Dokter Gigi Nggak Nggigit

3 Comments

Runtuh sudah ketakutan saya pada dokter gigi. Lho, selama ini? Selama ini saya takut setengah mati pada dokter gigi. Entah kenapa. Mungkin karena rasa ngilu yang selalu nyetrum hingga kuku kaki. Mungkin karena rasa linu yang seperti mencabik-cabik batok kepala. Mungkin karena bunyi bor yang serasa menembus ulu hati. Atau, sebenarnya karena dokter gigi tak pernah mau menunjukkan giginya saat memaksa saya membuka mulut?

Padahal, sewaktu SD, saya paling rajin ke dokter gigi. Saban Sabtu, saat jadwal kunjungan ke dokter gigi puskesmas tiba, saya berlari paling semangat keluar kelas. Jarak 1 km ke sekolah saya tempuh dengan suka cita. Dengan gagah perkasa pula saya masuk ke ruang periksa. Dan tak diapakan-apakan. Jelas saja, karena gigi saya tidak bermasalah.

Memang, selepas SD, seingat saya, tak pernah lagi saya berkunjung ke dokter gigi. Sikat gigi, yang sewaktu SD saya lakukan dengan riang gembira, mulai saya abaikan. Tentu, tanpa sepengetahuan orang tua. Malas sikat gigi lebih-lebih menghampiri ketika malam menjelang tidur. Usai makan malam, kenyang, mulut saya terkatup serapat-rapatnya. Bruk. Tidur sampai pagi.

Mungkin sejak itu saya jadi peternak kuman di dalam mulut. Kuman mandiri, yang tanpa perlu secara khusus saya budi dayakan sudah berkembang biak sendiri, hidup subur di gua makanan ini.

Hingga suatu ketika gigi saya terasa ngilu. Periksa ke dokter, tertangkap basah ada lubang yang mengintip. Gigi nomor dua kiri.

Tambal! Tanpa diskusi, tindakan itu langsung diputuskan. Swiiiinggggg, pertama-tama lubang dibor, dilubangi lebih lebar. “Nggak papa,” kata dokter itu ketika saya mengaduh sakit. Sakit, tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan memang selesai sejenak kemudian. Namun, ngilu itu terbenam di ingatan, hingga hari-hari berikutnya ketika gigi itu sudah ditambal.

Awet benar ngilu itu, hingga suatu ketika gigi geraham bawah kanan sakit, saya takut ke dokter. Namun, rasa sakit yang amat sangatlah yang memaksa saya datang ke dokter yang sama. Perjalanan ke rumah sakit, dalam bayangan saya, waktu itu, tak kalah menyakitkan daripada sakit gigi itu sendiri. Kovenan Hak Asasi Manusia rasanya tak berdaya membela hak saya untuk tidak mau dicokok paksa, dengan dalih penyembuhan sekalipun.

Dua gigi ditambal. Hilang rasa sakit itu.

Hilang pula bayangan saya akan dokter perempuan itu. Dokter yang dingin (cool), yang tidak banyak bicara. Yang pandangan matanya tajam, seperti hendak mencatut paksa semua gigi saya. Saya bertekad untuk tidak menemuinya lagi.

Ah, belakangan saya sadar, tekad saya keliru. Mestinya saya bukan bertekad untuk tidak ketemu dokter gigi itu lagi, tapi bertekad untuk tidak sakit gigi lagi.

Nyatanya, saya sakit gigi lagi. Itu ketika saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Memang, dokter perempuan itu tak berpraktik di Jakarta, namun sakit gigi itu menyerang di sana. Saya takut teramat sangat ke dokter gigi. Takut.

Kamar kost menjadi saksi, demi gengsi yang menyelimuti jirih, saya memilih jumpalitan di tempat tidur ketika sakit itu menghajar. Bisa semalam nggak bisa tidur, meski obat penghilang rasa sakit sudah saya telan mentah-mentah tanpa berdoa. Hilang seketika, dan malamnya kembali kambuh. Dan saya kembali memilih kamar untuk menaklukkan sakit jahanam itu.

