Tahun Baru Sudah Berbulan-bulan Lalu

Leave a comment

Doa St John de Britto

Kembang api di mana-mana. Langit gelap terpecah cahaya. Pekik terompet menyayat malam. Gempita sekali. Jalanan bersesakan. Pusat-pusat hiburan bertaburan bintang-bintang.

Semua bergembira. Detik-detik pergantian malam disepakati sebagai pergantian tahun. Pantas dirayakan sebab beda dengan malam-malam sebelumnya.

Selebrasi konsumsi pun seperti pesta suci. Banyak orang menyembah kalender baru. Litani tahun lawas masuk keranjang dosa. Ganti mereka berhala pada janji tahun baru. Demit anyar itu mereka kasih nama “resolusi”. Girang bukan kepalang mereka menemu harapan baru ini. Semoga demit itu tidak gentayangan sepanjang tahun, berujung di ujung kubur, resolusi mati tersambar petir.

Padahal, sejatinya, pesta pergantian tahun itu adalah milik para penyelenggara acara. Merekalah empunya pesta. Sudah jauh-jauh hari mereka merancang acara. Sudah jauh-jauh hari mereka tiba di tanggal 31 Desember-1 Januari. Pada penanggalan kerja mereka, sedari lama mereka sudah mencapainya. Maka, sedari itu, mereka telah mengalami tahun baru.

Para penerbit buku, contohnya. Pada buku-buku yang mereka keluarkan di bulan November-Desember, mereka sudah mencantumkan 2012 sebagai tahun terbit. Jika angka 2011 yang dicantumkan, pembaca akan berpersepsi bahwa buku yang mereka peroleh adalah buku lawas, apalagi jika pembaca mendapati buku tersebut di tahun berikutnya. Usia tahun lawas tinggal 2 bulan saja. Dengan mencantumkan tahun 2012, buku yang diterbitkan memiliki masa edar yang lebih lama. Alhasil, ia bisa memiliki waktu 14 bulan untuk tahun berikutnya, 2 bulan lebih lama dari kebanyakan bulan yang dimiliki orang-orang.

Para pencipta selalu berdiri lebih depan. Mereka membuat sesuatu yang bahkan orang kebanyakan belum membayangkannya. Sesuatu yang tidak ada mereka jadikan ada. Malam pergantian tahun yang tak beda dengan malam-malam lainnya itu mereka sulap menjadi sangat berbeda. Mereka bikin malam itu malam ratapan bagi mereka yang tak memujanya.

Para peserta pesta semalam, karenanya, pemungut saja. Mereka tinggal memetik hasilnya, menyaksikan kembang api menari-nari. Tontonan itu sudah jadi, tinggal mereka nikmati. Dan memang nikmat.

Bagi para kreator, tahun baru bisa dihadirkan kapan saja. Tahun baru bisa mereka dudukkan seturut penanggalan yang mereka rancang sendiri. Mungkin pada pertengahan tahun lalu, tahun baru ini sudah mereka masuki. Gambar pancaran kembang api sudah mereka tuangkan di layar gagasan. Tata letak panggung sudah mereka susun segagah mungkin. Para penyanyi, pembawa acara, dan sponsor telah mereka ikat saat itu. Gladi resik pun mereka gelar seawalnya.

Menilik potret itu, kita bisa membaca siapa sejatinya pemilik pesta-pesta itu. Adalah para perancang. Dalam kehidupan sehari-hari, para perancanglah yang berdiri paling depan. Karenanya, pada puncak acara, pesta itu semurninya untuk mereka. Mereka yang pantas menikmatinya.

Membandingkan itu, sungguh menggelikan ketika pada penghujung tahun masih ada yang ribut-ribut soal resolusi tahun baru. Terlambat! Mestinya resolusi diproklamasikan jauh-jauh hari seperti para perancang itu sehingga pada pergantian tahun tinggal mengerjakan. Jika tidak, resolusi baru didengungkan di malam pergantian tahun, bisa-bisa realisasinya di pertengahan tahun berikutnya. Sebab, saat mengumandangkan resolusi belum punya langkah konkret untuk melangkah. Baru girang mengucap lantang, tapi nihil aksi.

Lihat saja, mereka yang semalam histeris ingin ini-itu di tahun baru, saat ini sedang kelelahan karena begadang semalaman. Padahal, hari ini sudah tahun baru. Resolusi itu mestinya sudah dikerjakan. Menunda mengerjakan menyebabkan kesia-siaan pekikan semalam. Sementara itu, para perancang sudah berlari kencang terlebih dahulu. Bahkan, sebelum tahun lawas benar-benar berlalu, mereka telah melaju menyicil kerja tahun baru yang belum tiba. Begitu seterusnya sehingga tiap-tiap tahun menjadi tahun keberuntungan mereka. Para perancang, pencipta, inovator itu sukses karena beraksi jauh lebih cekatan sebelum orang kebanyakan bahkan memikirkannya.

Selamat bekerja.

Jogja, 1 Januari 2012

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@solusiide.com]

Guru Samino

19 Comments

Samino, Mister Yes! Yes, Berdikari! Foto: Kelik Broto

Begitu ingat bahwa hari ini Hari Guru, saya bersegera menulis. Sebagian besar guru berkesan bagi saya. Kesan kagum, tentu saja. Kagum akan kesederhanaan mereka, kagum tentang keteguhan hati mereka, kagum akan kebijaksanaan mereka. Beberapa sudah saya tulis di blog ini. Dan saya tak pernah bosan untuk menulis tentang mereka. Guru, inspirasi yang tak pernah kering.

Kali ini, saya ingin menulis tentang salah satu sosok guru yang fenomenal. Namanya Samino. Ia guru mata pelajaran Sejarah di SMA Kolese de Britto. Masih hidup, dan semoga panjang usia.

Samino guru yang bersahaja. Penampilannya tipikal guru-guru sekolah pedesaan yang kerap ditayangkan televisi Jakarta: berbaju batik, kadang safari, celana kain, dan bersepeda motor “CB” (Honda). Rambut ikalnya mulai menipis. Botaknya makin melebar. Selebar itu ia hadir di hati saya, juga di hati teman-teman yang pernah diajarnya.

“Isih melu uwong, Le?” Masih bekerja ikut orang, Le? Ini pertanyaan latah yang kerap ia lontarkan jika kami bertandang di rumahnya, 1 km sebelah barat Candi Prambanan, Kalasan. Jika jawabannya “ya”, ia akan menghardik, “Isih dadi batur yen ngono?” Masih jadi pesuruh!

Di matanya, kartu nama kami, dengan embel-embel jabatan supervisor, manajer, bahkan direktur, tidaklah membuatnya kagum. Pamer apa pun di depannya tiada berguna. “Lehmu entuk duit seka ngendi kuwi?” cecarnya jika kami pamer gaji atau kekayaan. Selagi masih diperoleh dengan cara bekerja sebagai karyawan, di matanya nilai kami masih 6.

Bagi Samino, profil murid yang ia kagumi adalah mereka yang berani mandiri. Wiraswasta!

Pernyataannya sangat memerahkan kuping. Seolah, berprestasi sebaik apa pun jika masih jadi karyawan tiada berartilah prestasi itu. Padahal, banyak perusahaan menjadi besar karena kerja keras para karyawannya; banyak pemilik perusahaan yang bisa ongkang-ongkang sepanjang hari tanpa risau soal hidupnya.

Saya pun teringat pelajaran Sejarah yang dibawakannya. Samino bukan guru biasa. Ia tak mengajar seperti guru-guru yang mengejar jam tayang. Teks pelajaran yang termaktub di panduan pengajaran seolah ia abaikan. Ia nyaris tak pernah mengajar sambil membuka buku pelajaran, apalagi bertindak bodoh menyuruh salah satu murid menyalin isi buku ke papan tulis. Samino mengajar lewat bercerita. Ia mengajar secara kritis. “Mbok dinalar, Le. Masa Indonesia merdeka gara-gara bambu runcing. Apa iya dengan bambu runcing para pejuang bisa ngogrok-ogrok helikopter hingga jatuh?” ujarnya suatu ketika saat membicarakan soal perlawanan 10 November di Surabaya.

