Tidur

Leave a comment

Teramat sering saya tidur dalam perjalanan. Juga malam itu.

Usai keliling kota Medan dengan pengangkut kota (bukan angkutan kota seperti telanjur orang pakai), saya merapatkan diri ke pangkalan bus Anugerah di bilangan Pondok Kelapa. Sore menjelang, namun gelap masih enggan datang.

Penjaga loket menyodorkan tiket bernomor kursi 8. “Yang di belakang sopir sudah habis, Bang!” ujarnya. Tak mengapa, toh masih di deretan depan. Cukup untuk sedikit mengintip pemandangan di depan.

Ransel yang memeluk di punggung segera saya lorot ke bawah kursi. Tak cukup saat hendak saya selipkan di bagasi atas tempat duduk. Padahal, isinya tak seberapa banyak. Hanya sekotak komputer jinjing, kamera, satu celana panjang jeans, dua baju berkerah, 3 kaos, dan 3 pasang pakaian dalam. Oh ya, ada koran nasional yang saya beli pagi itu di Bandara Adisutjipto Jogja, yang tak sempat saya baca karena sejak pesawat meninggalkan apron, belum lepas landas, saya sudah lepas kandas ke alam tidur.

Sejak dari Jogja saya sudah tidur. Duduk di kursi “emergency exit”, kebiasaan saya, membuat saya bisa leluasa mematut diri. Kaki bisa selonjor tanpa perlu mengantukkan lutut ke kursi depan. Namanya juga naik pesawat murah, kenyamanan itu ada di dalam kepala. Dan, di dalam dada, alias seberapa besar kita mau bersyukur.

Toh saya tetap bisa tidur. Seperti biasa, urusan tidur tak memerlukan alasan. Dalam segala hal, sedih-gembira, hujan-panas, saya bisa tidur. Seperti tertawa, tak juga memerlukan alasan untuk meledakkannya. Hanya lapar yang bisa membatalkan kantuk.

Tapi pagi itu memang melelahkan. Wajar jika saya tidur. Saya baru tiba dari Semarang, langsung ke bandara. Pagi sekali. Hanya sempat mandi dan—syukurlah—makan.

Kamis, 9 Juni, saya sedang di warung ketika berita itu datang. “Mas Aji stroke, aku harus ke Semarang,” pamit Probo dari seberang telepon. Probo adalah Direktur Nareswari Group, pemilik merek Ayam Bakar Larasati yang sedang kami persiapkan pembukaan cabangnya di Sleman, Yogyakarta. Aji adalah kakak kandung Probo. Pria 35 tahun itu bekerja di Bank Internasional Indonesia di Semarang. Ini serangan stroke pertamanya.

Saya tetap di Jogja, mendampingi tim yang sedang berbenah. Padahal, mestinya kami berbenah bersama mengingat 3 hari lagi warung ke-9 ini akan kami buka.

Nyata, pukul 16.00, setiba di Semarang dari Magelang, usai menempuh perjalanan sekira 2 jam, saat saya menelepon Probo, jawaban yang mencuat, “Nyuwun doane wae, Kun. Pembuluh darah batang otake Mas Aji pecah.” Ups, kami sama-sama terdiam, tahu apa yang tidak kuat kami katakan. Dua jam sesudah itu, kabar menghentak datang. Probo menelepon, “Mas Aji seda.” Babi, begitu kami memanggil Mas Aji, tidur untuk selamanya.

Usai disemayamkan di rumah duka di Semarang, tempat Mas Aji tinggal beserta istri dan dua jagoan kecil, jenazah akan diusung ke rumah orangtua di Magelang. Tengah malam nanti berangkat, berarti subuh tiba.

Tapi rencana berubah. Baru akan esok pagi jenazah diberangkatkan dari Semarang. Aduh, bakal tak bisa melihat wajah Mas Aji untuk terakhir kalinya, batin saya. Akan tidak tenang hati saya kalau itu terjadi. Pribadi kocak, konyol, nan sederhana itu meninggalkan banyak kenangan selama hidupnya.

Jumat pagi saya mesti terbang ke Aceh. Tak mungkin menghadang jenazah di Magelang. Ke Semarang malam itu juga? Sudah 2 hari saya nyaris tidak tidur. Bagaimana jika mengantuk di perjalanan?

Saya punya waktu 3 jam untuk menempuh jarak sekira 220 km. Berangkat 3 jam, pulang 3 jam. 1 jam di sana. Cukup! Cukup! Cukup! Rasa kantuk saya abaikan.

Pulang, ambil mobil, berangkat. Bapak saya ajak untuk menemani, dan mengganti pegang kemudi jika saya mengantuk. Nyatanya, saya tak mengantuk. Ingatan akan Mas Aji seperti menjaga mata saya untuk tak terpejam. Pukul 02.00 wib, tibalah di Semarang. Pribadi yang begitu hangat itu terlelap sudah.

“Selamat jalan, Mas. Damailah dalam tidur panjangmu. Terima kasih atas persaudaraan kita,” batin saya sembari memegang kedua tangannya yang memeluk rosario. Lega hati saya. Lega pula hati saya merangkul Probo yang berusaha tabah atas peristiwa ini. Lega hati saya menjumpai Bapak-Ibu mendaraskan doa tiada henti di samping peti. Kedua anak Mas Aji, tidur pulas di kamar bersama Mbak Lucy, ibu mereka.

Merasa cukup, saya pamit. Langsung kembali ke Jogja, menyibak subuh bersama truk-truk yang berburu pasir di lereng Merapi.

Sampai rumah, mandi, sarapan, dan menyambar tas yang isinya sudah saya siapkan malam sebelumnya, saya langsung meluncur ke bandara. Capek, mengantuk, namun lega. Maka, sepanjang penerbangan Jogja-Jakarta dan Jakarta-Medan saya tidur.

Bahkan, saat bus Anugerah jurusan Medan-Banda Aceh yang saya tumpangi baru berpamitan di gerbang keluar kota Medan, mata saya sudah lebih dulu berpamitan. Tahu-tahu sudah sampai Kota Langsa. Bus menepi, dan menyilakan penumpang bersantap malam. Rupanya di tengah jalan tadi bus menaikkan penumpang sehingga begitu menoleh ada orang di kursi sebelah saya. Sebelumnya kosong.

“Sekitar 3 jam lagi,” jawab sopir saat saya tanya pukul berapa bus tiba di Lhokseumawe. Saya belum pernah ke kota itu. Ini perjalanan pertama saya. Sendiri, hanya mengandalkan informasi dari panitia pelatihan menulis kreatif yang mengundang saya. Saya belum pernah kenal panitia, toh percaya saja pada informasi mereka.

