akhir yang tiada beda

Leave a comment

Ini hari terakhir di 2007. Ya, penghujung tahun yang digelisahkan di mana-mana. Sore ini, banyak orang bergegas hendak segera melewatkan tengah malam.

Apa sebenarnya yang istimewa dari pergantian tahun? Tidak ada. Pinter-pinternya orang pinter aja mengkomodifikasi waktu menjadi barang dagangan. Seperti dikritisi media-media belakangan. Pesta di mana-mana. Kembang api membuncah di langit-langit malam.

Ah, tidak tega rasanya. Di Solo, saudara-saudara terendam banjir akibat Bengawan Solo muntah-muntah. Di Karanganyar, tanah longsor membenam pula. Bencana-bencana sedang silih menghardik negeri ini.

Biarlah malam ini berlalu sebagaimana malam-malam biasanya. Biarlah bintang menerangi jiwa-jiwa yang sepi. Dan biarlah doa mengiring duka saudara-saudara yang sedang menderita. Tanpa terompet. Tanpa gegap-gempita.

Advertisements

Mbah Putri Wafat

Leave a comment

Mbah Putri berpulang, Kamis 20 Desember 2007 pukul 13.00 di RS Panti Nugroho. Kami sudah siap. Malam sebelumnya kami sudah bertafakur dalam Pembacaan Surat Yasin. Allah telah memanggil beliau kembali ke pangkuan-Nya.

Jumat keesokan siangnya, Mbah Putri kami antar ke peristirahatan terakhir di Makam Sasanalaya Tapansari Candibinangun Pakem Sleman. Dalam hujan lebat, diantar oleh lebih dari 700 pelayat. Dalam dua hari, sekira 1.500 orang datang melayat. Bukan. Mbah bukan pejabat. Hanya petani buta huruf. Keluarga dan kerabatlah yang banyak.

lahir, napas, dan mati

Leave a comment

Selalu ada yang tidak bisa saya pahami dalam hidup ini. Lahir, napas, dan mati.

Hari-hari ini, Mbah Putri sedang berjuang hidup. Bed rumah sakit menjadi saksi, betapa napas itu kini berburu dengan denyut nadi yang kian kencang. Badannya panas. Kesadarannya sama sekali tidak ada. Gerakan tangan kanannya, kami duga, hanya refleks bawah sadar.

Kami hanya berbisik di telinganya. Bisikan doa. Percaya beliau mendengar. Lebih-lebih Dia.

Juga harapan. Lalu kami sampai kepada puncak dari keyakinan, bahwa pada titik tertentu harapan dan kecemasan itu bertemu. Permintaan dan kepasrahan bertaut. Kami masih ingin bersamanya lebih lama lagi, sekaligus kami ikhlas juga Allah yang empunya kehidupan menghendaki Mbak kembali. Ini sama sekali tidak bermaksud mendului kehendak-Nya. Tapi memang demikianlah adanya. Hidup dan kematian adalah sepasang mempelai kesempurnaan. Keduanya sudah menjadi kepastian beribu-ribu abad. Semua yang hidup pasti mati. Semua yang mati, kata iman, berharap bisa hidup abadi.

Mbah Putri tak lagi bisa berkata-kata kepada kami. Sore nanti kami, putra-putri dan cucu-cucunya akan berkumpul di seputar tempatnya berbaring, akan membacakan Surat Yasin. Kami memohon sekaligus pasrah. Jika Allah menghendaki kesembuhan, biarlah itu yang terjadi. Sebaliknya, jika Allah memungkasi perjalanan duniawi Mbah, kami akan melepas dengan bangga.

Bangga? Ya. Kami bangga akan Mbah Putri. Cintanya sungguh luar biasa. Pada suami, anak-anak, dan seluruh keluarganya. Mbah Kakung mengakuinya. Pada saat Mbah Kakung harus meringkuk di penjara dalam peristiwa 65, Mbah Putri yang menyelamatkan anak-anak. Bapak saya salah satunya. Mbah Putri, yang yatim piatu di umur 8 tahun, mesti menjadi “janda” gara-gara peristiwa politik yang tidak ia pahaminya. Jangankan memahami konstelasi politik, membaca saja Mbah Putri tidak bisa.

