Katak Menembus Tempurung

3 Comments

Viktor E Frankl: Man's Search for Meaning

Bagi sebagian orang, penjara tak ubahnya TPA (tempat pembuangan sampah akhir). Laiknya TPA, semua ada di sana: potongan rumput taman, tulang ayam bakar, bangkai tikus, hingga tai anjing. Kotor dan menjijikkan. Bau dan bikin sesak nafas.

Begitu pun penjara. Semua ada di sana: maling knalpot, penipu arisan berantai, pembunuh bayaran, penghisap shabu, hingga koruptor. Stempel “pelaku kejahatan” melekat di jidat mereka. Tak ada yang mau mendekat, kecuali keluarga yang sudah tercoreng mukanya, atau teman karib yang jatuh iba. Cuh… cuh… cuh…

Penjara adalah comberan masyarakat, yang berisi orang-orang buangan. Mereka terhempas dari sangkakala, terompet kabar kematian. Mereka tertimpa palu hukum yang dijatuhkan di meja hijau. Pula, mereka terkucil dari habitat sosialnya.

Dan mereka seperti tak punya hak bersuara. Tak ada saluran kata untuk membela, alih-alih meluruskan. Sudah terkepung tembok tebal, mulut mereka pun disumpal. Bisik-bisik lirih pun tak terdengar dari balik jeruji tembus angin itu.

Di dalam semakin sunyi, di luar makin bergemuruh. Bahwa penjara memang kuburan hidup bagi para pecundang.

Meski begitu, sayup-sayup tetap terkisik kabar bahwa ada nyanyian bisu dari dalam penjara. Viktor Frankl salah satunya. Dalam bukunya Man’s Search for Meaning (1946), ia menuliskan bagaimana pergulatan batinnya di dalam penjara. Baginya, penjara adalah kegelapan yang tak berujung. Tak kelihatan di sana di mana pintu kebebasan itu, jika ada. Dalam kegelapan itu, yang ada justru keterpurukan. Keterkejutan akan kenyataan berada di penjara lama-lama menjadi sikap apatis bahwa memang hanya penjaralah kehidupan yang ada. Alih-alih membayangkan bebas kelak di waktu yang tidak bisa ditentukan, bisa bertahan saja jauh dari harapan.

Toh, bagi Frankl, selalu ada makna yang bisa dipetik dari kegelapan itu. “Then I grasped the meaning of the greatest secret that human poetry and human thought and belief have to impart: The salvation of man is through love and in love,” tulisnya.

Adakah selain Frankl?

Wilson, narapidana politik kasus 27 Juli 1996, mencoba memaknai pengerangkengan tubuhnya dari aspek kemanusiaan. Secara khusus ia mengamati sosok Xanana Gusmao, tokoh fretilin yang diterkam rezim Soeharto karena memimpin gerakan makar pembebasan Timor Timur dari aneksasi Indonesia.

Kamp Nazi: penjara Wirogunan lebih manusiawi

“Ketika saya melihat seorang pemimpin rakyat Timor Timur di penjara, saya melihat bagaimana seorang pemimpin hidup dalam kesederhanaan. Saya mencatat kehidupan sehari-harinya yang tidak diketahui orang lain karena Xanana kan image-nya pejuang gerilyawan, angkat senjata AK 47 atau M16, bawa radio komunikasi, jadi dia seperti membawa simbol-simbol yang menyeramkan. Nah saya menampilkan Xanana sebagai sosok yang lain dalam tulisan-tulisan saya. Misalnya sosok Xanana dalam hal melukis, bermain bola, merawat bonsai, hubungannya dengan napi kriminal, bagaimana dia belajar bahasa Indonesia dari mereka, bagaimana hubungannya dengan petugas administrasi, bagaimana dia membela napi-napi kriminal agar mendapat pelayanan kesehatan yang lebih baik, agar mendapatkan jatah makanan yang lebih baik kualitasnya. Yang dia lakukan jauh lebih banyak ketimbang kami tapol/napol dari Indonesia. Menurut saya hal-hal seperti itu penting untuk diketahui, inilah tipe seorang pemimpin sejati, tidak banyak bicara soal dirinya namun bicara bagaimana dapat membantu orang semaksimal mungkin dalam kondisi yang sangat terbatas. Hal semacam itu tidak banyak saya temui bahkan dari kawan-kawan sendiri walaupun kami sudah mencoba berbuat seperti Xanana,” ujarnya kepada Faizol Reza (Sinar Harapan, 2 April 2005).

