Katak Menembus Tempurung

3 Comments

Viktor E Frankl: Man's Search for Meaning

Bagi sebagian orang, penjara tak ubahnya TPA (tempat pembuangan sampah akhir). Laiknya TPA, semua ada di sana: potongan rumput taman, tulang ayam bakar, bangkai tikus, hingga tai anjing. Kotor dan menjijikkan. Bau dan bikin sesak nafas.

Begitu pun penjara. Semua ada di sana: maling knalpot, penipu arisan berantai, pembunuh bayaran, penghisap shabu, hingga koruptor. Stempel “pelaku kejahatan” melekat di jidat mereka. Tak ada yang mau mendekat, kecuali keluarga yang sudah tercoreng mukanya, atau teman karib yang jatuh iba. Cuh… cuh… cuh…

Penjara adalah comberan masyarakat, yang berisi orang-orang buangan. Mereka terhempas dari sangkakala, terompet kabar kematian. Mereka tertimpa palu hukum yang dijatuhkan di meja hijau. Pula, mereka terkucil dari habitat sosialnya.

Dan mereka seperti tak punya hak bersuara. Tak ada saluran kata untuk membela, alih-alih meluruskan. Sudah terkepung tembok tebal, mulut mereka pun disumpal. Bisik-bisik lirih pun tak terdengar dari balik jeruji tembus angin itu.

Di dalam semakin sunyi, di luar makin bergemuruh. Bahwa penjara memang kuburan hidup bagi para pecundang.

Meski begitu, sayup-sayup tetap terkisik kabar bahwa ada nyanyian bisu dari dalam penjara. Viktor Frankl salah satunya. Dalam bukunya Man’s Search for Meaning (1946), ia menuliskan bagaimana pergulatan batinnya di dalam penjara. Baginya, penjara adalah kegelapan yang tak berujung. Tak kelihatan di sana di mana pintu kebebasan itu, jika ada. Dalam kegelapan itu, yang ada justru keterpurukan. Keterkejutan akan kenyataan berada di penjara lama-lama menjadi sikap apatis bahwa memang hanya penjaralah kehidupan yang ada. Alih-alih membayangkan bebas kelak di waktu yang tidak bisa ditentukan, bisa bertahan saja jauh dari harapan.

Toh, bagi Frankl, selalu ada makna yang bisa dipetik dari kegelapan itu. “Then I grasped the meaning of the greatest secret that human poetry and human thought and belief have to impart: The salvation of man is through love and in love,” tulisnya.

Adakah selain Frankl?

Wilson, narapidana politik kasus 27 Juli 1996, mencoba memaknai pengerangkengan tubuhnya dari aspek kemanusiaan. Secara khusus ia mengamati sosok Xanana Gusmao, tokoh fretilin yang diterkam rezim Soeharto karena memimpin gerakan makar pembebasan Timor Timur dari aneksasi Indonesia.

Kamp Nazi: penjara Wirogunan lebih manusiawi

“Ketika saya melihat seorang pemimpin rakyat Timor Timur di penjara, saya melihat bagaimana seorang pemimpin hidup dalam kesederhanaan. Saya mencatat kehidupan sehari-harinya yang tidak diketahui orang lain karena Xanana kan image-nya pejuang gerilyawan, angkat senjata AK 47 atau M16, bawa radio komunikasi, jadi dia seperti membawa simbol-simbol yang menyeramkan. Nah saya menampilkan Xanana sebagai sosok yang lain dalam tulisan-tulisan saya. Misalnya sosok Xanana dalam hal melukis, bermain bola, merawat bonsai, hubungannya dengan napi kriminal, bagaimana dia belajar bahasa Indonesia dari mereka, bagaimana hubungannya dengan petugas administrasi, bagaimana dia membela napi-napi kriminal agar mendapat pelayanan kesehatan yang lebih baik, agar mendapatkan jatah makanan yang lebih baik kualitasnya. Yang dia lakukan jauh lebih banyak ketimbang kami tapol/napol dari Indonesia. Menurut saya hal-hal seperti itu penting untuk diketahui, inilah tipe seorang pemimpin sejati, tidak banyak bicara soal dirinya namun bicara bagaimana dapat membantu orang semaksimal mungkin dalam kondisi yang sangat terbatas. Hal semacam itu tidak banyak saya temui bahkan dari kawan-kawan sendiri walaupun kami sudah mencoba berbuat seperti Xanana,” ujarnya kepada Faizol Reza (Sinar Harapan, 2 April 2005).

