yang berenang di pantai. Samudera tetap legawa, tetap asin.

Maka, kita tidak perlu kebakaran George-got—maaf George, namamu kuplesetkan sebagai jenggot!

Selamat berhari Minggu. Everyday is Santai in Jogja…

Jog-George-keraton, 4 Desember

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@solusiide.com]

 

Foto diambil dari sini.

Perkara Jawa-Cina

4 Comments

jawa-cina, karya agung

Soal identitas Jawa-Cina kembali diperkarakan Donny Verdian di blog-nya. Entah gerangan apa yang menyulutnya mendudah bincangan lawas ini. Saya tak menemukan pemantik selain bahwa tulisan tersebut dihidangkan untuk bingkisan ulang tahun ke-63 almamaternya, SMA Kolese de Britto, yang juga almamater saya, yang belakangan sedang berkubang dalam sekam pertikaian.

saya bocah gunung, melarat pula

Saya usai membaca kembali Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, 12 tahun sepeninggal penulisnya, ketika topik renta ini berkelebat di layar laptop. Pengakuan Pariyem bertutur tentang “dunia batin seorang wanita Jawa” sebagaimana termaktub di sub judul buku legendaris yang kembali diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini. Prosa lirik ini pertama kali diterbitkan tahun 1981 oleh Penerbit Sinar Harapan, dan pertama kali saya baca sekira tahun 1998, saat-saat kuliah sosiologi di kampus Bulaksumur lebih banyak saya tinggalkan untuk ikut-ikutan demonstrasi sana-sini, usai wartawan Kompas Hariadi Saptono memperkenalkan saya pada sastrawan kelahiran Kadisobo yang setahun sesudahnya mati itu—dan saya belum jadi mengenalnya.

More

Gowes Mengurangi Risiko Bencana

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

Artikel saya “Pesan Damai Pesta Sepeda” yang dimuat Kompas, 11 Oktober lalu berbuah berkah. Undangan pertemanan di akun Facebook saya berdatangan dari teman-teman pesepeda. Girangnya hati saya.

Lebih girang lagi tatkala salah seorang teman baru, Mas Bimo, berlega hati mengirimi saya tautan ini http://forum.b2w-jogja.web.id/index.php?topic=2833.0. Segera saya mengirim sms ke Mas Thomas, si empunya gawe. Bersambut.

Pagi ini, Sabtu 16 Oktober, tiga puluh menit selepas pukul enam pagi, Waltz Hybrid saya akur mengusung saya ke titik pertemuan di Monjali, Monumen Jogja Kembali. Panitia sudah menunggu di halaman parkir timur, dekat kios penjaja souvenir.

Segera menerakan tanda hadir. Silih atasnya adalah secarik kertas putih, beberapa brosur, dan sebuah kaos hitam bertuliskan “Masyarakat Kuat Bencanane Lewat; eling lan waspada ngadepi bebaya”. Masyakarat kuat, bencana lewat; ingat dan waspada menghadapi bahaya.

Saya mendapatkan kertas bertuliskan (bahasa dan pengetikan sesuai teks asli):

——-

III. Regu Banjir: Banjir adalah bencana musiman dan diperburuk dengan adanya perubahan iklim global sekarang ini. Yogyakarta dilalui oleh beberapa sungai yang berpotensi mengakibatkan banjir. Sistem drainase yang buruk juga mengakibatkan banjir di beberapa daerah. Tempat-tempat yang akan anda tuju adalah titik-titik rawan banjir di Yogyakarta. Sebarkan poster dan tips siaga bencana di daerah-daerah tersebut.

Anda harus menuju ke daerah-daerah yang digambarkan dalam petunjuk di bawah ini:

  1. Daerah dimana Romo Mangun berkarya
  2. Daerah Universitas negeri tempat dulu para calon guru menimba ilmu
  3. Dulu adalah area Pesanggrahan Hamengku Buwono VII

——-

Usai memecahkan teka-teki yang terkandung dalam petunjuk tersebut, kami bergegas ke arah kota. Menyusuri Jalan Nyi Tjondroloekito, sepeda kami lajukan perlahan. Tujuan pertama kami adalah Perkampungan Code di Gondolayu. Mas Falon jadi pemimpin perjalanan. Teman-teman lain, yang baru saya kenal tadi, membuntuti di belakang. Kami berkenalan sembari menggowes sepanjang Monjali –Blunyah Gede – Jetis – Tugu – Code – Terban – Bundaran UGM – Samirono – Demangan – Ambarrukmo – Gowok – Sorowajan – Balaikota – Pusdalops PB.