Lalu?

“Indonesia merdeka karena diplomasi,” tegasnya tanpa bermaksud meremehkan arti perjuangan fisik. Samino hanya ingin meluruskan sejarah versi penguasa yang terlalu mengagung-agungkan perjuangan bersenjata, perjuangan tentara, sebagai faktor utama kemerdekaan republik. Ia mengajak kami berpikir secara cermat, dan bersikap secara kritis.

Sayangnya, dalam hal tertentu, cara mengajar yang demikian merepotkan kolega dan sekolah. Bagaimana tidak. Menurut cerita seorang guru yang pernah menjabat sebagai salah seorang direksi, nilai mata pelajaran Sejarah beberapa siswa kerap tidak tuntas karena materi yang disampaikannya di kelas berbeda atau tidak selesai. Lucunya lagi, sebagai guru generasi “mesin ketik”, Samino juga enggan naik kelas untuk sekadar belajar komputer. Alhasil, nilai siswa yang semestinya langsung dimasukkan ke program komputer, olehnya hanya diketik manual dan diserahkan ke bagian tata usaha. Ia enggan menyesuaikan zaman.

Toh begitu, saya punya kesan khusus akan sikap dalam memaknai bekerja. Menjadi karyawan, jika kemudian hanya membawa kita menjadi babu, budak suruhan, betapa hinalah kita. Ia melihat, potret karyawan pada umumnya demikian, nyaris tidak memiliki kemandirian sebagai pribadi.

“Berdikarilah!” pintanya menirukan ajakan Bung Karno, tokoh Republik yang ia kagumi. Semasa Orde Lama, Republik memiliki harga diri tinggi di tengah pergaulan internasional. Bung Karno berdiri gagah sebagai pemimpin bangsa yang berdaulat. Ia berpidato lantang sebagai pemimpin rakyat yang disegani. Bung Karno menolak campur tangan asing untuk keberlangsungan hidup negerinya. Bung Karno berprinsip, walau miskin namun punya harga diri. Ia yakin, walau miskin, rakyatnya mau bekerja. Tanpa pamrih, untuk republik.

Prinsip itu pulalah yang ia lekatkan pada semangat berwirausaha. Pada siswa yang mau berdikari, membuka usaha sendiri, ia menemukan pribadi yang berharga. Walau siswa itu miskin karena kemandiriannya, ia melihat kemegahan. Sebab, bukan soal status sosial yang menentukan posisi sosial seseorang, melainkan cara orang tersebut memperjuangkan hiduplah yang membuatnya disemati status sosial tertentu.

Menoleh ke kanan dan ke kiri, saya menjumpai kegelisahan pada diri teman-teman yang sama-sama pernah menimba ilmu dari sang guru ini. Pada mereka, tumbuh semangat berdikari yang kuat. Saat bekerja sebagai karyawan, semangat itu kerap berbenturan dengan sistem yang sudah berjalan. Beberapa memilih menyiasati benturan itu, beberapa yang lain memilih meninggalkannya untuk benar-benar berdikari, bikin usaha sendiri, menciptakan pekerjaan sendiri.

Rasanya menggetarkan melihat teman-teman berani mengambil keputusan seperti itu. Madeg dewe! Terima kasih Guru.

Selamat Hari Guru!

Jogja, 25 November 2011

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@solusiide.com]

Foto Samino pinjam dari sini.

Romo Nio Pulang ke Surga

Leave a comment

Romo Nio, kanak-kanak yang bercita-cita jadi imam.

In Memoriam: Antonius Devid Febriano WL (18 Februari 2008 – 27 September 2011)

 

Nio, sahabat kecil saya, berpulang 7 hari lalu. Baru semalam saya menitikkan air mata. Bukan karena semata-mata sedih yang tersamar, melainkan haru bahagia. Bagaimana tidak, perayaan semalam dihadiri oleh teman-teman sekolah minggu Nio. Mereka penuh semangat bernyanyi untuk sahabatnya. “Give Thanks,” lagu yang mereka bawakan.

Give thanks
with grateful heart
give thanks
to the holy one
give thanks
for He’s given
Jesus Christ, His Son

And now let the weak say
I am strong
let the poor say
I am rich
because of what
the Lord has done
for us

Give thanks…

 

Teman-teman mendoakan Nio

Tak urung, mereka sesenggukan. Pecah tangis itu. Rupanya, kenangan bersama Nio sudah melekat dalam ingatan mereka. Maklum, dua hari sebelum meninggal, Nio masih sekolah minggu. Sehari sebelum meninggal, mengenakan seragam baru, Nio masih sekolah. Mungkin mereka terlibat dalam permainan seru hari-hari itu. Dan, paham bahwa kebersamaan itu tak mungkin lagi mereka rangkul, jebollah air mata mereka. Seluruh umat yang hadir pun tak kuasa berpura-pura tegar. Sekonyong-konyong, dari depan sampai belakang terdengar suara hidung sedang beradu gesit mengendalikan ingus. Senyap, selain nyanyian yang terbata-bata.

 

Teman-teman sekolah mengantar Nio ke makam

Ternyata Nio begitu mengesan bagi teman-temannya. Mungkin karena Nio paling muda di antara mereka, belum 4 tahun. Mungkin karena tubuh Nio yang super gemuk. Mungkin karena omongan Nio yang cadel dan tak mudah dimengerti. Mungkin karena Nio yang lucu, yang jika capek bersekolah tidak mengamuk melainkan pamit gurunya untuk undur diri. Ia masih 3 tahun 7 bulan ketika ratusan teman satu sekolahnya berjalan kaki mengucapkan salam perpisahan di Senin siang itu, 27 September 2011.

 

Nio ingin menjadi imam, terinspirasi Om Romo Mali CSsR, sahabat keluarganya. Tempo hari, saat kami mengajaknya berjalan-jalan ke Show Room Penerbit Kanisius, ia antusias sekali mengenakan jubah+kasula ukuran anak-anak. Seperti adatnya bersama teman-teman di gereja, ia pun luwes memeragakan bagaimana memimpin ekaristi. Aku memotretnya untuk banyak adegan yang dengan suka cita ia lakonkan.

 

Lemah jantung menjadi lantaran baginya pulang ke surga sebelum ia benar-benar jadi romo. Ah, tak mengapa, toh ia sudah pernah jadi romo dalam rekaman lensa. Berangkat ke surga, ia mengenakan baju batik, baru kelar dijahit, untuk merayakan Natal nanti sejatinya. Berkudung blangkon, cah Jawa berbapak Ambon ini memahkotai diri menuju surga, menyusul Eyang Kakung Antonius Sumawardi yang telah berangkat 150 hari lalu, juga mengejar Lamafa Beding, kakak sepupunya, yang 100 hari lalu juga kembali ke alam baka.

 

Nio seperti tahu akan hari kepergiannya. Sehari sebelum wafat, ia bilang ke Mama dan Uti-nya, “Besok, Papa Ona, Mama Ni, dan Om Unto ke sini, antar Nio ke makam sewu naik Bembem trus alan-alan.” Papa Ona dan Mama Ni adalah pakde-budenya. Unto adalah saya. Bembem adalah sebutannya untuk mobil, mungkin merujuk pada suara kendaraan roda empat itu. Keluarga mengira bahwa keinginannya ke makam sewu adalah untuk tabur bunga di pusara kakek-kakaknya. Ternyata, Bembem yang mengantarnya adalah ambulans jenazah.