Berbekal mesin ketik, yang dicumbuinya 8 jam sehari, ia pun menulis buku penelitian sosial tentang kehidupan di penjara.

Arswendo Atmowiloto pun layak disebut. Napi kasus “Monitor” ini pun mampu menembus tembok penjara lewat mesin ketik yang boleh dibawanya. Ia tetap menulis dari balik teralis. Alhasil, Sebutir Mangga di Halaman Gereja (1994) boleh kita petik. Di penjara pun ia tunai Menghitung Hari (1994).

Katak Menembus Tempurung

Penjara ibarat tempurung. Penghuninya ibarat katak. Orang Belanda punya istilah “Kijken tussen de bomen” untuk mereka yang cara pandangnya sempit, kita mengenal pepatah “bagai katak dalam tempurung”. Demikianlah, penghuni penjara pun ibarat katak dalam tempurung. Hidup mereka terkurung dalam tembok tinggi-berlapis dan berpenjagaan ketat. Mereka tak boleh ke mana-mana. Jadwal keluar sel ditentukan, jadwal makan diatur, jadwal dikunjungi pun dibatasi.

Seperti pagi tadi. Bersama beberapa teman kantor, saya berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta. Kami kerap menyebutnya LP Wirogunan. Kami bertemu Santosa Heru Irianto, kepala lapas, untuk membicarakan rencana pelatihan menulis bagi warga binaan (napi), pekan depan.

Saya mengusulkan tema “Katak Menembus Tempurung” untuk pelatihan menulis yang baru pertama kali diselenggarakan di LP Kelas II A ini. Penjelasan saya seperti uraian di depan. Bahwa penghuni lapas bolehlah terbelenggu fisiknya, namun tidak dengan hati dan pikirannya. Tidak dengan kreativitasnya.

Lewat menulis, para napi bisa menyuarakan kehidupannya secara leluasa. Mereka bisa bercerita bagaimana keseharian di hotel prodeo. Mereka bisa bertutur tentang harapan sehabis masa hukuman dijalani. Mereka bisa bercerita tentang cinta, air mata, dan tawa.

Angkat topi untuk Lapas Yogyakarta yang mulai terbuka akan perubahan zaman. Mereka mulai mengundang beberapa elemen masyarakat untuk terlibat dalam pembinaan para napi. Pintu masuk sudah diubah. Tak perlu lagi menggedor dari pinggir jalan untuk memanggil petugas. Masuk saja. Pelayanan pun dipoles. Lebih ramah.

Paradigma telah mereka ubah. Penjara bukan lagi Alcatras atau Guantanamo. Juga bukan lagi Nusakambangan. Tempat-tempat itu, bahkan, menyiksa katak dalam tempurung, dan membuang bangkai katak.

Tapi penjara adalah Wirogunan, tempat napi boleh menari-nari dengan penanya. Mereka boleh menulis apa saja. Wirogunan bukan tempat sampah, tempat bangkai katak, tapi tempat katak menari-nari menembus tempurung.(*)

Jogja, 9 Maret 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Advertisements

Menggosok Batu Berlian

3 Comments

singgah di museum ullen sentalu, kaliurang, november tahun lalu. kemarin nyepeda, tapi tak motret.

Kamis-Minggu, 25-28 Februari kemarin, saya diundang oleh Signis Indonesia untuk mendampingi pengelola media paroki se-Keuskupan Agung Semarang dalam pelatihan menulis Basic Media and Journalism Training for Community Empowerment di Kaliurang, Jogja, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Komisi Komsos KAS. Saya buatkan catatan sebagai oleh-oleh.

