Gowes Mengurangi Risiko Bencana

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

Artikel saya “Pesan Damai Pesta Sepeda” yang dimuat Kompas, 11 Oktober lalu berbuah berkah. Undangan pertemanan di akun Facebook saya berdatangan dari teman-teman pesepeda. Girangnya hati saya.

Lebih girang lagi tatkala salah seorang teman baru, Mas Bimo, berlega hati mengirimi saya tautan ini http://forum.b2w-jogja.web.id/index.php?topic=2833.0. Segera saya mengirim sms ke Mas Thomas, si empunya gawe. Bersambut.

Pagi ini, Sabtu 16 Oktober, tiga puluh menit selepas pukul enam pagi, Waltz Hybrid saya akur mengusung saya ke titik pertemuan di Monjali, Monumen Jogja Kembali. Panitia sudah menunggu di halaman parkir timur, dekat kios penjaja souvenir.

Segera menerakan tanda hadir. Silih atasnya adalah secarik kertas putih, beberapa brosur, dan sebuah kaos hitam bertuliskan “Masyarakat Kuat Bencanane Lewat; eling lan waspada ngadepi bebaya”. Masyakarat kuat, bencana lewat; ingat dan waspada menghadapi bahaya.

Saya mendapatkan kertas bertuliskan (bahasa dan pengetikan sesuai teks asli):

——-

III. Regu Banjir: Banjir adalah bencana musiman dan diperburuk dengan adanya perubahan iklim global sekarang ini. Yogyakarta dilalui oleh beberapa sungai yang berpotensi mengakibatkan banjir. Sistem drainase yang buruk juga mengakibatkan banjir di beberapa daerah. Tempat-tempat yang akan anda tuju adalah titik-titik rawan banjir di Yogyakarta. Sebarkan poster dan tips siaga bencana di daerah-daerah tersebut.

Anda harus menuju ke daerah-daerah yang digambarkan dalam petunjuk di bawah ini:

  1. Daerah dimana Romo Mangun berkarya
  2. Daerah Universitas negeri tempat dulu para calon guru menimba ilmu
  3. Dulu adalah area Pesanggrahan Hamengku Buwono VII

——-

Usai memecahkan teka-teki yang terkandung dalam petunjuk tersebut, kami bergegas ke arah kota. Menyusuri Jalan Nyi Tjondroloekito, sepeda kami lajukan perlahan. Tujuan pertama kami adalah Perkampungan Code di Gondolayu. Mas Falon jadi pemimpin perjalanan. Teman-teman lain, yang baru saya kenal tadi, membuntuti di belakang. Kami berkenalan sembari menggowes sepanjang Monjali –Blunyah Gede – Jetis – Tugu – Code – Terban – Bundaran UGM – Samirono – Demangan – Ambarrukmo – Gowok – Sorowajan – Balaikota – Pusdalops PB.

Sampai di jembatan baru memasuki kampus UGM dari arah barat, kami berbelok ke kiri. Jalan kecil di samping jembatan kami pilih. Menurun amat curam, kami meluncur satu per satu. Hanya seorang yang tak berani menunggangi sepedanya. Ia menuntun saja. Maklum, sepedanya jenis fixie gear, yang sedang tren di Jogja. Sepeda itu tanpa rem. Perlu sedikit membungkuk untuk menghentikan putaran ban. Maka, tak mungkinlah membungkuk di turunan jika tak hendak terjungkal.

Mengenali Risiko Bencana

Pemandangan di bawah jembatan menakjubkan. Tepian sungai ini pas sekali untuk berpuisi, atau mendendangkan nyanyian air yang mengalir dari kaki Merapi itu. Ada beberapa gazebo di sana, tersebar di pinggiran kali, cocok untuk merebahkan penat. Pohon-pohon rindang juga berhimpun di bantaran.

Ini Kali Code. Di atas sana, warga menamai sungai ini Kali Boyong. Jika Merapi sedang menggelar hajatan, hembusan awan panasnya bertiup ke sini. Enam belas tahun lalu, awan panas yang dikenal dengan sebutan “wedus gembel” itu meluluhlantakkan Dusun Turgo, dusun paling atas di sisi barat daya Merapi, dan menewaskan 62 jiwa, yang sebagian di antaranya sedang menghadiri pesta perkawinan salah seorang warga.

