Hari ini istimewa buat saya. Setiap tahun, saya merayakannya dalam sendiri. Dalam hening. Dalam kebahagiaan yang tak terkata.

Enam belas tahun lalu, saya terhempas dari motor. Tersambar mobil yang melaju dari lawan arah. Brak! Kaki kanan saya patah. Terbujur tak berdaya di tengah jalan, saya dikerumuni para pelintas yang sedang tergesa berangkat bekerja dan sekolah. Adik saya, Santi, selamat. Ia terhempas dari boncengan saya. Dan tak luka.

Orang-orang baik menolong saya. Dengan sebuah sedan, saya diusung ke rumah sakit. Para penolong itu hendak membawa saya ke sebuah rumah sakit pemerintah. Ups, untunglah adik saya menghardik. “Ke Panti Rapih aja,” pintanya. Ada ibu yang berdinas di sana. Alhamdulillah, para penolong baik hati itu mengabulkan permintaan kami. Saya dilarikan ke RS Panti Rapih. Dan segera mendapatkan P3K. 3,5 jam lamanya saya terbaring di UGD. Para perawat, termasuk Ibu, silih-berganti menghentikan perdarahan dan menjahit luka yang menganga.

Bapak, yang segera melesat ke RS begitu mendapat kabar (waktu itu, rumah kami belum dipasangi telpon; entah siapa yang memberi kabar), berusaha menghibur dan menguatkan saya. Juga Om Mudji dan romo pamong sekolah Moerti Yoedho, SJ, yang tak kalah gesit memastikan keadaan saya.

Dokter Soeprandjono (almarhum) selalu saya ingat sebagai orang yang sangat berjasa bagi saya. Beliau satu-satunya dokter orthopedi, dari 3 yang dimiliki rumah sakit, yang hari itu berpraktek. Dalam jadwal, siang harinya, beliau mesti ke Solo untuk berpraktek ke rumah sakit orthopedi di sana. Baru Selasa minggu depan kembali ke Jogja. Dokter Prandjono memutuskan untuk menunda kepergian ke Solo demi menangani operasi tulang kaki saya.

Saya ingat, Ibu menghampiri saya di bangsal perawatan setiba saya dari UGD. Wajah Ibu menyiratkan kekhawatiran. Saya paham. Meski sudah biasa menghadapi pasien, namun kali ini pasien itu anak sendiri. Juga, meski anaknya ini tampak tegar menahan rasa sakit.

Ibu menceritakan kesediaan Dokter Prandjono mengoperasi siang itu juga. Ibu juga menggambarkan betapa parah luka yang saya alami. Kaki kanan saya lebih dari sekadar fraktur, namun remuk. “Jika tidak bisa diselamatkan, kakimu diamputasi piye Le?” tanya Ibu. Pasti karena sudah mengenal saya, Ibu selalu lugas dalam banyak hal. Termasuk saat bicara kemungkinan terburuk saya waktu itu. Mungkin hati Ibu tak sampai, namun Ibu selalu punya hati untuk menyampaikan apa pun. Dengan caranya, dengan ketegarannya.

“Nggak papa, Bu.” Saya berusaha menenangkan diri. Yang saya rasakan waktu itu adalah “untung masih hidup”, “untung hanya kaki yang patah”. Ah, saya masih merasa beruntung kala itu. Kepala tidak pusing sama sekali. Perut pun tidak mual. Lecet di siku kiri pun terasa seperti gigitan semut belaka.

Pasrah dan berharap saat itu. Pasrah jika keadaan terburuk yang terjadi. Berharap jika masih ada jalan menyelamatkan kaki kanan saya.

Teman-teman sekolah dan keluarga besar mengantar saya ke ruang operasi.

5 jam, hingga petang menjelang, operasi baru usai. Dan saya masih punya 2 kaki. Wow, girangnya saya. Tim dokter yang dipimpin Dokter Prandjono telah menempuh operasi luar biasa. Tulang kaki saya, baik tulang kering maupun tulang paha, bukan hanya dipasangi pen, melainkan “dijahit”. Kepingan tulang disatukan. Dengan ketekunan yang tulus, mereka menorehkan maha karya di hati saya.

 

Kesetiaan Keluarga, Solidaritas Teman

Nyaris sebulan saya menjalani perawatan inap di rumah sakit. Dengan kaki digantung lebih tinggi dari kepala, telentang tanpa boleh bergerak, perawatan luka saya memang harus dilakukan secara khusus. Makan di tempat tidur. Beol dan kencing juga di tempat tidur. Juga mandi dan tidur. Bahkan, menerima komuni setiap petang juga di situ.

Bangsal Albertus, bed pojok barat daya. Sekamar isi enam, semua patah tulang. Untung perawatnya muda-muda dan cantik, baik hati dan suka menolong pula, sehingga siang-malam berlalu dengan cepat.

Hari-hari tak pernah berlalu dalam sepi. Selalu saja ada yang berkunjung. Selalu ada yang menghibur. Selalu ada yang mendoakan. Ya keluarga, ya teman. Setiap malam ada yang menemani, setidaknya meladeni minum kala haus, atau mendengarkan rintihan kala ngilu menghampiri saya. Kesetiaan mereka membekas betul di hati.

Dan jika mencela adalah pujian dalam rupa yang khas, itulah hadiah dari teman-teman sekolah. Setiap hari, sepulang sekolah, atau sore sepulang ekskul, selalu ada yang mem-bezoek saya. Buah tangan yang setiap hari mereka kirim adalah buku atau fotokopi pelajaran hari itu. “Yang sakit kan kakimu, Kun. Otakmu kan waras. Nih dibaca!” Alhasil, meja samping tempat tidur saya tidak dipenuhi buah atau oleh-oleh makanan lazimnya di rumah sakit, tapi setumpuk catatan. Teman-teman berharap agar saya tidak tertinggal kelas.

Benar saja. Ketika kenaikan kelas tiba, saya bisa naik meski dengan nilai pas-pasan.

Berkat teman-teman yang begitu perhatian, saya tidak menjadi anggota VOC, sebutan untuk sekelompok teman yang tinggal kelas. Sekelompok? Ya. Dari 6 kelas paralel, jika dikumpulkan, satu kelas sendiri terpaksa mengulang atau drop out. Tidak selalu karena bodoh. Kadang karena pergaulan yang keliru, atau strategi belajar yang sekenanya mereka tergelincir.

Karena kecintaan teman sekelas, yang semua laki-laki, pada saya, mereka melecut saya sedemikian rupa. Saat masuk sekolah, dua bulan setelah peristiwa kecelakaan itu, secara bergantian mereka mengontrol kemampuan saya mengejar ketertinggalan materi. Sesuai kepintaran masing-masing, saya diajari hal-hal yang saya belum mudeng. Tak hanya itu, sepulang sekolah, mereka menyediakan diri mengajari saya di kost.

Pun guru. Secara sukarela, saban sore hingga malam, mereka membuka kelas-kelas matrikulasi. Siapa pun boleh ikut, dan gratis. Dengan cara khas, mereka mengingatkan saya bahwa tidak ada belas kasihan sedikit pun pada saya. Meskipun sakit, kalau nilai saya jelek, angka 4 di rapor tak segan mereka torehkan. Dan terjadi. Rapor saya semester 1 dihiasi oleh beberapa angka merah, yang, syukurlah, terbayar lunas di semester 2.

Saya mengingat mereka semua. Saya berterima kasih atas cambuk yang pedas itu. Tahun-tahun sesudah itu adalah hidup saya yang kedua, hidup yang selalu saya bungkus dengan rasa syukur. Ad Maiorem Dei Gloriam.

 

jadah tempe, makanan khas kaliurang. foto kunto

jadah tempe, oleh-oleh khas kaliurang. foto kunto

Bukan hanya agama yang bikin kecanduan. Bersepeda juga. Seperti pagi ini.

Subuh tak lagi gelap. Pantulan matahari sudah menyingkap permukaan bumi. Pohon-pohon sudah kelihatan daun dan batangnya. Juga rumput sudah kelihatan menggigil dicumbu embun.