Selepas dari penjara, Mbah Kakung hanya bisa hidup dari bertani. Status pegawai negerinya dicopot, tanpa ada tanda pensiun dari negara. Kebun peninggalan orangtua memang luas, tapi tanah yang bisa ditanduri padi tidak seberapa. “Mbahmu Putri kuwi sing ngojok-ojoki aku tuku lemah,” ujar Mbah Kakung. Jadilah, berkat kengototan Mbah Putri, sepetak demi sepetak lahan terbeli. Lalu kini, anak-anaknya beroleh hamparan lahan yang luas.

Mbah Putri sedang berjuang sekarang. Mungkin mempertahankan hidup. Mungkin mempersiapkan hidup berikutnya. Selang infus sudah dipindahkan dari punggung tangan ke punggung kaki. Napasnya satu-satu. Riak menyumbat aliran hawa. Tanpa gerak. Tanpa mengeluh.

Hanya doa yang bisa kami titipkan. Selebihnya, saya tetap tidak bisa memahami misteri hidup yang demikian ajaib ini. Semoga Mbah beroleh jalan terbaik. Kami berharap, kami pasrah.

Lawan Penyanderaan Pikiran!!!

Leave a comment

STOP PRESS!

 

LAGI, PEMBERANGUSAN BUKU OLEH KEJAKSAAN

 

  • Buku Penerbit Galangpress Tenggelamnya Rumpun Melanesia; Pertarungan Politik NKRI di Papua Barat disita Kejaksaan Negeri Jayapura, Kamis (13/12).
  • Dasarnya Surat Keputusan Jaksa Agung Kep-123/A/JA/11/2007 tentang larangan beredarnya cetakan buku berjudul Tenggelamnya Rumpun Melanesia; Pertarungan Politik NKRI di Papua Barat.
  • Juga didasarkan instruksi dari Jaksa Agung INS-004/1/JA/11/2007 kepada Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri di seluruh Indonesia untuk melakukan penyitaan terhadap buku karya Sendius Wonda tersebut dan melakukan operasi intelejen untuk tindakan pensitaan terhadap barang cetakan tersebut, serta meminta pertanggungjawaban mereka yang tidak mentaati larangan beredarnya buku itu.

 

Negara kembali menggunakan tangan besinya untuk membungkam kebebasan berpikir warganya. Kamis (13/12) kemarin, Kejaksaan Negeri Jayapura menyita buku Tenggelamnya Rumpun Melanesia terbitan Penerbit Deiyai bekerjasama dengan Penerbit Galangpress dari Toko Buku Gramedia Jayapura. Dalam rencana, kejaksaan akan menyita pula buku yang sama di seluruh Indonesia.

Hari ini, media massa di Papua ramai-ramai menurunkan kasus ini di laporan utama mereka. Headline Cendrawasih Pos (15/12) contohnya, mengangkat judul Dinilai Diskreditkan  Pemerintah, Buku Tenggelamnya Ketertiban Rumpun Melanesia Disita. Dalam artikel tersebut, dikutip pernyataan Kepala Kejaksaan Negeri Jayapura, Sri Agung Putra, SH, MH, “Soal berapa lama buku itu sudah beredar, kami kurang tahu persis. Tapi yang pasti buku itu sudah ada yang dibeli oleh masyarakat, kami hanya berhasil mengamankan 60 eksemplar saja.“

Oleh Sri Agung, buku setebal 247 halaman yang ditulis oleh Sendius Wonda, SH, Msi dan diberi kata pengantar oleh Socratez Sofyan Yoman (Ketua Umum Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua), dinilai mendiskreditkan pemerintah dan berbau memecah belah persatuan. Ia menunjuk isi, di antaranya,  yang menyatakan bahwa virus HIV/AIDS yang berkembang di Papua sengaja disebarkan secara terorganisir oleh pemerintah dengan mendatangkan perempuan pelacur dari Jawa untuk memusnahkan Papua. Atas kasus ini, di pemberitaan yang sama, pihak Kejari Jayapura belum memanggil pihak penerbit dan penulisnya.

 

Melanggar Kebebasan Berekspresi

Menanggapi gegeran ini, peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta, Muridan S. Widjojo, kepada wartawan menyatakan bahwa pelarangan ini melanggar kebebasan berekspresi. “Setiap warga negara itu berhak mengeluarkan pendapatnya, buah pikirannya, cara dia memandang persoalan di propinsinya, maupun di tingkat nasional. Saya kira ini harus dilindungi. Ini prinsip dasar yang tercantum dalam undang-undang dasar,“ katanya.