Berbekal mesin ketik, yang dicumbuinya 8 jam sehari, ia pun menulis buku penelitian sosial tentang kehidupan di penjara.

Arswendo Atmowiloto pun layak disebut. Napi kasus “Monitor” ini pun mampu menembus tembok penjara lewat mesin ketik yang boleh dibawanya. Ia tetap menulis dari balik teralis. Alhasil, Sebutir Mangga di Halaman Gereja (1994) boleh kita petik. Di penjara pun ia tunai Menghitung Hari (1994).

Katak Menembus Tempurung

Penjara ibarat tempurung. Penghuninya ibarat katak. Orang Belanda punya istilah “Kijken tussen de bomen” untuk mereka yang cara pandangnya sempit, kita mengenal pepatah “bagai katak dalam tempurung”. Demikianlah, penghuni penjara pun ibarat katak dalam tempurung. Hidup mereka terkurung dalam tembok tinggi-berlapis dan berpenjagaan ketat. Mereka tak boleh ke mana-mana. Jadwal keluar sel ditentukan, jadwal makan diatur, jadwal dikunjungi pun dibatasi.

Seperti pagi tadi. Bersama beberapa teman kantor, saya berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta. Kami kerap menyebutnya LP Wirogunan. Kami bertemu Santosa Heru Irianto, kepala lapas, untuk membicarakan rencana pelatihan menulis bagi warga binaan (napi), pekan depan.

Saya mengusulkan tema “Katak Menembus Tempurung” untuk pelatihan menulis yang baru pertama kali diselenggarakan di LP Kelas II A ini. Penjelasan saya seperti uraian di depan. Bahwa penghuni lapas bolehlah terbelenggu fisiknya, namun tidak dengan hati dan pikirannya. Tidak dengan kreativitasnya.

Lewat menulis, para napi bisa menyuarakan kehidupannya secara leluasa. Mereka bisa bercerita bagaimana keseharian di hotel prodeo. Mereka bisa bertutur tentang harapan sehabis masa hukuman dijalani. Mereka bisa bercerita tentang cinta, air mata, dan tawa.

Angkat topi untuk Lapas Yogyakarta yang mulai terbuka akan perubahan zaman. Mereka mulai mengundang beberapa elemen masyarakat untuk terlibat dalam pembinaan para napi. Pintu masuk sudah diubah. Tak perlu lagi menggedor dari pinggir jalan untuk memanggil petugas. Masuk saja. Pelayanan pun dipoles. Lebih ramah.

Paradigma telah mereka ubah. Penjara bukan lagi Alcatras atau Guantanamo. Juga bukan lagi Nusakambangan. Tempat-tempat itu, bahkan, menyiksa katak dalam tempurung, dan membuang bangkai katak.

Tapi penjara adalah Wirogunan, tempat napi boleh menari-nari dengan penanya. Mereka boleh menulis apa saja. Wirogunan bukan tempat sampah, tempat bangkai katak, tapi tempat katak menari-nari menembus tempurung.(*)

Jogja, 9 Maret 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Advertisements

Jenang Gus Dur

Leave a comment

”]Dalam deru hujan, sore kemarin, kami bertemu. Hujan itu rejeki, karenanya kami sambut dengan suka ria. Pada hujan itu kami serap air-air kesegaran.

