Jogja Last Friday Ride #7

Leave a comment

Oleh AA Kunto A

penggowes, bahagia tinggal di Jogja

“Ayo mulih Jogja; pulang Jogja, pulihkan Jogja!”

Hujan membatalkan niatnya. Sore hanya berselimut mendung. Sebentar lagi berbalut malam.

Jogja masih berkabung. Letusan Merapi di akhir Oktober dan awal November lalu masih memaksa banyak saudara asal lereng Merapi untuk tinggal di pengungsian. Mereka belum mengantongi izin pulang.

Namun, Jogja tak pernah mau murung. Selalu ada kegembiraan di kota ini. Gembira, bukan hura-hura. Seperti Jumat, 26 November, sore kemarin. Ratusan pesepeda memadati halaman timur Stadion Kridosono, Kotabaru. Kami berhimpun dalam “Jogja Last Friday Ride #7”. Ya, setiap Jumat terakhir kami selalu merayakan Jogja dengan bersepeda keliling Jogja. Hmmm, terima kasih kepada teman-teman pencetus gagasan brilian ini. Tak terasa, sore kemarin sudah putaran ke tujuh ya.

Siapa pun boleh ikut JLFR. Tidak perlu mendaftar, datang saja langsung dan nimbrung. Yang penting naik sepeda, apa pun jenis sepedanya, berapa pun harga sepedanya. Pinjam juga boleh, tidak tabu. Bonceng juga boleh asal ada yang mau. Khusus dari rumah boleh, langsung dari kampus atau kantor juga boleh. Ah, adanya cuma boleh kok.

Rute kali ini ke selatan, melintasi rel Stasiun Lempuyangan. Tampak di dalam stasiun, rangkaian “Argo Progo” –sebutan jenaka untuk kereta kelas ekonomi tujuan Pasar Senen Jakarta itu, siap berangkat. Kami melintasi Pasar Lempuyangan, sebuah pasar tradisional terbersih di Jogja, dan terus melaju ke selatan ke arah Jl Gadjah Mada.

Di depan rumah Garin Nugroho, yang hanya ramai tatkala dipakai untuk sekretariat JAF –festival film, saya bergumam, mbok ya sutradara Opera Jawa itu bikin film tentang Sepeda Jawa. Atau malah temen-temen penggowes sendiri yang mau bikin?

Sedikit ke selatan, kami berhenti di lampu merah Permata. Di samping kiri kami berdiri “peti mati raksasa” Bioskop Permata. Sudah beberapa bulan bioskop itu mati tanpa ada yang melayat –hanya menguburnya dalam ingatan. Film-film lokal dan saru tak bisa lagi ditonton di sana. Ya sudah, toh masih ada Gudeg Permata, yang masih buka beratap tenda di emperan bioskop. Semoga Nugie atau Katon Bagaskara yang gemar makan di sana mau pula bikin lagu “sub-tema” Yogyakarta untuk mengenang permata Jogja yang telah kalah pamor dari jaringan bioskop milik pemodal besar.  Semoga pula Gudeg Permata tak kukut digempur restoran cepat saji yang makin menjamur di kota kuliner ini.

Berbelok ke barat, kami melompati Jembatan Sayidan yang membentang di atas Kali Code. Melongok ke bawah, saya mendapati rejeki Merapi telah sampai di sana. Pasir, lahar dingin. Kali penuh, semoga tidak membludak menggenangi rumah warga.

Sampai di perempatan Gondomanan, yang petugas lalu lintasnya dikenal sangat doyan mengganyang pelanggar rambu-rambu, kami berbelok ke selatan, menyusuri Jalan Katamso. Ada beberapa toko sepeda di ruas jalan tersebut. Ada satu tukang cukur tradisional di persimpangan Ibu Ruswo. Ada juga Bakmi Jowo Pak Rebo –kakak Mbah Mo– yang hanya menyediakan mi kuning. Toko peti juga berderet; boleh pilih kalau sudah bosan hidup.