Sepeda hybrid kesayangan segera saya lepas dari kandangnya. Kemarin sore sudah saya cuci bersih. Beberapa baut yang kendor juga sudah saya kencangkan. Ban sudah pada tekanan yang semestinya. Botol minum saya isi air putih penuh. Sadel sudah saya tinggikan untuk mencapai jejakan kaki maksimal.

Sekeranjang bunga tabur juga sudah saya selipkan di bawah plantangan. Ya, saya berencana mampir ke rumah Oka, anak saya, di pemakaman keluarga. Bunga tabur itu saya beli kemarin sore di Pasar Kranggan, sepulang kantor, sepulang nggowes ke Malioboro.

Tanpa mandi, hanya cuci muka, saya siap meluncur. Tujuan hari ini ke Kaliurang, 25 kilometer dari Kota Jogja. Kaliurang ada di lereng selatan Merapi, gunung berapi teraktif di dunia. Ketinggian tempat itu lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

pisang, oleh-oleh alternatif dari kaliurang selain ampyang kacang. foto kunto

pisang, oleh-oleh alternatif kaliurang selain ampyang kacang. foto kunto

Rute yang saya tempuh standar saja, lewat jalan raya. Banyak teman sepanjang jalan. Tanpa kenal sebelumnya, kami biasa saling sapa. Dari sekadar senyum hingga, “Mari, Mas….” Atau, setidaknya menganggukkan bel “think…” dan mereka akan membalas tak kalah hangatnya.

Cuaca tak begitu cerah pagi ini. Matahari tak menampakkan diri, meski ia pasti menjalankan tugasnya di balik awan. Kabut tipis menemani perjalanan menuju ketinggian. Makin ke atas makin tebal. Untung udara tak begitu dingin. Masih bisa dihalau dengan keringat dan nafas yang ngos-ngosan.

Dua kali saya berhenti turun minum, layaknya pemain bola yang sembari mengatur strategi. Pertama, di utara Pasar Pakem, kedua di pintu gerbang Kaliurang. Di perjalanan 10 km terakhir ini, pesepeda mulai berjalan satu-satu. Tanjakan panjang di Wonogiri dan Purwodadi memaksa pengayuh mencermati betul kemampuan detak jantungnya. Gigi paling kecil harus dipasang supaya bokong tetap bisa nempel di atas sadel.

Pukul 06.30 WIB, saya sudah tiba di persimpangan WARA. Disebut demikian karena tepat di belakang jadah-tempe Mbah Carik terdapat tempat pendidikan tentara perempuan TNI AU. Dan pagi tadi, dengan mengenakan celana doreng plus kaos lengan panjang warna orange, mereka bermunculan dari markas hendak berlatih di luar kompleks. Sementara itu, para pesepeda sedang beristirahat di depan warung Bu Gien.

museum seni dan budaya jawa "ullen sentalu"

museum seni dan budaya jawa "ullen sentalu" kaliurang

pesanggrahan kraton kasultanan yogyakarta

monumen "notulen kaliurang" milik kraton kasultanan yogyakarta

museum merapi

museum merapi kaliurang

Meski sudah tiba di Kaliurang, namun tempat ini bukan tujuan akhir. Memutar lewat barat, melewati gardu pandang dan bumi perkemahan, saya menuju terminal Tlogo Putri. Sate kelinci ada benak. Benar saja, di sebuah warung di ujung timur, saya memesan untuk sarapan pagi. Minumnya tentu saja teh nasgitel.

Tumben, tak banyak pesepeda yang berkeliaran di lahan parkir terminal. Biasanya banyak. Mungkin mereka menyebar ke berbagai titik, atau malah berguguran di tengah jalan karena khawatir akan cuaca mendung yang tidak bersahabat.

Usai bersantap, saya bergegas mengayuh sepeda lagi keliling obyek wisata andalan Kabupaten Sleman ini. Kali ini roda sepeda saya arahkan ke Museum Ullen Sentalu, sebuah museum yang menyimpan aneka koleksi barang dan kisah tentang kebudayaan Jawa. Lokasinya sangat eksotis, dengan pepohonan yang masih alami. Pagar batu mengelilingi kompleks museum, mengesankan tempat tersebut sebagai bangunan kuno. Sayang sekali, waktu terlalu pagi untuk berkunjung. Museum baru buka pukul 09.00 WIB.

Saya berpindah ke pesanggrahan milik Kraton Kasultanan Yogyakarta. Oleh pemerintah, tempat tersebut dijadikan monumen mengenang perundingan RI-Belanda pada 13 Januari 1948. Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan yang dinamai “Notulen Kaliurang”. Saya belum memiliki banyak informasi tentang isi perjanjian tersebut. Pak Parmin, abdi dalem penjaga petilasan itu tak bisa bercerita lengkap.

Sembari meluncur ke bawah, melewati jalan barat, saya mampir ke Musem Merapi yang terletak di dusun Boyong. Baru sebulan lokasi ini dibuka untuk umum. Isinya mengenai berbebagai informasi dan peninggalan seputar kegunungberapian, terutama tentang Gunung Merapi. Sayang, belum ada petugas khusus untuk memandu pengunjung.

Ah, kali lain saya pasti datang lagi. Dengan sepeda tentu saja. Sebelum sepeda jadi koleksi museum di kota sepeda.

20091025 pelatihan menulis kreatif @ kuwera (4)

berkumpul, berkarya, berbangga

Orang-orang muda itu berbicara tanpa menunduk, duduk tanpa mengantuk. Sungguh menggetarkan. Dari mereka terpancar rasa bangga, sorot mata optimistis.

Sabtu-Minggu (24-25 Oktober) kemarin menjadi akhir pekan yang penuh warna. Bersama orang-orang muda, kami belajar menulis kreatif di Kuwera, rumah almarhum Romo YB Mangunwijaya. Ya, belajar bersama. Khusus untuk saya, saya belajar dari mereka. Bagaimana tidak. Di usia yang sungguh muda, beberapa di antara mereka sudah menghasilkan karya sastra. Vazza, contohnya, sudah menghasilkan 3 novel ketika SMP. Kini, mahasiswi semester 1 UGM dan UNY ini sedang menyusun buku autobiografi. Ia tuna rungu sejak kecil, dan berkat kasih sayang orangtuanya, berhasil menembus batas kekurangan.

Fren, teman yang lain, memapar kiat-kiat menggali kreativitas menulis. Juga teman-teman muda dari Komunitas Mata Pena, Komunitas Kutub, dan teman-teman yang tidak tergabung dalam komunitas. Ada yang masih SMP, ada yang sudah kuliah, tak sedikit yang sudah bekerja. Lebur jadi satu.

Pelajaran kali ini diberi nama “pengadilan karya”. Proses ini lazim dihidupi komunitas sastra. Seperti namanya, suasananya mirip pengadilan. Ada jaksa penuntut umum, ada pengacara, ada majelis hakim. Terdakwa juga dihadirkan, tidak nemo.

20091025 pelatihan menulis kreatif @ kuwera (11)

menyerap daya robrak mangunwijaya

Bedanya, jika di meja hijau terdakwa didudukkan karena belepotan dugaan kejahatan, di forum ini terdakwa dihadirkan karena karyanya ingin dipublikasikan. Sebelum menjadi santapan publik, si terdakwa menyilakan forum untuk menilai karya tersebut. Yang dikritisi forum meliputi judul, gaya bahasa, ide, alur cerita, konflik yang dibangun, efek kejut, penokohan, ilustrasi, dan dampak yang mau disasar dari pembaca. Terdakwa boleh menerima, boleh menolak, boleh mengacuhtakacuhkan.

Sebagai forum pengadilan, ada yang berperan sebagai penuntut yang meyakini bahwa karya sang terdakwa tidak layak diterbitkan, ada yang berperan sebagai pengacara yang membela karya terdakwa, ada pula hakim yang memutuskan layak-tidaknya karya tersebut diterbitkan.

