Mencintai dan Menggunakan Bahasa Indonesia

Leave a comment

Sebagai bangsa, kita sudah sepakat memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Sejak dicetuskan pada 2 Mei 1926 dalam Kongres Pemuda I, dan kemudian “disumpahkan” pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia kemudian jatuh-bangun menjadi bahasa komunikasi di seantero nusantara. Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, juga bahasa pergaulan sehari-hari. Di Jakarta orang berbahasa Indonesia, di Ternate pejabat berpidato dengan bahasa Indonesia. Tua-muda pun berbahasa Indonesia.

Oleh negara, bahasa Indonesia ini kemudian dikawal sedemikian rupa supaya semakin merata dan memenuhi kaidah berbahasa. Ada proses pembakuan yang sistematis digulirkan. Hasilnya berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Tesaurus Bahasa Indonesia, dan rujukan-rujukan berbahasa Indonesia lainnya, baik keluaran instansi pemerintah seperti Pusat Bahasa, maupun besutan linguis partikelir.

Sampai kini pun belum sempurna benar. Masih banyak cacat bahasa di sana-sini yang tak kunjung dilinguisterapi (linguisterapi: terapi berbahasa). Ambil contoh soal ‘k-p-t-s’ yang luruh-tidaknya saat bersetubuh dengan awalan ‘me-‘ masih riuh bergemuruh. Ada yang bilang seluruhnya luruh, ada yang sahut khusus serapan dari bahasa asing saja yang luruh.

Ups, padahal hanya sekira 20% bahasa Indonesia yang digunakan sekarang benar-benar asli.

Ups lagi, padahal mana ada bahasa asli Indonesia? Indonesia saja tercipta belum lama, ya seumur deklarasi pemuda itu, kok mau mengklaim bahasa asli-serapan. Seperti bahasa Ibrani, bahasa Indonesia adalah bahasa yang sebelumnya belum ada ketika kemudian dipakai sebagai bahasa resmi sebuah negara.

Lalu mau menyebut bahasa serapan? Banyak serapan yang belum ajur-ajer benar. Picingkan mata ke kata-kata ini: standar-standardisasi; objek-subjek-proyek. Ck ck ck, inkonsistensi itu masih jadi sariawan di lidah kita.

Meninggalkan Bahasa Indonesia?


Tentu saja tidak. Jangan biarkan bahasa ini mati muda. Biarlah penggunanya yang mati muda, memudar, sedangkan bahasanya memuda.

Semangat inilah yang disiangi oleh Forum Bahasa Media Massa (FBMM), yakni semangat untuk semakin mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa tutur dan tulis. Mencintai di mulut, mencintai di tangan. Berbicara dalam bahasa Indonesia, beraksara dalam bahasa Indonesia pula.

Zainal Arifin menegaskan semangat ini dalam kunjungan FBMM Daerah Istimewa Yogyakarta di kantor Penerbit Galangpress Group, siang ini. Menurut ketua forum yang sehari-hari bekerja di TVRI ini, peran FBMM adalah mengkampanyekan gerakan mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia. Beranggotakan jurnalis, editor, dan pekerja media yang bergelut di ranah bahasa, FBMM hendak menjadi wadah pengembangan bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa lokal, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

“Dan FBMM tidak berpretensi menjadi polisi bahasa,” sergah P Ari Subagyo, ketua bidang penelitian dan pengembangan pada kepengurusan periode 2009-2012 ini. Lanjut Ari yang bekerja sebagai linguis di Universitas Sanata Dharma ini, meski di FBMM ada anggota yang menghendaki forum ini berperan sebagai polisi bahasa, namun fungsi kreasi berbahasa juga sebaiknya mendapatkan tempat. “Kajian bahasa bukan bersifat normatif, namun agar bahasa berkembang,” tandasnya.

Dengan pandangan seperti itu, bahasa Indonesia yang oleh beberapa kalangan diperjuangkan betul kebakuannya tidak akan membeku. Sebab, kebakuan berbahasa lewat bahasa tulis berpotensi menjauhkan kita dari orisinalitas berpikir kreatif. Dan ujungnya, bahasa Indonesia akan menjadi momok bagi penggunanya sendiri. Kalau ini terjadi, kekhawatiran Ari bisa semakin menyata, yakni terus merosotnya tradisi berpikir di masyarakat akibat rendahnya minat baca dan menulis.