Dalam lebat hujan, kami menyantap jenang sumsum. Juruh pemanis kami tuang secukupnya. Satu gelas untuk satu tubuh. Ditemani teh manis panas, kehangatan kembali merasuk ke raga. Bersama Pak Ketua RT dan tokoh warga Baciro, kami duduk melingkar. Di kursi, bukan di atas tikar.

Itu jenang Gus Dur, lebih dari sekadar jenang sumsum. Jenang Gus Dur lezat rasanya. Takarannya cekap, rasanya cakep. Jenang putih bercampur juruh coklat. Lalu menjadi putih yang coklat, dan coklat yang putih.

Jenang Gus Dur kami santap untuk memulihkan tenaga, demikian orang-orang yakini akan makna jenang sumsum. Perhelatan akbar nan sederhana usai saja kami gelar, mengenang 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid. Pekan lalu, serangkaian acara kami langsungkan di Gedung Galangpress Center. Ada pengajian dan misa, ada pula peluncuran buku “Gus Gerr” (Pustaka Marwa, 2010) dan peresmian Perpustakaan Guru Bangsa Gus Dur.

Sultan HB X berkenan hadir. Sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan menggunting pita dan membanting kendi sebagai tanda warisan pengetahuan Gus Dur bergerak ke seluruh negeri. “Nah, ngene iki sing ta karepke [Nah, seperti ini yang saya mau],” celetuk Sultan, seperti dituturkan Pak Andoyo, tokoh warga yang berada di dekat Sultan kala itu. Saya tidak mendengar langsung, karena sebagai pembawa acara, posisi berdiri saya di luar lingkaran Sultan yang didampingi adik Gus Dur, KH Hasyim Wahid.

Mencoba menangkap ungkapan Sultan, kiranya ada banyak cara dalam mengenang Gus Dur. Salah satu cara yang dipilih Galangpress adalah menerbitkan buku dan meluncurkan perpustakaan keliling. Ini sebuah upaya menerjemahkan visi keilmuan Gus Dur, bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan. Buku adalah salah satu medianya. Dan perpustakaan keliling adalah media penjangkaunya.

Mobil itu bergambar Gus Dur. Penuh. Isinya macam-macam. Selain buku tentang Gus Dur, ada ribuan buku lain dengan tema bervariasi. Ini persis Gus Dur. Dalam diri Gus Dur tidak hanya berisi Islam, NU, namun kemajemukan kehidupan. Maka, Gus Dur menjadi pribadi yang nyaman untuk ditinggali semua orang. Begitu pun, perpustakaan keliling ini, ingin menciptakan kenyamanan membaca bagi semua orang.

Gus Dur sudah kembali ke tanah. Makamnya terus saja diziarahi ribuan manusia. Ribuan acara digelar untuk mengenangnya. Tanah basah di Jombang itu sepertinya tak pernah kering di hati umat.

Dan kemarin sore, Gus Dur telah menjadi jenang sumsum. Gus Dur telah memulihkan tenaga kami, jiwa kami, jiwa kita, untuk kembali bekerja, meneruskan cita-citanya menjaga bangsa dan memerdekakan manusia sesejatinya.

Jogja, 18 Februari 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com, http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Mencintai dan Menggunakan Bahasa Indonesia

Leave a comment

Sebagai bangsa, kita sudah sepakat memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Sejak dicetuskan pada 2 Mei 1926 dalam Kongres Pemuda I, dan kemudian “disumpahkan” pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia kemudian jatuh-bangun menjadi bahasa komunikasi di seantero nusantara. Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, juga bahasa pergaulan sehari-hari. Di Jakarta orang berbahasa Indonesia, di Ternate pejabat berpidato dengan bahasa Indonesia. Tua-muda pun berbahasa Indonesia.

Oleh negara, bahasa Indonesia ini kemudian dikawal sedemikian rupa supaya semakin merata dan memenuhi kaidah berbahasa. Ada proses pembakuan yang sistematis digulirkan. Hasilnya berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Tesaurus Bahasa Indonesia, dan rujukan-rujukan berbahasa Indonesia lainnya, baik keluaran instansi pemerintah seperti Pusat Bahasa, maupun besutan linguis partikelir.

