Setiap berangkat dari rumah, saya selalu menekan tombol pada speedometer. Tombol itu dengan sigap menghapus sederet angka. Kembali ke nol. 000.00 km.

Dan hari pun baru. Mulai dari nol. Saat pulang, saat kembali ke nol.

Rumah adalah titik nol. Tempat semua kembali. Ya letih, penat, dan suka cita. Tempat semua dimulai.

Matahari selalu mengantar sinar baru saban paginya. Maka wajar jika saya menyambutnya dengan semangat kebaruan. Usia saya selalu baru setiap hari. Maka wajar jika orang-orang yang saya jumpai di hari itu menatap saya yang baru, saya yang tidak sama dengan kemarin, saya yang bukan penuaan dari bayi saya sendiri.

Yang kemarin sudah lewat begitu kembali ke nol kilometer. Perjalanan panjang kemarin sudah selesai begitu masuk rumah, begitu mengendap di larutan malam.

Yang hari ini adalah perjalanan dari nol. Menuju ke entah. Dan setiap hari memberi pengalaman berbeda, tergantung berapa kilometer dan bagaimana cara saya menempuhnya. Semakin banyak kilometer tercatat di kilometer, semakin berwarna hidup saya hari itu.

Namun, seberapa panjang pun perjalanan itu, sehebat-hebatnya pengembaraan hari itu, begitu memasuki gerbang rumah, saat itu juga pengembaraan itu usai. Kembali ke nol. Kembali ke kekosongan. Kembali ke nol kilometer.