Muridan menilai, dari isinya, buku ini merupakan khas cara berpikir aktivis Papua di kelompok tertentu yang ditandai satu hal, yakni culture of terror. “Dulu saja banyak aktivis Indonesia yang cara melihat Soeharto juga seperti itu. Saya kira cara berpikir ini harus dihargai. Kalau memang tidak setuju, kita bisa counter, bikin buku baru. Ini harus diapresiasi, karena di masyarakat Papua telah berkembang pesat tradisi untuk menulis. Ini yang harus dihargai oleh Pemerintah Indonesia,“ tegasnya.

Muridan juga mengkritik pemerintah, bahwa penyitaan ini melanggar Undang-Undang Dasar 1945, melanggar kebebasan berekspresi.

Karena itu, dengan ini, Penerbit Galangpress menyatakan sikap menolak cara-cara represif negara seperti ini. Reformasi mestinya mengubah perilaku bar-bar ala Orde Baru menjadi perilaku yang beradab, yang mengedepankan dialog.

 

Yogyakarta, 15 Desember 2007

5 hari setelah peringatan Hari Hak Asasi Manusia Internasional

 

 

AA Kunto A

Pemimpin Redaksi

Basuki

Leave a comment

Semalam Basuki mati. Bukan di panggung Srimulat, tapi di lapangan Futsal di Cibubur. Sedang menghitung skor, kata temannya. Sebelumnya, ia memang turun ke lapangan. Tidak lama. Tidak pula ngoyo.

Basuki (paling kanan)Usianya baru 51 tahun. Serangan jantung menyerobotnya untuk mati muda. Ia seperti penguasa yang diturunkan paksa dari tampuk kekuasaan. Nama bekennya masih berkibar di jagad hiburan. Ia kondang sebagai pelawak. Mas Karyo adalah nama kondangnya setelah bermain di Si Doel Anak Sekolahan besutan Rano Karno, medio 1990-an lalu.

Infotainment sontak berebut mengabarkan kematian pemilik warung bakso di bilangan Gas Alam Cimanggis ini. Semua televisi menayangkan warta duka ini. Juga seluruh media cetak. Mereka bilang, mereka kehilangan satu lagu putra terbaiknya.

Dari rumah duka di Cinere, jenasah Basuki dimakamkan ke TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Selesai sudah. Untuk selamanya.

Kompas bukan Surga, Wisudo bukan Malaikat

Leave a comment

Saya tidak setuju dengan cara Wisudo di bawah ini:

Pelajaran tentang konflik industrial antara karyawan dan perusahaan pers, sekali lagi, ditunjukkan oleh pertikaian antara Kompas dengan Bambang Wisudo, wartawannya. Sempat heboh. Selain karena melibatkan koran berbahasa Indonesia dengan oplah paling banyak di dunia, juga karena menyeret seorang aktivis buruh media yang disebut-sebut getol memperjuangkan daya tawar karyawan saat berhadapan dengan kapitalisme industri media.

Menarik. Saya sendiri berharap, hasil akhir dari pertikaian ini berupa solusi yang mencerdaskan. Betul, semua sudah terjadi. Setidaknya dua pihak terluka oleh kejadian ini.

Sayang, luka itu segera ditambani. Nganganya dibiarkan dikerubungi kremi. Baunya makin tidak sedap. Membusuk sebentar lagi. Dari yang terluka itu pun malah menebar pisau menebar luka. Ia mungkin lupa, pisau itu justru bisa melukai dirinya sendiri. Membunuhnya sendiri.

Dendam tak pernah akur dengan akal sehat. Dengki sulit dinalar. Wisudo pasti paham ini. Eman sekali, dalam luka, ia justru menyulut prahara. Satu musuh sebesar Kompas terlalu kecil baginya. Maka, ia membangunkan orang-orang kecil di Kompas, sahabat-sahabatnya sesama buruh media, untuk dijadikan musuh besar. Yang besar dikelingkingkan, yang kecil dijempolkan.

Wisudo tidak menjadi malaikat ketika ia begitu lihai membacakan litani dosa orang-orang di sekitarnya; sebagaimana Kompas, menurutnya, bukan surga. Kembalilah ke bumi. Selesaikan perkara ini secara manusiawi, sebagaimana manusia dibekali nurani dan akal budi.

Oleh situasi, semoga Wisudo menemukan cara yang bijak untuk menuntaskan episode prahara Palmerah Selatan ini. Perjuangan suci menuntut hak sepantasnyalah ditempuh lewat cara yang tidak mematikan orang lain. Selamat berjuang, Wis!