Awan panas berkecepatan 300 km/jam dengan suhu di atas 800 derajat Celcius itu, selama ini, memang tak pernah berhembus sampai ke kota. Yang sampai hanyalah kiriman guguran lava yang menjelma menjadi bebatuan digelontor air. Curah hujan yang tinggi di daerah hulu itulah yang potensial membanjiri aliran kali ini.

Potensi bencana inilah yang menggerakkan Forum Pengurangan Risiko Bencana menggelar kegiatan bersepeda sambil membagikan brosur dan poster tentang hal-hal apa saja yang perlu diketahui masyarakat tentang pengurangan risiko bencana. Ada beberapa kelompok selain kelompok banjir yang saya ada di dalamnya. Ada kelompok gempa bumi, ada kelompok tanah longsor, ada kelompok angin. Semua bencana itu pernah menimpa Jogja, dari skala kecil hingga besar, dari yang tidak berkorban sampai yang menyita perhatian dunia internasional seperti gempa 5,9 Skala Richter pada 27 Mei 2006.

Di negeri rawan bencana ini, memang sebaiknya kita belajar tentang kebencanaan dan risikonya. Dengan mengenalinya, kita bisa memperkecil risiko yang diakibatkannya.  Dalam hal banjir, contohnya, risiko bisa diminimalkan dengan cara membangun kesadaran masyakarat untuk tidak membuang sampah di sungai. “Beberapa orang di sini masih suka melakukannya di dekat bendungan itu,” gerutu seorang warga Blunyah Gede sembari menunjuk gambar pada brosur yang saya sodorkan.

Monumen Kesadaran

YB Mangunwijaya, alias Romo Mangun, berhasil membangun monumen hidup tentang kesadaran atas risiko bencana ini. Di bawah jembatan Gondolayu, 300 meter sebelah timur Tugu Yogyakarta, pastor-novelis-arsitek-aktivis ini mendesain kawasan bantaran sungai sebagai tempat yang layak dihuni sekaligus aman dari bahaya banjir. Ia membangun rumah-rumah warga seturut kemiringan tebing. Lebih-lebih, kesadaran warga dalam menjaga lingkungan ia tanamkan betul. Alhasil, sepeninggal Romo Mangun, sedekade lalu, perkampungan itu terjaga nilai-nilai kebersihan  lingkungannya. Mas Heri, salah seorang warga, sembari menyantap sarapan di warung depan perpustakaan, bersaksi bahwa hingga kini kampung mereka tak pernah diluberi air.

Lain halnya cerita Suster Mariane CB, pengasuh Asrama Putri Stella Duce, Samirono, saat kami menyambangi tempat itu dalam perjalanan ke Universitas Negeri Yogyakarta –yang tak jadi kami singgahi– tadi. Asrama yang dihuni remaja usia SMA itu jadi pelanggan tetap banjir saat hujan mengguyur. Padahal, kali di samping barat asrama yang terletak persis di belakang Asrama Syantikara itu hanyalah kali kecil dengan lebar sekira 2 meter. Hulunya pun hanya di Lembah UGM, tak sampai 1 km di atasnya. Posisi asrama yang lebih rendah dari aliran sungai menyebabkan air kerap meluber hingga ke kamar-kamar. Sejak tahun 1995-an, ketika saya kerap dolan ke sana, hingga kini, bencana itu jadi sahabat mereka. Dan bukan hanya mereka. Warga Klitren, sekira 1 km ke arah hilir, nyaris selalu jadi bintang pemberitaan media karena jadi pelanggan tetap banjir oleh sungai yang sama. Kondisi ini diperparah dengan keteledoran warga membangun Balai RW persis di atas kali; sebuah preseden buruk penataan lingkungan yang amat sembrono.

Sebelum menyudahi perjalanan di Pusdalops PB (Pusat Pengendalian dan Operasi Penanggulangan Bencana; ini juga preseden buruk berbahasa dalam hal penyingkatan istilah yang tidak konsisten), kami singgah di pos terakhir sesuai perintah secarik kertas yang kami lipat. Tempat itu adalah Pesanggrahan Ambarrukmo, yang gandhog tengen-nya telah dikepras untuk pendirian Ambarrukmo Plaza. Padahal itu tempat bersejarah, tempat beristirahat Sultan dan kerabat Kasultanan Yogyakarta, tempat Sultan HB VII wafat di tahun 1921. Sekarang, situs cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia No. PM. 25/PW.007/MKP/2007 itu makin terbengkalai dikepung pagar proyek pembangunan kembali Hotel Ambarrukmo.  

