Tidur

Leave a comment

Teramat sering saya tidur dalam perjalanan. Juga malam itu.

Usai keliling kota Medan dengan pengangkut kota (bukan angkutan kota seperti telanjur orang pakai), saya merapatkan diri ke pangkalan bus Anugerah di bilangan Pondok Kelapa. Sore menjelang, namun gelap masih enggan datang.

Penjaga loket menyodorkan tiket bernomor kursi 8. “Yang di belakang sopir sudah habis, Bang!” ujarnya. Tak mengapa, toh masih di deretan depan. Cukup untuk sedikit mengintip pemandangan di depan.

Ransel yang memeluk di punggung segera saya lorot ke bawah kursi. Tak cukup saat hendak saya selipkan di bagasi atas tempat duduk. Padahal, isinya tak seberapa banyak. Hanya sekotak komputer jinjing, kamera, satu celana panjang jeans, dua baju berkerah, 3 kaos, dan 3 pasang pakaian dalam. Oh ya, ada koran nasional yang saya beli pagi itu di Bandara Adisutjipto Jogja, yang tak sempat saya baca karena sejak pesawat meninggalkan apron, belum lepas landas, saya sudah lepas kandas ke alam tidur.

Sejak dari Jogja saya sudah tidur. Duduk di kursi “emergency exit”, kebiasaan saya, membuat saya bisa leluasa mematut diri. Kaki bisa selonjor tanpa perlu mengantukkan lutut ke kursi depan. Namanya juga naik pesawat murah, kenyamanan itu ada di dalam kepala. Dan, di dalam dada, alias seberapa besar kita mau bersyukur.

Toh saya tetap bisa tidur. Seperti biasa, urusan tidur tak memerlukan alasan. Dalam segala hal, sedih-gembira, hujan-panas, saya bisa tidur. Seperti tertawa, tak juga memerlukan alasan untuk meledakkannya. Hanya lapar yang bisa membatalkan kantuk.

Tapi pagi itu memang melelahkan. Wajar jika saya tidur. Saya baru tiba dari Semarang, langsung ke bandara. Pagi sekali. Hanya sempat mandi dan—syukurlah—makan.

Kamis, 9 Juni, saya sedang di warung ketika berita itu datang. “Mas Aji stroke, aku harus ke Semarang,” pamit Probo dari seberang telepon. Probo adalah Direktur Nareswari Group, pemilik merek Ayam Bakar Larasati yang sedang kami persiapkan pembukaan cabangnya di Sleman, Yogyakarta. Aji adalah kakak kandung Probo. Pria 35 tahun itu bekerja di Bank Internasional Indonesia di Semarang. Ini serangan stroke pertamanya.

Saya tetap di Jogja, mendampingi tim yang sedang berbenah. Padahal, mestinya kami berbenah bersama mengingat 3 hari lagi warung ke-9 ini akan kami buka.

Nyata, pukul 16.00, setiba di Semarang dari Magelang, usai menempuh perjalanan sekira 2 jam, saat saya menelepon Probo, jawaban yang mencuat, “Nyuwun doane wae, Kun. Pembuluh darah batang otake Mas Aji pecah.” Ups, kami sama-sama terdiam, tahu apa yang tidak kuat kami katakan. Dua jam sesudah itu, kabar menghentak datang. Probo menelepon, “Mas Aji seda.” Babi, begitu kami memanggil Mas Aji, tidur untuk selamanya.

Usai disemayamkan di rumah duka di Semarang, tempat Mas Aji tinggal beserta istri dan dua jagoan kecil, jenazah akan diusung ke rumah orangtua di Magelang. Tengah malam nanti berangkat, berarti subuh tiba.

Tapi rencana berubah. Baru akan esok pagi jenazah diberangkatkan dari Semarang. Aduh, bakal tak bisa melihat wajah Mas Aji untuk terakhir kalinya, batin saya. Akan tidak tenang hati saya kalau itu terjadi. Pribadi kocak, konyol, nan sederhana itu meninggalkan banyak kenangan selama hidupnya.

Jumat pagi saya mesti terbang ke Aceh. Tak mungkin menghadang jenazah di Magelang. Ke Semarang malam itu juga? Sudah 2 hari saya nyaris tidak tidur. Bagaimana jika mengantuk di perjalanan?

Saya punya waktu 3 jam untuk menempuh jarak sekira 220 km. Berangkat 3 jam, pulang 3 jam. 1 jam di sana. Cukup! Cukup! Cukup! Rasa kantuk saya abaikan.

Pulang, ambil mobil, berangkat. Bapak saya ajak untuk menemani, dan mengganti pegang kemudi jika saya mengantuk. Nyatanya, saya tak mengantuk. Ingatan akan Mas Aji seperti menjaga mata saya untuk tak terpejam. Pukul 02.00 wib, tibalah di Semarang. Pribadi yang begitu hangat itu terlelap sudah.

“Selamat jalan, Mas. Damailah dalam tidur panjangmu. Terima kasih atas persaudaraan kita,” batin saya sembari memegang kedua tangannya yang memeluk rosario. Lega hati saya. Lega pula hati saya merangkul Probo yang berusaha tabah atas peristiwa ini. Lega hati saya menjumpai Bapak-Ibu mendaraskan doa tiada henti di samping peti. Kedua anak Mas Aji, tidur pulas di kamar bersama Mbak Lucy, ibu mereka.

Merasa cukup, saya pamit. Langsung kembali ke Jogja, menyibak subuh bersama truk-truk yang berburu pasir di lereng Merapi.

Sampai rumah, mandi, sarapan, dan menyambar tas yang isinya sudah saya siapkan malam sebelumnya, saya langsung meluncur ke bandara. Capek, mengantuk, namun lega. Maka, sepanjang penerbangan Jogja-Jakarta dan Jakarta-Medan saya tidur.

Bahkan, saat bus Anugerah jurusan Medan-Banda Aceh yang saya tumpangi baru berpamitan di gerbang keluar kota Medan, mata saya sudah lebih dulu berpamitan. Tahu-tahu sudah sampai Kota Langsa. Bus menepi, dan menyilakan penumpang bersantap malam. Rupanya di tengah jalan tadi bus menaikkan penumpang sehingga begitu menoleh ada orang di kursi sebelah saya. Sebelumnya kosong.