Sesampai di Pojok Beteng Wetan, kami terus mengawil sepeda ke barat, menuju Pojok Beten Kulon, lalu ke utara mampir di Stasiun Ngabean –yang sudah modar karena penguasa negeri ini lebih mengutamakan industrialisasi kendaraan pribadi daripada merawat jalur angkutan massal seperti kereta api atau trem, yang sekarang berubah menjadi tempat parkir bis wisata –yang juga tidak laku karena bis wisata lebih suka parkir di alun-alun utara.

Berbelok ke timur menyusuri Jl KHA Dahlan –tokoh yang 100 tahun lalu mendirikan Muhammadiyah, kami mengakhiri penggowesan di Titik Nol Jogja. (Karena terpecah lampu merah, sebagian peserta berbelok ke Jalan Bayangkara, melewati Pasar Kembang, dan menuju Titik Nol Kilometer dari arah Malioboro –dan ini rute yang benar.) Titik ini berada di depan Istana Negara Gedung Agung, tempat SBY berbasa-basi berkantor di Jogja kala Merapi meletus tempo hari –dan buru-buru kembali ke Jakarta menjamu Barack Obama. Titik ini berada di depan Kantor Pos Besar –yang kehilangan kebesarannya karena mati kutu dilibas teknologi internet dan industri kargo modern. Titik ini berada di depan Monumen SO 1 Maret, yang masih dipersengketakan siapa penggagas sejatinya.

Titik Nol Jogja ini penting untuk diketahui. Jalan-jalan di Jogja, termasuk Barak Pengungsian Hargobinangun Pakem yang terletak di Jalan Kaliurang Km 20, memulai perhitungannya dari sini. Bukan dari Tugu Jogja; juga beda dengan jarak “20 km dari puncak Merapi”. Banyak yang salah mengerti, termasuk reporter sebuah stasiun televisi yang secara pandir menyebut awan panas telah meluncur hingga 20 km –yang mengakibatkan kepanikan berjamaah warga lereng Merapi. Kesalahan yang berbuah cercaan.

JLFR #7 dipungkasi dengan atraksi dari teman-teman. Bebas. Ada yang tampil berjumpalitan dengan bersepeda, ada yang melompati sepeda tidur dengan menaiki sepeda, ada yang unjuk kebolehan berlama-lama mengendalikan sepeda berhenti.

Seorang teman penyuka rute-rute tanjakan berujar, meski tak membuat bekeringat, ajang seperti ini penting untuk “srawung”, bergaul. Sepakat, sesama penggowes sepeda, meski beda minat, perlu saling menyapa, saling mendukung.

Dan memang guyub suasananya. Sederhana, meriah.

Anda pengen bersepeda? Mari datang ke Jogja. Jogja aman dan nyaman dikunjungi. Jogja asyik buat sepedaan. Jogja asyik untuk tinggal dan bekerja.

Datanglah ke Jogja. Gek ndang…

Jogja, 27 November 2010,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Advertisements

Gowes Merdeka: Menaklukkan Tanjakan Terakhir

1 Comment

Pengalaman mengalahkan bayangan. Demikian kata-kata bisa diracik.

Semula, sebagian teman peserta Gowes Merdeka Jogja-Borobudur berniat untuk cukup memancal sepeda sampai di Ancol. Separo jalan. Dalam bayangan mereka, Borobudur teramatlah jauh. Sedari awal, mereka sudah yakin tidak akan sanggup menempuh. “Bolehkah kami ikut jika tidak sampai tujuan?” pinta mereka saat menyodorkan pendaftaran nir formulir.

Tentu saja boleh. Yang tidak boleh, seperti yang saya tulis di pengumuman fesbuk, adalah berhenti di tengah jalan. Kalau mau berhenti harus minggir. Jika di tengah, bisa tertabrak!

Maka, berbondong-bondonglah teman-teman itu ke Bundaran UGM, pagi 17 Agustus 2010, petang sebelum matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 05.00 wib ketika satu per satu mereka menampakkan hidung.

Sudah ada Bang Ugartua Rumahorbo saat saya tiba. Setelan kostum merah-merah khas atlet sepeda lintas nusantara menandai keseriusan abang yang hobi sepedaan ke kantor ini. Masih gelap, dari kejauhan saya tak mengenalinya. Beda sekali penampilannya dengan keseharian sebagai eksekutif Penerbit Erlangga yang termasyur itu.

