Menjadi Warga Jogja

2 Comments

Sebagai warga Jogja, saya sedang tertegun menatap diri. Menata hati, merapikan pikiran. Dua hal mengganjal. Satu, RUU Keistimewaan tidak segera disahkan DPR. Salah satu akibatnya, dua, kelanjutan pemerintahan provinsi ini yang akan berakhir 9 Oktober nanti juga terkatung-katung.

Itu soal teknis saja. Hanya butuh ketuk palu untuk menyelesaikannya. Palu politis.

Yang bikin saya tertegun adalah perlakuan pemerintah pusat atas provinsi yang kerajaan ini. Bagaimana saya mesti merespons ya?

Marah-marah? Tiada guna.

Ngambek? Ups, kayak bocah cilik aja.

Diam? Maaf, tidak zamannya lagi. Diam bukan emas. Diam berarti tertindas.

Saya sedang tertegun. Saya warga Jogja, yang kebetulan warga Indonesia. Saya mencintai Indonesia, tapi jauh mencintai Jogja. Dan merindukan Jogja yang tetap Indonesia.

Advertisements

Kenapa?

Leave a comment

Saya sedang belajar bertanya. Bukan untuk mencari jawaban, dan apalagi kepuasan. Bukan pula untuk mengafirmasi jawaban yang saya punya dengan kemungkinan jawaban akibat pertanyaan itu.

Dan ternyata bertanya itu tidak selalu mudah. Saya sempat mengira, sebuah pertanyaan yang sulit, yang membuat orang sudah untuk menjawab, adalah pertanyaan yang bagus. Sebaliknya, pertanyaan yang hanya bikin orang tertawa, tanpa menjawab, atau menjawab sekenanya, atau menjawab dengan gampang, tidak bisa disebut sebagai pertanyaan yang baik.

Pertanyaan-pertanyaan yang sedang saya pelajari adalah sederet kata yang bisa mendongkrak imajinasi, jauh daripada sekadar menyingkap ingatan. “Kenapa”, bukan “apa”. “Kenapa” mengajak berpikir, sedang “apa” sekadar menyortir. Tentu saya lebih bergairah untuk berpikir ketimbang menyortir.

“Kenapa” adalah pisau yang sangat tajam jika diasah. Daya imajinasi pertanyaan ini sungguh luar biasa. Ia bisa mengupas masa depan, menguliti sesuatu yang abstrak sekalipun. Banyak pemikir dunia yang diantarnya ke padang persemaian wawasan yang maha luas. Dunia ber-revolusi berkat gugatan-gugatan yang menolak menerima keadaan semata sebagai keniscayaan.

“Kenapa bulan tampak kecil?”

Karena jauh.

“Kenapa kita tidak mendekat supaya bulan tampak besar?”

Kenapa tidak?

Lalu manusia sampai ke bulan. Lalu manusia merevisi ilmu pengetahuan. Lalu manusia mempertanyakan hakekat hidup: kenapa?

Solentiname, Kakiku Berdiri di Mana?

1 Comment

Tertunda, kesegeraan saya menulis tentang Fernando Lugo Mendez. Presiden Paraguay ini begitu inspiratif. Ia menjadi presiden pertama yang tidak menerima gaji. Kakinya berdiri untuk orang miskin. Dan istana tak akan mencerabut pijakan itu. Ia berjanji.

Lugo mengingatkan saya pada Uskup Romero di El Salvador. Ia yang kemudian menjadi salah satu simbol teologi pembebasan, begitu gigih melawan penindasan yang dilancarkan oleh penguasa brutal di negerinya. Dipengaruhinya para militer untuk menolak perintah Jenderal Carlos Humberto untuk membunuh warga miskin tak berdaya. Ajakan 23 Maret 1980 itu ia lontarkan karena pada periode 22-29 Oktober 1979, militer telah membunuh sebanyak 100 orang miskin di perkampungan Solentiname.

Apa yang kemudian terjadi? Uskup Romero dibunuh oleh junta. Ia ditembak tepat di ulu hati tatkala sedang menghunjukkan misa kudus. Saat sedang konsekrasi, persatuan tubuh dan darah Kristus, ia meregang nyawa oleh penembak jitu yang menyelinap di kapel. Tentu saja, kematiannya mengobarkan semangat perlawanan yang besar.

