Pekan lalu, 20-21 Oktober, saya berkesempatan menjadi pembicara dalam pelatihan “Analisis Titik Kritis Bisnis” untuk para manajer Bank Rakyat Indonesia se-Jabodetabek, Lampung, Jambi, dan Sumatera Selatan. Bertempat di Sentra Pendidikan BRI Gatot Subroto Jakarta, saya mengisi sesi bisnis waralaba berdasarkan buku Bisnis Franchise Modal 2 Juta (Indonesia Cerdas, 2009). Berikut rangkumannya:

buku inspiratif: Bisnis Franchise Modal 2 Juta

buku inspiratif: Bisnis Franchise Modal 2 Juta

Kalangan perbankan sedang gelisah. Mereka sedang berpikir keras untuk menyelamatkan bisnis perbankan yang sedang mengalami turbulensi. Kasus pengemplangan dana nasabah oleh Bank Century menjadi mimpi buruk yang menghantui siang dan malam mereka. Ketidaktegasan pemerintah, yang lewat LPS notabene menjadi pemilik Century, dalam kasus ini bisa jadi preseden buruk perbankan di hadapan nasabah. Kepercayaan publik kepada perbankan bisa rontok jika bank yang dimiliki pemerintah saja bisa berbuat sesuka hati.

Di luar itu, guncangan perekonomian global tak kalah menyeramkannya. Gara-gara ulah beberapa gelintir pelaku keuangan di Amerika Serikat, sektor keuangan kini dikecam habis-habis sebagai penyebab krisis global. Wajar jika kecaman pedas bersahutan. Dampak dari kecerobohan mereka, banyak industri di Eropa dan Amerika Serikat terpaksa mem-PHK karyawannya. Dimulai dari General Motor, perusahaan otomotif besar, yang gulung tikar, diikuti oleh beberapa kampiun lainnya, kini sekitar 630.000 perusahaan di Amerika Serikat mengantri untuk mendapatkan keputusan pailit.

Jika tidak hati-hati, badai krisis itu bisa melumat kita.

Sebaliknya, kehati-hatian yang berlebihan juga justru bisa menjerumuskan kita ke lumpur penghisap.

Sangat problematis. Namun, hidup tidak boleh berhenti. Tetap harus ada terobosan untuk berinovasi; setidaknya bertahan. Tetap harus ada keputusan yang berani. Inilah yang melatari pelatihan BRI. Sebagai salah satu bank pemerintah tertua dan terbesar, keberadaan mereka sudah sangat mengakar di masyarakat. Cabang mereka yang tersebar bahkan hingga ke kecamatan-kecamatan di seluruh pelosok Tanah Air merupakan modal sangat kuat untuk tetap mendapatkan kue dari masyarakat.

Nah, dalam pelatihan itu, para manajer yang berada di garda depan perusahaan, hendak mempelajari dan menganalisis bisnis-bisnis yang berpeluang untuk mereka biaya. Secara khusus, bisnis yang mereka bidik berskala mikro. Sebagai penerbit, tugas saya adalah memberi gambaran aneka jenis bisnis yang diminati masyarakat. Minat itu tampak dari antusiasme masyarakat melahap buku-buku peluang usaha yang diterbitkan oleh Penerbit Indonesia Cerdas (Galangpress Group) tempat saya bekerja sebagai editor. Tengoklah betapa larisnya buku-buku berjudul Untung Besar Modal 2 Juta, Untung Besar 80 Jutaan Duduk Doank, Berani Utang Pasti Untung, dan Bisnis Franchise Modal 2 Juta yang baru terbit dan menjadi acuan pembahasan. Ada kerinduan masyarakat menjadi pengusaha. Dalam segala keterbatasan, terutama modal, mereka memberanikan diri untuk mewujudkan mimpi menjadi pengusaha.

RM Ayam Bakar Larasati, contoh sukses franchise makanan

RM Ayam Bakar Larasati, contoh sukses franchise makanan

Melongok Bisnis Franchise bersama Branch Franchise Manager Alfamart Deden Hendra Shakti dan dosen manajemen IPB Ir Budi Purwanto, ME, kami mengupas bisnis franchise dari dua sisi. Mas Deden dari sisi pelaku bisnis ritel, sedangkan saya dari sisi penulis dan penerbit yang melandaskan paparan pada aneka jenis bisnis franchise yang ada di masyarakat. Kepada para manajer itu saya ingatkan—karena saya yakin mereka sudah tahu— tentang kompleksnya peta bisnis saat ini; betapa gaya bisnis juga banyak mengalami perubahan seiring akselerasi informasi yang berhamburan berkat kemajuan teknologi informasi.

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?