Dari ujung telpon, Danu Primanto memberi kabar sedang dalam perjalanan setelah memastikan mendapatkan pinjaman sepeda. Entah teman yang mana yang ia perdaya. Yang terang, fotografer situs berita Jogja http://www.tourjogja.com ini datang secara sumringah, dengan wajah sendunya yang senantiasa tampak teduh.

Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ngebut dari arah selatan. “Saya khawatir ditinggal,” bisiknya mendapati jumlah sepeda yang tidak sebanyak yang ia bayangkan. Ia pikir ini event akbar yang bakal diikuti ratusan atau ribuan peserta layaknya acara sepeda gembira yang kerap digelar di Jogja.

Dari arah punggung, turun dari lereng Merapi, dengan satu-satunya sepeda lipat yang ikut, datang Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku Pak Beye dan Istananya (Penerbit Kompas, 2010). Berkaos “45 Tahun Kompas Merajut Nusantara”, ia seperti hendak melanjutkan keikutsertaan dalam gowes Surabaya-Jakarta tempo hari yang sempat diikutinya di sepenggal rute saat peserta melintas di Jogja.

Berturut-turut teman-teman lain datang. Chandra Sena, Laga, Haris, Sugeng, Wompy, dan Bayu, dari Komunitas Gowes Koprol Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ada yang penuh semangat sejak beberapa hari lalu, ada yang baru semalam memutuskan ikut gara-gara dibujuk kiri-kanan.

Ada kejutan. Dua teman cewek ikut serta pula. Kejutannya bukan karena mereka cewek. Bukan pula karena mereka belum pernah bersepeda jauh. Lalu?

Mereka datang tergopoh-gopoh. Dari arah timur. Saya pikir, mereka sedang berpacu dengan matahari –dan mereka menang. Masih gelap saat mereka datang. Saya tidak lekas menyapa karena mereka, Anka dan Yuyut, langsung duduk di bibir boulevard. Anka menyelonjorkan kedua kakinya. Ia menambal kedua lututnya dengan kapas. Ups, ternyata habis terjatuh. “Tadi waktu lewat Jalan Solo, ada orang gila nglempar batu ke kami. Kami jatuh. Yuyut tak luka. Orang gila itu lari mendekat, kami pun lebih dulu lari,” ungkap Anka tanpa meminta iba. Hebat, mereka memutuskan untuk maju terus!

Alhasil, kami pun bersiap. 13 orang bergabung. Beberapa teman lain urung karena berbagai alasan. Ada yang mendadak mendapat tugas kantor. Ada yang lembur mengerjakan tugas ibunya. Ada yang kakinya pegal duluan. Ada yang tak memberi kabar.

Karena belum semua saling mengenal, kami berdiri melingkar. Saling mengenalkan diri sambil menatap wajah-wajah yang belum terbasuh sinar mentari. Pemimpin perjalanan dan penyapu di buntut rombongan pun kami tentukan.

Berangkat!

Kami memasuki kompleks Universitas Gadjah Mada. Terus ke utara, melewati samping Grha Sabha Pramana, lalu berfoto bersama di halaman Balairung. Arsitek kantor pusat UGM tersebut adalah Ir Soekarno, yang memilih untuk meninggalkan karir keinsinyurannya –dan ini tidak pernah dipertanyakan di pelajaran sejarah sekolah kita– untuk  menjadi aktivis kemerdekaan republik, menjadi presiden pertama republik, dan mati sebagai orang buangan presiden kedua republik.

Usai menjunjung sepeda melompati celah pintu pejalan kaki di pagar Balairung, kami menuju Selokan Mataram. Susur selokan pun kami mulai. Ke arah barat. Matahari sudah semburat. Melewati jembatan baru yang melangkahi Kali Code, kami terus menggowes santai ke barat, menyeberangi Jalan Magelang dan Jalan Lingkar Barat.

Begitu lepas dari sana, pemandangan alam mulai dominan menghampiri mata kami. Tidak lagi permukiman yang kami susuri, melainkan bentangan sawah yang menghijau. Air selokan yang coklat pekat, yang mengalir melawan arah kami, seperti mengiringi deras aliran darah di tubuh kami. Penuh semangat!