Sampai di jembatan baru memasuki kampus UGM dari arah barat, kami berbelok ke kiri. Jalan kecil di samping jembatan kami pilih. Menurun amat curam, kami meluncur satu per satu. Hanya seorang yang tak berani menunggangi sepedanya. Ia menuntun saja. Maklum, sepedanya jenis fixie gear, yang sedang tren di Jogja. Sepeda itu tanpa rem. Perlu sedikit membungkuk untuk menghentikan putaran ban. Maka, tak mungkinlah membungkuk di turunan jika tak hendak terjungkal.

Mengenali Risiko Bencana

Pemandangan di bawah jembatan menakjubkan. Tepian sungai ini pas sekali untuk berpuisi, atau mendendangkan nyanyian air yang mengalir dari kaki Merapi itu. Ada beberapa gazebo di sana, tersebar di pinggiran kali, cocok untuk merebahkan penat. Pohon-pohon rindang juga berhimpun di bantaran.

Ini Kali Code. Di atas sana, warga menamai sungai ini Kali Boyong. Jika Merapi sedang menggelar hajatan, hembusan awan panasnya bertiup ke sini. Enam belas tahun lalu, awan panas yang dikenal dengan sebutan “wedus gembel” itu meluluhlantakkan Dusun Turgo, dusun paling atas di sisi barat daya Merapi, dan menewaskan 62 jiwa, yang sebagian di antaranya sedang menghadiri pesta perkawinan salah seorang warga.

Awan panas berkecepatan 300 km/jam dengan suhu di atas 800 derajat Celcius itu, selama ini, memang tak pernah berhembus sampai ke kota. Yang sampai hanyalah kiriman guguran lava yang menjelma menjadi bebatuan digelontor air. Curah hujan yang tinggi di daerah hulu itulah yang potensial membanjiri aliran kali ini.

Potensi bencana inilah yang menggerakkan Forum Pengurangan Risiko Bencana menggelar kegiatan bersepeda sambil membagikan brosur dan poster tentang hal-hal apa saja yang perlu diketahui masyarakat tentang pengurangan risiko bencana. Ada beberapa kelompok selain kelompok banjir yang saya ada di dalamnya. Ada kelompok gempa bumi, ada kelompok tanah longsor, ada kelompok angin. Semua bencana itu pernah menimpa Jogja, dari skala kecil hingga besar, dari yang tidak berkorban sampai yang menyita perhatian dunia internasional seperti gempa 5,9 Skala Richter pada 27 Mei 2006.

Di negeri rawan bencana ini, memang sebaiknya kita belajar tentang kebencanaan dan risikonya. Dengan mengenalinya, kita bisa memperkecil risiko yang diakibatkannya.  Dalam hal banjir, contohnya, risiko bisa diminimalkan dengan cara membangun kesadaran masyakarat untuk tidak membuang sampah di sungai. “Beberapa orang di sini masih suka melakukannya di dekat bendungan itu,” gerutu seorang warga Blunyah Gede sembari menunjuk gambar pada brosur yang saya sodorkan.

Monumen Kesadaran

YB Mangunwijaya, alias Romo Mangun, berhasil membangun monumen hidup tentang kesadaran atas risiko bencana ini. Di bawah jembatan Gondolayu, 300 meter sebelah timur Tugu Yogyakarta, pastor-novelis-arsitek-aktivis ini mendesain kawasan bantaran sungai sebagai tempat yang layak dihuni sekaligus aman dari bahaya banjir. Ia membangun rumah-rumah warga seturut kemiringan tebing. Lebih-lebih, kesadaran warga dalam menjaga lingkungan ia tanamkan betul. Alhasil, sepeninggal Romo Mangun, sedekade lalu, perkampungan itu terjaga nilai-nilai kebersihan  lingkungannya. Mas Heri, salah seorang warga, sembari menyantap sarapan di warung depan perpustakaan, bersaksi bahwa hingga kini kampung mereka tak pernah diluberi air.

