Akhir Mei

Leave a comment

cek

Advertisements

Menggosok Batu Berlian

3 Comments

singgah di museum ullen sentalu, kaliurang, november tahun lalu. kemarin nyepeda, tapi tak motret.

Kamis-Minggu, 25-28 Februari kemarin, saya diundang oleh Signis Indonesia untuk mendampingi pengelola media paroki se-Keuskupan Agung Semarang dalam pelatihan menulis Basic Media and Journalism Training for Community Empowerment di Kaliurang, Jogja, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Komisi Komsos KAS. Saya buatkan catatan sebagai oleh-oleh.

Dengan kacamata baru, batu kerakal bisa jadi berlian. Jumput batu itu, usap debunya. Gosok keras, lagi, dan lagi. Tentu debu berhamburan, mengganggu pernafasan. Tapi tahanlah nafas sebentar dan terus menggosok. Lupakan berkedip. Tekan dengan ujung jari jika permukaan batu telah meramping. Tidak harus keras. Lembut, namun pasti. Ya, bila menggosok melibatkan hati.

Seperti Sabtu pagi tempo hari. Tiga puluhan orang menyerbu kawasan wisata Kaliurang, Jogja. Bukan untuk bikin onar, tetapi untuk menggali kesunyian. Bukan untuk menari-nari menikmati libur panjang akhir pekan, tetapi untuk mengasah kepekaan dalam menemukan batu kerakal yang pantas jadi berlian. Batu itu berserakan di jalanan, juga di pelataran rumah-rumah penginapan. Sebagian lagi terselip di antara rerumputan yang tak pernah dicukur.

Mereka, teman-teman saya dari Sragen, Solo, Klaten, Semarang, dan Jogja itu, tak tahu mana batu yang bisa jadi berlian. Tampak dari kejauhan tak ada kilau di sana. Semua sama saja.

Syukurlah mereka mau mendekat. Melihat lebih dekat. Lebih dekat lagi. Toh tak juga kelihatan. Di tempat asal mereka, batu-batu seperti itu sama saja berserakannya. Kalau beruntung, batu itu diusung lalu ditanam sebagai pondasi rumah. Terkubur selamanya. Kalau sedikit beruntung, batu itu disorong ke halaman rumah sebagai penghias taman, yang jika pemiliknya sedang malas merawat, batu itu terselimuti perdu. Dan kalau apes, batu itu akan disampar ke tengah jalan, jadi sandungan bagi pelintas.

Syukurlah, mereka mau bertekun untuk menemukan batu yang jauh lebih beruntung ketimbang batu-batu itu. Batu berlian. Belum tentu batu itu ada. Jika ada, belum tentu pula batu itu tahu bahwa dalam dirinya ada berlian. Jika pun berlian, belum tentu kualitas nomor satu. Jika bukan nomor satu, siapa yang mau mengempu?

butuh proses mendalam untuk menghasilkan berlian berkualitas

Di Kaliurang, batu itu mewujud dalam rupa penjual jadah-tempe, pisang, sate kelinci, pengelola penginapan, penjaga loket taman bermain, peternak sapi perah, sopir kereta wisata, dan masih banyak lagi. Mereka bertebaran di mana saja, hanyut dalam kesibukan masing-masing. Kadang, mereka pun kadung menyapa orang lewat dalam relasi transaksional. “Jadah-tempenya, Mbak.” “Mari, coba sate kelincinya.” “Salak pondoh, Bu, asli Turi.” “Ampyang kacang, Pak, khas Kaliurang.” “Butuh berapa kamar?” “Kamar mandi dalam, pakai air hangat.” “Dewasa/anak-anak Rp 5.000.” Hanya jika mendatangkan hubungan ekonomis mereka mau membuka diri.

