Tidur

Leave a comment

Teramat sering saya tidur dalam perjalanan. Juga malam itu.

Usai keliling kota Medan dengan pengangkut kota (bukan angkutan kota seperti telanjur orang pakai), saya merapatkan diri ke pangkalan bus Anugerah di bilangan Pondok Kelapa. Sore menjelang, namun gelap masih enggan datang.

Penjaga loket menyodorkan tiket bernomor kursi 8. “Yang di belakang sopir sudah habis, Bang!” ujarnya. Tak mengapa, toh masih di deretan depan. Cukup untuk sedikit mengintip pemandangan di depan.

Ransel yang memeluk di punggung segera saya lorot ke bawah kursi. Tak cukup saat hendak saya selipkan di bagasi atas tempat duduk. Padahal, isinya tak seberapa banyak. Hanya sekotak komputer jinjing, kamera, satu celana panjang jeans, dua baju berkerah, 3 kaos, dan 3 pasang pakaian dalam. Oh ya, ada koran nasional yang saya beli pagi itu di Bandara Adisutjipto Jogja, yang tak sempat saya baca karena sejak pesawat meninggalkan apron, belum lepas landas, saya sudah lepas kandas ke alam tidur.

Sejak dari Jogja saya sudah tidur. Duduk di kursi “emergency exit”, kebiasaan saya, membuat saya bisa leluasa mematut diri. Kaki bisa selonjor tanpa perlu mengantukkan lutut ke kursi depan. Namanya juga naik pesawat murah, kenyamanan itu ada di dalam kepala. Dan, di dalam dada, alias seberapa besar kita mau bersyukur.

Toh saya tetap bisa tidur. Seperti biasa, urusan tidur tak memerlukan alasan. Dalam segala hal, sedih-gembira, hujan-panas, saya bisa tidur. Seperti tertawa, tak juga memerlukan alasan untuk meledakkannya. Hanya lapar yang bisa membatalkan kantuk.

Tapi pagi itu memang melelahkan. Wajar jika saya tidur. Saya baru tiba dari Semarang, langsung ke bandara. Pagi sekali. Hanya sempat mandi dan—syukurlah—makan.

Kamis, 9 Juni, saya sedang di warung ketika berita itu datang. “Mas Aji stroke, aku harus ke Semarang,” pamit Probo dari seberang telepon. Probo adalah Direktur Nareswari Group, pemilik merek Ayam Bakar Larasati yang sedang kami persiapkan pembukaan cabangnya di Sleman, Yogyakarta. Aji adalah kakak kandung Probo. Pria 35 tahun itu bekerja di Bank Internasional Indonesia di Semarang. Ini serangan stroke pertamanya.

Saya tetap di Jogja, mendampingi tim yang sedang berbenah. Padahal, mestinya kami berbenah bersama mengingat 3 hari lagi warung ke-9 ini akan kami buka.

Nyata, pukul 16.00, setiba di Semarang dari Magelang, usai menempuh perjalanan sekira 2 jam, saat saya menelepon Probo, jawaban yang mencuat, “Nyuwun doane wae, Kun. Pembuluh darah batang otake Mas Aji pecah.” Ups, kami sama-sama terdiam, tahu apa yang tidak kuat kami katakan. Dua jam sesudah itu, kabar menghentak datang. Probo menelepon, “Mas Aji seda.” Babi, begitu kami memanggil Mas Aji, tidur untuk selamanya.

Usai disemayamkan di rumah duka di Semarang, tempat Mas Aji tinggal beserta istri dan dua jagoan kecil, jenazah akan diusung ke rumah orangtua di Magelang. Tengah malam nanti berangkat, berarti subuh tiba.

Tapi rencana berubah. Baru akan esok pagi jenazah diberangkatkan dari Semarang. Aduh, bakal tak bisa melihat wajah Mas Aji untuk terakhir kalinya, batin saya. Akan tidak tenang hati saya kalau itu terjadi. Pribadi kocak, konyol, nan sederhana itu meninggalkan banyak kenangan selama hidupnya.

Jumat pagi saya mesti terbang ke Aceh. Tak mungkin menghadang jenazah di Magelang. Ke Semarang malam itu juga? Sudah 2 hari saya nyaris tidak tidur. Bagaimana jika mengantuk di perjalanan?

Saya punya waktu 3 jam untuk menempuh jarak sekira 220 km. Berangkat 3 jam, pulang 3 jam. 1 jam di sana. Cukup! Cukup! Cukup! Rasa kantuk saya abaikan.

Pulang, ambil mobil, berangkat. Bapak saya ajak untuk menemani, dan mengganti pegang kemudi jika saya mengantuk. Nyatanya, saya tak mengantuk. Ingatan akan Mas Aji seperti menjaga mata saya untuk tak terpejam. Pukul 02.00 wib, tibalah di Semarang. Pribadi yang begitu hangat itu terlelap sudah.

“Selamat jalan, Mas. Damailah dalam tidur panjangmu. Terima kasih atas persaudaraan kita,” batin saya sembari memegang kedua tangannya yang memeluk rosario. Lega hati saya. Lega pula hati saya merangkul Probo yang berusaha tabah atas peristiwa ini. Lega hati saya menjumpai Bapak-Ibu mendaraskan doa tiada henti di samping peti. Kedua anak Mas Aji, tidur pulas di kamar bersama Mbak Lucy, ibu mereka.

Merasa cukup, saya pamit. Langsung kembali ke Jogja, menyibak subuh bersama truk-truk yang berburu pasir di lereng Merapi.

Sampai rumah, mandi, sarapan, dan menyambar tas yang isinya sudah saya siapkan malam sebelumnya, saya langsung meluncur ke bandara. Capek, mengantuk, namun lega. Maka, sepanjang penerbangan Jogja-Jakarta dan Jakarta-Medan saya tidur.

Bahkan, saat bus Anugerah jurusan Medan-Banda Aceh yang saya tumpangi baru berpamitan di gerbang keluar kota Medan, mata saya sudah lebih dulu berpamitan. Tahu-tahu sudah sampai Kota Langsa. Bus menepi, dan menyilakan penumpang bersantap malam. Rupanya di tengah jalan tadi bus menaikkan penumpang sehingga begitu menoleh ada orang di kursi sebelah saya. Sebelumnya kosong.

“Sekitar 3 jam lagi,” jawab sopir saat saya tanya pukul berapa bus tiba di Lhokseumawe. Saya belum pernah ke kota itu. Ini perjalanan pertama saya. Sendiri, hanya mengandalkan informasi dari panitia pelatihan menulis kreatif yang mengundang saya. Saya belum pernah kenal panitia, toh percaya saja pada informasi mereka.