Tugas Mengingatkan

Kaitannya dengan gerakan ini? Terang ada. Faktanya, ruas jalan depan Hotel Ambarrukmo, 100 meter timur Plaza Ambarrukmo, selalu banjir jika hujan turun lebat. Air yang mengalir deras dari arah Jalan Perumnas, membludak begitu saja ke Jalan Solo. Drainase yang ada tidak memadahi menampung debit air yang besar. Bisa jadi bukan bangunan-bangunan modern itu yang jadi penyebab banjir, melainkan rantai pembangunan lainnyalah biangnya.

Jika pun bukan bukan penyebabnya, bolehlah kita mengingatkan para pembangun itu untuk menghitung dampak pembangunan yang dikerjakannya. Miris, contohnya, melintas di Jalan Kaliurang ruas Kentungan di kala hujan. Akibat pembangunan wilayah yang begitu brutal di kiri-kanan, jalan itu tak ubahnya kali. Orientasi pembangunan yang tidak ramah lingkungan akan membunuh kita.

Terima kasih kepada Forum Pengurangan Risiko Bencana dan Komunitas B2W (bike to work) yang telah menyelenggarakan kegiatan santai dan penuh kesan ini. Sambil bersepeda bisa menyusuri sungai, bertegur sapa dengan warga bantaran, dan menimba aneka kearifan alam.

Mari bersepeda.

Yogyakarta, 16 Oktober 2010

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Advertisements

Gowes Merdeka: Menaklukkan Tanjakan Terakhir

1 Comment

Pengalaman mengalahkan bayangan. Demikian kata-kata bisa diracik.

Semula, sebagian teman peserta Gowes Merdeka Jogja-Borobudur berniat untuk cukup memancal sepeda sampai di Ancol. Separo jalan. Dalam bayangan mereka, Borobudur teramatlah jauh. Sedari awal, mereka sudah yakin tidak akan sanggup menempuh. “Bolehkah kami ikut jika tidak sampai tujuan?” pinta mereka saat menyodorkan pendaftaran nir formulir.

Tentu saja boleh. Yang tidak boleh, seperti yang saya tulis di pengumuman fesbuk, adalah berhenti di tengah jalan. Kalau mau berhenti harus minggir. Jika di tengah, bisa tertabrak!

Maka, berbondong-bondonglah teman-teman itu ke Bundaran UGM, pagi 17 Agustus 2010, petang sebelum matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 05.00 wib ketika satu per satu mereka menampakkan hidung.

Sudah ada Bang Ugartua Rumahorbo saat saya tiba. Setelan kostum merah-merah khas atlet sepeda lintas nusantara menandai keseriusan abang yang hobi sepedaan ke kantor ini. Masih gelap, dari kejauhan saya tak mengenalinya. Beda sekali penampilannya dengan keseharian sebagai eksekutif Penerbit Erlangga yang termasyur itu.

Dari ujung telpon, Danu Primanto memberi kabar sedang dalam perjalanan setelah memastikan mendapatkan pinjaman sepeda. Entah teman yang mana yang ia perdaya. Yang terang, fotografer situs berita Jogja http://www.tourjogja.com ini datang secara sumringah, dengan wajah sendunya yang senantiasa tampak teduh.

Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ngebut dari arah selatan. “Saya khawatir ditinggal,” bisiknya mendapati jumlah sepeda yang tidak sebanyak yang ia bayangkan. Ia pikir ini event akbar yang bakal diikuti ratusan atau ribuan peserta layaknya acara sepeda gembira yang kerap digelar di Jogja.

Dari arah punggung, turun dari lereng Merapi, dengan satu-satunya sepeda lipat yang ikut, datang Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku Pak Beye dan Istananya (Penerbit Kompas, 2010). Berkaos “45 Tahun Kompas Merajut Nusantara”, ia seperti hendak melanjutkan keikutsertaan dalam gowes Surabaya-Jakarta tempo hari yang sempat diikutinya di sepenggal rute saat peserta melintas di Jogja.