Tak mengapa. Beberapa teman saya justru menjadikan cara itu sebagai pintu masuk untuk mengetahui apakah di dalam diri orang-orang tersebut terdapat berlian. Mereka berperan sebagai pembeli. Membayar, mencicipi, dan menikmati. Sambil duduk, untuk kemudian berbincang. Duduk bersebelah-sebelah, supaya tak saling asing.

Sambil duduk, teman-teman saya mulai menggali informasi. Lewat pertanyaan, pernyataan, pengamatan, pendengaran, penciuman, dan perasaan. Seperti pencari berlian, teman-teman itu mencari siapakah di antara penjual produk wisata itu yang menyimpan pengalaman dan pendalaman hidup berkualitas. Dan tak semua pencari itu menemukan buruannya. Ada yang puas ketika lapisan debu tersingkap, ada yang mentok ketika isi dalam batu makin mengeras, namun ada beberapa yang bersikeras untuk menggosok lebih dalam lagi.

Benar saja, ada berlian di antara batu-batu itu. Baru nyata ketika digerinda dan diamplas. Ada berlian yang berjualan jadah tempe sejak usia menstruasi hingga sekarang di usia senja. Benar-benar berlian. Bahkan di zaman ketika masyarakat sudah terbenam dalam pola konsumsi makanan pabrikan, ia masih mengemas tempe dan tahu bacemnya dengan daun pisang. Ketika barang di mal hanya laku jika SPG-nya memakai rok mini, ibu bercucu ini masih pakai kebaya saat jualan di pinggir jalan berdebu. Tapi ia seperti tak peduli. Yang ia tahu, barang jualannya enak, khas Kaliurang, dan cocok dijadikan oleh-oleh. Pula, tidak mengandung bahan pengawet.

Penjual pisang di bawah pohon beringin arah Telaga Putri juga demikian. Dari rumahnya di Deles, Klaten, punggung timur Merapi, perlu waktu 5 jam untuk sampai di Kaliurang, dada selatan Merapi. Jalan kaki, setiap hari. Baru berangkat, belum pulangnya. Jika laku, belum jika layu karena tak ada pembeli. Menyusuri jalan setapak yang licin, naik-turun, dan tak berpenerangan lampu. Tanpa asuransi, jika jatuh terpeleset. Tanpa kepastian. Toh, ia tetap melakoni jalan hidupnya itu berpuluh tahun lamanya. Untuk sekolah anak-anak, untuk menanak nasi bagi keluarga yang harga berasnya kini jauh melampaui harga pisang jualannya.

Satu lagi berlian ada di penginapan tempat kami berkegiatan. Bukan kebetulan, lagi-lagi seorang ibu. Ia bekerja di dapur, memasak untuk para tamu yang umumnya rombongan. Juga hari itu, memasak untuk kami. Menurut tuturannya, kini tempatnya bekerja makin dijauhi tamu. Sepi. Banyak tamu lebih memilih penginapan yang bangunannya baru. Kenelangsaan ini menindih sejak ibu pemilik wisma itu meninggal beberapa tahun lalu. Ada kenyamanan yang tak lagi dirasakan tamu begitu wisma dikelola oleh sang anak. Keramahan, keluwesan, dan pelayanan prima tak lagi ada. Toh si ibu tetap bertahan. Satu-dua tamu yang ada ia layani dengan penuh syukur. Kekeluargaan sesama karyawanlah yang menguatkannya untuk tak lekas pulang ke kampung halaman menjadi petani.

Siapa sungguh-sungguh berlian?

Belanja batu itu mengasyikkan. Pesona para ibu yang berhasil mereka korek kehidupannya menggiring mereka untuk yakin bahwa para ibu itu sungguh-sungguh berlian. Maka, mereka membungkus kisah para ibu itu dalam tulisan bergaya feature. Tulisan itu mereka tempelkan di dinding kelas untuk dibaca teman-teman yang lain. Menarik, apresiasi sesama teman. Ada kekaguman di antara para peserta karena tidak semua dari mereka dapat melihat batu berharga itu sebagai potensi berlian.