Sampai kini pun belum sempurna benar. Masih banyak cacat bahasa di sana-sini yang tak kunjung dilinguisterapi (linguisterapi: terapi berbahasa). Ambil contoh soal ‘k-p-t-s’ yang luruh-tidaknya saat bersetubuh dengan awalan ‘me-‘ masih riuh bergemuruh. Ada yang bilang seluruhnya luruh, ada yang sahut khusus serapan dari bahasa asing saja yang luruh.

Ups, padahal hanya sekira 20% bahasa Indonesia yang digunakan sekarang benar-benar asli.

Ups lagi, padahal mana ada bahasa asli Indonesia? Indonesia saja tercipta belum lama, ya seumur deklarasi pemuda itu, kok mau mengklaim bahasa asli-serapan. Seperti bahasa Ibrani, bahasa Indonesia adalah bahasa yang sebelumnya belum ada ketika kemudian dipakai sebagai bahasa resmi sebuah negara.

Lalu mau menyebut bahasa serapan? Banyak serapan yang belum ajur-ajer benar. Picingkan mata ke kata-kata ini: standar-standardisasi; objek-subjek-proyek. Ck ck ck, inkonsistensi itu masih jadi sariawan di lidah kita.

Meninggalkan Bahasa Indonesia?


Tentu saja tidak. Jangan biarkan bahasa ini mati muda. Biarlah penggunanya yang mati muda, memudar, sedangkan bahasanya memuda.

Semangat inilah yang disiangi oleh Forum Bahasa Media Massa (FBMM), yakni semangat untuk semakin mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa tutur dan tulis. Mencintai di mulut, mencintai di tangan. Berbicara dalam bahasa Indonesia, beraksara dalam bahasa Indonesia pula.

Zainal Arifin menegaskan semangat ini dalam kunjungan FBMM Daerah Istimewa Yogyakarta di kantor Penerbit Galangpress Group, siang ini. Menurut ketua forum yang sehari-hari bekerja di TVRI ini, peran FBMM adalah mengkampanyekan gerakan mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia. Beranggotakan jurnalis, editor, dan pekerja media yang bergelut di ranah bahasa, FBMM hendak menjadi wadah pengembangan bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa lokal, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

“Dan FBMM tidak berpretensi menjadi polisi bahasa,” sergah P Ari Subagyo, ketua bidang penelitian dan pengembangan pada kepengurusan periode 2009-2012 ini. Lanjut Ari yang bekerja sebagai linguis di Universitas Sanata Dharma ini, meski di FBMM ada anggota yang menghendaki forum ini berperan sebagai polisi bahasa, namun fungsi kreasi berbahasa juga sebaiknya mendapatkan tempat. “Kajian bahasa bukan bersifat normatif, namun agar bahasa berkembang,” tandasnya.

Dengan pandangan seperti itu, bahasa Indonesia yang oleh beberapa kalangan diperjuangkan betul kebakuannya tidak akan membeku. Sebab, kebakuan berbahasa lewat bahasa tulis berpotensi menjauhkan kita dari orisinalitas berpikir kreatif. Dan ujungnya, bahasa Indonesia akan menjadi momok bagi penggunanya sendiri. Kalau ini terjadi, kekhawatiran Ari bisa semakin menyata, yakni terus merosotnya tradisi berpikir di masyarakat akibat rendahnya minat baca dan menulis.

Maka, peran FBMM yang juga mewadahi praktisi-praktisi usil, yakni praktisi yang selalu gatal mengeksplorasi dan mencoba-coba bahasa, bukan hanya memunculkan bahasa baru, melainkan memperkayanya. Banyak misteri bahasa, karenanya, yang bisa dibongkar forum.