SURGA BERNAMA KOMPAS*)

Oleh P. Bambang Wisudo
Banyak orang luar melihat Kompas dari jauh tidak ubahnya sebuah surga.
Setahun lalu saya ditendang dari surga itu. Saya dibawa paksa ke pos
satpam, disekap selama dua jam, lalu dipecat. Ketika Dinas Tenaga Kerja
mengeluarkan rekomendasi agar saya dipekerjakan kembali, seorang budayawan
Kompas Putu Fajar Arcana mengancam akan melempar saya keluar dari jendela
bila saya balik ke Kompas.

Saya tidak pernah bermasalah dengan wartawan, cerpenis, budayawan
berinisial Can itu. Tapi kalau saya ingat-ingat, mungkin dia ikut
tersinggung ketika saya mengirim sms ke lima wartawan senior Kompas
berbunyi “Hidup Bob Hasan”. Pagi itu saya melihat Kompas. Sebagai wartawan
Kompas saya begitu frustrasi ketika melihat di halaman satu Kompas ada
sebuah feature dengan foto Bob Hassan dengan pemimpin redaksi saya,
Suryopratomo. Salah satu penulisnya adalah Can. Belakangan sms itu bocor
ke Suryopratomo.

Kalau saya melihat kembali foto peristiwa 8 Desember 2006 sore, ketika
saya mengucapkan kata-kata terakhir sebelum meninggalkan halaman Palmerah,
saya melihat sejumlah wartawan Kompas menangis. Termasuk Efix Mulyadi dan
Maria Hartiningsih. Isteri saya ketika memperoleh kabar saya disekap,
datang ke Palmerah, berusaha menemui saya tetapi gagal. Ia bisa masuk ke
halaman Kompas karena mengaku teman MH. Menurut cerita isteri saya, MH
terus menangis selama menemui isteri saya. Saya juga hampir menangis
karena MH menangis. Saya agak kaget ketika mendengar kabar bahwa MH dan
Efix menjadi pelopor penandatanganan “Seruan Wartawan Kompas”. Mereka
kawan-kawan saya yang baik, termasuk Bre Redana. Akan tetapi saya sangat
memahami posisi MH meski isteri saya bilang, tidak bisa seseorang memiliki
dua sikap yang bertentangan sekaligus. Saya secara pribadi pernah bertemu
dengan MH dan ia menjelaskan posisinya dalam seruan itu.

Efix adalah guru saya dalam menulis. Ia penulis yang bagus. Bre saya ingat
ketika saya iseng-iseng mengusulkan untuk mewawancarai Arbi Sanit beberapa
saat sebelum gerakan anti Soeharto muncul. Waktu itu saya mengusulkan
untuk menyentil mahasiswa yang adhem ayem dengan membuat wawancara dengan
Arbi Sanit yang tentang keberhasilan depolitisasi kampus melalui NKK/BKK.
Setelah berita itu dimuat saya didatangi ST Sularto, sekarang wakil
pemimpin umum Kompas. Sts menanyakan kenapa saya mewawancara Arbi Sanit
karena Arbi dicekal Kompas. Saya bilang tidak tahu, karena Arbi pernah
muncul di Kompas. Saya dan Bre tersenyum-senyum setelah Sts pergi.

Bre yang saya kenal adalah tokoh kiri di Kompas. Mungkin lebih dari
sekedar sosialis. Ia pernah diselamatkan dengan ditugaskan ke Aceh dan
disekolahkan ke Inggris. Namanya pun diganti alias. Bre Redana tidak lain
adalah Don Sabdono. Tapi biasalah orang berubah. Kompas punya sejarah
sosialis. Akan tetapi ada joke tentang ideologi-ideologi: kepala sosialis,
perut kapitalis, bawah perut liberalis. Mungkin Bre orang yang bertipe
kepala sosialis, kantong kapitalis. Ia banyak berubah setelah kawin.

Kalau melihat foto-foto setelah saya menerima surat pemecatan, jelas
tangisan para wartawan Kompas tidaklah dibuat-buat. Jelas bukan air mata
buaya. Jadi reaksi pertama itu lebih murni daripada seruan yang dibuat
kemudian.

Saya pernah mempunyai hubungan yang unik, baik dengan Kompas maupun Jakob
Oetama. Saya menginjakkan kaki pertama kali di Kompas ketika mencari
klipping di Pusat Informasi Kompas. Saya tidak kenal siapa-siapa, tapi
satpam pada waktu ramah-ramah. Saya disapa seorang satpam,
ngobrol-ngobrol, dan ia bilang siapa tahu suatu saat saya kerja di Kompas.
Saya memang kemudian kerja di Kompas. Dan di tangan satpam satpam pula
saya dihina dan ditendang dari Kompas.

