Sedekah untuk Mas Trubus

Leave a comment

sedekah dari hamba AllahSiang ini saya kembali menengok Mas Trubus, tetangga saya yang Senin (19 September 2011) pukul 14.00-20.00 wib kemarin menjalani operasi tulang belakang di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Ada amanah yang harus segera saya sampaikan. Satu amplop sedekah kiriman Mas Saptuari, bos Kedai Digital. Seorang pembaca blognya menitipkan uang untuk meringankan beban Mas Trubus.

Tempo hari saya memang mengirimkan email kepada Mas Saptu supaya membantu saya mencarikan saudara yang berkenan menyumbangkan dana untuk operasi Mas Trubus. Saya juga mengirim surat senada kepada beberapa sahabat. Tak satu pun surat saya ajukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, alih-alih, pemerintah. Juga, saya tak berkirim surat kepada calon walikota Yogyakarta supaya tak ada yang berebut sorot kamera mengulurkan bantuan demi mendongkrak popularitas.

Hari ini sebuah jawaban datang. Saya bergegas meneruskan jawaban itu kepada keluarga Mas Trubus.

Siapakah Mas Trubus?

darah kehidupan ini semoga menyegarkannya kembali

Dia tetangga saya. Beda RT, satu RW. Namanya hanya Trubus. Tidak ada nama panjangnya. Usianya 50 tahun. Pekerjaan sehari-hari tukang batu. Tak hanya itu. Senyatanya, ia mau mengerjakan apa saja yang ditugaskan padanya. Seperti Jumat, 16 September 2011 lalu. Usai Shalat Jumat, ia diminta “nutuh” (memangkas) sebuah pohon di halaman Masjid Al Muhajirin, Perum Pamungkas, Jl Kaliurang Km 14. Tak seorang diri, ia mengajak Mas Jiman, tetangganya, untuk membantu. Mas Jiman mengawasi di bawah, Mas Trubus memanjat.

Dengan tangga ia memanjat. Satu dahan sudah berhasil ia gergaji ketika beralih ke dahan lain. Menurut pengakuannya, saat memangkas dahan kedua itu sekonyong-konyong ada angin kencang. Badannya yang kecil terayun bersama dahan. Naas, dahan itu patah. Getas rupanya. Ia terhempas dari ketinggian 4 meter di permukaan cor semen.

Oleh takmir masjid setempat, Mas Trubus dibawa ke seorang tukang pijit di Jalan Magelang. Kata tukang pijit itu, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, mengingat vitalnya tulang belakang, tetangga-tetangga yang menyambut di rumah usai pemijatan mengusung Mas Trubus ke RS Panti Nugroho, Pakem, untuk rontgen. Hasilnya, ada satu ruas tulang belakangnya yang patah. Satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah operasi. Jika tidak, kelumpuhan mengancam.

Mas Trubus dirujuk ke RS Panti Rapih, Sabtu sore, setelah menyetujui tindakan medis yang akan dilakukan. Satu-satunya hal yang memberatkannya adalah besarnya biaya operasi sebesar Rp 17,5 juta, belum termasuk pengobatan usai operasi. Sebagai buruh harian lepas, dari mana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu? Asuransi kesehatan (jamkesmas) yang mestinya ia miliki pun tiada. Dan ternyata, di kampung, beberapa warga miskin lain tak memiliki jamkesmas yang meringankan mereka saat sakit. Entah kelalaian atau kesengajaan, warga miskin itu terabaikan. Kasus ini menjadi cermin dari potret negara yang gagal menjamin hak kesehatan warganya.

Syukurlah, di mata kami, tetangga-tetangganya, deposito kebaikan Mas Trubus begitu melimpah. Selain tekun, hasil pekerjaan selalu bagus, tak pernah “nembung” bayaran, ia juga jujur. Jika bekerja, ia selalu melebihi kewajibannya. Datang pagi sekali, pulang menjelang maghrib. Jika belum tuntas, ia tak segan kembali ke tempat kerja usai menunaikan shalat.

Mas Trubus juga “gemi”. Sepersetujuan tuan rumah yang mempekerjakannya, barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai dibawanya pulang. Keramik cuil, closet bopeng, genting pecah, dirawatnya, dipakai ulang. Ia membangun sendiri rumahnya dari material-material yang terbuang. Mengingatkan kita pada sosok Romo Mangun, yang menyulap barang bekas menjadi bangunan berkelas.

Mbak Wasi dan suaminya, Mas Trubus, menerima amanah dari hamba Allah

“Sing penting mari!” begitu kami mendorongnya untuk maju operasi. Soal biaya, bisa dicari. Ya, sekarang kami sedang mencarikan. Pertama-tama dari kantong kami sendiri. Selanjutnya mengetuk hati sedulur-sedulur. Takmir dan jamaah Masjid Muhajirin sangat baik, mereka pun sanggup membantu. Beberapa “klien” yang rumahnya pernah digarap Mas Trubus pun mengabarkan akan urun biaya.

Dari kantong kami sendiri? Hmmm, Allah sedang mencintai kami dengan cara yang luar biasa. Dalam beberapa bulan ini silih-berganti warga kami masuk rumah sakit dengan sakit yang tak tergolong ringan. Kami yang sebagian besar adalah petani penggarap ladang pun sedang diberi rejeki seret panen karena sawah yang kering kerontang. Syukurlah, kerukunan menyatukan kami untuk tidak berputus asa. Satu kaki sakit, kaki lain menopang.

Saat ini Mas Trubus dirawat di Bangsal Elisabeth 115B Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Untuk Anda yang terketuk hati hendak turut bersedekah, silakan langsung menemui keluarga di sana.

Yogyakarta, 20 September 2011

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Advertisements

Ada yang Beda, Hati Kita

2 Comments

Mbah Mulyowiyono dan Mbah Kismorejo, kakak beradik

Begitu-begitu saja. Datang, mengisi buku tamu, bersalaman dengan penerima tamu, makan, duduk, ngobrol, mendengarkan sambutan dan petatah-petitih, sungkem, lalu pulang. Sedari saya kecil, acara syawalan Trah Pawirodikromo nyaris tak pernah berubah. Formal, datar, menjenuhkan.