Bertemu Penerbit Galangpress Group, irisan sinergi pun terbentuk. Sebagai praktisi bahasa, yang kerap bereksperimen dengan kekuatan frasa seperti “membongkar”, “menodong”, “kupas tuntas”, “cara pintar”, “kedahsyatan”, dll, Galangpress membutuhkan teman berdiskusi yang mencerahkan. Frasa-frasa itu sudah teruji “laku” dibeli masyarakat pembaca. Dengan bergandeng tangan, Galangpress dan praktisi bahasa lain bisa membidani lahirnya kata-frasa-idiom baru yang selama ini belum ada atau tertimbun lemak kemalasan bercas-cis-cus.

Dalam jangka panjang, sinergi berupa workshop, seminar, dan ajang pelatihan lain, juga bakal menggairahkan dunia kepenulisan yang kini miskin penulis. “Jangan sampai kita impor penulis,” tukas Julius Felicianus, Direktur Galangpress saat menyambut FBMM. Julius tidak mengada-ada melontarkan ancaman ini. Ia menyodorkan fakta, jumlah judul buku di Indonesia baru di kisaran 20.000 judul per tahun. Jika satu orang penulis produktif mengerami lebih dari 1 judul buku, dan sebagian buku lainnya adalah karya penulis luar yang diterjemahkan, maka jumlah penulis kita tidak sampai 5 (lima) persen dari total penduduk Indonesia. “Padahal,” Julius memunculkan fakta lain, “50% buku yang kami terbitkan ditulis oleh tim redaksi.” Wow, potret buruk!

Jogja, 26 Januari 2010
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

::: Selamat kepada Penerbit Kanisius yang hari ini berulang tahun ke-88 :::

Sowan Guru Bangsa

2 Comments

Sore begitu teduh. Suasana pedesaan sangat terasa di kompleks perumahan itu. Sepi. Bahkan, anak-anak pun tak tampak berseliweran di jalanan. Mungkin, mereka sedang ke luar kota untuk merayakan tahun baru bersama keluarga. Satu-dua kendaraan saja melintas pelan di depan rumah.

Bendera setengah tiang berkibar lesu di halaman rumah. Sang Merah Putih sedang berduka. Satu guru bangsa telah tiada. Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 wafat dalam usia 69 tahun pada 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Dan sore itu, 3 jam setelah Gus Dur kembali ke pangkuan ibu pertiwi di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sang guru bangsa yang lain menemui kami di rumah itu. “Prof, turut berduka cita atas wafat Gus Dur,” salam pembuka kami begitu kami dipersilakan duduk di ruang tamunya yang tak cukup untuk menemui 10 orang itu.

“Dua minggu yang lalu Gus Dur ke sini, duduk di sana di atas kursi rodanya,” kata Prof Syafii Maarif, guru bangsa kita ini, sembari menunjuk arah depan persis di depan posisi duduk beliau. Dari cerita beliau, terasa betul kedekatan tokoh utama 2 organisasi besar Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, ini. Meski secara kultural dan ideologi organisasi berbeda, namun keprihatinan mereka terhadap kebangsaan sama.

Tersirat duka mendalam Prof Syafii atas kepergian Gus Dur. Karena waktu tidak nyandak, beliau tak melayat hari itu, baik di Jakarta maupun di Jombang. Baru lewat iklan di Harian Kompas, atas nama pribadi dan Maarif Institute, beliau menyampaikan ucapan turut berduka citanya. “Besok pagi (1 Januari), saya berangkat ke Jombang,” ujar beliau. Tak biasa seorang Muhammadiyah menempuh ziarah kubur.