“Sekitar 3 jam lagi,” jawab sopir saat saya tanya pukul berapa bus tiba di Lhokseumawe. Saya belum pernah ke kota itu. Ini perjalanan pertama saya. Sendiri, hanya mengandalkan informasi dari panitia pelatihan menulis kreatif yang mengundang saya. Saya belum pernah kenal panitia, toh percaya saja pada informasi mereka.

Kelar makan, saya kembali merem. Pendingin udara tak bisa diatur, saya memilih pasrah saja mendekap tas. Dan mendekap malam, sampai ketika terbangun saya terkejut. Jam digital di samping kiri-atas sopir menunjukkan angka 01:15 wib. Sudah lewat 3 jam dari waktu yang disebutkan sopir di perhentian tadi.

Semua lelap. Kondektur yang saya minta membangunkan pun membujurkan diri di belakang kursi paling belakang. Saya melangkah ke depan, bertanya pada sopir.

“Sudah lewat. Tadi kondektur sudah teriak-teriak, Abang tidak bangun,” ah kenapa jadi sopir yang panik.

“Kota terdekat saya turun, Bang,” pinta saya.

Kota terdekat segera menyambut. Bukan kota besar, hanya semacam pasar. Deretan kios yang halamannya terang menunjukkan itu. Saya turun dan menyeberang jalan. Tak tahu saya ada di mana. Tak satu pun papan nama terpampang. Tak ada orang di sekitar itu. Tak ada satu pun warung tampak buka. Tak ada yang bisa saya tanyai.

Saya hanya yakin, pasti ada bus ke arah Medan. Ini kan jalan antarprovinsi, 24 jam ada pengangkut umum. Pengalaman berjalan-jalan ke berbagai daerah seorang diri mengerem jantung untuk tidak usah deg-degan dalam keadaan seperti itu. Bukan kali pertama saya tertidur dalam perjalanan. Bukan kali pertama kali saya nyasar ke tempat entah. Dan bukan kali pertama saya tenang-tenang saja. Inilah kenapa saya memilih perjalanan tengah malam. Esok kan pagi.

Tak berselang lama, datang sebuah bus Anugerah jurusan Banda Aceh-Medan. Saya lambaikan tangan supaya berhenti. Naik lewat pintu belakang, kondektur yang sedang tidur bangun menyambut.”

“Tidak, berdiri saja. Lhokseumawe saya turun,” jawab saya ketika ia menunjukkan bangku kosong di tengah. Ia mengangguk tanda paham ketika saya menunjukkan alamat sebuah hotel tempat saya menginap. “Setengah jam,” katanya. Wow, setengah jam di malam hari, lalu lintas sepi, dan bus melaju seperti kuda troya… jauh juga saya kebablasan.

“Itu di seberang,” tunjuk abang kondektur saat bus berhenti untuk menurunkan saya. Selembar uang bergambar Sultan Mahmudi Badaruddin II berpindah ke tangan abang kondektur.

Sampai juga saya di tempat menginap. Resepsionis segera mengulungkan kunci kamar 318 begitu saya menyebut nama diri. Rupanya panitia sudah memesankan kamar.

Sudah pukul 02.00 ketika saya memasuki kamar. Membilas tubuh secukupnya, saya memutuskan tak tidur. Selain khawatir kesiangan, tidur sepanjang jalan sudah saya anggap cukup. Lebih baik membuka laptop dan menulis. Nomor restoran saya hubungi untuk memesan minum dan makanan ringan. Teh panas seduh plus kentang goreng seporsi besar menemani saya sampai pagi. Tak tidur.

Paginya saya bergegas ke lokasi pelatihan. Bukan di hotel itu. Bukan di kota itu. Tapi di Panton Labu, kota kecamatan di timur Lhokseumawe. Sejam perjalanan naik kendaraan umum. Saya berusaha tak tidur, supaya tak kebablasan lagi.

Sorenya, usai pelatihan, saya kembali ke Kota Lhokseumawe. Mampir sebentar di hotel, sekadar mandi, saya pergi ke tengah kota. Naik becak dengan ongkos Rp 7.000 wib, saya minta diantar ke lapangan Hiraq. Sekadar berjalan-jalan, makan mie aceh, dan minum “Ulee Kareng” khas kota di Aceh Utara itu. Sekadar merasakan suasana kota yang tak pernah tidur karena di mana-mana bertebaran warung kopi. Sekadar merasakan obrolan remeh-temeh sampai serius. Sekadar menyingkap sedikit tabir Aceh yang konon sulit disingkap.

Saya tak tidur sampai subuh. Kopi aceh menjaga mata saya. Bahkan, saat mengisi pelatihan hari kedua pun tak tersapa rasa kantuk. Baru saya tertidur saat menumpang bus malam ke Medan. Baru saya tidur ketika kembali ke Jogja naik tabung ajaib bercap singa mengaum.

 

Advertisements

Film “Pelangi di Merapi”

1 Comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Tulisan saya memanen persaudaraan. Bukan saja menuai komentar dari teman-teman yang dulu pernah mencicipi lagu itu langsung dari penciptanya, namun juga dari pembaca blog ini. Dan cinta terus berdatangan. Berkat tulisan kecil nan sederhana ini, saya dipertemukan dengan keluarga Pak Maryoto. Elang, putra sulung almarhum, menemukan tulisan saya saat berselancar di internet.

Bungah hati ini membaca pesan tersebut. Bertemu dengan putra almarhum serasa mempertemukan kenangan indah dengan Pak Maryoto. Saya pun membalas pesan itu secara berbunga-bunga.

Dan kami terhubung. Elang adalah kakak kelas saya. Nuri dan Pipit, adik-adiknya, adik kelas saya. Keluarga burung yang unik.

Belum luntur bungah saya, datang surat berikutnya. Kali ini dari seorang sutradara film dokumenter. Ia sedang merampungkan produksi sebuah film dokumenter seputar letusan Merapi 26 Okt & 5 November 2010.

Kebetulan-kebetulan yang bertautan. Satu terhubung, pertalian yang lain bersimpul. Senang rasanya hadir dalam pertemuan ini.

Dan benar saja. Elang langsung menyambar.