Saya ajak mereka duduk mengendapkan. Bilakah batu-batu itu sungguh berlian? Bilakah batu-batu itu berlian palsu? Yang berkilau di permukaan, namun di dalamnya hanya abu?

Di sinilah ketekunan itu hadir. Sebagaimana berlian yang dihasilkan dari proses penempaan yang keras, dengan tekanan temperatur yang tinggi, proses pengujiannya pun sama kerasnya. Butuh ketekunan untuk menyingkap kejernihan, kadar karat, warna, dan bentuk potongan. Satu kesatuan. Supaya tidak terjebak pada kilaunya saja.

Jogja, 1 Maret 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Donor Darah, Gaya Hidup Baru

3 Comments

Sudah berapa kali Anda donor darah?

Pertanyaan menggelitik ini datang dari Jusuf Kalla, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). Sejak mengetuai organisasi kemanusiaan ini, JK memang langsung menggebrak. Hmmm, khas JK. Langsung bergerak, langsung mengajak. Hasilnya, pemberitaan tentang PMI langsung membombardir media belakangan.

Bagi JK, donor darah harus menjadi gaya hidup. Orang harus merasa malu jika tidak pernah donor darah. Tentu ini berlaku mereka mereka yang memenuhi syarat donor. Tidak berlaku bagi mereka yang menderita sakit tertentu, atau berat badan tidak mencapai angka minimal.

Mal, masjid, dan gereja diusulkan JK menjadi tempat donor darah. Televisi pun ia minta untuk menyediakan slot iklan sebagai wujud donor non darah. Ia pun membuka gerai PMI di mal, supaya mereka yang sedang berbelanja bisa mampir. “Kemarin kita adakan kegiatan di Senayan City. Saya tanya ke manajemen Senayan City, di situ dalam satu hari jumlah pengunjung mencapai 50.000 orang. Kalau satu persen saja yang donor darah, sudah dapat 500 kantong dalam sehari,” katanya.

Gebrakan Jusuf Kalla ini pantas disambut dengan tangan mengepal. Dengan satu kata, “Ya!” untuk donor darah. Betapa tidak. Tanpa keikutsertaan kita semua, dari mana persoalan kemanusiaan yang satu ini bisa diurai? Rasakan data ini: dari kebutuhan 4 juta kantong darah per tahun, baru 1,7 kantong terpenuhi. Sisanya? Bisa mati, bisa hidup dalam derita berkepanjangan.

Memberi Tanpa Kehilangan

Donor darah mengajari saya pengertian ungkapan ini “memberi tanpa kehilangan”. Satu kantong, 350 cc, darah yang disedot dari tubuh saya, ternyata tidak berarti kehilangan bagi saya. Justru yang hilang ini memungkinkan berlangsungnya pembaruan sel darah di tubuh kita. Hilang berarti membarui. Hilang dan akan kembali.

Itu penjelasan matematis-biologisnya. Sedangkan di balik itu, ada filosofi yang sangat mendalam, betapa donor bukan semata aspek darah, namun juga nyawa. Johanes F Koraag, seorang pendonor yang telah lebih 80 kali menghibahkan darahnya kepada orang lain, dalam bukunya “Berbagi Nyawa” (Pustaka Marwa, 2010) menegaskan ini. Darah adalah bagian penting kehidupan kita. Darah adalah kehidupan itu sendiri. Darah dan kehidupan tidak terpisahkan.

Maka, bagaimana bisa orang melepaskan darahnya untuk orang lain sementara darah itu kehidupannya? Inilah misterinya. Saat darah diambil dari tubuh kita, perasaan kehilangan itu bisa lenyap seiring dengan senyum keluarga pasien yang kita sumbang.

