Kesibukan kami menjelang Lebaran, setiap tahun, adalah antri tiket di stasiun. Untuk siapa? Untuk saudara yang mau pulang kampung. Kami akan dipesenin tiket untuk kembali ke Jakarta. Supaya tiket bisa kami dapat, antri sejak dinihari pun kami lakoni. Sambil terkantuk-kantuk, kami duduk di emperan loket reservasi, syukur ada tenda yang melindungi kami dari embun. Sampai matahari meninggi ketika loket dibuka.

Kali ini dua kali kami mengantri. Pertama, untuk tiket dari Jakarta, kedua, untuk tiket kembali dari Jakarta. Ya, yang pertama mesti kami pesankan di sini karena reservasi di Jakarta nyaris selalu berjubel dengan calon pembeli dan calo. Setelah tiket ada dalam genggaman, segera kami kirim ke Jakarta melalui paket logistik. Beginilah, meski sudah on-line, tapi mesti pinter-pinter memilih kota tujuan untuk mengantri. Lho, kalau on-line kan sama saja? Satu tempat habis, seluruhnya habis. Benar. Tapi, yang beda adalah antrinya. Di sini antri lebih pendek. Malah, tadi pagi, saya mendapatkan tiketnya di ticket agent. Saya terpaksa mruput ke sana karena Bapak saya yang sudah mengantri di stasiun sejak selepas subuh, mendapatkan antrian nomor 350. Walah, mau sampai sore apa?

Inilah sisi lain Lebaran. Demi saudara yang mau pulang, bagaimana lagi, kami mesti rela mengantri. Tapi hati ini tetap saja ndongkol. Lha wong ritual mudik-balik Lebaran sudah berlangsung puluhan tahun, kok ya masih ada model antri seperti ini. Lha wong sepanjang waktu teknologi makin canggih, kok ya belum ada model pembelian tiket yang lebih ringkas.

Bagaimana ini? Apa sebenarnya kerjaan PT Kereta Api Indonesia kok persoalan yang sama selalu berulang. Ibarat kaset, kedengarannya bahkan sudah seperti kaset kedinginan. Wong mereka memonopoli bisnis ini kok tak bisa mengatasi persoalannya. Mbok ya berbenah. Menteri Perhubungan juga tuh: perbaiki sistem transportasi nasional. Jangan hanya kalau mau pada mudik aja. Sepanjang tahun mestinya begitu.