Baru dua bulan diangkat jadi karyawan Kompas, Soeharto membredel mingguan
Tempo, Detik, dan Editor. Waktu itu saya masih wartawan culun dan penurut
di Kompas. Saya tidak punya latar belakang aktivis. Akan tetapi saya
merasa harus berbuat sesuatu. Teman saya waktu itu adalah Salomo. Satrio
dan Yudha bagi saya waktu itu sudah jauh di awang-awang. Saya waktu itu
hanya dapat kontak Santoso. Ia datang ke Palmerah, lalu kami
ngobrol-ngobrol. Dari situlah saya terlibat dalam aksi-aksi
antipembredelan. Saya berusaha membujuk wartawan Kompas untuk ikut aksi
tetapi itu tidak mudah. Mereka bilang, apakah bila Kompas yang dibredel,
wartawan Tempo akan turun ke jalan. Mereka bilang ketika Kompas dapat
musibah Monitor dibredel, Tempo justru menghabisi KKG. Ternyata wartawan
Kompas akhirnya ikut solidaritas turun ke jalan.

Saya ikut mengedarkan petisi antipembredelan di Kompas. Yang tandatangan
lumayan banyak. Kalau tidak salah sekitar 120 tanda tangan. Dari KKG total
ada sekitar 260 tanda tangan. Mayoritas dari keseluruhan penandatangan.
Ketika ada yang menempel list tanda tangan di meja absen lantai tiga, kami
sempat khawatir. Benar saja, Harmoko menelpon pemred. Apa maksud Kompas?

Kejadian sesudahnya, kami dikumpulkan untuk mendengar wejangan Pak Jakob.
Satu hal yang saya ingat waktu itu, JO bilang bahwa tugas wartawan adalah
menulis, bukan aksi. Ini larangan halus dari JO. Saya sempat bingung juga,
karena kesepakatan malam sebelumnya. Di kos-kosan Andreas Harsono, di
perkampungan kumuh di belakang Kompas, kami sepakat bahwa semua yang hadir
dalam rapat harus datang dalam aksi dua hari berikutnya di Dewan Pers.
Aksi tagih janji. Karena sudah duluan ada kesepakatan, saya memutuskan
tetap ikut aksi.

Saat aksi tagih janji ke Dewan Pers, beberapa wartawan Kompas ikut.
Tiba-tiba saja ada sebuah mobil BMW keluar. Wah, JO. Kata saya dalam hati.
Tidak lama kemudian lampu mobil BMW JO ditendang Jopie Lasut. Pecah. Sore
harinya JO nelpon Mas Nugroho (setelah gagal di TV7, sekarang direktur
humas KKG). Ia bertanya mengapa saya ada di situ. Mas Nug jawab bahwa dia
juga ada di situ. Selamatlah saya sebagai seorang wartawan baru.

Peristiwa pembredelan dan rangkaian sesudahnya mengubah saya dari wartawan
pekerja, penurut, menjadi wartawan yang ingin memperjuangkan sesuatu. Tapi
di titik itulah perlahan tapi pasti membedakan nilai-nilai yang wajar
sebagai kebenaran berlawanan dengan “kultur” Kompas. Saya pernah
dikucilkan ketika wawancara Coen Husein Pontoh dengan saya dikutip di
Pantau. Dan sejak saya merencanakan menderikan serikat pekerja sampai
keluar dari halaman Palmerah, sering saya berkonflik dengan JO dan bos-bos
Kompas.

Saya punya banyak musuh tetapi sekaligus banyak teman di Kompas. Saya
dimusuhi oleh seorang wartawan yang jadi juragan, suka berbaik-baik dengan
konglomerat dan pejabat dengan tulisan-tulisan propertinya. Saya dimusuhi
oleh wartawan yang bekerja juga sebagai aparat intel. Dan itu dilindungi
oleh JO. Pada waktu peristiwa 27 juli, intel itu mau memaksa JO agar ia
menggantikan posisi kepala desk politik. Almarhum Sjafei (Iie), pernah
menggugat itu dalam rapat besar dengan JO, jawabnya kira-kira “You tahulah
…”.