Kok saya tetap mau datang? Bagi saya, menjenuhkan atau tidak itu bergantung pada cara pandang dan cara menerima. Jika hati kita tidak sedang longgar, apa pun terasa hambar. Sebaliknya, jika sedang berbunga-bunga, tai kucing pun berasa coklat, begitu ungkapan ngawur yang populer itu.

Apakah saya sedang berbunga-bunga? Tidak juga. Sedang suntuk malah. Musim kemarau bukan saja telah menggersangkan pekarangan, namun juga turut menyedot sumber-sumber penghasilan. Zaman sedang susah. Saya tak kurang susah. Usaha belum berjalan seperti yang saya inginkan. Tahap merintis rupanya perlu saya lakoni jatuhnya. Bangunnya? Saya berusaha untuk mampu melakukannya.

Nyatanya, kita tak pernah sendiri di dunia ini. Baik gembira maupun susah, selalu ada orang lain yang juga gembira dan susah. Ada yang takarannya sama persis, ada yang kurang sedikit, namun banyak juga yang dosisnya lebih tinggi.

Ada saudara kita yang lebih membutuhkan

Seperti siang itu, Rabu, 31 Agustus 2011, tanggal merah kedua libur lebaran, hari pertama lebaran versi pemerintah, nubuat itu tergenapi. Ketika saya merasa susah, nyatanya ada yang lebih susah. Susah saya pun tidak lagi berguna.

“Bapak-Ibu sekalian, kami akan membagikan kotak sumbangan. Ada 2 saudara kita yang rumahnya tertimbun material erupsi Merapi. Sampai sekarang mereka belum punya rumah, masih tinggal di shelter,” Pak Santoso, paman saya, yang membawakan acara, menyampaikan pengumuman itu sesaat sebelum kami sungkem ke simbah-simbah. Aura duka merebak. Apalagi, tempat kami berhimpun tak jauh dari Sungai Gendol, salah satu sungai terparah yang dialiri lahar dingin.

Saya tidak punya uang banyak. Sudah 2 lebaran saya tidak menerima THR sejak saya memutuskan berwirausaha tahun lalu. Saya justru punya kewajiban memberi THR untuk karyawan.

Meski tak banyak, sudah berulangkali saya ikut serta dalam acara penggalangan dana untuk korban Merapi. Saya selalu ikut menyumbang. Ah, jumawa amat, batin saya. Menyumbang tak seberapa, besar kepalanya tak kira-kira. Ampun!

Saya tertegun. Faktanya, masih ada saudara yang belum punya rumah. Mereka masih berkesusahan. Tak punya rumah, tak boleh kembali ke kampung asal, kehilangan mata pencaharian, entah sampai kapan mereka wajib tinggal di barak pengungsian. Dan, mereka masih saudara saya!

Ternyata saya tak sesusah mereka. Meski masih nebeng di rumah orangtua, toh saya tinggal di rumah sendiri. Saya masih minum dari sumur sendiri, makan salah memetik di kebun sendiri, dan mengunduh sirsak dari pohon sendiri.

Meski susah karena lagi bokek, toh saya masih bisa bekerja, masih bisa menjalankan usaha, masih punya kesempatan mencari uang.

Mungkin, apa yang saya rasakan juga dirasakan saudara-saudara yang hadir pada syawalan trah siang itu. Mereka merogoh tas dan dompet lalu menyemplungkan sejumlah rupiah. Sejumlah saudara yang sejatinya juga korban pun tampak turut menyumbang.

Hasilnya tak besar, tak sebanyak nominal yang terpajang di layar MetroTV dan TV One, namun rasa kebersamaan begitu terasa. Syawalan trah kali ini beda.

Salam hangat,
AA Kunto A
[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Sungkem, Caos Sembah Pangabekti

Leave a comment

kaleburna ing dinten riyadi punika

Lebaran identik dengan tradisi sungkem. Usai shalat Ied, yang muda sowan kepada yang wreda, yang murid sowan kepada yang guru. Datang membungkuk, melangkah sambil berjongkok, atur sembah lalu bersimpuh di lutut, untaian kata-kata mengalir dari bibir.

Usai itu, yang disowani ganti bicara. Kedua tangan ditumpangkan di bahu yang sowan bersimpuh. Lalu peluk-cium. Lega.

Apa isi adegan itu? Sekadar meminta maafkah? Sekadar memberi maafkah?

Dalam tradisi Jawa, dialog yang bertukaran di peristiwa sakral itu berbunyi demikian:

Kula sowan wonten ing ngarsanipun Ibu

Sepisan, caos sembah pangabekti

mugi katur ing ngarsanipun Ibu

Ongko kalih, mbok bilih wonten klenta-klentunipun

atur kula saklimah

tuwin lampah kula satindak

ingkang kula jarag lan mboten kula jarag

ingkang mboten ndadosaken sarjuning panggalih

Mugi Ibu kersa maringi gunging

samodra pangaksami

Kula suwun kaleburna ing dinten riyadi punika

Lan ingkeng putra nyuwun

berkah saha pangestu

Saya datang menghadap Ibu

Pertama, menghaturkan sembah sujud

semoga diterima Ibu

Kedua, apabila ada kekeliruan

ungkapan saya sepatah

serta tindakan saya selangkah

yang saya sengaja maupun tidak saya sengaja

Yang tidak berkenan di pikiran dan perasaan

Semoga Ibu mau memberi maaf

sedalam, laksana samudera

Saya berharap lebur di hari raya ini

Dan saya mohon doa restu

Sejurus kemudian, yang disungkemi akan membalas lembut. Biasanya sambil membungkuk-merengkuh:

Semono uga aku, wong tuwa

uga akeh klera-klerune

Kowe uga ngagungna pangapura

Ora luwih, kowe bisaa

kabul kang dadi ancas

lan dadi gegayuhanmu

Ora luwih, aku wong tuwa

mung bisa ndedonga marang Pangeran

Iya, kowe dak pangestoni

Demikian pula aku, orangtua

juga banyak kekeliruan

Kuminta kamu memaafkan

sedalam, laksana samudera

Tidak lebih, semoga kamu dapat

terkabul apa yang menjadi hasrat

dan menjadi harapanmu

Tidak lebih, aku orangtua

hanya bisa mendoakan pada Tuhan

Ya, kamu kurestui

Sebelum meminta maaf, memberi hormat. Sesudah meminta maaf, memohon berkat. Betapa indah Idul Fitri.

