Perkara Jawa-Cina

4 Comments

jawa-cina, karya agung

Soal identitas Jawa-Cina kembali diperkarakan Donny Verdian di blog-nya. Entah gerangan apa yang menyulutnya mendudah bincangan lawas ini. Saya tak menemukan pemantik selain bahwa tulisan tersebut dihidangkan untuk bingkisan ulang tahun ke-63 almamaternya, SMA Kolese de Britto, yang juga almamater saya, yang belakangan sedang berkubang dalam sekam pertikaian.

saya bocah gunung, melarat pula

Saya usai membaca kembali Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, 12 tahun sepeninggal penulisnya, ketika topik renta ini berkelebat di layar laptop. Pengakuan Pariyem bertutur tentang “dunia batin seorang wanita Jawa” sebagaimana termaktub di sub judul buku legendaris yang kembali diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini. Prosa lirik ini pertama kali diterbitkan tahun 1981 oleh Penerbit Sinar Harapan, dan pertama kali saya baca sekira tahun 1998, saat-saat kuliah sosiologi di kampus Bulaksumur lebih banyak saya tinggalkan untuk ikut-ikutan demonstrasi sana-sini, usai wartawan Kompas Hariadi Saptono memperkenalkan saya pada sastrawan kelahiran Kadisobo yang setahun sesudahnya mati itu—dan saya belum jadi mengenalnya.

More

Advertisements

Tahun Baru, Tugas Baru

Leave a comment

Tantangan baru disodorkan kepada saya. Oleh perusahaan, mulai hari ini, saya ditugasi merintis departemen baru, yakni penelitian dan pengembangan. Selalu, dengan senang hati tugas baru seperti ini saya terima. Saya percaya, pasti ada banyak pelajaran berharga di ladang baru. Apa itu? Itulah yang harus saya cari dan temukan.

Yang lucu, hampir bersamaan dengan perutusan ini, saya juga ketiban sampur menjadi tim litbang pada kepengurusan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.ngg

Dua-duanya baru, baru merintis, bukan meneruskan. Padahal, saya sendiri sama sekali tidak memiliki pengalaman di bidang ini. Terbayang untuk berkecimpung di sini saja tidak. Malah, sempat terlintas untuk menghindari pekerjaan macam begini.

Namun, ketika tantangan ini hadir di depan, saya tidak mau memilih, apalagi mengelak. Sikap saya langsung bulat: ambil! Tidak punya pengalaman? Ah, jangan kayak Soeharto, “Yang layak menjadi presiden hanyalah dia yang punya pengalaman menjadi presiden.” Buktinya, presiden-presiden di dunia yang nol pengalaman pun banyak yang berhasil. Bilakah saya?

Tidak tahu tugasnya apa? Ini memang repot. Tugas baru ini tanpa disertai deskripsi kerja yang jelas dan rinci. Baiklah, saya balik cara kerjanya. Saya terima tugas ini, dan saya susun deskripsi kerja saya sendiri untuk kemudian saya mintakan persetujuan. Untuk ini, saya bertanya ke sana kemari, ke teman-teman yang bekerja di libtang berbagai institusi. Untunglah, banyak teman baik yang membantu saya. Maklum, saya tidak menemukan cukup referensi yang memadai dan aplikatif tentang bidang ini.

Aha, bukankah nanti seperti itu pekerjaan saya? Mencari dan meneliti? Dari tidak tahu, mencari tahu, kemudian tahu? Ya, terbayang sudah cara kerjanya. Pakai saja cara kerja wartawan yang pernah saya gumuli. Sembari terus mencari cara kerja yang paling tangkas.

Jogja, 1 Januari 2010

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]

Barack Obama, Presiden Amerika Serikat ke-44

Leave a comment

Bayangan saya jadi kenyataan. Pasti ini juga dibayangkan banyak orang di dunia. Hari ini Obama jadi presiden Amerika Serikat ke-44. Tengah malam nanti waktu Indonesia Barat, presiden kulit putih pertama negara adidaya itu akan diambil sumpahnya.

Posting saya 3 September tahun lalu kini hadir di depan mata. Ada harapan. Harapan tentang perubahan. Menjadi lebih baik. Kita tunggu isi pidato pertamanya nanti.

