Candi Borobudur TAK ASYIK Dikunjungi

5 Comments

“Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi.”

PS: silakan sebarkan catatan ini ke teman-teman penggowes dan pengelola obyek wisata. mari kita perjuangan supaya Candi Borobudur, dan obyek wisata lain milik bangsa Indonesia merdeka ini, ramah kepada moda transportasi ramah lingkungan.

—————

Tepat pukul 10.00 wib 17 Agustus 2010 tadi, barisan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tiba di tujuan. Di depan papan nama “Taman Wisata Candi Borobudur” kami ber-15 merayakan 65 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Tangan kiri mengepal ke udara.

Hanya di depan papan nama saja. Tidak masuk ke dalam. Sebab, sepeda tidak boleh dibawa serta ke dalam. Harap parkir di luar, di tempat sembarangan penitipan kendaraan.

Menurut petugas jaga, sudah setahun larangan itu berlaku. Ia tidak tahu alasannya. Ah, kemunduran jika begitu. Sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Tidak menyebabkan polusi, selain bau keringat pengendaranya. Ups, bukankah pohon-pohon yang bijaksana itu bersedia menghisap bebauan polutif ini?

Saya kecewa tentu saja. Entah teman yang lain. Memang, peraturan seperti itu kewenangan pengelola lokasi. Silakan saja. Namun, saya punya harapan, ijinkanlah sepeda masuk ke kompleks candi. Tentu, tidak naik sampai ke puncak candi.

Semoga pengelola Candi Borobudur, juga Candi Prambanan dan Ratu Boko membaca ungkapan hati saya ini. Soal ini, saya memperjuangkan betul. Mari kembali hargai sepeda. Juga kendaraan-kendaraan lain yang ramah lingkungan seperti andong dan becak. Hmmm, saya harap Mas Harry van Yogya, tukang becak aktivis fesbuk, membaca ini dan mendukung desakan ini. Turunkan itu rambu-rambu yang melarang andong dan becak masuk kompleks candi. Ini kekayaan negeri kita, negeri yang sudah merdeka 65 tahun! Kok malah disingkang-singkang.

Kalau memang di dalam ada persewaan sepeda, seperti kata teman saya Agustinus Danardono, yang tadi bersama keluarga berkunjung di Borobudur, itu baik. Tetapi melarang sepeda luar masuk hanya supaya orang menyewa sepeda, menurut saya, kuranglah baik. Saya punya saran, kalau penyelenggara berdalih melarang sepeda luar masuk supaya tidak bikin semrawut, “tukar” sepeda kami dengan sepeda sewaan. Bebaskan biaya. Gratis? Ya!

Saya punya alasan, yakni supaya orang senang bersepeda. “Penukaran gratis” tadi hanya sebagai insentif atas kesadaran itu. Jogja-Borobudur hanya 40 km, dan cukup 2 jam saja mengawil pedal, lewat rute-rute yang asyik, betapa menarik jika ada kebijakan semacam ini. Jogja-Prambanan hanya 15 km (10 km dari bandara), 30 menit menggowes, juga bisa lewat rute perkampungan yang asri, asyik buat penduduk lokal dan wisatawan. Ratu Boko hanya 3 km dr Prambanan, dengan medan yang menantang bagi pendepak sepeda gunung.

Ada banyak alternatif yang bisa dipikirkan. Jangan hanya cari uang dengan sedikit-sedikit bayar. Parkir bayar, masuk bayar, pakai sepeda bayar, nyengklak kereta wisata bayar. Ribet amah! Memang, pengunjung harus ditarik bayaran untuk ongkos mengelola obyek wisata. Namun, kembalikanlah pertukaran uang-tiket itu dalam bentuk pelayanan yang mengesankan. Selain candi yang megah berdiri, yang dapat disentuh (tangible), Borobudur adalah obyek wisata yang menjual jasa intangible, yang hanya bisa dirasakan, yang hanya bisa diceritakan. Niscaya, jika cara-cara seperti ini dilakukan, para pengunjung akan dengan rela hati suka cita super gembira ria menjadi juru warta, menjadi juru kampanye obyek wisata kebanggan bangsa ini.

Kalau tidak, celakalah kita akan stempel buruk yang akan melekat. Satu pengunjung, seperti saya, kecewa, kabarnya bisa ke mana-mana. Apalagi jika yang kecewa pengunjung yang punya media, seperti Johanes Waskita Utama, wartawan olahraga Kompas, yang meninggali komentar di status saya “Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi” demikian, “cek ke prambanan juga, le, kayaknya sama aturannya. kalo lagi lomba trus rest di yogya, atlet yg rolling ke prambanan kalo gak salah selalu batal masuk krn gak bisa bawa sepedanya…” Nah lu!