Di simpang Jalan Cebongan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel sepeda motor yang baru buka seintip pintu. Kami butuh pinjam kunci pas untuk membetulkan roda sepeda Yuyut yang nggesut gara-gara jatuh tadi. Beres!

Jalan beraspal di pinggir Selokan Mataram mulai naik turun sejak itu. Permukaannya mengikuti kontur tanah di sekitar aliran kali irigasi buatan zaman Jepang itu. Sedikit tanjakan memaksa kami menekan pedal lebih tegas. Sedikit turunan memanjakan kami pada udara sangat segar yang boleh kami hirup.

Sampai di ruas Seyegan, sekitar pukul 06.30 wib, kami mulai beriringan dengan adik-adik SMP yang hendak berangkat ke sekolah. Ini tanggal merah. Mereka masuk untuk ikut upacara bendera tujuh belasan. Bangga melihat mereka mau naik sepeda. Hare geneee masih ada yang mau ke sekolah keringetan?

Karena sudah hobi bersepeda, Mas Inu, Bang Ugar, dan Mas Bambang, melaju cepat di depan.  Sedang teman-teman yang lain, karena tidak pernah bersepeda, atau tidak terbiasa melaju di jalan raya (on road), tercecer di belakang. Alhasil, pada titik-titik tertentu kami saling menunggu.

Weh, pit-e antik… pit-e antik,” teriak anak-anak SMP 2 Tempel saat menggumuni sepeda lipat Mas Wisnu, saat kami berhenti di persimpangan selokan dengan jalan raya penghubung Tempel-Klangon. Mungkin ana-anak itu membatin, ada orang sudah gede kok masih mainan sepeda anak-anak.

Usai melewati jalan kampung, karena jalan tepian selokan sudah “habis” kami memasuki kawasan Ancol. Di sini, di Kali Progo ini, kepala Selokan Mataram terletak, sedang ujung ekornya ada Sungai Opak sana, sejengkal dari Candi Prambanan di timur sana.

Semula, sebagian teman hendak berbalik kanan di sini. Namun, pengalaman asyik sepanjang jalan tadi, plus komporan dari kami, mendidihkan adrenalin mereka untuk melanjutkan perjalanan. “Itu tanjakan terakhir kita,” tunjuk saya pada ruas jalan terjal di seberang sungai, menjawab keingintahuan seorang teman yang hendak meyakinkan niatnya. “Tanggung, masa udah sampai sini nggak sekalian ke Borobudur,” teman yang lain tak kalah garang memanas-manasi.

Akhirnya, ditambah bergabungnya dua teman, Andon dan Dedy Kristanto, yang menyusul, tak satu pun penggowes mengayuh mundur pedalnya. Semua maju, tak terkecuali Anka yang lecet lututnya merembeskan darah. Mas Bambang yang puasa saja bersemangat, masa yang lain loyo.

Sepenggal jalan bebatuan menanjak segera kami tempuh untuk meninggalkan Kali Progo ini. Ini tanjakan terjal pertama yang kami hadapi sejak 25 km pertama. Sebagian besar kami terpaksa memperlakukan sepeda kami layaknya sapi yang hendak disembelih. Menuntun sepeda.

Di ujung tanjakan, kelezatan lintasan halus menyambut kami. Dalam nafas yang tersengal-sengal usai menuntun, kembali saya yakinkan teman-teman bahwa di depan sana datar-datar saja. Hanya ada sedikit tanjakan. Bersemangatlah mereka melaju, melewati plang petunjuk arah tempat ziarah “Sendang Sono”.

Tahun lalu, di tanggal yang sama, saya bersepeda sendirian ke kompleks peziarahan Maria itu. Juga melewati sebagian penggal Selokan Mataram. Kali ini, melalui ajakan “iseng-iseng berhadiah” di fesbuk, saya mengajak teman-teman bergabung. Dan ternyata banyak yang berminat.

Ternyata, tanjakan terjal dan turunan curam kembali menyambut kami. Sebagian besar peserta terpaksa kembali bergelayut di samping sepeda. Gigi pedal tak ada lagi yang mau menolong. Gir paling enteng pun sudah putus asa.