Saya juga dimusuhi oleh seorang yang diadukan karena dugaan korupsi dana
kemanusiaan Kompas. Saya dimusuhi oleh seorang wakil kepala biro yang
dilaporkan melakukan sexual assault terhadap seorang reporter perempuan.
Justru reporter perempuan itulah yang dipindah duluan, bukan wakil kepala
biro itu. Sekarang dia menjadi salah satu pengurus kunci Perkumpulan
Karyawan Kompas boneka Suryopratomo.

Saya dan JO ibarat “benci tapi rindu”. Hubungan saya dengan JO dengan saya
baik-baik saja. Lama saya menghindar ketemu JO setelah saham karyawan
Kompas diambil sepihak oleh perusahaan. Tiba-tiba suatu minggu sore saya
ditelepon Sularto. Ia bilang Jo menanggap saya berprestasi sehingga saya
mendapat kenaikan gaji khusus dan jatah mobil kantor. Saya menanggapi
dingin-dingin saja. Hadiah itu justru membuat saya gelisah karena ini
berarti penaklukan. Kediaman saya mungkin diartikan oleh JO sebagai
“pertobatan”. Sejak itulah saya bergerak lagi, ada agenda saham karyawan
yang belum terselesaikan.

Ketika pengurus PKK mensomasi JO, mulai saat itu pula hubungan pribadi
saya dengan JO retak. Bagi saya tidak soal, karena ini bukan urusan
personal. JO sangat sakit hati karena somasi itu. Ia menangis. Ia merasa
kami ini penumpang bus, kok macam-macam. Ketika akhirnya pengurus bisa
bertemu dengan JO, suasananya tegang. JO bilang bahwa pertemuan itu
merupakan pertemuan antara “bapak dan anak”. Syahnan Rangkuti, ketua PKK,
orang Batak. Ia langsung memotong, “Maaf Pak, tidak ada kesepakatan
pertemuan ini merupakan pertemuan antara anak dan bapak.”

JO merah padam. Ia menjawab, “Jadi bung tidak mau disebut anak. Kalau
begitu maaf … maaf … maaf. Pertemuan itu diakhiri jabat tangan.
Dingin. Sularto lalu mendekati Syahnan. Ia bilang bahwa jawaban Syahnan
sangat kasar bagi orang Jawa. “Tapi saya bukan orang Jawa …,” kata
Syahnan.

Sebelum ontran-ontran itu, sebenarnya di kalangan pimpinan Kompas-Gramedia
mulai ada perpecahan. Editor saya, Agnes, dipromosikan jadi manajer
Diklat. Dalam suatu rapat diklat, semua pimpinan Kompas hadir, termasuk
JO. Setelah JO pergi, dipimpin P Swantoro. Rapat itu menyimpulkan perlu
ada perubahan struktural di Kompas. Swantoro menghadap JO, ia bilang bahwa
Suryopratomo harus diganti. Jawaban JO kira-kira begini, Suryopratomo kan
saya yang milih. Kalau saya yang nyopot, saya sendiri yang malu.

Ketika Suryopratomo ulangtahun, Myrna mengirim ucapan ulangtahun pada
Suryopratomo. Akan tetapi malah dijawab oleh Suryopratomo, kalau mengganti
orang jangan di tengah masa jabatan.

Agung Adiprasetyo, CEO yang baru, berusaha memotong geng Suryopratomo di
KKG. Beberapa majalah ditutup. Beberapa jabatan suami Myrna dicopot. Kabar
yang sempat beredar Suryopratomo sempat tidak boleh berhubungan langsung
dengan JO kecuali melalui Agung. Swantoro, Agung, August Parengkuan
berusaha membentengi gerakan Suryopratomo. Peta itu berubah ketika PKK
mensomasi JO. Mereka bersatu kembali seolah-olah mau menghadapi “musuh
dari luar”.

Pada waktu PKK mau bertemu JO, setelah kami mensomasi, ada seorang
pengurus mengusulkan agar mengajukan syarat suryopratomo dicopot dari
pemimpin redaksi. Saya tidak setuju. Menurut pendapat saya, itu tidak
proporsional. Saya mengusulkan agar PKK mengajukan syarat, perundingan
tidak melibatkan Suryopratomo. Dan itu disetujui JO. Itulah mengapa
Suryopratomo getol mau membalas dendam kepada pengurus PKK. Salah satu hal
yang mendorong kami berunding damai adalah harapan bahwa bila kesepakatan
tercapai, ada peluang Suryopratomo tergeser. Ternyata tidak.