Elit dan rakyat sama-sama tidak serius

“Bangsa ini penuh kepalsuan,” komentar Prof Syafii ketika George Junus Aditjondro, penulis buku Membongkar Gurita Cikeas (Galangpress, 2010) membeberkan banyak fakta temuannya, baik yang sudah dilansir lewat buku maupun masih ia simpan. George baru tiba dari Jakarta memenuhi undangan beberapa pihak berkaitan dengan buku yang menggegerkan politik Indonesia ini. Prof Syafii, yang memberikan pernyataan mendukung (endorsement) di buku setelah 183 halaman ini, ingin bertemu dengan penulisnya. Jadilah kami mengantar George ke kediaman Prof Syafii. Ternyata keduanya belum pernah bertatap muka. Meski belum pernah bertemu, baik Prof Syafii Maarif maupun Gus Dur, memberikan endorsement di buku yang di antaranya mengungkap fakta-fakta seputar dana kampanye Partai Demokrat, kepemilikan Harian Jurnas, dan aliran dana dari Budi Sampoerna ke tim sukses SBY ini.

Sejatinya, pertemuan sore itu akan melibatkan media massa. Undangan sudah disebarkan. Namun, karena sedang berkabung nasional, konferensi pers yang hendak kami gelar di kantor sebuah penerbit, kami batalkan. Beberapa tokoh yang hendak kami hadirkan pun urung bergabung. Jadilah, pertemuan sore itu kami pindahkan ke rumah Prof Syafii dengan agenda utama silaturahmi. Tanpa pernyataan Prof Syafii yang sedianya hendak mencegah pembelokan isu buku ini ke wilayah non-substansi buku. Yang kemudian disepakati, George diminta untuk diam sementara (cooling down), sehingga persoalan tidak merembet ke mana-mana. Permintaan ini lahir mengingat tragedi pemukulan George terhadap Ramadhan Pohan dalam sebuah diskusi di Jakarta, yang tentu saja justru memperkeruh suasana.

Lalu kami terlibat dalam obrolan ringan tentang banyak hal, terutama keprihatinan Prof Syafii atas kehidupan berbangsa kita. “Elit politik kita tidak serius,” kritiknya. Ketidakseriusan itu, menurut guru besar sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini, tampak dalam setiap langkah politik mereka. Maka, dalam konteks kasus Bank Century berikut panitia khusus yang dibentuk DPR, misalnya, beliau tidak yakin akan ada penyelesaian yang tuntas. Dari sumber-sumber yang beliau percaya, Prof Syafii menggugat kelakuan elit penguasa kita yang suka bermain topeng, sok bersih, dan tidak transparan terhadap rakyat. “Untuk apa mereka berbohong?” gugat mantan Ketua PP Muhammadiyah ini.

Kepentingan kelompok, bukan kepentingan bangsa, dan politik uang, sangat membuatnya khawatir. “Kenapa bangsa ini bisa rusak begini ya?” keluhnya seperti tidak bisa berbuat apa-apa.

Prof, sergah saya, bukankah rakyat kita juga tidak serius dala berbangsa? “Benar. Rakyat kita juga mulai tidak serius. Sekarang, kalau tidak ada uang, mereka tidak mau memilih. Gawat ini.” Prof Syafii seperti tidak lagi memiliki kata-kata.

Adzan Maghrib membungkus kesunyian ini. Kami beringsut pamit. Prof Syafii bersujud menjawab panggilan Ilahi. Semoga sang guru bangsa masih memiliki jalan pembebasan…

Jogja, 2 Januari 2010

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]

Paradigma: Apa Itu Cara Pandang?

1 Comment

Sebuah undangan sangat resmi mengantar saya ke sebuah forum bergengsi di Balai Senat Universitas Gadjah Mada. Forum itu bernama “Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada”. Agenda rapat hanya satu: mendengarkan pidato pengukuhan Dr Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA, MPhil sebagai guru besar antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Sangat menarik tema pidato yang dibawakan ahli strukturalisme Levi-Strauss ini: Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya; Sketsa Beberapa Episode. Jauh lebih menarik ketimbang menggubris hari pahlawan yang hari ini diperingati dengan upacara bendera sangat kering di berbagai instansi. Tentu, ketertarikan ini sangat dipengaruhi oleh paradigma saya, cara pandang saya, tentang sesuatu yang bernama kepahlawanan. Bagi saya, tema kepahlawanan sudah usang. Heroisme hanyalah busa pemanis bagi mereka yang tak percaya diri.