Meski analog dengan suasana persidangan, namun proses peradilan ini berbeda. Pertama, peran-peran yang dimainkan tidak ditentukan, melainkan muncul dan mengalir begitu saja. Suka-suka saja. Terhadap judul boleh setuju, tetapi terhadap plot boleh mencerca. Wawasan dan referensi yang tersimpan di belakang batok kepalalah modal untuk menilai karya. Boleh sok akademis dengan mengutip pendapat tokoh tertentu, boleh pula merilis akal sehat pribadi.

Kedua, jika dalam persidangan umum, pengunjung bersikap pasif sebagai penonton, di sini tidak. Pengunjung boleh berpendapat. Lebih dari itu, dirangsang untuk terlibat. Sebab, sejatinya, dalam forum seperti ini, tidak ada yang lebih ahli satu dari yang lain. Hanya perspektif saja yang berbeda. Pengunjung pun bisa menempatkan diri sebagai perwakilan pembaca. Sikap diam, bertanya, heran, memuji, atau apa pun dalam forum itu bisa dijadikan acuan kurang lebih sikap pembaca ketika karya tersebut betul-betul bakal ditelurkan.

Beda yang ketiga, ini yang utama sejatinya, jika di peradilan umum terdakwa menanggung malu atas perbuatannya, dan karenanya mereka kerap merunduk malu atau berusaha menutupi wajahnya, terdakwa di pengadilan karya ini duduk dengan rasa bangga, berdiri secara terhormat. Apa pun lontaran pedas yang dialamatkan kepadanya, semua bernada kekaguman. Jika tidak berkarya, mana bisa diadili…

Versi lain silakan baca Kompas.

Pekan lalu, 20-21 Oktober, saya berkesempatan menjadi pembicara dalam pelatihan “Analisis Titik Kritis Bisnis” untuk para manajer Bank Rakyat Indonesia se-Jabodetabek, Lampung, Jambi, dan Sumatera Selatan. Bertempat di Sentra Pendidikan BRI Gatot Subroto Jakarta, saya mengisi sesi bisnis waralaba berdasarkan buku Bisnis Franchise Modal 2 Juta (Indonesia Cerdas, 2009). Berikut rangkumannya:

buku inspiratif: Bisnis Franchise Modal 2 Juta

buku inspiratif: Bisnis Franchise Modal 2 Juta

Kalangan perbankan sedang gelisah. Mereka sedang berpikir keras untuk menyelamatkan bisnis perbankan yang sedang mengalami turbulensi. Kasus pengemplangan dana nasabah oleh Bank Century menjadi mimpi buruk yang menghantui siang dan malam mereka. Ketidaktegasan pemerintah, yang lewat LPS notabene menjadi pemilik Century, dalam kasus ini bisa jadi preseden buruk perbankan di hadapan nasabah. Kepercayaan publik kepada perbankan bisa rontok jika bank yang dimiliki pemerintah saja bisa berbuat sesuka hati.

Di luar itu, guncangan perekonomian global tak kalah menyeramkannya. Gara-gara ulah beberapa gelintir pelaku keuangan di Amerika Serikat, sektor keuangan kini dikecam habis-habis sebagai penyebab krisis global. Wajar jika kecaman pedas bersahutan. Dampak dari kecerobohan mereka, banyak industri di Eropa dan Amerika Serikat terpaksa mem-PHK karyawannya. Dimulai dari General Motor, perusahaan otomotif besar, yang gulung tikar, diikuti oleh beberapa kampiun lainnya, kini sekitar 630.000 perusahaan di Amerika Serikat mengantri untuk mendapatkan keputusan pailit.

Jika tidak hati-hati, badai krisis itu bisa melumat kita.

Sebaliknya, kehati-hatian yang berlebihan juga justru bisa menjerumuskan kita ke lumpur penghisap.

Sangat problematis. Namun, hidup tidak boleh berhenti. Tetap harus ada terobosan untuk berinovasi; setidaknya bertahan. Tetap harus ada keputusan yang berani. Inilah yang melatari pelatihan BRI. Sebagai salah satu bank pemerintah tertua dan terbesar, keberadaan mereka sudah sangat mengakar di masyarakat. Cabang mereka yang tersebar bahkan hingga ke kecamatan-kecamatan di seluruh pelosok Tanah Air merupakan modal sangat kuat untuk tetap mendapatkan kue dari masyarakat.

Nah, dalam pelatihan itu, para manajer yang berada di garda depan perusahaan, hendak mempelajari dan menganalisis bisnis-bisnis yang berpeluang untuk mereka biaya. Secara khusus, bisnis yang mereka bidik berskala mikro. Sebagai penerbit, tugas saya adalah memberi gambaran aneka jenis bisnis yang diminati masyarakat. Minat itu tampak dari antusiasme masyarakat melahap buku-buku peluang usaha yang diterbitkan oleh Penerbit Indonesia Cerdas (Galangpress Group) tempat saya bekerja sebagai editor. Tengoklah betapa larisnya buku-buku berjudul Untung Besar Modal 2 Juta, Untung Besar 80 Jutaan Duduk Doank, Berani Utang Pasti Untung, dan Bisnis Franchise Modal 2 Juta yang baru terbit dan menjadi acuan pembahasan. Ada kerinduan masyarakat menjadi pengusaha. Dalam segala keterbatasan, terutama modal, mereka memberanikan diri untuk mewujudkan mimpi menjadi pengusaha.

RM Ayam Bakar Larasati, contoh sukses franchise makanan

RM Ayam Bakar Larasati, contoh sukses franchise makanan

Melongok Bisnis Franchise bersama Branch Franchise Manager Alfamart Deden Hendra Shakti dan dosen manajemen IPB Ir Budi Purwanto, ME, kami mengupas bisnis franchise dari dua sisi. Mas Deden dari sisi pelaku bisnis ritel, sedangkan saya dari sisi penulis dan penerbit yang melandaskan paparan pada aneka jenis bisnis franchise yang ada di masyarakat. Kepada para manajer itu saya ingatkan—karena saya yakin mereka sudah tahu— tentang kompleksnya peta bisnis saat ini; betapa gaya bisnis juga banyak mengalami perubahan seiring akselerasi informasi yang berhamburan berkat kemajuan teknologi informasi.

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?

Dalam situasi seperti, menurut hemat saya, bisnis mesti menyesuaikan diri sebagai entitas yang multidimensional. Positioning bank perlu dirumuskan ulang. Tidak cukup lagi menancapkan image di benak konsumen sebagai bank tabungan, misalnya. Mengapa? Karena, kebanyakan bank bermain di situ. Lihat saja fitur-fitur yang ditawarkan bank. Umumnya program mereka mirip satu sama lain. Relatif tidak ada perbedaan yang berarti satu sama lain. Akibatnya, di benak konsumen pun sulit membedakan mana bank yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter personal mereka. Perlu ada reklarifikasi posisi kepada setiap target pasar. Pun kepada target pasar bawah, yakni bisnis kelas mikro. Sebab, segmen bawah ini pun saat ini tidak mau diperlakukan asal-asalan sebagai bagian dari massa yang tidak dikenal. Tidak mau. Mereka mulai sadar akan pelayanan yang lebih personal, customize.

Dalam konteks bisnis franchise, ada 3 (tiga) titik penting yang harus bank cermati:

1. Jenis bisnis

Sebagaimana disepakati oleh kalangan pebisnis franchise, suatu usaha layak diwaralabakan setelah mengantongi beberapa persyaratan. Di antara persyaratan itu adalah bahwa bisnis tersebut sudah berjalan 3-5 tahun dengan perolehan laba tertentu. Lamanya waktu yang dipersyaratkan hendak menunjukkan bahwa hanya bisnis yang telah melampaui waktu tersebut pantas dimasukkan sebagai bisnis yang berhasil. Karena sudah teruji keberhasilannya, layaknya jika sistem yang sudah dibangun dijual kepada pihak lain untuk diduplikasi.

