Mudik, Cium Keringat Ibu

Leave a comment

ooo berok kecil e, jalan cepat mau cium Mama e

Aku ingin pulang padamu Lamalera

Kampung asalku di tepi samudra

O o ooooo

Biar naik berok

Dari Larantuka kota Reinha

Mama Sawu jangan marah

Bawa aku sampai selamat

Reff

ooooo

O Lefo Lamalera

Piring Matahari

O Lefo Lamalera

Anak sayang Ina Lefa

Aku rindu Mamaku

Dengan kara di atas kepala

Jalan di pagi buta ke pasar Wulandoni

O berok kecil e

Jalan cepat mau peluk mama e

O berok kecil e

Jalan cepat mau cium mama e

Ingin kulihat lagi

Lamafa ke tengah lautan

Mengambil kiriman Tuhan

koteklema yang kami tunggu-tunggu

Reff

O Lefo Lamalera

Piring Matahari

O Lefo Lamalera

Anak sayang Ina Lefa

Mengapa orang rela berjejal-jejal naik kapal?

Mengapa anak-anak dibiarkan meronta-ronta saat mengantri naik kereta?

Mengapa mereka bersuka-cita menyusur pantura, menunggang sepeda motor kreditan, berbasuh debu, bersahabat dengan lelah dan maut, setiap lebaran tiba?

Mengapa mudik? Kembali ke udik?

Apa yang mereka rindukan dari tanah udik? Tidakkah hidup mereka di rantau telah bermandikan cahaya, sementara tanah udik tanah udik miskin papa? Tidakkah tanah rantau telah memanjakan mereka menggelimangi benda-benda, sementara tanah udik masih bergelimang bebatuan?

Rupanya, ada kegalauan yang hanya bisa ditebus di tanah udik. Haus akan masa kecil yang bersahaja –huh, yang sengsara. Haus akan masa muda yang otentik –huh, yang lugu. Tanah udik, yang tertinggal di belakang peradaban itu ternyata menyimpan deposito rasa yang hanya bisa diambil saat jatuh tempo. Bau tanahnya beda dengan bau beton. Bau keringat Ibu tak terganti bau parfum.

Tanah udik, kaya sejuta rasa, kering yang melunasi dahaga. Mereka perlu pulang supaya hidup mereka di rantau kembali berkilau.

Salam udik,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Keterangan:

Ivan Nestorman, bermusik menduniakan kampung Flores

1. Lagu “Aku ingin pulang” di atas diciptakan dan dinyanyikan oleh Ivan Nestorman, musisi asal Manggarai, Flores, yang tinggal di pinggiran Kali Malang, Jakarta Timur. Sedang dalam proses rekaman, dan akan disertakan dalam buku tentang Lamalera yang akan segera diterbitkan.

2. Lamalera adalah kampung (lefo) nelayan di ujung timur Flores. Perlu menyeberang laut Sawu dari Larantuka ke Reinha, menumpang perahu (berok) untuk menjangkau kampung berbendera merah-putih yang belum terjangkau listrik dan sinyal telepon selular itu. Kampung ini terkenal dengan tradisi penangkapan ikan paus (koteklema) yang dipimpin oleh seorang lamafa. Wulandoni adalah nama pasar tradisional yang masih mempertahankan pertukaran barang dengan barang (barter) dalam bertransaksi.

Gambar sampan dipinjam dari sini.

Gambar Ivan Nestorman dicuplik dari sini.

Advertisements

Sungkem, Caos Sembah Pangabekti

Leave a comment

kaleburna ing dinten riyadi punika

Lebaran identik dengan tradisi sungkem. Usai shalat Ied, yang muda sowan kepada yang wreda, yang murid sowan kepada yang guru. Datang membungkuk, melangkah sambil berjongkok, atur sembah lalu bersimpuh di lutut, untaian kata-kata mengalir dari bibir.

Usai itu, yang disowani ganti bicara. Kedua tangan ditumpangkan di bahu yang sowan bersimpuh. Lalu peluk-cium. Lega.

Apa isi adegan itu? Sekadar meminta maafkah? Sekadar memberi maafkah?