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Gambar sungkem dipinjam dari sini.

Manuk Pulang Kandang 2010: Ruwatan Manuk Sukert

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]


Untuk alumni (lulus/drop out), siswa (termasuk veteran), guru & karyawan dan pensiunan, beserta keluarga

Senin Wage, 27 Desember 2010 [21 Suro 1944 BE]

08.30 – 13.00 wib, diawali ekaristi secara Katolik dan ruwatan secara Kejawen

di kandang kita, SMA Kolese de Britto, Ngayogyakarta Hadiningrat

Bakal menyesal hingga liang kubur manuk yang tidak hadir di Manuk Pulang Kandang 2010 kali ini. Beda, nyamleng dan ngampleng!

Suasana itu akan terasa dalam format acara. Jika MPK sebelumnya kental dengan guyon-maton-parikeno, MPK kali ini parikeno-maton-guyon.

MPK 2010 dikemas sebagai “ruwatan kadang manuk”. Nuansa kejawen akan muncul lewat ruwatan yang disajikan Mas Walji, manuk 1967. Fragmen reflektif bakal dinarasikan oleh Landung Simatupang. Palaran akan dipersempahkan oleh Mantri Diduk dan Windu Aji, bersama rombongan pengrawit yang mereka usung. Perayaan ekaristi, sebagai pembuka, akan dipimpin oleh Martasudjita Pr dan Alip Pr, kedua pastor juga manuk, serta Ageng Marwata SJ, pemimpin yayasan manuk. Haji Datuk Sweida, presiden manuk nasional, juga pasti datang.

Di luar itu, setiap dasawarsa angkatan akan membawakan sajian khas mereka. Sudah dituding siapa saja yang bakal tampil ke panggung. Tak boleh selaklah mereka. Manuk lain yang belum dituding hidungnya tetap boleh tampil, tentu jika waktu memungkinkan dan panglima acara mengizinkan. Toh kalau pun panglima acara tidak mengizinkan ya labrak saja hehe…

Manuk Pulang Kandang

Untuk menyegarkan ingatan, baiklah kita menengok ke belakang, merunut kisah lahirnya reuni tahunan di setiap penghujung tahun ini. Saya menyodorkan pertanyaan lewat surat elektronik kepada Tonny Pongoh, manuk 1985 yang terlibat dalam konspirasi kelahiran MPK ini. Berikut tuturannya:

MPK tercetus sekitar bulan Agustus 2001 di Anyer – Banten. Pada waktu itu Milis De Britto mengadakan acara mancing bersama di Pantai Anyer, Banten, yang diikuti oleh sekitar 40 orang. Peserta saat itu adalah member milis yg berasal dari berbagai kota, antara lain kontingen Jakarta: Bardhono, Koernianto, Gumulya, Gandung Bondowoso, Edo, Nando, Ase, dll… ; kontingen Jogja: Valens Riyadi, Aditya Wardhana, Ary Cino, dan saya sendiri. Dari Jambi juga ikut serta Suherman Djohan. Ketua panitia adalah Johanes Budhiatmono.

Malam hari setelah acara mancing selesai, para manuk berkumpul di teras ngobrol-ngobrol sambil makan. Lewat tengah malam obrolan antara Gandung Bondowoso/73, Bardhono/71, Gumulya/73, Koernianto/68, Johanes Budhiatmono/72 dan saya, … memunculkan sebuah ide untuk
membuat acara bagi para alumni debritto (waktu itu yang tergabung pada milis DB) yang mudik  dan akan menikmati liburan di Yogya.

Acara kemudian didesain hanya untuk kearaban (bukan membicarakan hal-hal yg serius) sehingga tidak menyisihkan acara Reuni Akbar. Akhirnya disepakati membuat acara pada minggu antara Hari Natal dan
Tahun Baru. Acara kumpul-kumpul tersebut diberi nama Manuk Pulang Kandang. Saya ditunjuk untuk menjadi ketua panitia.

MPK I dilaksanakan pada akhir Desember. Saya dalam kepanitiaan dibantu oleh Valens Riyadi, Aditya Wardhana, Buntoro Gunawan, Aryanto Purnomo, Iwan, Riza, dll.

Kami pertama-tama ‘kulonuwun’ dulu pada pihak sekolah. Pada kesempatan itu Kepsek Pak Mardjo dan Romo Susilo—ketua Yayasan De Britto—mendukung kami semua. Almarhum Pak Kris—wakil kepala sekolah—juga menyambut baik serta menggarisbawahi bahwa nama ‘manuk” memang tepat. Karena setinggi-tingginya manuk terbang pasti akan kembali ke sarangnya. Kami juga sempat menghubungi Mas Joko Pesek/73 dan Johny Sunu/65 sehubungan dengan keperluan koordinasi. Gayung bersambut.

Format acara MPK I cukup sederhana. Acara pembukaan dihadiri oleh alumni, guru-guru dan mantan guru, lalu pertandingan sepakbola dan tarik tambang, ditutup dahar kembul dan dialog ramah tamah.

MPK I ini memiliki kesan mendalam karena kami atas bantuan pak Johny Sunu berhasil menghadirkan (alm) Bapak C. Kasiyo, mantan kepsek yang telah lama dirindukan oleh alumni. Kehadiran Pak C Kasiyo waktu itu adalah yang pertama sejak belasan tahun terakhir, dan juga yang terakhir kalinya karena pada tahun depan beliau telah wafat.

Konsumsi pada waktu itu diupayakan dengan menghadirkan Es Bob, Bakso Man, Nasi mBok Bon, dan beberepa makanan yang dibawa oleh para alumni sendiri. MPK pertama dihadiri sekitar 150 orang dari berbagai angkatan (sebagian besar adalah anggota Milis DB). Dimeriahkan pula oleh keyboard tunggal Mas Anwar Santosa/68. Biaya pada waktu itu ditutup dengan cara ‘bantingan’. Sisa bantingan diserahkan untuk sumbangan bagi yang memerlukan.