 

Keluarga pun tak berfirasat ketika sepuluh hari belakangan Nio gandrung banget menyanyikan refrain lagu ini:

 

Dia kubangkitkan

Dia kubangkitkan

Dia kubangkitkan… di akhir zaman…

 

Nio, ternyata kamu yang bangkit. Ke surgalah Nak. Maafkan Om Kunto atas utang janji mengantarmu ke Alun-Alun Kidul naik Bembem kayuh kerlap-kerlip. Pasti ada Bembem yang lebih meriah di arwana.

 

Yogyakarta, 3 Oktober 2011

AA Kunto A [http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Ada yang Beda, Hati Kita

2 Comments

Mbah Mulyowiyono dan Mbah Kismorejo, kakak beradik

Begitu-begitu saja. Datang, mengisi buku tamu, bersalaman dengan penerima tamu, makan, duduk, ngobrol, mendengarkan sambutan dan petatah-petitih, sungkem, lalu pulang. Sedari saya kecil, acara syawalan Trah Pawirodikromo nyaris tak pernah berubah. Formal, datar, menjenuhkan.

Kok saya tetap mau datang? Bagi saya, menjenuhkan atau tidak itu bergantung pada cara pandang dan cara menerima. Jika hati kita tidak sedang longgar, apa pun terasa hambar. Sebaliknya, jika sedang berbunga-bunga, tai kucing pun berasa coklat, begitu ungkapan ngawur yang populer itu.

Apakah saya sedang berbunga-bunga? Tidak juga. Sedang suntuk malah. Musim kemarau bukan saja telah menggersangkan pekarangan, namun juga turut menyedot sumber-sumber penghasilan. Zaman sedang susah. Saya tak kurang susah. Usaha belum berjalan seperti yang saya inginkan. Tahap merintis rupanya perlu saya lakoni jatuhnya. Bangunnya? Saya berusaha untuk mampu melakukannya.

Nyatanya, kita tak pernah sendiri di dunia ini. Baik gembira maupun susah, selalu ada orang lain yang juga gembira dan susah. Ada yang takarannya sama persis, ada yang kurang sedikit, namun banyak juga yang dosisnya lebih tinggi.

Ada saudara kita yang lebih membutuhkan

Seperti siang itu, Rabu, 31 Agustus 2011, tanggal merah kedua libur lebaran, hari pertama lebaran versi pemerintah, nubuat itu tergenapi. Ketika saya merasa susah, nyatanya ada yang lebih susah. Susah saya pun tidak lagi berguna.

“Bapak-Ibu sekalian, kami akan membagikan kotak sumbangan. Ada 2 saudara kita yang rumahnya tertimbun material erupsi Merapi. Sampai sekarang mereka belum punya rumah, masih tinggal di shelter,” Pak Santoso, paman saya, yang membawakan acara, menyampaikan pengumuman itu sesaat sebelum kami sungkem ke simbah-simbah. Aura duka merebak. Apalagi, tempat kami berhimpun tak jauh dari Sungai Gendol, salah satu sungai terparah yang dialiri lahar dingin.

Saya tidak punya uang banyak. Sudah 2 lebaran saya tidak menerima THR sejak saya memutuskan berwirausaha tahun lalu. Saya justru punya kewajiban memberi THR untuk karyawan.

Meski tak banyak, sudah berulangkali saya ikut serta dalam acara penggalangan dana untuk korban Merapi. Saya selalu ikut menyumbang. Ah, jumawa amat, batin saya. Menyumbang tak seberapa, besar kepalanya tak kira-kira. Ampun!

Saya tertegun. Faktanya, masih ada saudara yang belum punya rumah. Mereka masih berkesusahan. Tak punya rumah, tak boleh kembali ke kampung asal, kehilangan mata pencaharian, entah sampai kapan mereka wajib tinggal di barak pengungsian. Dan, mereka masih saudara saya!

Ternyata saya tak sesusah mereka. Meski masih nebeng di rumah orangtua, toh saya tinggal di rumah sendiri. Saya masih minum dari sumur sendiri, makan salah memetik di kebun sendiri, dan mengunduh sirsak dari pohon sendiri.

Meski susah karena lagi bokek, toh saya masih bisa bekerja, masih bisa menjalankan usaha, masih punya kesempatan mencari uang.

Mungkin, apa yang saya rasakan juga dirasakan saudara-saudara yang hadir pada syawalan trah siang itu. Mereka merogoh tas dan dompet lalu menyemplungkan sejumlah rupiah. Sejumlah saudara yang sejatinya juga korban pun tampak turut menyumbang.

Hasilnya tak besar, tak sebanyak nominal yang terpajang di layar MetroTV dan TV One, namun rasa kebersamaan begitu terasa. Syawalan trah kali ini beda.

Salam hangat,
AA Kunto A
[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Mudik, Cium Keringat Ibu

Leave a comment

ooo berok kecil e, jalan cepat mau cium Mama e

Aku ingin pulang padamu Lamalera

Kampung asalku di tepi samudra

O o ooooo

Biar naik berok

Dari Larantuka kota Reinha

Mama Sawu jangan marah

Bawa aku sampai selamat

Reff

ooooo

O Lefo Lamalera

Piring Matahari

O Lefo Lamalera

Anak sayang Ina Lefa

Aku rindu Mamaku

Dengan kara di atas kepala

Jalan di pagi buta ke pasar Wulandoni

O berok kecil e

Jalan cepat mau peluk mama e

O berok kecil e

Jalan cepat mau cium mama e

Ingin kulihat lagi

Lamafa ke tengah lautan

Mengambil kiriman Tuhan

koteklema yang kami tunggu-tunggu

Reff

O Lefo Lamalera

Piring Matahari

O Lefo Lamalera

Anak sayang Ina Lefa

Mengapa orang rela berjejal-jejal naik kapal?

Mengapa anak-anak dibiarkan meronta-ronta saat mengantri naik kereta?

Mengapa mereka bersuka-cita menyusur pantura, menunggang sepeda motor kreditan, berbasuh debu, bersahabat dengan lelah dan maut, setiap lebaran tiba?

Mengapa mudik? Kembali ke udik?

Apa yang mereka rindukan dari tanah udik? Tidakkah hidup mereka di rantau telah bermandikan cahaya, sementara tanah udik tanah udik miskin papa? Tidakkah tanah rantau telah memanjakan mereka menggelimangi benda-benda, sementara tanah udik masih bergelimang bebatuan?

Rupanya, ada kegalauan yang hanya bisa ditebus di tanah udik. Haus akan masa kecil yang bersahaja –huh, yang sengsara. Haus akan masa muda yang otentik –huh, yang lugu. Tanah udik, yang tertinggal di belakang peradaban itu ternyata menyimpan deposito rasa yang hanya bisa diambil saat jatuh tempo. Bau tanahnya beda dengan bau beton. Bau keringat Ibu tak terganti bau parfum.

Tanah udik, kaya sejuta rasa, kering yang melunasi dahaga. Mereka perlu pulang supaya hidup mereka di rantau kembali berkilau.

Salam udik,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Keterangan:

Ivan Nestorman, bermusik menduniakan kampung Flores

1. Lagu “Aku ingin pulang” di atas diciptakan dan dinyanyikan oleh Ivan Nestorman, musisi asal Manggarai, Flores, yang tinggal di pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur. Sedang dalam proses rekaman, dan akan disertakan dalam buku tentang Lamalera yang akan segera diterbitkan.

2. Lamalera adalah kampung (lefo) nelayan di ujung timur Flores. Perlu menyeberang laut Sawu dari Larantuka ke Reinha, menumpang perahu (berok) untuk menjangkau kampung berbendera merah-putih yang belum terjangkau listrik dan sinyal telepon selular itu. Kampung ini terkenal dengan tradisi penangkapan ikan paus (koteklema) yang dipimpin oleh seorang lamafa. Wulandoni adalah nama pasar tradisional yang masih mempertahankan pertukaran barang dengan barang (barter) dalam bertransaksi.

Gambar sampan dipinjam dari sini.