Maka, peran FBMM yang juga mewadahi praktisi-praktisi usil, yakni praktisi yang selalu gatal mengeksplorasi dan mencoba-coba bahasa, bukan hanya memunculkan bahasa baru, melainkan memperkayanya. Banyak misteri bahasa, karenanya, yang bisa dibongkar forum.

Bertemu Penerbit Galangpress Group, irisan sinergi pun terbentuk. Sebagai praktisi bahasa, yang kerap bereksperimen dengan kekuatan frasa seperti “membongkar”, “menodong”, “kupas tuntas”, “cara pintar”, “kedahsyatan”, dll, Galangpress membutuhkan teman berdiskusi yang mencerahkan. Frasa-frasa itu sudah teruji “laku” dibeli masyarakat pembaca. Dengan bergandeng tangan, Galangpress dan praktisi bahasa lain bisa membidani lahirnya kata-frasa-idiom baru yang selama ini belum ada atau tertimbun lemak kemalasan bercas-cis-cus.

Dalam jangka panjang, sinergi berupa workshop, seminar, dan ajang pelatihan lain, juga bakal menggairahkan dunia kepenulisan yang kini miskin penulis. “Jangan sampai kita impor penulis,” tukas Julius Felicianus, Direktur Galangpress saat menyambut FBMM. Julius tidak mengada-ada melontarkan ancaman ini. Ia menyodorkan fakta, jumlah judul buku di Indonesia baru di kisaran 20.000 judul per tahun. Jika satu orang penulis produktif mengerami lebih dari 1 judul buku, dan sebagian buku lainnya adalah karya penulis luar yang diterjemahkan, maka jumlah penulis kita tidak sampai 5 (lima) persen dari total penduduk Indonesia. “Padahal,” Julius memunculkan fakta lain, “50% buku yang kami terbitkan ditulis oleh tim redaksi.” Wow, potret buruk!

Jogja, 26 Januari 2010
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

::: Selamat kepada Penerbit Kanisius yang hari ini berulang tahun ke-88 :::
Advertisements

Menyalakan Api Menulis

1 Comment

”]
Api kita sudah menyala
Api kita sudah menyala
api api api api api
Api kita sudah menyala

“Mars Api Unggun”, sebut saja begitu, ini menjadi awal dari Workshop Penulisan Buku Populer yang diselenggarakan Kaca-KR dan Penerbit Galangpress di MAN Yogyakarta III, Minggu, 24 Januari kemarin. Lebih dari seratus peserta yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka berdiri, lantang bernyanyi.

Sebagai moderator sesi pertama, “Siapa Saja Bisa Jadi Penulis”, saya menangkap gairah begitu luar biasa dari peserta. Simak saja fakta-fakta berikut ini.

Satu, Sejak 2 hari sebelum acara, sekretariat panitia sudah menutup pendaftaran karena jumlah peserta melebihi target. Pada hari pelaksanaan, tak sedikit yang datang untuk mendaftar langsung, dan ditolak karena ruang yang dipakai memang terbatas. Dua, ada sepasang suami-istri yang datang dari Kebumen, kota kabupaten yang berjarak sekitar 80 km di sebelah barat Jogja. Mereka berboncengan sepeda motor. Tiga, beberapa peserta adalah ibu atau bapak dengan anaknya. Mereka sama-sama ingin menjadi penulis. Empat, ada satu anak SD dan beberapa siswa SMP yang bergabung. Nekad, padahal di poster dan pemberitaan di Kedaulatan Rakyat, jelas-jelas terpampang bahwa workshop ini ditujukan untuk siswa SMA, mahasiswa, dan guru.

Ini baru di hari pertama. Padahal masih ada 3 hari dalam rangkaian “Gatotkaca Masuk Sekolah” yang akan digeber 7 Februari di SMA 4, 21 Februari di SMA 8, dan memuncak 7 Maret di SMA Kolese de Britto.

Panitia tak kalah bergairah dalam mengalirkan darah yang mendidih itu. Penerbit Galangpress menerjunkan 9 editor dan desainer grafis untuk menjadi fasilitator pelatihan, bersama dengan alumni Kaca-KR. Sinergi yang cantik antara penggiat buku dan jurnalis koran.

