”]Dalam deru hujan, sore kemarin, kami bertemu. Hujan itu rejeki, karenanya kami sambut dengan suka ria. Pada hujan itu kami serap air-air kesegaran.

Dalam lebat hujan, kami menyantap jenang sumsum. Juruh pemanis kami tuang secukupnya. Satu gelas untuk satu tubuh. Ditemani teh manis panas, kehangatan kembali merasuk ke raga. Bersama Pak Ketua RT dan tokoh warga Baciro, kami duduk melingkar. Di kursi, bukan di atas tikar.

Itu jenang Gus Dur, lebih dari sekadar jenang sumsum. Jenang Gus Dur lezat rasanya. Takarannya cekap, rasanya cakep. Jenang putih bercampur juruh coklat. Lalu menjadi putih yang coklat, dan coklat yang putih.

Jenang Gus Dur kami santap untuk memulihkan tenaga, demikian orang-orang yakini akan makna jenang sumsum. Perhelatan akbar nan sederhana usai saja kami gelar, mengenang 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid. Pekan lalu, serangkaian acara kami langsungkan di Gedung Galangpress Center. Ada pengajian dan misa, ada pula peluncuran buku “Gus Gerr” (Pustaka Marwa, 2010) dan peresmian Perpustakaan Guru Bangsa Gus Dur.

Sultan HB X berkenan hadir. Sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan menggunting pita dan membanting kendi sebagai tanda warisan pengetahuan Gus Dur bergerak ke seluruh negeri. “Nah, ngene iki sing ta karepke [Nah, seperti ini yang saya mau],” celetuk Sultan, seperti dituturkan Pak Andoyo, tokoh warga yang berada di dekat Sultan kala itu. Saya tidak mendengar langsung, karena sebagai pembawa acara, posisi berdiri saya di luar lingkaran Sultan yang didampingi adik Gus Dur, KH Hasyim Wahid.

Mencoba menangkap ungkapan Sultan, kiranya ada banyak cara dalam mengenang Gus Dur. Salah satu cara yang dipilih Galangpress adalah menerbitkan buku dan meluncurkan perpustakaan keliling. Ini sebuah upaya menerjemahkan visi keilmuan Gus Dur, bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan. Buku adalah salah satu medianya. Dan perpustakaan keliling adalah media penjangkaunya.

Mobil itu bergambar Gus Dur. Penuh. Isinya macam-macam. Selain buku tentang Gus Dur, ada ribuan buku lain dengan tema bervariasi. Ini persis Gus Dur. Dalam diri Gus Dur tidak hanya berisi Islam, NU, namun kemajemukan kehidupan. Maka, Gus Dur menjadi pribadi yang nyaman untuk ditinggali semua orang. Begitu pun, perpustakaan keliling ini, ingin menciptakan kenyamanan membaca bagi semua orang.

Gus Dur sudah kembali ke tanah. Makamnya terus saja diziarahi ribuan manusia. Ribuan acara digelar untuk mengenangnya. Tanah basah di Jombang itu sepertinya tak pernah kering di hati umat.

Dan kemarin sore, Gus Dur telah menjadi jenang sumsum. Gus Dur telah memulihkan tenaga kami, jiwa kami, jiwa kita, untuk kembali bekerja, meneruskan cita-citanya menjaga bangsa dan memerdekakan manusia sesejatinya.

Jogja, 18 Februari 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com, http://www.aakuntoa.wordpress.com]