Ada yang Beda, Hati Kita

2 Comments

Mbah Mulyowiyono dan Mbah Kismorejo, kakak beradik

Begitu-begitu saja. Datang, mengisi buku tamu, bersalaman dengan penerima tamu, makan, duduk, ngobrol, mendengarkan sambutan dan petatah-petitih, sungkem, lalu pulang. Sedari saya kecil, acara syawalan Trah Pawirodikromo nyaris tak pernah berubah. Formal, datar, menjenuhkan.

Kok saya tetap mau datang? Bagi saya, menjenuhkan atau tidak itu bergantung pada cara pandang dan cara menerima. Jika hati kita tidak sedang longgar, apa pun terasa hambar. Sebaliknya, jika sedang berbunga-bunga, tai kucing pun berasa coklat, begitu ungkapan ngawur yang populer itu.

Apakah saya sedang berbunga-bunga? Tidak juga. Sedang suntuk malah. Musim kemarau bukan saja telah menggersangkan pekarangan, namun juga turut menyedot sumber-sumber penghasilan. Zaman sedang susah. Saya tak kurang susah. Usaha belum berjalan seperti yang saya inginkan. Tahap merintis rupanya perlu saya lakoni jatuhnya. Bangunnya? Saya berusaha untuk mampu melakukannya.

Nyatanya, kita tak pernah sendiri di dunia ini. Baik gembira maupun susah, selalu ada orang lain yang juga gembira dan susah. Ada yang takarannya sama persis, ada yang kurang sedikit, namun banyak juga yang dosisnya lebih tinggi.

Ada saudara kita yang lebih membutuhkan

Seperti siang itu, Rabu, 31 Agustus 2011, tanggal merah kedua libur lebaran, hari pertama lebaran versi pemerintah, nubuat itu tergenapi. Ketika saya merasa susah, nyatanya ada yang lebih susah. Susah saya pun tidak lagi berguna.

“Bapak-Ibu sekalian, kami akan membagikan kotak sumbangan. Ada 2 saudara kita yang rumahnya tertimbun material erupsi Merapi. Sampai sekarang mereka belum punya rumah, masih tinggal di shelter,” Pak Santoso, paman saya, yang membawakan acara, menyampaikan pengumuman itu sesaat sebelum kami sungkem ke simbah-simbah. Aura duka merebak. Apalagi, tempat kami berhimpun tak jauh dari Sungai Gendol, salah satu sungai terparah yang dialiri lahar dingin.

Saya tidak punya uang banyak. Sudah 2 lebaran saya tidak menerima THR sejak saya memutuskan berwirausaha tahun lalu. Saya justru punya kewajiban memberi THR untuk karyawan.

Meski tak banyak, sudah berulangkali saya ikut serta dalam acara penggalangan dana untuk korban Merapi. Saya selalu ikut menyumbang. Ah, jumawa amat, batin saya. Menyumbang tak seberapa, besar kepalanya tak kira-kira. Ampun!

Saya tertegun. Faktanya, masih ada saudara yang belum punya rumah. Mereka masih berkesusahan. Tak punya rumah, tak boleh kembali ke kampung asal, kehilangan mata pencaharian, entah sampai kapan mereka wajib tinggal di barak pengungsian. Dan, mereka masih saudara saya!

Ternyata saya tak sesusah mereka. Meski masih nebeng di rumah orangtua, toh saya tinggal di rumah sendiri. Saya masih minum dari sumur sendiri, makan salah memetik di kebun sendiri, dan mengunduh sirsak dari pohon sendiri.

Meski susah karena lagi bokek, toh saya masih bisa bekerja, masih bisa menjalankan usaha, masih punya kesempatan mencari uang.

Mungkin, apa yang saya rasakan juga dirasakan saudara-saudara yang hadir pada syawalan trah siang itu. Mereka merogoh tas dan dompet lalu menyemplungkan sejumlah rupiah. Sejumlah saudara yang sejatinya juga korban pun tampak turut menyumbang.

