Batas Naluri

Leave a comment

Dunia kian melesat. Teknologi telah memungkinkannya. Akrobat-akrobat imajiner semakin menggusur pergerakan-pergerakan linear.

Banyak orang keranjingan oleh kecanggihan teknologi ini. Lebih dari keranjingan, malah ada yang kecanduan. Oleh mereka, teknologi telah menjadi organ tubuh yang amat vital, yang menyatu, yang karenanya tidak boleh dilepaskan. Mereka akan kesakitan, semacam sakaw, jika alat-alat canggih ini mrucut dari genggaman. Meradang, mengerang, menggelinjang tak keruan.

Barack Obama salah satu orang itu. Teknologi, yang mengantarnya menjadi Presiden AS ke-44, membuatnya belingsatan ketika Secret Service membatasi penggunaannya. Demi alasan keamanan, baik keamanan dirinya maupun keamanan negara, arus informasi yang masuk ke dan keluar darinya dienkripsi sangat ketat. Blackbarry yang melekat di pinggangnya dicokok dari kehidupannya.

Tentu Obama keberatan dengan perlakuan ini. Ia merasa dirampas dari pergaulan hidup sehari-hari. Ketika ia menjadi seorang yang begitu berkuasa, ternyata ada ruang tertentu yang luput dari jangkauannya. Ia mesti patuh pada aturan ini.

Memang, akhirnya, fasilitas itu tetap boleh digunakannya. Tapi sekali lagi, tentu dengan pembatasan sangat ketat. Semua informasi yang melibatkannya akan dipantau tanpa berkedip.

Ironis. Ternyata kekuasaan itu berbatas. Bahwa secanggih apa pun teknologi, ia memiliki batas. Dan batas paling kuat itu adalah ketakutan penggunanya akan kekuatan teknologi itu sendiri.

Manusia selalu menjaga nalurinya: menguasai, bukan dikuasai.

Advertisements

14 Perhentian

2 Comments

Pergantian tahun ini saya tandai dengan perjalanan istimewa. Istimewa dalam ukuran saya tentu saja. Istimewa bukan luar biasa, melainkan khas. Dan sederhana.

Seorang diri, saya berkendara dari Jogja menuju Jakarta. Pagi, 1 Suro, 29 Desember, saya melaju meninggalkan rumah. Tak banyak bekal yang saya bawa, selain tas ransel berisi beberapa potong pakaian, handuk basah bekas saya pakai, minuman mineral dan teh, dan makanan kecil beberapa macam.

Ada buku kekidungan yang saya lantunkan di setiap kali perhentian. Kidung sederhana, namun agung, yang terlantun dari suara seadanya. Tak mengapa, toh hanya saya sendiri yang mendengarkannya, selain Dia yang saya undang menemani perjalanan.

Perjalanan ini adalah perjalanan batin. Jalan-jalan yang saya telusuri adalah jalan-jalan keteladanan Si Gondrong, anak seorang tukang kayu dan perawan. Maka, ada pula saya bawa kitab kuno yang berisi kesaksian dunia sebelum dan sesudah Si Gondrong lahir, serta selama Si Gondrong berkelana. Kitab ini menjadi pelega dahaga di perjalanan yang terik hari itu.

Menggali makna kesetiaan

Ada 14 titik perhentian yang saya tetapkan untuk mencapai tujuan. Dengan perhitungan matematis, saya mesti berhenti setiap 40 km. Dan saya selalu berhenti ketika hodometer/meterzahler menunjuk kelipatan 40. Tepat. Di tengah sawah yang panas pun saya berhenti. Jika ada pohon yang teduh, saya tepikan mobil ke bawah rerindangannya.

Setiap perhentian adalah permenungan. Saya berkaca pada perjalanan spiritual Si Gondrong di puncak usahanya membebaskan umat manusia dari belenggu kabut. Si Gondrong menjadi inspirasi perjalanan saya. Perjalanan kesetiaan sampai akhir; perjalanan kesetiaan pada tugas; perjalanan kesetiaan pada pemberi tugas. Dia setia dengan hidup secara total.

Maka, menelusuri perjalana-Nya, membawa saya pada refleksi soal kepasrahan, sebuah sikap yang mengkristal dari penempaan butir-butir kepercayaan. Sumeleh. Hakekat dari puncak kepercayaan.