Mengingat syarat ini, bank harus berhati-hati pada jenis-jenis usaha yang bersifat musiman, yang mengandalkan trend semata. Bank harus tegas untuk hanya membiayai bisnis yang bebas musim dan jangka panjang. Benar, sebab kepentingan bank bukan hanya menyalurkan kredit sesaat, namun turut membangun bisnis nasabah. Jika kelak berhasil, nasabah pasti akan datang kembali ke bank untuk mendapatkan sokongan yang lain.

2. Franchisor

Merujuk pada paparan di depan, bisnis franchise adalah bisnis keterbukaan. Kepada franchisee, franchisor akan membagikan sistem yang ia punya untuk keberhasilan usaha. Pembagian informasi ini tidak hanya berlangsung di awal, melainkan di sepanjang kontrak bisnis.

Maka, bank harus paham betul kesesuaian karakter bisnis yang diwaralabakan dengan karakter franchisornya. Bank harus bisa memastikan bahwa franchisornya hendak membangun bisnis bersama franchiseenya dalam jangka panjang. Karenanya, franchisor yang baik adalah yang mau membagikan ilmunya secara periodik lewat penyelenggaraan pelatihan.

3. Franchisee

Demikian halnya dengan franchisee. Franchise adalah bisnis yang sudah jadi, yang sudah tersistem. Siapkah franchisee menjalankan sistem yang sudah ada? Bersedia diaturkah dia? Sebab, untuk beberapa jenis bisnis, franchisee sama sekali tidak memiliki ruang untuk berkreasi dan berinovasi. Semua SOP sudah ditentukan oleh pusat. Nah, bisnis itu tentu tidak cocok bagi yang ingin berimprovisasi dalam menjalankan bisnisnya.

Bagi bank, yang lebih penting kemudian adalah memastikan bahwa franchisee mau menjalankan bisnis untuk jangka panjang: pertumbuhan dan kematangan. Bank juga perlu menelusuri potensi tersembunyi franchisee. Dan tugas bank pula untuk menemukan dan mengangkat ke permukaan potensi tersebut. Ingat, banyak bisnis besar bermula dari ketidakjelasan, ketidaklengkapan, dan keminiman. Jangan menghambat franchisee hanya gara-gara persyaratan yang miskin mereka punya. Sebaliknya, bantu mereka untuk melengkapi. Kesediaan untuk mengulurkan diri lebih panjang seperti inilah yang kelak akan mengikat pengusaha tersebut sebagai nasabah loyal.

Dari paparan di depan, titik kritis yang mesti diantisipasi kalangan perbankan adalah aspek-aspek fasilitasi di luar core business perbankan. Ini yang tidak gampang. Bank dituntut menjadi konsultan yang menghubungkan pengusaha franchise dengan pihak-pihak dan hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan bisnisnya. Maka, bank pun diajak untuk membuka jejaring bisnisnya kepada nasabah: dengan ahli pemasaran, dengan ahli hukum bisnis, dengan akademisi, dll. Pelayanan yang interdisipliner ini nilai tambah bank untuk memenangi hati nasabah. Tentu, aspek ini masih sangat sederhana. Banyak aspek lain yang perlu juga dicermati, mengingat kompleksitas aspek bisnis sebagaimana dipaparkan di depan.

di halaman joglo kumendung

di halaman joglo kumendung

Jika pada Selasa 22 September berlangsung halal bi halal dan syawalan keluarga besar Trah Pawirodikromo, maka pada Jumat 25 September giliran “keluarga kecil” Trah Wiropawiro (yang bernomor induk 3) menggelar acara serupa. Rutin, saban Syawal. Rumusnya, untuk trah besar, acara diadakan pada “tanggal merah kedua” Idul Fitri, sedangkan trah kecil pada tanggal ke-5. Sudah pasti, tidak peduli jika ada perbedaan hari raya antara pemerintah dan kelompok masyarakat tertentu.

Seperti sudah ditradisikan, “badan” (merayakan bakda) selalu diadakan di Joglo Kumendung. “Di sinilah Mbah Wiropawiro dulu lenggah,” ujar Bapak S. Wahono (3.7.1), pengurus trah menjelaskan kenapa acara selalu dilangsungkan di tempat itu. Supaya anak-cucu mengingat cikal-bakalnya.

Mulyowiyono, putra ke-7, simbah saya

Mulyowiyono, putra ke-7, simbah saya

diiringi gamelan Mega Laras yg biasa berlatih di joglo ini. sayang, tanpa dalang. padahal ada wayang...

diiringi gamelan Mega Laras yg biasa berlatih di joglo ini. tidak wayangan.

Karena sebagian keluarga ada yang sudah masuk kerja, mengingat cuti bersama tak sepanjang tahun lalu, maka pertemuan kali ini dibuka seusai Shalat Jumat. Tidak seperti biasanya, kali ini acara berlangsung di halaman joglo, duduk di kursi di bawah tratag (tenda). Dalam joglo sendiri ditempati gamelan, wiyaga, plus sinden. Gending-gending jawa menyulap suasana siang yang terik itu menjadi teduh. 150-an anggota keluarga yang datang betah duduk hingga acara kelar menjelang pukul 16.00 WIB seusai sungkeman kepada sesepuh dan pinisepuh. Kami, yang tersebar di berbagai kota, dalam kesempatan emas seperti ini selalu bersua. Sebab, tidak mungkinlah kami bertemu 3 bulan sekali sesuai jadwal pertemuan rutin trah.


Tanah takkan berkarat

Mbah Wiropawiro, sebagaimana kerap dituturkan Simbah adalah petani desa yang mencintai pekerjaan di kebun dan sawah. Meski dulu juga memiliki jabatan di tingkat lokal, namun kecintaannya pada tanah begitu tinggi. Kata Pak Wahono, bapak saya, kepada hadirin, “Semua 8 putra Mbah Wiro dibelikan tanah pekarangan. Dan luas semua. Bagi Mbah Wiro, tanah pekarangan itu penting, lebih penting daripada sawah.” Ia menirukan alasan Mbah Wiro, “Wong ki sing penting papan. Perkara mangan isa golek nang endi wae. Delok manuk kae, mabur tekan ngendi-endi golek pangan, trus mulih.” Kebutuhan utama manusia adalah tempat tinggal. Tempat mencari makan bisa di mana saja, tetapi tempat tinggal harus jelas. Lihat burung-burung di udara itu. Mereka mencari makan hingga terbang ke sana-kemari, dan akhirnya pulang.

antri sungkeman, urut tuwa, ora urut banda

antri sungkeman, urut tuwa, ora urut banda

Prinsip Simbah ini berbeda dengan kebanyakan orang modern zaman ini. Banyak orang yang kini punya kendaraan mewah lebih dari satu, tapi tidak punya rumah. Parkir di pinggir jalan, atau dititipkan.  Saya ingat pesan  Mbah Kismo,  putra bungsu Mbah Wiro, “Aku ora gumun karo wong sing duwe mobil akeh. Sebab, mobil iku isa teyengen, lan regane saya mudun, nanging lemah kosok balene.” Aku tidak heran dengan orang yang punya mobil banyak. Sebab, mobil itu, karena terbuat dari besi, bisa berkarat, pun harganya terus menurun, sedangkan tanah justru sebaliknya.” Kata bapak saya lagi, “Simbah tidak mengijinkan anak-anaknya menjual tanah jika belum mampu membelinya.” Apa hasilnya? Bukannya menyempit, tanah putra-putra Mbah makin luas karena ada kebanggaan jika mampu membeli tanah.

Alhasil, pekarangan putra-putra Mbah Wiro begitu luas. Rata-rata, selain muat didirikan rumah bertipe di atas 200 m2, pekarangan mereka juga masih mampu menampung pohon-pohon salak, kandang sapi, dan puluhan pohon kelapa. Sampai kini.