Di negeri ini, bukan tidak pernah ada rohaniwan yang punya keberanian seperti dia, yang keberpihakannya pada kaum tertindas begitu kental. Mereka tidak sembunyi di balik bangunan gereja, berkhusuk dalam doa seperti kaum Farisi di depan tabernakel, dan menikmati singgasana jabatan klerus. Pernah ada YB Mangunwijaya Pr yang begitu getol membela warga Kedungombo. Kakinya sungguh-sungguh di tengah korban penindasan rezim Soeharto kala itu. Keberaniannya melampuai tugasnya.

Yang setingkat uskup, ada Uskup Agung Medan Mgr Pius Datubara OFMCap dan Uskup Amboina PC Mandagi MSC. Pius dikenal berani menolak berdirinya kembali Indorayon. Pada 2003, Ia gigih menentang perusakan alam yang akan diakibatkan perusahaan pengolah bahan kertas itu. Kekeringan yang sudah menghisap sumber kehidupan rakyatnya membuatnya tergerak untuk melawan! Demikian juga Mandagi. Ia berdiri di depan untuk merampungkan kerusuhan berbau SARA yang metelus Januari 1999 di Ambon.

Apa yang menarik bagi saya? Bahwa Gereja turut ambil bagian dalam penyelesaian persoalan sosial dunia. Gereja tidak berpangku tangan, seolah tuli, dengan jerit penderitaan bangsa-bangsa. Demikian juga para rohaniwannya, bersedia menjadi pelayan dalam arti sesungguhnya. Berani ambil sikap, berani pula menghadapi risiko.

Contoh-contoh terakhir, para rohaniwan itu, masih tetap bernaung di bawah payung Gereja. Mereka masih berjuang dengan membawa atribut keagamaan. Baik saja, sejauh membawa perubahan yang lebih baik. Sedangkan Lugo memilih “cuti”. Ketika atribut kerohaniawanannya tidak membuatnya leluasa berjuang, ia memilih untuk mundur dari jabatan uskup, dengan tetap menjalani kehidupan selibat dan religius, dan memasuki ranah politik praktis. Ia memutuskan untuk memasuki dunia gelap yang diperanginya. Saya berdoa, semoga kakinya tetap berpijak untuk kaum miskin. Semoga ia tetap setiap dalam panggilannya….

Saya merindukan Gereja Indonesia yang kakinya berpijak pada kaum miskin, bukan Gereja yang ribut persoalan remeh-temeh seperti Tata Perayaan Ekaristi. Bukan Gereja yang sibuk mendirikan gereja sekadar untuk melarikan diri dari persoalan duniawi. Saya merindukan Gereja, termasuk imam, bruder, suster, yang tidak dremimil dalam mendaraskan doa tapi tak punya nyali memanggul salib Kristus.

Juga, rindu uskup yang ketajaman imannya menuntunnya berdiri di depan, menegakkan keadilan, memperjuangkan kesejahteraan seluruh bangsa, menjaga peradaban lingkungan supaya lestari… Bukan uskup yang sibuk ngurusi pastor-pastor manja yang tidak mau kerja kalau nggak ada duit dan fasilitas, yang ogah kerja di pedalaman, yang gila hormat, yang maunya cuman mimpin misa… Singkirkan saja rohaniwan macam itu. Dunia butuh murid Kristus yang radikal dan militan seperi Lugo, Romero, Mangun…

Ide Itu Berlimpah

2 Comments

Alam raya ini luar biasa. Ide yang tak pernah habis digali. Keindahan yang tak pernah kering dinikmati. Rumah yang tak pernah sepi ditinggali. Sahabat yang setia memberi energi.

Saya sedang heran dengan sekeliling saya.

Pada teman yang suatu pagi mengeluh, “Saya tidak punya ide.” Lalu ia merangsek di meja pertemuan, dalam pertemuan kecil setiap pagi di kantor, tanpa api sama sekali. Malam seperti telah memadamkannya. Ia tidak tahu apa yang akan ia kerjakan hari itu. Mesti mencari sumber ide dari mana, tak tahu pulalah ia. Sepanjang briefing, ia hanya duduk diam. Matanya menyorot tajam, tapi kosong. Mulutnya tak punya kata-kata. Tangannya dingin seperti habis direndam hujan. Tidak mengangguk, tidak pula duduk tegak, mungkin tulang belakangnya bagai benang basah yang mati-matian diusahakan tegak.

Benarkah ide itu jauh di seberang samudera sana? Yang tak bisa dihadirkan di sini dan kini? Yang tak terjangkau? Yang muskil?