Gambar Ivan Nestorman dicuplik dari sini.

Sungkem, Caos Sembah Pangabekti

Leave a comment

kaleburna ing dinten riyadi punika

Lebaran identik dengan tradisi sungkem. Usai shalat Ied, yang muda sowan kepada yang wreda, yang murid sowan kepada yang guru. Datang membungkuk, melangkah sambil berjongkok, atur sembah lalu bersimpuh di lutut, untaian kata-kata mengalir dari bibir.

Usai itu, yang disowani ganti bicara. Kedua tangan ditumpangkan di bahu yang sowan bersimpuh. Lalu peluk-cium. Lega.

Apa isi adegan itu? Sekadar meminta maafkah? Sekadar memberi maafkah?

Dalam tradisi Jawa, dialog yang bertukaran di peristiwa sakral itu berbunyi demikian:

Kula sowan wonten ing ngarsanipun Ibu

Sepisan, caos sembah pangabekti

mugi katur ing ngarsanipun Ibu

Ongko kalih, mbok bilih wonten klenta-klentunipun

atur kula saklimah

tuwin lampah kula satindak

ingkang kula jarag lan mboten kula jarag

ingkang mboten ndadosaken sarjuning panggalih

Mugi Ibu kersa maringi gunging

samodra pangaksami

Kula suwun kaleburna ing dinten riyadi punika

Lan ingkeng putra nyuwun

berkah saha pangestu

Saya datang menghadap Ibu

Pertama, menghaturkan sembah sujud

semoga diterima Ibu

Kedua, apabila ada kekeliruan

ungkapan saya sepatah

serta tindakan saya selangkah

yang saya sengaja maupun tidak saya sengaja

Yang tidak berkenan di pikiran dan perasaan

Semoga Ibu mau memberi maaf

sedalam, laksana samudera

Saya berharap lebur di hari raya ini

Dan saya mohon doa restu

Sejurus kemudian, yang disungkemi akan membalas lembut. Biasanya sambil membungkuk-merengkuh:

Semono uga aku, wong tuwa

uga akeh klera-klerune

Kowe uga ngagungna pangapura

Ora luwih, kowe bisaa

kabul kang dadi ancas

lan dadi gegayuhanmu

Ora luwih, aku wong tuwa

mung bisa ndedonga marang Pangeran

Iya, kowe dak pangestoni

Demikian pula aku, orangtua

juga banyak kekeliruan

Kuminta kamu memaafkan

sedalam, laksana samudera

Tidak lebih, semoga kamu dapat

terkabul apa yang menjadi hasrat

dan menjadi harapanmu

Tidak lebih, aku orangtua

hanya bisa mendoakan pada Tuhan

Ya, kamu kurestui

Sebelum meminta maaf, memberi hormat. Sesudah meminta maaf, memohon berkat. Betapa indah Idul Fitri.

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Gambar sungkem dipinjam dari sini.

Pilih yang Kanan, Cari yang Sepi

2 Comments

Sedang hiruk-pikuk, jalanan oleh para pemudik. Hari ini, enam hari menjelang Idul Fitri 1432 H. Kru-kru stasiun tv sudah mencokolkan diri di titik-titik eksotik. Mereka siap menakjubkan pemandangan kemacetan sebagai tayangan unggulan. Mereka siap menghebohkan keriuhan pasar tumpah sebagai tontonan tumpah iklan.

Rasanya, hari-hari seperti ini sudah menjadi puncak. Bagi yang berpuasa, lebaran adalah perayaan akan keberhasilan mengekang hawa nafsu, sujud paling dalam kepada Allah Sang Ilahi. Bagi yang memburuh, lebaran adalah puncak pengumpulan pundi-pundi; untuk diusung sebagian ke kampung halaman. Bagi yang miskin, lebaran adalah puncak nasib kesrakat; ndomblong meratapi diri kosong melompong.

Baiklah, rayakan saja. Di jalanan, di stasiun kereta, di bandara, di pelabuhan, di pusat-pusat perbelanjaan. Silakan, rayakan. Semua boleh merayakan, berhak merayakan, merasa wajib merayakan. Ya, rayakan saja.

Supaya semua turut merayakan, cara berikut ini boleh dijajal. Saya sudah, tatkala menjadi pemudik bersepeda motor Jakarta-Jogja.

“Pilih yang Kanan, Cari yang Sepi!”

Istilah tersebut saya dapat dari Sr Irmgardis, saat kami menjelajah Timor sekian tahun lalu. Sederhana, dan membekas di hati. Saya coba di sepanjang jalur mudik.

Tatkala bensin menipis, saya tak menepi ke kiri. Saya menyeberang ke kanan. Sepi, lebih cepat terlayani. Beda dengan pompa bensin sebelah kiri, yang dijubeli kendaraan, yang untuk antri saja perlu haus.

Pun saat ingin makan. Karena saya tidak puasa, makan menjadi ritual wajib untuk menjaga daya tahan tubuh. Tidak perlu menunggu lapar. 4-5 jam perjalanan, perut layak diisi. Dan selama di jalur mudik, warung makan bertebaran di mana-mana. Ada warung lawas, ada warung musiman. Semua mereka tentu berharap dagangannya laku.

Faktanya tak selalu begitu. Tak semua warung laku. Entah karena menu yang ditawarkan di spanduk tak menarik, atau tampilan warungnya yang tak mengundang selera, atau nama warung dan menunya tak direkomendasikan di situs-situs jejaring sosial, atau tempatnya tidak strategis, atau…

Setiap pedagang, saya mengingat pesan Sr Irmgardis, pasti ingin dagangannya laku. Supaya laku, mereka pasti membuat dagangannya seenak-sebagus mungkin menurut takaran mereka. Supaya laku, mereka pasti mencari lokasi paling strategis menurut cara pandang mereka.

Bahwa faktanya tak selalu begitu karena takaran mereka beda dengan takaran orang lain. Apa yang mereka yakini enak belum tentu seenak yang dibayangkan pembeli. Jadilah pembeli melengos sesuka hati.

Maka, belajar dari Sr Irmgardis itu pula, saya mencari warung yang sepi. Kali ini tujuannya untuk meratakan rejeki. Mereka juga butuh laku. Mereka juga butuh berlebaran. Yang sudah laku biarlah laku. Yang belum laku, berilah kesempatan untuk laku.

Bahwa kemudian saya mendapati menu yang mereka hidangkan tidak enak, entah keasinan, hambar, atau minumnya teh ampas yang tak puanassss, ini persoalan lain. Kali itu saya memang tak sedang berburu makan enak. Maka, mendapati makanan yang terhidang tak enak, siaplah hati saya. Toh, sesampai di kampung, begitu berlimpah makanan enak.

Pada musim lebaran kali ini, pemandangan seperti itu kiranya tetap ada. Selalu ada warung yang tak laku, berbanding terbalik dengan bus-kereta-pesawat-kapal yang berjubel penumpang meski pengelola sudah mencekik penumpang dengan tarif tinggi. Selalu ada warung di kanan jalan, yang karena orang enggan menyeberang, enggan melirik, enggan bersusah-payah, tak mendapat cipratan THR.

Pilih yang kanan, cari yang sepi. Saya percaya, ada yang mau melakukannya. Sediakan diri menjadi penumpang becak, sesampai di stasiun tujuan. Siapa tahu, Rp 20.000 tarif yang kita sodorkan cukup untuk membeli sirup dan nastar hidangan hari raya. Isi bensin di pedagang eceran, siapa tahu receh yang kita ulungkan sebagai “bathi” jualan mereka cukup untuk menebus motor yang mereka gadaikan.

Selamat berlebaran.

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Lomba Menulis untuk Generasi HTML

Leave a comment

Menjelang lipatan malam, waktu telah mengunci kami untuk selekas mungkin menggunggung angka-angka yang telah kami pungut. Kami menjadi juri Lomba Menulis Cerita Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ). Ah, belagu benar kami ini. Tak seorang pun dari kami sastrawan. Alih-alih, kami pembaca partikelir belaka, yang tak saban pagi menengok karya pujangga.