Acara MPK I cukup berkesan sehingga disepakati akan diadakan setiap tahun. Saya sendiri menjadi ketua panitia empat tahun berturut, mulai dari MPK I hingga IV.

Nama Manuk Pulang Kandung dipilih dengan latar belakang ‘kerinduan’ dan ikatan batin para alumni yang telah bekerja di luar Yogya. Mereka rindu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya sesama manuk. Juga ikatan batin yang kuat akan kampus De Britto telah menjadikan tempat itu sebagai ‘rumah kedua’ bagi para manuk.

Manuk hidup dan tinggal berkelompok. Namun pada saat terbang mereka berpencar dan ke sana-kemari mencari makan sendiri. Di tempat mereka mencari makan, manuk juga tetap menjaga persaudaraan dengan sesama manuk yang ditemuinya. Maka adalah kebahagiaan ketika para manuk dapat pulang dengan gembira ke ‘kandang’ di mana mereka berasal.

Sekolah dipilih menjadi tempat karena alumni tidak boleh melupakan ‘sangkan paraning dumadi’. Apa pun jadinya sekarang, alumni berasal dari tempat yang sama, belajar dan bermain di tanah yang sama, minum dan mandi di air yang sama. Sehingga siapa pun alumni, dia tetap hasil dari Kampus 161—alamat sekolah di Jl Adisucipto 161.

Hal ini juga digunakan oleh para alumni untuk menunjukkan kepada masyarakat dan keluarga bahwa mereka juga bukan siapa-siapa dan apa-apa, namun mereka adalah manusia yang pernah diberi kesempatan belajar di Kampus de Britto. Sejauh-jauhnya alumni De Britto berada, mereka tetap akan teringat dan pulang ke Kandangnya. Manuk-manuk ini juga tak pernah berhenti untuk saling berkabar (walau dulu belum ada twitter—kabar disuarakan melalui milis DB waktu itu). Sifat egaliter dan menembus angkatan sangat tampak. Lebih unik lagi bahasa yang dipakai para manuk biasanya hanya bisa dipahami oleh manuk-manuk itu sendiri (mulai dari yg saru sampai yg serius).

Secara umum, filosofi manuk ini seperti apa yang tertulis dalam “Mars De Britto” ciptaan L Moerabi SJ ini:

Akulah putra SMA De Britto

Gagahlah cita-citaku

Murni sejati jiwaku

Jujur semangat hatiku

Itulah rencana hidupku

Itulah tujuan niatku

Agar dapat menuang tenagaku

bagi Tuhan dan bangsaku

Ayolah putra SMA De Britto

Kuatkanlah hubunganmu

Selalu tetap bersatu

Dengan semua kawanmu

Meskipun terpencar hidupmu

Di kelak kemudian waktu

Ingat selalu di dalam hatimu

Ialah De Britto contohmu

Keunikan De Britto adalah “adanya energi perekat” yang mengikat para alumninya menembus batas angkatan. Energi perekat ini timbul sebagai akibat dari efek “pembebasan’ yang ditanamkan oleh De Britto. Belenggu sekat yang membuat tertutup seolah-olah dibuka oleh De Britto, sehingga alumni merasakan baru ‘menjadi manusia” setelah sekolah di De Britto. Perasaan senasib dan gembira mensyukuri ‘pembebasan’ inilah yang membuat ikatan persaudaraan De Brittto mampu menembus batas angkatan dan wilayah.

Acara MPK II – IV berjalan sebagaimana MPK I. Namun pelan-pelan namun pasti alumni yang hadir semakin lama semakin membengkak. Acara yang informal akhirnya juga berkembang menjadi semi formal (bahkan seperti agenda resmi tahunan). Maka sejak MPK V, format berubah menjadi lebih
besar, terbuka, dan terkesan lebih formal.

Esensi MPK pada awal digagas adalah sebagai sarana untuk lebih memperkokoh ikatan persaudaraan sambil mengingatkan akan ‘sangkan paraning dumadi’. Jadi perubahan bentuk dan susunan acara hendaknya tetap mempertahankan visi awal MPK. Hal-hal yang lebih serius dan formal bisa dibahas pada reuni akbar. MPK lebih bersifat informal dan egaliter (seperti Malam Ekspresi) dalam mewadahi para manuk (khususnya dari luar Yogya) yang pulang kampung dan manuk lainnya yang kangen
Kampus 161. Dari suasana informal MPK, biasanya akan muncul gagasan-gagasan besar yang bisa dibahas secara lebih formal di forum-forum tersendiri dan reuni akbar.

Demikian penuturan tertulis TP/85. AB/71, manuk yang akrab dipanggil Lik Bardhono, menambahkan di surat elektronik juga: MPK ini memang asli acara dari anggota, bukan pengurus. Acara informal, yang didesain oleh teman-teman gang Gembiraloka (sebutan utk kelompok DBNet Jogja), untuk saudara-saudaranya terutama yang di luar Jogja. Target pasar utama ketika itu adalah alumni Jabotabek, yang selain karena paguyubannya sudah matang, juga kerinduannya berkumpul di kandang sangat besar. Peran pengurus Jabotabek ketika itu tidak banyak, sekadar sosialisasi dan dana talangan yang dikembalikan kemudian. Namun acara MPK ini menjadi agenda rutin selain Hari De Britto (4 Februari) dan ultah Alumni (19 Agustus).

Aryanto Purnomo, manuk 91 ber-call sign Ary Cino, menimpali lewat panggilan udara. “MPK tahun ini yang benar MPK ke-9. TP salah mengingat. MPK pertama tahun 2002 setelah DBF (De Britto Fishing Club) pulang memancing di Anyer,” koreksinya. Jadilah dalam cerita ini saya lebih memilih menyebut “MPK 2010”.