Kelar makan, saya kembali merem. Pendingin udara tak bisa diatur, saya memilih pasrah saja mendekap tas. Dan mendekap malam, sampai ketika terbangun saya terkejut. Jam digital di samping kiri-atas sopir menunjukkan angka 01:15 wib. Sudah lewat 3 jam dari waktu yang disebutkan sopir di perhentian tadi.

Semua lelap. Kondektur yang saya minta membangunkan pun membujurkan diri di belakang kursi paling belakang. Saya melangkah ke depan, bertanya pada sopir.

“Sudah lewat. Tadi kondektur sudah teriak-teriak, Abang tidak bangun,” ah kenapa jadi sopir yang panik.

“Kota terdekat saya turun, Bang,” pinta saya.

Kota terdekat segera menyambut. Bukan kota besar, hanya semacam pasar. Deretan kios yang halamannya terang menunjukkan itu. Saya turun dan menyeberang jalan. Tak tahu saya ada di mana. Tak satu pun papan nama terpampang. Tak ada orang di sekitar itu. Tak ada satu pun warung tampak buka. Tak ada yang bisa saya tanyai.

Saya hanya yakin, pasti ada bus ke arah Medan. Ini kan jalan antarprovinsi, 24 jam ada pengangkut umum. Pengalaman berjalan-jalan ke berbagai daerah seorang diri mengerem jantung untuk tidak usah deg-degan dalam keadaan seperti itu. Bukan kali pertama saya tertidur dalam perjalanan. Bukan kali pertama kali saya nyasar ke tempat entah. Dan bukan kali pertama saya tenang-tenang saja. Inilah kenapa saya memilih perjalanan tengah malam. Esok kan pagi.

Tak berselang lama, datang sebuah bus Anugerah jurusan Banda Aceh-Medan. Saya lambaikan tangan supaya berhenti. Naik lewat pintu belakang, kondektur yang sedang tidur bangun menyambut.”

“Tidak, berdiri saja. Lhokseumawe saya turun,” jawab saya ketika ia menunjukkan bangku kosong di tengah. Ia mengangguk tanda paham ketika saya menunjukkan alamat sebuah hotel tempat saya menginap. “Setengah jam,” katanya. Wow, setengah jam di malam hari, lalu lintas sepi, dan bus melaju seperti kuda troya… jauh juga saya kebablasan.

“Itu di seberang,” tunjuk abang kondektur saat bus berhenti untuk menurunkan saya. Selembar uang bergambar Sultan Mahmudi Badaruddin II berpindah ke tangan abang kondektur.

Sampai juga saya di tempat menginap. Resepsionis segera mengulungkan kunci kamar 318 begitu saya menyebut nama diri. Rupanya panitia sudah memesankan kamar.

Sudah pukul 02.00 ketika saya memasuki kamar. Membilas tubuh secukupnya, saya memutuskan tak tidur. Selain khawatir kesiangan, tidur sepanjang jalan sudah saya anggap cukup. Lebih baik membuka laptop dan menulis. Nomor restoran saya hubungi untuk memesan minum dan makanan ringan. Teh panas seduh plus kentang goreng seporsi besar menemani saya sampai pagi. Tak tidur.

Paginya saya bergegas ke lokasi pelatihan. Bukan di hotel itu. Bukan di kota itu. Tapi di Panton Labu, kota kecamatan di timur Lhokseumawe. Sejam perjalanan naik kendaraan umum. Saya berusaha tak tidur, supaya tak kebablasan lagi.

Sorenya, usai pelatihan, saya kembali ke Kota Lhokseumawe. Mampir sebentar di hotel, sekadar mandi, saya pergi ke tengah kota. Naik becak dengan ongkos Rp 7.000 wib, saya minta diantar ke lapangan Hiraq. Sekadar berjalan-jalan, makan mie aceh, dan minum “Ulee Kareng” khas kota di Aceh Utara itu. Sekadar merasakan suasana kota yang tak pernah tidur karena di mana-mana bertebaran warung kopi. Sekadar merasakan obrolan remeh-temeh sampai serius. Sekadar menyingkap sedikit tabir Aceh yang konon sulit disingkap.

Saya tak tidur sampai subuh. Kopi aceh menjaga mata saya. Bahkan, saat mengisi pelatihan hari kedua pun tak tersapa rasa kantuk. Baru saya tertidur saat menumpang bus malam ke Medan. Baru saya tidur ketika kembali ke Jogja naik tabung ajaib bercap singa mengaum.

 

Advertisements

Jogja Last Friday Ride #7

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

penggowes, bahagia tinggal di Jogja

“Ayo mulih Jogja; pulang Jogja, pulihkan Jogja!”

Hujan membatalkan niatnya. Sore hanya berselimut mendung. Sebentar lagi berbalut malam.

Jogja masih berkabung. Letusan Merapi di akhir Oktober dan awal November lalu masih memaksa banyak saudara asal lereng Merapi untuk tinggal di pengungsian. Mereka belum mengantongi izin pulang.

Namun, Jogja tak pernah mau murung. Selalu ada kegembiraan di kota ini. Gembira, bukan hura-hura. Seperti Jumat, 26 November, sore kemarin. Ratusan pesepeda memadati halaman timur Stadion Kridosono, Kotabaru. Kami berhimpun dalam “Jogja Last Friday Ride #7”. Ya, setiap Jumat terakhir kami selalu merayakan Jogja dengan bersepeda keliling Jogja. Hmmm, terima kasih kepada teman-teman pencetus gagasan brilian ini. Tak terasa, sore kemarin sudah putaran ke tujuh ya.

Siapa pun boleh ikut JLFR. Tidak perlu mendaftar, datang saja langsung dan nimbrung. Yang penting naik sepeda, apa pun jenis sepedanya, berapa pun harga sepedanya. Pinjam juga boleh, tidak tabu. Bonceng juga boleh asal ada yang mau. Khusus dari rumah boleh, langsung dari kampus atau kantor juga boleh. Ah, adanya cuma boleh kok.

Rute kali ini ke selatan, melintasi rel Stasiun Lempuyangan. Tampak di dalam stasiun, rangkaian “Argo Progo” –sebutan jenaka untuk kereta kelas ekonomi tujuan Pasar Senen Jakarta itu, siap berangkat. Kami melintasi Pasar Lempuyangan, sebuah pasar tradisional terbersih di Jogja, dan terus melaju ke selatan ke arah Jl Gadjah Mada.

Di depan rumah Garin Nugroho, yang hanya ramai tatkala dipakai untuk sekretariat JAF –festival film, saya bergumam, mbok ya sutradara Opera Jawa itu bikin film tentang Sepeda Jawa. Atau malah temen-temen penggowes sendiri yang mau bikin?