Kami hanya sekumpulan pekerja kreatif. Pekerjaan kami berkutat di seputaran ide. Constantinus Elang seorang desainer logo. Banyak logo rancangannya memenangi kontes internasional. Demikian juga Jr Wahyu, yang selain menggumuli desain buku, juga langganan memenangi kontes desain luar negeri. Albert Deby adalah seorang yogi yang memperdalam ilmu soal nama. Ia konsultan nama, baik untuk pribadi maupun korporasi. Di lembaganya, sebuah LSM kemanusiaan, ia menjadi komunikator.

Danu Primanto lain lagi. Basis keilmuannya arsitektur. Basis keahliannya fotografi. Hobinya berjalan-jalan. Foto-foto dan tulisan-tulisan perjalanan ke berbagai daerah di tanah air terpampang di berbagai media. Lara Roselina, satu-satunya perempuan di keanggotaan dewan juri, adalah pembaca sastra yang kuat. Ia menulis buku. Juga menjadi editor dan desainer buku sekaligus.

Sedangkan saya tak jauh-jauh dari mereka. Selain menulis dan menyunting buku, saya juga pelatih penulisan buku. Juga pelatih penulisan jurnalistik, berkat pengalamannya sebagai jurnalis media cetak.

Toh, kecintaan kami pada karya tulis tak perlu diragukan. Setidaknya, keseharian kami di tengah-tengah pusaran arus karya tulis. Jika tak lewat media cetak, kami gemar berselancar di samudera maya.

“Aku pernah baca cerita ini! Hei! Bahkan aku pernah menceritakan ini!” Elang memecah keheningan. Ia mengingat, di mana cerita itu pernah dijumputnya.

Tombol ponsel segera dipencetnya. Ia bergegas ke luar kantor. Sinyal di dalam ruang penjurian seolah turut membeku. Di luar, ia terdengar bercakap-cakap dengan seseorang di seberang. Ia ingin memastikan ingatannya.

“Benar! Ini soal dalam sebuah psikotes!” wajah Elang berbinar. Tidak dengan kami. Kami tertegun, ada peserta yang hendak mengecoh. Nyaris saja naskah itu lolos ke podium pemenang.

Di seberang sambungan telpon yang lain, Albert Deby, yang tidak bisa hadir di sidang penentuan pemenang karena tersandera pekerjaan kantor, menyalakan sinyal peringatan.

“Kurasa, naskah itu terjemahan,” sungutnya. Kami pun menelisik kembali naskah yang ditunjuknya. Penulisnya seorang pelajar SMP. Bahasanya bagus, jauh lebih matang dari bahasa remaja seumurannya. Bukan remaja tak boleh dewasa, sebagaimana pula kaum dewasa banyak juga yang menjadi penulis remaja, namun sebuah ketidakwajaran mencubit kepekaan kami.

Kami, sebisa mungkin, mencermati setiap naskah dari kemungkinan penjiplakan. Sangat besar harapan kami, setiap peserta menyodorkan hasil karya mereka.

Saya memiliki banyak catatan tentang penyelenggaraan lomba ini. Banyak yang menarik, tak sedikit yang menjengkelkan. Dan beberapa di antaranya boleh saya bagikan di sini.

Para pemalas

Bagian menjengkelkan dulu. Begitu publikasi lomba kami sebarkan lewat jejaring internet, email ke redaksi di penuhi pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu. Mereka menanyakan hal-hal remeh-temeh, seperti: minimal tulisan berapa halaman, kapan batas waktu penyerahan naskah, atau …

Pemalas benar orang-orang ini. Sungguh menjengkelkan. Mereka menanyakan hal-hal yang sudah jelas terpapar di pengumuman yang kami sebar. Saya bersungut-sungut, inikah wajah “generasi gadget” yang serba cepat, terburu-buru, dan tidak cermat? Jika iya, betapa memprihatinkan. Malu bertanya sesat di jalan. Asal bertanya, memalukan!

Belum lagi, pertanyaan-pertanyaan tidak kreatif seperti ini: bagaimana kalau tidak punya kartu pelajar, bagaimana cara mengirimkan foto lewat email, atau boleh-tidaknya mengirimkan tulisan yang sudah dipublikasikan di blog/FB. Ini pulakah wajah “generasi html” yang serba mudah, lalu kehilangan daya kreativitas?

Manuk Pulang Kandang 2010: Ruwatan Manuk Sukert

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]


Untuk alumni (lulus/drop out), siswa (termasuk veteran), guru & karyawan dan pensiunan, beserta keluarga

Senin Wage, 27 Desember 2010 [21 Suro 1944 BE]

08.30 – 13.00 wib, diawali ekaristi secara Katolik dan ruwatan secara Kejawen

di kandang kita, SMA Kolese de Britto, Ngayogyakarta Hadiningrat

Bakal menyesal hingga liang kubur manuk yang tidak hadir di Manuk Pulang Kandang 2010 kali ini. Beda, nyamleng dan ngampleng!

Suasana itu akan terasa dalam format acara. Jika MPK sebelumnya kental dengan guyon-maton-parikeno, MPK kali ini parikeno-maton-guyon.

MPK 2010 dikemas sebagai “ruwatan kadang manuk”. Nuansa kejawen akan muncul lewat ruwatan yang disajikan Mas Walji, manuk 1967. Fragmen reflektif bakal dinarasikan oleh Landung Simatupang. Palaran akan dipersempahkan oleh Mantri Diduk dan Windu Aji, bersama rombongan pengrawit yang mereka usung. Perayaan ekaristi, sebagai pembuka, akan dipimpin oleh Martasudjita Pr dan Alip Pr, kedua pastor juga manuk, serta Ageng Marwata SJ, pemimpin yayasan manuk. Haji Datuk Sweida, presiden manuk nasional, juga pasti datang.

Di luar itu, setiap dasawarsa angkatan akan membawakan sajian khas mereka. Sudah dituding siapa saja yang bakal tampil ke panggung. Tak boleh selaklah mereka. Manuk lain yang belum dituding hidungnya tetap boleh tampil, tentu jika waktu memungkinkan dan panglima acara mengizinkan. Toh kalau pun panglima acara tidak mengizinkan ya labrak saja hehe…

Manuk Pulang Kandang

Untuk menyegarkan ingatan, baiklah kita menengok ke belakang, merunut kisah lahirnya reuni tahunan di setiap penghujung tahun ini. Saya menyodorkan pertanyaan lewat surat elektronik kepada Tonny Pongoh, manuk 1985 yang terlibat dalam konspirasi kelahiran MPK ini. Berikut tuturannya:

MPK tercetus sekitar bulan Agustus 2001 di Anyer – Banten. Pada waktu itu Milis De Britto mengadakan acara mancing bersama di Pantai Anyer, Banten, yang diikuti oleh sekitar 40 orang. Peserta saat itu adalah member milis yg berasal dari berbagai kota, antara lain kontingen Jakarta: Bardhono, Koernianto, Gumulya, Gandung Bondowoso, Edo, Nando, Ase, dll… ; kontingen Jogja: Valens Riyadi, Aditya Wardhana, Ary Cino, dan saya sendiri. Dari Jambi juga ikut serta Suherman Djohan. Ketua panitia adalah Johanes Budhiatmono.

Malam hari setelah acara mancing selesai, para manuk berkumpul di teras ngobrol-ngobrol sambil makan. Lewat tengah malam obrolan antara Gandung Bondowoso/73, Bardhono/71, Gumulya/73, Koernianto/68, Johanes Budhiatmono/72 dan saya, … memunculkan sebuah ide untuk
membuat acara bagi para alumni debritto (waktu itu yang tergabung pada milis DB) yang mudik  dan akan menikmati liburan di Yogya.