Izin sudah turun. Keluarga Pak Maryoto merasa bangga atas kesempatan ini. Saya tak kurang bersukacitanya.

Pagi ini, suka cita itu berlimpah-limpah. Sebuah telepon menghampiri telepon genggam saya. Seseorang di seberang menyapa. “Agoes Sam, Mas.” Aha, selamat datang di Jogja Mas Agoes. Selamat merampungkan film dokumenter “Pelangi di Merapi”. Saya berjanji menemuinya di Umbulharjo, di Kampung Mbah Maridjan, sembari singgah ke rumah Pak Maryoto di Pakem, memungut syair-syair lagu “Si Gunung Merapi”:

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi


Jogja, 26 Februari 2011

Landung Simatupang Siap Menyihir “Manuk Pulang Kandang 2010”

Leave a comment

oleh

AA Kunto A/96

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

 

Manuk Pulang Kandang 27 Desember 2010 kali ini sungguh pepak. Warna utamanya “Ruwatan Kadang Manuk” oleh Ki Walji. Misa tentu ada, diiringi gending-gending palaran. Selain itu, fragmen oleh Landung Simatupang.

 

Landung Simatupang dalam film “Sang Pemimpi”. Foto: Miles Films

Rambutnya sudah putih. Ia tua, hampir 60 tahun usianya. Tampak selalu serius. Itu bawaan. Bisa juga sedang bermain peran. Maklum, ia aktor watak kawakan.

Tak terbilang berapa karya sastra ia bacakan di panggung. Terakhir, Sabtu, 18 Desember lalu, ia membacakan “Alengka Muram” di Balai Soedjatmoko, Solo. Ia membaca Sindhunata. Sebelumnya ia membacakan petilan “Bilangan Fu”. Ia membaca Ayu Utami.

Sebelumnya lagi ia membacakan “Pak Mustar” dalam film Sang Pemimpi. Ia membaca Andrea Hirata. Lebih dari sekadar membacakan, dalam film itu ia menjiwai betul sosok kepala sekolah yang keras nan galak. Sosoknya yang lain bisa dipelototi dalam film Daun di Atas Bantal, Garuda di Dadaku, dan May dan Rindu Purnama.

Tahun 1989, ia pernah menyihir Umar Kayam saat Landung membacakan noveletnya “Sri Sumarah dan Bawuk”. Tempatnya berpentas, Seni Sono, di ujung Malioboro, di “air mancur” nol kilometer Jogja, kini sudah dicaplok Sekretariat Negara untuk perluasan Istana Negara Gedung Agung.

Landung Simatupang pembaca karya sastra yang dinanti-nanti. Karakternya kuat. Lebih-lebih karakter suaranya. Teks-teks sastra yang kering selalu hidup di lidahnya. Ia sanggup menghidupkan kata. Intonasi suaranya mampu mengubah kata laksana bidadari yang menari lembut, dan sebentar kemudian menjelma bak raksasa yang siap menguntal mangsa.

Selain pembaca, ia juga penerjemah banyak karya sastra.

Begitu panjang perjalanannya hingga mencapai karakter yang sedemikian kuat. Tahun 1970-an, saat kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada, ia sudah terjun sebagai aktor dan sutradara Teater Stemka.

Saat itu, ia sedang bertumbuh sebagai orang muda yang gelisah. Lulus dari SMA Kolese de Britto, ia merasa memasuki belantara yang tak bisa ia pahami. “Waktu itu ada kuliah bahasa Prancis. Di De Britto aku sudah mendapatkannya. Aku merasa, apa yang sudah aku dapat jauh lebih maju dari apa yang diajarkan di kuliah. Aku memutuskan tidak masuk kelas. Tentu saja sikapku seperti ini tidak bisa diterima. Akibatnya aku lulus sangat lama,” papar keturunan Batak yang tak bisa berbahasa Batak dan belum lama baru menginjakkan kaki di tanah leluhurnya ini.

Landung bertutur tentang pendidikan De Britto. Ia merasa, De Britto membentuknya menjadi pribadi berkarakter kuat. Apa yang menjadi pilihannya, berikut risiko atas pilihan itu, ia paham betul. “Masalahnya, dunia luar tak sebebas De Britto,” keluhnya mengingat masa-masa mudanya yang penuh benturan. Ia kerap memberontak pada situasi-situasi yang oleh masyarakat dianggap sebagai kelumrahan.

Rupanya, bekal karakter itu tak mudah lekang dari dirinya. Bertemu dengan panggung teater, makin suburlah kemerdekaannya dalam berekspresi. Landung menua total sebagai seniman. Sebagai salah satu bentuk totalitasnya, ia memasang tarif tinggi atas profesinya. Tarif ini tak sebatas nilai nominal, melainkan juga komitmen. Tarif tinggi itu ia kembalikan dalam bentuk keseriusan kerja.

Manuk Pulang Kandang 2010: Ruwatan Kadang Manuk. Logo: Bambang Paningron

Pun dalam Manuk Pulang Kandang 2010 ini. Landung menunjukkan kelasnya. Begitu mengiyakan undangan panitia, yang sebagian adalah adik-adik kelasnya jauh, ia langsung menyediakan diri mengolah materi yang dipercayakan kepadanya. Ia menyerap setiap lontaran dari manuk lain. Ia menyodorkan pemikiran buah serapannya. Dialektika dihidupinya.

Begitu sampai malam ini. Di depan panitia yang sedang membilas persiapan terakhir, dari layar komputer jinjing berlogo “apel krowak”, Landung membacakan konsep fragmen yang bakal dipentaskannya Senin, 27 Desember 2010 lusa. Detil, hingga lama waktu yang dibutuhkannya. Lokasi pentas ia cermati hingga sudut-sudut. Koordinasi kostum dan pengiring ia sempurnakan. Tanpa bayaran, untuk almamater, untuk kadang manuk.

Nggetih. Landung Simatupang.

 

Jogja, 23 Desember 2010

 

PS: Mengundang rekan-rekan media hadir meliput. Lokasi: Kandang Manuk, SMA Kolese de Britto, Jl Laksda Adisucipto 161, Jogja. Acara: 08.30 – 13.00 wib [fragmen Landung mengisi homili misa, dilanjutkan ruwatan kejawen oleh Ki Walji diiringi gending-gending palaran]

Mengenang Pak Maryoto, Pencipta Lagu “Si Gunung Merapi”

Leave a comment

[Kagem sedulur2 di pengungsian, tetaplah berpengharapan. Utk sedulur2 relawan, aparat, dan penyumbang, terima kasih atas hati anda. Merapi di dada kita!]