Kelar makan, saya kembali merem. Pendingin udara tak bisa diatur, saya memilih pasrah saja mendekap tas. Dan mendekap malam, sampai ketika terbangun saya terkejut. Jam digital di samping kiri-atas sopir menunjukkan angka 01:15 wib. Sudah lewat 3 jam dari waktu yang disebutkan sopir di perhentian tadi.

Semua lelap. Kondektur yang saya minta membangunkan pun membujurkan diri di belakang kursi paling belakang. Saya melangkah ke depan, bertanya pada sopir.

“Sudah lewat. Tadi kondektur sudah teriak-teriak, Abang tidak bangun,” ah kenapa jadi sopir yang panik.

“Kota terdekat saya turun, Bang,” pinta saya.

Kota terdekat segera menyambut. Bukan kota besar, hanya semacam pasar. Deretan kios yang halamannya terang menunjukkan itu. Saya turun dan menyeberang jalan. Tak tahu saya ada di mana. Tak satu pun papan nama terpampang. Tak ada orang di sekitar itu. Tak ada satu pun warung tampak buka. Tak ada yang bisa saya tanyai.

Saya hanya yakin, pasti ada bus ke arah Medan. Ini kan jalan antarprovinsi, 24 jam ada pengangkut umum. Pengalaman berjalan-jalan ke berbagai daerah seorang diri mengerem jantung untuk tidak usah deg-degan dalam keadaan seperti itu. Bukan kali pertama saya tertidur dalam perjalanan. Bukan kali pertama kali saya nyasar ke tempat entah. Dan bukan kali pertama saya tenang-tenang saja. Inilah kenapa saya memilih perjalanan tengah malam. Esok kan pagi.

Tak berselang lama, datang sebuah bus Anugerah jurusan Banda Aceh-Medan. Saya lambaikan tangan supaya berhenti. Naik lewat pintu belakang, kondektur yang sedang tidur bangun menyambut.”

“Tidak, berdiri saja. Lhokseumawe saya turun,” jawab saya ketika ia menunjukkan bangku kosong di tengah. Ia mengangguk tanda paham ketika saya menunjukkan alamat sebuah hotel tempat saya menginap. “Setengah jam,” katanya. Wow, setengah jam di malam hari, lalu lintas sepi, dan bus melaju seperti kuda troya… jauh juga saya kebablasan.

“Itu di seberang,” tunjuk abang kondektur saat bus berhenti untuk menurunkan saya. Selembar uang bergambar Sultan Mahmudi Badaruddin II berpindah ke tangan abang kondektur.

Sampai juga saya di tempat menginap. Resepsionis segera mengulungkan kunci kamar 318 begitu saya menyebut nama diri. Rupanya panitia sudah memesankan kamar.

Sudah pukul 02.00 ketika saya memasuki kamar. Membilas tubuh secukupnya, saya memutuskan tak tidur. Selain khawatir kesiangan, tidur sepanjang jalan sudah saya anggap cukup. Lebih baik membuka laptop dan menulis. Nomor restoran saya hubungi untuk memesan minum dan makanan ringan. Teh panas seduh plus kentang goreng seporsi besar menemani saya sampai pagi. Tak tidur.

Paginya saya bergegas ke lokasi pelatihan. Bukan di hotel itu. Bukan di kota itu. Tapi di Panton Labu, kota kecamatan di timur Lhokseumawe. Sejam perjalanan naik kendaraan umum. Saya berusaha tak tidur, supaya tak kebablasan lagi.

Sorenya, usai pelatihan, saya kembali ke Kota Lhokseumawe. Mampir sebentar di hotel, sekadar mandi, saya pergi ke tengah kota. Naik becak dengan ongkos Rp 7.000 wib, saya minta diantar ke lapangan Hiraq. Sekadar berjalan-jalan, makan mie aceh, dan minum “Ulee Kareng” khas kota di Aceh Utara itu. Sekadar merasakan suasana kota yang tak pernah tidur karena di mana-mana bertebaran warung kopi. Sekadar merasakan obrolan remeh-temeh sampai serius. Sekadar menyingkap sedikit tabir Aceh yang konon sulit disingkap.

Saya tak tidur sampai subuh. Kopi aceh menjaga mata saya. Bahkan, saat mengisi pelatihan hari kedua pun tak tersapa rasa kantuk. Baru saya tertidur saat menumpang bus malam ke Medan. Baru saya tidur ketika kembali ke Jogja naik tabung ajaib bercap singa mengaum.

 

Advertisements

Katak Menembus Tempurung

3 Comments

Viktor E Frankl: Man's Search for Meaning

Bagi sebagian orang, penjara tak ubahnya TPA (tempat pembuangan sampah akhir). Laiknya TPA, semua ada di sana: potongan rumput taman, tulang ayam bakar, bangkai tikus, hingga tai anjing. Kotor dan menjijikkan. Bau dan bikin sesak nafas.

Begitu pun penjara. Semua ada di sana: maling knalpot, penipu arisan berantai, pembunuh bayaran, penghisap shabu, hingga koruptor. Stempel “pelaku kejahatan” melekat di jidat mereka. Tak ada yang mau mendekat, kecuali keluarga yang sudah tercoreng mukanya, atau teman karib yang jatuh iba. Cuh… cuh… cuh…

Penjara adalah comberan masyarakat, yang berisi orang-orang buangan. Mereka terhempas dari sangkakala, terompet kabar kematian. Mereka tertimpa palu hukum yang dijatuhkan di meja hijau. Pula, mereka terkucil dari habitat sosialnya.

Dan mereka seperti tak punya hak bersuara. Tak ada saluran kata untuk membela, alih-alih meluruskan. Sudah terkepung tembok tebal, mulut mereka pun disumpal. Bisik-bisik lirih pun tak terdengar dari balik jeruji tembus angin itu.

Di dalam semakin sunyi, di luar makin bergemuruh. Bahwa penjara memang kuburan hidup bagi para pecundang.