Sedikit ke selatan, kami berhenti di lampu merah Permata. Di samping kiri kami berdiri “peti mati raksasa” Bioskop Permata. Sudah beberapa bulan bioskop itu mati tanpa ada yang melayat –hanya menguburnya dalam ingatan. Film-film lokal dan saru tak bisa lagi ditonton di sana. Ya sudah, toh masih ada Gudeg Permata, yang masih buka beratap tenda di emperan bioskop. Semoga Nugie atau Katon Bagaskara yang gemar makan di sana mau pula bikin lagu “sub-tema” Yogyakarta untuk mengenang permata Jogja yang telah kalah pamor dari jaringan bioskop milik pemodal besar.  Semoga pula Gudeg Permata tak kukut digempur restoran cepat saji yang makin menjamur di kota kuliner ini.

Berbelok ke barat, kami melompati Jembatan Sayidan yang membentang di atas Kali Code. Melongok ke bawah, saya mendapati rejeki Merapi telah sampai di sana. Pasir, lahar dingin. Kali penuh, semoga tidak membludak menggenangi rumah warga.

Sampai di perempatan Gondomanan, yang petugas lalu lintasnya dikenal sangat doyan mengganyang pelanggar rambu-rambu, kami berbelok ke selatan, menyusuri Jalan Katamso. Ada beberapa toko sepeda di ruas jalan tersebut. Ada satu tukang cukur tradisional di persimpangan Ibu Ruswo. Ada juga Bakmi Jowo Pak Rebo –kakak Mbah Mo– yang hanya menyediakan mi kuning. Toko peti juga berderet; boleh pilih kalau sudah bosan hidup.

Sesampai di Pojok Beteng Wetan, kami terus mengawil sepeda ke barat, menuju Pojok Beten Kulon, lalu ke utara mampir di Stasiun Ngabean –yang sudah modar karena penguasa negeri ini lebih mengutamakan industrialisasi kendaraan pribadi daripada merawat jalur angkutan massal seperti kereta api atau trem, yang sekarang berubah menjadi tempat parkir bis wisata –yang juga tidak laku karena bis wisata lebih suka parkir di alun-alun utara.

Berbelok ke timur menyusuri Jl KHA Dahlan –tokoh yang 100 tahun lalu mendirikan Muhammadiyah, kami mengakhiri penggowesan di Titik Nol Jogja. (Karena terpecah lampu merah, sebagian peserta berbelok ke Jalan Bayangkara, melewati Pasar Kembang, dan menuju Titik Nol Kilometer dari arah Malioboro –dan ini rute yang benar.) Titik ini berada di depan Istana Negara Gedung Agung, tempat SBY berbasa-basi berkantor di Jogja kala Merapi meletus tempo hari –dan buru-buru kembali ke Jakarta menjamu Barack Obama. Titik ini berada di depan Kantor Pos Besar –yang kehilangan kebesarannya karena mati kutu dilibas teknologi internet dan industri kargo modern. Titik ini berada di depan Monumen SO 1 Maret, yang masih dipersengketakan siapa penggagas sejatinya.

Titik Nol Jogja ini penting untuk diketahui. Jalan-jalan di Jogja, termasuk Barak Pengungsian Hargobinangun Pakem yang terletak di Jalan Kaliurang Km 20, memulai perhitungannya dari sini. Bukan dari Tugu Jogja; juga beda dengan jarak “20 km dari puncak Merapi”. Banyak yang salah mengerti, termasuk reporter sebuah stasiun televisi yang secara pandir menyebut awan panas telah meluncur hingga 20 km –yang mengakibatkan kepanikan berjamaah warga lereng Merapi. Kesalahan yang berbuah cercaan.

JLFR #7 dipungkasi dengan atraksi dari teman-teman. Bebas. Ada yang tampil berjumpalitan dengan bersepeda, ada yang melompati sepeda tidur dengan menaiki sepeda, ada yang unjuk kebolehan berlama-lama mengendalikan sepeda berhenti.

Seorang teman penyuka rute-rute tanjakan berujar, meski tak membuat bekeringat, ajang seperti ini penting untuk “srawung”, bergaul. Sepakat, sesama penggowes sepeda, meski beda minat, perlu saling menyapa, saling mendukung.

Dan memang guyub suasananya. Sederhana, meriah.

Anda pengen bersepeda? Mari datang ke Jogja. Jogja aman dan nyaman dikunjungi. Jogja asyik buat sepedaan. Jogja asyik untuk tinggal dan bekerja.

Datanglah ke Jogja. Gek ndang…

Jogja, 27 November 2010,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Awas Merapi: Gowes Kaliurang

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

 

Bukan menantang. Rasa penasaran saja yang memacu semangat kami untuk tetap menggowes ke Kaliurang, sisi selatan Merapi, Minggu, 24 Oktober kemarin. Status salah satu gunung berapi teraktif di dunia itu sedang “siaga”.

Seloroh seorang kawan: “Karena kita pesepeda, maka kita harus mendekat.” Lho? “Iya, kalau kita peneropong atau fotografer, kita bisa melihat dari kejauhan.”

Memang, rasanya tidak ada apa-apa. Pengunjung rada berkurang, tamu penginapan menyusut, tapi penduduk tetap beraktivitas seperti biasa. Mbak Gin, pemilik warung langganan para penggowes di barat Tugu Urang, tetap bercengkerama dengan kami. “Ora ana apa-apa, Mas,” ia meyakinkan. Tidak ada apa-apa katanya. Lalu saya menyantap nasi+telor mata sapi+2 tempe+sayur terong+teh panas (pagi kemarin, susu sapi segar habis lebih awal). Rp 6.000 membungkus keceriaan.

Tidak lega dengan pernyataan Mbak Gin, saya pamit untuk menggowes lebih mendekati gunung. Saya melewati rumah Win, teman saya, yang tetap sibuk dengan bisnis persewaan mobilnya. Taman Kanak-Kanak tetap ada yang berkunjung. Kalau pun terasa ada sesuatu yang rada serius itu karena ada sebuah OB Van milih salah satu stasiun televisi nasional yang bersiap mengudarakan siaran langsung.

Sepeda saya kayuh ke arah Tlogo Putri, terminal akhir pengangkut umum jurusan Jogja-Kaliurang. Bakul-bakul oleh-oleh tetap buka seperti biasa. Beberapa pengunjung menikmati flying fox. Sopir bis wisata tidur di kolong bis menunggu pencarter kendaraannya. Kereta wisata juga hilir mudik mengangkut penumpang keliling objek wisata.

Melewati Wisma Puas, saya menyapa Bonifasia, seorang mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa asal Lampung yang sedang rehat acara. Dia bersama lebih dari seratus teman berkegiatan biasa tanpa risau oleh status Merapi.

