Hidup untuk belajar. Belajar untuk hidup.

Bagaimana memecahkan rahasia ini? “Untuk apa kita hidup?” tanya manusia muda. Untuk belajar. “Untuk apa kita belajar?” tanya manusia muda lainnya. Untuk hidup.

Kepada orang-orang muda, kerap didengungkan jargon-jargon tentang perlunya belajar. Belajar membaca. Belajar menulis. Belajar berhitung. Belajar menggambar. Belajar mewarnai. Belajar merangkai.

Supaya kelak jadi orang. Orang yang dewasa. Orang yang bijaksana, lebih dari sekadar cerdik pandai. Orang yang wicaksana, lebih dari sekadar wasis.

Belajar di sekolah. Belajar di perguruan tinggi. Dengan buku. Dengan mesin hitung. Beroleh ijazah. Beroleh status sosial.

Padahal sekolah mahal. Padahal harga buku tak selalu terjangkau. Padahal angka kerap dimanipulasi. Padahal tidak banyak guru yang layak digugu dan ditiru.

Di luar sekolah ada juga tempat belajar. Ada sanggar. Ada sekadar sekumpulan orang yang berbincang-bincang. Pada warung kopi. Pada pos ronda. Juga di bawah tenda angkringan. Ah, yang di dalam penjara pun ikut belajar.

Pengetahuan hasil belajar mengendap di kepala, mendarah daging dalam tindakan, dan mengalir dalam olah rasa. Tak berwujud, namun bisa diwariskan. Orang bisa dikenali dari wawasannya. Orang bisa dikenali dari buku yang dibacanya. Kelihatan, siapa belajar siapa hidup sekadarnya.

Lalu, kembali lagi, untuk apa manusia belajar? Hanya untuk dikenali? Hanya untuk tidak hidup sekadarnya?

Apakah keliru jika hidup dijalani sekadarnya? Jika tanpa belajar?

Rahasia kehidupan, siapa yang mau menjawab?

Kaliurang, 26 Februari 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]