Gerutu mulai terlontar. Gerutu yang justru memacu hasrat untuk terus melaju. “Kunto kurang ajar. Katanya tadi tanjakan terakhir. Nggak tahunya masih ada tanjakan lagi,” kami tertawa lepas di sebuah warung kecil di seberang Pasar Japuan-Tanjung Magelang. Jarak peserta terdepan dan terbelakang begitu jauh. Maka kami putuskan beristirahat di sana. Hanya Mas Bambang yang puasa, dan tetap puasa hingga kembali pulang nanti. Kami makan dan minum di warung soto milik ibu berkerudung itu. Ber-14 cuma habis Rp 50.000. Bang Ugar yang traktir.

Rambu-rambu di tengah jalan itu melegakan kami. “Borobudur 7 km”. Saya yakinkan teman-teman jika trek terakhir ini datar-datar saja. Tak ada lagi tanjakan. Nyatanya, sampai di Borobudur, tanjakan terakhir itu tak pernah ada. Walau kemiringannya kecil, tetap saja ada tanjakan.

Namun, syukurlah, walau tak pernah mendapati tanjakan terakhir, tak satu pun peserta menyerah. Tepat pukul 10.00 wib, kami tiba di pintu masuk Borobudur. Sesuai target. Dan untuk turut merayakan hari jadi Republik Indonesia, kami berfoto bersama sembari mengepalkan tangan kiri di atas-depan kepala. Tanpa kibaran bendera merah putih, kecuali bendera milik pengelola. Juga, tanpa sedikit pun emblem atau embel-embel keindonesiaan lain. Kami bercelana pendek, berkaos oblong, jauh dari layak jika harus upacara bendera.

Kelar berfoto di depan papan nama Taman Wisata Candi Borobudur, kami menyusuri jalan kampung di samping kompleks candi Buddha tinggalan Dinasti Syailendra abad ke-8-9 ini. Kami tidak berfoto di dalam kompleks, mendekati candi, karena oleh petugas kami dilarang masuk mengendarai sepeda. Ironis memang, di negara agraris ini, pola hidup orang-orang agraris justru disingkirkan. Tentang pelarangan sepeda ini, silakan baca tulisan saya di sini.

Ya, sudah. Yang penting kami sudah mencapai tujuan. Setelah cukup berpantas muka dengan jepretan kamera, kami pun bergegas kembali ke Jogja. Mampir Candi Mendut. Di siang yang sangat terik. Lewat rute yang minim “tanjakan terakhir”.

Yogyakarta, 18 Agustus 2010

Salam Gowes Merdeka,

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Gowes Merdeka Jogja-Borobudur

1 Comment

Gratis. Siapa pun boleh bergabung

Selasa, 17 Agustus 2010

Berangkat: Bundaran UGM, pukul 05.00 wib

Tujuan: Candi Borobudur, Magelang

—————————————————–

Anugerah ini bernama kemerdekaan. Indonesia menjadi republik. Hari jadinya kita kenang untuk ke-65 kalinya pada 17 Agustus 2010. Selasa Pahing, hari ke-7 puasa bagi saudara-saudara Muslim.

Rasanya, tak salah jika kemerdekaan ini kita rayakan. Tidak perlu bermewah-mewah, toh harga sembako juga sedang mahal, harga LPG segera dikatrol. Kita tetap bisa merdeka, meski secara ekonomi kita sengsara. Hati kita tetap bisa merdeka, walau …rasa sedang terhimpit. Pikiran kita pun tetap bisa bebas pasung, walau otak kemrungsung.

Bersepeda bisa jadi pilihan. Tanpa perlu beli bensin, cukup seliter air mineral. Kita minum di balik rimbun pohon, jauh dari penglihatan saudara-saudara yang sedang puasa. Kalau bawa sangu dari rumah, mungkin sambel tempe, atau mangut, bolehlah disantap bersama. Kemerdekaan bisa kita maknai sebagai berbagi rejeki.

