Ngaca, Baru Nuding

Leave a comment

Tingkat pendidikan, preferensi keilmuan, atribut kerohanian, ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kematangan emosional. Semakin tinggi jenjang sekolah seseorang, belum tentu ia sudah mencapai lagit ketujuh kebijaksanaan. Semakin luas penjelajahan studinya, belum menjamin kedalaman pemahaman kealamrayaan. Singgasana lembaga keagamaan yang megah pun belum menjamin keutamaan seseorang dalam membadankan butir-butir imannya.

Saya niteni, kematangan emosional dan spiritual seseorang tidak ada kaitannya pula dengan usia biologisnya. Semua kematangan itu mengental dari proses pembenturan yang berani atas setiap peristiwa hidup yang ditemuinya. Semakin orang mau mengaduk-aduknya hingga tanak, semakin kejiwaannya pulen. Dan ini tidak gampang. Butuh ketekunan dan kesungguhan dalam mendialogkan aksi dengan refleksi. Butuh keberanian dan kejujuran dalam membadankan refleksi ke dalam aksi.

Dan belakangan, saya sedang bergulat keras dengan dialog itu. Ada seorang teman kerja yang memaksa saya menekuni kembali dialog aksi-refleksi itu. Untuk pula mengendapkan makna bersikap proaktif; memilih respon sesuai nilai-nilai tertentu yang saya yakini baik. Ia gencar menggedor saya dengan stimulus buruk.

Saban saya ketemu dia, entah dalam tatap muka, telepon, sms, atau email, kata-kata yang keluar dari dirinya selalu bernada keluhan. Wajahnya selalu menjadi etalase atas beban hidup yang ditanggungnya. Dan ia berusaha menumpahkan beban itu lepas darinya.

“Tidak bisa begini. Kapan saya bekerja kalau setiap hari harus berurusan dengan tanda tangan ini tanda tangan itu….”

“Mereka tidak tahu kalau pekerjaan saya begitu banyak….” Sembari membuka-buka surat undangan menjadi pembicara seminar.

“Lebih baik saya pergi dari kota ini kalau saya tidak bisa tenang seperti sekarang….” Sambil menutup ruang kerja rapat-rapat, memberi tanda seolah ia tidak berada di tempat.

Dunia ini begitu gelap di matanya. Orang-orang di sekitarnya seperti monster yang siap menerkamnya. Ia selalu ingin meninggalkan kenyataan ini. Aneh. Sebab, setahu saya, dalam spiritualitas yang ia dan komunitasnya yakini, hidup ini justru makin berkualitas dalam kemampuan menghadapi, menyelami, melalui, dan melampauai kenyataan. Bukan mengabaikan, apalagi meninggalkan.

Rasa heran ini, dalam keheningan, membawa saya dalam permenungan. Bukankah saya dikaruniai pikiran, akal budi, dan olah rasa dalam hidup ini? Kebebasan? Kreativitas? Imajinasi?

Ya, saya punya itu. Maka, keluhan rekan kerja itu justru mempertebal keyakinan saya akan mendesaknya latihan mematangkan aspek emosional dan spiritual dalam hidup sehari-hari. Tanpa harus menjadi seperti dia, yang “hebat” dari aspek mana pun menurut pandangan orang pada umumnya, saya bisa berlatih sejak sekarang.

Dengan cara apa? Memeriksa diri dan menerjemahkan apa yang dikehendaki-Nya atas saya. Hidup saya, saya sepenuhnya yang menentukan. Bukan orang lain. Baik-buruk saya, bukan orang lain yang menyulap. Saya yang mengusahakan. Tentu saja 100% berkat kemauan Gusti yang mengutus saya hidup.

Cara pandang atas rekan saya pun berubah. Saya memilih respon positif. Biarlah dia mengeluh seolah-olah dia orang yang paling susah di dunia ini; orang paling dibutuhkan di kota ini; orang paling sibuk di lalu lintas obrolan. Biar saja. Tak perlulah saya menjadi muram gara-gara kelakuannya. Tak perlu saya pusing atas kekanak-kanakannya.

Senyum saja. Dan benar. Dengan senyum, saya menemukan cara ajaib yang ditransfer gratis oleh Sang Pemilik Hidup. Ngaca. Baru nuding? Lah, nuding di kaca kan nuding diri sendiri? Emang iya. Tapi lebih baik gitu, daripada nuding dulu tanpa sadar bahwa yang di dalam cermin itu elo sendiri.