Kadang Manuk di Kandang Manuk

De Britto ibarat rumah. Di dalam rumah tinggal anak-anak dengan beragam karakter. Bisa jadi karakter satu dengan yang lain bertolak-belakang; tidak sekadar beda. Dan semua berhak tinggal di rumah yang sama. Pun ketika kelak anak-anak itu pergi, setiap anak berhak pulang ke rumah itu. Orang tua wajib menerima mereka kembali.

Landung Simatupang melontarkan pengertian ini tatkala panitia mengundangnya berbincang di Joglo Jaran pada sebuah malam. Panitia mendapuk Landung, sastrawan yang juga aktor panggung dan film ini untuk menyilih sesi kotbah misa dengan sebuah fragmen. Malam itu Landung hendak mencari kata kunci untuk fragmennya dari para manuk yang hadir seperti J Budisantoso, Andon, Genthong, Aris Lemu—mantan tokoh teater kawakan yang meski store namun tidak tersandera hidupnya, dan tuan rumah Bambang Paningron.

Pertemuan-pertemuan sebelumnya telah digelar secara berturut-turut di Kantin De Britto, Wisma Gajah, hingga Dapur Ibu—semua milik manuk. Banyak manuk berbagai angkatan terlibat dalam kepanitiaan kali ini, yakni Yatmo/65, Rianto/72, Joko Pesek/73, Nowo/65, Bowo/66, Naryo/67, Hardjana/72, Omyang/87, Kothak/88, Elang/99, Wahyu/98, dan masih banyak manuk lainnya.

Paningron, pada malam di Joglo Jaran, mencoba menalikan simpul atas diskusi panjang soal tema MPK kali ini. “De Britto itu beragam. Input-nya beragam, output-nya pun beragam,” tandasnya.

Dalam diskusi yang berkembang, profil alumni De Britto jadi incaran perdebatan. Mulanya di milis alumni. Ada seorang anggota milis melemparkan kemarahan ke forum. Ia terusik oleh berita media massa yang menyoroti ulah wakil rakyat. Dalam berita-berita itu disorot soal kebijakan lembaga perwakilan rakyat yang tidak peka terhadap kondisi masyarakat. Di tengah kemiskinan dan kesulitan hidup yang menghimpit sebagian besar rakyat, DPR justru menyodorkan proyek pembangunan gedung baru untuk kantor mereka.

Salah satu alumni De Britto ada di dalam proyek itu. “Kok sampai ada alumni punya pikiran semacam ini!” hardik manuk yang marah-marah di milis tersebut.

Polemik dimulai. Ada yang sepaham dengan kerisauan sang whistle blower ini, ada yang bisa memaklumi meski tidak sesuara, dan ada yang berkacak pinggang menentang.

Hulu pertikaian itu adalah nilai-nilai dasar yang ditanamkan De Britto. Beberapa nilai yang paling populer dikibarkan sebagai kebanggaan adalah semangat to be a man for others, preferential option for the poor, dan tidak malu-tidak takut-tidak malas. Asumsinya, setiap alumni memahami jargon-jargon gagah perkasa tersebut.

Pertikaian tidak berdarah yang kerap berujung menjadi perdebatan berdarah-darah ini mengedepan ketika pembicaraan sampai kepada implementasi atas nilai-nilai tersebut. Muncul pertanyaan, apakah para manuk masih ngugemi nilai-nilai ideal tersebut dalam kehidupan sesudah 3-4-5 tahun bersekolah di De Britto? Ataukah nilai-nilai itu mulai tergerus oleh pertimbangan-pertimbangan pragmatis berkedok “mengejar karir”, “demi sesuap nasi”, atau sebangsa “empan papan” –yen empan/landep ora entuk papan.

Apakah, sebagai dokter, alumni De Britto mengutamakan kepentingan kemanusiaan di atas kalkulasi komersial? Apakah, sebagai seniman, alumni De Britto mewartakan kecerdasan-kekritisan rakyat di atas titipan kepentingan penguasa? Apakah, sebagai petani, alumni De Britto merayakan pelestarian alam di atas kebutuhan panen berlimpah? Apakah, sebagai saudagar, alumni De Britto menyediakan ruang kesejahteraan di atas keuntungan material? Apakah, sebagai pastor-pendeta-ustad, alumni De Britto meletakkan landasan kerukunan umat di atas keunggulan diri-kelompok? Apakah, sebagai politisi-pejabat, alumni De Britto amanah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak untuk menyudutkan kita kepada jawaban diametral ya dan tidak. Ya atau tidak sama-sama membutuhkan narasi. Siapa tahu fakta “ya” tersebut hanya dijalani sebatas ikut-ikutan karena kebetulan lingkungan mendukung; sebaliknya, siapa tahu fakta “tidak” ternyata dilandasi keberanian dalam bersikap.

Ada juga manuk yang berpendapat, 3-4-5 tahun di De Britto tak serta merta mampu membentuk seseorang sebagai pribadi yang “jadi”. Masa sekolah di De Britto hanyalah sepenggal scene dari sebuah film kehidupan manuk. Banyak adegan pada scenes tersebut, baik sebelum maupun sesudah di De Britto. Bisa jadi, klimaks cerita justru pada adegan-adegan selepas dari De Britto. Saat kuliah. Saat bekerja. Saat terbang mencari makan. Oleh karena itu, para manuk yang mendukung pendapat ini menyarankan agar kita jangan terlalu berharap setiap manuk yang terbang ngugemi nilai-nilai di susuh yang sudah ditinggalkan.

Jika begitu, profil alumni seperti apa yang boleh bisa kita rujuk?

Manuk Nggetih

Romo Koelman, SJ, pamong De Britto di tahun 1970-an, pernah menegaskan, “Yen dadi wong apik, ya sing apik sisan. Yen dadi bajingan, ya bajingan sisan.” Demikian kesaksian manuk-manuk yang pernah mengalami tamparan londo gendeng tersebut.

Maka, atas pertanyaan-pertanyaan di depan, penegasan Koelman tersebut patut dihadirkan kembali. Seberapa nggetih manuk pada jalan hidupnya masing-masing? Ataukah menjadi orang baik, ataukah menjadi orang jahat? Jika hanya setengah-setengah perlulah diteliti kedebrittoannya. Manuk De Britto tidak anyang-anyangen –tak jadi kencing, malah air seninya membatu.