Kesumelehan ini mengendorkan adrenalin saya untuk tidak kemrungsung. Tujuan jelas, tetapi tidak tergesa-gesa dalam mencapainya. Saya menghayati benar perjalanan ini. Bagaimana tidak. Saya lebih suka jalan malam ketimbang siang, bisa ngebut, dan tidak bisa tolah-toleh. Tapi kali ini tidak. Perjalanan ini bukan soal suka atau tidak. Perjalanan ini adalah soal kesediaan untuk menjadi pengikut Si Gondrong. Pada titik tertentu, untuk menjadi anteknya, diperlukan keberanian untuk melakukan tindakan radikal. Dan tindakan paling radikal yang ditawarkan-Nya adalah kemauan untuk mengingkari diri. Dan saya menjawab tawaran itu dengan suka cita.

Jadilah saya menapaki satu per satu perhentian dengan penuh syukur: Candi Borobudur, Purworejo, Kebumen, Tambak-Gombong, Wangon-Purwokerto, Cimanggu-Cilacap, Banjar, Ciamis, Garut, Nagreg-Bandung. Saya berhenti di daerah-daerah itu. Hanya di Tol Padaleunyi (Padalarang-Cileunyi) saja saya tidak berhenti. Matahari sudah condong ke barat. Menjelang senja. Dan saya mau menikmati angslupnya srengenge di lajur tol.

Baru di Rest Area Tol Jakarta-Cikampek km 62 saya menepi. Sudah 19.30, 14 jam perjalanan, dan saya menuntaskan perhentian ke-14 di tengah keramaian para pengendara yang kelelahan. Aroma Jakarta sudah menyengat. Aroma kesibukan, aroma ketergesaan.

Untuk beberapa saat saya menikmati keramaian itu dalam kesunyian. Hmmm, luar biasa rasanya. Tapa ngrame itu menemukan konkretnya. Ya, bersunyi dalam ramai. Saya bersyukur atas perjalanan ini: menikmati kemacetan di beberapa titik dengan sumringah, memahami kelambatan kendaraan-kendaraan berat yang juga butuh pangan, dan menerima didului oleh beragam kendaraan yang ingin lekas nyampai di tujuan. Tanpa klakson. Tanpa musik. Tanpa bebunyian.

Begitu juga sekembali ke Jogja, di tahun baru Masehi, 1 Januari 2009.

Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44

Leave a comment

Bayangan saya jadi kenyataan. Pasti ini juga dibayangkan banyak orang di dunia. Hari ini Obama jadi presiden Amerika Serikat ke-44. Tengah malam nanti waktu Indonesia Barat, presiden kulit putih pertama negara adidaya itu akan diambil sumpahnya.

Posting saya 3 September tahun lalu kini hadir di depan mata. Ada harapan. Harapan tentang perubahan. Menjadi lebih baik. Kita tunggu isi pidato pertamanya nanti.

Yang terang, hiruk-pikuk media massa hari-hari belakangan begitu gemuruh. Sepertinya, dunia menanti saat-saat bersejarah ini. Kenya, negeri miskin tempat keluarga Obama berasal, tempat ayah Obama menjadi ahli ekonomi, diberitakan turut pula menyiapkan pesta.

Media massa Indonesia pun tak kalah langkah. Sebagian besar mengambil angle pemberitaan Obama dari aspek kesaksian saudara Obama di Indonesia. Juga dari gurunya sewaktu sekolah di Menteng. Juga dari teman-teman semasa kecilnya.

Maka, semua terasa dekat. Semua merasa memiliki Obama, memiliki peristiwa bersejarah ini. Lalu, semua andil bagian dalam rasa syukur ini. Akankah “rasa” ini kemudian akan membawa perubahan dalam semangat AS merangkul dunia? Barangkali terlalu berlebih, tetapi boleh saja sebagai harapan. Dengan kedekatan rasa memiliki kepada Obama, dan kepada Amerika Serikat, maka kelak jika ada sesuatu yang mengganjal dalam keputusan-keputusan AS, teguran pun akan terlayangkan dengan lebih lembut. Komunikasi yang terbangun dalam relasi kedekatan emosional diharapkan lebih kena sasaran. Itu harapan.

Harapan pantas diletakkan. Bahwa nanti kenyataan belum tentu sesuai dengan kenyataan, itu aspek lain. Yang terang, tak ada kenyataan yang lebih baik tanpa diawali dengan harapan yang baik. Kita berharap.