Alam raya tidak pernah pelit. Ia membagi rata cahaya, meski hanya punya satu matahari. Dan cahaya itu menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang yang paham betapa dahsyatnya energi panas yang dipancarkannya. Lalu menjadi sumber listrik, sumber kehangatan, dan sumber semangat. Semua orang berhak disinari matahari, tapi hanya sedikit yang mengunduh sinarnya untuk melipat bayangan kegagalan, kebodohan, dan kemunduran. Yang sedikit itu lalu justru menggelarnya untuk mengerek kreativitas, kecerdasan, dan kemelesatan.

Mengapa bisa datang ke tempat kerja tanpa ide? Tidakkah ketika meninggalkan rumah bertemu dengan sesuatu? Tidakkah sepanjang perjalanan bersliringan dengan berbagai-bagai rupa dan warna? Dan, tidakkah sumber pengetahuan itu terbentang sedemikian rupa sejak dari tutup botol, samak buku, kotoran lalat, pencarian manuskrip, panen budi, hingga dusta para pencoleng? Ketemu orang itu ide. Baca buku itu ide. Bunga di latar rumah itu ide. Jaksa yang pada ngrampok duit negara itu ide. Anggota DPR yang ternyata komplotan maling juga ide. Pengemis yang pura-pura kusta itu ide. Anggaran pendidikan yang baru direalisasikan 20% dari APBN itu ide. Ike, Hanna, dan Gustav, nama temen-teman saya, yang tiba-tiba mengamuk di Amerika dan Kuba, ide pula itu. Hah!

Ide tertelecek di mana-mana. Nggak percaya? Tanya Mas Arief Budiman, seorang penjual ide segar, yang berhasil mengkristalkan ide menjadi portfolio perusahaan periklanan papan atas. Di luar dia, sebelum dia, dan kelak sesudah dia, pasti banyak orang yang juga memanen buah-buah ide yang tak habis diunduh ini.

Ide itu gratis. Orang cerdas memetiknya secara gratis. Sekaligus menanam, supaya orang lain kebagian pula. Alam raya menyediakannya secara melimpah. Panenan banyak, tapi pekerja sedikit. Ide melimpah, tapi kreator sedikit.

Kalau betul-betul kehabisan ide, bukankah ini olok-olok pada kita yang katanya beriman?

Saban Taon Kok Antri

Leave a comment

Kesibukan kami menjelang Lebaran, setiap tahun, adalah antri tiket di stasiun. Untuk siapa? Untuk saudara yang mau pulang kampung. Kami akan dipesenin tiket untuk kembali ke Jakarta. Supaya tiket bisa kami dapat, antri sejak dinihari pun kami lakoni. Sambil terkantuk-kantuk, kami duduk di emperan loket reservasi, syukur ada tenda yang melindungi kami dari embun. Sampai matahari meninggi ketika loket dibuka.

Kali ini dua kali kami mengantri. Pertama, untuk tiket dari Jakarta, kedua, untuk tiket kembali dari Jakarta. Ya, yang pertama mesti kami pesankan di sini karena reservasi di Jakarta nyaris selalu berjubel dengan calon pembeli dan calo. Setelah tiket ada dalam genggaman, segera kami kirim ke Jakarta melalui paket logistik. Beginilah, meski sudah on-line, tapi mesti pinter-pinter memilih kota tujuan untuk mengantri. Lho, kalau on-line kan sama saja? Satu tempat habis, seluruhnya habis. Benar. Tapi, yang beda adalah antrinya. Di sini antri lebih pendek. Malah, tadi pagi, saya mendapatkan tiketnya di ticket agent. Saya terpaksa mruput ke sana karena Bapak saya yang sudah mengantri di stasiun sejak selepas subuh, mendapatkan antrian nomor 350. Walah, mau sampai sore apa?

Inilah sisi lain Lebaran. Demi saudara yang mau pulang, bagaimana lagi, kami mesti rela mengantri. Tapi hati ini tetap saja ndongkol. Lha wong ritual mudik-balik Lebaran sudah berlangsung puluhan tahun, kok ya masih ada model antri seperti ini. Lha wong sepanjang waktu teknologi makin canggih, kok ya belum ada model pembelian tiket yang lebih ringkas.