Hasilnya tak besar, tak sebanyak nominal yang terpajang di layar MetroTV dan TV One, namun rasa kebersamaan begitu terasa. Syawalan trah kali ini beda.

Salam hangat,
AA Kunto A
[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Advertisements

Syawalan Trah Pawirodkromo-Kumendung

1 Comment

Bukan cerita tentang trah darah biru, melainkan trah petani. Selasa, 22 September lalu, keluarga besar Trah Pawirodikromo menyelenggarakan halal bi halal dan syawalan di sebuah kampung di Pakem, lereng selatan Merapi. Menurut panitia, keluarga yang hadir mencapai lebih dari 700-an orang, belum termasuk keluarga Trah Gunopawiro yang menjadi tuan rumah.

Dan untuk menghimpun banyaknya anggota trah, untuk kesekian kali, pengurus trah menerbitkan buku daftar keluarga, lengkap dengan nomor induk yang melekat pada masing-masing orang. Kebetulan, kali ini, saya yang berkesempatan menuliskan pengantar untuk buku yang berisi sekitar 1.200 nama tersebut. Tahun-tahun sebelumnya pengantar menggunakan bahasa Jawa, sekarang menggunakan bahasa Indonesia untuk mengakomodasi generasi muda.

isi daftar hadir dulu ya

isi daftar hadir dulu ya

Mengingat Mbah Pawirodikromo

oleh AA Kunto A (3.7.1.1)

Lebaran selalu menjadi hari yang istimewa bagi keluarga besar Trah Pawirodikromo. Pasalnya, seluruh putra-cucu-buyut-canggah Kyai-Nyai Pawirodikromo berkumpul. Di tempat yang selalu berpindah-pindah pada “tanggal merah kedua” Hari Raya Idul Fitri, pertemuan keluarga yang dibingkai dalam acara halal bi halal digelar. Tak kurang dari 700-1.000 orang menyatu.

Sebegitu banyak orang? Benar. Bagaimana tidak, Kyai-Nyai Pawirodikromo memiliki 18 putra. Mereka terdiri dari:

  1. Kyai Pawirodiryo (Kumendung)
  2. Kyai Pawiroyudo (Joholanang)
  3. Kyai Wiropawiro (Kumendung)
  4. Kyai Gunodiharjo (Pakem Tegal)
  5. R. Ngt. Sutodiryo (Kledokan)
  6. Kyai Mertodiharjo (Maknorejo)
  7. Kyai Kromodiharjo (Pakem Tegal)
  8. R. Ngt. Pawirodinomo (Tegal Telan)
  9. Kyai Cokroatemo (Kumendung)
  10. Kyai Sutopawiro (Cemoroharjo)
  11. Kyai Notoutomo (Pakem Gede)
  12. R. Ngt. Harjowinoto
  13. Kyai Pawirosentono (Kumendung)
  14. Kyai Partodimejo (Baratan)
  15. Kyai Gunopawiro (Cemoroharjo)

antri sungkeman

antri sungkeman

Luar biasa. Dari 2 orang menjadi 18, lalu menjadi ribuan. Dari dusun kecil Kumendung di lereng selatan Gunung Merapi menyebar hingga seluruh negeri, bahkan ada yang di luar negeri. Dari sepasang petani berturun-temurun menjadi guru, pegawai negeri, pengusaha, dosen, tentara, politisi, petani, dan beraneka profesi lainnya.

Jika Mbah Pawirodikromo masih “sugeng”, tentulah beliau akan bangga melihat keturunannya beranak-pinak sedemikian banyak. Beliau pasti lebih bangga lagi ketika menyaksikan putra-wayahnya hidup rukun, pintar, dan memiliki kiprah yang besar bagi masyarakat.