Profesor Heddy memulai paparan 32 halamannya dengan menyodorkan kritik terhadap ilmu-ilmu sosial-budaya di Indonesia. Disebutnya, mengutip Prisma, 1994, secara teoritis dan metodologis, ilmu sosial-budaya di Indonesia tidak banyak mengalami perkembangan. Berbagai kemunculan hasil penelitian tidak mampu mendorong munculnya kajian kritis atas teori serta metode yang ada. Arah perkembangannya pun tidak jelas. Tidak ada sumbangan nyata untuk mengatasi berbagai masalah sosial-budaya. Para ilmuwan sosial-budaya dinilai masih mengawang-awang, suka menghambur-hamburkan pernyataan abstrak, tidak membumi.

Karenanya, menurut Heddy, diperlukan paradigma baru untuk membenahi situasi tersebut. Dan gagasan tentang paradigma yang mau tidak mau wajid disitir adalah pandangan Thomas Kuhn, sebagaimana tertoreh di bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1970). Kata Kuhn, perubahan dalam ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah perubahan paradigma atau cara memancang suatu persoalan. Pandangannya mencakup dua hal, sebagaimana ditafsirkan oleh Newton-Smith (1981). Pertama, generalisasi simbolis milik bersama, yakni anggapan-anggapan atau asumsi-asumsi teoritis pokok yang diyakini bersama, yang tidak dipertanyakan lagi kebenarannya. Kedua, model-model, yakni analogi atau perumpamaan mengenai gejala yang dipelajari dan disepakati sebagai alat perantara (heuristic device) untuk melakukan penelitian.

Ketiga, nilai-nilai, yakni bahwa komunitas-komunitas ilmuwan pada dasarnya menganut nilai-nilai tertentu dalam kegiatan ilmiahnya. Keempat, prinsip-prinsip metafisis, yakni asumsi-asumsi yang tidak perlu diuji tetapi menentukan arah penelitian. Kelima, masalah-masalah konkret, yakni masalah-masalah yang dipelajari beserta cara-cara penyelesaiannya.

Agak sulit mengurai soal ini karena istilah paradigma sangat jarang digunakan di kalangan ilmuwan sosial-budaya, demikian hadang Heddy menjawab kesanksian penerapan istilah ini di kalangannya.

Meski sulit, Heddy berusaha menembusnya dari berbagai pintu. Ia meminjam pisau Cuff dan Payne, pinjam sabit antropolog Inggris EB Tylor tentang evolusi kebudayaan (yang berlangsung dalam tiga tahap: savagery, barbarism, dan civilization) yang kemudian disempurnakan oleh LH Morgan. Namun, oleh White, teori keduanya ini dianggap bersifat subyektif, dan technological bias-nya begitu kuat.

Bekerja, Selalu Menanam

1 Comment

Ada yang sedang singgah di kepala. Tentang bekerja.

15 tahunan saya bekerja. Sejak di bangku sekolah, saya sudah mencicipi dunia kerja. Meski kerja sederhana. Sewaktu SMP, saya sudah nyambi mendampingi pramuka sekolah lain menggelar perkemahan. 3 hari, saya diamplopi Rp 10.000. Girang bukan main saat itu.

Saat SMA juga. Wesel Rp 36.000 saya cairkan di kantor pos atas jerih saya menulis di sebuah majalah ibu kota. Cukup untuk nraktir temen-temen makan bakso di kantin. Cukup pula untuk cerita di rumah pada ibu dan bapak. Malah, sangat besar nilainya ketika saya selalu menceritakan pengalaman itu sampai sekarang.