Yang terang, hiruk-pikuk media massa hari-hari belakangan begitu gemuruh. Sepertinya, dunia menanti saat-saat bersejarah ini. Kenya, negeri miskin tempat keluarga Obama berasal, tempat ayah Obama menjadi ahli ekonomi, diberitakan turut pula menyiapkan pesta.

Media massa Indonesia pun tak kalah langkah. Sebagian besar mengambil angle pemberitaan Obama dari aspek kesaksian saudara Obama di Indonesia. Juga dari gurunya sewaktu sekolah di Menteng. Juga dari teman-teman semasa kecilnya.

Maka, semua terasa dekat. Semua merasa memiliki Obama, memiliki peristiwa bersejarah ini. Lalu, semua andil bagian dalam rasa syukur ini. Akankah “rasa” ini kemudian akan membawa perubahan dalam semangat AS merangkul dunia? Barangkali terlalu berlebih, tetapi boleh saja sebagai harapan. Dengan kedekatan rasa memiliki kepada Obama, dan kepada Amerika Serikat, maka kelak jika ada sesuatu yang mengganjal dalam keputusan-keputusan AS, teguran pun akan terlayangkan dengan lebih lembut. Komunikasi yang terbangun dalam relasi kedekatan emosional diharapkan lebih kena sasaran. Itu harapan.

Harapan pantas diletakkan. Bahwa nanti kenyataan belum tentu sesuai dengan kenyataan, itu aspek lain. Yang terang, tak ada kenyataan yang lebih baik tanpa diawali dengan harapan yang baik. Kita berharap.

Resolusi: Memilih Mendalam

3 Comments

Untuk Ovik, istriku: cintamu api hidupku

Dua hari lalu ulang tahun istimewa saya. Ulang tahun pertama sejak kami menikah. Ulang tahun pertama sejak menginjak usia kepala tiga. Paruh waktu yang membawa saya kepada permenungan mendalam: bagaimana ke depan.

Hidup saya menggendong beberapa predikat: suami, wartawan, penulis, editor, dan karyawan sebuah perusahaan.

Sebagai karyawan, karir saya menaik. Untuk saya, puncak karir sebagai karyawan sudah saya capai dalam usia muda. Masih tersedia banyak jenjang untuk meniti karir ke atas, sampai ke puncak berikutnya. Asal saya bekerja secara benar, berprestasi, target terpenuhi, dan perusahaan menjadi maju, eskalator kenaikan jabatan pasti saya genggam.

Sebagai editor, wartawan, dan penulis, karir saya mendalam. Bukan menaik. Ukuran keberhasilan profesi tersebut bukan pada jabatan, tetapi pada karya. Bobot karya akan menentukan seberapa dalam karir kepenulisan saya. Semakin berisi, semakin saya mendapat tempat sebagai penulis. Popularitas, keterkenalan, hanya efek belaka, bukan tujuan.

Demikian juga sebagai suami. Meski ini bukan profesi, bukan pekerjaan, namun status ini pun menyediakan jenjang karir. Juga bukan menaik, melainkan mendalam. Keberhasilan menjadi suami, sejauh referensi yang saya baca, juga pembacaan atas pengalaman banyak orang yang sudah menikah, terletak pada bagaimana ia mampu masuk ke dalam relung ruang keluarga secara total. Semakin hari semakin dalam, semakin rekat.

Saya merenungi benar panggilan hidup saya ini. Di saat yang tepat, di waktu yang kuat. Supaya hidup saya makin berarti, makin berguna, dan makin pada tempat-Nya.

Jika memilih ke atas, saya kehilangan kesempatan untuk menambah bobot hidup. Jika memilih ke dalam, saya kehilangan kesempatan untuk mengibarkan harum wangi. Jika saya tidak memilih keduanya, saya kehilangan kesempatan untuk menjawab panggilan-Nya.

Saya bertanya pada saya.

Dan jelas sekali suara hati itu. Mendalam, bukan menaik. Ke dalam, bukan ke atas. Meresap, bukan mencuat. Sebab, di sana ada mata air kedamaian, tempat benih-benih kebahagiaan bersemai.