Saya mengerang tanpa ada yang mendengar. Saya melenguh tanpa ada yang menolong. Ouw, kalau pun ada yang mendengar dan menolong, saya tak mau mereka melakukannya. Sakit gigi bukan untuk ditolong! Sakit gigi bukan untuk ditengok dan dikasihani!

Cukup!

Mau sampai kapan rasa sakit ini menghantui? Saya tidak mau lagi merasakannya. Maka, suatu hari, justru ketika tak ada sakit yang menghimpit, saya memutuskan untuk datang ke dokter gigi. Kebetulan ada teman SMA, drg Roy Joseph, yang mengelola klinik praktek bersama dokter gigi tersebut. Lewat telpon, saya sampaikan kepadanya, “Aku mau ditangani dokter gigi yang tau aku takut dokter gigi.”

Jadwal ia sodorkan. Saya setuju. Saya memberanikan diri menjawab, “Siap!”

Sore yang diagendakan, saya datang ke klinik tersebut. Dengan penuh keberanian, meski rasa takut itu tak sepenuhnya hilang. Saya coba menghibur diri, barangkali rasa itu bisa hilang sama sekali.

Giliran saya tiba. Menenteng jaket, saya masuk ruang periksa 1. Ada drg Endah di meja pojok. Kami bersalaman. Saya mengenalkan diri sebagai orang yang takut dokter gigi. “Kalau saya takut sama orang yang takut dokter gigi!” Waks, dokter Endah mau bercanda. Mulut saya terbuka lebar. Saya tergelak. Rasa takut itu sekonyong-konyong rontok.

Teramat parah kerusakan gigi saya. Ada 4 yang harus dicabut. Satu sudah mati, tiga patah karena keropos. “Karena banyak, Mas saya rujuk ke dokter ahli bedah mulut ya.” Selembar resep ia sorongkan pada saya, beberapa obat anti infeksi. Satu lagi surat tertutup untuk rontgen gigi.

Langkah sudah semakin maju. Pantang mundur. Saya siapkan diri betul untuk hari berikutnya. Resep saya tebus. Obat saya minum. Rontgen pun saya jalankan.

Drg Sari sudah bersiap di ruang periksa, di hari yang ditentukan. “Mboten punapa-punapa, Pak!” Tidak apa-apa, Pak. Ups, berbahasa Jawa. Halus. “Mangke menawi sakit ngendika nggih…” Nanti kalau sakit bilang ya….  Lalu kami berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Dia panggil saya Pak, saya panggil dia Dok.

Dokter Sari masih muda. Sedang mengandung putra pertama, setelah pernikahan yang dilangsungkannya beberapa bulan lalu. Dia adik kelas Roy di Fakultas Kedokteran Gigi UGM. “Mas Roy ingkang mlonco kula, nanging kula ingkang lulus rumiyin…” Wakakak, saya tak bisa menahan tawa. Ini bukan lagi sindiran, tapi tohokan. Masak lebih muda dari Roy bisa lulus lebih dulu. Sekarang sudah spesialis pula.

Memang, namanya juga bermasalah, rasa sakit itu ada. Namun, karena sudah pasrah, saya bisa menerima rasa itu, tanpa berlebihan melawannya. Saya berpegangan erat pada kursi. Tidak selalu karena sakit, tapi lebih-lebih karena tegang, takut, khawatir kalau akan sakit. Ah, ternyata rasa sakit itu sangat didominasi oleh pikiran! Ketika saya berpikir sakit, maka belum sakit pun akan terasa sakit.

Keramahan Dokter Sari dan asisten-asisten yang membantunya, plus kenyamanan Family Dental Care, nama klinik yang dengan bangga saya promosikan ini, membuat saya merasa rileks. Ternyata dokter gigi nggak nggigit hahahaha…

Setelah 4 kali tindakan, yakni 3 kali untuk bolak-balik berusaha mencabut 1 gigi geraham atas, 1 kali eksekusi untuk 3 gigi yang lain, selesai sudah perjalanan menaklukkan rasa takut ini. Memang ada sakit, namun jauh lebih sakit kalau tidak mau menghadapi rasa sakit itu.