Advertisements

Reuni: mukakumukamumukakita

Leave a comment

Bertemu teman lama selalu mengasyikkan. Bukan sekadar demi meromantisasi masa lalu. Bukan. Justru untuk memutar ulang tujuan hidup ke depan. Pertemuan dengan teman lama selalu mengingatkan pada cita-cita. Itu pula yang saya rasakan Sabtu (23/8) lalu di kampus almamater saya, SMA Kolese de Britto.

Banyak teman lama datang di reuni akbar yang sekaligus bebarengan dengan lustrum XII sekolah khusus cowok ini. Ada yang teman seangkatan, dan lebih banyak lagi teman beda angkatan. Ada yang sudah kakek. Ada yang bapak. Ada yang kakek-kakek meski bukan kakek. Ada yang bapak-bapak meski belum jadi bapak. Ada pula yang banci, atau setidaknya metroseksual. Ada yang gagah, ada yang terhuyung-huyung. Hmm… tua… menua… tau-tau tua…

Lengkaplah teman-teman saya. Semua teman, semua saudara. Apa pun. Bagaimana pun. Saya begitu bangga pada almamater ini. Kolese de Britto. Lebih dari almamater yang lain, termasuk UGM sekali pun. Saya tidak bangga menjadi alumnus di kampus terakhir itu. Arah hidup, pilihan sarana mencapai itu, semangat “magis” saya digembleng di sana. Tidak sekadar kecerdasan intelektual. Persahabatan dengan semua suku, agama, status sosial diasah betul di kampus yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto, Jogja ini.

Mengapa saya bangga? Karena bekal itu yang selalu menguji saya dalam setiap langkah. Selalu. Setiap hendak berbuat sesuatu, setiap hendak membuat keputusan kecil atau besar, saya selalu disentil akan pertanyaan tentang “arah hidup”. Ad Maiorem Dei Gloriam – Demi Kemuliaan Allah yang Semakin Besar menjadi batu penjuru yang selalu memanggil ketika persimpangan hidup seolah membingungkan. Dengan semangat itu, tidak lebih penting bagi saya menjadi “siapa” daripada “saya sudah berbuat apa untuk siapa?”. Pertanyaan lanjutan, “Apakah yang saya lakukan itu sudah sesuai dengan kehendak-Nya? Atau demi ego saya semata?”

Maka, bertemu teman lama adalah bertemu dengan batu penjuru itu. Dengan mereka, saya mencermati, siapa saja yang hidupnya selaras dengan spiritualitas De Britto, dan siapa yang sudah melupakannya. Alhasil, pertemuan dengan mereka adalah refleksi berharga untuk to men for and with others. Di mana pun. Kapan pun.

Aku, Andaryoko, Supriyadi

1 Comment

Tidak ada hubungan apa-apa. Hanya mau menyebut dalam satu deret berjajar tiga. Aku, Andaryoko, Supriyadi.

Aku tidak selalu aku. Aku adalah keakuan. Begini caraku memberi batas. Supaya keakuan ini menepi dari aku. Supaya tidak seperti mereka-mereka yang sedang menimang keakuannya di hadapan mereka, di hadapan orang lain.

Risih memang dengan keakuan. Seolah semua bermuara pada diri ini. Mereka, orang lain itu, tidak punya kontribusi apa pun. Sebab, semua sumbangsih itu milik diri ini semata. Dan inilah yang sedang memusim di sekitarku hari-hari belakangan. Ketika seseorang menyatakan diri sebagai Supriyadi, pahlawan PETA yang memimpin pemberontakan pada Jepang di Blitar, 14 Februari 1945. Supriyadi itu aku. Aku itu Andaryoko. Dan aku yang menulis ini bukan Supriyadi bukan Andaryoko, pun bukan yang bukan Supriyadi dan bukan yang bukan Andaryoko. Aku ya aku yang ini.

Media yang menggaruk pengendusannya. Mereka berlomba mendukir fakta terpendam secepat-cepatnya? Hmmm, cekatannya seperti tim puslabfor Polri yang mengeduk kuburan korban pembantaian Ryan. Seluruh pekarangan disasak. Diejalah setiap fakta yang dijumpa. Dijereng-jereng hingga menjadi jemuran narasi yang mengagumkan.

Dan memang mengagumkan narasi itu. Semua televisi menayangkan “penemuan” mereka. Juga radio, koran, dan internet. Dengan fakta dan narasumber yang paling jagoan, dengan kemasan yang paling cantik, lomba “lari karung berita” menjelang peringatan kemerdekaan RI, bersaing dengan lomba lari kelereng. Pincang, sebenarnya.