Pembicara yang kami hadirkan pun tidak main-main, 2 orang yang sudah sangat diperhitungkan di jagad penerbitan. Julius Felicianus dan Nadia Indivara. Julius Felicianus adalah Direktur Galangpress Group yang sudah sukses membidani puluhan penulis pemula menjadi penulis buku laris. Sedangkan Nadia Indivara yang akrab dipanggil Dea adalah ibu rumah tangga “korban” provokasi Galangpress, dan sudah terbukti menjadi penulis buku-buku laris seperti Cara Pinter Jadi Wedding Organizer (Indonesia Cerdas, 2007), Untung Besar 80 Jutaan Duduk Doang (Indonesia Cerdas, 2008), The Mom’s Secret (Pustaka Anggrek, 2009), dan 200 Tips Ibu Smart (Pustaka Anggrek, 2009).

Seperti adatnya, Julius menjadi tukang kompor yang membuat peserta seperti tak sempat menghela nafas. Julius meyakinkan bahwa setiap orang bisa jadi penulis, “99% penulis Galangpress adalah pemula, dan berhasil.”

Yang dibutuhkan dari seorang penulis adalah ide, gagasan, dan kreativitas. Hanya butuh keberanian untuk menuangkannya.

”]]“Indonesia ini banyak pembaca, tapi kekurangan penulis,” tukas Julius, “sehingga banyak buku kemudian dihasilkan oleh tim redaksi.” Tentu saja, buku-buku yang dimaksud adalah buku-buku bagus yang berterima di masyarakat pembaca, bukan asal buku yang hanya baik di mata penulisnya. Ia membeberkan fakta. Selama 2007-2009, jumlah judul buku yang beredar di toko buku modern di Indonesia baru berkisar 24.500 (2007), 31.300 (2008), hingga 32.150 (2009). Angka ini belum menunjukkan berapa eksemplar pencetakan per judul dan persentase jumlah eksemplar yang laku.

Pada aspek lain, masih menyitir data Julius, dana pembelanjaan buku perpustakaan daerah-perpustakaan daerah cukup tinggi, yakni Rp 3,2 triliun (2007), Rp 4,6 triliun (2008), dan Rp 4,45 triliun (2009). Bukan angka yang sedikit. Pertanyaan kritisnya, sudahkah pembelanjaan buku itu merangsang masyarakat menjadi penulis?

Galangpress Group, sebagai penerbit buku, menyimak angka tersebut, tidak pernah pesimistis. Sebaliknya, justru optimistis mencari dan menginkubasi penulis-penulis baru.

Dea salah satunya. Ia seorang ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang dalam keseharian. Menulis pun menjadi aktivitasnya sejak belum punya anak. The Mom’s Secret, contohnya, ia tulis waktu hamil anak pertamanya, Rena, yang kini sudah berumur 2 tahun. Saat hamil pun ia mau menulis. Malah, ia mendapatkan “tekanan” dari kami, “Mbak Dea, tolong jangan melahirkan dulu sebelumnya bukunya selesai.”

Selain menjadi pengusaha, kini hari-hari Dea dihabiskan sebagai ibu rumah tangga yang ideal. Ia bisa selalu bersama Rena, dan ia selalu punya waktu untuk menulis. “Kuncinya adalah komitmen menentukan deadline dan mau meluangkan waktu untuk menulis, walaupun hanya satu halaman,” ungkap penulis novel yang belum menemukan momentum meledakkan buku fiksinya ini.

”]”]Secara khusus, dalam makalah singkatnya, Dea membeberkan rahasia menjadi penulis produktif. “Hilangkan mitos yang selama ini menghalangi kita untuk menulis,” sebutnya. “Mitos pertama, menulis butuh banyak waktu. Padahal, kita bisa menulis di sela-sela kesibukan, misalnya saat menunggu antrian di salon atau menunggu anak pulang sekolah. Mitos kedua, harus menulis sesuatu yang luar biasa atau spektakuler. Padahal, setiap orang boleh menulis apa pun, biar pun itu sesuatu yang sederhana. Dari yang sederhana itu, kalau kita bisa menyampaikannya dengan menarik, bukan tidak mungkin topik itu bisa menjadi sesuatu yang luar biasa.” Buktikan!