Yang risau justru pedagang jadah tempe dan pisang di persimpangan beringin. Ketika saya membungkus penganan khas Kaliurang itu, mereka mengeluh soal sepinya pengunjung setelah media gencar memberitakan kabar tentang Merapi.Padahal, bagi warga Kaliurang, kata mereka, kondisi Merapi tidaklah membuat mereka khawatir.

Meski begitu, menurut Roni, pemilik kios koran di depan Pegadaian Pakem, banyak warga Kaliurang yang telah mengontrak rumah di Pakem, sekira 8-10 km di “bawah” Kaliurang. Ini sebentuk antisipasi untuk tidak dijejalkan di barak pengungsian nantinya. Roni, bersama Reni kembarannya, adalah agen koran besar di seputaran Pakem yang kerap jadi rujukan informasi.

Dari atas sepeda saya merasakan, dengan status “awas Merapi” hari ini, perlu ada gerak cepat untuk memperbaiki jalur evakuasi. Beberapa jalan berlubang dan bergelombang akibat beban kendaraan pengangkut material (pasir dan batu gunung) yang terlalu berat. Sayang jika untuk kepentingan pemodal besar penambang pasir jalan-jalan diperbaiki, sementara untuk rakyat yang sedang terancam keselamatannya, jalan-jalan dalam keadaan rusak.

PS: teman-teman penggowes, mohon menambahkan informasi berkaitan dengan jalur evakuasi, pos-pos pengungsian, tim tanggap bencana, dll. suwun

 

Yogyakarta, 25 Oktober 2010

 

Gowes Merdeka: Menaklukkan Tanjakan Terakhir

1 Comment

Pengalaman mengalahkan bayangan. Demikian kata-kata bisa diracik.

Semula, sebagian teman peserta Gowes Merdeka Jogja-Borobudur berniat untuk cukup memancal sepeda sampai di Ancol. Separo jalan. Dalam bayangan mereka, Borobudur teramatlah jauh. Sedari awal, mereka sudah yakin tidak akan sanggup menempuh. “Bolehkah kami ikut jika tidak sampai tujuan?” pinta mereka saat menyodorkan pendaftaran nir formulir.

Tentu saja boleh. Yang tidak boleh, seperti yang saya tulis di pengumuman fesbuk, adalah berhenti di tengah jalan. Kalau mau berhenti harus minggir. Jika di tengah, bisa tertabrak!

Maka, berbondong-bondonglah teman-teman itu ke Bundaran UGM, pagi 17 Agustus 2010, petang sebelum matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 05.00 wib ketika satu per satu mereka menampakkan hidung.

Sudah ada Bang Ugartua Rumahorbo saat saya tiba. Setelan kostum merah-merah khas atlet sepeda lintas nusantara menandai keseriusan abang yang hobi sepedaan ke kantor ini. Masih gelap, dari kejauhan saya tak mengenalinya. Beda sekali penampilannya dengan keseharian sebagai eksekutif Penerbit Erlangga yang termasyur itu.

Dari ujung telpon, Danu Primanto memberi kabar sedang dalam perjalanan setelah memastikan mendapatkan pinjaman sepeda. Entah teman yang mana yang ia perdaya. Yang terang, fotografer situs berita Jogja http://www.tourjogja.com ini datang secara sumringah, dengan wajah sendunya yang senantiasa tampak teduh.

Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ngebut dari arah selatan. “Saya khawatir ditinggal,” bisiknya mendapati jumlah sepeda yang tidak sebanyak yang ia bayangkan. Ia pikir ini event akbar yang bakal diikuti ratusan atau ribuan peserta layaknya acara sepeda gembira yang kerap digelar di Jogja.

Dari arah punggung, turun dari lereng Merapi, dengan satu-satunya sepeda lipat yang ikut, datang Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku Pak Beye dan Istananya (Penerbit Kompas, 2010). Berkaos “45 Tahun Kompas Merajut Nusantara”, ia seperti hendak melanjutkan keikutsertaan dalam gowes Surabaya-Jakarta tempo hari yang sempat diikutinya di sepenggal rute saat peserta melintas di Jogja.

Berturut-turut teman-teman lain datang. Chandra Sena, Laga, Haris, Sugeng, Wompy, dan Bayu, dari Komunitas Gowes Koprol Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ada yang penuh semangat sejak beberapa hari lalu, ada yang baru semalam memutuskan ikut gara-gara dibujuk kiri-kanan.

Ada kejutan. Dua teman cewek ikut serta pula. Kejutannya bukan karena mereka cewek. Bukan pula karena mereka belum pernah bersepeda jauh. Lalu?

Mereka datang tergopoh-gopoh. Dari arah timur. Saya pikir, mereka sedang berpacu dengan matahari –dan mereka menang. Masih gelap saat mereka datang. Saya tidak lekas menyapa karena mereka, Anka dan Yuyut, langsung duduk di bibir boulevard. Anka menyelonjorkan kedua kakinya. Ia menambal kedua lututnya dengan kapas. Ups, ternyata habis terjatuh. “Tadi waktu lewat Jalan Solo, ada orang gila nglempar batu ke kami. Kami jatuh. Yuyut tak luka. Orang gila itu lari mendekat, kami pun lebih dulu lari,” ungkap Anka tanpa meminta iba. Hebat, mereka memutuskan untuk maju terus!

Alhasil, kami pun bersiap. 13 orang bergabung. Beberapa teman lain urung karena berbagai alasan. Ada yang mendadak mendapat tugas kantor. Ada yang lembur mengerjakan tugas ibunya. Ada yang kakinya pegal duluan. Ada yang tak memberi kabar.

Karena belum semua saling mengenal, kami berdiri melingkar. Saling mengenalkan diri sambil menatap wajah-wajah yang belum terbasuh sinar mentari. Pemimpin perjalanan dan penyapu di buntut rombongan pun kami tentukan.

Berangkat!

Kami memasuki kompleks Universitas Gadjah Mada. Terus ke utara, melewati samping Grha Sabha Pramana, lalu berfoto bersama di halaman Balairung. Arsitek kantor pusat UGM tersebut adalah Ir Soekarno, yang memilih untuk meninggalkan karir keinsinyurannya –dan ini tidak pernah dipertanyakan di pelajaran sejarah sekolah kita– untuk  menjadi aktivis kemerdekaan republik, menjadi presiden pertama republik, dan mati sebagai orang buangan presiden kedua republik.

Usai menjunjung sepeda melompati celah pintu pejalan kaki di pagar Balairung, kami menuju Selokan Mataram. Susur selokan pun kami mulai. Ke arah barat. Matahari sudah semburat. Melewati jembatan baru yang melangkahi Kali Code, kami terus menggowes santai ke barat, menyeberangi Jalan Magelang dan Jalan Lingkar Barat.