Berturut-turut teman-teman lain datang. Chandra Sena, Laga, Haris, Sugeng, Wompy, dan Bayu, dari Komunitas Gowes Koprol Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ada yang penuh semangat sejak beberapa hari lalu, ada yang baru semalam memutuskan ikut gara-gara dibujuk kiri-kanan.

Ada kejutan. Dua teman cewek ikut serta pula. Kejutannya bukan karena mereka cewek. Bukan pula karena mereka belum pernah bersepeda jauh. Lalu?

Mereka datang tergopoh-gopoh. Dari arah timur. Saya pikir, mereka sedang berpacu dengan matahari –dan mereka menang. Masih gelap saat mereka datang. Saya tidak lekas menyapa karena mereka, Anka dan Yuyut, langsung duduk di bibir boulevard. Anka menyelonjorkan kedua kakinya. Ia menambal kedua lututnya dengan kapas. Ups, ternyata habis terjatuh. “Tadi waktu lewat Jalan Solo, ada orang gila nglempar batu ke kami. Kami jatuh. Yuyut tak luka. Orang gila itu lari mendekat, kami pun lebih dulu lari,” ungkap Anka tanpa meminta iba. Hebat, mereka memutuskan untuk maju terus!

Alhasil, kami pun bersiap. 13 orang bergabung. Beberapa teman lain urung karena berbagai alasan. Ada yang mendadak mendapat tugas kantor. Ada yang lembur mengerjakan tugas ibunya. Ada yang kakinya pegal duluan. Ada yang tak memberi kabar.

Karena belum semua saling mengenal, kami berdiri melingkar. Saling mengenalkan diri sambil menatap wajah-wajah yang belum terbasuh sinar mentari. Pemimpin perjalanan dan penyapu di buntut rombongan pun kami tentukan.

Berangkat!

Kami memasuki kompleks Universitas Gadjah Mada. Terus ke utara, melewati samping Grha Sabha Pramana, lalu berfoto bersama di halaman Balairung. Arsitek kantor pusat UGM tersebut adalah Ir Soekarno, yang memilih untuk meninggalkan karir keinsinyurannya –dan ini tidak pernah dipertanyakan di pelajaran sejarah sekolah kita– untuk  menjadi aktivis kemerdekaan republik, menjadi presiden pertama republik, dan mati sebagai orang buangan presiden kedua republik.

Usai menjunjung sepeda melompati celah pintu pejalan kaki di pagar Balairung, kami menuju Selokan Mataram. Susur selokan pun kami mulai. Ke arah barat. Matahari sudah semburat. Melewati jembatan baru yang melangkahi Kali Code, kami terus menggowes santai ke barat, menyeberangi Jalan Magelang dan Jalan Lingkar Barat.

Begitu lepas dari sana, pemandangan alam mulai dominan menghampiri mata kami. Tidak lagi permukiman yang kami susuri, melainkan bentangan sawah yang menghijau. Air selokan yang coklat pekat, yang mengalir melawan arah kami, seperti mengiringi deras aliran darah di tubuh kami. Penuh semangat!

Di simpang Jalan Cebongan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel sepeda motor yang baru buka seintip pintu. Kami butuh pinjam kunci pas untuk membetulkan roda sepeda Yuyut yang nggesut gara-gara jatuh tadi. Beres!

Jalan beraspal di pinggir Selokan Mataram mulai naik turun sejak itu. Permukaannya mengikuti kontur tanah di sekitar aliran kali irigasi buatan zaman Jepang itu. Sedikit tanjakan memaksa kami menekan pedal lebih tegas. Sedikit turunan memanjakan kami pada udara sangat segar yang boleh kami hirup.

Sampai di ruas Seyegan, sekitar pukul 06.30 wib, kami mulai beriringan dengan adik-adik SMP yang hendak berangkat ke sekolah. Ini tanggal merah. Mereka masuk untuk ikut upacara bendera tujuh belasan. Bangga melihat mereka mau naik sepeda. Hare geneee masih ada yang mau ke sekolah keringetan?

Karena sudah hobi bersepeda, Mas Inu, Bang Ugar, dan Mas Bambang, melaju cepat di depan.  Sedang teman-teman yang lain, karena tidak pernah bersepeda, atau tidak terbiasa melaju di jalan raya (on road), tercecer di belakang. Alhasil, pada titik-titik tertentu kami saling menunggu.