Dalam pengalaman, setiap mendonor, saya merasa ada kebahagiaan yang tak dapat digantikan apa pun. Bahagia. Apalagi klo kelak tahu bahwa pasien yang menerima darah kita itu sehat dan bahagia. Rasa bahagia ini jauh melebihi apa pun. Satu nyawa terselamatkan…

Karena golongan darah saya langka, yakni AB, saya memilih untuk mengutamakan donor darah untuk kondisi darurat. Panggilan tengah malam, atau dini hari kala telah tidur pulas, atau waktu hujan, adalah konsekuensi yang saya ambil. Saya belajar ini dari banyak orang di sekitar saya yang begitu tulus menyediakan lipatan sikunya ditusuk jarum. Rasa lelah, kantuk, dan kadang malas itu, syukurlah, bisa saya tepis saat mengingat betapa lelah dan kantuk keluarga pasien lebih berlipat dari saya. Juga, betapa setiap pasien ingin lekas keluar dari derita yang mereka pikul.

Saya memiliki darah ini secara cuma-cuma, maka membaginya kepada sesama pun cuma-cuma. Ini sekaligus menegaskan kepada semua pihak untuk tidak berhubungan dengan vampire atau calo penghisap darah yang memang suka berkeliaran mengepung keluarga pasien yang sedang kalut. Keluarga hanya perlu menyediakan dana untuk pemeriksaaan darah di laboratorium. Dan memang tidak murah.

Jika sampai dengan masa 3 bulan tak ada panggilan darurat hinggap ke telepon genggam saya, saya menjadi pendonor sukarela di PMI atau di ajang donor darah masal. Ini saya lakukan dengan pertimbangan kesehatan saya sendiri. Supaya sel darah saya berganti dengan yang baru, donorlah solusinya. Untuk pemilik darah A, B, dan O, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari AB, saya sarankan membiasakan donor darah. Malulah pada diri sendiri dan lingkungan kalau tidak pernah donor darah.

Selamat jadi sukarelawan donor darah. Selamat menempuh gaya hidup baru: donor darah!

Jogja, 22 Februari 2010
Salam AB,
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com

]

Pengadilan Karya, Tempat Terdakwa Bangga

1 Comment

20091025 pelatihan menulis kreatif @ kuwera (4)

berkumpul, berkarya, berbangga

Orang-orang muda itu berbicara tanpa menunduk, duduk tanpa mengantuk. Sungguh menggetarkan. Dari mereka terpancar rasa bangga, sorot mata optimistis.

Sabtu-Minggu (24-25 Oktober) kemarin menjadi akhir pekan yang penuh warna. Bersama orang-orang muda, kami belajar menulis kreatif di Kuwera, rumah almarhum Romo YB Mangunwijaya. Ya, belajar bersama. Khusus untuk saya, saya belajar dari mereka. Bagaimana tidak. Di usia yang sungguh muda, beberapa di antara mereka sudah menghasilkan karya sastra. Vazza, contohnya, sudah menghasilkan 3 novel ketika SMP. Kini, mahasiswi semester 1 UGM dan UNY ini sedang menyusun buku autobiografi. Ia tuna rungu sejak kecil, dan berkat kasih sayang orangtuanya, berhasil menembus batas kekurangan.

Fren, teman yang lain, memapar kiat-kiat menggali kreativitas menulis. Juga teman-teman muda dari Komunitas Mata Pena, Komunitas Kutub, dan teman-teman yang tidak tergabung dalam komunitas. Ada yang masih SMP, ada yang sudah kuliah, tak sedikit yang sudah bekerja. Lebur jadi satu.

Pelajaran kali ini diberi nama “pengadilan karya”. Proses ini lazim dihidupi komunitas sastra. Seperti namanya, suasananya mirip pengadilan. Ada jaksa penuntut umum, ada pengacara, ada majelis hakim. Terdakwa juga dihadirkan, tidak nemo.