Pada diskusi-diskusi manuk, baik di tengah kehangatan rapat maupun di obrolan-obrolan pinggir ratan, profil alumni yang anyang-anyangen inilah yang patut diruwat. Anyang-anyangen adalah sikap kotor di De Britto. Tidak punya sikap tegas, ela-elu, tidak berani menanggung risiko. Maka, alumni yang mengidap sikap mental seperti ini layak menjadi sukerta. Manuk seperti ini layak diuntal Batara Kala.

Supaya bebas dari belenggu mental tahi ayam itu, manuk perlu diruwat. Ruwat berarti pembersihan, pembebasan. Dalam kidung Sudamala digambarkan kemujaraban ruwatan ketika Sadewa meruwat Batari Durga dan dua raksasa bernama Kalantaka serta Kalanjana. Setelah diruwat, ketiganya kembali berubah menjadi wujud aslinya. Batari Durga menjadi bidadari Uma, Kalantaka menjadi Citragada dan Kalanjana menjadi Citrasena.

Memang, oleh sebagian kalangan, kisah tersebut dianggap gugon-tuhon belaka. Meski begitu, karena mengandung ajakan, petunjuk, dan pantangan hidup, pesan-pesan kisah tersebut diterima sebagai kebaikan. Nah, siapa tahu baik pula bagi kadang manuk, yang setelah sukerta dilepaskan, akan kembali menjadi manuk De Britto sejati, yang nggetih.

Maka, di penghujung udarasa ini, perkenankan saya mengajak kadang manuk semua untuk pulang kandang. Siapa pun sampeyan, pulanglah. De Britto, kandang kita, adalah rumah kita bersama. Boleh kita berbeda, sama bolehnya kita merasakan kembali hangatnya rumah kita. Kita boleh berbeda, kita menghormati perbedaan itu, sama bolehnya kita duduk bersama, melingkar bersama, bersulang bersama meneguk air keheningan yang pernah sama-sama minum.

Mari bersama-sama maneges, manembah, lan nenuwun marang kang murbeng urip, supaya kita kembali menjadi manuk yang tinggi mengangkasa, pesat melesat, dan tahu ke mana arah kepak sayap.

Yogyakarta,

AA Kunto A

Manuk yang lepas kandang 1996

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

MPK 2010: RUWATAN MANUK SUKERTA

Kartu Natal Terakhir

Leave a comment

Di meja tengah itu tergeletak selembar amplop putih. Ukuran kartu kartu pos. Benar saja, isinya ucapan selamat natal.

Itu kartu natal terakhir yang singgah di rumah kami. Sejak dunia modern dimanjakan oleh teknologi canggih, nyaris semua orang lebih suka berkirim ucapan lewat sms, telepon, email, facebook, dan twitter. Lebih cepat, praktis, dan murah. Tidak repot.

Dan kartu itu jadi terasa istimewa.

Saudara kami, yang tidak punya hubungan darah namun dekat di hati, memang rajin mengirim kartu ucapan untuk keluarga kami. Di mana pun ia ditugaskan, selalu ia luangkan waktu untuk menulis ucapan, membungkus dalam amplop, melekatkan perangko, dan mengirimkannya ke kantor pos. Berhari-hari kemudian, tanpa ia tahu pasti, kartu yang dikirimnya baru sampai di tujuan. Belum tentu si penerima akan membalasnya. Kalau pun membalas, butuh sekian malam lagi untuk menerima balasan itu. Kami termasuk yang tidak rajin membalas.

Beberapa waktu lalu, selama beberapa tahun, ia mengirim kartu, dan surat, dari Roma, Italia. Sebagai biarawati, ia mendapat tugas belajar di pusat pemerintahan gereja katolik itu. Jadilah kartu ucapan itu perekat komunikasi kami.

Bukan ia tidak melek internet. Sangat melek saya kira. Namun, saya tidak pernah menanyakan alasan kenapa ia masih memilih menggunakan cara tradisional untuk berkirim ucapan. Saya hanya menduga, ia hendak melestarikan sentuhan sederhana yang belakangan makin hilang dari peredaran. Sentuhan itu menjadi oase yang melegakan. Betapa tidak. Dalam selembar surat, goresan tangan pengirim terpatri kuat di sana. Tebal-tipis dan tegak-miring tulisan begitu kentara, menandakan suasana hati dan emosi pengirim sekaligus. Tanda tangan yang terbubuh di penghujung tulisan juga terasa sebagai tanda cinta.

Kini, saudara saya ini sudah kembali ke tanah air. Ia kembali bertugas di sebuah lembah pertapaan. Dalam sunyi ia bekerja dan berdoa. Dalam sunyi pula ia tetap menyapa, dengan cara yang sama, selama bertahun-tahun, tetapi dengan sapaan yang semakin dalam.

Semoga, itu bukan kartu natal terakhir yang hadir di rumah kami.

Semarang, 25 Desember 2009

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]

Hidup Kedua

3 Comments

Hari ini istimewa buat saya. Setiap tahun, saya merayakannya dalam sendiri. Dalam hening. Dalam kebahagiaan yang tak terkata.

Enam belas tahun lalu, saya terhempas dari motor. Tersambar mobil yang melaju dari lawan arah. Brak! Kaki kanan saya patah. Terbujur tak berdaya di tengah jalan, saya dikerumuni para pelintas yang sedang tergesa berangkat bekerja dan sekolah. Adik saya, Santi, selamat. Ia terhempas dari boncengan saya. Dan tak luka.

Orang-orang baik menolong saya. Dengan sebuah sedan, saya diusung ke rumah sakit. Para penolong itu hendak membawa saya ke sebuah rumah sakit pemerintah. Ups, untunglah adik saya menghardik. “Ke Panti Rapih aja,” pintanya. Ada ibu yang berdinas di sana. Alhamdulillah, para penolong baik hati itu mengabulkan permintaan kami. Saya dilarikan ke RS Panti Rapih. Dan segera mendapatkan P3K. 3,5 jam lamanya saya terbaring di UGD. Para perawat, termasuk Ibu, silih-berganti menghentikan perdarahan dan menjahit luka yang menganga.