Saya mau di sana. Di kedalaman itu. Sejak sekarang.

Pisowanan Agung yang Tak Agung

4 Comments

Saya ada di sana. Tapi, kali ini, saya merasa tidak menjadi warga Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perkara mau maju jadi presiden, itu hak siapa saja, termasuk Sultan HB X sekalipun. Silakan.

Namun, menggunakan acara kebesaran budaya hanya untuk menyatakan kesiapan menuju RI-1, menurut saya, maaf, kok tidak pada tempatnya. Seperti sore ini tadi.

Di hadapan ribuan masyarakat, dari berbagai daerah, yang berkumpul di Alun-Alun Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pada neton-nya Selasa Wage, Sultan mendeklamasikan sikap,

Untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakan siap maju menjadi Presiden 2009.

Hanya itu. Tidak lebih. Tidak ada pernyataan tentang kebangsaan, tentang keindonesiaan, alih-alih keistimewaan Jogja.

Sangat berbeda dengan Pisowanan Agung 20 Mei 1998. Saat itu, Sultan HB X didampingi Paku Alam VII (alm), secara lantang mengajak rakyat mendukung gerakan reformasi. Bahwa sehari kemudian Soeharto terjungkal dari kursi presiden, itu efek saja. Reformasi bertujuan lebih jauh dan luhur dari itu. Seruan Sultan pun jauh ke depan, mendukung gerakan reformasi: memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pada Pisowanan Agung 28 Oktober 2008 ini? Entah. Saya tak bisa memahami raja saya.

Sultan sudah mengikrarkan tekadnya. Saya menghormati. Siapa to saya ini? Namun, perkara memilih atau tidak, saya punya sikap: tidak! Jabatan presiden terlalu sempit untuk seorang pengageng kabudayan Jawi. Maaf.

Bom Bali

1 Comment

Kota Atambua sangat sepi pagi itu. Tidak banyak orang lalu-lalang di depan kantor JRS, tempat saya menginap.

Saya baru tiba di kota itu setelah delapan jam melakukan perjalanan darat dari Kupang. Berita bom yang meledak di Legian, Bali saya dapatkan saat mengakses internet menggunakan jaringan telepon. Pagi yang mengejutkan.

Sesudah itu, perkembangan berita tidak bisa saya pantau karena minimnya sumber informasi. Satu-satunya siaran televisi yang bisa ditonton di sana hanya TVRI. Jika beruntung dapat bocoran RCTI. Koran daerah Pos Kupang baru sampai di Kabupaten Belu tersebut keesokan harinya.

Di luar faktor itu, tugas peliputan di kamp-kamp pengungsian memaksa saya berkonsentrasi pada korban “bom politik referendum 30 Agustus 1999”. Menjelajah kamp di seputar Atambua dan Betun saya teruskan. Juga menyeberang ke Timor Leste.

Baru sebulan sesudah tragedi kemanusiaan, yang disebut-sebut terbesar kedua setelah Menara WTC, itu saya terbang ke Bali dari Kupang. Hotel White Rose, 100 meter dari Ground Zero menyediakan penginapan gratis kepada wartawan kala itu. Puluhan teman juru berita pun berkumpul di sana. Untuk keluar masuk, dijebolkan pagar belakang hotel. Pintu depan, persis di samping Bank Panin, di seberang Sari Club, masih terhambat puing-puing.

Getar-getar kengerian sangat terasa kala itu. Bali seperti mati tanpa upacara ngaben, tanpa upacara kehormatan. Bali jadi sia-sia. Ketatnya penjagaan terasa di mana-mana. Sontak, Bali berubah jadi kota dewa curiga. Kuta sepi. Kuta Square, yang kelak juga diledakkan bom bersamaan dengan bom Jimbaran, seketika sepi transaksi.

Suasana sepi terus bertahan hingga ketika empat tahun kemudian saya ke Bali. Saya menuliskannya di blog terdahulu:

Bali Kosong

February 13th, 2006 by kunto

Dalam bahasa Jawa, bali itu mulih, kembali. Maka, bali kosong berarti kembali kosong. Pulang kepada kehampaan.