Juga tak kalah heboh perlombaan menjadi narasumber. Tidak semua karena inisiatif mereka. Tak jarang karena permintaan media. “Aku tahu…” “Aku yakin…” “Aku berpendapat…” Lalu semua bicara. Subjeknya yang mana? Aku, Andaryoko, atau Supriyadi?

Ini sekelumit uneg-uneg di seputar penerbitan buku Galangpress Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno karya Dr Baskara T Wardaya. Unik. Heboh. Menggelikan. Aku, yang menulis uneg-uneg ini, tidak tahu siapa “aku” yang sejati, yang berguna, di antara keakuan-keakuan itu.

Oka

6 Comments

Lahir Rabu, 30 Juli 2008, Oka urung jadi warga jagat raya. Ia kembali ke Allah, pemiliknya. Usia janin itu belum genap 4 minggu ketika ia lahir. Belum berbentuk, tapi sudah ada kehidupan padanya.

Sang Ibu sedih bukan kepalang. Bayangan menimang momongan pupus sudah. Ia meratapi diri karena tak bisa menjaga kandungannya. Aktivitasnya yang padat menghanyutkannya dalam letih dan lelah. Ibu muda ini memang kuat. Ujung-ujung nusantara sudah dijelajahinya. Dan tiada soal semua. Rasa capek selalu bisa ia tampik. Pegal di pundak selalu bisa ia lumat. Kesibukan adalah napasnya.

Ibu muda ini tidak tahu bahwa telah ada kehidupan di rahimnya. Sakit kepala yang dikeluhkannya beberapa hari dikiranya cuma pusing biasa layaknya orang yang sedang menanggung banyak pekerjaan. Karenanya ia menolak ketika ada ajakan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Baru ketika menstruasi pagi itu tidak sama dengan seluruh menstruasi di sepanjang hidupnya, ia menyesal. Bidan yang memeriksa gumpalan darah datang bulannya menyatakan, “Sudah terjadi pembuahan….” Marahlah ia pada dirinya sendiri. Seperti hendak memutar kembali waktu, ia berandai-andai tahu kondisinya sebelum kejadian itu. Dengan pengandaian itu, ia pasti akan melindungi makhluk lemah yang dikandungnya.

Malam-malam sesudah pagi itu seperti malam yang tidak berujung. Jika teringat, ia menangis. Saat belum larut, ia sudah melarutkan diri di kamar. Selain karena pengaruh obat, ia juga seperti ingin lekas membungkus harinya dengan mata mengatup. Ia juga seperti berharap malam-malam ini lebih panjang dari sebelumnya. Membuka mata, tampaknya, seperti membuka luka. Maka, setiap matahari sudah mengangkasa pun, ada keengganan untuk beranjak. Dengan alasan perut sakit dan kepala berat, ia selalu berusaha membenamkan diri di tempat tidur.

Suaminya bukan tidak sedih. Suami pun merasakan apa yang dirasakan istrinya. Rasa kehilangan, duka yang mendalam. Harapannya untuk segera menggendong anak, menuntunnya jalan di rerumputan, memboncengkannya menyusuri sesawahan, membasuh seluruh badannya di kamar mandi, dan menggodanya dengan kecupan-kecupan kecil saat bocah itu sudah nyaris memejamkan mata di pelukan ibunya… Sang pemilik kehidupan sejati menyodori kenyataan lain. Dan sang suami menyadari, ada rahasia lebih besar di balik duka ini. Pasti. Imannya menuntun ke sana.

Hari-hari sang suami kini untuk menemani istri. Dengan menelepon di tengah-tengah bekerja. Dengan mendengarkan keluh-kesah sesampai di rumah. Dengan mengecup kening dan membisikkan semangat hidup di saat berangkat kantor. Menguatkan. Membesarkan hatinya supaya tidak menanggalkan rasa bersalah. Mendoakan. Ia paham betul bagaimana perasaan istrinya. Juga paham bagaimana ujian ini sebaiknya dipikul bersama.

“Mau mencintai dalam suka dan duka, dalam untung dan malang,” sang suami terus berusaha dengan caranya menyatakan cinta. Kepada istrinya, kepada Oka anak mereka.

Dalam doa di puncak malam, keduanya menitip rindu untuk Oka: bahagialah kamu di surga, Nak…