Memasuki generasi ketiga

generasi ketiga dan keempat: S Wahono (3.7.1) dan Chandra Sena (3.7.1.3)

generasi ketiga dan keempat: S Wahono (3.7.1) dan Chandra Sena (3.7.1.3)

Mbah Wiro sudah lama meninggal. Putra-putranya pun sebagian besar sudah menyusul. Yang bertahan tinggal 2 putra terakhir dari 8 putra-putri yang terlahir. Mereka adalah Mbah Mulyowiyono (3.7) dan Mbah Kismorejo (3.8). Keduanya sudah menduda setelah Mbah Kismo ditinggal seda mbah putri pada bulan puasa lalu, dan Mbah Mul yang didului istrinya hampir 2 tahun lalu. Kakak-kakak mereka sudah berpulang. Yang tertinggal adalah ipar, Mbah Duta putri, Mbah Manggungsari kakung (aduh, lupa namanya), dan Mbah Arjo putri.

Maka, kini, sudah mulai masuklah ke generasi ketiga, atau keempat jika dari Trah Pawirodikromo.

Bukan cerita tentang trah darah biru, melainkan trah petani. Selasa, 22 September lalu, keluarga besar Trah Pawirodikromo menyelenggarakan halal bi halal dan syawalan di sebuah kampung di Pakem, lereng selatan Merapi. Menurut panitia, keluarga yang hadir mencapai lebih dari 700-an orang, belum termasuk keluarga Trah Gunopawiro yang menjadi tuan rumah.

Dan untuk menghimpun banyaknya anggota trah, untuk kesekian kali, pengurus trah menerbitkan buku daftar keluarga, lengkap dengan nomor induk yang melekat pada masing-masing orang. Kebetulan, kali ini, saya yang berkesempatan menuliskan pengantar untuk buku yang berisi sekitar 1.200 nama tersebut. Tahun-tahun sebelumnya pengantar menggunakan bahasa Jawa, sekarang menggunakan bahasa Indonesia untuk mengakomodasi generasi muda.

isi daftar hadir dulu ya

isi daftar hadir dulu ya

Mengingat Mbah Pawirodikromo

oleh AA Kunto A (3.7.1.1)

Lebaran selalu menjadi hari yang istimewa bagi keluarga besar Trah Pawirodikromo. Pasalnya, seluruh putra-cucu-buyut-canggah Kyai-Nyai Pawirodikromo berkumpul. Di tempat yang selalu berpindah-pindah pada “tanggal merah kedua” Hari Raya Idul Fitri, pertemuan keluarga yang dibingkai dalam acara halal bi halal digelar. Tak kurang dari 700-1.000 orang menyatu.

Sebegitu banyak orang? Benar. Bagaimana tidak, Kyai-Nyai Pawirodikromo memiliki 18 putra. Mereka terdiri dari:

  1. Kyai Pawirodiryo (Kumendung)
  2. Kyai Pawiroyudo (Joholanang)
  3. Kyai Wiropawiro (Kumendung)
  4. Kyai Gunodiharjo (Pakem Tegal)
  5. R. Ngt. Sutodiryo (Kledokan)
  6. Kyai Mertodiharjo (Maknorejo)
  7. Kyai Kromodiharjo (Pakem Tegal)
  8. R. Ngt. Pawirodinomo (Tegal Telan)
  9. Kyai Cokroatemo (Kumendung)
  10. Kyai Sutopawiro (Cemoroharjo)
  11. Kyai Notoutomo (Pakem Gede)
  12. R. Ngt. Harjowinoto
  13. Kyai Pawirosentono (Kumendung)
  14. Kyai Partodimejo (Baratan)
  15. Kyai Gunopawiro (Cemoroharjo)

antri sungkeman

antri sungkeman

Luar biasa. Dari 2 orang menjadi 18, lalu menjadi ribuan. Dari dusun kecil Kumendung di lereng selatan Gunung Merapi menyebar hingga seluruh negeri, bahkan ada yang di luar negeri. Dari sepasang petani berturun-temurun menjadi guru, pegawai negeri, pengusaha, dosen, tentara, politisi, petani, dan beraneka profesi lainnya.

Jika Mbah Pawirodikromo masih “sugeng”, tentulah beliau akan bangga melihat keturunannya beranak-pinak sedemikian banyak. Beliau pasti lebih bangga lagi ketika menyaksikan putra-wayahnya hidup rukun, pintar, dan memiliki kiprah yang besar bagi masyarakat.

Ngumpulke balung pisah

Pertemuan trah setiap Hari Raya Idul Fitri, sedari awal digagas untuk merawat tali persaudaraan sebagai sesama putra-wayah Mbak Pawirodikromo. Dan lebaran dipilih karena orang punya tradisi mudik, pulang kampung, menengok orangtua, dan saling bermaafan di antara saudara yang jarang bersua. Dengan kata lain, pertemuan trah menjadi simpul dari jejalin hubungan sosial dan spiritual.

Supaya simpul itu makin erat, pengurus trah merintis penyusunan buku silsilah keluarga. Sudah sejak lama rintisan ini dijalankan. Pengurus menghimpun data keluarga secara lengkap, mulai dari nama (termasuk nama suami/istri), nama anak dan cucu, alamat tempat tinggal, dan keterangan tahun kematian. Pendataan dan penyusunan buku ini diharapkan membantu keluarga besar trah untuk saling mengenal satu sama lain.

Bukan pekerjaan yang mudah. Persoalan mendasar, tradisi mencatat nama keluarga tidak ada. Hampir semua berdasarkan ingatan. Maka, acapkali, nama orang mengalami perbaikan karena salah penulisan. Nama tempat tinggal pun tidak lengkap. Alhasil, kita akan banyak menjumpai penulisan nama panggilan saja tanpa nama lengkap seperti Wawan, Alek, atau Nuri. Juga, penyebutan alamat yang hanya “Jakarta”, “Jabar”, “Palembang”, tanpa kejelasan lebih.

canggah mbah ketiga

canggah mbah wiropawiro [ki-ka: gustav (3.6.1.2.1), leo (3.6.1.1.3), glori (3.6.1.3.1), dan si cantik rindang (3.6.1.2.2)

chandrasena (3.7.1.3) menuntut mbah mulyowiyono (3.7)

chandrasena (3.7.1.3) menuntun mbah mulyowiyono (3.7)

Syukurlah, sedikit demi sedikit ada kesadaran untuk melengkapi data di atas. Lewat komisaris perwakilan trah kecil, pembaruan data dikumpulkan. Meski tidak setiap tahun, buku silsilah ini pun terus dianyari. Seiring perkembangan teknologi, ketidakkompletan alamat, misalnya, bisa ditebus dengan informasi tentang nomor telepon rumah/selular yang bisa dihubungi.

Besar harapan kita, setiap anggota trah mau memberikan informasi tentang data diri dan keluarga ini demi semakin sempurnanya buku ini. Bagi sedulur-sedulur muda, atau yang makin akrab dengan teknologi komunikasi, data tentang alamat e-mail, facebook, twitter, atau jejaring sosial lainnya kami anjurkan untuk dibagikan. Tujuannya konkret, supaya hubungan persaudaraan makin erat. Jarak pun makin tipis. Kita jadikan perangkat-perangkat maya tersebut sebagai medium bersilaturahmi.

Usaha gigih pengurus pun terbukti membuahkan hasil. Berkat kerjasama dari keluarga besar trah yang membantu mengumpulkan data, kalau kita perhatikan, ada yang sungguh-sungguh baru di buku trah kali ini. Coba bandingkan dengan buku trah sebelumnya.

Panjenengan benar. Sebelum ini, dari 18 nama putra/putri Mbah Pawirodikromo, baru 13 yang diketahui identitas dan keluarganya. Yang 5, yakni nomor 13-17 kosong-mlompong. Yang terlacak hanya nomor 1-12 dan 17.

Kini kita boleh sedikit berlega hati. Dua nama yang “hilang” telah ditemukan, yakni Kyai Pawirosentono, putra nomor 14 yang lenggah di Kumendung, dan Kyai Partodimejo, putra nomor 15 yang lenggah di Baratan. Sejatinya, putra-wayah dari kedua Mbak sudah mengikuti pertemuan trah. Namun, silsilah mereka baru berhasil dirampungkan.

Berdasarkan pengalaman ini, maka besar harapan kita, silsilah keluarga 3 Mbah yang belum juga tuntas bisa lekas dipungkasi. Dengan begitu, makin kompletlah daftar keluarga besar Trah Pawirodikromo.