Dalam situasi seperti, menurut hemat saya, bisnis mesti menyesuaikan diri sebagai entitas yang multidimensional. Positioning bank perlu dirumuskan ulang. Tidak cukup lagi menancapkan image di benak konsumen sebagai bank tabungan, misalnya. Mengapa? Karena, kebanyakan bank bermain di situ. Lihat saja fitur-fitur yang ditawarkan bank. Umumnya program mereka mirip satu sama lain. Relatif tidak ada perbedaan yang berarti satu sama lain. Akibatnya, di benak konsumen pun sulit membedakan mana bank yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter personal mereka. Perlu ada reklarifikasi posisi kepada setiap target pasar. Pun kepada target pasar bawah, yakni bisnis kelas mikro. Sebab, segmen bawah ini pun saat ini tidak mau diperlakukan asal-asalan sebagai bagian dari massa yang tidak dikenal. Tidak mau. Mereka mulai sadar akan pelayanan yang lebih personal, customize.

Dalam konteks bisnis franchise, ada 3 (tiga) titik penting yang harus bank cermati:

1. Jenis bisnis

Sebagaimana disepakati oleh kalangan pebisnis franchise, suatu usaha layak diwaralabakan setelah mengantongi beberapa persyaratan. Di antara persyaratan itu adalah bahwa bisnis tersebut sudah berjalan 3-5 tahun dengan perolehan laba tertentu. Lamanya waktu yang dipersyaratkan hendak menunjukkan bahwa hanya bisnis yang telah melampaui waktu tersebut pantas dimasukkan sebagai bisnis yang berhasil. Karena sudah teruji keberhasilannya, layaknya jika sistem yang sudah dibangun dijual kepada pihak lain untuk diduplikasi.

Mengingat syarat ini, bank harus berhati-hati pada jenis-jenis usaha yang bersifat musiman, yang mengandalkan trend semata. Bank harus tegas untuk hanya membiayai bisnis yang bebas musim dan jangka panjang. Benar, sebab kepentingan bank bukan hanya menyalurkan kredit sesaat, namun turut membangun bisnis nasabah. Jika kelak berhasil, nasabah pasti akan datang kembali ke bank untuk mendapatkan sokongan yang lain.

2. Franchisor

Merujuk pada paparan di depan, bisnis franchise adalah bisnis keterbukaan. Kepada franchisee, franchisor akan membagikan sistem yang ia punya untuk keberhasilan usaha. Pembagian informasi ini tidak hanya berlangsung di awal, melainkan di sepanjang kontrak bisnis.

Maka, bank harus paham betul kesesuaian karakter bisnis yang diwaralabakan dengan karakter franchisornya. Bank harus bisa memastikan bahwa franchisornya hendak membangun bisnis bersama franchiseenya dalam jangka panjang. Karenanya, franchisor yang baik adalah yang mau membagikan ilmunya secara periodik lewat penyelenggaraan pelatihan.

3. Franchisee

Demikian halnya dengan franchisee. Franchise adalah bisnis yang sudah jadi, yang sudah tersistem. Siapkah franchisee menjalankan sistem yang sudah ada? Bersedia diaturkah dia? Sebab, untuk beberapa jenis bisnis, franchisee sama sekali tidak memiliki ruang untuk berkreasi dan berinovasi. Semua SOP sudah ditentukan oleh pusat. Nah, bisnis itu tentu tidak cocok bagi yang ingin berimprovisasi dalam menjalankan bisnisnya.

Bagi bank, yang lebih penting kemudian adalah memastikan bahwa franchisee mau menjalankan bisnis untuk jangka panjang: pertumbuhan dan kematangan. Bank juga perlu menelusuri potensi tersembunyi franchisee. Dan tugas bank pula untuk menemukan dan mengangkat ke permukaan potensi tersebut. Ingat, banyak bisnis besar bermula dari ketidakjelasan, ketidaklengkapan, dan keminiman. Jangan menghambat franchisee hanya gara-gara persyaratan yang miskin mereka punya. Sebaliknya, bantu mereka untuk melengkapi. Kesediaan untuk mengulurkan diri lebih panjang seperti inilah yang kelak akan mengikat pengusaha tersebut sebagai nasabah loyal.

Dari paparan di depan, titik kritis yang mesti diantisipasi kalangan perbankan adalah aspek-aspek fasilitasi di luar core business perbankan. Ini yang tidak gampang. Bank dituntut menjadi konsultan yang menghubungkan pengusaha franchise dengan pihak-pihak dan hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan bisnisnya. Maka, bank pun diajak untuk membuka jejaring bisnisnya kepada nasabah: dengan ahli pemasaran, dengan ahli hukum bisnis, dengan akademisi, dll. Pelayanan yang interdisipliner ini nilai tambah bank untuk memenangi hati nasabah. Tentu, aspek ini masih sangat sederhana. Banyak aspek lain yang perlu juga dicermati, mengingat kompleksitas aspek bisnis sebagaimana dipaparkan di depan.