Weh, pit-e antik… pit-e antik,” teriak anak-anak SMP 2 Tempel saat menggumuni sepeda lipat Mas Wisnu, saat kami berhenti di persimpangan selokan dengan jalan raya penghubung Tempel-Klangon. Mungkin ana-anak itu membatin, ada orang sudah gede kok masih mainan sepeda anak-anak.

Usai melewati jalan kampung, karena jalan tepian selokan sudah “habis” kami memasuki kawasan Ancol. Di sini, di Kali Progo ini, kepala Selokan Mataram terletak, sedang ujung ekornya ada Sungai Opak sana, sejengkal dari Candi Prambanan di timur sana.

Semula, sebagian teman hendak berbalik kanan di sini. Namun, pengalaman asyik sepanjang jalan tadi, plus komporan dari kami, mendidihkan adrenalin mereka untuk melanjutkan perjalanan. “Itu tanjakan terakhir kita,” tunjuk saya pada ruas jalan terjal di seberang sungai, menjawab keingintahuan seorang teman yang hendak meyakinkan niatnya. “Tanggung, masa udah sampai sini nggak sekalian ke Borobudur,” teman yang lain tak kalah garang memanas-manasi.

Akhirnya, ditambah bergabungnya dua teman, Andon dan Dedy Kristanto, yang menyusul, tak satu pun penggowes mengayuh mundur pedalnya. Semua maju, tak terkecuali Anka yang lecet lututnya merembeskan darah. Mas Bambang yang puasa saja bersemangat, masa yang lain loyo.

Sepenggal jalan bebatuan menanjak segera kami tempuh untuk meninggalkan Kali Progo ini. Ini tanjakan terjal pertama yang kami hadapi sejak 25 km pertama. Sebagian besar kami terpaksa memperlakukan sepeda kami layaknya sapi yang hendak disembelih. Menuntun sepeda.

Di ujung tanjakan, kelezatan lintasan halus menyambut kami. Dalam nafas yang tersengal-sengal usai menuntun, kembali saya yakinkan teman-teman bahwa di depan sana datar-datar saja. Hanya ada sedikit tanjakan. Bersemangatlah mereka melaju, melewati plang petunjuk arah tempat ziarah “Sendang Sono”.

Tahun lalu, di tanggal yang sama, saya bersepeda sendirian ke kompleks peziarahan Maria itu. Juga melewati sebagian penggal Selokan Mataram. Kali ini, melalui ajakan “iseng-iseng berhadiah” di fesbuk, saya mengajak teman-teman bergabung. Dan ternyata banyak yang berminat.

Ternyata, tanjakan terjal dan turunan curam kembali menyambut kami. Sebagian besar peserta terpaksa kembali bergelayut di samping sepeda. Gigi pedal tak ada lagi yang mau menolong. Gir paling enteng pun sudah putus asa.

Gerutu mulai terlontar. Gerutu yang justru memacu hasrat untuk terus melaju. “Kunto kurang ajar. Katanya tadi tanjakan terakhir. Nggak tahunya masih ada tanjakan lagi,” kami tertawa lepas di sebuah warung kecil di seberang Pasar Japuan-Tanjung Magelang. Jarak peserta terdepan dan terbelakang begitu jauh. Maka kami putuskan beristirahat di sana. Hanya Mas Bambang yang puasa, dan tetap puasa hingga kembali pulang nanti. Kami makan dan minum di warung soto milik ibu berkerudung itu. Ber-14 cuma habis Rp 50.000. Bang Ugar yang traktir.

Rambu-rambu di tengah jalan itu melegakan kami. “Borobudur 7 km”. Saya yakinkan teman-teman jika trek terakhir ini datar-datar saja. Tak ada lagi tanjakan. Nyatanya, sampai di Borobudur, tanjakan terakhir itu tak pernah ada. Walau kemiringannya kecil, tetap saja ada tanjakan.

Namun, syukurlah, walau tak pernah mendapati tanjakan terakhir, tak satu pun peserta menyerah. Tepat pukul 10.00 wib, kami tiba di pintu masuk Borobudur. Sesuai target. Dan untuk turut merayakan hari jadi Republik Indonesia, kami berfoto bersama sembari mengepalkan tangan kiri di atas-depan kepala. Tanpa kibaran bendera merah putih, kecuali bendera milik pengelola. Juga, tanpa sedikit pun emblem atau embel-embel keindonesiaan lain. Kami bercelana pendek, berkaos oblong, jauh dari layak jika harus upacara bendera.