Lain halnya cerita Suster Mariane CB, pengasuh Asrama Putri Stella Duce, Samirono, saat kami menyambangi tempat itu dalam perjalanan ke Universitas Negeri Yogyakarta –yang tak jadi kami singgahi– tadi. Asrama yang dihuni remaja usia SMA itu jadi pelanggan tetap banjir saat hujan mengguyur. Padahal, kali di samping barat asrama yang terletak persis di belakang Asrama Syantikara itu hanyalah kali kecil dengan lebar sekira 2 meter. Hulunya pun hanya di Lembah UGM, tak sampai 1 km di atasnya. Posisi asrama yang lebih rendah dari aliran sungai menyebabkan air kerap meluber hingga ke kamar-kamar. Sejak tahun 1995-an, ketika saya kerap dolan ke sana, hingga kini, bencana itu jadi sahabat mereka. Dan bukan hanya mereka. Warga Klitren, sekira 1 km ke arah hilir, nyaris selalu jadi bintang pemberitaan media karena jadi pelanggan tetap banjir oleh sungai yang sama. Kondisi ini diperparah dengan keteledoran warga membangun Balai RW persis di atas kali; sebuah preseden buruk penataan lingkungan yang amat sembrono.

Sebelum menyudahi perjalanan di Pusdalops PB (Pusat Pengendalian dan Operasi Penanggulangan Bencana; ini juga preseden buruk berbahasa dalam hal penyingkatan istilah yang tidak konsisten), kami singgah di pos terakhir sesuai perintah secarik kertas yang kami lipat. Tempat itu adalah Pesanggrahan Ambarrukmo, yang gandhog tengen-nya telah dikepras untuk pendirian Ambarrukmo Plaza. Padahal itu tempat bersejarah, tempat beristirahat Sultan dan kerabat Kasultanan Yogyakarta, tempat Sultan HB VII wafat di tahun 1921. Sekarang, situs cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia No. PM. 25/PW.007/MKP/2007 itu makin terbengkalai dikepung pagar proyek pembangunan kembali Hotel Ambarrukmo.  

Tugas Mengingatkan

Kaitannya dengan gerakan ini? Terang ada. Faktanya, ruas jalan depan Hotel Ambarrukmo, 100 meter timur Plaza Ambarrukmo, selalu banjir jika hujan turun lebat. Air yang mengalir deras dari arah Jalan Perumnas, membludak begitu saja ke Jalan Solo. Drainase yang ada tidak memadahi menampung debit air yang besar. Bisa jadi bukan bangunan-bangunan modern itu yang jadi penyebab banjir, melainkan rantai pembangunan lainnyalah biangnya.

Jika pun bukan bukan penyebabnya, bolehlah kita mengingatkan para pembangun itu untuk menghitung dampak pembangunan yang dikerjakannya. Miris, contohnya, melintas di Jalan Kaliurang ruas Kentungan di kala hujan. Akibat pembangunan wilayah yang begitu brutal di kiri-kanan, jalan itu tak ubahnya kali. Orientasi pembangunan yang tidak ramah lingkungan akan membunuh kita.

Terima kasih kepada Forum Pengurangan Risiko Bencana dan Komunitas B2W (bike to work) yang telah menyelenggarakan kegiatan santai dan penuh kesan ini. Sambil bersepeda bisa menyusuri sungai, bertegur sapa dengan warga bantaran, dan menimba aneka kearifan alam.

Mari bersepeda.

Yogyakarta, 16 Oktober 2010

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Candi Borobudur TAK ASYIK Dikunjungi

5 Comments

“Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi.”

PS: silakan sebarkan catatan ini ke teman-teman penggowes dan pengelola obyek wisata. mari kita perjuangan supaya Candi Borobudur, dan obyek wisata lain milik bangsa Indonesia merdeka ini, ramah kepada moda transportasi ramah lingkungan.

—————

Tepat pukul 10.00 wib 17 Agustus 2010 tadi, barisan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tiba di tujuan. Di depan papan nama “Taman Wisata Candi Borobudur” kami ber-15 merayakan 65 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Tangan kiri mengepal ke udara.

Hanya di depan papan nama saja. Tidak masuk ke dalam. Sebab, sepeda tidak boleh dibawa serta ke dalam. Harap parkir di luar, di tempat sembarangan penitipan kendaraan.