Ngumpulke balung pisah

Pertemuan trah setiap Hari Raya Idul Fitri, sedari awal digagas untuk merawat tali persaudaraan sebagai sesama putra-wayah Mbak Pawirodikromo. Dan lebaran dipilih karena orang punya tradisi mudik, pulang kampung, menengok orangtua, dan saling bermaafan di antara saudara yang jarang bersua. Dengan kata lain, pertemuan trah menjadi simpul dari jejalin hubungan sosial dan spiritual.

Supaya simpul itu makin erat, pengurus trah merintis penyusunan buku silsilah keluarga. Sudah sejak lama rintisan ini dijalankan. Pengurus menghimpun data keluarga secara lengkap, mulai dari nama (termasuk nama suami/istri), nama anak dan cucu, alamat tempat tinggal, dan keterangan tahun kematian. Pendataan dan penyusunan buku ini diharapkan membantu keluarga besar trah untuk saling mengenal satu sama lain.

Bukan pekerjaan yang mudah. Persoalan mendasar, tradisi mencatat nama keluarga tidak ada. Hampir semua berdasarkan ingatan. Maka, acapkali, nama orang mengalami perbaikan karena salah penulisan. Nama tempat tinggal pun tidak lengkap. Alhasil, kita akan banyak menjumpai penulisan nama panggilan saja tanpa nama lengkap seperti Wawan, Alek, atau Nuri. Juga, penyebutan alamat yang hanya “Jakarta”, “Jabar”, “Palembang”, tanpa kejelasan lebih.

canggah mbah ketiga

chandrasena (3.7.1.3) menuntut mbah mulyowiyono (3.7)

chandrasena (3.7.1.3) menuntun mbah mulyowiyono (3.7)

Syukurlah, sedikit demi sedikit ada kesadaran untuk melengkapi data di atas. Lewat komisaris perwakilan trah kecil, pembaruan data dikumpulkan. Meski tidak setiap tahun, buku silsilah ini pun terus dianyari. Seiring perkembangan teknologi, ketidakkompletan alamat, misalnya, bisa ditebus dengan informasi tentang nomor telepon rumah/selular yang bisa dihubungi.

Besar harapan kita, setiap anggota trah mau memberikan informasi tentang data diri dan keluarga ini demi semakin sempurnanya buku ini. Bagi sedulur-sedulur muda, atau yang makin akrab dengan teknologi komunikasi, data tentang alamat e-mail, facebook, twitter, atau jejaring sosial lainnya kami anjurkan untuk dibagikan. Tujuannya konkret, supaya hubungan persaudaraan makin erat. Jarak pun makin tipis. Kita jadikan perangkat-perangkat maya tersebut sebagai medium bersilaturahmi.

Usaha gigih pengurus pun terbukti membuahkan hasil. Berkat kerjasama dari keluarga besar trah yang membantu mengumpulkan data, kalau kita perhatikan, ada yang sungguh-sungguh baru di buku trah kali ini. Coba bandingkan dengan buku trah sebelumnya.

Panjenengan benar. Sebelum ini, dari 18 nama putra/putri Mbah Pawirodikromo, baru 13 yang diketahui identitas dan keluarganya. Yang 5, yakni nomor 13-17 kosong-mlompong. Yang terlacak hanya nomor 1-12 dan 17.

Kini kita boleh sedikit berlega hati. Dua nama yang “hilang” telah ditemukan, yakni Kyai Pawirosentono, putra nomor 14 yang lenggah di Kumendung, dan Kyai Partodimejo, putra nomor 15 yang lenggah di Baratan. Sejatinya, putra-wayah dari kedua Mbak sudah mengikuti pertemuan trah. Namun, silsilah mereka baru berhasil dirampungkan.

Berdasarkan pengalaman ini, maka besar harapan kita, silsilah keluarga 3 Mbah yang belum juga tuntas bisa lekas dipungkasi. Dengan begitu, makin kompletlah daftar keluarga besar Trah Pawirodikromo.