Kelar berfoto di depan papan nama Taman Wisata Candi Borobudur, kami menyusuri jalan kampung di samping kompleks candi Buddha tinggalan Dinasti Syailendra abad ke-8-9 ini. Kami tidak berfoto di dalam kompleks, mendekati candi, karena oleh petugas kami dilarang masuk mengendarai sepeda. Ironis memang, di negara agraris ini, pola hidup orang-orang agraris justru disingkirkan. Tentang pelarangan sepeda ini, silakan baca tulisan saya di sini.

Ya, sudah. Yang penting kami sudah mencapai tujuan. Setelah cukup berpantas muka dengan jepretan kamera, kami pun bergegas kembali ke Jogja. Mampir Candi Mendut. Di siang yang sangat terik. Lewat rute yang minim “tanjakan terakhir”.

Yogyakarta, 18 Agustus 2010

Salam Gowes Merdeka,

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Candi Borobudur TAK ASYIK Dikunjungi

5 Comments

“Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi.”

PS: silakan sebarkan catatan ini ke teman-teman penggowes dan pengelola obyek wisata. mari kita perjuangan supaya Candi Borobudur, dan obyek wisata lain milik bangsa Indonesia merdeka ini, ramah kepada moda transportasi ramah lingkungan.

—————

Tepat pukul 10.00 wib 17 Agustus 2010 tadi, barisan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tiba di tujuan. Di depan papan nama “Taman Wisata Candi Borobudur” kami ber-15 merayakan 65 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Tangan kiri mengepal ke udara.

Hanya di depan papan nama saja. Tidak masuk ke dalam. Sebab, sepeda tidak boleh dibawa serta ke dalam. Harap parkir di luar, di tempat sembarangan penitipan kendaraan.

Menurut petugas jaga, sudah setahun larangan itu berlaku. Ia tidak tahu alasannya. Ah, kemunduran jika begitu. Sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Tidak menyebabkan polusi, selain bau keringat pengendaranya. Ups, bukankah pohon-pohon yang bijaksana itu bersedia menghisap bebauan polutif ini?

Saya kecewa tentu saja. Entah teman yang lain. Memang, peraturan seperti itu kewenangan pengelola lokasi. Silakan saja. Namun, saya punya harapan, ijinkanlah sepeda masuk ke kompleks candi. Tentu, tidak naik sampai ke puncak candi.

Semoga pengelola Candi Borobudur, juga Candi Prambanan dan Ratu Boko membaca ungkapan hati saya ini. Soal ini, saya memperjuangkan betul. Mari kembali hargai sepeda. Juga kendaraan-kendaraan lain yang ramah lingkungan seperti andong dan becak. Hmmm, saya harap Mas Harry van Yogya, tukang becak aktivis fesbuk, membaca ini dan mendukung desakan ini. Turunkan itu rambu-rambu yang melarang andong dan becak masuk kompleks candi. Ini kekayaan negeri kita, negeri yang sudah merdeka 65 tahun! Kok malah disingkang-singkang.

Kalau memang di dalam ada persewaan sepeda, seperti kata teman saya Agustinus Danardono, yang tadi bersama keluarga berkunjung di Borobudur, itu baik. Tetapi melarang sepeda luar masuk hanya supaya orang menyewa sepeda, menurut saya, kuranglah baik. Saya punya saran, kalau penyelenggara berdalih melarang sepeda luar masuk supaya tidak bikin semrawut, “tukar” sepeda kami dengan sepeda sewaan. Bebaskan biaya. Gratis? Ya!

Saya punya alasan, yakni supaya orang senang bersepeda. “Penukaran gratis” tadi hanya sebagai insentif atas kesadaran itu. Jogja-Borobudur hanya 40 km, dan cukup 2 jam saja mengawil pedal, lewat rute-rute yang asyik, betapa menarik jika ada kebijakan semacam ini. Jogja-Prambanan hanya 15 km (10 km dari bandara), 30 menit menggowes, juga bisa lewat rute perkampungan yang asri, asyik buat penduduk lokal dan wisatawan. Ratu Boko hanya 3 km dr Prambanan, dengan medan yang menantang bagi pendepak sepeda gunung.