Di Galangpress Group ada banyak Dea yang lain. Dengan kreativitas dan orisinalitas ide, mereka masing-masing bisa mencuat sebagai penulis yang karyanya menginspirasi pembaca dan mendunia. Semua berangkat dari nol sebagai penulis buku, dan semua berhasil. Jika Anda ke toko buku, temukanlah nama-nama ini: Baskara T Wardaya, Asvi Warman Adam, Budiman Hakim, Mohammad Thobroni, Femi Adi Soempeno, Veronica Sri Utami, Lucas Formiatno, M. Arief Budiman, HJ Sriyanto, Putera Lengkong, Arwan Tuti Artha, Fajar Nugros, Budi “Kelik” Herprasetyo, Hadi Hartono, Silvester Goridus Sukur, Soekardjo Wilardjito, dan masih banyak lagi.

Kini mereka keranjingan berkata-kata!

Jogja, 25 Januari 2009
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com]

Sowan Guru Bangsa

2 Comments

Sore begitu teduh. Suasana pedesaan sangat terasa di kompleks perumahan itu. Sepi. Bahkan, anak-anak pun tak tampak berseliweran di jalanan. Mungkin, mereka sedang ke luar kota untuk merayakan tahun baru bersama keluarga. Satu-dua kendaraan saja melintas pelan di depan rumah.

Bendera setengah tiang berkibar lesu di halaman rumah. Sang Merah Putih sedang berduka. Satu guru bangsa telah tiada. Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 wafat dalam usia 69 tahun pada 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Dan sore itu, 3 jam setelah Gus Dur kembali ke pangkuan ibu pertiwi di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sang guru bangsa yang lain menemui kami di rumah itu. “Prof, turut berduka cita atas wafat Gus Dur,” salam pembuka kami begitu kami dipersilakan duduk di ruang tamunya yang tak cukup untuk menemui 10 orang itu.

“Dua minggu yang lalu Gus Dur ke sini, duduk di sana di atas kursi rodanya,” kata Prof Syafii Maarif, guru bangsa kita ini, sembari menunjuk arah depan persis di depan posisi duduk beliau. Dari cerita beliau, terasa betul kedekatan tokoh utama 2 organisasi besar Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, ini. Meski secara kultural dan ideologi organisasi berbeda, namun keprihatinan mereka terhadap kebangsaan sama.

Tersirat duka mendalam Prof Syafii atas kepergian Gus Dur. Karena waktu tidak nyandak, beliau tak melayat hari itu, baik di Jakarta maupun di Jombang. Baru lewat iklan di Harian Kompas, atas nama pribadi dan Maarif Institute, beliau menyampaikan ucapan turut berduka citanya. “Besok pagi (1 Januari), saya berangkat ke Jombang,” ujar beliau. Tak biasa seorang Muhammadiyah menempuh ziarah kubur.

Elit dan rakyat sama-sama tidak serius

“Bangsa ini penuh kepalsuan,” komentar Prof Syafii ketika George Junus Aditjondro, penulis buku Membongkar Gurita Cikeas (Galangpress, 2010) membeberkan banyak fakta temuannya, baik yang sudah dilansir lewat buku maupun masih ia simpan. George baru tiba dari Jakarta memenuhi undangan beberapa pihak berkaitan dengan buku yang menggegerkan politik Indonesia ini. Prof Syafii, yang memberikan pernyataan mendukung (endorsement) di buku setelah 183 halaman ini, ingin bertemu dengan penulisnya. Jadilah kami mengantar George ke kediaman Prof Syafii. Ternyata keduanya belum pernah bertatap muka. Meski belum pernah bertemu, baik Prof Syafii Maarif maupun Gus Dur, memberikan endorsement di buku yang di antaranya mengungkap fakta-fakta seputar dana kampanye Partai Demokrat, kepemilikan Harian Jurnas, dan aliran dana dari Budi Sampoerna ke tim sukses SBY ini.