 

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi

 

Syair lagu tersebut ciptaan Pak Maryoto, guru SD Percobaan 3 Pakem. Ingatan saya kembali ke waktu 20-an tahun yang lalu. Pak Maryoto guru kesenian kami. Ia mengajari kami menggambar, juga menyanyi. Sosoknya begitu sederhana. Rambutnya keriting, rada gondrong, tipikal seniman. Seragam guru yang seingat saya selalu dikenakannya adalah setelan safari abu-abu.

Mungkin terkena polio sejak kecil, maaf, kaki kanannya lebih pendek dari kaki kiri. Saya tak pernah menanyakan ini. Yang terang, Pak Maryoto gemar berjalan kaki. Sepulang sekolah, ia menyusuri pinggiran Jalan Kaliurang sepanjang 400 meter menuju Pasar Pakem. Dari sana ia naik “colt” jurusan Kaliurang. Rumahnya di Paraksari, tak sampai 2 km di atas pasar yang ramai saat pasaran Legi dan Pon itu. Pun saat berangkat sekolah, ia berjalan dari pasar ke sekolah kami yang terletak di dusun Sukunan itu.

Tak ada guru kelas di sekolah saya itu. Setiap mata pelajaran diampu oleh guru di bidangnya. Dan Pak Maryoto mengampu mata pelajaran kesenian –saya tidak ingat persis nama mata pelajarannya.

Pak Maryoto pernah memarahi saya. Saat itu ia belum masuk kelas. Saya menyusul ke ruang guru. Ia pun beranjak dari meja kerjanya. Saya menguntit di belakang. Iseng saja, saya berjalan ‘jinjit’ di belakangnya, menyamakan ketinggian. Rupanya ia tahu, dan marah.

Kemarahan itu tak mengurangi rasa senang saya padanya. Saya selalu menanti kehadirannya. Penantian saya terutama untuk menyanyi. Memegang penghapus dan penggaris kayu, ia akan mengetuk-ngetuk meja menuntun kami mengeja not yang tercantum di papan tulis. Cerialah kelas.

Saat pelajaran menyanyi, saat yang paling saya tunggu adalah ketika Pak Maryoto mengundang kami untuk maju ke depan kelas. Satu per satu. Menyanyi. Bebas, boleh pilih lagu apa saja. Beberapa teman jadi bintang kelas karena suaranya bagus –selain karena pilihan lagunya yang keren. Tidak termasuk saya tentu saja. Sampai sekarang saya tidak bisa bernyanyi dengan baik.

Meski begitu, ingatan saya kuat merekam lagu ciptaan Pak Maryoto, “Si Gunung Merapi”. Saya ingat, saat Pak Kasilan, guru kesenian saya di SMP 1 Yogyakarta meminta kami menyanyi, lagu ini yang saya lantunkan. Tidak ada tepuk tangan dari teman-teman sebab mereka tak mengenal lagi ini sebelumnya –atau karena suara saya yang blero.

Pak Maryoto sudah tiada. Ia tak lagi bisa bersaksi soal gunung yang di kakinya ia tinggal dan berkesenian.  Namun, bagi saya, ia meninggalkan warisan yang begitu berharga, yakni lagu ini. Lagu ini mengandung pesan, setiap orang boleh menilai Merapi dengan caranya. Bagi Pak Maryoto, Gunung Merapi adalah sebuah kemegahan, keanggunan, dan kebijaksanaan. Bagi Mbah Maridjan, Gunung Merapi adalah sebuah ketaatan.

Bagi saya, Gunung Merapi adalah… Bagi anda, Gunung Merapi adalah…

Merapi milik siapa saja. Tak hanya milik juru kunci, tak pula milik pendaki, yang sungguh sangat mengenal tabiat si gunung. Merapi juga milik pelancong yang hanya menjadikannya sebagai latar belakang foto, yang tak tahu apa-apa tentangnya. Merapi juga milik saya, yang sedari kecil tinggal di dadanya, yang minim sekali pemahaman tentangnya.

Aktivitas Merapi hari-hari menunjukkan keberagaman cara orang mendefinisikan Merapi. Ada yang menempatkan Merapi sebagai bencana, sehingga perlu menolong para korban; ada yang menempatkan Merapi sebagai rejeki karena tanah-tanah akan subur berkat guyuran abu, karena kali-kali akan dipenuhi pasir untuk ditambang; ada yang menempatkan Merapi sebagai simbol solidaritas sosial dalam wujud bantuan, dll.

Apa pun definisi anda, bolehlah kita sekali lagi berdendang bersama Pak Maryoto:

 

Pandanglah utara

Bila kau di Jogja

Kan tampak olehmu

Gunung megah

Anggun tiada tara

Sungguh bijaksana

Itulah Si Gunung Merapi

 

Dada Merapi, 2 November 2010

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Gowes Merdeka: Menaklukkan Tanjakan Terakhir

1 Comment

Pengalaman mengalahkan bayangan. Demikian kata-kata bisa diracik.

Semula, sebagian teman peserta Gowes Merdeka Jogja-Borobudur berniat untuk cukup memancal sepeda sampai di Ancol. Separo jalan. Dalam bayangan mereka, Borobudur teramatlah jauh. Sedari awal, mereka sudah yakin tidak akan sanggup menempuh. “Bolehkah kami ikut jika tidak sampai tujuan?” pinta mereka saat menyodorkan pendaftaran nir formulir.

Tentu saja boleh. Yang tidak boleh, seperti yang saya tulis di pengumuman fesbuk, adalah berhenti di tengah jalan. Kalau mau berhenti harus minggir. Jika di tengah, bisa tertabrak!

Maka, berbondong-bondonglah teman-teman itu ke Bundaran UGM, pagi 17 Agustus 2010, petang sebelum matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 05.00 wib ketika satu per satu mereka menampakkan hidung.