Meski begitu, sayup-sayup tetap terkisik kabar bahwa ada nyanyian bisu dari dalam penjara. Viktor Frankl salah satunya. Dalam bukunya Man’s Search for Meaning (1946), ia menuliskan bagaimana pergulatan batinnya di dalam penjara. Baginya, penjara adalah kegelapan yang tak berujung. Tak kelihatan di sana di mana pintu kebebasan itu, jika ada. Dalam kegelapan itu, yang ada justru keterpurukan. Keterkejutan akan kenyataan berada di penjara lama-lama menjadi sikap apatis bahwa memang hanya penjaralah kehidupan yang ada. Alih-alih membayangkan bebas kelak di waktu yang tidak bisa ditentukan, bisa bertahan saja jauh dari harapan.

Toh, bagi Frankl, selalu ada makna yang bisa dipetik dari kegelapan itu. “Then I grasped the meaning of the greatest secret that human poetry and human thought and belief have to impart: The salvation of man is through love and in love,” tulisnya.

Adakah selain Frankl?

Wilson, narapidana politik kasus 27 Juli 1996, mencoba memaknai pengerangkengan tubuhnya dari aspek kemanusiaan. Secara khusus ia mengamati sosok Xanana Gusmao, tokoh fretilin yang diterkam rezim Soeharto karena memimpin gerakan makar pembebasan Timor Timur dari aneksasi Indonesia.

Kamp Nazi: penjara Wirogunan lebih manusiawi

“Ketika saya melihat seorang pemimpin rakyat Timor Timur di penjara, saya melihat bagaimana seorang pemimpin hidup dalam kesederhanaan. Saya mencatat kehidupan sehari-harinya yang tidak diketahui orang lain karena Xanana kan image-nya pejuang gerilyawan, angkat senjata AK 47 atau M16, bawa radio komunikasi, jadi dia seperti membawa simbol-simbol yang menyeramkan. Nah saya menampilkan Xanana sebagai sosok yang lain dalam tulisan-tulisan saya. Misalnya sosok Xanana dalam hal melukis, bermain bola, merawat bonsai, hubungannya dengan napi kriminal, bagaimana dia belajar bahasa Indonesia dari mereka, bagaimana hubungannya dengan petugas administrasi, bagaimana dia membela napi-napi kriminal agar mendapat pelayanan kesehatan yang lebih baik, agar mendapatkan jatah makanan yang lebih baik kualitasnya. Yang dia lakukan jauh lebih banyak ketimbang kami tapol/napol dari Indonesia. Menurut saya hal-hal seperti itu penting untuk diketahui, inilah tipe seorang pemimpin sejati, tidak banyak bicara soal dirinya namun bicara bagaimana dapat membantu orang semaksimal mungkin dalam kondisi yang sangat terbatas. Hal semacam itu tidak banyak saya temui bahkan dari kawan-kawan sendiri walaupun kami sudah mencoba berbuat seperti Xanana,” ujarnya kepada Faizol Reza (Sinar Harapan, 2 April 2005).

Berbekal mesin ketik, yang dicumbuinya 8 jam sehari, ia pun menulis buku penelitian sosial tentang kehidupan di penjara.

Arswendo Atmowiloto pun layak disebut. Napi kasus “Monitor” ini pun mampu menembus tembok penjara lewat mesin ketik yang boleh dibawanya. Ia tetap menulis dari balik teralis. Alhasil, Sebutir Mangga di Halaman Gereja (1994) boleh kita petik. Di penjara pun ia tunai Menghitung Hari (1994).

Katak Menembus Tempurung

Penjara ibarat tempurung. Penghuninya ibarat katak. Orang Belanda punya istilah “Kijken tussen de bomen” untuk mereka yang cara pandangnya sempit, kita mengenal pepatah “bagai katak dalam tempurung”. Demikianlah, penghuni penjara pun ibarat katak dalam tempurung. Hidup mereka terkurung dalam tembok tinggi-berlapis dan berpenjagaan ketat. Mereka tak boleh ke mana-mana. Jadwal keluar sel ditentukan, jadwal makan diatur, jadwal dikunjungi pun dibatasi.

Seperti pagi tadi. Bersama beberapa teman kantor, saya berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta. Kami kerap menyebutnya LP Wirogunan. Kami bertemu Santosa Heru Irianto, kepala lapas, untuk membicarakan rencana pelatihan menulis bagi warga binaan (napi), pekan depan.

Saya mengusulkan tema “Katak Menembus Tempurung” untuk pelatihan menulis yang baru pertama kali diselenggarakan di LP Kelas II A ini. Penjelasan saya seperti uraian di depan. Bahwa penghuni lapas bolehlah terbelenggu fisiknya, namun tidak dengan hati dan pikirannya. Tidak dengan kreativitasnya.

Lewat menulis, para napi bisa menyuarakan kehidupannya secara leluasa. Mereka bisa bercerita bagaimana keseharian di hotel prodeo. Mereka bisa bertutur tentang harapan sehabis masa hukuman dijalani. Mereka bisa bercerita tentang cinta, air mata, dan tawa.

Angkat topi untuk Lapas Yogyakarta yang mulai terbuka akan perubahan zaman. Mereka mulai mengundang beberapa elemen masyarakat untuk terlibat dalam pembinaan para napi. Pintu masuk sudah diubah. Tak perlu lagi menggedor dari pinggir jalan untuk memanggil petugas. Masuk saja. Pelayanan pun dipoles. Lebih ramah.

Paradigma telah mereka ubah. Penjara bukan lagi Alcatras atau Guantanamo. Juga bukan lagi Nusakambangan. Tempat-tempat itu, bahkan, menyiksa katak dalam tempurung, dan membuang bangkai katak.

Tapi penjara adalah Wirogunan, tempat napi boleh menari-nari dengan penanya. Mereka boleh menulis apa saja. Wirogunan bukan tempat sampah, tempat bangkai katak, tapi tempat katak menari-nari menembus tempurung.(*)

Jogja, 9 Maret 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Mencintai dan Menggunakan Bahasa Indonesia

Leave a comment

Sebagai bangsa, kita sudah sepakat memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Sejak dicetuskan pada 2 Mei 1926 dalam Kongres Pemuda I, dan kemudian “disumpahkan” pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia kemudian jatuh-bangun menjadi bahasa komunikasi di seantero nusantara. Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, juga bahasa pergaulan sehari-hari. Di Jakarta orang berbahasa Indonesia, di Ternate pejabat berpidato dengan bahasa Indonesia. Tua-muda pun berbahasa Indonesia.

Oleh negara, bahasa Indonesia ini kemudian dikawal sedemikian rupa supaya semakin merata dan memenuhi kaidah berbahasa. Ada proses pembakuan yang sistematis digulirkan. Hasilnya berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Tesaurus Bahasa Indonesia, dan rujukan-rujukan berbahasa Indonesia lainnya, baik keluaran instansi pemerintah seperti Pusat Bahasa, maupun besutan linguis partikelir.