Menurut petugas jaga, sudah setahun larangan itu berlaku. Ia tidak tahu alasannya. Ah, kemunduran jika begitu. Sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Tidak menyebabkan polusi, selain bau keringat pengendaranya. Ups, bukankah pohon-pohon yang bijaksana itu bersedia menghisap bebauan polutif ini?

Saya kecewa tentu saja. Entah teman yang lain. Memang, peraturan seperti itu kewenangan pengelola lokasi. Silakan saja. Namun, saya punya harapan, ijinkanlah sepeda masuk ke kompleks candi. Tentu, tidak naik sampai ke puncak candi.

Semoga pengelola Candi Borobudur, juga Candi Prambanan dan Ratu Boko membaca ungkapan hati saya ini. Soal ini, saya memperjuangkan betul. Mari kembali hargai sepeda. Juga kendaraan-kendaraan lain yang ramah lingkungan seperti andong dan becak. Hmmm, saya harap Mas Harry van Yogya, tukang becak aktivis fesbuk, membaca ini dan mendukung desakan ini. Turunkan itu rambu-rambu yang melarang andong dan becak masuk kompleks candi. Ini kekayaan negeri kita, negeri yang sudah merdeka 65 tahun! Kok malah disingkang-singkang.

Kalau memang di dalam ada persewaan sepeda, seperti kata teman saya Agustinus Danardono, yang tadi bersama keluarga berkunjung di Borobudur, itu baik. Tetapi melarang sepeda luar masuk hanya supaya orang menyewa sepeda, menurut saya, kuranglah baik. Saya punya saran, kalau penyelenggara berdalih melarang sepeda luar masuk supaya tidak bikin semrawut, “tukar” sepeda kami dengan sepeda sewaan. Bebaskan biaya. Gratis? Ya!

Saya punya alasan, yakni supaya orang senang bersepeda. “Penukaran gratis” tadi hanya sebagai insentif atas kesadaran itu. Jogja-Borobudur hanya 40 km, dan cukup 2 jam saja mengawil pedal, lewat rute-rute yang asyik, betapa menarik jika ada kebijakan semacam ini. Jogja-Prambanan hanya 15 km (10 km dari bandara), 30 menit menggowes, juga bisa lewat rute perkampungan yang asri, asyik buat penduduk lokal dan wisatawan. Ratu Boko hanya 3 km dr Prambanan, dengan medan yang menantang bagi pendepak sepeda gunung.

Ada banyak alternatif yang bisa dipikirkan. Jangan hanya cari uang dengan sedikit-sedikit bayar. Parkir bayar, masuk bayar, pakai sepeda bayar, nyengklak kereta wisata bayar. Ribet amah! Memang, pengunjung harus ditarik bayaran untuk ongkos mengelola obyek wisata. Namun, kembalikanlah pertukaran uang-tiket itu dalam bentuk pelayanan yang mengesankan. Selain candi yang megah berdiri, yang dapat disentuh (tangible), Borobudur adalah obyek wisata yang menjual jasa intangible, yang hanya bisa dirasakan, yang hanya bisa diceritakan. Niscaya, jika cara-cara seperti ini dilakukan, para pengunjung akan dengan rela hati suka cita super gembira ria menjadi juru warta, menjadi juru kampanye obyek wisata kebanggan bangsa ini.

Kalau tidak, celakalah kita akan stempel buruk yang akan melekat. Satu pengunjung, seperti saya, kecewa, kabarnya bisa ke mana-mana. Apalagi jika yang kecewa pengunjung yang punya media, seperti Johanes Waskita Utama, wartawan olahraga Kompas, yang meninggali komentar di status saya “Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi” demikian, “cek ke prambanan juga, le, kayaknya sama aturannya. kalo lagi lomba trus rest di yogya, atlet yg rolling ke prambanan kalo gak salah selalu batal masuk krn gak bisa bawa sepedanya…” Nah lu!

Bersama kami dalam rombongan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tadi ada 2 teman wartawan. Yang satu Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku bagus yang sedang hangat jadi perbincangan “Pak Beye dan Istananya”. Satunya lagi Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen. Belum lagi ada Ugartua Rumahorgo, kepala cabang Penerbit Erlangga. Belum lagi Danu Primanto, fotografer pengelola situs wisata http://www.tourjogja.com/. Belum lagi Dedy Kristanto, peneliti di Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma. Belum lagi Anka, yang ibunya mengelola jaringan wisata Ubud-Bali. Belum lagi Andon, Chandra Sena, Sugeng, Bayu, Yuyut, dan teman-teman lulusan dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang hidup mereka sudah sangat akrab dengan internet dan jejaring sosial, yang kelak mereka akan jadi orang penting di tempatnya masing-masing….