Sudah ada Bang Ugartua Rumahorbo saat saya tiba. Setelan kostum merah-merah khas atlet sepeda lintas nusantara menandai keseriusan abang yang hobi sepedaan ke kantor ini. Masih gelap, dari kejauhan saya tak mengenalinya. Beda sekali penampilannya dengan keseharian sebagai eksekutif Penerbit Erlangga yang termasyur itu.

Dari ujung telpon, Danu Primanto memberi kabar sedang dalam perjalanan setelah memastikan mendapatkan pinjaman sepeda. Entah teman yang mana yang ia perdaya. Yang terang, fotografer situs berita Jogja http://www.tourjogja.com ini datang secara sumringah, dengan wajah sendunya yang senantiasa tampak teduh.

Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ngebut dari arah selatan. “Saya khawatir ditinggal,” bisiknya mendapati jumlah sepeda yang tidak sebanyak yang ia bayangkan. Ia pikir ini event akbar yang bakal diikuti ratusan atau ribuan peserta layaknya acara sepeda gembira yang kerap digelar di Jogja.

Dari arah punggung, turun dari lereng Merapi, dengan satu-satunya sepeda lipat yang ikut, datang Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku Pak Beye dan Istananya (Penerbit Kompas, 2010). Berkaos “45 Tahun Kompas Merajut Nusantara”, ia seperti hendak melanjutkan keikutsertaan dalam gowes Surabaya-Jakarta tempo hari yang sempat diikutinya di sepenggal rute saat peserta melintas di Jogja.

Berturut-turut teman-teman lain datang. Chandra Sena, Laga, Haris, Sugeng, Wompy, dan Bayu, dari Komunitas Gowes Koprol Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ada yang penuh semangat sejak beberapa hari lalu, ada yang baru semalam memutuskan ikut gara-gara dibujuk kiri-kanan.

Ada kejutan. Dua teman cewek ikut serta pula. Kejutannya bukan karena mereka cewek. Bukan pula karena mereka belum pernah bersepeda jauh. Lalu?

Mereka datang tergopoh-gopoh. Dari arah timur. Saya pikir, mereka sedang berpacu dengan matahari –dan mereka menang. Masih gelap saat mereka datang. Saya tidak lekas menyapa karena mereka, Anka dan Yuyut, langsung duduk di bibir boulevard. Anka menyelonjorkan kedua kakinya. Ia menambal kedua lututnya dengan kapas. Ups, ternyata habis terjatuh. “Tadi waktu lewat Jalan Solo, ada orang gila nglempar batu ke kami. Kami jatuh. Yuyut tak luka. Orang gila itu lari mendekat, kami pun lebih dulu lari,” ungkap Anka tanpa meminta iba. Hebat, mereka memutuskan untuk maju terus!

Alhasil, kami pun bersiap. 13 orang bergabung. Beberapa teman lain urung karena berbagai alasan. Ada yang mendadak mendapat tugas kantor. Ada yang lembur mengerjakan tugas ibunya. Ada yang kakinya pegal duluan. Ada yang tak memberi kabar.

Karena belum semua saling mengenal, kami berdiri melingkar. Saling mengenalkan diri sambil menatap wajah-wajah yang belum terbasuh sinar mentari. Pemimpin perjalanan dan penyapu di buntut rombongan pun kami tentukan.

Berangkat!

Kami memasuki kompleks Universitas Gadjah Mada. Terus ke utara, melewati samping Grha Sabha Pramana, lalu berfoto bersama di halaman Balairung. Arsitek kantor pusat UGM tersebut adalah Ir Soekarno, yang memilih untuk meninggalkan karir keinsinyurannya –dan ini tidak pernah dipertanyakan di pelajaran sejarah sekolah kita– untuk  menjadi aktivis kemerdekaan republik, menjadi presiden pertama republik, dan mati sebagai orang buangan presiden kedua republik.

Usai menjunjung sepeda melompati celah pintu pejalan kaki di pagar Balairung, kami menuju Selokan Mataram. Susur selokan pun kami mulai. Ke arah barat. Matahari sudah semburat. Melewati jembatan baru yang melangkahi Kali Code, kami terus menggowes santai ke barat, menyeberangi Jalan Magelang dan Jalan Lingkar Barat.

Begitu lepas dari sana, pemandangan alam mulai dominan menghampiri mata kami. Tidak lagi permukiman yang kami susuri, melainkan bentangan sawah yang menghijau. Air selokan yang coklat pekat, yang mengalir melawan arah kami, seperti mengiringi deras aliran darah di tubuh kami. Penuh semangat!

Di simpang Jalan Cebongan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel sepeda motor yang baru buka seintip pintu. Kami butuh pinjam kunci pas untuk membetulkan roda sepeda Yuyut yang nggesut gara-gara jatuh tadi. Beres!

Jalan beraspal di pinggir Selokan Mataram mulai naik turun sejak itu. Permukaannya mengikuti kontur tanah di sekitar aliran kali irigasi buatan zaman Jepang itu. Sedikit tanjakan memaksa kami menekan pedal lebih tegas. Sedikit turunan memanjakan kami pada udara sangat segar yang boleh kami hirup.

Sampai di ruas Seyegan, sekitar pukul 06.30 wib, kami mulai beriringan dengan adik-adik SMP yang hendak berangkat ke sekolah. Ini tanggal merah. Mereka masuk untuk ikut upacara bendera tujuh belasan. Bangga melihat mereka mau naik sepeda. Hare geneee masih ada yang mau ke sekolah keringetan?

Karena sudah hobi bersepeda, Mas Inu, Bang Ugar, dan Mas Bambang, melaju cepat di depan.  Sedang teman-teman yang lain, karena tidak pernah bersepeda, atau tidak terbiasa melaju di jalan raya (on road), tercecer di belakang. Alhasil, pada titik-titik tertentu kami saling menunggu.

Weh, pit-e antik… pit-e antik,” teriak anak-anak SMP 2 Tempel saat menggumuni sepeda lipat Mas Wisnu, saat kami berhenti di persimpangan selokan dengan jalan raya penghubung Tempel-Klangon. Mungkin ana-anak itu membatin, ada orang sudah gede kok masih mainan sepeda anak-anak.