Drg Roy, drg Endah, dan drg Sari, matur nuwun ya…  Super excellent service!

salam hangat,

AA Kunto A

aakuntoa@gmail.com

http://www.aakuntoa.wordpress.com

Advertisements

Pergi, Mencari Tantangan Baru

2 Comments

Banyak orang terkejut ketika mendengar saya keluar dari Penerbit Galangpress. Mereka menyatakan keheranannya atas keputusan saya. Bukan sekadar karena begitu mendadak, namun juga karena saya mengambil keputusan tidak lazim: keluar dari kemapanan.

Memang, saya menyatakan keluar dari Galangpress secara mendadak. Sangat mendadak. Namun, ancang-ancang sejatinya telah saya ambil jauh hari. Bagi saya, segala sesuatu harus saya antisipasi. Sikap independen berdiri di atas semuanya. Seorang yang merdeka adalah ia yang berani mengambil keputusan, sekaligus merebut risikonya. Dan saya mengambil keduanya. Baik pada saat keluar dari Galangpress atau ketika 3,5 tahun lalu bergabung dengannya.

Saya ambil keputusan itu Sabtu, 26 Juni. Pada sebuah pagi. Pada sebuah ruang dingin berpenyejuk udara.

Alasan internal tidak akan saya ungkap di sini. Tidak istimewa. Hanya tentang ketidaksesuaian tujuan dan cara antara pekerja dan perusahaan. Dan itu biasa terjadi dalam relasi profesional. Salah satu atau keduanya bisa memutuskan hubungan kerja atas alasan profesionalitas pula. Dalam hal ini, saya yang memutuskan hubungan. Saya mengundurkan diri sebagai karyawan.

Dinamit ini tidak meledak tiba-tiba. Percikan apinya telah bergesek-gesek sedari lama. Ini juga biasa. Dalam relasi apa pun, gesekan itu sesuatu yang lumrah. Bahwa kemudian sumbunya bisa dilipat, dan karenanya api tidak menjalar ke pangkal picu, itu juga biasa.

Begitu pun dalam soal pekerjaan. Gesekan adalah santapan sehari-hari. Kenyang merasakan semua bentuk gesekan. Ada yang bermutu, ada yang kacangan.

Gesekan pula yang mendewasakan. Tinggal bagaimana sudut pandang kita tempatkan. Tinggal bagaimana sudut rasa kita bisikkan. Tinggal bagaimana sudut makna kita letakkan.

Galangpress menyediakan semuanya. Sebagai perusahaan yang sedang dan terus bertumbuh dan berkibar, beragam gesekan menghiasi menu pekerjaan saban waktu. Silih bertukar. Organisasinya masih sangat muda, demikian juga pasukannya –meski dari sisi usia biologis ada yang sudah tua.

Saya menikmati setiap gesekan yang menghunus-hunus. Atas refleks yang dimunculkannya. Atas tepis yang menghardiknya. Juga, atas luka yang diwariskannya. Sangat biasa, apalagi penerbit ini intim sekali bercumbu dengan aneka isu sensitif. Penerbit ini gandrung memantik gesekan. Besutan gesekannya acap menjambak jidat penguasa.

Kadang menegangkan, kadang menggelikan. Menegangkan ketika respon di masyarakat begitu menggulung bagai gelombang tsunami. Menggelikan ketika lemparan gosip murahan dimuntahkan kepada publik pembaca. Terasa sekali, mana yang digarap dengan kesungguhan detil dan mana yang digoreng dengan semangat bermain-main. Juga terasa sekali mana yang ditempa sebagai idealisme dan mana yang ditempa sebagai pragmatisme sekadar mencari keuntungan materi.

Semua saya tahu bobotnya. Sebab, saya terlibat di dalamnya.

Dan setelah semua saya bungkus, saya pamit. Jenuh dengan gesekan yang berdaur ulang, saya pergi mencari tantangan baru.

salam hangat,

AA Kunto A

kunto@nareswari.com

www.aakuntoa.wordpress.com

tantangan baru: www.nareswari.com