Ngopeni manfaat

Banyak dari kita sudah membuktikan manfaat dari kelengkapan data di buku ini. Saat hendak “ngulemi” entah untuk mantu, sunatan, atau hajatan lain, buku ini menjadi acuan dalam penyusunan daftar tamu undangan. Berkat buku ini, pernyataan “mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan, nama, gelar, dan alamat” bisa diminimalkan. Nama dan alamat akan tertulis dengan tepat.

Situasi lain yang perlu disebutkan adalah ketika terjadi “sripah”. Biasanya, sripah selalu diselimuti suasana serba mendadak dan kemrungsung. Juga kesedihan. Padahal, kabar duka harus segera disampaikan kepada kerabat dan handai taulan. Berdasarkan pengalaman, penyusunan berita lelayu bukanlah pekerjaan yang enteng. Tidak setiap keluarga duka tahu persis siapakah yang harus dilayati. Tetangga kiri-kanan pun kerap tidak paham keluarga besar dari almarhum/almarhumah yang perlu dikabari. Kalau pun tahu, selain namanya tidak lengkap, alamat tujuan pun tidak jelas. Ini sangat membingungkan bagi petugas yang diutus menyebar berita lelayu. Untunglah ada buku trah ini. Tidak ada lagi nama yang terlewat untuk dikabari.

trah petani, penggarap sawah dan tegalan

trah petani, penggarap sawah dan tegalan

Bagi kita yang memiliki mobilitas antarkota yang tinggi, faedah buku ini pun begitu melimpah. Kita punya saudara yang tersebar di hampir seluruh daerah di Indonesia. Betapa ayemnya hati kita ketika menyadari bahwa di suatu kota kita punya saudara. Kita bisa mampir, baik sekadar beranjangsana, hingga syukur-syukur bisa mendapatkan tumpangan tidur. Saudara yang kita singgahi pun pasti tak kalah girangnya. Sebagai perantau, mendapat kunjungan dari saudara se-simbah tentulah seperti mendapatkan setetes air pelega dahaga. Di tanah rantau, persaudaraan itu mahal.

Yang tak kalah pentingnya adalah guyonan yang pernah disampaikan almarhum Bp Sigit Wruhantoro di suatu kesempatan pertemuan trah di Pakem Tegal beberapa waktu sebelum beliau meninggal. Kurang lebih beliau mengatakan, “Salah satu tujuan ikut trah adalah mengenali saudara kita. Jangan gara-gara tidak kenal, suatu saat menggoda wanita cantik di lampu merah eee… ternyata pernahe bulik.”

Monumen Kumendung

Nama Kumendung sangat legendaris bagi keluarga besar Trah Pawirodikromo. Ada rasa hormat dan takzim tatkala mengaku diri sebagai “putra wayah Mbak Mendung”. Juga, ada rasa tanggung jawab untuk melestarikan pesan Simbah agar senantiasa hidup rukun sebagai saudara.

tugu, tetenger untuk mengingatkan pesan simbah

tugu, tetenger untuk mengingatkan pesan simbah

Untuk semakin memudahkan ingatan kita akan Mbah Pawirodikromo, pengurus trah telah mendirikan monumen batu di Kumendung. Monumen itu berdiri kokoh di halaman joglo Bapak Kismorejo (3.8). Bentuknya tinggi bulat, menandakan semangat untuk nggayuh cita-cita setinggi langit, dan bulat sebagai simbol ikatan persaudaraan yang solid. Monumen itu dirancang oleh Bapak Murjiyo, kakak ipar Bapak Gunawan (3.8.2).

Monumen itu hanyalah batu. Namun, itu batu penjuru, tempat spirit Simbah tersimpan. Dengan begitu, ke mana pun kita pergi, ke mana pun kita bertugas melaksanakan amanat kehidupan, kita selalu mengingat betapa mewah harta peninggalan Simbah. Kita bisa seperti sekarang berkat pengorbanan Simbah semasa sugengnya. Semoga kita sanggup memikul dhuwur amanat Mbah Pawirodikromo.

tradisional, ramah lingkungan, mengesankan

tradisional, ramah lingkungan, mengesankan (foto: AA Kunto A)

Bungah hati ini menatap dua gerobak berjalan beriringan. Masih ada kendaraan-kendaraan tradisional itu. Yang satu digeret dua sapi, yang satu hanya satu sapi. Beriringan depan-belakang. Bajingan –sebutan untuk kusir gerobak– tampak sabar menuntun sapi-sapinya membelah jalan yang ramai dilalulalangi kendaraan bermesin.

Kecepatan gerobak sapi itu tak lebih dari 5 km/perjam, sama cepat dengan kecepatan orang berjalan kaki di siang yang panas. Tidak sangat lambat, namun tidak pula bergegas. Sapi tidak suka berjalan cepat. Mungkin karena mereka sering dipekerjakan mengusung beban, atau menarik bajak. Beda dengan kuda yang suka berpacu.

Saat kecil, salah satu kegemaran saya adalah menumpang gerobak. Tahun 1980-an, di kampung saya masih banyak petani yang memiliki kendaraan roda dua yang tidak selalu beratap ini. Oh, atap ini bisa dibongkar-pasang.  Tetangga depan rumah, malah, gerobaknya besar karena ditarik 2 sapi.

Saya suka duduk di belakang roda. Ada sedikit papan menjorok keluar di situ. Kaki menjulur ke bawah, menginjak batang kayu yang melintang di bawah gerobak. “Jak… jak… her… her…,” hardik bajingan kepada sapinya agar mulai melangkahkan kakinya. Ketika jalan menurun, tugas saya atau orang yang duduk di posisi saya adalah menginjak kayu itu hingga menempal pada ban. Bannya sendiri besar, biasanya bekas ban truk. Ssssk… ssssk… dan gerobak pun melambat.

Saat musim panen tiba adalah saat-saat paling menggembirakan. Begitu tetangga depan rumah mengikat leher sapi dan menjulurkan kepala sapi itu di “pasangan”-nya saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk “nyengklak” ke bak gerobak yang tingginya sekira 1 meter itu. Jika sapinya besar, maka permukaan bak gerobak akan miring ke belakang. Kalau tidak hati-hati bisa keplorot dan jatuh. Klonthong… klonthong… bunyi lonceng yang menggantung di leher sapi.

Sepulang dari sawah, ini yang mengasyikkan. Gerobak berisi tumpukan karung berisi gabah hasil tuaian. Semakin tinggi tumpukan, semakin senang kami, karena bisa memanjat karung-karung itu dan duduk di ketinggian, sambil menatap hamparan sawah yang luas di sepanjang mata memandang.

Hmm, masa kecil yang menyenangkan.

ganja, hijau menghisap

ganja, hijau menghisap

Pekarangan kita bernama Indonesia. Suburnya bukan main. Sampai ada yang bilang, kayu diceblokin ke tanah saja akan bertumbuh sendiri. Tanpa perlu perawatan khusus. Tunggu saja sambil minum teh dan menikmati lagu-lagu melayu, begitu matahari terang esok pagi, panen raya siap kita gelar.

Bukan cuma padi yang bisa kita tanam di pekarangan. Juga bukan cuma jagung, alpukat, dan strawberry. Bukan cuma kelapa dan umbi-umbian. Tapi, juga ganja (Cannabis sp.)! Ups, yang bener? Apa nggak ditangkep polisi? Berikut ini penjelasan untuk judul jahil di atas:

Seminar pendek pagi ini membuka mata saya, ganja ada di pekarangan kita. Bowo Nurcahyo, teman saya yang bekerja di Pusat Laboratorium Forensik Polri, di hadapan tim penguji dan audiens di Gedung Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, berhasil mempertahankan hasil penelitiannya tentang “Keragaman Genetik Ganja (Cannabis sp.) Hasil Peredaran Gelap Narkoba di Jawa Tengah dan DIY”. Perwira polisi lulusan S1 Biologi ini berhasil menggondol gelar S2 dengan pujian nilai A.