Usai melewati jalan kampung, karena jalan tepian selokan sudah “habis” kami memasuki kawasan Ancol. Di sini, di Kali Progo ini, kepala Selokan Mataram terletak, sedang ujung ekornya ada Sungai Opak sana, sejengkal dari Candi Prambanan di timur sana.

Semula, sebagian teman hendak berbalik kanan di sini. Namun, pengalaman asyik sepanjang jalan tadi, plus komporan dari kami, mendidihkan adrenalin mereka untuk melanjutkan perjalanan. “Itu tanjakan terakhir kita,” tunjuk saya pada ruas jalan terjal di seberang sungai, menjawab keingintahuan seorang teman yang hendak meyakinkan niatnya. “Tanggung, masa udah sampai sini nggak sekalian ke Borobudur,” teman yang lain tak kalah garang memanas-manasi.

Akhirnya, ditambah bergabungnya dua teman, Andon dan Dedy Kristanto, yang menyusul, tak satu pun penggowes mengayuh mundur pedalnya. Semua maju, tak terkecuali Anka yang lecet lututnya merembeskan darah. Mas Bambang yang puasa saja bersemangat, masa yang lain loyo.

Sepenggal jalan bebatuan menanjak segera kami tempuh untuk meninggalkan Kali Progo ini. Ini tanjakan terjal pertama yang kami hadapi sejak 25 km pertama. Sebagian besar kami terpaksa memperlakukan sepeda kami layaknya sapi yang hendak disembelih. Menuntun sepeda.

Di ujung tanjakan, kelezatan lintasan halus menyambut kami. Dalam nafas yang tersengal-sengal usai menuntun, kembali saya yakinkan teman-teman bahwa di depan sana datar-datar saja. Hanya ada sedikit tanjakan. Bersemangatlah mereka melaju, melewati plang petunjuk arah tempat ziarah “Sendang Sono”.

Tahun lalu, di tanggal yang sama, saya bersepeda sendirian ke kompleks peziarahan Maria itu. Juga melewati sebagian penggal Selokan Mataram. Kali ini, melalui ajakan “iseng-iseng berhadiah” di fesbuk, saya mengajak teman-teman bergabung. Dan ternyata banyak yang berminat.

Ternyata, tanjakan terjal dan turunan curam kembali menyambut kami. Sebagian besar peserta terpaksa kembali bergelayut di samping sepeda. Gigi pedal tak ada lagi yang mau menolong. Gir paling enteng pun sudah putus asa.

Gerutu mulai terlontar. Gerutu yang justru memacu hasrat untuk terus melaju. “Kunto kurang ajar. Katanya tadi tanjakan terakhir. Nggak tahunya masih ada tanjakan lagi,” kami tertawa lepas di sebuah warung kecil di seberang Pasar Japuan-Tanjung Magelang. Jarak peserta terdepan dan terbelakang begitu jauh. Maka kami putuskan beristirahat di sana. Hanya Mas Bambang yang puasa, dan tetap puasa hingga kembali pulang nanti. Kami makan dan minum di warung soto milik ibu berkerudung itu. Ber-14 cuma habis Rp 50.000. Bang Ugar yang traktir.

Rambu-rambu di tengah jalan itu melegakan kami. “Borobudur 7 km”. Saya yakinkan teman-teman jika trek terakhir ini datar-datar saja. Tak ada lagi tanjakan. Nyatanya, sampai di Borobudur, tanjakan terakhir itu tak pernah ada. Walau kemiringannya kecil, tetap saja ada tanjakan.

Namun, syukurlah, walau tak pernah mendapati tanjakan terakhir, tak satu pun peserta menyerah. Tepat pukul 10.00 wib, kami tiba di pintu masuk Borobudur. Sesuai target. Dan untuk turut merayakan hari jadi Republik Indonesia, kami berfoto bersama sembari mengepalkan tangan kiri di atas-depan kepala. Tanpa kibaran bendera merah putih, kecuali bendera milik pengelola. Juga, tanpa sedikit pun emblem atau embel-embel keindonesiaan lain. Kami bercelana pendek, berkaos oblong, jauh dari layak jika harus upacara bendera.

Kelar berfoto di depan papan nama Taman Wisata Candi Borobudur, kami menyusuri jalan kampung di samping kompleks candi Buddha tinggalan Dinasti Syailendra abad ke-8-9 ini. Kami tidak berfoto di dalam kompleks, mendekati candi, karena oleh petugas kami dilarang masuk mengendarai sepeda. Ironis memang, di negara agraris ini, pola hidup orang-orang agraris justru disingkirkan. Tentang pelarangan sepeda ini, silakan baca tulisan saya di sini.

Ya, sudah. Yang penting kami sudah mencapai tujuan. Setelah cukup berpantas muka dengan jepretan kamera, kami pun bergegas kembali ke Jogja. Mampir Candi Mendut. Di siang yang sangat terik. Lewat rute yang minim “tanjakan terakhir”.

Yogyakarta, 18 Agustus 2010

Salam Gowes Merdeka,

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Gowes Merdeka Jogja-Borobudur

1 Comment

Gratis. Siapa pun boleh bergabung

Selasa, 17 Agustus 2010

Berangkat: Bundaran UGM, pukul 05.00 wib

Tujuan: Candi Borobudur, Magelang

—————————————————–

Anugerah ini bernama kemerdekaan. Indonesia menjadi republik. Hari jadinya kita kenang untuk ke-65 kalinya pada 17 Agustus 2010. Selasa Pahing, hari ke-7 puasa bagi saudara-saudara Muslim.

Rasanya, tak salah jika kemerdekaan ini kita rayakan. Tidak perlu bermewah-mewah, toh harga sembako juga sedang mahal, harga LPG segera dikatrol. Kita tetap bisa merdeka, meski secara ekonomi kita sengsara. Hati kita tetap bisa merdeka, walau …rasa sedang terhimpit. Pikiran kita pun tetap bisa bebas pasung, walau otak kemrungsung.

Bersepeda bisa jadi pilihan. Tanpa perlu beli bensin, cukup seliter air mineral. Kita minum di balik rimbun pohon, jauh dari penglihatan saudara-saudara yang sedang puasa. Kalau bawa sangu dari rumah, mungkin sambel tempe, atau mangut, bolehlah disantap bersama. Kemerdekaan bisa kita maknai sebagai berbagi rejeki.

