Sudah berapa kali Anda donor darah?

Pertanyaan menggelitik ini datang dari Jusuf Kalla, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). Sejak mengetuai organisasi kemanusiaan ini, JK memang langsung menggebrak. Hmmm, khas JK. Langsung bergerak, langsung mengajak. Hasilnya, pemberitaan tentang PMI langsung membombardir media belakangan.

Bagi JK, donor darah harus menjadi gaya hidup. Orang harus merasa malu jika tidak pernah donor darah. Tentu ini berlaku mereka mereka yang memenuhi syarat donor. Tidak berlaku bagi mereka yang menderita sakit tertentu, atau berat badan tidak mencapai angka minimal.

Mal, masjid, dan gereja diusulkan JK menjadi tempat donor darah. Televisi pun ia minta untuk menyediakan slot iklan sebagai wujud donor non darah. Ia pun membuka gerai PMI di mal, supaya mereka yang sedang berbelanja bisa mampir. “Kemarin kita adakan kegiatan di Senayan City. Saya tanya ke manajemen Senayan City, di situ dalam satu hari jumlah pengunjung mencapai 50.000 orang. Kalau satu persen saja yang donor darah, sudah dapat 500 kantong dalam sehari,” katanya.

Gebrakan Jusuf Kalla ini pantas disambut dengan tangan mengepal. Dengan satu kata, “Ya!” untuk donor darah. Betapa tidak. Tanpa keikutsertaan kita semua, dari mana persoalan kemanusiaan yang satu ini bisa diurai? Rasakan data ini: dari kebutuhan 4 juta kantong darah per tahun, baru 1,7 kantong terpenuhi. Sisanya? Bisa mati, bisa hidup dalam derita berkepanjangan.

Memberi Tanpa Kehilangan

Donor darah mengajari saya pengertian ungkapan ini “memberi tanpa kehilangan”. Satu kantong, 350 cc, darah yang disedot dari tubuh saya, ternyata tidak berarti kehilangan bagi saya. Justru yang hilang ini memungkinkan berlangsungnya pembaruan sel darah di tubuh kita. Hilang berarti membarui. Hilang dan akan kembali.

Itu penjelasan matematis-biologisnya. Sedangkan di balik itu, ada filosofi yang sangat mendalam, betapa donor bukan semata aspek darah, namun juga nyawa. Johanes F Koraag, seorang pendonor yang telah lebih 80 kali menghibahkan darahnya kepada orang lain, dalam bukunya “Berbagi Nyawa” (Pustaka Marwa, 2010) menegaskan ini. Darah adalah bagian penting kehidupan kita. Darah adalah kehidupan itu sendiri. Darah dan kehidupan tidak terpisahkan.

Maka, bagaimana bisa orang melepaskan darahnya untuk orang lain sementara darah itu kehidupannya? Inilah misterinya. Saat darah diambil dari tubuh kita, perasaan kehilangan itu bisa lenyap seiring dengan senyum keluarga pasien yang kita sumbang.

Dalam pengalaman, setiap mendonor, saya merasa ada kebahagiaan yang tak dapat digantikan apa pun. Bahagia. Apalagi klo kelak tahu bahwa pasien yang menerima darah kita itu sehat dan bahagia. Rasa bahagia ini jauh melebihi apa pun. Satu nyawa terselamatkan…

Karena golongan darah saya langka, yakni AB, saya memilih untuk mengutamakan donor darah untuk kondisi darurat. Panggilan tengah malam, atau dini hari kala telah tidur pulas, atau waktu hujan, adalah konsekuensi yang saya ambil. Saya belajar ini dari banyak orang di sekitar saya yang begitu tulus menyediakan lipatan sikunya ditusuk jarum. Rasa lelah, kantuk, dan kadang malas itu, syukurlah, bisa saya tepis saat mengingat betapa lelah dan kantuk keluarga pasien lebih berlipat dari saya. Juga, betapa setiap pasien ingin lekas keluar dari derita yang mereka pikul.

Saya memiliki darah ini secara cuma-cuma, maka membaginya kepada sesama pun cuma-cuma. Ini sekaligus menegaskan kepada semua pihak untuk tidak berhubungan dengan vampire atau calo penghisap darah yang memang suka berkeliaran mengepung keluarga pasien yang sedang kalut. Keluarga hanya perlu menyediakan dana untuk pemeriksaaan darah di laboratorium. Dan memang tidak murah.

Jika sampai dengan masa 3 bulan tak ada panggilan darurat hinggap ke telepon genggam saya, saya menjadi pendonor sukarela di PMI atau di ajang donor darah masal. Ini saya lakukan dengan pertimbangan kesehatan saya sendiri. Supaya sel darah saya berganti dengan yang baru, donorlah solusinya. Untuk pemilik darah A, B, dan O, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari AB, saya sarankan membiasakan donor darah. Malulah pada diri sendiri dan lingkungan kalau tidak pernah donor darah.

Selamat jadi sukarelawan donor darah. Selamat menempuh gaya hidup baru: donor darah!

Jogja, 22 Februari 2010
Salam AB,
AA Kunto A
[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com

]