Jaringan Suryopratomo memang sangat kuat. Di redaksi ia mempunyai
teman-teman seperti Myrna Ratna, Diah Marsidi, dll yang disatukan dalam
geng makan siang. Lalu di lapis lain ada Agus Hermawan, Abun Sanda, Andi
Suruji, Nugroho. Jaringan ini tidak bisa dipisahkan dalam kategorisasi
agama. Kader-kader Katolik-Kristen umumnya memilih bersikap oportunis. Tri
Agung Kristanto dalam krisis tiba-tiba saja jadi mesin Suryopratomo.
Sampai sekarang saya belum paham mengapa JO membela Suryopratomo? Ada
kabar JO punya hutang budi personal pada Suryopratomo.

Ketika saya ditendang keluar dari Kompas, PKK dijinakkan, boleh saja saya
dibilang gagal dalam membangun serikat buruh di Kompas. Kegagalan dan
sukses merupakan bagian dari gerakan. Kegagalan boleh jadi mengawali
sukses yang lebih besar. Gerakan buruh di Kompas tidak mati. Suatu saat
akan bangkit lagi. Di tengah oportunisme, masih ada saja kritisisme.
Kritisisme itu memang tidak datang dari orang-orang seperti Hariadi
Saptono atau Banu Astono yang pernah membentuk dewan jenderal ketika
krisis tengah terjadi. Saya pernah ngobrol berempat dengan Hariadi Saptono
di sebuah cafe di Senayan. Ia melontarkan semua kekesalan, termasuk
mempertanyakan mengapa JO sangat percaya pada Sularto yang ia bilang
bodoh. Ia bercerita ditelepon JO, dikerjai Suryopratomo. Tapi ia pula yang
tidak melakukan pembelaan apapun, bahkan tidak memberi tahu saya, ketika
saya akan dibuang ke Ambon.

Hariadi Saptono pernah bermusuhan dengan Tri Agung, ketika ia jadi
koresponden Surya dan berkantor di Kompas Yogya. Ketika Tria Agung sedang
mengetik di komputer, listrik dimatikan dari meteran. Lama setelah itu
saya ketemu dengan seorang wartawan muda Kompas Semarang di Gramedia
Matraman. Ia bercerita, ia harus jongkok ketika Hariadi Saptono mengedit
beritanya. Wartawan tidak boleh pulang sebelum editor selesai mengedit.
Tidak ada libur, tujuh hari kerja. Saya bercerita kepada seorang wartawan
di Jakarta dan akhirnya kabar itu meluas ke mana-mana. Hariadi sempat
diinterogasi di Jakarta, ia ganti naik pitam pada wartawan bersangkutan.
Tiba-tiba ia diangkat jadi editor humaniora. Saya tidak setuju ketika
sejumlah anggota desk Humaniora mau membuat petisi menuntut pencopotan
Hariadi Saptono. Ia tidak pernah akur dengan wakil editor saya, Kennedy
Nurhan. Sekarang Desk humaniora dipimpin oleh orang yang tidak punya
pengalaman reportasi pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup,
sains yang menjadi tanggung jawab desk itu.

Ada banyak cerita tentang Kompas dan orang-orangnya. Kompas bukanlah
surga. JO bagi yang menjadi dewa di kerajaan Kompas-Gramedia, bagi saya
adalah orang biasa. Hanya dua orang yang tidak mau berebut salaman ketika
JO datang ke redaksi. Saya dan Salomo. Kami berdua hanya mendatangi JO
kalau dipanggil. Biasanya JO justru yang datang ke meja saya. Bagi saya
itu tidak ada istimewanya. JO mungkin pada awalnya orang baik yang
mempunyai cita-cita baik. Akan tetapi ia menciptakan monster yang bernama
kapitalisme media. Concern Kompas saat ini bukanlah mengibarkan bendera
jurnalisme yang baik tetapi bagaimana terus menghasilkan uang
sebanyak-banyaknya. Kesejahteraan karyawan Kompas terus merosot. Lima
tahun lagi, saya perkirakan, gaji wartawan menengah Kompas akan berada di
bawah pendapatan guru SD negeri di Jakarta.