Begitu lepas dari sana, pemandangan alam mulai dominan menghampiri mata kami. Tidak lagi permukiman yang kami susuri, melainkan bentangan sawah yang menghijau. Air selokan yang coklat pekat, yang mengalir melawan arah kami, seperti mengiringi deras aliran darah di tubuh kami. Penuh semangat!

Di simpang Jalan Cebongan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel sepeda motor yang baru buka seintip pintu. Kami butuh pinjam kunci pas untuk membetulkan roda sepeda Yuyut yang nggesut gara-gara jatuh tadi. Beres!

Jalan beraspal di pinggir Selokan Mataram mulai naik turun sejak itu. Permukaannya mengikuti kontur tanah di sekitar aliran kali irigasi buatan zaman Jepang itu. Sedikit tanjakan memaksa kami menekan pedal lebih tegas. Sedikit turunan memanjakan kami pada udara sangat segar yang boleh kami hirup.

Sampai di ruas Seyegan, sekitar pukul 06.30 wib, kami mulai beriringan dengan adik-adik SMP yang hendak berangkat ke sekolah. Ini tanggal merah. Mereka masuk untuk ikut upacara bendera tujuh belasan. Bangga melihat mereka mau naik sepeda. Hare geneee masih ada yang mau ke sekolah keringetan?

Karena sudah hobi bersepeda, Mas Inu, Bang Ugar, dan Mas Bambang, melaju cepat di depan.  Sedang teman-teman yang lain, karena tidak pernah bersepeda, atau tidak terbiasa melaju di jalan raya (on road), tercecer di belakang. Alhasil, pada titik-titik tertentu kami saling menunggu.

Weh, pit-e antik… pit-e antik,” teriak anak-anak SMP 2 Tempel saat menggumuni sepeda lipat Mas Wisnu, saat kami berhenti di persimpangan selokan dengan jalan raya penghubung Tempel-Klangon. Mungkin ana-anak itu membatin, ada orang sudah gede kok masih mainan sepeda anak-anak.

Usai melewati jalan kampung, karena jalan tepian selokan sudah “habis” kami memasuki kawasan Ancol. Di sini, di Kali Progo ini, kepala Selokan Mataram terletak, sedang ujung ekornya ada Sungai Opak sana, sejengkal dari Candi Prambanan di timur sana.

Semula, sebagian teman hendak berbalik kanan di sini. Namun, pengalaman asyik sepanjang jalan tadi, plus komporan dari kami, mendidihkan adrenalin mereka untuk melanjutkan perjalanan. “Itu tanjakan terakhir kita,” tunjuk saya pada ruas jalan terjal di seberang sungai, menjawab keingintahuan seorang teman yang hendak meyakinkan niatnya. “Tanggung, masa udah sampai sini nggak sekalian ke Borobudur,” teman yang lain tak kalah garang memanas-manasi.

Akhirnya, ditambah bergabungnya dua teman, Andon dan Dedy Kristanto, yang menyusul, tak satu pun penggowes mengayuh mundur pedalnya. Semua maju, tak terkecuali Anka yang lecet lututnya merembeskan darah. Mas Bambang yang puasa saja bersemangat, masa yang lain loyo.

Sepenggal jalan bebatuan menanjak segera kami tempuh untuk meninggalkan Kali Progo ini. Ini tanjakan terjal pertama yang kami hadapi sejak 25 km pertama. Sebagian besar kami terpaksa memperlakukan sepeda kami layaknya sapi yang hendak disembelih. Menuntun sepeda.

Di ujung tanjakan, kelezatan lintasan halus menyambut kami. Dalam nafas yang tersengal-sengal usai menuntun, kembali saya yakinkan teman-teman bahwa di depan sana datar-datar saja. Hanya ada sedikit tanjakan. Bersemangatlah mereka melaju, melewati plang petunjuk arah tempat ziarah “Sendang Sono”.

Tahun lalu, di tanggal yang sama, saya bersepeda sendirian ke kompleks peziarahan Maria itu. Juga melewati sebagian penggal Selokan Mataram. Kali ini, melalui ajakan “iseng-iseng berhadiah” di fesbuk, saya mengajak teman-teman bergabung. Dan ternyata banyak yang berminat.

Ternyata, tanjakan terjal dan turunan curam kembali menyambut kami. Sebagian besar peserta terpaksa kembali bergelayut di samping sepeda. Gigi pedal tak ada lagi yang mau menolong. Gir paling enteng pun sudah putus asa.

Gerutu mulai terlontar. Gerutu yang justru memacu hasrat untuk terus melaju. “Kunto kurang ajar. Katanya tadi tanjakan terakhir. Nggak tahunya masih ada tanjakan lagi,” kami tertawa lepas di sebuah warung kecil di seberang Pasar Japuan-Tanjung Magelang. Jarak peserta terdepan dan terbelakang begitu jauh. Maka kami putuskan beristirahat di sana. Hanya Mas Bambang yang puasa, dan tetap puasa hingga kembali pulang nanti. Kami makan dan minum di warung soto milik ibu berkerudung itu. Ber-14 cuma habis Rp 50.000. Bang Ugar yang traktir.

Rambu-rambu di tengah jalan itu melegakan kami. “Borobudur 7 km”. Saya yakinkan teman-teman jika trek terakhir ini datar-datar saja. Tak ada lagi tanjakan. Nyatanya, sampai di Borobudur, tanjakan terakhir itu tak pernah ada. Walau kemiringannya kecil, tetap saja ada tanjakan.

Namun, syukurlah, walau tak pernah mendapati tanjakan terakhir, tak satu pun peserta menyerah. Tepat pukul 10.00 wib, kami tiba di pintu masuk Borobudur. Sesuai target. Dan untuk turut merayakan hari jadi Republik Indonesia, kami berfoto bersama sembari mengepalkan tangan kiri di atas-depan kepala. Tanpa kibaran bendera merah putih, kecuali bendera milik pengelola. Juga, tanpa sedikit pun emblem atau embel-embel keindonesiaan lain. Kami bercelana pendek, berkaos oblong, jauh dari layak jika harus upacara bendera.

Kelar berfoto di depan papan nama Taman Wisata Candi Borobudur, kami menyusuri jalan kampung di samping kompleks candi Buddha tinggalan Dinasti Syailendra abad ke-8-9 ini. Kami tidak berfoto di dalam kompleks, mendekati candi, karena oleh petugas kami dilarang masuk mengendarai sepeda. Ironis memang, di negara agraris ini, pola hidup orang-orang agraris justru disingkirkan. Tentang pelarangan sepeda ini, silakan baca tulisan saya di sini.

Ya, sudah. Yang penting kami sudah mencapai tujuan. Setelah cukup berpantas muka dengan jepretan kamera, kami pun bergegas kembali ke Jogja. Mampir Candi Mendut. Di siang yang sangat terik. Lewat rute yang minim “tanjakan terakhir”.

