Raflles, Hospital Dengan Servis Hotel

Leave a comment

Suatu saat dapat tugas liputan ke negeri singa. Kapan ya di Indonesia model rumah sakit seperti ini berkembang untuk kalangan kebanyakan?

Beda dengan rumah sakit lainnya, Raffles Hospital menerapkan konsep laksana hotel. Lantas, experience apa yang mereka tawarkan?

Banyak rumah sakit di Tanah Air yang mengklaim berstandar internasional. Namun, belakangan, seiring mencuatnya kasus-kasus dugaan malapraktik, klaim-klaim tersebut seolah dicibir. Tak heran bila makin banyak pasien yang “lari” berobat ke luar negeri. Salah satu negara yang menjadi tujuan utama mereka adalah Singapura. Dan menurut sumber MARKETING, sekitar 70 persen pasien internasional di rumah sakit-rumah sakit di Singapura datang dari Indonesia.

Ada dua rumah sakit besar di Singapura yang sangat dikenal publik Indonesia, yakni NationalUniversity Hospital dan Mount Elizabeth. Faktor usia dan pengalamanlah yang membuat mereka dikenal. Reputasi mereka tak diragukan lagi. Pelayanan mereka sangat mengesankan.

Menyangkut reputasi dan pelayanan pasien, inilah ungkapan perasaan Irwanto yang dimuat Kompas, 17 Oktober 2004: “Di sana (Singapura-red) saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara teliti.” Irwanto adalah korban dugaan malapraktik yang dilakukan sebuah rumah sakit internasional di Jakarta Selatan. Separuh badan doktor psikologi ini lumpuh dan keadaan itu nyaris membuatnya kehilangan semangat hidup. Bersyukurlah ia datang ke Singapura. Bukan saja perawatan secara medis yang diperolehnya, melainkan juga secara psikis. Tidak saja badannya dipulihkan, jiwa kemanusiaannya pun kembali diutuhkan, kendati ia tetap lumpuh.

Sekelumit kisah itu hanyalah sebagian dari alasan orang-orang Indonesia yang memilih menjalani perawatan medis di negeri jiran tersebut. Dan bukan hanya dua rumah sakit besar tadi yang menjadi tujuan. Kini mulai banyak rumah sakit baru yang tak kalah larisnya. Dengan konsep yang modern, rumah sakit-rumah sakit itu mulai dilirik. Salah satu yang bintangnya sedang bersinar adalah Raffles Hospital.

Rumah sakit ini terletak di North Bridge Road. Baru beberapa saat yang lalu di lobby dalam terpampang tulisan “Raffles Hospital”, itu pun atas permintaan pelanggan. Maklum, tanpa tulisan itu, orang akan terkecoh dengan tampilan rumah sakit yang mirip hotel. Sama sekali tidak ada “bau” rumah sakitnya.

Menurut General Manager Corporate Services Raffles Hospital, Dr Prem Kumar Nair, rumah sakit tersebut memang menerapkan konsep seperti hotel. Malah, tanpa nada berseloroh, beberapa kali Dr Prem menyebut istilah “hospitel”. “Hospital with hotel services,” terangnya.

Ia serius. Sejak MARKETING memasuki satu per satu bagian rumah sakit tersebut, nuansa pelayanan hotel memang sangat terasa. Bukan saja tata ruang yang nyaman dan fasilitas medis yang lengkap. Pelayanan yang disediakan pun sangat customer based. Service memang terasa sebagai kekuatan mereka. Soalnya, jika ditilik secara dalam, fasilitas yang ada tidak terlampau luar biasa. Boleh dibilang, hampir semua rumah sakit di negeri bersimbol “Merlion” ini memiliki standar yang sama.