Seperti itu pulalah yang terjadi pada Bali, pulau dewata pujaan manusia sepanjang bangsa. Kemarin, saya ke sana setelah terakhir Desember 2004. Bandara Ngurah Rai sepi. Tidak seperti lazimnya, tak ada antrian untuk sekadar mengambil bagasi. Parkiran nyaris kosong, padahal biasanya pukul sembilan pagi padat menyumpat.

By Pass menuju Nusa Dua ramai, tapi ternyata tidak di Nusa Dua. Pantai kosong, hanya ditunggu pasir yang terdesak abrasi. Hotel Westin lengang, bukan karena sedang Nyepi. Resort di tepi pantai itu sepi pengunjung. Menghadap ke timur, pantai itu seperti mengharap matahari yang tiada kunjung bersinar.

Tari kecak yang dimainkan 50 Bli, dipimpin Sang Hanoman, tak juga menurunkan ilmu pengetahuan ke akal budi mereka. Cak… cak… cak…cakcak…ccccakcccak… Langgam itu seperti hanya berdecak kehilangan roh. Kain poleng yang membalut enam pohon kelapa seperti hilang daya, tak sanggup tepis sesat. Hanya tepuk tangan ala kadarnya yang menggemuruhi pamungkasnya sendratari nan agung itu. Sesudah menari, detak gemercak Bli-Bli muda itu kembali kepada kehampaan.

Ini pasti derita berkepanjangan bagi orang Bali. Tak ada lagi turis berkerumun di seputar pura. Mereka berdoa sendiri, dalam hening yang malam. Tetamu tak lagi mampir di kios souvenir, sementara sesaji terus mengepul. Mantra memohon ampun, sembayang pengharapan itu, kini seolah tak ampuh lagi. Barangkali karena terlalu lama terbeli oleh industri wisata…

Bali sedang kembali kepada kekosongan yang sebenarnya. Bali sedang sendiri. Bali sedang tiada…

Bunyi tulisan kaos bikinan Pakuningratan, “Bali Wae Nang Djogdja.” Ya, mulih wae nang yoja…

Kalau ada perkecualian, itu di Seminyak. Kawasan bar dan diskotek itu tetap ingar-bingar hingga pagi. Setiap malam, usai berburu berita, kami selalu beringsut ke Seminyak. Minum, makan, berjoget. Hanya saja, jogetannya kaku. Minumnya pun ala kadar saja. Makan tanpa nafsu. Ada kegaguan di balik dentuman musik yang disetel keras-keras. Jika kami, para wartawan, menghabiskan waktu di sana, itu lebih merupakan cara untuk melepaskan penat yang tak tertahankan. Penat dalam menguraikan persoalan terorisme tersebut. Penat dalam berempati dengan korban yang kami wawancarai.

Saya, contohnya, sampai sekarang selalu ingat pada sosok Sony. Bapak dua anak ini bekerja di Hotel White Rose. Malam itu, ia meminta istrinya menjemput usai bekerja. Dan istrinya berangkat dari rumah di waktu-waktu seputar kejadian itu. Hilang ia. Sampai sekarang….

Bali enam tahun lalu…

Menjadi Warga Jogja

2 Comments

Sebagai warga Jogja, saya sedang tertegun menatap diri. Menata hati, merapikan pikiran. Dua hal mengganjal. Satu, RUU Keistimewaan tidak segera disahkan DPR. Salah satu akibatnya, dua, kelanjutan pemerintahan provinsi ini yang akan berakhir 9 Oktober nanti juga terkatung-katung.

Itu soal teknis saja. Hanya butuh ketuk palu untuk menyelesaikannya. Palu politis.

Yang bikin saya tertegun adalah perlakuan pemerintah pusat atas provinsi yang kerajaan ini. Bagaimana saya mesti merespons ya?

Marah-marah? Tiada guna.

Ngambek? Ups, kayak bocah cilik aja.

Diam? Maaf, tidak zamannya lagi. Diam bukan emas. Diam berarti tertindas.

Saya sedang tertegun. Saya warga Jogja, yang kebetulan warga Indonesia. Saya mencintai Indonesia, tapi jauh mencintai Jogja. Dan merindukan Jogja yang tetap Indonesia.

Older Entries