Bowo menegaskan, ganja ada di pekarangan kita. Dari penelitian lapangan bermetore RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) terhadap ganja-ganja hasil sitaan kepolisian di lingkup Polda Jateng dan Polda DIY, selain menemukan pola acak dalam peredaran bersistem sel terpisah (pembeli, pengecer, bandar, dan kurir tidak saling kenal dan tidak saling bertemu), Bowo juga menemukan kemiripan tertinggi antaranggota kelompok alur edar sebesar 0,72. Ia mencontohkan ada kemiripan antara ganja yang disita di Sleman dengan Banjarnegara, di Karanganyar dengan Magelang.

Bowo Nurcahyo sedang mempresentasikan hasil penelitiannya

Bowo Nurcahyo sedang mempresentasikan hasil penelitiannya

“Selama ini, orang hanya tahu kalau ladang ganja itu di Aceh. Padahal, kami juga menemukan ladang ganda di Boyolali dan Cilacap,” ungkap Bowo di hadapan lebih dari 60 audiens yang menyimak presentasinya. “Bahkan, kami menemukan ganja ditanam di pot di daerah Condong Catur,” tukas seorang perwira dari Mapoltabes Yogyakarya di tempat yang sama.

Ladang ganja ada di pekarangan kita. Dan polisi, dengan menggunakan kemajuan penelitian di bidang molekular, bisa mengidentifikasi asal-usul ganja. Meski bandar yang tertangkap bilang “dari Aceh”, namun polisi bisa menelusuri titik persis ganja itu berasal. Dari ketepatan titik inilah mereka bisa mencokok tersangkanya.

Bagi saya, penelitian ini luar biasa. Meski secara umum saya menorehkan catatan khusus tentang buruknya kinerja Polri, namun terhadap upaya-upaya seperti ini saya mengangkat topi apreasiasi. Ternyata ada kerja-kerja serius dari lembaga ini yang patut kita banggakan. Bowo salah satunya. Dari kesaksian dosen pembimbingnya, Bowo adalah polisi yang tekun. Ia rajin bertanya dan meminta bimbingan. Ia juga langsung mencari dan menemukan jurnal-jurnal ilmiah yang direferensikan dosen. Pun, terhadap keterbatasan dana yang dikucurkan Mabes Polri terhadap kajian akademiknya, tak membuat Bowo surut langkah.

Setelah seminar terbatas tadi, dan seminar lanjutan yang akan digelar di internal kepilisian, menurut saya, hasil penelitian ini sangat penting untuk diseminarkan bagi publik. Ya, supaya masyarakat luas mulai peka terhadap ancaman penyalahgunaan narkoba. Ancaman itu begitu dekat nan halus, sudah di pekarangan kita.

Akan lebih sistematis pula jika hasil penelitian ini disodorkan kepada Departemen Pendidikan Nasional, agar mereka memasukkan materi ‘ilmu pengetahuan tentang pohon ganja’, misalnya, sebagai mata pelajaran resmi di sekolah. Dengan memasukkannya dalam kurikulum, anak-anak akan sedini mungkin mengenal dan mempelajari ganja serta bahan psikotropika lainnya secara lebih asyik dan menyeluruh; tidak sekadar menjadi cuilan kampanye parsial dari lembaga-lembaga partikelir.

Tak ketinggalan, perlu juga diadakan seminar khusus untuk wartawan/media massa. Wartawan perlu belajar lebih detil soal-soal seperti ini sehingga reportase yang dihasilkan tidak kering berkutat soal hukum dan kriminalitas. Ada angle lain yang bisa diangkat sebagai pembelajaran bagi publik. Dengan belajar lebih mendalam soal ganja dan narkoba, misalnya, wartawan bisa tetap kritis terhadap lembaga kepolisian sehingga selalu menguji kebenaran informasi yang hendak ditulis/disiarkannya. Tanpa sikap kritis, wartawan akan terombang-ambing oleh informasi sumir yang berujung pada kesesatan berita di masyarakat.

Ign Verdei Materino 1 jamBaru di hari kelima ini saya sempat menulis. Kebahagiaan yang tiada tara rupanya mengalahkan niatan saya untuk segera menuangkannya di bilik ini. Saya pun menulisnya di atas kereta Prambanan Ekspres yang mengusung saya dari Stasiun Balapan, Solo, ke Stasiun Lempuyangan, Jogja. Pada pagi yang cerah ini semuanya tercurah.

Ini hari kelima anak saya lahir. Semalam saya menemaninya di RS dr Oen Surakarta. Sama dengan malam-malam sebelumnya, saya tidur di ruang tunggu dekat ruang bayi, tempat anak saya tidur. Jika malam saya menemaninya, jika siang saya berada di Jogja.

Ignatius Verdei Materino, lahir 30 Juli 2009 pukul 10.15 WIB lewat operasi cesar di rumah sakit swasta tertua di kota Solo ini. Jagoan ganteng kami ini lahir dengan berat 3,3 kg dan tinggi 50 cm. Rambutnya tak terlalu tebal. Mungkin belum. Pipinya cabi, nyempluk, persis bapaknya. Matanya agak sipit, mirip ibunya.

Rino lahir tepat setahun setelah kakaknya gugur saat usia kandungan baru sebulan. Ya, Oka lahir 30 Juli 2008, dan sekarang berbahagia kekal di surga, mendoakan adik dan orangtuanya.

Tangis Rino luar biasa keras menggelegar. Langsung membuncah memekakkan suasana. Suara itu langsung kami tangkap dari ruang tunggu operasi yang terletak di luar. Ups, kami –ibu, ibu mertua, dan kakak sepupu– sungguh terhenyak mendengar tangisan yang kencang itu. Hati kami tak kurang bersoraknya. Kami langsung saling berpeluk begitu memastikan bahwa suara itu keluar dari mulut anak saya. Wow, mantap!

pelayanan ramah, lingkungan bersih, biaya terjangkau

pelayanan ramah, lingkungan bersih, biaya terjangkau

Operasi berlangsung lancar, hanya sekitar 30 menit. Dokter Supanji, SpOG bersama dokter anestesi, berhasil menghadirkan suka cita di tengah keluarga kami. Sungguh menakjubkan. 7 menit sejak operasi itu, anak saya sudah melek di depan kamera. Ah, anak sekarang.

SMS bungah pun langsung kami terbangkan kepada sanak saudara dan handai taulan. Dan berbalas. Kami semua larut dalam rasa syukur.

Alhamdulillah, Rino lahir dengan selamat dan sehat. Ibunya, istri saya, juga sehat dan tampak bahagia. Ibu saya tak kurang berbinarnya menyambut cucu pertama. Ibu mertua, yang kini punya 7 cucu, juga berseri-seri.

Siang tadi, Rino boleh pulang ke rumah, setelah 2 hari sebelumnya istri saya pulang lebih dulu. Rino mesti tinggal sejenak karena badannya sedikit kuning. Bilirubinnya tinggi, mencapai 9,7. 3 point di atas ambang batas. Ia mesti menjalani penyinaran. Dan sepulang ke rumah, pesan dokter Jhonny yang merawatnya, Rino mesti banyak berjemur. Ah, jagoanku akan bersahabat dengan matahari…


Iman yang Mendewasakan

Nama adalah doa. Demikianlah kami memberi nama jagoan kami. Doa orangtua kepada buah hatinya. Doa bekal hidupnya.

Ada banyak yang terlibat dalam penentuan nama ini. Keluarga besar turut menyumbangkan nama. Sebagai orangtua muda, kami bersyukur atas anugerah kebaikan ini. Maka, dari antara usulan-usulan yang masuk, Ignatius Verdei Materino lah nama yang kami sematkan dalam jiwa dan raga jagoan kami.

Verdei Materino, dalam bahasa Latin berarti iman yang mendewasakan. Ini doa kami, supaya Rino menjadi simpul iman kami, iman yang mendewasakan. Dalam namanya ada kepasrahan, ada kesabaran, ada keteguhan. Dalam namanya ada harapan, ada cita-cita, untuk mencapai kesejahteraan dalam keluarga. Demikianlah kami memaknai hadirnya Rino, sahabat Yesus yang dipercayakan kepada kami. Rino hadir justru untuk menguji iman kami, justru untuk mendewasakan iman kami.