Mengingat sebagian besar pasien internasional rumah sakit tersebut berasal dari Indonesia, Raffles Hospital yang menyasar segmen atas ini menyiapkan petugas khusus yang bisa berbahasa Melayu. Mereka menamainya “interpreter & secretarial service”. Dr Prem mengatakan, tujuan pelayanan seperti ini agar pasien merasa nyaman selama tinggal di sana, senyaman di rumah sendiri. Supaya pasien tidak merasa sakit. Sebaliknya, supaya termotivasi untuk sembuh.

Saking pengen membuat pasien nyaman, di bagian pelayanan pasien internasional, disediakan berbagai jasa yang mempermudah pasien dan keluarganya selama di negeri itu. Mereka sangat paham tabiat orang Indonesia. Meski sakit, dalam benak pasien dan keluarga Indonesia tetaplah traveling dan… shopping! Oleh karena itu, di Raffles International Patients Centre tersebut terdapat pelayanan yang disebut “travel planning & visitor information”. Mau city tour?Free of charge. Gratis pula untuk pengurusan visa atau pengaturan tiket. Bahkan, untuk keluarga pasien yang belum sempat check in di hotel setibanya mereka di sana, disediakan locker room yang dapat memuat tas ukuran besar. Gampang. Bisa mereka atur.

Beda dengan Mount Elizabeth yang lokasinya dekat dengan Orchad Road –surga belanja orang Indonesia, Raffles Hospital dekat dengan Bugis Junction. Di sini terdapat stasiun MRT (Mass Rapid Transportation), yang memudahkan siapa saja untuk pergi ke mana saja. Menangkap kebutuhan itu, rumah sakit ini juga menawarkan “retail therapy”. Siapa tahu belanja dapat mensugesti pasien untuk sembuh.

Pelayanan yang sangat customized ini memang menjadi visi Raffles Hospital untuk menjadikan pasien dan keluarganya sebagai the very important person. Dibenarkan Dr Prem, yang ingin ditonjolkan rumah sakit tersebut adalah experience-nya. Ini sesuai pula dengan tarif kompetitif yang ditetapkan di sana.

Untuk semakin melekat di benak masyarakat Indonesia, Raffles Hospital gencar berpromosi. Di luar iklan, Raffles Hospital juga membuka kantor representatif di Jakarta. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Jakarta Express, travel agent yang sukses membuat paket medical check up di rumah sakit ini dan berbelanja di Mustafa Center meraih penghargaan Tourism Awards dari Singapore Tourism Board sebagai “the most innovative marketing effort by foreign tour operator”. Tujuan kerja sama tersebut bukan saja untuk menarik minat pasien seperti Irwanto, namun juga mereka yang sehat, supaya mereka bisa merasakan bahwa sehat itu menyenangkan…(AA Kunto A, Majalah Marketing November 04)
Advertisements

Bekerja, Selalu Menanam

1 Comment

Ada yang sedang singgah di kepala. Tentang bekerja.

15 tahunan saya bekerja. Sejak di bangku sekolah, saya sudah mencicipi dunia kerja. Meski kerja sederhana. Sewaktu SMP, saya sudah nyambi mendampingi pramuka sekolah lain menggelar perkemahan. 3 hari, saya diamplopi Rp 10.000. Girang bukan main saat itu.

Saat SMA juga. Wesel Rp 36.000 saya cairkan di kantor pos atas jerih saya menulis di sebuah majalah ibu kota. Cukup untuk nraktir temen-temen makan bakso di kantin. Cukup pula untuk cerita di rumah pada ibu dan bapak. Malah, sangat besar nilainya ketika saya selalu menceritakan pengalaman itu sampai sekarang.

Sewaktu SMA itu pula, saya berkenalan dengan dunia kerja yang profesional. Lamaran saya menjadi wartawan di Harian Bernas diterima. Saat itu saya baru menyelesaikan kelas 1 secara tertatih-tatih setelah tidak masuk sekolah 2 bulan gara-gara kecelakaan lalu lintas. Harian Bernas memang menerima wartawan pelajar kala itu. Koran yang manajemennya dikelola oleh Kompas itu memberi kesempatan kepada pelajar mengelola satu halaman setiap hari minggu. Satu halaman penuh tanpa iklan! Setiap minggu, tidak boleh bolong! DAN TIDAK ADA SEPESER UANG PUN UNTUK PEKERJAAN ITU!

