Menjadi Abu

2 Comments

Manusia kembali menjadi abu. Aku abu. Eksistensi tiada lagi.

Inilah asali. Aku dari ini, kembali ke ini.

Abu ini menjadi tanda, betapa lemahnya aku. Disulut api, dibakar nafsu, lumatlah aku.

Juga abu ini menjadi tanda, betapa baiknya semesta. Ia mau menerima kembali aku, yang mengkhianatinya. Sekalipun aku nista, semesta mau merengkuh. Abu ini melebur menjadi tanah, sebagai penyubur bagi makhluk-makhluk yang bertumbuh di atasnya. Abu jadi rabuk. Aku abu.

Dengan abu, aku menyangkal diri, satu syarat untuk menjadi pengikut Si Gondrong. Aha, ini tantangannya. Semoga aku mampu menyangkal diri. Sungguh-sungguh menjadi abu.

Advertisements

Warung Internasional Lik Adi

1 Comment

Warung itu begitu sederhana. Bagi saya. Orang kebanyakan bisa jadi akan menyebutnya jelek. Bagaimana tidak, warna hijaunya sudah kusam. Bangunannya tidak begitu tegak. Jika ada angin besar, bisa rubuhlah warung berukuran 3×4 meteran itu. Menjadi samar karena terlindung di bawah pohon besar.

Untuk memasuki warung itu, saya mesti sedikit merunduk. Ya, supaya kepala tidak terantuk. Seorang perempuan cukup tua, usia sekira 60 tahun, pasti menyambut dengan senyum. Nyaris setiap pengunjung disapa namanya. Janda beranak 3 itu dikenal dengan nama Lik Adi. Ada juga yang memanggilnya Mbah Adi. Maka, warung itu pun dikenal sebagai warung LA.

Letaknya di Ambarukmo, 50 meter dari jalan raya Adisucipto. Persis di kanan jalan menuju kampus Akademi Pariwisata “Ampta”. Seberang warung itu tanah kosong bekas kompleks Hotel Ambarrukmo. Kabarnya, sebentar lagi tanah itu akan kembali dibangun hotel legendaris di Yogyakarta itu. Di belakang warung juga tanah persawahan. Samping kirinya bangunan bambu bertingkat, bekas rumah makan yang telah bangkrut. Dari Ambarrukmo Plaza, 200 meter di baratnya, warung itu tidak kelihatan. Barangkali, orang-orang yang berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di kota pelajar ini pun tak menggubrisnya. Mereka lebih kenal Starbucks, Foodcourt Tamansari, KFC, ketimbang warung kecil macam ini.

Memang, menu yang dihidangkan warung ini tidak selengkap di plaza itu. Masakannya cuma dua-atau-tiga jenis: lodeh, pepaya, bihun. Kadang juga ada masakan lain, tapi variasinya amat terbatas. Lauknya juga cuma ada ayam goreng, telur dadar, tempe, atau gorengan lain. Sekarang sudah tidak ada “tahu arab”.

Frapucino? Ya tidak ada. Kopi tubruk yang ada, atau paling banter kopi kemasan. Teh dan jeruk adalah minuman standarnya.

Meski sederhana, jangan tanya soal suasanya. Wow, sangat hangat di warung itu. Antarpengunjung saling kenal, saling sapa, dan saling ledek. Tawa lepas selalu meledak. Usai makan, mereka pun tak bergegas pulang. Pindah ke teras depan, main catur atau ngobrol ngalor ngidul.

LA adalah warung internasional. Orang yang datang ke sana pasti bisa bicara dalam berbagai bahasa: Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Mandarin, dan banyak lagi. Meski tampang mereka kampungan, karena pakai sandal jepit, kaos oblong, bersepeda motor, ada juga yang bermobil, namun banyak negara di dunia telah mereka kunjungi. Tiap hari pun mereka bergaul dengan orang-orang mancanegara. Warung itu menjadi ajang pertemuan di antara mereka: pemandu perjalanan, biro wisata, dan pelaku-pelaku pariwisata.

Mampirlah jika sempat. Meski untuk sekali makan mereka hanya perlu mengeluarkan rerata Rp 5 ribu, namun aneka mata uang berbagai negara mereka punya. Hidup mereka memang tampak begitu sederhana. Sekilas, tak tampaklah bahwa pergaulan mereka begitu luas.