Bagaimana ini? Apa sebenarnya kerjaan PT Kereta Api Indonesia kok persoalan yang sama selalu berulang. Ibarat kaset, kedengarannya bahkan sudah seperti kaset kedinginan. Wong mereka memonopoli bisnis ini kok tak bisa mengatasi persoalannya. Mbok ya berbenah. Menteri Perhubungan juga tuh: perbaiki sistem transportasi nasional. Jangan hanya kalau mau pada mudik aja. Sepanjang tahun mestinya begitu.

Tanpa Pesta, Hidup Ini Sudah Pesta

4 Comments

Sudah beberapa waktu saya tidak membuka blog Mas Yusran. Pagi ini saya merindukannya. Blog jenderal wartawan ini selalu inspiratif buat saya. Tulisannya menarik. Ulasannya tajam. Pilihan sikapnya jelas. Tak berlebihanlah saya menjulukinya “jenderal wartawan”. Apalagi setelah dia (ah, nggak enak memang sebagai orang Jawa memilih kata ini, tapi nggak nyaman justru ketika saya ganti “beliau”) dikado penghargaan sebagai Polisi Kehormatan oleh Polri. Hmmm, dia masih punya waktu untuk menulis di blog, di sela kesibukannya mabur-mabur dari satu kantor ke kantor lain beda kota. Ya, dia benar-benar menghidupi profesinya.

Lalu, saya terkesima oleh satu postingnya. Sultan HB X mantu, kala itu. Saya tidak diundang, wong tidak kenal. Sultan tidak kenal, apalagi anaknya. Saya hanya kenal Sultan sebagai Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dia raja saya. Hormat saya padanya lebih tinggi daripada kepada pimpinan republik ini.

Tapi, di luar soal undangan itu, pada dasarnya saya memang tidak suka pesta. Mau sih sesekali datang ke pesta, tidak menolak sama sekali, namun pada dasarnya saya tidak suka. Pesta yang melibatkan demikian banyak orang, dengan acara yang super meriah, dengan segala kemegahannya, lebih sering membuat saya kesepian. Pesta yang ingar-bingar kerapkali mengasingkan saya dari dunia nyata.

Yang membuat saya tidak suka dengan pesta adalah perubahan penampilan yang harus saya sesuaikan. Dan ini seringkali bikin ribet. Untuk urusan senang-senang saja kadangkala butuh waktu lama saat memilih baju, menyiapkan kado, menjaga penampilan, dan seterusnya. Tidak nyaman. Tidak menjadi diri sendiri, yang tampil apa adanya sebagaimana keseharian.

Saya tahu, mereka yang datang ke pesta itu, ada yang sependapat dengan saya. Namun, hubungan kekeluargaan, status sosial, jabatan pekerjaan, relasi bisnis, dan lainnya acap memaksa mereka untuk patuh pada norma sosial yang disepakati. Bahwa untuk menjaga kedekatan, mau nggak mau harus datang.

Bersyukurlah saya tidak memiliki satu di antaranya. Entah jika kelak saya seperti mereka. Mungkin susah untuk mengelak. Saya sekarang masih bisa menentukan pilihan secara bebas. Tidak ada beban atas predikat yang saya sunggi.

Maka, begitu Mas Yusran menawari saya untuk ikut serta ke pesta itu, saya menolaknya. Selain karena ada pekerjaan lain yang lebih penting, rasa malas itu juga erat mencengkeram tengkuk saya. Ah, ngapain pula nanti di sana? Paling cuma duduk, makan, bersalaman, berfoto, pulang. Sudah, kembali.

Saya tidak suka pesta. Dalam hal apa pun.  Saya merasa terusik setiap ada pesta. Terusik karena kondisi sekitar saya, bangsa ini, masih ampuuuun mlaratnya. Saya termasuk di lingkaran dalam kemelaratan ini. Maka, ketika dalam merayakan kemerdekaan negeri ini pun orang berpesta, saya berontak. Tidak pantas.

Nepakke. Maka, ketika saya menikah pun tidak ada pesta. Bahwa ada makan siang, karena acara kami memang berakhir di waktu makan siang. Sedulur-sedulur yang kami undang di Solo pun hampir seluruhnya dari luar kota, terutama Jogja. Sekadarnya saja. Sebab, bagi saya, sepanjang hidup ini adalah pesta. Gusti menggelar pesta setiap hari. Meriah. Pestanya sangat lengkap. Pesta bangun pagi, pesta layat, pesta bertemu teman lama, pesta… Ah, tanpa pesta, hidup tetap saja pesta.