Nama rubrik yang kami asuh adalah Gema. Semua wartawannya pelajar. Pekerjaan kami sama dengan wartawan dewasa lainnya: merencanakan, meliput, mewawancarai, mencari data, memotret, menulis, menyunting! Kalau luput dimaki. Sama! Kalau kerjaan belum selesai, sudah malam sekali pun, tidak boleh pulang. Sama!

Saya menikmati pekerjaan itu, meski di awal-awal harus tertatih-tatih. Bukan saja karena tidak punya pengalaman menulis dan bekerja di lapangan, melainkan karena kaki saya belum tegak untuk berdiri. Untuk berjalan saya masih pakai kruk penyangga. Sungguh-sungguh tertatih.

Syukurlah bahwa saya bersungguh-sungguh saat itu. Meski tidak dibayar, saya merasa menerima bayaran yang jauh lebih bernilai daripada nilai uang jika pekerjaan saya dihitung seperti karyawan profesional lainnya. Bayaran itu adalah KESEMPATAN. Kesempatan apa? Kesempatan untuk menanam. Menanam apa? Menanam kepercayaan. Kepercayaan apa? Kepercayaan bahwa saya punya kemauan, saya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan… saya selalu terbuka untuk belajar.

Tidak hanya di Gema saya bekerja tak berbayar. Di Majalah Balairung-UGM, kampus saya kuliah, dan di Sanggar Talenta, Penerbit Kanisius, saya belajar menulis, juga menerbitkan buku tanpa diimbali duit. Tahun-tahun awal bekerja di Majalah Basis dan Majalah Utusan pun sama. Jika saya butuh uang, terutama untuk membayar kuliah, saya menulis di media massa. Entah menulis opini, entah menulis resensi buku, atau reportase lainnya. Syukurlah, selama kuliah, saya mendapatkan kepercayaan dari Harian Bernas untuk menjadi kolumnis tetap di rubrik “Teropong”, bersama guru menulis saya St Kartono.

Seterusnya.

Ketika saya sampai di sini sekarang, saya berkaca ke belakang. Apakah ini buah yang saya petik dari benih yang saya tanam dulu? Ya, pasti. Kepercayaan yang satu persatu diletakkan di pundak saya, saya sadari sebagai simpul dari kepercayaan-kepercayaan kecil masa lalu yang bisa saya tuntaskan. Syukurlah jika seperti itu.

Apakah sekarang saya tidak lagi menanam? Tentu tidak.

Menanam sepanjang hayat. Jika tidak saya yang memanen, ya anak saya, keturunan saya, generasi sesudah saya.

Apa yang saya tanam sekarang? Tiada lain, bekerja semakin profesional, lebih mumpuni. Juga menanam perilaku: hormat kepada siapa pun, menghargai siapa pun, dan berempati kepada orang lain. Saya mengingatkan diri untuk tidak takabur. Roda hidup berputar. Siap di atas, siap di bawah. Siap di puncak, siap di ngarai. Siap memimpin, siap dipimpin.

Kepada teman-teman kerja, saya tidak jemu-jemu melontarkan refleksi itu. “Suatu saat kalian yang jadi pemimpin.” Saya siap dipimpin. Bisa karena mereka yang makin pintar, bisa karena saya kian tumpul.

Dengan benih-benih perilaku yang saya tanam, semoga saya selalu bisa bekerja sama dengan siapa pun, kapan pun, dalam peran apa pun.

Menanam sepanjang hidup. Bukan karena digaji tinggi, tetapi supaya belajar tiada henti.