Puasa juga boleh ikut. Siapa tahu sampeyan justru beroleh barokah lewat gerak raga sambil menahan hawa wadag. Berbagi sedekah? Tentu jauh lebih baik. Kita akan melewati banyak permukiman penduduk, menjumpai banyak petani, juga adik-adik yang mungkin di antaranya butuh petunjuk untuk menggapai mimpi layaknya Andrea Hirata.

Perjalanan kita ke Borobudur. Bukan karya Indonesia merdeka, namun kekayaan Indonesia merdeka. Patut kita mensyukurinya.

Tak jauh jarak Borobudur dari Jogja. Hanya sekira 40 km. Dengan gowesan santai, 2 jam cukup untuk mencapai Candi Buddha yang dibangun Dinasti Syailendra pada abad ke-8 sampai 9 Masehi tersebut.

Berangkat dari Bundaran UGM, supaya segala penjuru bisa menjangkaunya, pada pagi 17 Agustus pukul 05.00 wib, sebelum matahari terbit, kita akan susuri Selokan Mataram, setelah berpamitan pada Balairung UGM pahatan proklamator Soekarno.

Sampai dengan Gamping, kita masih akan menyelinap di tengah permukiman padat penduduk. Namun, sesudahnya, kita akan menari di tengah persawahan, bersama burung-burung pagi, bersama matahari yang menghangati punggung kita.

Selokan Mataram simbol kemakmuran. Air yang menyatukan Progo dan Opak itu simbol kedaulatan Jogja menghadapi penjajah Jepang. Supaya rakyat tidak dicokok menjadi romusha, HB IX meminta “proyek” pada saudara tua. Alhasil, rakyat jadi pekerja saluran air, yang kelak hasil kerjanya mereka nikmati juga. Air berlimpah, sawah-sawah subur, anak-anak lemu-lemu tak kurang pangan. Kita akan menyerap energi itu saat melintasinya.

Ancol, di penghujung Selokan Mataram, menyuguhkan potret keadilan. Air Progo dibendung, dibagi-bagi, supaya seluruh tanah terairi, supaya seluruh jiwa tersirami. Padi yang menguning, pohon-pohon yang menghijau, dan punggung-punggung petani yang legam itu, adalah buah dari pemimpin yang tak serakah.

Sampai di sana, perjalanan relatif datar. Tak ada jalan naik-turun yang curam.

Naik sedikit, jika ingin mendaki lebih tinggi, boleh singgah di Sendangsono. Di sana berdiri patung Maria, ibu Yesus yang anaknya disalibkan untuk kemerdekaan umat manusia, tempat bersimpuh para peziarah yang ingin melepaskan diri dari beban hidup. Kepada Maria, para peziarah itu mohon pertolongan.

Sepuluh kilometer dari sana, menyusuri jalan raya yang sangat nyaman, dan setelah melewati Candi Mendut, sampailah kita di Borobudur. Di sana bersamadi Sang Buddha, Sang Gautama yang memilih keluar dari tembok istana untuk memerdekakan umat manusia.

Sungguh tepat. Semua bertema kemerdekaan. Maka, marilah kita merayakannya. Merdeka!

Tidak dipungut biaya sepeser pun. Silakan membiayai diri sendiri, syukur berbagi dengan teman. Segala risiko senang, gembira, dan bersuka cita, silakan ditanggung sendiri, syukur berbagi dengan saudara. Membawa makanan besar atau kecil, dan minuman panas-dingin, disilakan, untuk disantap sepantasnya.

Berapa pun yang ikut, sepeda akan tetap dipancal. Siapa pun yang ikut, dilarang berhenti di tengah jalan. Menepilah jika berhenti. Semua boleh pulang ke rumah masih-masing, sampai atau tidak di tujuan. Merdeka-merdeka saja.

Boleh mengajak siapa pun, sebagaimana boleh melarang diri sendiri untuk ikut. Ukur sendiri kekuatan fisik dan mental. Syukur ada teman dokter atau para medis yang bergabung. Kalau Anda tidak ikut, Anda pasti akan iri. Tapi kalau Anda ikut, Anda wajib iri dan anan untuk mengayuh pedal.

Salam merdeka!
AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com, http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Menggosok Batu Berlian

3 Comments

singgah di museum ullen sentalu, kaliurang, november tahun lalu. kemarin nyepeda, tapi tak motret.

Kamis-Minggu, 25-28 Februari kemarin, saya diundang oleh Signis Indonesia untuk mendampingi pengelola media paroki se-Keuskupan Agung Semarang dalam pelatihan menulis Basic Media and Journalism Training for Community Empowerment di Kaliurang, Jogja, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Komisi Komsos KAS. Saya buatkan catatan sebagai oleh-oleh.

Dengan kacamata baru, batu kerakal bisa jadi berlian. Jumput batu itu, usap debunya. Gosok keras, lagi, dan lagi. Tentu debu berhamburan, mengganggu pernafasan. Tapi tahanlah nafas sebentar dan terus menggosok. Lupakan berkedip. Tekan dengan ujung jari jika permukaan batu telah meramping. Tidak harus keras. Lembut, namun pasti. Ya, bila menggosok melibatkan hati.

Seperti Sabtu pagi tempo hari. Tiga puluhan orang menyerbu kawasan wisata Kaliurang, Jogja. Bukan untuk bikin onar, tetapi untuk menggali kesunyian. Bukan untuk menari-nari menikmati libur panjang akhir pekan, tetapi untuk mengasah kepekaan dalam menemukan batu kerakal yang pantas jadi berlian. Batu itu berserakan di jalanan, juga di pelataran rumah-rumah penginapan. Sebagian lagi terselip di antara rerumputan yang tak pernah dicukur.

Mereka, teman-teman saya dari Sragen, Solo, Klaten, Semarang, dan Jogja itu, tak tahu mana batu yang bisa jadi berlian. Tampak dari kejauhan tak ada kilau di sana. Semua sama saja.

Syukurlah mereka mau mendekat. Melihat lebih dekat. Lebih dekat lagi. Toh tak juga kelihatan. Di tempat asal mereka, batu-batu seperti itu sama saja berserakannya. Kalau beruntung, batu itu diusung lalu ditanam sebagai pondasi rumah. Terkubur selamanya. Kalau sedikit beruntung, batu itu disorong ke halaman rumah sebagai penghias taman, yang jika pemiliknya sedang malas merawat, batu itu terselimuti perdu. Dan kalau apes, batu itu akan disampar ke tengah jalan, jadi sandungan bagi pelintas.