Yogyakarta, 18 Agustus 2010

Salam Gowes Merdeka,

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Candi Borobudur TAK ASYIK Dikunjungi

5 Comments

“Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi.”

PS: silakan sebarkan catatan ini ke teman-teman penggowes dan pengelola obyek wisata. mari kita perjuangan supaya Candi Borobudur, dan obyek wisata lain milik bangsa Indonesia merdeka ini, ramah kepada moda transportasi ramah lingkungan.

—————

Tepat pukul 10.00 wib 17 Agustus 2010 tadi, barisan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tiba di tujuan. Di depan papan nama “Taman Wisata Candi Borobudur” kami ber-15 merayakan 65 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Tangan kiri mengepal ke udara.

Hanya di depan papan nama saja. Tidak masuk ke dalam. Sebab, sepeda tidak boleh dibawa serta ke dalam. Harap parkir di luar, di tempat sembarangan penitipan kendaraan.

Menurut petugas jaga, sudah setahun larangan itu berlaku. Ia tidak tahu alasannya. Ah, kemunduran jika begitu. Sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Tidak menyebabkan polusi, selain bau keringat pengendaranya. Ups, bukankah pohon-pohon yang bijaksana itu bersedia menghisap bebauan polutif ini?

Saya kecewa tentu saja. Entah teman yang lain. Memang, peraturan seperti itu kewenangan pengelola lokasi. Silakan saja. Namun, saya punya harapan, ijinkanlah sepeda masuk ke kompleks candi. Tentu, tidak naik sampai ke puncak candi.

Semoga pengelola Candi Borobudur, juga Candi Prambanan dan Ratu Boko membaca ungkapan hati saya ini. Soal ini, saya memperjuangkan betul. Mari kembali hargai sepeda. Juga kendaraan-kendaraan lain yang ramah lingkungan seperti andong dan becak. Hmmm, saya harap Mas Harry van Yogya, tukang becak aktivis fesbuk, membaca ini dan mendukung desakan ini. Turunkan itu rambu-rambu yang melarang andong dan becak masuk kompleks candi. Ini kekayaan negeri kita, negeri yang sudah merdeka 65 tahun! Kok malah disingkang-singkang.

Kalau memang di dalam ada persewaan sepeda, seperti kata teman saya Agustinus Danardono, yang tadi bersama keluarga berkunjung di Borobudur, itu baik. Tetapi melarang sepeda luar masuk hanya supaya orang menyewa sepeda, menurut saya, kuranglah baik. Saya punya saran, kalau penyelenggara berdalih melarang sepeda luar masuk supaya tidak bikin semrawut, “tukar” sepeda kami dengan sepeda sewaan. Bebaskan biaya. Gratis? Ya!

Saya punya alasan, yakni supaya orang senang bersepeda. “Penukaran gratis” tadi hanya sebagai insentif atas kesadaran itu. Jogja-Borobudur hanya 40 km, dan cukup 2 jam saja mengawil pedal, lewat rute-rute yang asyik, betapa menarik jika ada kebijakan semacam ini. Jogja-Prambanan hanya 15 km (10 km dari bandara), 30 menit menggowes, juga bisa lewat rute perkampungan yang asri, asyik buat penduduk lokal dan wisatawan. Ratu Boko hanya 3 km dr Prambanan, dengan medan yang menantang bagi pendepak sepeda gunung.

Ada banyak alternatif yang bisa dipikirkan. Jangan hanya cari uang dengan sedikit-sedikit bayar. Parkir bayar, masuk bayar, pakai sepeda bayar, nyengklak kereta wisata bayar. Ribet amah! Memang, pengunjung harus ditarik bayaran untuk ongkos mengelola obyek wisata. Namun, kembalikanlah pertukaran uang-tiket itu dalam bentuk pelayanan yang mengesankan. Selain candi yang megah berdiri, yang dapat disentuh (tangible), Borobudur adalah obyek wisata yang menjual jasa intangible, yang hanya bisa dirasakan, yang hanya bisa diceritakan. Niscaya, jika cara-cara seperti ini dilakukan, para pengunjung akan dengan rela hati suka cita super gembira ria menjadi juru warta, menjadi juru kampanye obyek wisata kebanggan bangsa ini.

Kalau tidak, celakalah kita akan stempel buruk yang akan melekat. Satu pengunjung, seperti saya, kecewa, kabarnya bisa ke mana-mana. Apalagi jika yang kecewa pengunjung yang punya media, seperti Johanes Waskita Utama, wartawan olahraga Kompas, yang meninggali komentar di status saya “Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi” demikian, “cek ke prambanan juga, le, kayaknya sama aturannya. kalo lagi lomba trus rest di yogya, atlet yg rolling ke prambanan kalo gak salah selalu batal masuk krn gak bisa bawa sepedanya…” Nah lu!

Bersama kami dalam rombongan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tadi ada 2 teman wartawan. Yang satu Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku bagus yang sedang hangat jadi perbincangan “Pak Beye dan Istananya”. Satunya lagi Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen. Belum lagi ada Ugartua Rumahorgo, kepala cabang Penerbit Erlangga. Belum lagi Danu Primanto, fotografer pengelola situs wisata http://www.tourjogja.com/. Belum lagi Dedy Kristanto, peneliti di Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma. Belum lagi Anka, yang ibunya mengelola jaringan wisata Ubud-Bali. Belum lagi Andon, Chandra Sena, Sugeng, Bayu, Yuyut, dan teman-teman lulusan dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang hidup mereka sudah sangat akrab dengan internet dan jejaring sosial, yang kelak mereka akan jadi orang penting di tempatnya masing-masing….

Hmmm, sengaja saya sebut nama-nama mereka untuk menunjukkan betapa penyuka sepeda saat ini berasal dari kalangan-kalangan yang sejatinya justru bisa jadi pemasar potensial. Kepada mereka saya hembuskan kampanye “Candi Borobudur obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi”, terutama oleh pesepeda.

Karena tidak asyik, maka tadi kami memilih untuk melihat Candi Borobudur dari luar, dari kampung sebelah kompleks. Kami berpose di kejauhan, dengan latar belakang Candi Borobudur yang tersohor itu, dengan LATAR DEPAN, sepeda yang kami sohorkan.

——

Untuk bangsaku yang kabarnya sudah merdeka ini, aku rindu mendengar kabarmu sudah benar-benar merdeka.

Salam Gowes Merdeka,

Candi Borobudur TIDAK ASYIK dikunjungi, 17 Agustus 2010 AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Gowes Merdeka Jogja-Borobudur

1 Comment

Gratis. Siapa pun boleh bergabung

Selasa, 17 Agustus 2010

Berangkat: Bundaran UGM, pukul 05.00 wib

Tujuan: Candi Borobudur, Magelang

—————————————————–

Anugerah ini bernama kemerdekaan. Indonesia menjadi republik. Hari jadinya kita kenang untuk ke-65 kalinya pada 17 Agustus 2010. Selasa Pahing, hari ke-7 puasa bagi saudara-saudara Muslim.