Acara kemudian didesain hanya untuk kearaban (bukan membicarakan hal-hal yg serius) sehingga tidak menyisihkan acara Reuni Akbar. Akhirnya disepakati membuat acara pada minggu antara Hari Natal dan
Tahun Baru. Acara kumpul-kumpul tersebut diberi nama Manuk Pulang Kandang. Saya ditunjuk untuk menjadi ketua panitia.

MPK I dilaksanakan pada akhir Desember. Saya dalam kepanitiaan dibantu oleh Valens Riyadi, Aditya Wardhana, Buntoro Gunawan, Aryanto Purnomo, Iwan, Riza, dll.

Kami pertama-tama ‘kulonuwun’ dulu pada pihak sekolah. Pada kesempatan itu Kepsek Pak Mardjo dan Romo Susilo—ketua Yayasan De Britto—mendukung kami semua. Almarhum Pak Kris—wakil kepala sekolah—juga menyambut baik serta menggarisbawahi bahwa nama ‘manuk” memang tepat. Karena setinggi-tingginya manuk terbang pasti akan kembali ke sarangnya. Kami juga sempat menghubungi Mas Joko Pesek/73 dan Johny Sunu/65 sehubungan dengan keperluan koordinasi. Gayung bersambut.

Format acara MPK I cukup sederhana. Acara pembukaan dihadiri oleh alumni, guru-guru dan mantan guru, lalu pertandingan sepakbola dan tarik tambang, ditutup dahar kembul dan dialog ramah tamah.

MPK I ini memiliki kesan mendalam karena kami atas bantuan pak Johny Sunu berhasil menghadirkan (alm) Bapak C. Kasiyo, mantan kepsek yang telah lama dirindukan oleh alumni. Kehadiran Pak C Kasiyo waktu itu adalah yang pertama sejak belasan tahun terakhir, dan juga yang terakhir kalinya karena pada tahun depan beliau telah wafat.

Konsumsi pada waktu itu diupayakan dengan menghadirkan Es Bob, Bakso Man, Nasi mBok Bon, dan beberepa makanan yang dibawa oleh para alumni sendiri. MPK pertama dihadiri sekitar 150 orang dari berbagai angkatan (sebagian besar adalah anggota Milis DB). Dimeriahkan pula oleh keyboard tunggal Mas Anwar Santosa/68. Biaya pada waktu itu ditutup dengan cara ‘bantingan’. Sisa bantingan diserahkan untuk sumbangan bagi yang memerlukan.

Acara MPK I cukup berkesan sehingga disepakati akan diadakan setiap tahun. Saya sendiri menjadi ketua panitia empat tahun berturut, mulai dari MPK I hingga IV.

Nama Manuk Pulang Kandung dipilih dengan latar belakang ‘kerinduan’ dan ikatan batin para alumni yang telah bekerja di luar Yogya. Mereka rindu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya sesama manuk. Juga ikatan batin yang kuat akan kampus De Britto telah menjadikan tempat itu sebagai ‘rumah kedua’ bagi para manuk.

Manuk hidup dan tinggal berkelompok. Namun pada saat terbang mereka berpencar dan ke sana-kemari mencari makan sendiri. Di tempat mereka mencari makan, manuk juga tetap menjaga persaudaraan dengan sesama manuk yang ditemuinya. Maka adalah kebahagiaan ketika para manuk dapat pulang dengan gembira ke ‘kandang’ di mana mereka berasal.

Sekolah dipilih menjadi tempat karena alumni tidak boleh melupakan ‘sangkan paraning dumadi’. Apa pun jadinya sekarang, alumni berasal dari tempat yang sama, belajar dan bermain di tanah yang sama, minum dan mandi di air yang sama. Sehingga siapa pun alumni, dia tetap hasil dari Kampus 161—alamat sekolah di Jl Adisucipto 161.

Hal ini juga digunakan oleh para alumni untuk menunjukkan kepada masyarakat dan keluarga bahwa mereka juga bukan siapa-siapa dan apa-apa, namun mereka adalah manusia yang pernah diberi kesempatan belajar di Kampus de Britto. Sejauh-jauhnya alumni De Britto berada, mereka tetap akan teringat dan pulang ke Kandangnya. Manuk-manuk ini juga tak pernah berhenti untuk saling berkabar (walau dulu belum ada twitter—kabar disuarakan melalui milis DB waktu itu). Sifat egaliter dan menembus angkatan sangat tampak. Lebih unik lagi bahasa yang dipakai para manuk biasanya hanya bisa dipahami oleh manuk-manuk itu sendiri (mulai dari yg saru sampai yg serius).

Secara umum, filosofi manuk ini seperti apa yang tertulis dalam “Mars De Britto” ciptaan L Moerabi SJ ini:

Akulah putra SMA De Britto

Gagahlah cita-citaku

Murni sejati jiwaku

Jujur semangat hatiku

Itulah rencana hidupku

Itulah tujuan niatku

Agar dapat menuang tenagaku

bagi Tuhan dan bangsaku

Ayolah putra SMA De Britto

Kuatkanlah hubunganmu

Selalu tetap bersatu

Dengan semua kawanmu

Meskipun terpencar hidupmu

Di kelak kemudian waktu

Ingat selalu di dalam hatimu

Ialah De Britto contohmu

Keunikan De Britto adalah “adanya energi perekat” yang mengikat para alumninya menembus batas angkatan. Energi perekat ini timbul sebagai akibat dari efek “pembebasan’ yang ditanamkan oleh De Britto. Belenggu sekat yang membuat tertutup seolah-olah dibuka oleh De Britto, sehingga alumni merasakan baru ‘menjadi manusia” setelah sekolah di De Britto. Perasaan senasib dan gembira mensyukuri ‘pembebasan’ inilah yang membuat ikatan persaudaraan De Brittto mampu menembus batas angkatan dan wilayah.

Acara MPK II – IV berjalan sebagaimana MPK I. Namun pelan-pelan namun pasti alumni yang hadir semakin lama semakin membengkak. Acara yang informal akhirnya juga berkembang menjadi semi formal (bahkan seperti agenda resmi tahunan). Maka sejak MPK V, format berubah menjadi lebih
besar, terbuka, dan terkesan lebih formal.

Esensi MPK pada awal digagas adalah sebagai sarana untuk lebih memperkokoh ikatan persaudaraan sambil mengingatkan akan ‘sangkan paraning dumadi’. Jadi perubahan bentuk dan susunan acara hendaknya tetap mempertahankan visi awal MPK. Hal-hal yang lebih serius dan formal bisa dibahas pada reuni akbar. MPK lebih bersifat informal dan egaliter (seperti Malam Ekspresi) dalam mewadahi para manuk (khususnya dari luar Yogya) yang pulang kampung dan manuk lainnya yang kangen
Kampus 161. Dari suasana informal MPK, biasanya akan muncul gagasan-gagasan besar yang bisa dibahas secara lebih formal di forum-forum tersendiri dan reuni akbar.

Demikian penuturan tertulis TP/85. AB/71, manuk yang akrab dipanggil Lik Bardhono, menambahkan di surat elektronik juga: MPK ini memang asli acara dari anggota, bukan pengurus. Acara informal, yang didesain oleh teman-teman gang Gembiraloka (sebutan utk kelompok DBNet Jogja), untuk saudara-saudaranya terutama yang di luar Jogja. Target pasar utama ketika itu adalah alumni Jabotabek, yang selain karena paguyubannya sudah matang, juga kerinduannya berkumpul di kandang sangat besar. Peran pengurus Jabotabek ketika itu tidak banyak, sekadar sosialisasi dan dana talangan yang dikembalikan kemudian. Namun acara MPK ini menjadi agenda rutin selain Hari De Britto (4 Februari) dan ultah Alumni (19 Agustus).