Bersama kami dalam rombongan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tadi ada 2 teman wartawan. Yang satu Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku bagus yang sedang hangat jadi perbincangan “Pak Beye dan Istananya”. Satunya lagi Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen. Belum lagi ada Ugartua Rumahorgo, kepala cabang Penerbit Erlangga. Belum lagi Danu Primanto, fotografer pengelola situs wisata http://www.tourjogja.com/. Belum lagi Dedy Kristanto, peneliti di Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma. Belum lagi Anka, yang ibunya mengelola jaringan wisata Ubud-Bali. Belum lagi Andon, Chandra Sena, Sugeng, Bayu, Yuyut, dan teman-teman lulusan dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang hidup mereka sudah sangat akrab dengan internet dan jejaring sosial, yang kelak mereka akan jadi orang penting di tempatnya masing-masing….

Hmmm, sengaja saya sebut nama-nama mereka untuk menunjukkan betapa penyuka sepeda saat ini berasal dari kalangan-kalangan yang sejatinya justru bisa jadi pemasar potensial. Kepada mereka saya hembuskan kampanye “Candi Borobudur obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi”, terutama oleh pesepeda.

Karena tidak asyik, maka tadi kami memilih untuk melihat Candi Borobudur dari luar, dari kampung sebelah kompleks. Kami berpose di kejauhan, dengan latar belakang Candi Borobudur yang tersohor itu, dengan LATAR DEPAN, sepeda yang kami sohorkan.

——

Untuk bangsaku yang kabarnya sudah merdeka ini, aku rindu mendengar kabarmu sudah benar-benar merdeka.

Salam Gowes Merdeka,

Candi Borobudur TIDAK ASYIK dikunjungi, 17 Agustus 2010 AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Advertisements

Mencermati Titik Kritis Bisnis Franchise

1 Comment

Pekan lalu, 20-21 Oktober, saya berkesempatan menjadi pembicara dalam pelatihan “Analisis Titik Kritis Bisnis” untuk para manajer Bank Rakyat Indonesia se-Jabodetabek, Lampung, Jambi, dan Sumatera Selatan. Bertempat di Sentra Pendidikan BRI Gatot Subroto Jakarta, saya mengisi sesi bisnis waralaba berdasarkan buku Bisnis Franchise Modal 2 Juta (Indonesia Cerdas, 2009). Berikut rangkumannya:

buku inspiratif: Bisnis Franchise Modal 2 Juta

buku inspiratif: Bisnis Franchise Modal 2 Juta

Kalangan perbankan sedang gelisah. Mereka sedang berpikir keras untuk menyelamatkan bisnis perbankan yang sedang mengalami turbulensi. Kasus pengemplangan dana nasabah oleh Bank Century menjadi mimpi buruk yang menghantui siang dan malam mereka. Ketidaktegasan pemerintah, yang lewat LPS notabene menjadi pemilik Century, dalam kasus ini bisa jadi preseden buruk perbankan di hadapan nasabah. Kepercayaan publik kepada perbankan bisa rontok jika bank yang dimiliki pemerintah saja bisa berbuat sesuka hati.

Di luar itu, guncangan perekonomian global tak kalah menyeramkannya. Gara-gara ulah beberapa gelintir pelaku keuangan di Amerika Serikat, sektor keuangan kini dikecam habis-habis sebagai penyebab krisis global. Wajar jika kecaman pedas bersahutan. Dampak dari kecerobohan mereka, banyak industri di Eropa dan Amerika Serikat terpaksa mem-PHK karyawannya. Dimulai dari General Motor, perusahaan otomotif besar, yang gulung tikar, diikuti oleh beberapa kampiun lainnya, kini sekitar 630.000 perusahaan di Amerika Serikat mengantri untuk mendapatkan keputusan pailit.

Jika tidak hati-hati, badai krisis itu bisa melumat kita.

Sebaliknya, kehati-hatian yang berlebihan juga justru bisa menjerumuskan kita ke lumpur penghisap.

Sangat problematis. Namun, hidup tidak boleh berhenti. Tetap harus ada terobosan untuk berinovasi; setidaknya bertahan. Tetap harus ada keputusan yang berani. Inilah yang melatari pelatihan BRI. Sebagai salah satu bank pemerintah tertua dan terbesar, keberadaan mereka sudah sangat mengakar di masyarakat. Cabang mereka yang tersebar bahkan hingga ke kecamatan-kecamatan di seluruh pelosok Tanah Air merupakan modal sangat kuat untuk tetap mendapatkan kue dari masyarakat.