Rasanya, tak salah jika kemerdekaan ini kita rayakan. Tidak perlu bermewah-mewah, toh harga sembako juga sedang mahal, harga LPG segera dikatrol. Kita tetap bisa merdeka, meski secara ekonomi kita sengsara. Hati kita tetap bisa merdeka, walau …rasa sedang terhimpit. Pikiran kita pun tetap bisa bebas pasung, walau otak kemrungsung.

Bersepeda bisa jadi pilihan. Tanpa perlu beli bensin, cukup seliter air mineral. Kita minum di balik rimbun pohon, jauh dari penglihatan saudara-saudara yang sedang puasa. Kalau bawa sangu dari rumah, mungkin sambel tempe, atau mangut, bolehlah disantap bersama. Kemerdekaan bisa kita maknai sebagai berbagi rejeki.

Puasa juga boleh ikut. Siapa tahu sampeyan justru beroleh barokah lewat gerak raga sambil menahan hawa wadag. Berbagi sedekah? Tentu jauh lebih baik. Kita akan melewati banyak permukiman penduduk, menjumpai banyak petani, juga adik-adik yang mungkin di antaranya butuh petunjuk untuk menggapai mimpi layaknya Andrea Hirata.

Perjalanan kita ke Borobudur. Bukan karya Indonesia merdeka, namun kekayaan Indonesia merdeka. Patut kita mensyukurinya.

Tak jauh jarak Borobudur dari Jogja. Hanya sekira 40 km. Dengan gowesan santai, 2 jam cukup untuk mencapai Candi Buddha yang dibangun Dinasti Syailendra pada abad ke-8 sampai 9 Masehi tersebut.

Berangkat dari Bundaran UGM, supaya segala penjuru bisa menjangkaunya, pada pagi 17 Agustus pukul 05.00 wib, sebelum matahari terbit, kita akan susuri Selokan Mataram, setelah berpamitan pada Balairung UGM pahatan proklamator Soekarno.

Sampai dengan Gamping, kita masih akan menyelinap di tengah permukiman padat penduduk. Namun, sesudahnya, kita akan menari di tengah persawahan, bersama burung-burung pagi, bersama matahari yang menghangati punggung kita.

Selokan Mataram simbol kemakmuran. Air yang menyatukan Progo dan Opak itu simbol kedaulatan Jogja menghadapi penjajah Jepang. Supaya rakyat tidak dicokok menjadi romusha, HB IX meminta “proyek” pada saudara tua. Alhasil, rakyat jadi pekerja saluran air, yang kelak hasil kerjanya mereka nikmati juga. Air berlimpah, sawah-sawah subur, anak-anak lemu-lemu tak kurang pangan. Kita akan menyerap energi itu saat melintasinya.

Ancol, di penghujung Selokan Mataram, menyuguhkan potret keadilan. Air Progo dibendung, dibagi-bagi, supaya seluruh tanah terairi, supaya seluruh jiwa tersirami. Padi yang menguning, pohon-pohon yang menghijau, dan punggung-punggung petani yang legam itu, adalah buah dari pemimpin yang tak serakah.

Sampai di sana, perjalanan relatif datar. Tak ada jalan naik-turun yang curam.

Naik sedikit, jika ingin mendaki lebih tinggi, boleh singgah di Sendangsono. Di sana berdiri patung Maria, ibu Yesus yang anaknya disalibkan untuk kemerdekaan umat manusia, tempat bersimpuh para peziarah yang ingin melepaskan diri dari beban hidup. Kepada Maria, para peziarah itu mohon pertolongan.

Sepuluh kilometer dari sana, menyusuri jalan raya yang sangat nyaman, dan setelah melewati Candi Mendut, sampailah kita di Borobudur. Di sana bersamadi Sang Buddha, Sang Gautama yang memilih keluar dari tembok istana untuk memerdekakan umat manusia.

Sungguh tepat. Semua bertema kemerdekaan. Maka, marilah kita merayakannya. Merdeka!

Tidak dipungut biaya sepeser pun. Silakan membiayai diri sendiri, syukur berbagi dengan teman. Segala risiko senang, gembira, dan bersuka cita, silakan ditanggung sendiri, syukur berbagi dengan saudara. Membawa makanan besar atau kecil, dan minuman panas-dingin, disilakan, untuk disantap sepantasnya.

Berapa pun yang ikut, sepeda akan tetap dipancal. Siapa pun yang ikut, dilarang berhenti di tengah jalan. Menepilah jika berhenti. Semua boleh pulang ke rumah masih-masing, sampai atau tidak di tujuan. Merdeka-merdeka saja.

Boleh mengajak siapa pun, sebagaimana boleh melarang diri sendiri untuk ikut. Ukur sendiri kekuatan fisik dan mental. Syukur ada teman dokter atau para medis yang bergabung. Kalau Anda tidak ikut, Anda pasti akan iri. Tapi kalau Anda ikut, Anda wajib iri dan anan untuk mengayuh pedal.

Salam merdeka!
AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com, http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Dokter Gigi Nggak Nggigit

3 Comments

Runtuh sudah ketakutan saya pada dokter gigi. Lho, selama ini? Selama ini saya takut setengah mati pada dokter gigi. Entah kenapa. Mungkin karena rasa ngilu yang selalu nyetrum hingga kuku kaki. Mungkin karena rasa linu yang seperti mencabik-cabik batok kepala. Mungkin karena bunyi bor yang serasa menembus ulu hati. Atau, sebenarnya karena dokter gigi tak pernah mau menunjukkan giginya saat memaksa saya membuka mulut?

Padahal, sewaktu SD, saya paling rajin ke dokter gigi. Saban Sabtu, saat jadwal kunjungan ke dokter gigi puskesmas tiba, saya berlari paling semangat keluar kelas. Jarak 1 km ke sekolah saya tempuh dengan suka cita. Dengan gagah perkasa pula saya masuk ke ruang periksa. Dan tak diapakan-apakan. Jelas saja, karena gigi saya tidak bermasalah.

Memang, selepas SD, seingat saya, tak pernah lagi saya berkunjung ke dokter gigi. Sikat gigi, yang sewaktu SD saya lakukan dengan riang gembira, mulai saya abaikan. Tentu, tanpa sepengetahuan orang tua. Malas sikat gigi lebih-lebih menghampiri ketika malam menjelang tidur. Usai makan malam, kenyang, mulut saya terkatup serapat-rapatnya. Bruk. Tidur sampai pagi.