Sewaktu SMA itu pula, saya berkenalan dengan dunia kerja yang profesional. Lamaran saya menjadi wartawan di Harian Bernas diterima. Saat itu saya baru menyelesaikan kelas 1 secara tertatih-tatih setelah tidak masuk sekolah 2 bulan gara-gara kecelakaan lalu lintas. Harian Bernas memang menerima wartawan pelajar kala itu. Koran yang manajemennya dikelola oleh Kompas itu memberi kesempatan kepada pelajar mengelola satu halaman setiap hari minggu. Satu halaman penuh tanpa iklan! Setiap minggu, tidak boleh bolong! DAN TIDAK ADA SEPESER UANG PUN UNTUK PEKERJAAN ITU!

Nama rubrik yang kami asuh adalah Gema. Semua wartawannya pelajar. Pekerjaan kami sama dengan wartawan dewasa lainnya: merencanakan, meliput, mewawancarai, mencari data, memotret, menulis, menyunting! Kalau luput dimaki. Sama! Kalau kerjaan belum selesai, sudah malam sekali pun, tidak boleh pulang. Sama!

Saya menikmati pekerjaan itu, meski di awal-awal harus tertatih-tatih. Bukan saja karena tidak punya pengalaman menulis dan bekerja di lapangan, melainkan karena kaki saya belum tegak untuk berdiri. Untuk berjalan saya masih pakai kruk penyangga. Sungguh-sungguh tertatih.

Syukurlah bahwa saya bersungguh-sungguh saat itu. Meski tidak dibayar, saya merasa menerima bayaran yang jauh lebih bernilai daripada nilai uang jika pekerjaan saya dihitung seperti karyawan profesional lainnya. Bayaran itu adalah KESEMPATAN. Kesempatan apa? Kesempatan untuk menanam. Menanam apa? Menanam kepercayaan. Kepercayaan apa? Kepercayaan bahwa saya punya kemauan, saya mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan… saya selalu terbuka untuk belajar.

Tidak hanya di Gema saya bekerja tak berbayar. Di Majalah Balairung-UGM, kampus saya kuliah, dan di Sanggar Talenta, Penerbit Kanisius, saya belajar menulis, juga menerbitkan buku tanpa diimbali duit. Tahun-tahun awal bekerja di Majalah Basis dan Majalah Utusan pun sama. Jika saya butuh uang, terutama untuk membayar kuliah, saya menulis di media massa. Entah menulis opini, entah menulis resensi buku, atau reportase lainnya. Syukurlah, selama kuliah, saya mendapatkan kepercayaan dari Harian Bernas untuk menjadi kolumnis tetap di rubrik “Teropong”, bersama guru menulis saya St Kartono.

Seterusnya.

Ketika saya sampai di sini sekarang, saya berkaca ke belakang. Apakah ini buah yang saya petik dari benih yang saya tanam dulu? Ya, pasti. Kepercayaan yang satu persatu diletakkan di pundak saya, saya sadari sebagai simpul dari kepercayaan-kepercayaan kecil masa lalu yang bisa saya tuntaskan. Syukurlah jika seperti itu.

Apakah sekarang saya tidak lagi menanam? Tentu tidak.

Menanam sepanjang hayat. Jika tidak saya yang memanen, ya anak saya, keturunan saya, generasi sesudah saya.

Apa yang saya tanam sekarang? Tiada lain, bekerja semakin profesional, lebih mumpuni. Juga menanam perilaku: hormat kepada siapa pun, menghargai siapa pun, dan berempati kepada orang lain. Saya mengingatkan diri untuk tidak takabur. Roda hidup berputar. Siap di atas, siap di bawah. Siap di puncak, siap di ngarai. Siap memimpin, siap dipimpin.

Kepada teman-teman kerja, saya tidak jemu-jemu melontarkan refleksi itu. “Suatu saat kalian yang jadi pemimpin.” Saya siap dipimpin. Bisa karena mereka yang makin pintar, bisa karena saya kian tumpul.

Dengan benih-benih perilaku yang saya tanam, semoga saya selalu bisa bekerja sama dengan siapa pun, kapan pun, dalam peran apa pun.

Menanam sepanjang hidup. Bukan karena digaji tinggi, tetapi supaya belajar tiada henti.