Pemandangan itu kontras dengan pemandangan di dalam Ambarrukmo Plaza. Di sana, barang-barang berbagai merek dunia terpajang dengan mewah. Para pembelanja pun berbusana tak kalah mewahnya. Gaya mereka tentu khas kelas menengah-atas. Tapi, belum tentu pergaulan dan wawasan mereka semewah penampilannya.

LA yang inspiratif.

Menunggang Kuda

1 Comment

Mulai hari ini, saya kembali menunggang kuda. Hehe, kuda besi buatan Jepang. Hampir dua tahun saya terkurung di kereta. Juga kereta besi buatan Jepang. Hanya sesekali saya lepas dari kereta. Sesampai di rumah, atau jika hari libur. Juga, jika tidak ada urusan kedinasan.

Segar sekali menembus pagi, langsung bertatap muka dengan matahari, dan bertegur sapa dengan angin sawah. Lembut udara menembus paru-paru, membugarkan badan. Bukan udara dari pendingin yang saya hirup. Semesta alam langsung yang menyediakannya.

Saya girang bukan kepalang. Kuda besi ini begitu tangguh dipacu. Ia tidak merintih kelelahan. Ia seperti turut dalam kegembiraan saya. Laju. Laju. Pacu. Kencang.

“Kuda perkasa”, demikian saya menjulukinya sejak kuda ini jadi tunggangan pacar saya, yang sekarang jadi istri saya. Kuda saya dulu tak seperkasa ini. Kecil, minim tenaga. Maka, dulu, ketika pergi ke luar kota, atau mendaki bebukitan, saya nembung kuda istri saya ini untuk boncengan berdua. Dan sungguh perkasa. Tanjakan ditaklukkannya. Jalanan lempang dilibasnya. Ah, pantas saja istri saya suka sekali dengan kuda ini.

Sekarang, kuda ini saya yang tunggang. Istri saya memacu kuda yang lebih muda, generasi terbaru peranakan Jepang.

Ksatria

3 Comments

Satu lagi pelajaran hidup datang menghampiri. Caranya pun istimewa.

Kerajaan tempat saya mengabdi sedang di ujung tanduk. Belum parah amat memang. Tapi kalau situasi terus seperti ini, ujung tanduk itu pasti menusuk dan mencabik kami.

Panglima berpikir keras, bagaimana supaya kami tidak kalah dalam peperangan ini. Bendera optimisme masih berkibar, meski lambaiannya lesu.

Dalam waktu yang amat sempit, Panglima mengumpulkan kami, para sentana regu. Dia memetakan, regu mana yang bisa jadi andalan, darahnya mendidih, dan regu mana yang loyo, yang butuh pecutan keras untuk layak maju perang.

Regu saya dinilai kurang darah. Tidak layak di depan karenanya.

Saya terima penilaian ini. Dan saya bertanggung jawab atas asatnya pasokan darah di pasukan saya.

Menghadap panglimalah saya. Bukan untuk mundur dari peperangan, tapi berperang dengan cara lain. “Saya turun dari kereta, Panglima. Terlalu nyaman titihan ini. Bikin saya lembek.”

Mulai besok, saya kembali menunggang kuda. Biar hujan dan angin kembali menyapa, kembali menerpa, kembali menempa. Untuk merebut panji-panji kemenangan!

Semayam

Leave a comment

Oka sudah bersemayam di peristirahatan abadinya di Asanalaya Tapansari, makam keluarga kami. Kemarin, saya sendiri yang membaringkannya di liang lahat.

Perjalanan pemindahan dari Solo ke Jogja berlangsung sangat lancar. Bapak, Ibu, Bulik Umi , dan calon adik ipar Beta pagi-pagi benar meluncur dari Jogja, tak sampai empat jam kemudian mereka sudah tiba kembali di Jogja. Tidak hujan, malah panas terik. Bapak dan Ibu Solo sudah menyiapkan semuanya dengan baik sehingga lancarlah prosesi itu.

Keluarga pun sudah bersiap di makam sebelum rombongan tiba. Mbah Kismo, satu-satunya adik kandung Mbah Kakung yang tinggal di Muntilan, sedari pagi sudah menyandarkan sepeda ontelnya di rumah Mbah. Keluarga besar pun berkumpul. Juga tetangga-tetangga dan umat katolik di lingkungan Mbah.

Tepat pukul 10.30, saya meletakkan peti Oka di tanah. Seuntai rosario saya kalungkan di atas petinya, tanda penyerahan kepada Gusti. Pak Jimun, pro diakon yang memimpin upacara menyertai dengan percikan air, uncalan tanah dari lokasi awal, dan taburan bunga di dalam makam.