Aryanto Purnomo, manuk 91 ber-call sign Ary Cino, menimpali lewat panggilan udara. “MPK tahun ini yang benar MPK ke-9. TP salah mengingat. MPK pertama tahun 2002 setelah DBF (De Britto Fishing Club) pulang memancing di Anyer,” koreksinya. Jadilah dalam cerita ini saya lebih memilih menyebut “MPK 2010”.

Kadang Manuk di Kandang Manuk

De Britto ibarat rumah. Di dalam rumah tinggal anak-anak dengan beragam karakter. Bisa jadi karakter satu dengan yang lain bertolak-belakang; tidak sekadar beda. Dan semua berhak tinggal di rumah yang sama. Pun ketika kelak anak-anak itu pergi, setiap anak berhak pulang ke rumah itu. Orang tua wajib menerima mereka kembali.

Landung Simatupang melontarkan pengertian ini tatkala panitia mengundangnya berbincang di Joglo Jaran pada sebuah malam. Panitia mendapuk Landung, sastrawan yang juga aktor panggung dan film ini untuk menyilih sesi kotbah misa dengan sebuah fragmen. Malam itu Landung hendak mencari kata kunci untuk fragmennya dari para manuk yang hadir seperti J Budisantoso, Andon, Genthong, Aris Lemu—mantan tokoh teater kawakan yang meski store namun tidak tersandera hidupnya, dan tuan rumah Bambang Paningron.

Pertemuan-pertemuan sebelumnya telah digelar secara berturut-turut di Kantin De Britto, Wisma Gajah, hingga Dapur Ibu—semua milik manuk. Banyak manuk berbagai angkatan terlibat dalam kepanitiaan kali ini, yakni Yatmo/65, Rianto/72, Joko Pesek/73, Nowo/65, Bowo/66, Naryo/67, Hardjana/72, Omyang/87, Kothak/88, Elang/99, Wahyu/98, dan masih banyak manuk lainnya.

Paningron, pada malam di Joglo Jaran, mencoba menalikan simpul atas diskusi panjang soal tema MPK kali ini. “De Britto itu beragam. Input-nya beragam, output-nya pun beragam,” tandasnya.

Dalam diskusi yang berkembang, profil alumni De Britto jadi incaran perdebatan. Mulanya di milis alumni. Ada seorang anggota milis melemparkan kemarahan ke forum. Ia terusik oleh berita media massa yang menyoroti ulah wakil rakyat. Dalam berita-berita itu disorot soal kebijakan lembaga perwakilan rakyat yang tidak peka terhadap kondisi masyarakat. Di tengah kemiskinan dan kesulitan hidup yang menghimpit sebagian besar rakyat, DPR justru menyodorkan proyek pembangunan gedung baru untuk kantor mereka.

Salah satu alumni De Britto ada di dalam proyek itu. “Kok sampai ada alumni punya pikiran semacam ini!” hardik manuk yang marah-marah di milis tersebut.

Polemik dimulai. Ada yang sepaham dengan kerisauan sang whistle blower ini, ada yang bisa memaklumi meski tidak sesuara, dan ada yang berkacak pinggang menentang.

Hulu pertikaian itu adalah nilai-nilai dasar yang ditanamkan De Britto. Beberapa nilai yang paling populer dikibarkan sebagai kebanggaan adalah semangat to be a man for others, preferential option for the poor, dan tidak malu-tidak takut-tidak malas. Asumsinya, setiap alumni memahami jargon-jargon gagah perkasa tersebut.

Pertikaian tidak berdarah yang kerap berujung menjadi perdebatan berdarah-darah ini mengedepan ketika pembicaraan sampai kepada implementasi atas nilai-nilai tersebut. Muncul pertanyaan, apakah para manuk masih ngugemi nilai-nilai ideal tersebut dalam kehidupan sesudah 3-4-5 tahun bersekolah di De Britto? Ataukah nilai-nilai itu mulai tergerus oleh pertimbangan-pertimbangan pragmatis berkedok “mengejar karir”, “demi sesuap nasi”, atau sebangsa “empan papan” –yen empan/landep ora entuk papan.

Apakah, sebagai dokter, alumni De Britto mengutamakan kepentingan kemanusiaan di atas kalkulasi komersial? Apakah, sebagai seniman, alumni De Britto mewartakan kecerdasan-kekritisan rakyat di atas titipan kepentingan penguasa? Apakah, sebagai petani, alumni De Britto merayakan pelestarian alam di atas kebutuhan panen berlimpah? Apakah, sebagai saudagar, alumni De Britto menyediakan ruang kesejahteraan di atas keuntungan material? Apakah, sebagai pastor-pendeta-ustad, alumni De Britto meletakkan landasan kerukunan umat di atas keunggulan diri-kelompok? Apakah, sebagai politisi-pejabat, alumni De Britto amanah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak untuk menyudutkan kita kepada jawaban diametral ya dan tidak. Ya atau tidak sama-sama membutuhkan narasi. Siapa tahu fakta “ya” tersebut hanya dijalani sebatas ikut-ikutan karena kebetulan lingkungan mendukung; sebaliknya, siapa tahu fakta “tidak” ternyata dilandasi keberanian dalam bersikap.

Ada juga manuk yang berpendapat, 3-4-5 tahun di De Britto tak serta merta mampu membentuk seseorang sebagai pribadi yang “jadi”. Masa sekolah di De Britto hanyalah sepenggal scene dari sebuah film kehidupan manuk. Banyak adegan pada scenes tersebut, baik sebelum maupun sesudah di De Britto. Bisa jadi, klimaks cerita justru pada adegan-adegan selepas dari De Britto. Saat kuliah. Saat bekerja. Saat terbang mencari makan. Oleh karena itu, para manuk yang mendukung pendapat ini menyarankan agar kita jangan terlalu berharap setiap manuk yang terbang ngugemi nilai-nilai di susuh yang sudah ditinggalkan.

Jika begitu, profil alumni seperti apa yang boleh bisa kita rujuk?

Manuk Nggetih

Romo Koelman, SJ, pamong De Britto di tahun 1970-an, pernah menegaskan, “Yen dadi wong apik, ya sing apik sisan. Yen dadi bajingan, ya bajingan sisan.” Demikian kesaksian manuk-manuk yang pernah mengalami tamparan londo gendeng tersebut.

Maka, atas pertanyaan-pertanyaan di depan, penegasan Koelman tersebut patut dihadirkan kembali. Seberapa nggetih manuk pada jalan hidupnya masing-masing? Ataukah menjadi orang baik, ataukah menjadi orang jahat? Jika hanya setengah-setengah perlulah diteliti kedebrittoannya. Manuk De Britto tidak anyang-anyangen –tak jadi kencing, malah air seninya membatu.

Pada diskusi-diskusi manuk, baik di tengah kehangatan rapat maupun di obrolan-obrolan pinggir ratan, profil alumni yang anyang-anyangen inilah yang patut diruwat. Anyang-anyangen adalah sikap kotor di De Britto. Tidak punya sikap tegas, ela-elu, tidak berani menanggung risiko. Maka, alumni yang mengidap sikap mental seperti ini layak menjadi sukerta. Manuk seperti ini layak diuntal Batara Kala.

Supaya bebas dari belenggu mental tahi ayam itu, manuk perlu diruwat. Ruwat berarti pembersihan, pembebasan. Dalam kidung Sudamala digambarkan kemujaraban ruwatan ketika Sadewa meruwat Batari Durga dan dua raksasa bernama Kalantaka serta Kalanjana. Setelah diruwat, ketiganya kembali berubah menjadi wujud aslinya. Batari Durga menjadi bidadari Uma, Kalantaka menjadi Citragada dan Kalanjana menjadi Citrasena.