Sampai kini pun belum sempurna benar. Masih banyak cacat bahasa di sana-sini yang tak kunjung dilinguisterapi (linguisterapi: terapi berbahasa). Ambil contoh soal ‘k-p-t-s’ yang luruh-tidaknya saat bersetubuh dengan awalan ‘me-‘ masih riuh bergemuruh. Ada yang bilang seluruhnya luruh, ada yang sahut khusus serapan dari bahasa asing saja yang luruh.

Ups, padahal hanya sekira 20% bahasa Indonesia yang digunakan sekarang benar-benar asli.

Ups lagi, padahal mana ada bahasa asli Indonesia? Indonesia saja tercipta belum lama, ya seumur deklarasi pemuda itu, kok mau mengklaim bahasa asli-serapan. Seperti bahasa Ibrani, bahasa Indonesia adalah bahasa yang sebelumnya belum ada ketika kemudian dipakai sebagai bahasa resmi sebuah negara.

Lalu mau menyebut bahasa serapan? Banyak serapan yang belum ajur-ajer benar. Picingkan mata ke kata-kata ini: standar-standardisasi; objek-subjek-proyek. Ck ck ck, inkonsistensi itu masih jadi sariawan di lidah kita.

Meninggalkan Bahasa Indonesia?


Tentu saja tidak. Jangan biarkan bahasa ini mati muda. Biarlah penggunanya yang mati muda, memudar, sedangkan bahasanya memuda.

Semangat inilah yang disiangi oleh Forum Bahasa Media Massa (FBMM), yakni semangat untuk semakin mencintai bahasa Indonesia sebagai bahasa tutur dan tulis. Mencintai di mulut, mencintai di tangan. Berbicara dalam bahasa Indonesia, beraksara dalam bahasa Indonesia pula.

Zainal Arifin menegaskan semangat ini dalam kunjungan FBMM Daerah Istimewa Yogyakarta di kantor Penerbit Galangpress Group, siang ini. Menurut ketua forum yang sehari-hari bekerja di TVRI ini, peran FBMM adalah mengkampanyekan gerakan mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia. Beranggotakan jurnalis, editor, dan pekerja media yang bergelut di ranah bahasa, FBMM hendak menjadi wadah pengembangan bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa lokal, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

“Dan FBMM tidak berpretensi menjadi polisi bahasa,” sergah P Ari Subagyo, ketua bidang penelitian dan pengembangan pada kepengurusan periode 2009-2012 ini. Lanjut Ari yang bekerja sebagai linguis di Universitas Sanata Dharma ini, meski di FBMM ada anggota yang menghendaki forum ini berperan sebagai polisi bahasa, namun fungsi kreasi berbahasa juga sebaiknya mendapatkan tempat. “Kajian bahasa bukan bersifat normatif, namun agar bahasa berkembang,” tandasnya.

Dengan pandangan seperti itu, bahasa Indonesia yang oleh beberapa kalangan diperjuangkan betul kebakuannya tidak akan membeku. Sebab, kebakuan berbahasa lewat bahasa tulis berpotensi menjauhkan kita dari orisinalitas berpikir kreatif. Dan ujungnya, bahasa Indonesia akan menjadi momok bagi penggunanya sendiri. Kalau ini terjadi, kekhawatiran Ari bisa semakin menyata, yakni terus merosotnya tradisi berpikir di masyarakat akibat rendahnya minat baca dan menulis.

Maka, peran FBMM yang juga mewadahi praktisi-praktisi usil, yakni praktisi yang selalu gatal mengeksplorasi dan mencoba-coba bahasa, bukan hanya memunculkan bahasa baru, melainkan memperkayanya. Banyak misteri bahasa, karenanya, yang bisa dibongkar forum.

Bertemu Penerbit Galangpress Group, irisan sinergi pun terbentuk. Sebagai praktisi bahasa, yang kerap bereksperimen dengan kekuatan frasa seperti “membongkar”, “menodong”, “kupas tuntas”, “cara pintar”, “kedahsyatan”, dll, Galangpress membutuhkan teman berdiskusi yang mencerahkan. Frasa-frasa itu sudah teruji “laku” dibeli masyarakat pembaca. Dengan bergandeng tangan, Galangpress dan praktisi bahasa lain bisa membidani lahirnya kata-frasa-idiom baru yang selama ini belum ada atau tertimbun lemak kemalasan bercas-cis-cus.

Dalam jangka panjang, sinergi berupa workshop, seminar, dan ajang pelatihan lain, juga bakal menggairahkan dunia kepenulisan yang kini miskin penulis. “Jangan sampai kita impor penulis,” tukas Julius Felicianus, Direktur Galangpress saat menyambut FBMM. Julius tidak mengada-ada melontarkan ancaman ini. Ia menyodorkan fakta, jumlah judul buku di Indonesia baru di kisaran 20.000 judul per tahun. Jika satu orang penulis produktif mengerami lebih dari 1 judul buku, dan sebagian buku lainnya adalah karya penulis luar yang diterjemahkan, maka jumlah penulis kita tidak sampai 5 (lima) persen dari total penduduk Indonesia. “Padahal,” Julius memunculkan fakta lain, “50% buku yang kami terbitkan ditulis oleh tim redaksi.” Wow, potret buruk!

Jogja, 26 Januari 2010
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

::: Selamat kepada Penerbit Kanisius yang hari ini berulang tahun ke-88 :::

Menyalakan Api Menulis

1 Comment

”]
Api kita sudah menyala
Api kita sudah menyala
api api api api api
Api kita sudah menyala

“Mars Api Unggun”, sebut saja begitu, ini menjadi awal dari Workshop Penulisan Buku Populer yang diselenggarakan Kaca-KR dan Penerbit Galangpress di MAN Yogyakarta III, Minggu, 24 Januari kemarin. Lebih dari seratus peserta yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka berdiri, lantang bernyanyi.

Sebagai moderator sesi pertama, “Siapa Saja Bisa Jadi Penulis”, saya menangkap gairah begitu luar biasa dari peserta. Simak saja fakta-fakta berikut ini.