Irenius Oka Anggoro, anak saya dan Ovik yang gugur 30 Juli tahun lalu, telah bersatu dengan leluhurnya, di tempat yang tenang di kaki Merapi. Semoga rohnya beristirahat dalam damai, menemani ibunya yang tengah mengandung adiknya.

Irenius Oka Anggoro

3 Comments

Roh itu hidup, meski badan mati.

Demikian juga dengan roh anak kami, Oka, yang gugur 30 Juli tahun lalu. Meski usianya di kandungan baru sebulan, namun kami meyakini bahwa roh kehidupan sudah berhembus di janinnya. Maka, begitu janinnya lahir, kami menguburkannya selayaknya orang hidup yang wafat. Di halaman belakang rumah bapak-ibu istri saya di Solo Oka berbaring dalam keabadian. Oleh bapak, Oka dikebumikan di bawah pohon pisang.

Dalam perkembangan, kami merasa bahwa cara penguburan itu kurang sempurna. Memang, dengan menguburkan di kompleks rumah, kami merasa bahwa Oka ada bersama kakek-neneknya, ditunggui setiap saat. Namun, tampaknya, ada aspek lain yang belum terpenuhi. Oka butuh rumah keabadian yang lebih nyaman.

Menanggapi rasa batin itu, kami memutuskan untuk memindahkan makam Oka. Semalam kami berbicara.

Tempat peristirahatan kekal Oka pun kami siapkan. Esok Minggu (7/2), Oka akan kami usung ke Jogja. Kami punya makam keluarga di Pakem. Di sana Oka akan kami semayamkan, bersanding dengan nenek buyutnya, serta saudara-saudara sedarah lainnya. Secara khusus, bapak saya akan menyiapkan peti untuknya. Ya, selayaknya orang meninggal.

Upacara awal kami adakan pagi tadi. Kami menyiapkan air suci untuk dipercikkan di pusara Oka. Air pembaptisan. Romo Deni, sahabat istri saya yang bertugas di Bali, secara khusus memimpin doa ini. Air dicampur garam diberkatinya. Sebuah nama baptis dihadiahkannya pula: Irenius.

Santo Irenius hidup tahun 140. Ketika menjadi uskup di Lyons, ia dikenal sebagai pembawa damai.

Maka, doa kami, semoga Oka menjadi pembawa damai bagi kami. Semoga rumah barunya nanti membawanya ke kedamaian abadi bersama Bapa di surga. Doa kami selalu, Nak. Terima kasih atas kehadiranmu. Meski engkau sudah tiada, namun rohmu hidup di tengah kami.

Ombak Terbaik

Leave a comment

Bahkan untuk menepi, nelayan-nelayan itu tak gegabah.

Bahkan untuk pulang, nelayan-nelayan itu tak terburu-buru.

Bahkan untuk menikmati hasil panenan, nelayan-nelayan itu masih menyebarkan jaring kecermatan.

Menjelang bibir pantai, mereka masih memilih ombak terbaik yang akan mengantar mereka ke tepian, dan bukan menggulung mereka. Semua ombak tampak sama, tapi di mata mereka, ada ombak terbaik yang mau menuntun mereka ke pantai. Selebihnya adalah ombak-ombak penerkam. Dan untuk menemukan ombak terbaik itu, mereka sangat bersabar.

Walau di tepian puluhan calon pembeli sudah menanti dengan tak sabar, mereka tidak boleh tergoda. Semua ada rejekinya. Saat menepi nanti, rejeki itu pasti menghampiri.

Walau di seberang pantai sana, di tengah daratan, keluarga merindu, mereka tidak asal pacu. Mereka justru mematikan mesin untuk menimbang-nimbang kesempatan secara tenang. Pasti mereka bisa melepas rindu jika ombak terbaik mereka temukan.

Pantai Depok kemarin pagi. Sekali lagi, alam tak pernah pelit membagi dirinya. Alam begitu pemurah menyodorkan pelajaran demi pelajaran hidup. Gratis, dengan satu syarat: kesediaan mencecap. Tak hanya dengan lidah, tetapi juga dengan hati. Tidak hanya dengan mata, tetapi juga dengan kaki; yang tanpa alas menyatu dengan alam.

Dan Pantai Depok menyajikan satu pelajaran sangat istimewa: hidup ini seperti bantaran samudera. Ada banyak ombak di tengah-tengahnya. Ombak itu tampak sama, tapi punya karakter berbeda. Diperlukan kearifan untuk mengenali ombak terbaik yang menjadikan pelayaran mencapai tujuan.