Sejatinya, pertemuan sore itu akan melibatkan media massa. Undangan sudah disebarkan. Namun, karena sedang berkabung nasional, konferensi pers yang hendak kami gelar di kantor sebuah penerbit, kami batalkan. Beberapa tokoh yang hendak kami hadirkan pun urung bergabung. Jadilah, pertemuan sore itu kami pindahkan ke rumah Prof Syafii dengan agenda utama silaturahmi. Tanpa pernyataan Prof Syafii yang sedianya hendak mencegah pembelokan isu buku ini ke wilayah non-substansi buku. Yang kemudian disepakati, George diminta untuk diam sementara (cooling down), sehingga persoalan tidak merembet ke mana-mana. Permintaan ini lahir mengingat tragedi pemukulan George terhadap Ramadhan Pohan dalam sebuah diskusi di Jakarta, yang tentu saja justru memperkeruh suasana.

Lalu kami terlibat dalam obrolan ringan tentang banyak hal, terutama keprihatinan Prof Syafii atas kehidupan berbangsa kita. “Elit politik kita tidak serius,” kritiknya. Ketidakseriusan itu, menurut guru besar sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini, tampak dalam setiap langkah politik mereka. Maka, dalam konteks kasus Bank Century berikut panitia khusus yang dibentuk DPR, misalnya, beliau tidak yakin akan ada penyelesaian yang tuntas. Dari sumber-sumber yang beliau percaya, Prof Syafii menggugat kelakuan elit penguasa kita yang suka bermain topeng, sok bersih, dan tidak transparan terhadap rakyat. “Untuk apa mereka berbohong?” gugat mantan Ketua PP Muhammadiyah ini.

Kepentingan kelompok, bukan kepentingan bangsa, dan politik uang, sangat membuatnya khawatir. “Kenapa bangsa ini bisa rusak begini ya?” keluhnya seperti tidak bisa berbuat apa-apa.

Prof, sergah saya, bukankah rakyat kita juga tidak serius dala berbangsa? “Benar. Rakyat kita juga mulai tidak serius. Sekarang, kalau tidak ada uang, mereka tidak mau memilih. Gawat ini.” Prof Syafii seperti tidak lagi memiliki kata-kata.

Adzan Maghrib membungkus kesunyian ini. Kami beringsut pamit. Prof Syafii bersujud menjawab panggilan Ilahi. Semoga sang guru bangsa masih memiliki jalan pembebasan…

Jogja, 2 Januari 2010

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]

Tahun Baru, Tugas Baru

Leave a comment

Tantangan baru disodorkan kepada saya. Oleh perusahaan, mulai hari ini, saya ditugasi merintis departemen baru, yakni penelitian dan pengembangan. Selalu, dengan senang hati tugas baru seperti ini saya terima. Saya percaya, pasti ada banyak pelajaran berharga di ladang baru. Apa itu? Itulah yang harus saya cari dan temukan.

Yang lucu, hampir bersamaan dengan perutusan ini, saya juga ketiban sampur menjadi tim litbang pada kepengurusan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.ngg

Dua-duanya baru, baru merintis, bukan meneruskan. Padahal, saya sendiri sama sekali tidak memiliki pengalaman di bidang ini. Terbayang untuk berkecimpung di sini saja tidak. Malah, sempat terlintas untuk menghindari pekerjaan macam begini.

Namun, ketika tantangan ini hadir di depan, saya tidak mau memilih, apalagi mengelak. Sikap saya langsung bulat: ambil! Tidak punya pengalaman? Ah, jangan kayak Soeharto, “Yang layak menjadi presiden hanyalah dia yang punya pengalaman menjadi presiden.” Buktinya, presiden-presiden di dunia yang nol pengalaman pun banyak yang berhasil. Bilakah saya?

Tidak tahu tugasnya apa? Ini memang repot. Tugas baru ini tanpa disertai deskripsi kerja yang jelas dan rinci. Baiklah, saya balik cara kerjanya. Saya terima tugas ini, dan saya susun deskripsi kerja saya sendiri untuk kemudian saya mintakan persetujuan. Untuk ini, saya bertanya ke sana kemari, ke teman-teman yang bekerja di libtang berbagai institusi. Untunglah, banyak teman baik yang membantu saya. Maklum, saya tidak menemukan cukup referensi yang memadai dan aplikatif tentang bidang ini.

Aha, bukankah nanti seperti itu pekerjaan saya? Mencari dan meneliti? Dari tidak tahu, mencari tahu, kemudian tahu? Ya, terbayang sudah cara kerjanya. Pakai saja cara kerja wartawan yang pernah saya gumuli. Sembari terus mencari cara kerja yang paling tangkas.

Jogja, 1 Januari 2010

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]