Batas Naluri

Leave a comment

Dunia kian melesat. Teknologi telah memungkinkannya. Akrobat-akrobat imajiner semakin menggusur pergerakan-pergerakan linear.

Banyak orang keranjingan oleh kecanggihan teknologi ini. Lebih dari keranjingan, malah ada yang kecanduan. Oleh mereka, teknologi telah menjadi organ tubuh yang amat vital, yang menyatu, yang karenanya tidak boleh dilepaskan. Mereka akan kesakitan, semacam sakaw, jika alat-alat canggih ini mrucut dari genggaman. Meradang, mengerang, menggelinjang tak keruan.

Barack Obama salah satu orang itu. Teknologi, yang mengantarnya menjadi Presiden AS ke-44, membuatnya belingsatan ketika Secret Service membatasi penggunaannya. Demi alasan keamanan, baik keamanan dirinya maupun keamanan negara, arus informasi yang masuk ke dan keluar darinya dienkripsi sangat ketat. Blackbarry yang melekat di pinggangnya dicokok dari kehidupannya.

Tentu Obama keberatan dengan perlakuan ini. Ia merasa dirampas dari pergaulan hidup sehari-hari. Ketika ia menjadi seorang yang begitu berkuasa, ternyata ada ruang tertentu yang luput dari jangkauannya. Ia mesti patuh pada aturan ini.

Memang, akhirnya, fasilitas itu tetap boleh digunakannya. Tapi sekali lagi, tentu dengan pembatasan sangat ketat. Semua informasi yang melibatkannya akan dipantau tanpa berkedip.

Ironis. Ternyata kekuasaan itu berbatas. Bahwa secanggih apa pun teknologi, ia memiliki batas. Dan batas paling kuat itu adalah ketakutan penggunanya akan kekuatan teknologi itu sendiri.

Manusia selalu menjaga nalurinya: menguasai, bukan dikuasai.

Advertisements

Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44

Leave a comment

Bayangan saya jadi kenyataan. Pasti ini juga dibayangkan banyak orang di dunia. Hari ini Obama jadi presiden Amerika Serikat ke-44. Tengah malam nanti waktu Indonesia Barat, presiden kulit putih pertama negara adidaya itu akan diambil sumpahnya.

Posting saya 3 September tahun lalu kini hadir di depan mata. Ada harapan. Harapan tentang perubahan. Menjadi lebih baik. Kita tunggu isi pidato pertamanya nanti.

Yang terang, hiruk-pikuk media massa hari-hari belakangan begitu gemuruh. Sepertinya, dunia menanti saat-saat bersejarah ini. Kenya, negeri miskin tempat keluarga Obama berasal, tempat ayah Obama menjadi ahli ekonomi, diberitakan turut pula menyiapkan pesta.

Media massa Indonesia pun tak kalah langkah. Sebagian besar mengambil angle pemberitaan Obama dari aspek kesaksian saudara Obama di Indonesia. Juga dari gurunya sewaktu sekolah di Menteng. Juga dari teman-teman semasa kecilnya.

Maka, semua terasa dekat. Semua merasa memiliki Obama, memiliki peristiwa bersejarah ini. Lalu, semua andil bagian dalam rasa syukur ini. Akankah “rasa” ini kemudian akan membawa perubahan dalam semangat AS merangkul dunia? Barangkali terlalu berlebih, tetapi boleh saja sebagai harapan. Dengan kedekatan rasa memiliki kepada Obama, dan kepada Amerika Serikat, maka kelak jika ada sesuatu yang mengganjal dalam keputusan-keputusan AS, teguran pun akan terlayangkan dengan lebih lembut. Komunikasi yang terbangun dalam relasi kedekatan emosional diharapkan lebih kena sasaran. Itu harapan.

Harapan pantas diletakkan. Bahwa nanti kenyataan belum tentu sesuai dengan kenyataan, itu aspek lain. Yang terang, tak ada kenyataan yang lebih baik tanpa diawali dengan harapan yang baik. Kita berharap.