Hmmm, sengaja saya sebut nama-nama mereka untuk menunjukkan betapa penyuka sepeda saat ini berasal dari kalangan-kalangan yang sejatinya justru bisa jadi pemasar potensial. Kepada mereka saya hembuskan kampanye “Candi Borobudur obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi”, terutama oleh pesepeda.

Karena tidak asyik, maka tadi kami memilih untuk melihat Candi Borobudur dari luar, dari kampung sebelah kompleks. Kami berpose di kejauhan, dengan latar belakang Candi Borobudur yang tersohor itu, dengan LATAR DEPAN, sepeda yang kami sohorkan.

——

Untuk bangsaku yang kabarnya sudah merdeka ini, aku rindu mendengar kabarmu sudah benar-benar merdeka.

Salam Gowes Merdeka,

Candi Borobudur TIDAK ASYIK dikunjungi, 17 Agustus 2010 AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Mencintai dan Menggunakan Bahasa Indonesia

Leave a comment

Sebagai bangsa, kita sudah sepakat memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Sejak dicetuskan pada 2 Mei 1926 dalam Kongres Pemuda I, dan kemudian “disumpahkan” pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia kemudian jatuh-bangun menjadi bahasa komunikasi di seantero nusantara. Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, juga bahasa pergaulan sehari-hari. Di Jakarta orang berbahasa Indonesia, di Ternate pejabat berpidato dengan bahasa Indonesia. Tua-muda pun berbahasa Indonesia.

Oleh negara, bahasa Indonesia ini kemudian dikawal sedemikian rupa supaya semakin merata dan memenuhi kaidah berbahasa. Ada proses pembakuan yang sistematis digulirkan. Hasilnya berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Tesaurus Bahasa Indonesia, dan rujukan-rujukan berbahasa Indonesia lainnya, baik keluaran instansi pemerintah seperti Pusat Bahasa, maupun besutan linguis partikelir.

Sampai kini pun belum sempurna benar. Masih banyak cacat bahasa di sana-sini yang tak kunjung dilinguisterapi (linguisterapi: terapi berbahasa). Ambil contoh soal ‘k-p-t-s’ yang luruh-tidaknya saat bersetubuh dengan awalan ‘me-‘ masih riuh bergemuruh. Ada yang bilang seluruhnya luruh, ada yang sahut khusus serapan dari bahasa asing saja yang luruh.

Ups, padahal hanya sekira 20% bahasa Indonesia yang digunakan sekarang benar-benar asli.

Ups lagi, padahal mana ada bahasa asli Indonesia? Indonesia saja tercipta belum lama, ya seumur deklarasi pemuda itu, kok mau mengklaim bahasa asli-serapan. Seperti bahasa Ibrani, bahasa Indonesia adalah bahasa yang sebelumnya belum ada ketika kemudian dipakai sebagai bahasa resmi sebuah negara.

Lalu mau menyebut bahasa serapan? Banyak serapan yang belum ajur-ajer benar. Picingkan mata ke kata-kata ini: standar-standardisasi; objek-subjek-proyek. Ck ck ck, inkonsistensi itu masih jadi sariawan di lidah kita.

Meninggalkan Bahasa Indonesia?


Tentu saja tidak. Jangan biarkan bahasa ini mati muda. Biarlah penggunanya yang mati muda, memudar, sedangkan bahasanya memuda.

Semangat inilah yang disiangi oleh Forum Bahasa Media Massa (FBMM), yakni semangat untuk semakin mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa tutur dan tulis. Mencintai di mulut, mencintai di tangan. Berbicara dalam bahasa Indonesia, beraksara dalam bahasa Indonesia pula.