Dengan kacamata baru, batu kerakal bisa jadi berlian. Jumput batu itu, usap debunya. Gosok keras, lagi, dan lagi. Tentu debu berhamburan, mengganggu pernafasan. Tapi tahanlah nafas sebentar dan terus menggosok. Lupakan berkedip. Tekan dengan ujung jari jika permukaan batu telah meramping. Tidak harus keras. Lembut, namun pasti. Ya, bila menggosok melibatkan hati.

Seperti Sabtu pagi tempo hari. Tiga puluhan orang menyerbu kawasan wisata Kaliurang, Jogja. Bukan untuk bikin onar, tetapi untuk menggali kesunyian. Bukan untuk menari-nari menikmati libur panjang akhir pekan, tetapi untuk mengasah kepekaan dalam menemukan batu kerakal yang pantas jadi berlian. Batu itu berserakan di jalanan, juga di pelataran rumah-rumah penginapan. Sebagian lagi terselip di antara rerumputan yang tak pernah dicukur.

Mereka, teman-teman saya dari Sragen, Solo, Klaten, Semarang, dan Jogja itu, tak tahu mana batu yang bisa jadi berlian. Tampak dari kejauhan tak ada kilau di sana. Semua sama saja.

Syukurlah mereka mau mendekat. Melihat lebih dekat. Lebih dekat lagi. Toh tak juga kelihatan. Di tempat asal mereka, batu-batu seperti itu sama saja berserakannya. Kalau beruntung, batu itu diusung lalu ditanam sebagai pondasi rumah. Terkubur selamanya. Kalau sedikit beruntung, batu itu disorong ke halaman rumah sebagai penghias taman, yang jika pemiliknya sedang malas merawat, batu itu terselimuti perdu. Dan kalau apes, batu itu akan disampar ke tengah jalan, jadi sandungan bagi pelintas.

Syukurlah, mereka mau bertekun untuk menemukan batu yang jauh lebih beruntung ketimbang batu-batu itu. Batu berlian. Belum tentu batu itu ada. Jika ada, belum tentu pula batu itu tahu bahwa dalam dirinya ada berlian. Jika pun berlian, belum tentu kualitas nomor satu. Jika bukan nomor satu, siapa yang mau mengempu?

butuh proses mendalam untuk menghasilkan berlian berkualitas

Di Kaliurang, batu itu mewujud dalam rupa penjual jadah-tempe, pisang, sate kelinci, pengelola penginapan, penjaga loket taman bermain, peternak sapi perah, sopir kereta wisata, dan masih banyak lagi. Mereka bertebaran di mana saja, hanyut dalam kesibukan masing-masing. Kadang, mereka pun kadung menyapa orang lewat dalam relasi transaksional. “Jadah-tempenya, Mbak.” “Mari, coba sate kelincinya.” “Salak pondoh, Bu, asli Turi.” “Ampyang kacang, Pak, khas Kaliurang.” “Butuh berapa kamar?” “Kamar mandi dalam, pakai air hangat.” “Dewasa/anak-anak Rp 5.000.” Hanya jika mendatangkan hubungan ekonomis mereka mau membuka diri.

Tak mengapa. Beberapa teman saya justru menjadikan cara itu sebagai pintu masuk untuk mengetahui apakah di dalam diri orang-orang tersebut terdapat berlian. Mereka berperan sebagai pembeli. Membayar, mencicipi, dan menikmati. Sambil duduk, untuk kemudian berbincang. Duduk bersebelah-sebelah, supaya tak saling asing.

Sambil duduk, teman-teman saya mulai menggali informasi. Lewat pertanyaan, pernyataan, pengamatan, pendengaran, penciuman, dan perasaan. Seperti pencari berlian, teman-teman itu mencari siapakah di antara penjual produk wisata itu yang menyimpan pengalaman dan pendalaman hidup berkualitas. Dan tak semua pencari itu menemukan buruannya. Ada yang puas ketika lapisan debu tersingkap, ada yang mentok ketika isi dalam batu makin mengeras, namun ada beberapa yang bersikeras untuk menggosok lebih dalam lagi.