Saya tidak lagi digaji oleh Kompas. Akan tetapi saya bisa survive meski
saya belum kembali ke dunia jurnalistik. Saya masih bisa hidup dengan
melakukan sesuatu bersama orang-orang yang ingat pada saya. Saya tetap
bisa memainkan peran dalam dunia pendidikan, sekalipun itu kecil, meskipun
tidak melalui tulisan-tulisan di Kompas. Saya berkali-kali ditawari untuk
bertemu JO. Semua rencana itu mental karena saya tidak mau berbicara
angka. Saya hanya minta bahwa JO minta maaf secara pribadi. Lisan,
pertelepon juga cukup. Lain-lainnya belakangan. Namun syarat itu rupanya
begitu berat bagi JO.

Saya berharap kasasi saya menang dan saya akan bekerja lagi di Kompas,
membangun kembali serikat buruh di Kompas-Gramedia sebelum badai datang.
Kalaupun saya dikalahkan, itu juga tidak apa-apa. Seperti Ontosoroh
bilang, kalah-menang tidak masalah yang penting melawan dengan
sebaik-baiknya.

Saya berterima kasih pada kawan-kawan. Saya akan sangat berterima kasih
apabila dalam peringatan setahun penyekapan dan pemecatan saya,
kawan-kawan bisa ikut mengantarkan saya menyerahkan surat ke Pak Jakob di
rumahnya, Jl Sriwijaya 40 Jakarta Selatan, Senin 10 Desember jam 14.00.(*)

*) Dikutip dari posting Andreas Harsono di milis pantau-komunitas, 10 Desember 2007

deres-deresé sumber

Leave a comment

Desember adalah bulan gelisah. Bulan ketika gundah tumpah. Juga ketiga asa direnda. Angka 12 senyatanya tidak ada. Media mainstream, hari-hari ini, telah menurunkan laporan tentang evaluasi tahun berjalan. Pekerjaan sepanjang Januari hingga November dikupas. Tidak ada Desember. Semua arsip diblejeti. Gudang notulensi dibongkar. Catatan kegagalan jadi ajang caci-maki. Catatan keberhasilan jadi modal tepuk puja-puji.

Peninglah pekerja yang target tahun ini belum tercapai, atau malah bakal kandas. Migren pula setengah kepala manajer penjualan yang disodori data bagaimana pertumbuhan tahun ini jeblok jongkok. Muntap darah, di seberangnya, para owner ketika perahu yang dinakhodainya terancam karam di batu karang.

Sorak-sorai, sebaliknya, menyeruak di balik partisi-partisi kantor ketika departemennya disanjung berhasil menggelontorkan pemasukan gede buat perusahaan. Jingkrak-jingkrak, sebab bonus akhir tahun niscaya bakal singgah. Belum lagi meja promosi siap diduduki.

Desember bulan yang nestapa. Ia bisa begitu cepat, bisa begitu cepat. Ada yang segera ingin melaluinya. Sebagian mengikatnya kencang-kencang agar waktu tak segera oncat. Oncat, bukan loncat.

Desember juga bulan yang menggebu-gebu. Bagi yang hendak menuntaskan prestasi di tahun ini, pergeseran hari menuju penghujung waktu pastilah akan dimanfaatkan seberdarah-darah mungkin. Untuk kelak, di tahun depan, jawaban atas “prestasi apa yang telah kau ukir di tahun lalu”, beroleh jawaban gembira disertai senyum yang membahana. Dan bukan dengan gerutu penuh sesal.

Bagi orang Jawa, padahal, Desember bulan penuh makna. Mereka memaknai desember sebagai deres-deresé sumber. Sebelum dunia dikacaukan oleh anomali iklim, setiap Desember tanah Jawa selalu basah. Hujan terus mengguyur sepanjang hari. Pekat malam juga kerap ditembus rerintikan. Tanah basah. Petani bernyanyi. Rumput bersuka cita. Kembang bersenandung.

Air Desember penuh doa. Syukur atas rejeki yang berlimpah. Benih siap ditebar.

Namun, kini, Desember tak lagi menjadi sumber. Hujan tak datang setiap hari. Sumur belum benar-benar melimpahi air. Timba masih harus menggulung sampai ujung simpul. Senja tak lagi jengkerikan.

Hanya saja, manusia tidak semestinya melipat asa. Masih ada harapan di tanah ini. Meski Januari-November tak pernah menyisakan Desember, tak berarti ia tak berarti. Justru Desember telah menyediakan diri sebagai jeda. Tidak disebut-sebut, namun ia mewarnai sebelas bulan lainnya. Tidak dihitung, namun ia menjadi pangkal pijak sekaligus garis akhir.

Selamat menikmati Desember. Semoga bulan ini melimpahi sumber yang deres untuk kita semua.

Older Entries