20091025 pelatihan menulis kreatif @ kuwera (11)

menyerap daya robrak mangunwijaya

Bedanya, jika di meja hijau terdakwa didudukkan karena belepotan dugaan kejahatan, di forum ini terdakwa dihadirkan karena karyanya ingin dipublikasikan. Sebelum menjadi santapan publik, si terdakwa menyilakan forum untuk menilai karya tersebut. Yang dikritisi forum meliputi judul, gaya bahasa, ide, alur cerita, konflik yang dibangun, efek kejut, penokohan, ilustrasi, dan dampak yang mau disasar dari pembaca. Terdakwa boleh menerima, boleh menolak, boleh mengacuhtakacuhkan.

Sebagai forum pengadilan, ada yang berperan sebagai penuntut yang meyakini bahwa karya sang terdakwa tidak layak diterbitkan, ada yang berperan sebagai pengacara yang membela karya terdakwa, ada pula hakim yang memutuskan layak-tidaknya karya tersebut diterbitkan.

Meski analog dengan suasana persidangan, namun proses peradilan ini berbeda. Pertama, peran-peran yang dimainkan tidak ditentukan, melainkan muncul dan mengalir begitu saja. Suka-suka saja. Terhadap judul boleh setuju, tetapi terhadap plot boleh mencerca. Wawasan dan referensi yang tersimpan di belakang batok kepalalah modal untuk menilai karya. Boleh sok akademis dengan mengutip pendapat tokoh tertentu, boleh pula merilis akal sehat pribadi.

Kedua, jika dalam persidangan umum, pengunjung bersikap pasif sebagai penonton, di sini tidak. Pengunjung boleh berpendapat. Lebih dari itu, dirangsang untuk terlibat. Sebab, sejatinya, dalam forum seperti ini, tidak ada yang lebih ahli satu dari yang lain. Hanya perspektif saja yang berbeda. Pengunjung pun bisa menempatkan diri sebagai perwakilan pembaca. Sikap diam, bertanya, heran, memuji, atau apa pun dalam forum itu bisa dijadikan acuan kurang lebih sikap pembaca ketika karya tersebut betul-betul bakal ditelurkan.

Beda yang ketiga, ini yang utama sejatinya, jika di peradilan umum terdakwa menanggung malu atas perbuatannya, dan karenanya mereka kerap merunduk malu atau berusaha menutupi wajahnya, terdakwa di pengadilan karya ini duduk dengan rasa bangga, berdiri secara terhormat. Apa pun lontaran pedas yang dialamatkan kepadanya, semua bernada kekaguman. Jika tidak berkarya, mana bisa diadili…

Versi lain silakan baca Kompas.

Tempe

1 Comment

Stop urusi Soeharto! Biarkan dokter yang tangani raganya! Biarkan “media bermental infotainment” mengumbar gosip “sakit kritis”, pejabat yang hilir mudik menjenguk, hingga liang lahat. Biarkan Tuhan yang menentukan hidup-matinya!

Saatnya pemerintah SBY-JK turun tangan. Den, Presiden, utamakan rakyatmu! Jangan tunda selamatkan rakyat demi menyelamatkan muka mengurus pendahulumu.

Tempe mahal sudah. Mbak Jiyem, pemilik warung di sebelah rumah, terpaksa membuat kecewa tetangga beberapa hari ini. Tempe yang dibelinya di pasar, yang sedianya dijual kembali di warungnya, habis dicegat pembeli sekeluar dari pasar. Alhasil, kami tak kebagian lagi. Sudah mahal, mesti berebut, dan belum tentu dapat pula.

Bahkan, untuk menyantap makanan sederhana pun kini tak lagi murah di negeri loh jinawi ini. Bahkan, petani yang menanam kedelai pun ikut dicekik oleh harga tempe hasil kedelai impor yang tak sanggup mereka jangkau.

Tempe telah menampar kita. Dan menyadarkan kita betapa kesengsaraan bangsa ini sungguh-sungguh nyata.

Pak Harto, terima kasih atas peninggalan derita ini. Panglima ekonomimu tumbang sudah, menyayat lapar perut kami.