Baru pulang dari rumah sakit, gatel jari-jari ini hendak menumpahkan isi hati. Hati yang berbunga-bunga. Sebuah kabar sangat istimewalah penghantarnya. Istri saya hamil. Sabtu lalu, di hari ulang tahunnya, hasil laboratoriumnya menorehkan tanda positif untuk kandungannya. Sayang, saya tidak bisa menemaninya di hari yang indah itu.

Baru siang ini saya bisa menemaninya periksa ke dokter kandungan. Kemarin siang kami sudah janjian dengan dokter yang sudah saya kenal ini, kakak kelas saya di De Britto. Nomor 15 kami kantongi sebagai urutan antrian. Diguyur hujan lebat, kami sabar mananti giliran. Sejak datang pukul 13.00, baru dua setengah jam kemudian kami dipanggil masuk ruang periksa. Maklum, di sela aktivitasnya memeriksa perut-perut buncit pasiennya, panggilan dari kamar bedah tak bisa ditolak sang dokter. Ada pasien butuh operasi mendadak.

“Nah, gene ya isa!” pekik sang dokter disusul tawanya yang lebar. Nah, ternyata bisa hamil, begitu ucapnya. Ya, bulan Oktober lalu kami sempat datang padanya karena istri saya mengeluhkan perutnya. Nihil. Tak ada tanda-tanda kehamilan. Sang dokter meminta kami bersabar, dan menawari terapi untuk mempercepat kehamilan. Terapi? Ya. Saran itu disodorkannya mengingat istri saya pernah keguguran empat bulan yang lalu, sebulan setelah kami menikah.

Sri Widayanto, Sp OG, dokter tersebut. Laki-laki, penuh canda. Saat istri saya mengantri obat, saya kembali ke ruang pemeriksaan sembari menanyakan hasil USG yang tadi belum sempat kami tanyakan.

4W3D. Empat minggu 3 hari, usia anak kami di rahim ibunya.

“Lha kok cilik banget anakmu. Ming 12 mm,” hardiknya. Waduh, kaget juga saya. Kok kecil amat ya. Habis itu, dia segera menyambarkan mulut, lha namanya juga janin, masak mau 5 meter. Hahaha. Dia ketawa keras-keras.

Saya tertegun. Istri saya hamil. Hari perkiraan lahirnya (HPL) 31 Juli 2009. “Bintange Leo. Keras anakmu,” bilang Dokter Wid. Saya tak langsung ngecek, apa benar tanggal itu Leo. Yang langsung membuat saya tersedak adalah istri saya. Pasti sifat itu menurun dari kami, dua manusia keras yang bakal menjadi orangtuanya.

Kami pulang dalam sunyi. Hati kami bersorak-sorai, namun kami tak bersuara. Sebuah proses kehidupan baru sedang bersemi di dalam rahim istri saya, yang bertumbuh di dalam hati kami. Selamat datang, Nak. Mas Oka, yang kini bersemayam di surga, pasti menemanimu di kandungan ibu.