Zainal Arifin menegaskan semangat ini dalam kunjungan FBMM Daerah Istimewa Yogyakarta di kantor Penerbit Galangpress Group, siang ini. Menurut ketua forum yang sehari-hari bekerja di TVRI ini, peran FBMM adalah mengkampanyekan gerakan mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia. Beranggotakan jurnalis, editor, dan pekerja media yang bergelut di ranah bahasa, FBMM hendak menjadi wadah pengembangan bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa lokal, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

“Dan FBMM tidak berpretensi menjadi polisi bahasa,” sergah P Ari Subagyo, ketua bidang penelitian dan pengembangan pada kepengurusan periode 2009-2012 ini. Lanjut Ari yang bekerja sebagai linguis di Universitas Sanata Dharma ini, meski di FBMM ada anggota yang menghendaki forum ini berperan sebagai polisi bahasa, namun fungsi kreasi berbahasa juga sebaiknya mendapatkan tempat. “Kajian bahasa bukan bersifat normatif, namun agar bahasa berkembang,” tandasnya.

Dengan pandangan seperti itu, bahasa Indonesia yang oleh beberapa kalangan diperjuangkan betul kebakuannya tidak akan membeku. Sebab, kebakuan berbahasa lewat bahasa tulis berpotensi menjauhkan kita dari orisinalitas berpikir kreatif. Dan ujungnya, bahasa Indonesia akan menjadi momok bagi penggunanya sendiri. Kalau ini terjadi, kekhawatiran Ari bisa semakin menyata, yakni terus merosotnya tradisi berpikir di masyarakat akibat rendahnya minat baca dan menulis.

Maka, peran FBMM yang juga mewadahi praktisi-praktisi usil, yakni praktisi yang selalu gatal mengeksplorasi dan mencoba-coba bahasa, bukan hanya memunculkan bahasa baru, melainkan memperkayanya. Banyak misteri bahasa, karenanya, yang bisa dibongkar forum.

Bertemu Penerbit Galangpress Group, irisan sinergi pun terbentuk. Sebagai praktisi bahasa, yang kerap bereksperimen dengan kekuatan frasa seperti “membongkar”, “menodong”, “kupas tuntas”, “cara pintar”, “kedahsyatan”, dll, Galangpress membutuhkan teman berdiskusi yang mencerahkan. Frasa-frasa itu sudah teruji “laku” dibeli masyarakat pembaca. Dengan bergandeng tangan, Galangpress dan praktisi bahasa lain bisa membidani lahirnya kata-frasa-idiom baru yang selama ini belum ada atau tertimbun lemak kemalasan bercas-cis-cus.

Dalam jangka panjang, sinergi berupa workshop, seminar, dan ajang pelatihan lain, juga bakal menggairahkan dunia kepenulisan yang kini miskin penulis. “Jangan sampai kita impor penulis,” tukas Julius Felicianus, Direktur Galangpress saat menyambut FBMM. Julius tidak mengada-ada melontarkan ancaman ini. Ia menyodorkan fakta, jumlah judul buku di Indonesia baru di kisaran 20.000 judul per tahun. Jika satu orang penulis produktif mengerami lebih dari 1 judul buku, dan sebagian buku lainnya adalah karya penulis luar yang diterjemahkan, maka jumlah penulis kita tidak sampai 5 (lima) persen dari total penduduk Indonesia. “Padahal,” Julius memunculkan fakta lain, “50% buku yang kami terbitkan ditulis oleh tim redaksi.” Wow, potret buruk!

Jogja, 26 Januari 2010
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

::: Selamat kepada Penerbit Kanisius yang hari ini berulang tahun ke-88 :::

Sowan Guru Bangsa

2 Comments

Sore begitu teduh. Suasana pedesaan sangat terasa di kompleks perumahan itu. Sepi. Bahkan, anak-anak pun tak tampak berseliweran di jalanan. Mungkin, mereka sedang ke luar kota untuk merayakan tahun baru bersama keluarga. Satu-dua kendaraan saja melintas pelan di depan rumah.

Bendera setengah tiang berkibar lesu di halaman rumah. Sang Merah Putih sedang berduka. Satu guru bangsa telah tiada. Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 wafat dalam usia 69 tahun pada 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Dan sore itu, 3 jam setelah Gus Dur kembali ke pangkuan ibu pertiwi di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sang guru bangsa yang lain menemui kami di rumah itu. “Prof, turut berduka cita atas wafat Gus Dur,” salam pembuka kami begitu kami dipersilakan duduk di ruang tamunya yang tak cukup untuk menemui 10 orang itu.

