Malam Kudus, Tidur Lelap

Leave a comment

Juga malam ini. Diam di rumah. Merayakan penghujung tahun dalam sunyi. Tidak di jalanan, tidak di tengah kerumunan. Di depan televisi, yang tak lagi menayangkan prosesi perkabungan Gus Dur, mantan presiden republik ini, yang siang tadi direbahkan di Jombang. Bendera setengah tiang masih berkibar-kibar di pinggir jalan, menyaksikan gemuruh terompet yang berdansa-dansi di tengah jalan.

Pesta dan belanja, di layar itu.

Sedang di depan layar ini, seperti pada malam natal lalu, ketika di gereja diperlantunkan lagu “Malam Kudus”, dengan syair malam kudus, sunyi senyap, saya terlelap.

Selamat tahun baru 2010.

Advertisements

Kartu Natal Terakhir

Leave a comment

Di meja tengah itu tergeletak selembar amplop putih. Ukuran kartu kartu pos. Benar saja, isinya ucapan selamat natal.

Itu kartu natal terakhir yang singgah di rumah kami. Sejak dunia modern dimanjakan oleh teknologi canggih, nyaris semua orang lebih suka berkirim ucapan lewat sms, telepon, email, facebook, dan twitter. Lebih cepat, praktis, dan murah. Tidak repot.

Dan kartu itu jadi terasa istimewa.

Saudara kami, yang tidak punya hubungan darah namun dekat di hati, memang rajin mengirim kartu ucapan untuk keluarga kami. Di mana pun ia ditugaskan, selalu ia luangkan waktu untuk menulis ucapan, membungkus dalam amplop, melekatkan perangko, dan mengirimkannya ke kantor pos. Berhari-hari kemudian, tanpa ia tahu pasti, kartu yang dikirimnya baru sampai di tujuan. Belum tentu si penerima akan membalasnya. Kalau pun membalas, butuh sekian malam lagi untuk menerima balasan itu. Kami termasuk yang tidak rajin membalas.

Beberapa waktu lalu, selama beberapa tahun, ia mengirim kartu, dan surat, dari Roma, Italia. Sebagai biarawati, ia mendapat tugas belajar di pusat pemerintahan gereja katolik itu. Jadilah kartu ucapan itu perekat komunikasi kami.

Bukan ia tidak melek internet. Sangat melek saya kira. Namun, saya tidak pernah menanyakan alasan kenapa ia masih memilih menggunakan cara tradisional untuk berkirim ucapan. Saya hanya menduga, ia hendak melestarikan sentuhan sederhana yang belakangan makin hilang dari peredaran. Sentuhan itu menjadi oase yang melegakan. Betapa tidak. Dalam selembar surat, goresan tangan pengirim terpatri kuat di sana. Tebal-tipis dan tegak-miring tulisan begitu kentara, menandakan suasana hati dan emosi pengirim sekaligus. Tanda tangan yang terbubuh di penghujung tulisan juga terasa sebagai tanda cinta.

Kini, saudara saya ini sudah kembali ke tanah air. Ia kembali bertugas di sebuah lembah pertapaan. Dalam sunyi ia bekerja dan berdoa. Dalam sunyi pula ia tetap menyapa, dengan cara yang sama, selama bertahun-tahun, tetapi dengan sapaan yang semakin dalam.

Semoga, itu bukan kartu natal terakhir yang hadir di rumah kami.

Semarang, 25 Desember 2009

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]

Memiliki Ketika Kehilangan

Leave a comment

Menyitir Mario Teguh, Mas Gogo bercerita tentang almarhum istrinya. “Kita baru merasa memiliki setelah apa yang kita miliki tak lagi ada pada kita,” bunyi sitiran itu.

“Saya baru merasa memiliki istri saya ketika dia sudah tidak ada,” ujar pensiunan Radio BBC London ini. Mbak Rina, istrinya, 40 hari lalu berpulang. Setelah bersahabat dengan kemoterapi, perempuan bernama lengkap Chatarina Sudjiati itu tutup usia pada angka 60 tahun 6 bulan.

Ada nada sesal dari pria 64 tahun yang belum lama pulang ke Indonesia dan tinggal di sebuah kampung di Jogja. Namun, di balik sesal itu, terasa benar kebanggaan Mas Gogo pada mendiang istrinya. “Saya bisa seterika, bisa seperti ini, berkat bentukan istri saya,” cetusnya sedikit terbata.

Para sahabat yang duduk di dalam joglo maupun di bawah tenda, hening mendengarkan kesaksian ini. “Sesudah istri saya meninggal, yang saya lakukan melulu memujinya.”

Peristiwa kecil, refleksi mendalam. Terima kasih Mas Gogo.

Koplak-Jogja, 17 Desember 2009,

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]

Sejam Bersama Pak Roni

Leave a comment

Pak Roni turun dari mobil tergopoh-gopoh. Ia meminta maaf atas keterlambatannya. Maklum, ia datang sejam lebih lama dari waktu yang dijanjikan.