Dan doa itu seikat dengan nama baptis yang kami pilih: Ignatius.

St Ignatius Loyola

St Ignatius Loyola

Rino lahir 30 Juli, sehari sebelum pesta nama St. Ignatius Loyola. Ignatius Loyola adalah bangsawan Spanyol yang termahsyur karena kekesatriaannya sebagai prajurit. Bisa dibayangkan bagaimana gagahnya sang prajurit ini. Ia berdiri paling depan di medan perang, menghunus lawan tiada ampun. Sampai akhirnya, pertempuran di Pamplona mengubah semuanya. Ia berbalik, dari seorang pendosa menjadi pendoa, dari berperang melawan orang lain menjadi berperang melawan dirinya sendiri.

Ignatius kemudian mendirikan Serikat Jesus, sekumpulan pendosa yang berkehendak menemukan Tuhan dalam segala (finding God in all things). Latihan Rohani Ignatian (Exercitia Spiritvalia Ignatii Loyolae) adalah metode pemeriksaan batin ciptaannya yang kemudian menjadi pegangan para anggota serikat ini –selain juga bagi sahabat serikat. Yang menarik dari latihan rohani tersebut adalah bahwa dunia tidak untuk ditolak, melainkan untuk diterima. Prinsip ini sangat berbeda, bahkan bertolak belakang dari paham-paham lain yang sudah ada. Para anggota Serikat Jesus harus mau masuk dan terlibat dalam urusan duniawi, sebab di situ ada kehendak Allah. Tantangannya justru bagaimana bekerja demi kemuliaan Allah yang semakin besar (ad maiorem dei gloriam). Maka, berkaryalah mereka di ladang yang tak biasa, seperti menjadi dosen, penulis, budayawan, aktivis buruh, dll.

Inilah teladan yang hendak kami hidupkan dalam sosok Ignatius Verdei Materino, penulis kami. AMDG!

yg mahal tangannya apa asesorisnya ya?

yg mahal tangannya apa asesorisnya ya?

Ketegangan antara kutub global dan tradisional makin menjadi-jadi. Bukan saja memperjelas perbedaannya di mana, melainkan juga menyembunyikan kesesatannya. Kalangan yang menyebut diri berwawasan global makin semena-mena mengolok-olok mereka yang dikategorikan sebagai kalangan tradisional. Sedang kalangan yang dijebloskan ke dalam kubangan tradisional tidak berdaya untuk menjawab cibiran yang diarahkan kepadanya.

Arsitek Eko Prawoto menjelaskan fenomena ini dengan sederhana. “Tata kota atau rencana kota seolah tak punya makna. Bermunculan gedung serta bangunan berprinsip ‘suka-suka’ seolah serempak hendak merayakan peluang keterbukaan untuk berpacu masuk dalam budaya global.” Contoh: di semua sudut kota hingga desa kini bertumbuh pesat ruko-ruko dengan bentuk yang sama. Arsitek pun berlomba mengejar nilai proyek, bukan aspek estetika.

Ia menyampaikan kritikan ini pada diskusi mengenang 10 tahun wafat YB Mangunwijaya yang diselenggarakan Kompas dan Dinamika Edukasi Dasar di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Ia geram atas perilaku sejawatnya yang seperti tidak berdaya di hadapan mesin globalisasi. Ia tentu juga gusar atas sikap masyarakat yang menerima begitu saja gerusan budaya ini.

Parameter kulit-material

Secara meluas, virus pembusukan ini memang telah menyebar, baik secara halus maupun secara kasar, baik diserap secara sadar maupun tidak sadar. Cara persebarannya pun enteng; menyerang ego: yang merasa modern ikut saya, yang tidak berarti kuno. Aduh, sekarang ini siapa sih yang tahan dicolok eksistensinya?

Bersamaan dengan serangan ini, dicantumkan pula nilai-nilai baru yang wajib dianut mereka yang mau mengikut. Parameternya materialistik: kebendaan. Orang sukses adalah orang kaya, orang pintar adalah orang berkedudukan, orang baik adalah orang yang suka bagi-bagi uang, orang modern adalah orang yang tubuhnya ditempeli banyak merek.

Dalam bahasa arsitektur, rumah gaya Londo yang magrong-magrong itu simbol kepriyayian. Dalam bahasa bakul, air yang dikemas apik dan dibandrol mahal itu simbol kualitas dan higienitas. Dalam bahasa politisi, caleg yang manis membungkus janjilah yang dipersepsikan akan mampu menjadi wakil rakyat sejati. Dalam bahasa pujangga, kata-kata puitis menjadi cermin orang bijak.

Kata orang pintar: inilah era komodifikasi.

Dalam konteks kenduri kebangsaan, kita kehilangan kebersamaan. Semua mendaraskan doa untuk kepentingan sendiri, atau paling banter untuk kepentingan kelompoknya. Label-label yang merujuk pada pengertian global tersebut makin menyingkirkan mereka yang justru menghendaki terawatnya nilai-nilai tradisi, tanpa hendak memperlawankan dengan nilai-nilai kemajuan. Mereka yang menyatu dengan alam makin ditepikan oleh batu-bata industri. Mereka yang tidak bermerek, yang tidak dekat dengan asosiasi merek tertentu, tidak kebagian meja perjamuan. Sebab, yang tidak bermerek itu murah. Dan yang murah itu jelek. Jelek tidak pantas untuk dihidangkan di pesta, maka dibuang saja.

Hilang dalam kegelapan

Butuh keberanian untuk memposisikan diri di pusaran arus ini. Bukan untuk melawan sama sekali, melainkan untuk lebih menghargai diri. Bukankah kehidupan ini tidak hanya dibangun dari material yang tampak, tetapi juga dari yang tidak tampak, immaterial? Bukankah selain kulit, daging, tulang, dan darah, kehidupan ini berhembus berkat angin, bergulir berkat semangat, dan mencapai kesempurnaan berkat keutamaan?

Bukan tawaran baru memang. Tapi perlu dilontarkan kembali supaya tidak membatu menjadi heritage yang hanya untuk tontonan. “Gantungkan cita-citamu setinggi langit,” pekik Bung Karno. Kenapa tidak setinggi Monas saja ya? Karena sesuatu yang immaterial itu tidak berbatas, membebaskan. Sedangkan sesuatu yang material itu membelenggu.

Kenapa juga Mangunwijaya mendirikan SD Mangunan? Karena ini mau meletakkan watak, karakter. Kenapa membela warga Kedung Ombo? Menata Kawasan Code? Karena setiap manusia punya martabat, tidak boleh diinjak-injak. Watak dan martabat, meski tidak tampak, immaterial, menyatu dalam diri manusia, dengan atau tanpa atribut padanya.

Bangsa kita sedang dalam kegelapan. PHK pecah di mana-mana, kemiskinan makin meluas, bencana alam tak pernah bosan menerjang, dan masih banyak peristiwa buruk lainnya. Gelap sangat pekat. Saking gelapnya, prestasi olahraga, olimpiade fisika, dan prestasi-prestasi anak bangsa lainnya seolah tak mampu menyingkap tabir kegelapan ini.

Apa sih yang tampak dalam kegelapan? Tidak ada. Merek tidak tampak, kemegahan tidak kelihatan. Yang mahal tak ketahuan, yang murah pun tersembunyi. Tidak ada beda global dan tradisional. Tak tampak apa-apa. Hanya ada yang bisa dirasakan: pernapasan, kehangatan, dan kehidupan. Itu yang esensi.

Untuk mencapai tahap itu, yang dibutuhkan hanya keberanian untuk menjadi manusia otentik. Manusia otentik adalah mereka yang menempatkan keluhuran dirinya sebagai pegangan. Mereka mengendalikan atribut, berkualitas karena sinar karakter yang memancar dari budi dan hati.(*)

Next Page »