“Dua minggu yang lalu Gus Dur ke sini, duduk di sana di atas kursi rodanya,” kata Prof Syafii Maarif, guru bangsa kita ini, sembari menunjuk arah depan persis di depan posisi duduk beliau. Dari cerita beliau, terasa betul kedekatan tokoh utama 2 organisasi besar Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, ini. Meski secara kultural dan ideologi organisasi berbeda, namun keprihatinan mereka terhadap kebangsaan sama.

Tersirat duka mendalam Prof Syafii atas kepergian Gus Dur. Karena waktu tidak nyandak, beliau tak melayat hari itu, baik di Jakarta maupun di Jombang. Baru lewat iklan di Harian Kompas, atas nama pribadi dan Maarif Institute, beliau menyampaikan ucapan turut berduka citanya. “Besok pagi (1 Januari), saya berangkat ke Jombang,” ujar beliau. Tak biasa seorang Muhammadiyah menempuh ziarah kubur.

Elit dan rakyat sama-sama tidak serius

“Bangsa ini penuh kepalsuan,” komentar Prof Syafii ketika George Junus Aditjondro, penulis buku Membongkar Gurita Cikeas (Galangpress, 2010) membeberkan banyak fakta temuannya, baik yang sudah dilansir lewat buku maupun masih ia simpan. George baru tiba dari Jakarta memenuhi undangan beberapa pihak berkaitan dengan buku yang menggegerkan politik Indonesia ini. Prof Syafii, yang memberikan pernyataan mendukung (endorsement) di buku setelah 183 halaman ini, ingin bertemu dengan penulisnya. Jadilah kami mengantar George ke kediaman Prof Syafii. Ternyata keduanya belum pernah bertatap muka. Meski belum pernah bertemu, baik Prof Syafii Maarif maupun Gus Dur, memberikan endorsement di buku yang di antaranya mengungkap fakta-fakta seputar dana kampanye Partai Demokrat, kepemilikan Harian Jurnas, dan aliran dana dari Budi Sampoerna ke tim sukses SBY ini.

Sejatinya, pertemuan sore itu akan melibatkan media massa. Undangan sudah disebarkan. Namun, karena sedang berkabung nasional, konferensi pers yang hendak kami gelar di kantor sebuah penerbit, kami batalkan. Beberapa tokoh yang hendak kami hadirkan pun urung bergabung. Jadilah, pertemuan sore itu kami pindahkan ke rumah Prof Syafii dengan agenda utama silaturahmi. Tanpa pernyataan Prof Syafii yang sedianya hendak mencegah pembelokan isu buku ini ke wilayah non-substansi buku. Yang kemudian disepakati, George diminta untuk diam sementara (cooling down), sehingga persoalan tidak merembet ke mana-mana. Permintaan ini lahir mengingat tragedi pemukulan George terhadap Ramadhan Pohan dalam sebuah diskusi di Jakarta, yang tentu saja justru memperkeruh suasana.

Lalu kami terlibat dalam obrolan ringan tentang banyak hal, terutama keprihatinan Prof Syafii atas kehidupan berbangsa kita. “Elit politik kita tidak serius,” kritiknya. Ketidakseriusan itu, menurut guru besar sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini, tampak dalam setiap langkah politik mereka. Maka, dalam konteks kasus Bank Century berikut panitia khusus yang dibentuk DPR, misalnya, beliau tidak yakin akan ada penyelesaian yang tuntas. Dari sumber-sumber yang beliau percaya, Prof Syafii menggugat kelakuan elit penguasa kita yang suka bermain topeng, sok bersih, dan tidak transparan terhadap rakyat. “Untuk apa mereka berbohong?” gugat mantan Ketua PP Muhammadiyah ini.

Kepentingan kelompok, bukan kepentingan bangsa, dan politik uang, sangat membuatnya khawatir. “Kenapa bangsa ini bisa rusak begini ya?” keluhnya seperti tidak bisa berbuat apa-apa.

Prof, sergah saya, bukankah rakyat kita juga tidak serius dala berbangsa? “Benar. Rakyat kita juga mulai tidak serius. Sekarang, kalau tidak ada uang, mereka tidak mau memilih. Gawat ini.” Prof Syafii seperti tidak lagi memiliki kata-kata.

Adzan Maghrib membungkus kesunyian ini. Kami beringsut pamit. Prof Syafii bersujud menjawab panggilan Ilahi. Semoga sang guru bangsa masih memiliki jalan pembebasan…

Jogja, 2 Januari 2010

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]

Older Entries