Mungkin sejak itu saya jadi peternak kuman di dalam mulut. Kuman mandiri, yang tanpa perlu secara khusus saya budi dayakan sudah berkembang biak sendiri, hidup subur di gua makanan ini.

Hingga suatu ketika gigi saya terasa ngilu. Periksa ke dokter, tertangkap basah ada lubang yang mengintip. Gigi nomor dua kiri.

Tambal! Tanpa diskusi, tindakan itu langsung diputuskan. Swiiiinggggg, pertama-tama lubang dibor, dilubangi lebih lebar. “Nggak papa,” kata dokter itu ketika saya mengaduh sakit. Sakit, tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan memang selesai sejenak kemudian. Namun, ngilu itu terbenam di ingatan, hingga hari-hari berikutnya ketika gigi itu sudah ditambal.

Awet benar ngilu itu, hingga suatu ketika gigi geraham bawah kanan sakit, saya takut ke dokter. Namun, rasa sakit yang amat sangatlah yang memaksa saya datang ke dokter yang sama. Perjalanan ke rumah sakit, dalam bayangan saya, waktu itu, tak kalah menyakitkan daripada sakit gigi itu sendiri. Kovenan Hak Asasi Manusia rasanya tak berdaya membela hak saya untuk tidak mau dicokok paksa, dengan dalih penyembuhan sekalipun.

Dua gigi ditambal. Hilang rasa sakit itu.

Hilang pula bayangan saya akan dokter perempuan itu. Dokter yang dingin (cool), yang tidak banyak bicara. Yang pandangan matanya tajam, seperti hendak mencatut paksa semua gigi saya. Saya bertekad untuk tidak menemuinya lagi.

Ah, belakangan saya sadar, tekad saya keliru. Mestinya saya bukan bertekad untuk tidak ketemu dokter gigi itu lagi, tapi bertekad untuk tidak sakit gigi lagi.

Nyatanya, saya sakit gigi lagi. Itu ketika saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Memang, dokter perempuan itu tak berpraktik di Jakarta, namun sakit gigi itu menyerang di sana. Saya takut teramat sangat ke dokter gigi. Takut.

Kamar kost menjadi saksi, demi gengsi yang menyelimuti jirih, saya memilih jumpalitan di tempat tidur ketika sakit itu menghajar. Bisa semalam nggak bisa tidur, meski obat penghilang rasa sakit sudah saya telan mentah-mentah tanpa berdoa. Hilang seketika, dan malamnya kembali kambuh. Dan saya kembali memilih kamar untuk menaklukkan sakit jahanam itu.

Saya mengerang tanpa ada yang mendengar. Saya melenguh tanpa ada yang menolong. Ouw, kalau pun ada yang mendengar dan menolong, saya tak mau mereka melakukannya. Sakit gigi bukan untuk ditolong! Sakit gigi bukan untuk ditengok dan dikasihani!

Cukup!

Mau sampai kapan rasa sakit ini menghantui? Saya tidak mau lagi merasakannya. Maka, suatu hari, justru ketika tak ada sakit yang menghimpit, saya memutuskan untuk datang ke dokter gigi. Kebetulan ada teman SMA, drg Roy Joseph, yang mengelola klinik praktek bersama dokter gigi tersebut. Lewat telpon, saya sampaikan kepadanya, “Aku mau ditangani dokter gigi yang tau aku takut dokter gigi.”

Jadwal ia sodorkan. Saya setuju. Saya memberanikan diri menjawab, “Siap!”

Sore yang diagendakan, saya datang ke klinik tersebut. Dengan penuh keberanian, meski rasa takut itu tak sepenuhnya hilang. Saya coba menghibur diri, barangkali rasa itu bisa hilang sama sekali.

Giliran saya tiba. Menenteng jaket, saya masuk ruang periksa 1. Ada drg Endah di meja pojok. Kami bersalaman. Saya mengenalkan diri sebagai orang yang takut dokter gigi. “Kalau saya takut sama orang yang takut dokter gigi!” Waks, dokter Endah mau bercanda. Mulut saya terbuka lebar. Saya tergelak. Rasa takut itu sekonyong-konyong rontok.

Teramat parah kerusakan gigi saya. Ada 4 yang harus dicabut. Satu sudah mati, tiga patah karena keropos. “Karena banyak, Mas saya rujuk ke dokter ahli bedah mulut ya.” Selembar resep ia sorongkan pada saya, beberapa obat anti infeksi. Satu lagi surat tertutup untuk rontgen gigi.

Langkah sudah semakin maju. Pantang mundur. Saya siapkan diri betul untuk hari berikutnya. Resep saya tebus. Obat saya minum. Rontgen pun saya jalankan.

Drg Sari sudah bersiap di ruang periksa, di hari yang ditentukan. “Mboten punapa-punapa, Pak!” Tidak apa-apa, Pak. Ups, berbahasa Jawa. Halus. “Mangke menawi sakit ngendika nggih…” Nanti kalau sakit bilang ya….  Lalu kami berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Dia panggil saya Pak, saya panggil dia Dok.

Dokter Sari masih muda. Sedang mengandung putra pertama, setelah pernikahan yang dilangsungkannya beberapa bulan lalu. Dia adik kelas Roy di Fakultas Kedokteran Gigi UGM. “Mas Roy ingkang mlonco kula, nanging kula ingkang lulus rumiyin…” Wakakak, saya tak bisa menahan tawa. Ini bukan lagi sindiran, tapi tohokan. Masak lebih muda dari Roy bisa lulus lebih dulu. Sekarang sudah spesialis pula.

Memang, namanya juga bermasalah, rasa sakit itu ada. Namun, karena sudah pasrah, saya bisa menerima rasa itu, tanpa berlebihan melawannya. Saya berpegangan erat pada kursi. Tidak selalu karena sakit, tapi lebih-lebih karena tegang, takut, khawatir kalau akan sakit. Ah, ternyata rasa sakit itu sangat didominasi oleh pikiran! Ketika saya berpikir sakit, maka belum sakit pun akan terasa sakit.

Keramahan Dokter Sari dan asisten-asisten yang membantunya, plus kenyamanan Family Dental Care, nama klinik yang dengan bangga saya promosikan ini, membuat saya merasa rileks. Ternyata dokter gigi nggak nggigit hahahaha…

Setelah 4 kali tindakan, yakni 3 kali untuk bolak-balik berusaha mencabut 1 gigi geraham atas, 1 kali eksekusi untuk 3 gigi yang lain, selesai sudah perjalanan menaklukkan rasa takut ini. Memang ada sakit, namun jauh lebih sakit kalau tidak mau menghadapi rasa sakit itu.

Drg Roy, drg Endah, dan drg Sari, matur nuwun ya…  Super excellent service!

salam hangat,

AA Kunto A

aakuntoa@gmail.com

http://www.aakuntoa.wordpress.com

Older Entries