Sore begitu teduh. Suasana pedesaan sangat terasa di kompleks perumahan itu. Sepi. Bahkan, anak-anak pun tak tampak berseliweran di jalanan. Mungkin, mereka sedang ke luar kota untuk merayakan tahun baru bersama keluarga. Satu-dua kendaraan saja melintas pelan di depan rumah.

Bendera setengah tiang berkibar lesu di halaman rumah. Sang Merah Putih sedang berduka. Satu guru bangsa telah tiada. Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 wafat dalam usia 69 tahun pada 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Dan sore itu, 3 jam setelah Gus Dur kembali ke pangkuan ibu pertiwi di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sang guru bangsa yang lain menemui kami di rumah itu. “Prof, turut berduka cita atas wafat Gus Dur,” salam pembuka kami begitu kami dipersilakan duduk di ruang tamunya yang tak cukup untuk menemui 10 orang itu.

“Dua minggu yang lalu Gus Dur ke sini, duduk di sana di atas kursi rodanya,” kata Prof Syafii Maarif, guru bangsa kita ini, sembari menunjuk arah depan persis di depan posisi duduk beliau. Dari cerita beliau, terasa betul kedekatan tokoh utama 2 organisasi besar Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, ini. Meski secara kultural dan ideologi organisasi berbeda, namun keprihatinan mereka terhadap kebangsaan sama.

Tersirat duka mendalam Prof Syafii atas kepergian Gus Dur. Karena waktu tidak nyandak, beliau tak melayat hari itu, baik di Jakarta maupun di Jombang. Baru lewat iklan di Harian Kompas, atas nama pribadi dan Maarif Institute, beliau menyampaikan ucapan turut berduka citanya. “Besok pagi (1 Januari), saya berangkat ke Jombang,” ujar beliau. Tak biasa seorang Muhammadiyah menempuh ziarah kubur.

Elit dan rakyat sama-sama tidak serius

“Bangsa ini penuh kepalsuan,” komentar Prof Syafii ketika George Junus Aditjondro, penulis buku Membongkar Gurita Cikeas (Galangpress, 2010) membeberkan banyak fakta temuannya, baik yang sudah dilansir lewat buku maupun masih ia simpan. George baru tiba dari Jakarta memenuhi undangan beberapa pihak berkaitan dengan buku yang menggegerkan politik Indonesia ini. Prof Syafii, yang memberikan pernyataan mendukung (endorsement) di buku setelah 183 halaman ini, ingin bertemu dengan penulisnya. Jadilah kami mengantar George ke kediaman Prof Syafii. Ternyata keduanya belum pernah bertatap muka. Meski belum pernah bertemu, baik Prof Syafii Maarif maupun Gus Dur, memberikan endorsement di buku yang di antaranya mengungkap fakta-fakta seputar dana kampanye Partai Demokrat, kepemilikan Harian Jurnas, dan aliran dana dari Budi Sampoerna ke tim sukses SBY ini.

Sejatinya, pertemuan sore itu akan melibatkan media massa. Undangan sudah disebarkan. Namun, karena sedang berkabung nasional, konferensi pers yang hendak kami gelar di kantor sebuah penerbit, kami batalkan. Beberapa tokoh yang hendak kami hadirkan pun urung bergabung. Jadilah, pertemuan sore itu kami pindahkan ke rumah Prof Syafii dengan agenda utama silaturahmi. Tanpa pernyataan Prof Syafii yang sedianya hendak mencegah pembelokan isu buku ini ke wilayah non-substansi buku. Yang kemudian disepakati, George diminta untuk diam sementara (cooling down), sehingga persoalan tidak merembet ke mana-mana. Permintaan ini lahir mengingat tragedi pemukulan George terhadap Ramadhan Pohan dalam sebuah diskusi di Jakarta, yang tentu saja justru memperkeruh suasana.

Lalu kami terlibat dalam obrolan ringan tentang banyak hal, terutama keprihatinan Prof Syafii atas kehidupan berbangsa kita. “Elit politik kita tidak serius,” kritiknya. Ketidakseriusan itu, menurut guru besar sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini, tampak dalam setiap langkah politik mereka. Maka, dalam konteks kasus Bank Century berikut panitia khusus yang dibentuk DPR, misalnya, beliau tidak yakin akan ada penyelesaian yang tuntas. Dari sumber-sumber yang beliau percaya, Prof Syafii menggugat kelakuan elit penguasa kita yang suka bermain topeng, sok bersih, dan tidak transparan terhadap rakyat. “Untuk apa mereka berbohong?” gugat mantan Ketua PP Muhammadiyah ini.

Kepentingan kelompok, bukan kepentingan bangsa, dan politik uang, sangat membuatnya khawatir. “Kenapa bangsa ini bisa rusak begini ya?” keluhnya seperti tidak bisa berbuat apa-apa.

Prof, sergah saya, bukankah rakyat kita juga tidak serius dala berbangsa? “Benar. Rakyat kita juga mulai tidak serius. Sekarang, kalau tidak ada uang, mereka tidak mau memilih. Gawat ini.” Prof Syafii seperti tidak lagi memiliki kata-kata.

Adzan Maghrib membungkus kesunyian ini. Kami beringsut pamit. Prof Syafii bersujud menjawab panggilan Ilahi. Semoga sang guru bangsa masih memiliki jalan pembebasan…

Jogja, 2 Januari 2010

AA Kunto A [aakuntoa@gmail.com]