Sedekah untuk Mas Trubus

Leave a comment

sedekah dari hamba AllahSiang ini saya kembali menengok Mas Trubus, tetangga saya yang Senin (19 September 2011) pukul 14.00-20.00 wib kemarin menjalani operasi tulang belakang di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Ada amanah yang harus segera saya sampaikan. Satu amplop sedekah kiriman Mas Saptuari, bos Kedai Digital. Seorang pembaca blognya menitipkan uang untuk meringankan beban Mas Trubus.

Tempo hari saya memang mengirimkan email kepada Mas Saptu supaya membantu saya mencarikan saudara yang berkenan menyumbangkan dana untuk operasi Mas Trubus. Saya juga mengirim surat senada kepada beberapa sahabat. Tak satu pun surat saya ajukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, alih-alih, pemerintah. Juga, saya tak berkirim surat kepada calon walikota Yogyakarta supaya tak ada yang berebut sorot kamera mengulurkan bantuan demi mendongkrak popularitas.

Hari ini sebuah jawaban datang. Saya bergegas meneruskan jawaban itu kepada keluarga Mas Trubus.

Siapakah Mas Trubus?

darah kehidupan ini semoga menyegarkannya kembali

Dia tetangga saya. Beda RT, satu RW. Namanya hanya Trubus. Tidak ada nama panjangnya. Usianya 50 tahun. Pekerjaan sehari-hari tukang batu. Tak hanya itu. Senyatanya, ia mau mengerjakan apa saja yang ditugaskan padanya. Seperti Jumat, 16 September 2011 lalu. Usai Shalat Jumat, ia diminta “nutuh” (memangkas) sebuah pohon di halaman Masjid Al Muhajirin, Perum Pamungkas, Jl Kaliurang Km 14. Tak seorang diri, ia mengajak Mas Jiman, tetangganya, untuk membantu. Mas Jiman mengawasi di bawah, Mas Trubus memanjat.

Dengan tangga ia memanjat. Satu dahan sudah berhasil ia gergaji ketika beralih ke dahan lain. Menurut pengakuannya, saat memangkas dahan kedua itu sekonyong-konyong ada angin kencang. Badannya yang kecil terayun bersama dahan. Naas, dahan itu patah. Getas rupanya. Ia terhempas dari ketinggian 4 meter di permukaan cor semen.

Oleh takmir masjid setempat, Mas Trubus dibawa ke seorang tukang pijit di Jalan Magelang. Kata tukang pijit itu, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, mengingat vitalnya tulang belakang, tetangga-tetangga yang menyambut di rumah usai pemijatan mengusung Mas Trubus ke RS Panti Nugroho, Pakem, untuk rontgen. Hasilnya, ada satu ruas tulang belakangnya yang patah. Satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah operasi. Jika tidak, kelumpuhan mengancam.

Mas Trubus dirujuk ke RS Panti Rapih, Sabtu sore, setelah menyetujui tindakan medis yang akan dilakukan. Satu-satunya hal yang memberatkannya adalah besarnya biaya operasi sebesar Rp 17,5 juta, belum termasuk pengobatan usai operasi. Sebagai buruh harian lepas, dari mana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu? Asuransi kesehatan (jamkesmas) yang mestinya ia miliki pun tiada. Dan ternyata, di kampung, beberapa warga miskin lain tak memiliki jamkesmas yang meringankan mereka saat sakit. Entah kelalaian atau kesengajaan, warga miskin itu terabaikan. Kasus ini menjadi cermin dari potret negara yang gagal menjamin hak kesehatan warganya.

Syukurlah, di mata kami, tetangga-tetangganya, deposito kebaikan Mas Trubus begitu melimpah. Selain tekun, hasil pekerjaan selalu bagus, tak pernah “nembung” bayaran, ia juga jujur. Jika bekerja, ia selalu melebihi kewajibannya. Datang pagi sekali, pulang menjelang maghrib. Jika belum tuntas, ia tak segan kembali ke tempat kerja usai menunaikan shalat.

Mas Trubus juga “gemi”. Sepersetujuan tuan rumah yang mempekerjakannya, barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai dibawanya pulang. Keramik cuil, closet bopeng, genting pecah, dirawatnya, dipakai ulang. Ia membangun sendiri rumahnya dari material-material yang terbuang. Mengingatkan kita pada sosok Romo Mangun, yang menyulap barang bekas menjadi bangunan berkelas.

Mbak Wasi dan suaminya, Mas Trubus, menerima amanah dari hamba Allah

“Sing penting mari!” begitu kami mendorongnya untuk maju operasi. Soal biaya, bisa dicari. Ya, sekarang kami sedang mencarikan. Pertama-tama dari kantong kami sendiri. Selanjutnya mengetuk hati sedulur-sedulur. Takmir dan jamaah Masjid Muhajirin sangat baik, mereka pun sanggup membantu. Beberapa “klien” yang rumahnya pernah digarap Mas Trubus pun mengabarkan akan urun biaya.