Satu, Sejak 2 hari sebelum acara, sekretariat panitia sudah menutup pendaftaran karena jumlah peserta melebihi target. Pada hari pelaksanaan, tak sedikit yang datang untuk mendaftar langsung, dan ditolak karena ruang yang dipakai memang terbatas. Dua, ada sepasang suami-istri yang datang dari Kebumen, kota kabupaten yang berjarak sekitar 80 km di sebelah barat Jogja. Mereka berboncengan sepeda motor. Tiga, beberapa peserta adalah ibu atau bapak dengan anaknya. Mereka sama-sama ingin menjadi penulis. Empat, ada satu anak SD dan beberapa siswa SMP yang bergabung. Nekad, padahal di poster dan pemberitaan di Kedaulatan Rakyat, jelas-jelas terpampang bahwa workshop ini ditujukan untuk siswa SMA, mahasiswa, dan guru.

Ini baru di hari pertama. Padahal masih ada 3 hari dalam rangkaian “Gatotkaca Masuk Sekolah” yang akan digeber 7 Februari di SMA 4, 21 Februari di SMA 8, dan memuncak 7 Maret di SMA Kolese de Britto.

Panitia tak kalah bergairah dalam mengalirkan darah yang mendidih itu. Penerbit Galangpress menerjunkan 9 editor dan desainer grafis untuk menjadi fasilitator pelatihan, bersama dengan alumni Kaca-KR. Sinergi yang cantik antara penggiat buku dan jurnalis koran.

Pembicara yang kami hadirkan pun tidak main-main, 2 orang yang sudah sangat diperhitungkan di jagad penerbitan. Julius Felicianus dan Nadia Indivara. Julius Felicianus adalah Direktur Galangpress Group yang sudah sukses membidani puluhan penulis pemula menjadi penulis buku laris. Sedangkan Nadia Indivara yang akrab dipanggil Dea adalah ibu rumah tangga “korban” provokasi Galangpress, dan sudah terbukti menjadi penulis buku-buku laris seperti Cara Pinter Jadi Wedding Organizer (Indonesia Cerdas, 2007), Untung Besar 80 Jutaan Duduk Doang (Indonesia Cerdas, 2008), The Mom’s Secret (Pustaka Anggrek, 2009), dan 200 Tips Ibu Smart (Pustaka Anggrek, 2009).

Seperti adatnya, Julius menjadi tukang kompor yang membuat peserta seperti tak sempat menghela nafas. Julius meyakinkan bahwa setiap orang bisa jadi penulis, “99% penulis Galangpress adalah pemula, dan berhasil.”

Yang dibutuhkan dari seorang penulis adalah ide, gagasan, dan kreativitas. Hanya butuh keberanian untuk menuangkannya.

”]]“Indonesia ini banyak pembaca, tapi kekurangan penulis,” tukas Julius, “sehingga banyak buku kemudian dihasilkan oleh tim redaksi.” Tentu saja, buku-buku yang dimaksud adalah buku-buku bagus yang berterima di masyarakat pembaca, bukan asal buku yang hanya baik di mata penulisnya. Ia membeberkan fakta. Selama 2007-2009, jumlah judul buku yang beredar di toko buku modern di Indonesia baru berkisar 24.500 (2007), 31.300 (2008), hingga 32.150 (2009). Angka ini belum menunjukkan berapa eksemplar pencetakan per judul dan persentase jumlah eksemplar yang laku.

Pada aspek lain, masih menyitir data Julius, dana pembelanjaan buku perpustakaan daerah-perpustakaan daerah cukup tinggi, yakni Rp 3,2 triliun (2007), Rp 4,6 triliun (2008), dan Rp 4,45 triliun (2009). Bukan angka yang sedikit. Pertanyaan kritisnya, sudahkah pembelanjaan buku itu merangsang masyarakat menjadi penulis?

Galangpress Group, sebagai penerbit buku, menyimak angka tersebut, tidak pernah pesimistis. Sebaliknya, justru optimistis mencari dan menginkubasi penulis-penulis baru.

Dea salah satunya. Ia seorang ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang dalam keseharian. Menulis pun menjadi aktivitasnya sejak belum punya anak. The Mom’s Secret, contohnya, ia tulis waktu hamil anak pertamanya, Rena, yang kini sudah berumur 2 tahun. Saat hamil pun ia mau menulis. Malah, ia mendapatkan “tekanan” dari kami, “Mbak Dea, tolong jangan melahirkan dulu sebelumnya bukunya selesai.”

Selain menjadi pengusaha, kini hari-hari Dea dihabiskan sebagai ibu rumah tangga yang ideal. Ia bisa selalu bersama Rena, dan ia selalu punya waktu untuk menulis. “Kuncinya adalah komitmen menentukan deadline dan mau meluangkan waktu untuk menulis, walaupun hanya satu halaman,” ungkap penulis novel yang belum menemukan momentum meledakkan buku fiksinya ini.

”]”]Secara khusus, dalam makalah singkatnya, Dea membeberkan rahasia menjadi penulis produktif. “Hilangkan mitos yang selama ini menghalangi kita untuk menulis,” sebutnya. “Mitos pertama, menulis butuh banyak waktu. Padahal, kita bisa menulis di sela-sela kesibukan, misalnya saat menunggu antrian di salon atau menunggu anak pulang sekolah. Mitos kedua, harus menulis sesuatu yang luar biasa atau spektakuler. Padahal, setiap orang boleh menulis apa pun, biar pun itu sesuatu yang sederhana. Dari yang sederhana itu, kalau kita bisa menyampaikannya dengan menarik, bukan tidak mungkin topik itu bisa menjadi sesuatu yang luar biasa.” Buktikan!

Di Galangpress Group ada banyak Dea yang lain. Dengan kreativitas dan orisinalitas ide, mereka masing-masing bisa mencuat sebagai penulis yang karyanya menginspirasi pembaca dan mendunia. Semua berangkat dari nol sebagai penulis buku, dan semua berhasil. Jika Anda ke toko buku, temukanlah nama-nama ini: Baskara T Wardaya, Asvi Warman Adam, Budiman Hakim, Mohammad Thobroni, Femi Adi Soempeno, Veronica Sri Utami, Lucas Formiatno, M. Arief Budiman, HJ Sriyanto, Putera Lengkong, Arwan Tuti Artha, Fajar Nugros, Budi “Kelik” Herprasetyo, Hadi Hartono, Silvester Goridus Sukur, Soekardjo Wilardjito, dan masih banyak lagi.

Kini mereka keranjingan berkata-kata!

Jogja, 25 Januari 2009
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com]

Sejam Bersama Pak Roni

Leave a comment

Pak Roni turun dari mobil tergopoh-gopoh. Ia meminta maaf atas keterlambatannya. Maklum, ia datang sejam lebih lama dari waktu yang dijanjikan.