Bapak, yang segera melesat ke RS begitu mendapat kabar (waktu itu, rumah kami belum dipasangi telpon; entah siapa yang memberi kabar), berusaha menghibur dan menguatkan saya. Juga Om Mudji dan romo pamong sekolah Moerti Yoedho, SJ, yang tak kalah gesit memastikan keadaan saya.

Dokter Soeprandjono (almarhum) selalu saya ingat sebagai orang yang sangat berjasa bagi saya. Beliau satu-satunya dokter orthopedi, dari 3 yang dimiliki rumah sakit, yang hari itu berpraktek. Dalam jadwal, siang harinya, beliau mesti ke Solo untuk berpraktek ke rumah sakit orthopedi di sana. Baru Selasa minggu depan kembali ke Jogja. Dokter Prandjono memutuskan untuk menunda kepergian ke Solo demi menangani operasi tulang kaki saya.

Saya ingat, Ibu menghampiri saya di bangsal perawatan setiba saya dari UGD. Wajah Ibu menyiratkan kekhawatiran. Saya paham. Meski sudah biasa menghadapi pasien, namun kali ini pasien itu anak sendiri. Juga, meski anaknya ini tampak tegar menahan rasa sakit.

Ibu menceritakan kesediaan Dokter Prandjono mengoperasi siang itu juga. Ibu juga menggambarkan betapa parah luka yang saya alami. Kaki kanan saya lebih dari sekadar fraktur, namun remuk. “Jika tidak bisa diselamatkan, kakimu diamputasi piye Le?” tanya Ibu. Pasti karena sudah mengenal saya, Ibu selalu lugas dalam banyak hal. Termasuk saat bicara kemungkinan terburuk saya waktu itu. Mungkin hati Ibu tak sampai, namun Ibu selalu punya hati untuk menyampaikan apa pun. Dengan caranya, dengan ketegarannya.

“Nggak papa, Bu.” Saya berusaha menenangkan diri. Yang saya rasakan waktu itu adalah “untung masih hidup”, “untung hanya kaki yang patah”. Ah, saya masih merasa beruntung kala itu. Kepala tidak pusing sama sekali. Perut pun tidak mual. Lecet di siku kiri pun terasa seperti gigitan semut belaka.

Pasrah dan berharap saat itu. Pasrah jika keadaan terburuk yang terjadi. Berharap jika masih ada jalan menyelamatkan kaki kanan saya.

Teman-teman sekolah dan keluarga besar mengantar saya ke ruang operasi.

5 jam, hingga petang menjelang, operasi baru usai. Dan saya masih punya 2 kaki. Wow, girangnya saya. Tim dokter yang dipimpin Dokter Prandjono telah menempuh operasi luar biasa. Tulang kaki saya, baik tulang kering maupun tulang paha, bukan hanya dipasangi pen, melainkan “dijahit”. Kepingan tulang disatukan. Dengan ketekunan yang tulus, mereka menorehkan maha karya di hati saya.

 

Kesetiaan Keluarga, Solidaritas Teman

Nyaris sebulan saya menjalani perawatan inap di rumah sakit. Dengan kaki digantung lebih tinggi dari kepala, telentang tanpa boleh bergerak, perawatan luka saya memang harus dilakukan secara khusus. Makan di tempat tidur. Beol dan kencing juga di tempat tidur. Juga mandi dan tidur. Bahkan, menerima komuni setiap petang juga di situ.

Bangsal Albertus, bed pojok barat daya. Sekamar isi enam, semua patah tulang. Untung perawatnya muda-muda dan cantik, baik hati dan suka menolong pula, sehingga siang-malam berlalu dengan cepat.

Hari-hari tak pernah berlalu dalam sepi. Selalu saja ada yang berkunjung. Selalu ada yang menghibur. Selalu ada yang mendoakan. Ya keluarga, ya teman. Setiap malam ada yang menemani, setidaknya meladeni minum kala haus, atau mendengarkan rintihan kala ngilu menghampiri saya. Kesetiaan mereka membekas betul di hati.

Dan jika mencela adalah pujian dalam rupa yang khas, itulah hadiah dari teman-teman sekolah. Setiap hari, sepulang sekolah, atau sore sepulang ekskul, selalu ada yang mem-bezoek saya. Buah tangan yang setiap hari mereka kirim adalah buku atau fotokopi pelajaran hari itu. “Yang sakit kan kakimu, Kun. Otakmu kan waras. Nih dibaca!” Alhasil, meja samping tempat tidur saya tidak dipenuhi buah atau oleh-oleh makanan lazimnya di rumah sakit, tapi setumpuk catatan. Teman-teman berharap agar saya tidak tertinggal kelas.

Benar saja. Ketika kenaikan kelas tiba, saya bisa naik meski dengan nilai pas-pasan.

Berkat teman-teman yang begitu perhatian, saya tidak menjadi anggota VOC, sebutan untuk sekelompok teman yang tinggal kelas. Sekelompok? Ya. Dari 6 kelas paralel, jika dikumpulkan, satu kelas sendiri terpaksa mengulang atau drop out. Tidak selalu karena bodoh. Kadang karena pergaulan yang keliru, atau strategi belajar yang sekenanya mereka tergelincir.

Karena kecintaan teman sekelas, yang semua laki-laki, pada saya, mereka melecut saya sedemikian rupa. Saat masuk sekolah, dua bulan setelah peristiwa kecelakaan itu, secara bergantian mereka mengontrol kemampuan saya mengejar ketertinggalan materi. Sesuai kepintaran masing-masing, saya diajari hal-hal yang saya belum mudeng. Tak hanya itu, sepulang sekolah, mereka menyediakan diri mengajari saya di kost.

Pun guru. Secara sukarela, saban sore hingga malam, mereka membuka kelas-kelas matrikulasi. Siapa pun boleh ikut, dan gratis. Dengan cara khas, mereka mengingatkan saya bahwa tidak ada belas kasihan sedikit pun pada saya. Meskipun sakit, kalau nilai saya jelek, angka 4 di rapor tak segan mereka torehkan. Dan terjadi. Rapor saya semester 1 dihiasi oleh beberapa angka merah, yang, syukurlah, terbayar lunas di semester 2.

