Merawat Gairah, Merayakan Malam

1 Comment

justru malam cahaya lilin berpendaran

justru malam cahaya lilin berpendaran

Apa yang kita pikirkan tenang dunia tergantung pada apa yang kita baca. Rujukan kata bijak yang saya comot dari cuilan ingatan yang tak utuh. Meski begitu, cuilan itu kini begitu mengutuh. Saya menjadi sangat meyakini makna dari rujukan pendek itu.

Sederhana saja. Situasi dunia yang digembar-gemborkan sedang dalam keadaan krisis saat ini, nyata-nyata telah bikin gaduh. Di luar sana, yang jauh itu, kegaduhannya begitu riuh. PHK di mana-mana, kebangkrutan menguburkan impian perusahaan-perusahaan raksasa. Yang adidaya sontak bersimpuh di lutut algojo penghancuran. Banyak tatanan runtuh, banyak keyakinan rubuh. Dunia terasa begitu gelap.

Pun, kegelapan itu terasa begitu dekat. Hingga di depan hidung. Hingga di ujung mata. Hingga nyaris di bibir tenggorokan, hampir tertelan. Gemuruhnya demikian keras. Gaduh. Akankah monster krisis itu segera menghabisi saya?

Tidak. Telinga boleh mendengar, mata boleh melihat, tangan boleh menjamah, namun otak tak boleh kram! Benteng terakhir peradaban manusia ini harus tetap berdiri kokoh, harus mampu mengawal masa depan. Pengetahuan harus menyelamatkan.

Maka, dalam keterdesakan ini, mau tidak mau, kita harus berpikir keras dan cerdas. Ini pesan yang saya pegang agar tidak ikut goncang. Krisis bukan untuk dikeloni. Krisis harus disibak, dilipat, dan dikandangkan. Dalam segala ketermiskinan, bukankah kita masih memiliki kekayaan luhur yang tahan goncangan: kreativitas?

Ups, benar juga. Peradaban manusia dibangun oleh keping-keping kegagalan yang berpilin dalam tekad untuk bertahan, tekad untuk lepas dari jerat siksa kematian dini. Ilmuwan-ilmuwan terkemuka menetas dari kemurahan alam. Pencipta teknologi melesat mengatasi jurang keterbatasan. Bangsa-bangsa berdaulat berkat pekik patriotik pemimpin-pemimpin yang berani menghunus penindasan.

Tanpa ada krisis ekonomi 1997, tak akan secepat ini lahir pengusaha-pengusaha tahan banting. Tanpa ada pesawat nyungsep di lautan, tak akan tercipta teknologi mutakhir yang makin mendekati aman. Sebab, manusia mengoleksi watak dasar untuk tidak percaya jika tidak ada peristiwa. Sadar kesehatan ketika sakit meradang. Sadar kehidupan ketika kematian menghadang. Sadar bahwa kerja-kerja harus dilakukan secara benar baru ketika terseok di blunder kecerobohan.

Tak apa. Ini kita. Tetap ada jalan untuk tidak sepikun itu. Kini saatnya. Panggil kembali gairah-gairah hidup yang tertunduk impoten. Tegakkan lagi kepala yang terkulai. Sepuh kembali tekad yang melembek. Asah lagi otak sebelum benar-benar dungu. Baca buku-buku motivasi. Simak kisah-kisah tetangga yang menggetarkan dunia.

Esok selalu ada harapan. Setiap gelap merindukan terang; betapa indah lampu jalanan yang berpendaran itu. Gelap bukan akhir kehidupan. Gelap adalah kehidupan yang berbeda cahaya. Malam adalah kesukacitaan menanti pagi. Maka, rasakan nikmatnya melewati malam hingga fajar menjelang. Ada debar jantung yang menari-nari mengiringi kokok pejantan.

Nihil rasa itu bagi yang tidur sedari sore. Rembulan tak, mentari tak pula….

Advertisements

Ide Itu Berlimpah

2 Comments

Alam raya ini luar biasa. Ide yang tak pernah habis digali. Keindahan yang tak pernah kering dinikmati. Rumah yang tak pernah sepi ditinggali. Sahabat yang setia memberi energi.

Saya sedang heran dengan sekeliling saya.

Pada teman yang suatu pagi mengeluh, “Saya tidak punya ide.” Lalu ia merangsek di meja pertemuan, dalam pertemuan kecil setiap pagi di kantor, tanpa api sama sekali. Malam seperti telah memadamkannya. Ia tidak tahu apa yang akan ia kerjakan hari itu. Mesti mencari sumber ide dari mana, tak tahu pulalah ia. Sepanjang briefing, ia hanya duduk diam. Matanya menyorot tajam, tapi kosong. Mulutnya tak punya kata-kata. Tangannya dingin seperti habis direndam hujan. Tidak mengangguk, tidak pula duduk tegak, mungkin tulang belakangnya bagai benang basah yang mati-matian diusahakan tegak.

Benarkah ide itu jauh di seberang samudera sana? Yang tak bisa dihadirkan di sini dan kini? Yang tak terjangkau? Yang muskil?

Alam raya tidak pernah pelit. Ia membagi rata cahaya, meski hanya punya satu matahari. Dan cahaya itu menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang yang paham betapa dahsyatnya energi panas yang dipancarkannya. Lalu menjadi sumber listrik, sumber kehangatan, dan sumber semangat. Semua orang berhak disinari matahari, tapi hanya sedikit yang mengunduh sinarnya untuk melipat bayangan kegagalan, kebodohan, dan kemunduran. Yang sedikit itu lalu justru menggelarnya untuk mengerek kreativitas, kecerdasan, dan kemelesatan.

Mengapa bisa datang ke tempat kerja tanpa ide? Tidakkah ketika meninggalkan rumah bertemu dengan sesuatu? Tidakkah sepanjang perjalanan bersliringan dengan berbagai-bagai rupa dan warna? Dan, tidakkah sumber pengetahuan itu terbentang sedemikian rupa sejak dari tutup botol, samak buku, kotoran lalat, pencarian manuskrip, panen budi, hingga dusta para pencoleng? Ketemu orang itu ide. Baca buku itu ide. Bunga di latar rumah itu ide. Jaksa yang pada ngrampok duit negara itu ide. Anggota DPR yang ternyata komplotan maling juga ide. Pengemis yang pura-pura kusta itu ide. Anggaran pendidikan yang baru direalisasikan 20% dari APBN itu ide. Ike, Hanna, dan Gustav, nama temen-teman saya, yang tiba-tiba mengamuk di Amerika dan Kuba, ide pula itu. Hah!

Ide tertelecek di mana-mana. Nggak percaya? Tanya Mas Arief Budiman, seorang penjual ide segar, yang berhasil mengkristalkan ide menjadi portfolio perusahaan periklanan papan atas. Di luar dia, sebelum dia, dan kelak sesudah dia, pasti banyak orang yang juga memanen buah-buah ide yang tak habis diunduh ini.

Ide itu gratis. Orang cerdas memetiknya secara gratis. Sekaligus menanam, supaya orang lain kebagian pula. Alam raya menyediakannya secara melimpah. Panenan banyak, tapi pekerja sedikit. Ide melimpah, tapi kreator sedikit.

Kalau betul-betul kehabisan ide, bukankah ini olok-olok pada kita yang katanya beriman?