Saya segera menghambur ke halaman kantor begitu mengetahui kedatangannya. Saya gantikan mengemudinya, Pak? “Tidak usah, Mas. Berangkat sekarang?” Baik, saya segera menyelinap ke kursi depan di sampingnya. Perjalanan pagi ini berujung di Magelang, ke arah Pak Roni berangkat, dengan waktu tempuh sekira satu jam.

Ini kali kedua saya bertemu Pak Roni. Itu pun hanya sebentar. Namun, saya masih mengingat dengan baik wajah dan perawakannya. Ia santun, mudah diajak ngobrol, memudahkan saya mematri ingatan.

“Saya tidak ingat wajah sampeyan,” ungkapnya jujur. Tidak mengapa. Usianya hampir sesepuh bapak saya. Belum 60 tahun. Banyak wajah yang telah ditatapnya, juga banyak wajah yang sudah menguap dari bank ingatannya.Saya maklum, bahkan ketika ia tidak ingat lagi jalan yang baru saja ditempuhnya ketika ia berangkat menjemput saya. “Semua jalan kelihatan sama,” elaknya. Ya, dan kita selalu lewat sebelah kiri, batin saya, serta hanya belok kanan dan kiri.

Alhasil, saya memandunya menyusuri jalan tengah kota Jogja untuk segera mencapai Jalan Magelang. Tadinya, pikir saya, tawaran untuk menggantikan posisi mengemudi, selain atas dasar pertimbangan capek karena telah menempuh perjalanan jauh, juga untuk memastikan ketepatan waktu jika saya yang memancal pedal gas. Dasar saya suka menyetir, rada keki juga jadi penumpang.

Belum keluar Jogja, di perempatan Munggur, saya panggil tukang koran untuk merelakan dua korannya saya beli. Satu koran nasional, satu koran lokal. Selain untuk menganyari informasi sebagai bahan pembicaraan di forum yang akan saya hadiri, saya juga bermaksud membunuh kekhawatiran saya atas waktu tempuh yang begitu mepet dengan jadwal yang disodorkan panitia semalam lewat email. Saya merasa pantas khawatir karena jalanan di pagi hari begitu padat oleh lalu-lalang orang yang hendak ke sekolah dan tempat kerja. “Tadi berangkat ke Jogjanya saya tidak berani kencang karena begitu banyak motor,” tukas Pak Roni seperti menunjukkan bahwa perjalanan ini pun tak akan kalah leletnya.

Kekhawatiran saya sirna begitu Pak Roni mulai memainkan perannya sebagai sopir sebuah kantor LSM yang nyaris saban hari berpindah dari satu kota ke kota lain. Ia dengan gesit menyelinapkan mobil di antara kesesakan arus lalu lintas. Padahal, “Saya paling takut kalau sampai senggolan sama motor. Males urusannya,” akunya.

Ternyata Pak Roni pribadi yang hangat. Juga murah cerita. Nyambung, dari satu topik ke topik lain. Juga ketika dia mengawali cerita, “Yang ini cuma saya dengar dari teman, bukan pengalaman saya pribadi.” Jika dosen, ia telah melakukan salah satu kejujuran akademik ketika menyebutkan sumber referensi yang dikutipnya.

“Kita belok sini saja, Mas. Lebih cepat.” Jalan Pemuda, Kota Muntilan tak kami habiskan. Baru separo, kami berbelok menyusuri jalan sempit di tengah perkampungan dan persawahan. Ketika kami berpapasan dengan lima bus besar, ia beropini, “Lihat, Mas. Ini jalur pariwisata. Bus-bus dari Borobudur atau Sendang Sono (tempat peziarahan orang Katolik) banyak yang lewat sini. Sayang, jalannya sangat sempit. Kenapa ya pemerintah tidak melebarkan jalan ini sehingga lebih enak dilalui? Kan mumpung di kiri-kanan jalan belum banyak rumah.” Saya sepakat. “Kan orang dari mana-mana ke sini,” timpalnya untuk menggarismerahi betapa besar dampak promosi yang akan dipanen.

Sepuluh menit sebelum pukul 9, Candi Mendut sudah di depan mata. Koran yang saya beli tak jadi saya baca. Tak sempat. Obrolan kami terlalu hangat untuk dilipat.

Panitia pun belum menelepon untuk menanyakan kami sampai di mana. “Kalau ditelpon, bilang saja baru sampai Muntilan, Mas, biar mereka panik.” Haha, jahil juga orang ini. Dan saya mengangguk tanda setuju. Sayang, sampai di gerbang Candi Borobudur, tak satu pun panitia mengontak kami. Bahkan, di pintu masuk Hotel Manohara–hotel di dalam kompleks candi yang telah beroperasi lama sebelum drama Manohara mencuat ke permukaan– pun tak tampak batang hidung panitia. Ah, siapa suruh jahil?

“Saya tunggu di parkiran ya, Mas, biar nanti bisa langsung kembali ke Jogja,” pamit Pak Roni saat saya turun dari mobil di depan lobby hotel. Tidak usah Pak, nanti saya nebeng teman yang kebetulan sama-sama diundang jadi pembicara di seminar yang diikuti aparatur pemerintah di lingkup Pemkab Magelang ini.

Pak Roni, terima kasih atas pelajaran kehidupan pagi ini. Semoga sampeyan senantiasa sehat dan tetap tenang di jalan.

Pengadilan Karya, Tempat Terdakwa Bangga

1 Comment

20091025 pelatihan menulis kreatif @ kuwera (4)

berkumpul, berkarya, berbangga

Orang-orang muda itu berbicara tanpa menunduk, duduk tanpa mengantuk. Sungguh menggetarkan. Dari mereka terpancar rasa bangga, sorot mata optimistis.

Sabtu-Minggu (24-25 Oktober) kemarin menjadi akhir pekan yang penuh warna. Bersama orang-orang muda, kami belajar menulis kreatif di Kuwera, rumah almarhum Romo YB Mangunwijaya. Ya, belajar bersama. Khusus untuk saya, saya belajar dari mereka. Bagaimana tidak. Di usia yang sungguh muda, beberapa di antara mereka sudah menghasilkan karya sastra. Vazza, contohnya, sudah menghasilkan 3 novel ketika SMP. Kini, mahasiswi semester 1 UGM dan UNY ini sedang menyusun buku autobiografi. Ia tuna rungu sejak kecil, dan berkat kasih sayang orangtuanya, berhasil menembus batas kekurangan.