Ngopeni manfaat

Banyak dari kita sudah membuktikan manfaat dari kelengkapan data di buku ini. Saat hendak “ngulemi” entah untuk mantu, sunatan, atau hajatan lain, buku ini menjadi acuan dalam penyusunan daftar tamu undangan. Berkat buku ini, pernyataan “mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan, nama, gelar, dan alamat” bisa diminimalkan. Nama dan alamat akan tertulis dengan tepat.

Situasi lain yang perlu disebutkan adalah ketika terjadi “sripah”. Biasanya, sripah selalu diselimuti suasana serba mendadak dan kemrungsung. Juga kesedihan. Padahal, kabar duka harus segera disampaikan kepada kerabat dan handai taulan. Berdasarkan pengalaman, penyusunan berita lelayu bukanlah pekerjaan yang enteng. Tidak setiap keluarga duka tahu persis siapakah yang harus dilayati. Tetangga kiri-kanan pun kerap tidak paham keluarga besar dari almarhum/almarhumah yang perlu dikabari. Kalau pun tahu, selain namanya tidak lengkap, alamat tujuan pun tidak jelas. Ini sangat membingungkan bagi petugas yang diutus menyebar berita lelayu. Untunglah ada buku trah ini. Tidak ada lagi nama yang terlewat untuk dikabari.

trah petani, penggarap sawah dan tegalan

trah petani, penggarap sawah dan tegalan

Bagi kita yang memiliki mobilitas antarkota yang tinggi, faedah buku ini pun begitu melimpah. Kita punya saudara yang tersebar di hampir seluruh daerah di Indonesia. Betapa ayemnya hati kita ketika menyadari bahwa di suatu kota kita punya saudara. Kita bisa mampir, baik sekadar beranjangsana, hingga syukur-syukur bisa mendapatkan tumpangan tidur. Saudara yang kita singgahi pun pasti tak kalah girangnya. Sebagai perantau, mendapat kunjungan dari saudara se-simbah tentulah seperti mendapatkan setetes air pelega dahaga. Di tanah rantau, persaudaraan itu mahal.

Yang tak kalah pentingnya adalah guyonan yang pernah disampaikan almarhum Bp Sigit Wruhantoro di suatu kesempatan pertemuan trah di Pakem Tegal beberapa waktu sebelum beliau meninggal. Kurang lebih beliau mengatakan, “Salah satu tujuan ikut trah adalah mengenali saudara kita. Jangan gara-gara tidak kenal, suatu saat menggoda wanita cantik di lampu merah eee… ternyata pernahe bulik.”

Monumen Kumendung

Nama Kumendung sangat legendaris bagi keluarga besar Trah Pawirodikromo. Ada rasa hormat dan takzim tatkala mengaku diri sebagai “putra wayah Mbak Mendung”. Juga, ada rasa tanggung jawab untuk melestarikan pesan Simbah agar senantiasa hidup rukun sebagai saudara.

tugu, tetenger untuk mengingatkan pesan simbah

tugu, tetenger untuk mengingatkan pesan simbah

Untuk semakin memudahkan ingatan kita akan Mbah Pawirodikromo, pengurus trah telah mendirikan monumen batu di Kumendung. Monumen itu berdiri kokoh di halaman joglo Bapak Kismorejo (3.8). Bentuknya tinggi bulat, menandakan semangat untuk nggayuh cita-cita setinggi langit, dan bulat sebagai simbol ikatan persaudaraan yang solid. Monumen itu dirancang oleh Bapak Murjiyo, kakak ipar Bapak Gunawan (3.8.2).

Monumen itu hanyalah batu. Namun, itu batu penjuru, tempat spirit Simbah tersimpan. Dengan begitu, ke mana pun kita pergi, ke mana pun kita bertugas melaksanakan amanat kehidupan, kita selalu mengingat betapa mewah harta peninggalan Simbah. Kita bisa seperti sekarang berkat pengorbanan Simbah semasa sugengnya. Semoga kita sanggup memikul dhuwur amanat Mbah Pawirodikromo.