Dari kantong kami sendiri? Hmmm, Allah sedang mencintai kami dengan cara yang luar biasa. Dalam beberapa bulan ini silih-berganti warga kami masuk rumah sakit dengan sakit yang tak tergolong ringan. Kami yang sebagian besar adalah petani penggarap ladang pun sedang diberi rejeki seret panen karena sawah yang kering kerontang. Syukurlah, kerukunan menyatukan kami untuk tidak berputus asa. Satu kaki sakit, kaki lain menopang.

Saat ini Mas Trubus dirawat di Bangsal Elisabeth 115B Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Untuk Anda yang terketuk hati hendak turut bersedekah, silakan langsung menemui keluarga di sana.

Yogyakarta, 20 September 2011

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Advertisements

Ada yang Beda, Hati Kita

2 Comments

Mbah Mulyowiyono dan Mbah Kismorejo, kakak beradik

Begitu-begitu saja. Datang, mengisi buku tamu, bersalaman dengan penerima tamu, makan, duduk, ngobrol, mendengarkan sambutan dan petatah-petitih, sungkem, lalu pulang. Sedari saya kecil, acara syawalan Trah Pawirodikromo nyaris tak pernah berubah. Formal, datar, menjenuhkan.

Kok saya tetap mau datang? Bagi saya, menjenuhkan atau tidak itu bergantung pada cara pandang dan cara menerima. Jika hati kita tidak sedang longgar, apa pun terasa hambar. Sebaliknya, jika sedang berbunga-bunga, tai kucing pun berasa coklat, begitu ungkapan ngawur yang populer itu.

Apakah saya sedang berbunga-bunga? Tidak juga. Sedang suntuk malah. Musim kemarau bukan saja telah menggersangkan pekarangan, namun juga turut menyedot sumber-sumber penghasilan. Zaman sedang susah. Saya tak kurang susah. Usaha belum berjalan seperti yang saya inginkan. Tahap merintis rupanya perlu saya lakoni jatuhnya. Bangunnya? Saya berusaha untuk mampu melakukannya.

Nyatanya, kita tak pernah sendiri di dunia ini. Baik gembira maupun susah, selalu ada orang lain yang juga gembira dan susah. Ada yang takarannya sama persis, ada yang kurang sedikit, namun banyak juga yang dosisnya lebih tinggi.

Ada saudara kita yang lebih membutuhkan

Seperti siang itu, Rabu, 31 Agustus 2011, tanggal merah kedua libur lebaran, hari pertama lebaran versi pemerintah, nubuat itu tergenapi. Ketika saya merasa susah, nyatanya ada yang lebih susah. Susah saya pun tidak lagi berguna.

“Bapak-Ibu sekalian, kami akan membagikan kotak sumbangan. Ada 2 saudara kita yang rumahnya tertimbun material erupsi Merapi. Sampai sekarang mereka belum punya rumah, masih tinggal di shelter,” Pak Santoso, paman saya, yang membawakan acara, menyampaikan pengumuman itu sesaat sebelum kami sungkem ke simbah-simbah. Aura duka merebak. Apalagi, tempat kami berhimpun tak jauh dari Sungai Gendol, salah satu sungai terparah yang dialiri lahar dingin.

Saya tidak punya uang banyak. Sudah 2 lebaran saya tidak menerima THR sejak saya memutuskan berwirausaha tahun lalu. Saya justru punya kewajiban memberi THR untuk karyawan.

Meski tak banyak, sudah berulangkali saya ikut serta dalam acara penggalangan dana untuk korban Merapi. Saya selalu ikut menyumbang. Ah, jumawa amat, batin saya. Menyumbang tak seberapa, besar kepalanya tak kira-kira. Ampun!

Saya tertegun. Faktanya, masih ada saudara yang belum punya rumah. Mereka masih berkesusahan. Tak punya rumah, tak boleh kembali ke kampung asal, kehilangan mata pencaharian, entah sampai kapan mereka wajib tinggal di barak pengungsian. Dan, mereka masih saudara saya!

Ternyata saya tak sesusah mereka. Meski masih nebeng di rumah orangtua, toh saya tinggal di rumah sendiri. Saya masih minum dari sumur sendiri, makan salah memetik di kebun sendiri, dan mengunduh sirsak dari pohon sendiri.

Meski susah karena lagi bokek, toh saya masih bisa bekerja, masih bisa menjalankan usaha, masih punya kesempatan mencari uang.

Mungkin, apa yang saya rasakan juga dirasakan saudara-saudara yang hadir pada syawalan trah siang itu. Mereka merogoh tas dan dompet lalu menyemplungkan sejumlah rupiah. Sejumlah saudara yang sejatinya juga korban pun tampak turut menyumbang.

Hasilnya tak besar, tak sebanyak nominal yang terpajang di layar MetroTV dan TV One, namun rasa kebersamaan begitu terasa. Syawalan trah kali ini beda.

Salam hangat,
AA Kunto A
[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]