Fren, teman yang lain, memapar kiat-kiat menggali kreativitas menulis. Juga teman-teman muda dari Komunitas Mata Pena, Komunitas Kutub, dan teman-teman yang tidak tergabung dalam komunitas. Ada yang masih SMP, ada yang sudah kuliah, tak sedikit yang sudah bekerja. Lebur jadi satu.

Pelajaran kali ini diberi nama “pengadilan karya”. Proses ini lazim dihidupi komunitas sastra. Seperti namanya, suasananya mirip pengadilan. Ada jaksa penuntut umum, ada pengacara, ada majelis hakim. Terdakwa juga dihadirkan, tidak nemo.

20091025 pelatihan menulis kreatif @ kuwera (11)

menyerap daya robrak mangunwijaya

Bedanya, jika di meja hijau terdakwa didudukkan karena belepotan dugaan kejahatan, di forum ini terdakwa dihadirkan karena karyanya ingin dipublikasikan. Sebelum menjadi santapan publik, si terdakwa menyilakan forum untuk menilai karya tersebut. Yang dikritisi forum meliputi judul, gaya bahasa, ide, alur cerita, konflik yang dibangun, efek kejut, penokohan, ilustrasi, dan dampak yang mau disasar dari pembaca. Terdakwa boleh menerima, boleh menolak, boleh mengacuhtakacuhkan.

Sebagai forum pengadilan, ada yang berperan sebagai penuntut yang meyakini bahwa karya sang terdakwa tidak layak diterbitkan, ada yang berperan sebagai pengacara yang membela karya terdakwa, ada pula hakim yang memutuskan layak-tidaknya karya tersebut diterbitkan.

Meski analog dengan suasana persidangan, namun proses peradilan ini berbeda. Pertama, peran-peran yang dimainkan tidak ditentukan, melainkan muncul dan mengalir begitu saja. Suka-suka saja. Terhadap judul boleh setuju, tetapi terhadap plot boleh mencerca. Wawasan dan referensi yang tersimpan di belakang batok kepalalah modal untuk menilai karya. Boleh sok akademis dengan mengutip pendapat tokoh tertentu, boleh pula merilis akal sehat pribadi.

Kedua, jika dalam persidangan umum, pengunjung bersikap pasif sebagai penonton, di sini tidak. Pengunjung boleh berpendapat. Lebih dari itu, dirangsang untuk terlibat. Sebab, sejatinya, dalam forum seperti ini, tidak ada yang lebih ahli satu dari yang lain. Hanya perspektif saja yang berbeda. Pengunjung pun bisa menempatkan diri sebagai perwakilan pembaca. Sikap diam, bertanya, heran, memuji, atau apa pun dalam forum itu bisa dijadikan acuan kurang lebih sikap pembaca ketika karya tersebut betul-betul bakal ditelurkan.

Beda yang ketiga, ini yang utama sejatinya, jika di peradilan umum terdakwa menanggung malu atas perbuatannya, dan karenanya mereka kerap merunduk malu atau berusaha menutupi wajahnya, terdakwa di pengadilan karya ini duduk dengan rasa bangga, berdiri secara terhormat. Apa pun lontaran pedas yang dialamatkan kepadanya, semua bernada kekaguman. Jika tidak berkarya, mana bisa diadili…

Versi lain silakan baca Kompas.

Mencermati Titik Kritis Bisnis Franchise

1 Comment

Pekan lalu, 20-21 Oktober, saya berkesempatan menjadi pembicara dalam pelatihan “Analisis Titik Kritis Bisnis” untuk para manajer Bank Rakyat Indonesia se-Jabodetabek, Lampung, Jambi, dan Sumatera Selatan. Bertempat di Sentra Pendidikan BRI Gatot Subroto Jakarta, saya mengisi sesi bisnis waralaba berdasarkan buku Bisnis Franchise Modal 2 Juta (Indonesia Cerdas, 2009). Berikut rangkumannya:

buku inspiratif: Bisnis Franchise Modal 2 Juta

buku inspiratif: Bisnis Franchise Modal 2 Juta

Kalangan perbankan sedang gelisah. Mereka sedang berpikir keras untuk menyelamatkan bisnis perbankan yang sedang mengalami turbulensi. Kasus pengemplangan dana nasabah oleh Bank Century menjadi mimpi buruk yang menghantui siang dan malam mereka. Ketidaktegasan pemerintah, yang lewat LPS notabene menjadi pemilik Century, dalam kasus ini bisa jadi preseden buruk perbankan di hadapan nasabah. Kepercayaan publik kepada perbankan bisa rontok jika bank yang dimiliki pemerintah saja bisa berbuat sesuka hati.

Di luar itu, guncangan perekonomian global tak kalah menyeramkannya. Gara-gara ulah beberapa gelintir pelaku keuangan di Amerika Serikat, sektor keuangan kini dikecam habis-habis sebagai penyebab krisis global. Wajar jika kecaman pedas bersahutan. Dampak dari kecerobohan mereka, banyak industri di Eropa dan Amerika Serikat terpaksa mem-PHK karyawannya. Dimulai dari General Motor, perusahaan otomotif besar, yang gulung tikar, diikuti oleh beberapa kampiun lainnya, kini sekitar 630.000 perusahaan di Amerika Serikat mengantri untuk mendapatkan keputusan pailit.

Jika tidak hati-hati, badai krisis itu bisa melumat kita.

Sebaliknya, kehati-hatian yang berlebihan juga justru bisa menjerumuskan kita ke lumpur penghisap.

Sangat problematis. Namun, hidup tidak boleh berhenti. Tetap harus ada terobosan untuk berinovasi; setidaknya bertahan. Tetap harus ada keputusan yang berani. Inilah yang melatari pelatihan BRI. Sebagai salah satu bank pemerintah tertua dan terbesar, keberadaan mereka sudah sangat mengakar di masyarakat. Cabang mereka yang tersebar bahkan hingga ke kecamatan-kecamatan di seluruh pelosok Tanah Air merupakan modal sangat kuat untuk tetap mendapatkan kue dari masyarakat.