Benar saja, ada berlian di antara batu-batu itu. Baru nyata ketika digerinda dan diamplas. Ada berlian yang berjualan jadah tempe sejak usia menstruasi hingga sekarang di usia senja. Benar-benar berlian. Bahkan di zaman ketika masyarakat sudah terbenam dalam pola konsumsi makanan pabrikan, ia masih mengemas tempe dan tahu bacemnya dengan daun pisang. Ketika barang di mal hanya laku jika SPG-nya memakai rok mini, ibu bercucu ini masih pakai kebaya saat jualan di pinggir jalan berdebu. Tapi ia seperti tak peduli. Yang ia tahu, barang jualannya enak, khas Kaliurang, dan cocok dijadikan oleh-oleh. Pula, tidak mengandung bahan pengawet.

Penjual pisang di bawah pohon beringin arah Telaga Putri juga demikian. Dari rumahnya di Deles, Klaten, punggung timur Merapi, perlu waktu 5 jam untuk sampai di Kaliurang, dada selatan Merapi. Jalan kaki, setiap hari. Baru berangkat, belum pulangnya. Jika laku, belum jika layu karena tak ada pembeli. Menyusuri jalan setapak yang licin, naik-turun, dan tak berpenerangan lampu. Tanpa asuransi, jika jatuh terpeleset. Tanpa kepastian. Toh, ia tetap melakoni jalan hidupnya itu berpuluh tahun lamanya. Untuk sekolah anak-anak, untuk menanak nasi bagi keluarga yang harga berasnya kini jauh melampaui harga pisang jualannya.

Satu lagi berlian ada di penginapan tempat kami berkegiatan. Bukan kebetulan, lagi-lagi seorang ibu. Ia bekerja di dapur, memasak untuk para tamu yang umumnya rombongan. Juga hari itu, memasak untuk kami. Menurut tuturannya, kini tempatnya bekerja makin dijauhi tamu. Sepi. Banyak tamu lebih memilih penginapan yang bangunannya baru. Kenelangsaan ini menindih sejak ibu pemilik wisma itu meninggal beberapa tahun lalu. Ada kenyamanan yang tak lagi dirasakan tamu begitu wisma dikelola oleh sang anak. Keramahan, keluwesan, dan pelayanan prima tak lagi ada. Toh si ibu tetap bertahan. Satu-dua tamu yang ada ia layani dengan penuh syukur. Kekeluargaan sesama karyawanlah yang menguatkannya untuk tak lekas pulang ke kampung halaman menjadi petani.

Siapa sungguh-sungguh berlian?

Belanja batu itu mengasyikkan. Pesona para ibu yang berhasil mereka korek kehidupannya menggiring mereka untuk yakin bahwa para ibu itu sungguh-sungguh berlian. Maka, mereka membungkus kisah para ibu itu dalam tulisan bergaya feature. Tulisan itu mereka tempelkan di dinding kelas untuk dibaca teman-teman yang lain. Menarik, apresiasi sesama teman. Ada kekaguman di antara para peserta karena tidak semua dari mereka dapat melihat batu berharga itu sebagai potensi berlian.

Saya ajak mereka duduk mengendapkan. Bilakah batu-batu itu sungguh berlian? Bilakah batu-batu itu berlian palsu? Yang berkilau di permukaan, namun di dalamnya hanya abu?

Di sinilah ketekunan itu hadir. Sebagaimana berlian yang dihasilkan dari proses penempaan yang keras, dengan tekanan temperatur yang tinggi, proses pengujiannya pun sama kerasnya. Butuh ketekunan untuk menyingkap kejernihan, kadar karat, warna, dan bentuk potongan. Satu kesatuan. Supaya tidak terjebak pada kilaunya saja.

Jogja, 1 Maret 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]