Republik sedang galau. Persis ABG. Pejabatnya suka meracau, rakyatnya suka melow-melow. Goyang dombret rame-rame. Asal asoi.

Korbannya anak-anak sekolah. Mereka dicekoki dengan ritual takhayul bernama UN (ujian nasional). Mengapa takhayul?

Ujian adalah tahapan biasa, sangat biasa, dalam suatu proses pembelajaran. Entah sekolah, lebih-lebih hidup, ujian itu satu paket dengan pembelajaran.  Dan banyak sekali ujian di kehidupan ini: termasuk ujian SIM.

Lucunya, ujian di dunia pendidikan formallah yang paling heboh. Seolah-olah pendidikan formal itu instrumen paling yahud dalam penentuan keberhasilan seseorang-sebangsaan. Selain ujian nasional, ujian sertifikasi guru juga tak kurang ributnya.

Sebagai sebuah ritual takhayul, UN ditempatkan layaknya pohon beringin yang keramat. UN harus disembah supaya penyembahnya tidak kesurupan. Kemenyan-dupa disulut supaya aroma mistis merebak. Lampu petromaks diredupnya supaya kesan singup didapatkan. Sajen kembang tujuh rupa berupa soal-soal yang disegel pun dijaga punggawa nagari bersenjatakan bedil.

Tak kurang, mantra-mantra magis pun dilitanikan, “Persiapkan diri kalian! Kerjakan dengan jujur! Yang tidak lulus tidak beroleh ijazah.” Koran mengutip mantra itu besar-besar. Televisi menyorot mulut-mulut pejabat yang komat-kamit melafaskannya. Radio memperdengarkan lagu-lagu penyayat hati pengiris ulu.

Alhasil, anak-anak jempling-jempling saat doa bersama menghadapi UN. Mereka takut bukan kepalang jika Tuhan Maha Besar yang dimohoni tak meluluskan doanya. Takut durhaka, mereka pun sujud sungkem ke lutut guru dan orangtua, berharap semua dosa terampuni sehingga semua soal terjawab.

Masyaallah, kenapa jadi begini? Pendidikan yang mestinya menginspirasi dan menggembirakan berbalik menjadi sedemikian menakutkan? Mau jadi apa negara ini kalau kelak dipimpin oleh generasi takhayul?

Pendidikan itu mencerahkan nalar, memelekkan rasa, mengasah menempa mental, melecut etos, menekuni proses, memperjuangkan hasil secara utuh dan simultan. Bukan menyembah berhala secara sesat dan sesaat.

Yogyakarta, 16 April 2012

AA Kunto A

[http:/www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@solusiide.com]