Puasa juga boleh ikut. Siapa tahu sampeyan justru beroleh barokah lewat gerak raga sambil menahan hawa wadag. Berbagi sedekah? Tentu jauh lebih baik. Kita akan melewati banyak permukiman penduduk, menjumpai banyak petani, juga adik-adik yang mungkin di antaranya butuh petunjuk untuk menggapai mimpi layaknya Andrea Hirata.

Perjalanan kita ke Borobudur. Bukan karya Indonesia merdeka, namun kekayaan Indonesia merdeka. Patut kita mensyukurinya.

Tak jauh jarak Borobudur dari Jogja. Hanya sekira 40 km. Dengan gowesan santai, 2 jam cukup untuk mencapai Candi Buddha yang dibangun Dinasti Syailendra pada abad ke-8 sampai 9 Masehi tersebut.

Berangkat dari Bundaran UGM, supaya segala penjuru bisa menjangkaunya, pada pagi 17 Agustus pukul 05.00 wib, sebelum matahari terbit, kita akan susuri Selokan Mataram, setelah berpamitan pada Balairung UGM pahatan proklamator Soekarno.

Sampai dengan Gamping, kita masih akan menyelinap di tengah permukiman padat penduduk. Namun, sesudahnya, kita akan menari di tengah persawahan, bersama burung-burung pagi, bersama matahari yang menghangati punggung kita.

Selokan Mataram simbol kemakmuran. Air yang menyatukan Progo dan Opak itu simbol kedaulatan Jogja menghadapi penjajah Jepang. Supaya rakyat tidak dicokok menjadi romusha, HB IX meminta “proyek” pada saudara tua. Alhasil, rakyat jadi pekerja saluran air, yang kelak hasil kerjanya mereka nikmati juga. Air berlimpah, sawah-sawah subur, anak-anak lemu-lemu tak kurang pangan. Kita akan menyerap energi itu saat melintasinya.

Ancol, di penghujung Selokan Mataram, menyuguhkan potret keadilan. Air Progo dibendung, dibagi-bagi, supaya seluruh tanah terairi, supaya seluruh jiwa tersirami. Padi yang menguning, pohon-pohon yang menghijau, dan punggung-punggung petani yang legam itu, adalah buah dari pemimpin yang tak serakah.

Sampai di sana, perjalanan relatif datar. Tak ada jalan naik-turun yang curam.

Naik sedikit, jika ingin mendaki lebih tinggi, boleh singgah di Sendangsono. Di sana berdiri patung Maria, ibu Yesus yang anaknya disalibkan untuk kemerdekaan umat manusia, tempat bersimpuh para peziarah yang ingin melepaskan diri dari beban hidup. Kepada Maria, para peziarah itu mohon pertolongan.

Sepuluh kilometer dari sana, menyusuri jalan raya yang sangat nyaman, dan setelah melewati Candi Mendut, sampailah kita di Borobudur. Di sana bersamadi Sang Buddha, Sang Gautama yang memilih keluar dari tembok istana untuk memerdekakan umat manusia.

Sungguh tepat. Semua bertema kemerdekaan. Maka, marilah kita merayakannya. Merdeka!

Tidak dipungut biaya sepeser pun. Silakan membiayai diri sendiri, syukur berbagi dengan teman. Segala risiko senang, gembira, dan bersuka cita, silakan ditanggung sendiri, syukur berbagi dengan saudara. Membawa makanan besar atau kecil, dan minuman panas-dingin, disilakan, untuk disantap sepantasnya.

Berapa pun yang ikut, sepeda akan tetap dipancal. Siapa pun yang ikut, dilarang berhenti di tengah jalan. Menepilah jika berhenti. Semua boleh pulang ke rumah masih-masing, sampai atau tidak di tujuan. Merdeka-merdeka saja.

Boleh mengajak siapa pun, sebagaimana boleh melarang diri sendiri untuk ikut. Ukur sendiri kekuatan fisik dan mental. Syukur ada teman dokter atau para medis yang bergabung. Kalau Anda tidak ikut, Anda pasti akan iri. Tapi kalau Anda ikut, Anda wajib iri dan anan untuk mengayuh pedal.

Salam merdeka!
AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com, http://www.aakuntoa.wordpress.com]