Saya segera menghambur ke halaman kantor begitu mengetahui kedatangannya. Saya gantikan mengemudinya, Pak? “Tidak usah, Mas. Berangkat sekarang?” Baik, saya segera menyelinap ke kursi depan di sampingnya. Perjalanan pagi ini berujung di Magelang, ke arah Pak Roni berangkat, dengan waktu tempuh sekira satu jam.

Ini kali kedua saya bertemu Pak Roni. Itu pun hanya sebentar. Namun, saya masih mengingat dengan baik wajah dan perawakannya. Ia santun, mudah diajak ngobrol, memudahkan saya mematri ingatan.

“Saya tidak ingat wajah sampeyan,” ungkapnya jujur. Tidak mengapa. Usianya hampir sesepuh bapak saya. Belum 60 tahun. Banyak wajah yang telah ditatapnya, juga banyak wajah yang sudah menguap dari bank ingatannya.Saya maklum, bahkan ketika ia tidak ingat lagi jalan yang baru saja ditempuhnya ketika ia berangkat menjemput saya. “Semua jalan kelihatan sama,” elaknya. Ya, dan kita selalu lewat sebelah kiri, batin saya, serta hanya belok kanan dan kiri.

Alhasil, saya memandunya menyusuri jalan tengah kota Jogja untuk segera mencapai Jalan Magelang. Tadinya, pikir saya, tawaran untuk menggantikan posisi mengemudi, selain atas dasar pertimbangan capek karena telah menempuh perjalanan jauh, juga untuk memastikan ketepatan waktu jika saya yang memancal pedal gas. Dasar saya suka menyetir, rada keki juga jadi penumpang.

Belum keluar Jogja, di perempatan Munggur, saya panggil tukang koran untuk merelakan dua korannya saya beli. Satu koran nasional, satu koran lokal. Selain untuk menganyari informasi sebagai bahan pembicaraan di forum yang akan saya hadiri, saya juga bermaksud membunuh kekhawatiran saya atas waktu tempuh yang begitu mepet dengan jadwal yang disodorkan panitia semalam lewat email. Saya merasa pantas khawatir karena jalanan di pagi hari begitu padat oleh lalu-lalang orang yang hendak ke sekolah dan tempat kerja. “Tadi berangkat ke Jogjanya saya tidak berani kencang karena begitu banyak motor,” tukas Pak Roni seperti menunjukkan bahwa perjalanan ini pun tak akan kalah leletnya.

Kekhawatiran saya sirna begitu Pak Roni mulai memainkan perannya sebagai sopir sebuah kantor LSM yang nyaris saban hari berpindah dari satu kota ke kota lain. Ia dengan gesit menyelinapkan mobil di antara kesesakan arus lalu lintas. Padahal, “Saya paling takut kalau sampai senggolan sama motor. Males urusannya,” akunya.

Ternyata Pak Roni pribadi yang hangat. Juga murah cerita. Nyambung, dari satu topik ke topik lain. Juga ketika dia mengawali cerita, “Yang ini cuma saya dengar dari teman, bukan pengalaman saya pribadi.” Jika dosen, ia telah melakukan salah satu kejujuran akademik ketika menyebutkan sumber referensi yang dikutipnya.

“Kita belok sini saja, Mas. Lebih cepat.” Jalan Pemuda, Kota Muntilan tak kami habiskan. Baru separo, kami berbelok menyusuri jalan sempit di tengah perkampungan dan persawahan. Ketika kami berpapasan dengan lima bus besar, ia beropini, “Lihat, Mas. Ini jalur pariwisata. Bus-bus dari Borobudur atau Sendang Sono (tempat peziarahan orang Katolik) banyak yang lewat sini. Sayang, jalannya sangat sempit. Kenapa ya pemerintah tidak melebarkan jalan ini sehingga lebih enak dilalui? Kan mumpung di kiri-kanan jalan belum banyak rumah.” Saya sepakat. “Kan orang dari mana-mana ke sini,” timpalnya untuk menggarismerahi betapa besar dampak promosi yang akan dipanen.

Sepuluh menit sebelum pukul 9, Candi Mendut sudah di depan mata. Koran yang saya beli tak jadi saya baca. Tak sempat. Obrolan kami terlalu hangat untuk dilipat.

Panitia pun belum menelepon untuk menanyakan kami sampai di mana. “Kalau ditelpon, bilang saja baru sampai Muntilan, Mas, biar mereka panik.” Haha, jahil juga orang ini. Dan saya mengangguk tanda setuju. Sayang, sampai di gerbang Candi Borobudur, tak satu pun panitia mengontak kami. Bahkan, di pintu masuk Hotel Manohara–hotel di dalam kompleks candi yang telah beroperasi lama sebelum drama Manohara mencuat ke permukaan– pun tak tampak batang hidung panitia. Ah, siapa suruh jahil?

“Saya tunggu di parkiran ya, Mas, biar nanti bisa langsung kembali ke Jogja,” pamit Pak Roni saat saya turun dari mobil di depan lobby hotel. Tidak usah Pak, nanti saya nebeng teman yang kebetulan sama-sama diundang jadi pembicara di seminar yang diikuti aparatur pemerintah di lingkup Pemkab Magelang ini.

Pak Roni, terima kasih atas pelajaran kehidupan pagi ini. Semoga sampeyan senantiasa sehat dan tetap tenang di jalan.