Ada banyak alternatif yang bisa dipikirkan. Jangan hanya cari uang dengan sedikit-sedikit bayar. Parkir bayar, masuk bayar, pakai sepeda bayar, nyengklak kereta wisata bayar. Ribet amah! Memang, pengunjung harus ditarik bayaran untuk ongkos mengelola obyek wisata. Namun, kembalikanlah pertukaran uang-tiket itu dalam bentuk pelayanan yang mengesankan. Selain candi yang megah berdiri, yang dapat disentuh (tangible), Borobudur adalah obyek wisata yang menjual jasa intangible, yang hanya bisa dirasakan, yang hanya bisa diceritakan. Niscaya, jika cara-cara seperti ini dilakukan, para pengunjung akan dengan rela hati suka cita super gembira ria menjadi juru warta, menjadi juru kampanye obyek wisata kebanggan bangsa ini.

Kalau tidak, celakalah kita akan stempel buruk yang akan melekat. Satu pengunjung, seperti saya, kecewa, kabarnya bisa ke mana-mana. Apalagi jika yang kecewa pengunjung yang punya media, seperti Johanes Waskita Utama, wartawan olahraga Kompas, yang meninggali komentar di status saya “Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi” demikian, “cek ke prambanan juga, le, kayaknya sama aturannya. kalo lagi lomba trus rest di yogya, atlet yg rolling ke prambanan kalo gak salah selalu batal masuk krn gak bisa bawa sepedanya…” Nah lu!

Bersama kami dalam rombongan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tadi ada 2 teman wartawan. Yang satu Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku bagus yang sedang hangat jadi perbincangan “Pak Beye dan Istananya”. Satunya lagi Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen. Belum lagi ada Ugartua Rumahorgo, kepala cabang Penerbit Erlangga. Belum lagi Danu Primanto, fotografer pengelola situs wisata http://www.tourjogja.com/. Belum lagi Dedy Kristanto, peneliti di Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma. Belum lagi Anka, yang ibunya mengelola jaringan wisata Ubud-Bali. Belum lagi Andon, Chandra Sena, Sugeng, Bayu, Yuyut, dan teman-teman lulusan dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang hidup mereka sudah sangat akrab dengan internet dan jejaring sosial, yang kelak mereka akan jadi orang penting di tempatnya masing-masing….

Hmmm, sengaja saya sebut nama-nama mereka untuk menunjukkan betapa penyuka sepeda saat ini berasal dari kalangan-kalangan yang sejatinya justru bisa jadi pemasar potensial. Kepada mereka saya hembuskan kampanye “Candi Borobudur obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi”, terutama oleh pesepeda.

Karena tidak asyik, maka tadi kami memilih untuk melihat Candi Borobudur dari luar, dari kampung sebelah kompleks. Kami berpose di kejauhan, dengan latar belakang Candi Borobudur yang tersohor itu, dengan LATAR DEPAN, sepeda yang kami sohorkan.

——

Untuk bangsaku yang kabarnya sudah merdeka ini, aku rindu mendengar kabarmu sudah benar-benar merdeka.

Salam Gowes Merdeka,

Candi Borobudur TIDAK ASYIK dikunjungi, 17 Agustus 2010 AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Gowes Merdeka Jogja-Borobudur

1 Comment

Gratis. Siapa pun boleh bergabung

Selasa, 17 Agustus 2010

Berangkat: Bundaran UGM, pukul 05.00 wib

Tujuan: Candi Borobudur, Magelang

—————————————————–

Anugerah ini bernama kemerdekaan. Indonesia menjadi republik. Hari jadinya kita kenang untuk ke-65 kalinya pada 17 Agustus 2010. Selasa Pahing, hari ke-7 puasa bagi saudara-saudara Muslim.

Rasanya, tak salah jika kemerdekaan ini kita rayakan. Tidak perlu bermewah-mewah, toh harga sembako juga sedang mahal, harga LPG segera dikatrol. Kita tetap bisa merdeka, meski secara ekonomi kita sengsara. Hati kita tetap bisa merdeka, walau …rasa sedang terhimpit. Pikiran kita pun tetap bisa bebas pasung, walau otak kemrungsung.

Bersepeda bisa jadi pilihan. Tanpa perlu beli bensin, cukup seliter air mineral. Kita minum di balik rimbun pohon, jauh dari penglihatan saudara-saudara yang sedang puasa. Kalau bawa sangu dari rumah, mungkin sambel tempe, atau mangut, bolehlah disantap bersama. Kemerdekaan bisa kita maknai sebagai berbagi rejeki.