Saya mengingat mereka semua. Saya berterima kasih atas cambuk yang pedas itu. Tahun-tahun sesudah itu adalah hidup saya yang kedua, hidup yang selalu saya bungkus dengan rasa syukur. Ad Maiorem Dei Gloriam.

 

Syawalan Trah Wiropawiro

1 Comment

di halaman joglo kumendung

di halaman joglo kumendung

Jika pada Selasa 22 September berlangsung halal bi halal dan syawalan keluarga besar Trah Pawirodikromo, maka pada Jumat 25 September giliran “keluarga kecil” Trah Wiropawiro (yang bernomor induk 3) menggelar acara serupa. Rutin, saban Syawal. Rumusnya, untuk trah besar, acara diadakan pada “tanggal merah kedua” Idul Fitri, sedangkan trah kecil pada tanggal ke-5. Sudah pasti, tidak peduli jika ada perbedaan hari raya antara pemerintah dan kelompok masyarakat tertentu.

Seperti sudah ditradisikan, “badan” (merayakan bakda) selalu diadakan di Joglo Kumendung. “Di sinilah Mbah Wiropawiro dulu lenggah,” ujar Bapak S. Wahono (3.7.1), pengurus trah menjelaskan kenapa acara selalu dilangsungkan di tempat itu. Supaya anak-cucu mengingat cikal-bakalnya.

Mulyowiyono, putra ke-7, simbah saya

Mulyowiyono, putra ke-7, simbah saya

diiringi gamelan Mega Laras yg biasa berlatih di joglo ini. sayang, tanpa dalang. padahal ada wayang...

diiringi gamelan Mega Laras yg biasa berlatih di joglo ini. tidak wayangan.

Karena sebagian keluarga ada yang sudah masuk kerja, mengingat cuti bersama tak sepanjang tahun lalu, maka pertemuan kali ini dibuka seusai Shalat Jumat. Tidak seperti biasanya, kali ini acara berlangsung di halaman joglo, duduk di kursi di bawah tratag (tenda). Dalam joglo sendiri ditempati gamelan, wiyaga, plus sinden. Gending-gending jawa menyulap suasana siang yang terik itu menjadi teduh. 150-an anggota keluarga yang datang betah duduk hingga acara kelar menjelang pukul 16.00 WIB seusai sungkeman kepada sesepuh dan pinisepuh. Kami, yang tersebar di berbagai kota, dalam kesempatan emas seperti ini selalu bersua. Sebab, tidak mungkinlah kami bertemu 3 bulan sekali sesuai jadwal pertemuan rutin trah.


Tanah takkan berkarat

Mbah Wiropawiro, sebagaimana kerap dituturkan Simbah adalah petani desa yang mencintai pekerjaan di kebun dan sawah. Meski dulu juga memiliki jabatan di tingkat lokal, namun kecintaannya pada tanah begitu tinggi. Kata Pak Wahono, bapak saya, kepada hadirin, “Semua 8 putra Mbah Wiro dibelikan tanah pekarangan. Dan luas semua. Bagi Mbah Wiro, tanah pekarangan itu penting, lebih penting daripada sawah.” Ia menirukan alasan Mbah Wiro, “Wong ki sing penting papan. Perkara mangan isa golek nang endi wae. Delok manuk kae, mabur tekan ngendi-endi golek pangan, trus mulih.” Kebutuhan utama manusia adalah tempat tinggal. Tempat mencari makan bisa di mana saja, tetapi tempat tinggal harus jelas. Lihat burung-burung di udara itu. Mereka mencari makan hingga terbang ke sana-kemari, dan akhirnya pulang.

antri sungkeman, urut tuwa, ora urut banda

antri sungkeman, urut tuwa, ora urut banda

Prinsip Simbah ini berbeda dengan kebanyakan orang modern zaman ini. Banyak orang yang kini punya kendaraan mewah lebih dari satu, tapi tidak punya rumah. Parkir di pinggir jalan, atau dititipkan.  Saya ingat pesan  Mbah Kismo,  putra bungsu Mbah Wiro, “Aku ora gumun karo wong sing duwe mobil akeh. Sebab, mobil iku isa teyengen, lan regane saya mudun, nanging lemah kosok balene.” Aku tidak heran dengan orang yang punya mobil banyak. Sebab, mobil itu, karena terbuat dari besi, bisa berkarat, pun harganya terus menurun, sedangkan tanah justru sebaliknya.” Kata bapak saya lagi, “Simbah tidak mengijinkan anak-anaknya menjual tanah jika belum mampu membelinya.” Apa hasilnya? Bukannya menyempit, tanah putra-putra Mbah makin luas karena ada kebanggaan jika mampu membeli tanah.

Alhasil, pekarangan putra-putra Mbah Wiro begitu luas. Rata-rata, selain muat didirikan rumah bertipe di atas 200 m2, pekarangan mereka juga masih mampu menampung pohon-pohon salak, kandang sapi, dan puluhan pohon kelapa. Sampai kini.

Memasuki generasi ketiga

generasi ketiga dan keempat: S Wahono (3.7.1) dan Chandra Sena (3.7.1.3)

generasi ketiga dan keempat: S Wahono (3.7.1) dan Chandra Sena (3.7.1.3)

Mbah Wiro sudah lama meninggal. Putra-putranya pun sebagian besar sudah menyusul. Yang bertahan tinggal 2 putra terakhir dari 8 putra-putri yang terlahir. Mereka adalah Mbah Mulyowiyono (3.7) dan Mbah Kismorejo (3.8). Keduanya sudah menduda setelah Mbah Kismo ditinggal seda mbah putri pada bulan puasa lalu, dan Mbah Mul yang didului istrinya hampir 2 tahun lalu. Kakak-kakak mereka sudah berpulang. Yang tertinggal adalah ipar, Mbah Duta putri, Mbah Manggungsari kakung (aduh, lupa namanya), dan Mbah Arjo putri.

Maka, kini, sudah mulai masuklah ke generasi ketiga, atau keempat jika dari Trah Pawirodikromo.

Older Entries