Tentu saja saya tidak hendak membandingkan dengan Sultan. Sultan seorang raja, tokoh nasional, punya relasi begitu luas. Lagi pula ia ikon budaya, pelestari tradisi Jawa. Tentu dilematis bagi Sultan. Mau pesta, kondisi rakyatnya masih miskin. Mau sederhana, tanpa upacara ritual, lalu siapa yang akan nguri-uri kebudayaan leluhurnya? Pesta kemarin, menurut saya, penuh kompromi.

Pertamina, Pengganti Sarimin di Ledhek Munyuk

6 Comments

Pertamina kembali polah. Ia menaikkan harga elpiji semau gue. Saat masyarakat sedang terhimpit oleh kesulitan hidup, Pertamina nambah gencetan dengan mengatrol harga jual gas 12 kiloan dari 63 ribu jadi 69 ribu.

Price of ELPIJI 3 Kg Maintained; New Price of ELPIJI 12 Kg and 50 Kg

Jakarta, Sunday, August 24 2008 (17:30)
Effective by August 25, 2008, the retail prices for Elpiji 12 kg was rose from Rp.5.250,-/kg to Rp.5.750,-/kg (about 9,5 %) or rose from Rp. 63.000,-/canister to Rp.69.000,-/canister.
The discount of Retail price for Elpiji 50 Kg was also reduced from 15 % to 10 % or from Rp 6.878,-/kg to Rp.7.255,-/kg. This made the price of Elpiji 50 kg rose from Rp.343.900,-/canister to Rp 362.750,-/canister.

Kontan rakyat menjerit. “Gila loe ya, Min!” sungut orang-orang sambil sekenanya memanggil Pertamina sebagai Sarimin, tokoh utama ledhek munyuk yang suka keliling permukiman kumuh.

Belum lagi hati ini gelagepan dan mlongo tiada henti, kita dikecewakan oleh hilangnya pasokan elpiji di banyak tempat. Gubrak! Sudah mahal, tak ada barang pula. Sontoloyo tenan Sarimin ini. Sak kepenake wudele dewe.

Di titik ini, saya bisa merasakan kemarahan tetangga-tetangga yang tak henti ngomeli ulah bakul minyak ini.

Tak habis pikir pula saya. Bagaimana bisa negara yang kaya minyak ini tergelincir minyak di kilang sendiri. Tak habis pikir saya. Wong bahannya gratis, tinggal sedot, kok mengelola saja nggak bisa. Ndah po, gayane orang-orang Pertamina dan orang-orang migas itu kemlinthi-nya minta ampun. Mbagusi. Mereka merasa sebagai kalangan paling top. Petentang-petenteng sok hebat. Padahal nggak becus. Gaji tinggi, otak jongkok. Pinter, kaya, tapi tak punya hati. Berteknologi canggih, tapi makin kehilangan kemanusiaan. Ganti logo, ganti baju, tapi jiwanya sama saja lapuk. Mau untung sendiri, abai pada rakyat, abai pada ratusan generasi penerus yang juga punya hak atas hidup dan jagad raya ini.

Presiden SBY sampai menegur mereka? Ah, saya nggak gumun. SBY sama saja. Gertakannya gemeretak di depan pengeras suara dan media saja. Selebihnya tak punya kekuatan apa-apa. Lihat saja. Menteri jalan sendiri-sendiri. Pejabatnya rebutan menjual diri. Lihat saja. Ini bukan sekali terjadi. Para peminum minyak pasti mencari celah supaya bisa menangguk untung dari sumur bor mereka. Ditegur Presiden mah buat mereka selingan aja. Idep-idep latihan mengendalikan hawa nafsu, mumpun puasa. Latihan gundulmu itu! Situ latihan, kami yang babak belur.

Kalau Pertamina tetap nggak becus urus hajat hidup orang banyak, mending latihan jadi Sarimin aja, malah dikuntit anak-anak. “Sarimin pergi ke pasar. Jualan elpiji thung… thung… thung… e elpijinya nggeblas. Sarimin pulang ke rumah. Kompor mati. Elpiji habis. Nanak nasi tak jadi-jadi.” Hehehe, lucu kali ya kalau tokoh Sarimin itu kita ganti nama jadi Pertamin. Tanpa a. Pertamin!

Min… Min…  Kok kentutmu bau elpiji ya…

Older Entries