Sebagai warga Jogja, saya sedang tertegun menatap diri. Menata hati, merapikan pikiran. Dua hal mengganjal. Satu, RUU Keistimewaan tidak segera disahkan DPR. Salah satu akibatnya, dua, kelanjutan pemerintahan provinsi ini yang akan berakhir 9 Oktober nanti juga terkatung-katung.

Itu soal teknis saja. Hanya butuh ketuk palu untuk menyelesaikannya. Palu politis.

Yang bikin saya tertegun adalah perlakuan pemerintah pusat atas provinsi yang kerajaan ini. Bagaimana saya mesti merespons ya?

Marah-marah? Tiada guna.

Ngambek? Ups, kayak bocah cilik aja.

Diam? Maaf, tidak zamannya lagi. Diam bukan emas. Diam berarti tertindas.

Saya sedang tertegun. Saya warga Jogja, yang kebetulan warga Indonesia. Saya mencintai Indonesia, tapi jauh mencintai Jogja. Dan merindukan Jogja yang tetap Indonesia.