Memang, oleh sebagian kalangan, kisah tersebut dianggap gugon-tuhon belaka. Meski begitu, karena mengandung ajakan, petunjuk, dan pantangan hidup, pesan-pesan kisah tersebut diterima sebagai kebaikan. Nah, siapa tahu baik pula bagi kadang manuk, yang setelah sukerta dilepaskan, akan kembali menjadi manuk De Britto sejati, yang nggetih.

Maka, di penghujung udarasa ini, perkenankan saya mengajak kadang manuk semua untuk pulang kandang. Siapa pun sampeyan, pulanglah. De Britto, kandang kita, adalah rumah kita bersama. Boleh kita berbeda, sama bolehnya kita merasakan kembali hangatnya rumah kita. Kita boleh berbeda, kita menghormati perbedaan itu, sama bolehnya kita duduk bersama, melingkar bersama, bersulang bersama meneguk air keheningan yang pernah sama-sama minum.

Mari bersama-sama maneges, manembah, lan nenuwun marang kang murbeng urip, supaya kita kembali menjadi manuk yang tinggi mengangkasa, pesat melesat, dan tahu ke mana arah kepak sayap.

Yogyakarta,

AA Kunto A

Manuk yang lepas kandang 1996

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

MPK 2010: RUWATAN MANUK SUKERTA

Jogja Last Friday Ride #7

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

penggowes, bahagia tinggal di Jogja

“Ayo mulih Jogja; pulang Jogja, pulihkan Jogja!”

Hujan membatalkan niatnya. Sore hanya berselimut mendung. Sebentar lagi berbalut malam.

Jogja masih berkabung. Letusan Merapi di akhir Oktober dan awal November lalu masih memaksa banyak saudara asal lereng Merapi untuk tinggal di pengungsian. Mereka belum mengantongi izin pulang.

Namun, Jogja tak pernah mau murung. Selalu ada kegembiraan di kota ini. Gembira, bukan hura-hura. Seperti Jumat, 26 November, sore kemarin. Ratusan pesepeda memadati halaman timur Stadion Kridosono, Kotabaru. Kami berhimpun dalam “Jogja Last Friday Ride #7”. Ya, setiap Jumat terakhir kami selalu merayakan Jogja dengan bersepeda keliling Jogja. Hmmm, terima kasih kepada teman-teman pencetus gagasan brilian ini. Tak terasa, sore kemarin sudah putaran ke tujuh ya.

Siapa pun boleh ikut JLFR. Tidak perlu mendaftar, datang saja langsung dan nimbrung. Yang penting naik sepeda, apa pun jenis sepedanya, berapa pun harga sepedanya. Pinjam juga boleh, tidak tabu. Bonceng juga boleh asal ada yang mau. Khusus dari rumah boleh, langsung dari kampus atau kantor juga boleh. Ah, adanya cuma boleh kok.

Rute kali ini ke selatan, melintasi rel Stasiun Lempuyangan. Tampak di dalam stasiun, rangkaian “Argo Progo” –sebutan jenaka untuk kereta kelas ekonomi tujuan Pasar Senen Jakarta itu, siap berangkat. Kami melintasi Pasar Lempuyangan, sebuah pasar tradisional terbersih di Jogja, dan terus melaju ke selatan ke arah Jl Gadjah Mada.

Di depan rumah Garin Nugroho, yang hanya ramai tatkala dipakai untuk sekretariat JAF –festival film, saya bergumam, mbok ya sutradara Opera Jawa itu bikin film tentang Sepeda Jawa. Atau malah temen-temen penggowes sendiri yang mau bikin?

Sedikit ke selatan, kami berhenti di lampu merah Permata. Di samping kiri kami berdiri “peti mati raksasa” Bioskop Permata. Sudah beberapa bulan bioskop itu mati tanpa ada yang melayat –hanya menguburnya dalam ingatan. Film-film lokal dan saru tak bisa lagi ditonton di sana. Ya sudah, toh masih ada Gudeg Permata, yang masih buka beratap tenda di emperan bioskop. Semoga Nugie atau Katon Bagaskara yang gemar makan di sana mau pula bikin lagu “sub-tema” Yogyakarta untuk mengenang permata Jogja yang telah kalah pamor dari jaringan bioskop milik pemodal besar.  Semoga pula Gudeg Permata tak kukut digempur restoran cepat saji yang makin menjamur di kota kuliner ini.

Berbelok ke barat, kami melompati Jembatan Sayidan yang membentang di atas Kali Code. Melongok ke bawah, saya mendapati rejeki Merapi telah sampai di sana. Pasir, lahar dingin. Kali penuh, semoga tidak membludak menggenangi rumah warga.

Sampai di perempatan Gondomanan, yang petugas lalu lintasnya dikenal sangat doyan mengganyang pelanggar rambu-rambu, kami berbelok ke selatan, menyusuri Jalan Katamso. Ada beberapa toko sepeda di ruas jalan tersebut. Ada satu tukang cukur tradisional di persimpangan Ibu Ruswo. Ada juga Bakmi Jowo Pak Rebo –kakak Mbah Mo– yang hanya menyediakan mi kuning. Toko peti juga berderet; boleh pilih kalau sudah bosan hidup.

Sesampai di Pojok Beteng Wetan, kami terus mengawil sepeda ke barat, menuju Pojok Beten Kulon, lalu ke utara mampir di Stasiun Ngabean –yang sudah modar karena penguasa negeri ini lebih mengutamakan industrialisasi kendaraan pribadi daripada merawat jalur angkutan massal seperti kereta api atau trem, yang sekarang berubah menjadi tempat parkir bis wisata –yang juga tidak laku karena bis wisata lebih suka parkir di alun-alun utara.

Berbelok ke timur menyusuri Jl KHA Dahlan –tokoh yang 100 tahun lalu mendirikan Muhammadiyah, kami mengakhiri penggowesan di Titik Nol Jogja. (Karena terpecah lampu merah, sebagian peserta berbelok ke Jalan Bayangkara, melewati Pasar Kembang, dan menuju Titik Nol Kilometer dari arah Malioboro –dan ini rute yang benar.) Titik ini berada di depan Istana Negara Gedung Agung, tempat SBY berbasa-basi berkantor di Jogja kala Merapi meletus tempo hari –dan buru-buru kembali ke Jakarta menjamu Barack Obama. Titik ini berada di depan Kantor Pos Besar –yang kehilangan kebesarannya karena mati kutu dilibas teknologi internet dan industri kargo modern. Titik ini berada di depan Monumen SO 1 Maret, yang masih dipersengketakan siapa penggagas sejatinya.

Titik Nol Jogja ini penting untuk diketahui. Jalan-jalan di Jogja, termasuk Barak Pengungsian Hargobinangun Pakem yang terletak di Jalan Kaliurang Km 20, memulai perhitungannya dari sini. Bukan dari Tugu Jogja; juga beda dengan jarak “20 km dari puncak Merapi”. Banyak yang salah mengerti, termasuk reporter sebuah stasiun televisi yang secara pandir menyebut awan panas telah meluncur hingga 20 km –yang mengakibatkan kepanikan berjamaah warga lereng Merapi. Kesalahan yang berbuah cercaan.

JLFR #7 dipungkasi dengan atraksi dari teman-teman. Bebas. Ada yang tampil berjumpalitan dengan bersepeda, ada yang melompati sepeda tidur dengan menaiki sepeda, ada yang unjuk kebolehan berlama-lama mengendalikan sepeda berhenti.

Seorang teman penyuka rute-rute tanjakan berujar, meski tak membuat bekeringat, ajang seperti ini penting untuk “srawung”, bergaul. Sepakat, sesama penggowes sepeda, meski beda minat, perlu saling menyapa, saling mendukung.

Dan memang guyub suasananya. Sederhana, meriah.

Anda pengen bersepeda? Mari datang ke Jogja. Jogja aman dan nyaman dikunjungi. Jogja asyik buat sepedaan. Jogja asyik untuk tinggal dan bekerja.

Datanglah ke Jogja. Gek ndang…

Jogja, 27 November 2010,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Older Entries