Puasa juga boleh ikut. Siapa tahu sampeyan justru beroleh barokah lewat gerak raga sambil menahan hawa wadag. Berbagi sedekah? Tentu jauh lebih baik. Kita akan melewati banyak permukiman penduduk, menjumpai banyak petani, juga adik-adik yang mungkin di antaranya butuh petunjuk untuk menggapai mimpi layaknya Andrea Hirata.

Perjalanan kita ke Borobudur. Bukan karya Indonesia merdeka, namun kekayaan Indonesia merdeka. Patut kita mensyukurinya.

Tak jauh jarak Borobudur dari Jogja. Hanya sekira 40 km. Dengan gowesan santai, 2 jam cukup untuk mencapai Candi Buddha yang dibangun Dinasti Syailendra pada abad ke-8 sampai 9 Masehi tersebut.

Berangkat dari Bundaran UGM, supaya segala penjuru bisa menjangkaunya, pada pagi 17 Agustus pukul 05.00 wib, sebelum matahari terbit, kita akan susuri Selokan Mataram, setelah berpamitan pada Balairung UGM pahatan proklamator Soekarno.

Sampai dengan Gamping, kita masih akan menyelinap di tengah permukiman padat penduduk. Namun, sesudahnya, kita akan menari di tengah persawahan, bersama burung-burung pagi, bersama matahari yang menghangati punggung kita.

Selokan Mataram simbol kemakmuran. Air yang menyatukan Progo dan Opak itu simbol kedaulatan Jogja menghadapi penjajah Jepang. Supaya rakyat tidak dicokok menjadi romusha, HB IX meminta “proyek” pada saudara tua. Alhasil, rakyat jadi pekerja saluran air, yang kelak hasil kerjanya mereka nikmati juga. Air berlimpah, sawah-sawah subur, anak-anak lemu-lemu tak kurang pangan. Kita akan menyerap energi itu saat melintasinya.

Ancol, di penghujung Selokan Mataram, menyuguhkan potret keadilan. Air Progo dibendung, dibagi-bagi, supaya seluruh tanah terairi, supaya seluruh jiwa tersirami. Padi yang menguning, pohon-pohon yang menghijau, dan punggung-punggung petani yang legam itu, adalah buah dari pemimpin yang tak serakah.

Sampai di sana, perjalanan relatif datar. Tak ada jalan naik-turun yang curam.

Naik sedikit, jika ingin mendaki lebih tinggi, boleh singgah di Sendangsono. Di sana berdiri patung Maria, ibu Yesus yang anaknya disalibkan untuk kemerdekaan umat manusia, tempat bersimpuh para peziarah yang ingin melepaskan diri dari beban hidup. Kepada Maria, para peziarah itu mohon pertolongan.

Sepuluh kilometer dari sana, menyusuri jalan raya yang sangat nyaman, dan setelah melewati Candi Mendut, sampailah kita di Borobudur. Di sana bersamadi Sang Buddha, Sang Gautama yang memilih keluar dari tembok istana untuk memerdekakan umat manusia.

Sungguh tepat. Semua bertema kemerdekaan. Maka, marilah kita merayakannya. Merdeka!

Tidak dipungut biaya sepeser pun. Silakan membiayai diri sendiri, syukur berbagi dengan teman. Segala risiko senang, gembira, dan bersuka cita, silakan ditanggung sendiri, syukur berbagi dengan saudara. Membawa makanan besar atau kecil, dan minuman panas-dingin, disilakan, untuk disantap sepantasnya.

Berapa pun yang ikut, sepeda akan tetap dipancal. Siapa pun yang ikut, dilarang berhenti di tengah jalan. Menepilah jika berhenti. Semua boleh pulang ke rumah masih-masing, sampai atau tidak di tujuan. Merdeka-merdeka saja.

Boleh mengajak siapa pun, sebagaimana boleh melarang diri sendiri untuk ikut. Ukur sendiri kekuatan fisik dan mental. Syukur ada teman dokter atau para medis yang bergabung. Kalau Anda tidak ikut, Anda pasti akan iri. Tapi kalau Anda ikut, Anda wajib iri dan anan untuk mengayuh pedal.

Salam merdeka!
AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com, http://www.aakuntoa.wordpress.com]