Nah, dalam pelatihan itu, para manajer yang berada di garda depan perusahaan, hendak mempelajari dan menganalisis bisnis-bisnis yang berpeluang untuk mereka biaya. Secara khusus, bisnis yang mereka bidik berskala mikro. Sebagai penerbit, tugas saya adalah memberi gambaran aneka jenis bisnis yang diminati masyarakat. Minat itu tampak dari antusiasme masyarakat melahap buku-buku peluang usaha yang diterbitkan oleh Penerbit Indonesia Cerdas (Galangpress Group) tempat saya bekerja sebagai editor. Tengoklah betapa larisnya buku-buku berjudul Untung Besar Modal 2 Juta, Untung Besar 80 Jutaan Duduk Doank, Berani Utang Pasti Untung, dan Bisnis Franchise Modal 2 Juta yang baru terbit dan menjadi acuan pembahasan. Ada kerinduan masyarakat menjadi pengusaha. Dalam segala keterbatasan, terutama modal, mereka memberanikan diri untuk mewujudkan mimpi menjadi pengusaha.

RM Ayam Bakar Larasati, contoh sukses franchise makanan

RM Ayam Bakar Larasati, contoh sukses franchise makanan

Melongok Bisnis Franchise bersama Branch Franchise Manager Alfamart Deden Hendra Shakti dan dosen manajemen IPB Ir Budi Purwanto, ME, kami mengupas bisnis franchise dari dua sisi. Mas Deden dari sisi pelaku bisnis ritel, sedangkan saya dari sisi penulis dan penerbit yang melandaskan paparan pada aneka jenis bisnis franchise yang ada di masyarakat. Kepada para manajer itu saya ingatkan—karena saya yakin mereka sudah tahu— tentang kompleksnya peta bisnis saat ini; betapa gaya bisnis juga banyak mengalami perubahan seiring akselerasi informasi yang berhamburan berkat kemajuan teknologi informasi.

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?

Dalam situasi seperti, menurut hemat saya, bisnis mesti menyesuaikan diri sebagai entitas yang multidimensional. Positioning bank perlu dirumuskan ulang. Tidak cukup lagi menancapkan image di benak konsumen sebagai bank tabungan, misalnya. Mengapa? Karena, kebanyakan bank bermain di situ. Lihat saja fitur-fitur yang ditawarkan bank. Umumnya program mereka mirip satu sama lain. Relatif tidak ada perbedaan yang berarti satu sama lain. Akibatnya, di benak konsumen pun sulit membedakan mana bank yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter personal mereka. Perlu ada reklarifikasi posisi kepada setiap target pasar. Pun kepada target pasar bawah, yakni bisnis kelas mikro. Sebab, segmen bawah ini pun saat ini tidak mau diperlakukan asal-asalan sebagai bagian dari massa yang tidak dikenal. Tidak mau. Mereka mulai sadar akan pelayanan yang lebih personal, customize.

Dalam konteks bisnis franchise, ada 3 (tiga) titik penting yang harus bank cermati:

1. Jenis bisnis

Sebagaimana disepakati oleh kalangan pebisnis franchise, suatu usaha layak diwaralabakan setelah mengantongi beberapa persyaratan. Di antara persyaratan itu adalah bahwa bisnis tersebut sudah berjalan 3-5 tahun dengan perolehan laba tertentu. Lamanya waktu yang dipersyaratkan hendak menunjukkan bahwa hanya bisnis yang telah melampaui waktu tersebut pantas dimasukkan sebagai bisnis yang berhasil. Karena sudah teruji keberhasilannya, layaknya jika sistem yang sudah dibangun dijual kepada pihak lain untuk diduplikasi.

Mengingat syarat ini, bank harus berhati-hati pada jenis-jenis usaha yang bersifat musiman, yang mengandalkan trend semata. Bank harus tegas untuk hanya membiayai bisnis yang bebas musim dan jangka panjang. Benar, sebab kepentingan bank bukan hanya menyalurkan kredit sesaat, namun turut membangun bisnis nasabah. Jika kelak berhasil, nasabah pasti akan datang kembali ke bank untuk mendapatkan sokongan yang lain.

2. Franchisor

Merujuk pada paparan di depan, bisnis franchise adalah bisnis keterbukaan. Kepada franchisee, franchisor akan membagikan sistem yang ia punya untuk keberhasilan usaha. Pembagian informasi ini tidak hanya berlangsung di awal, melainkan di sepanjang kontrak bisnis.

Maka, bank harus paham betul kesesuaian karakter bisnis yang diwaralabakan dengan karakter franchisornya. Bank harus bisa memastikan bahwa franchisornya hendak membangun bisnis bersama franchiseenya dalam jangka panjang. Karenanya, franchisor yang baik adalah yang mau membagikan ilmunya secara periodik lewat penyelenggaraan pelatihan.

3. Franchisee

Demikian halnya dengan franchisee. Franchise adalah bisnis yang sudah jadi, yang sudah tersistem. Siapkah franchisee menjalankan sistem yang sudah ada? Bersedia diaturkah dia? Sebab, untuk beberapa jenis bisnis, franchisee sama sekali tidak memiliki ruang untuk berkreasi dan berinovasi. Semua SOP sudah ditentukan oleh pusat. Nah, bisnis itu tentu tidak cocok bagi yang ingin berimprovisasi dalam menjalankan bisnisnya.

Bagi bank, yang lebih penting kemudian adalah memastikan bahwa franchisee mau menjalankan bisnis untuk jangka panjang: pertumbuhan dan kematangan. Bank juga perlu menelusuri potensi tersembunyi franchisee. Dan tugas bank pula untuk menemukan dan mengangkat ke permukaan potensi tersebut. Ingat, banyak bisnis besar bermula dari ketidakjelasan, ketidaklengkapan, dan keminiman. Jangan menghambat franchisee hanya gara-gara persyaratan yang miskin mereka punya. Sebaliknya, bantu mereka untuk melengkapi. Kesediaan untuk mengulurkan diri lebih panjang seperti inilah yang kelak akan mengikat pengusaha tersebut sebagai nasabah loyal.

Dari paparan di depan, titik kritis yang mesti diantisipasi kalangan perbankan adalah aspek-aspek fasilitasi di luar core business perbankan. Ini yang tidak gampang. Bank dituntut menjadi konsultan yang menghubungkan pengusaha franchise dengan pihak-pihak dan hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan bisnisnya. Maka, bank pun diajak untuk membuka jejaring bisnisnya kepada nasabah: dengan ahli pemasaran, dengan ahli hukum bisnis, dengan akademisi, dll. Pelayanan yang interdisipliner ini nilai tambah bank untuk memenangi hati nasabah. Tentu, aspek ini masih sangat sederhana. Banyak aspek lain yang perlu juga dicermati, mengingat kompleksitas aspek bisnis sebagaimana dipaparkan di depan.