ooo berok kecil e, jalan cepat mau cium Mama e

Aku ingin pulang padamu Lamalera

Kampung asalku di tepi samudra

O o ooooo

Biar naik berok

Dari Larantuka kota Reinha

Mama Sawu jangan marah

Bawa aku sampai selamat

Reff

ooooo

O Lefo Lamalera

Piring Matahari

O Lefo Lamalera

Anak sayang Ina Lefa

Aku rindu Mamaku

Dengan kara di atas kepala

Jalan di pagi buta ke pasar Wulandoni

O berok kecil e

Jalan cepat mau peluk mama e

O berok kecil e

Jalan cepat mau cium mama e

Ingin kulihat lagi

Lamafa ke tengah lautan

Mengambil kiriman Tuhan

koteklema yang kami tunggu-tunggu

Reff

O Lefo Lamalera

Piring Matahari

O Lefo Lamalera

Anak sayang Ina Lefa

Mengapa orang rela berjejal-jejal naik kapal?

Mengapa anak-anak dibiarkan meronta-ronta saat mengantri naik kereta?

Mengapa mereka bersuka-cita menyusur pantura, menunggang sepeda motor kreditan, berbasuh debu, bersahabat dengan lelah dan maut, setiap lebaran tiba?

Mengapa mudik? Kembali ke udik?

Apa yang mereka rindukan dari tanah udik? Tidakkah hidup mereka di rantau telah bermandikan cahaya, sementara tanah udik tanah udik miskin papa? Tidakkah tanah rantau telah memanjakan mereka menggelimangi benda-benda, sementara tanah udik masih bergelimang bebatuan?

Rupanya, ada kegalauan yang hanya bisa ditebus di tanah udik. Haus akan masa kecil yang bersahaja –huh, yang sengsara. Haus akan masa muda yang otentik –huh, yang lugu. Tanah udik, yang tertinggal di belakang peradaban itu ternyata menyimpan deposito rasa yang hanya bisa diambil saat jatuh tempo. Bau tanahnya beda dengan bau beton. Bau keringat Ibu tak terganti bau parfum.

Tanah udik, kaya sejuta rasa, kering yang melunasi dahaga. Mereka perlu pulang supaya hidup mereka di rantau kembali berkilau.

Salam udik,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Keterangan:

Ivan Nestorman, bermusik menduniakan kampung Flores

1. Lagu “Aku ingin pulang” di atas diciptakan dan dinyanyikan oleh Ivan Nestorman, musisi asal Manggarai, Flores, yang tinggal di pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur. Sedang dalam proses rekaman, dan akan disertakan dalam buku tentang Lamalera yang akan segera diterbitkan.

2. Lamalera adalah kampung (lefo) nelayan di ujung timur Flores. Perlu menyeberang laut Sawu dari Larantuka ke Reinha, menumpang perahu (berok) untuk menjangkau kampung berbendera merah-putih yang belum terjangkau listrik dan sinyal telepon selular itu. Kampung ini terkenal dengan tradisi penangkapan ikan paus (koteklema) yang dipimpin oleh seorang lamafa. Wulandoni adalah nama pasar tradisional yang masih mempertahankan pertukaran barang dengan barang (barter) dalam bertransaksi.

Gambar sampan dipinjam dari sini.

Gambar Ivan Nestorman dicuplik dari sini.