Nah, dalam pelatihan itu, para manajer yang berada di garda depan perusahaan, hendak mempelajari dan menganalisis bisnis-bisnis yang berpeluang untuk mereka biaya. Secara khusus, bisnis yang mereka bidik berskala mikro. Sebagai penerbit, tugas saya adalah memberi gambaran aneka jenis bisnis yang diminati masyarakat. Minat itu tampak dari antusiasme masyarakat melahap buku-buku peluang usaha yang diterbitkan oleh Penerbit Indonesia Cerdas (Galangpress Group) tempat saya bekerja sebagai editor. Tengoklah betapa larisnya buku-buku berjudul Untung Besar Modal 2 Juta, Untung Besar 80 Jutaan Duduk Doank, Berani Utang Pasti Untung, dan Bisnis Franchise Modal 2 Juta yang baru terbit dan menjadi acuan pembahasan. Ada kerinduan masyarakat menjadi pengusaha. Dalam segala keterbatasan, terutama modal, mereka memberanikan diri untuk mewujudkan mimpi menjadi pengusaha.

RM Ayam Bakar Larasati, contoh sukses franchise makanan

RM Ayam Bakar Larasati, contoh sukses franchise makanan

Melongok Bisnis Franchise bersama Branch Franchise Manager Alfamart Deden Hendra Shakti dan dosen manajemen IPB Ir Budi Purwanto, ME, kami mengupas bisnis franchise dari dua sisi. Mas Deden dari sisi pelaku bisnis ritel, sedangkan saya dari sisi penulis dan penerbit yang melandaskan paparan pada aneka jenis bisnis franchise yang ada di masyarakat. Kepada para manajer itu saya ingatkan—karena saya yakin mereka sudah tahu— tentang kompleksnya peta bisnis saat ini; betapa gaya bisnis juga banyak mengalami perubahan seiring akselerasi informasi yang berhamburan berkat kemajuan teknologi informasi.

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?

Dalam situasi seperti, menurut hemat saya, bisnis mesti menyesuaikan diri sebagai entitas yang multidimensional. Positioning bank perlu dirumuskan ulang. Tidak cukup lagi menancapkan image di benak konsumen sebagai bank tabungan, misalnya. Mengapa? Karena, kebanyakan bank bermain di situ. Lihat saja fitur-fitur yang ditawarkan bank. Umumnya program mereka mirip satu sama lain. Relatif tidak ada perbedaan yang berarti satu sama lain. Akibatnya, di benak konsumen pun sulit membedakan mana bank yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter personal mereka. Perlu ada reklarifikasi posisi kepada setiap target pasar. Pun kepada target pasar bawah, yakni bisnis kelas mikro. Sebab, segmen bawah ini pun saat ini tidak mau diperlakukan asal-asalan sebagai bagian dari massa yang tidak dikenal. Tidak mau. Mereka mulai sadar akan pelayanan yang lebih personal, customize.

Dalam konteks bisnis franchise, ada 3 (tiga) titik penting yang harus bank cermati:

1. Jenis bisnis

Sebagaimana disepakati oleh kalangan pebisnis franchise, suatu usaha layak diwaralabakan setelah mengantongi beberapa persyaratan. Di antara persyaratan itu adalah bahwa bisnis tersebut sudah berjalan 3-5 tahun dengan perolehan laba tertentu. Lamanya waktu yang dipersyaratkan hendak menunjukkan bahwa hanya bisnis yang telah melampaui waktu tersebut pantas dimasukkan sebagai bisnis yang berhasil. Karena sudah teruji keberhasilannya, layaknya jika sistem yang sudah dibangun dijual kepada pihak lain untuk diduplikasi.

Mengingat syarat ini, bank harus berhati-hati pada jenis-jenis usaha yang bersifat musiman, yang mengandalkan trend semata. Bank harus tegas untuk hanya membiayai bisnis yang bebas musim dan jangka panjang. Benar, sebab kepentingan bank bukan hanya menyalurkan kredit sesaat, namun turut membangun bisnis nasabah. Jika kelak berhasil, nasabah pasti akan datang kembali ke bank untuk mendapatkan sokongan yang lain.

2. Franchisor

Merujuk pada paparan di depan, bisnis franchise adalah bisnis keterbukaan. Kepada franchisee, franchisor akan membagikan sistem yang ia punya untuk keberhasilan usaha. Pembagian informasi ini tidak hanya berlangsung di awal, melainkan di sepanjang kontrak bisnis.