Syukurlah, mereka mau bertekun untuk menemukan batu yang jauh lebih beruntung ketimbang batu-batu itu. Batu berlian. Belum tentu batu itu ada. Jika ada, belum tentu pula batu itu tahu bahwa dalam dirinya ada berlian. Jika pun berlian, belum tentu kualitas nomor satu. Jika bukan nomor satu, siapa yang mau mengempu?

butuh proses mendalam untuk menghasilkan berlian berkualitas

Di Kaliurang, batu itu mewujud dalam rupa penjual jadah-tempe, pisang, sate kelinci, pengelola penginapan, penjaga loket taman bermain, peternak sapi perah, sopir kereta wisata, dan masih banyak lagi. Mereka bertebaran di mana saja, hanyut dalam kesibukan masing-masing. Kadang, mereka pun kadung menyapa orang lewat dalam relasi transaksional. “Jadah-tempenya, Mbak.” “Mari, coba sate kelincinya.” “Salak pondoh, Bu, asli Turi.” “Ampyang kacang, Pak, khas Kaliurang.” “Butuh berapa kamar?” “Kamar mandi dalam, pakai air hangat.” “Dewasa/anak-anak Rp 5.000.” Hanya jika mendatangkan hubungan ekonomis mereka mau membuka diri.

Tak mengapa. Beberapa teman saya justru menjadikan cara itu sebagai pintu masuk untuk mengetahui apakah di dalam diri orang-orang tersebut terdapat berlian. Mereka berperan sebagai pembeli. Membayar, mencicipi, dan menikmati. Sambil duduk, untuk kemudian berbincang. Duduk bersebelah-sebelah, supaya tak saling asing.

Sambil duduk, teman-teman saya mulai menggali informasi. Lewat pertanyaan, pernyataan, pengamatan, pendengaran, penciuman, dan perasaan. Seperti pencari berlian, teman-teman itu mencari siapakah di antara penjual produk wisata itu yang menyimpan pengalaman dan pendalaman hidup berkualitas. Dan tak semua pencari itu menemukan buruannya. Ada yang puas ketika lapisan debu tersingkap, ada yang mentok ketika isi dalam batu makin mengeras, namun ada beberapa yang bersikeras untuk menggosok lebih dalam lagi.

Benar saja, ada berlian di antara batu-batu itu. Baru nyata ketika digerinda dan diamplas. Ada berlian yang berjualan jadah tempe sejak usia menstruasi hingga sekarang di usia senja. Benar-benar berlian. Bahkan di zaman ketika masyarakat sudah terbenam dalam pola konsumsi makanan pabrikan, ia masih mengemas tempe dan tahu bacemnya dengan daun pisang. Ketika barang di mal hanya laku jika SPG-nya memakai rok mini, ibu bercucu ini masih pakai kebaya saat jualan di pinggir jalan berdebu. Tapi ia seperti tak peduli. Yang ia tahu, barang jualannya enak, khas Kaliurang, dan cocok dijadikan oleh-oleh. Pula, tidak mengandung bahan pengawet.

Penjual pisang di bawah pohon beringin arah Telaga Putri juga demikian. Dari rumahnya di Deles, Klaten, punggung timur Merapi, perlu waktu 5 jam untuk sampai di Kaliurang, dada selatan Merapi. Jalan kaki, setiap hari. Baru berangkat, belum pulangnya. Jika laku, belum jika layu karena tak ada pembeli. Menyusuri jalan setapak yang licin, naik-turun, dan tak berpenerangan lampu. Tanpa asuransi, jika jatuh terpeleset. Tanpa kepastian. Toh, ia tetap melakoni jalan hidupnya itu berpuluh tahun lamanya. Untuk sekolah anak-anak, untuk menanak nasi bagi keluarga yang harga berasnya kini jauh melampaui harga pisang jualannya.

Satu lagi berlian ada di penginapan tempat kami berkegiatan. Bukan kebetulan, lagi-lagi seorang ibu. Ia bekerja di dapur, memasak untuk para tamu yang umumnya rombongan. Juga hari itu, memasak untuk kami. Menurut tuturannya, kini tempatnya bekerja makin dijauhi tamu. Sepi. Banyak tamu lebih memilih penginapan yang bangunannya baru. Kenelangsaan ini menindih sejak ibu pemilik wisma itu meninggal beberapa tahun lalu. Ada kenyamanan yang tak lagi dirasakan tamu begitu wisma dikelola oleh sang anak. Keramahan, keluwesan, dan pelayanan prima tak lagi ada. Toh si ibu tetap bertahan. Satu-dua tamu yang ada ia layani dengan penuh syukur. Kekeluargaan sesama karyawanlah yang menguatkannya untuk tak lekas pulang ke kampung halaman menjadi petani.

Siapa sungguh-sungguh berlian?

Belanja batu itu mengasyikkan. Pesona para ibu yang berhasil mereka korek kehidupannya menggiring mereka untuk yakin bahwa para ibu itu sungguh-sungguh berlian. Maka, mereka membungkus kisah para ibu itu dalam tulisan bergaya feature. Tulisan itu mereka tempelkan di dinding kelas untuk dibaca teman-teman yang lain. Menarik, apresiasi sesama teman. Ada kekaguman di antara para peserta karena tidak semua dari mereka dapat melihat batu berharga itu sebagai potensi berlian.

Saya ajak mereka duduk mengendapkan. Bilakah batu-batu itu sungguh berlian? Bilakah batu-batu itu berlian palsu? Yang berkilau di permukaan, namun di dalamnya hanya abu?

Di sinilah ketekunan itu hadir. Sebagaimana berlian yang dihasilkan dari proses penempaan yang keras, dengan tekanan temperatur yang tinggi, proses pengujiannya pun sama kerasnya. Butuh ketekunan untuk menyingkap kejernihan, kadar karat, warna, dan bentuk potongan. Satu kesatuan. Supaya tidak terjebak pada kilaunya saja.

Jogja, 1 Maret 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Older Entries