Maka, bank harus paham betul kesesuaian karakter bisnis yang diwaralabakan dengan karakter franchisornya. Bank harus bisa memastikan bahwa franchisornya hendak membangun bisnis bersama franchiseenya dalam jangka panjang. Karenanya, franchisor yang baik adalah yang mau membagikan ilmunya secara periodik lewat penyelenggaraan pelatihan.

3. Franchisee

Demikian halnya dengan franchisee. Franchise adalah bisnis yang sudah jadi, yang sudah tersistem. Siapkah franchisee menjalankan sistem yang sudah ada? Bersedia diaturkah dia? Sebab, untuk beberapa jenis bisnis, franchisee sama sekali tidak memiliki ruang untuk berkreasi dan berinovasi. Semua SOP sudah ditentukan oleh pusat. Nah, bisnis itu tentu tidak cocok bagi yang ingin berimprovisasi dalam menjalankan bisnisnya.

Bagi bank, yang lebih penting kemudian adalah memastikan bahwa franchisee mau menjalankan bisnis untuk jangka panjang: pertumbuhan dan kematangan. Bank juga perlu menelusuri potensi tersembunyi franchisee. Dan tugas bank pula untuk menemukan dan mengangkat ke permukaan potensi tersebut. Ingat, banyak bisnis besar bermula dari ketidakjelasan, ketidaklengkapan, dan keminiman. Jangan menghambat franchisee hanya gara-gara persyaratan yang miskin mereka punya. Sebaliknya, bantu mereka untuk melengkapi. Kesediaan untuk mengulurkan diri lebih panjang seperti inilah yang kelak akan mengikat pengusaha tersebut sebagai nasabah loyal.

Dari paparan di depan, titik kritis yang mesti diantisipasi kalangan perbankan adalah aspek-aspek fasilitasi di luar core business perbankan. Ini yang tidak gampang. Bank dituntut menjadi konsultan yang menghubungkan pengusaha franchise dengan pihak-pihak dan hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan bisnisnya. Maka, bank pun diajak untuk membuka jejaring bisnisnya kepada nasabah: dengan ahli pemasaran, dengan ahli hukum bisnis, dengan akademisi, dll. Pelayanan yang interdisipliner ini nilai tambah bank untuk memenangi hati nasabah. Tentu, aspek ini masih sangat sederhana. Banyak aspek lain yang perlu juga dicermati, mengingat kompleksitas aspek bisnis sebagaimana dipaparkan di depan.

Raflles, Hospital Dengan Servis Hotel

Leave a comment

Suatu saat dapat tugas liputan ke negeri singa. Kapan ya di Indonesia model rumah sakit seperti ini berkembang untuk kalangan kebanyakan?

Beda dengan rumah sakit lainnya, Raffles Hospital menerapkan konsep laksana hotel. Lantas, experience apa yang mereka tawarkan?

Banyak rumah sakit di Tanah Air yang mengklaim berstandar internasional. Namun, belakangan, seiring mencuatnya kasus-kasus dugaan malapraktik, klaim-klaim tersebut seolah dicibir. Tak heran bila makin banyak pasien yang “lari” berobat ke luar negeri. Salah satu negara yang menjadi tujuan utama mereka adalah Singapura. Dan menurut sumber MARKETING, sekitar 70 persen pasien internasional di rumah sakit-rumah sakit di Singapura datang dari Indonesia.

Ada dua rumah sakit besar di Singapura yang sangat dikenal publik Indonesia, yakni NationalUniversity Hospital dan Mount Elizabeth. Faktor usia dan pengalamanlah yang membuat mereka dikenal. Reputasi mereka tak diragukan lagi. Pelayanan mereka sangat mengesankan.

Menyangkut reputasi dan pelayanan pasien, inilah ungkapan perasaan Irwanto yang dimuat Kompas, 17 Oktober 2004: “Di sana (Singapura-red) saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara teliti.” Irwanto adalah korban dugaan malapraktik yang dilakukan sebuah rumah sakit internasional di Jakarta Selatan. Separuh badan doktor psikologi ini lumpuh dan keadaan itu nyaris membuatnya kehilangan semangat hidup. Bersyukurlah ia datang ke Singapura. Bukan saja perawatan secara medis yang diperolehnya, melainkan juga secara psikis. Tidak saja badannya dipulihkan, jiwa kemanusiaannya pun kembali diutuhkan, kendati ia tetap lumpuh.

Sekelumit kisah itu hanyalah sebagian dari alasan orang-orang Indonesia yang memilih menjalani perawatan medis di negeri jiran tersebut. Dan bukan hanya dua rumah sakit besar tadi yang menjadi tujuan. Kini mulai banyak rumah sakit baru yang tak kalah larisnya. Dengan konsep yang modern, rumah sakit-rumah sakit itu mulai dilirik. Salah satu yang bintangnya sedang bersinar adalah Raffles Hospital.

Rumah sakit ini terletak di North Bridge Road. Baru beberapa saat yang lalu di lobby dalam terpampang tulisan “Raffles Hospital”, itu pun atas permintaan pelanggan. Maklum, tanpa tulisan itu, orang akan terkecoh dengan tampilan rumah sakit yang mirip hotel. Sama sekali tidak ada “bau” rumah sakitnya.

Menurut General Manager Corporate Services Raffles Hospital, Dr Prem Kumar Nair, rumah sakit tersebut memang menerapkan konsep seperti hotel. Malah, tanpa nada berseloroh, beberapa kali Dr Prem menyebut istilah “hospitel”. “Hospital with hotel services,” terangnya.

Ia serius. Sejak MARKETING memasuki satu per satu bagian rumah sakit tersebut, nuansa pelayanan hotel memang sangat terasa. Bukan saja tata ruang yang nyaman dan fasilitas medis yang lengkap. Pelayanan yang disediakan pun sangat customer based. Service memang terasa sebagai kekuatan mereka. Soalnya, jika ditilik secara dalam, fasilitas yang ada tidak terlampau luar biasa. Boleh dibilang, hampir semua rumah sakit di negeri bersimbol “Merlion” ini memiliki standar yang sama.

Mengingat sebagian besar pasien internasional rumah sakit tersebut berasal dari Indonesia, Raffles Hospital yang menyasar segmen atas ini menyiapkan petugas khusus yang bisa berbahasa Melayu. Mereka menamainya “interpreter & secretarial service”. Dr Prem mengatakan, tujuan pelayanan seperti ini agar pasien merasa nyaman selama tinggal di sana, senyaman di rumah sendiri. Supaya pasien tidak merasa sakit. Sebaliknya, supaya termotivasi untuk sembuh.

Saking pengen membuat pasien nyaman, di bagian pelayanan pasien internasional, disediakan berbagai jasa yang mempermudah pasien dan keluarganya selama di negeri itu. Mereka sangat paham tabiat orang Indonesia. Meski sakit, dalam benak pasien dan keluarga Indonesia tetaplah traveling dan… shopping! Oleh karena itu, di Raffles International Patients Centre tersebut terdapat pelayanan yang disebut “travel planning & visitor information”. Mau city tour?Free of charge. Gratis pula untuk pengurusan visa atau pengaturan tiket. Bahkan, untuk keluarga pasien yang belum sempat check in di hotel setibanya mereka di sana, disediakan locker room yang dapat memuat tas ukuran besar. Gampang. Bisa mereka atur.

Beda dengan Mount Elizabeth yang lokasinya dekat dengan Orchad Road –surga belanja orang Indonesia, Raffles Hospital dekat dengan Bugis Junction. Di sini terdapat stasiun MRT (Mass Rapid Transportation), yang memudahkan siapa saja untuk pergi ke mana saja. Menangkap kebutuhan itu, rumah sakit ini juga menawarkan “retail therapy”. Siapa tahu belanja dapat mensugesti pasien untuk sembuh.

Pelayanan yang sangat customized ini memang menjadi visi Raffles Hospital untuk menjadikan pasien dan keluarganya sebagai the very important person. Dibenarkan Dr Prem, yang ingin ditonjolkan rumah sakit tersebut adalah experience-nya. Ini sesuai pula dengan tarif kompetitif yang ditetapkan di sana.

Untuk semakin melekat di benak masyarakat Indonesia, Raffles Hospital gencar berpromosi. Di luar iklan, Raffles Hospital juga membuka kantor representatif di Jakarta. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Jakarta Express, travel agent yang sukses membuat paket medical check up di rumah sakit ini dan berbelanja di Mustafa Center meraih penghargaan Tourism Awards dari Singapore Tourism Board sebagai “the most innovative marketing effort by foreign tour operator”. Tujuan kerja sama tersebut bukan saja untuk menarik minat pasien seperti Irwanto, namun juga mereka yang sehat, supaya mereka bisa merasakan bahwa sehat itu menyenangkan…(AA Kunto A, Majalah Marketing November 04)