Dalam tradisi Jawa, dialog yang bertukaran di peristiwa sakral itu berbunyi demikian:

Kula sowan wonten ing ngarsanipun Ibu

Sepisan, caos sembah pangabekti

mugi katur ing ngarsanipun Ibu

Ongko kalih, mbok bilih wonten klenta-klentunipun

atur kula saklimah

tuwin lampah kula satindak

ingkang kula jarag lan mboten kula jarag

ingkang mboten ndadosaken sarjuning panggalih

Mugi Ibu kersa maringi gunging

samodra pangaksami

Kula suwun kaleburna ing dinten riyadi punika

Lan ingkeng putra nyuwun

berkah saha pangestu

Saya datang menghadap Ibu

Pertama, menghaturkan sembah sujud

semoga diterima Ibu

Kedua, apabila ada kekeliruan

ungkapan saya sepatah

serta tindakan saya selangkah

yang saya sengaja maupun tidak saya sengaja

Yang tidak berkenan di pikiran dan perasaan

Semoga Ibu mau memberi maaf

sedalam, laksana samudera

Saya berharap lebur di hari raya ini

Dan saya mohon doa restu

Sejurus kemudian, yang disungkemi akan membalas lembut. Biasanya sambil membungkuk-merengkuh:

Semono uga aku, wong tuwa

uga akeh klera-klerune

Kowe uga ngagungna pangapura

Ora luwih, kowe bisaa

kabul kang dadi ancas

lan dadi gegayuhanmu

Ora luwih, aku wong tuwa

mung bisa ndedonga marang Pangeran

Iya, kowe dak pangestoni

Demikian pula aku, orangtua

juga banyak kekeliruan

Kuminta kamu memaafkan

sedalam, laksana samudera

Tidak lebih, semoga kamu dapat

terkabul apa yang menjadi hasrat

dan menjadi harapanmu

Tidak lebih, aku orangtua

hanya bisa mendoakan pada Tuhan

Ya, kamu kurestui

Sebelum meminta maaf, memberi hormat. Sesudah meminta maaf, memohon berkat. Betapa indah Idul Fitri.

Salam hangat,

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

Gambar sungkem dipinjam dari sini.

Perkara Jawa-Cina

4 Comments

jawa-cina, karya agung

Soal identitas Jawa-Cina kembali diperkarakan Donny Verdian di blog-nya. Entah gerangan apa yang menyulutnya mendudah bincangan lawas ini. Saya tak menemukan pemantik selain bahwa tulisan tersebut dihidangkan untuk bingkisan ulang tahun ke-63 almamaternya, SMA Kolese de Britto, yang juga almamater saya, yang belakangan sedang berkubang dalam sekam pertikaian.

saya bocah gunung, melarat pula

Saya usai membaca kembali Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, 12 tahun sepeninggal penulisnya, ketika topik renta ini berkelebat di layar laptop. Pengakuan Pariyem bertutur tentang “dunia batin seorang wanita Jawa” sebagaimana termaktub di sub judul buku legendaris yang kembali diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini. Prosa lirik ini pertama kali diterbitkan tahun 1981 oleh Penerbit Sinar Harapan, dan pertama kali saya baca sekira tahun 1998, saat-saat kuliah sosiologi di kampus Bulaksumur lebih banyak saya tinggalkan untuk ikut-ikutan demonstrasi sana-sini, usai wartawan Kompas Hariadi Saptono memperkenalkan saya pada sastrawan kelahiran Kadisobo yang setahun sesudahnya mati itu—dan saya belum jadi mengenalnya.

More

Pilih yang Kanan, Cari yang Sepi

2 Comments

Sedang hiruk-pikuk, jalanan oleh para pemudik. Hari ini, enam hari menjelang Idul Fitri 1432 H. Kru-kru stasiun tv sudah mencokolkan diri di titik-titik eksotik. Mereka siap menakjubkan pemandangan kemacetan sebagai tayangan unggulan. Mereka siap menghebohkan keriuhan pasar tumpah sebagai tontonan tumpah iklan.

Rasanya, hari-hari seperti ini sudah menjadi puncak. Bagi yang berpuasa, lebaran adalah perayaan akan keberhasilan mengekang hawa nafsu, sujud paling dalam kepada Allah Sang Ilahi. Bagi yang memburuh, lebaran adalah puncak pengumpulan pundi-pundi; untuk diusung sebagian ke kampung halaman. Bagi yang miskin, lebaran adalah puncak nasib kesrakat; ndomblong meratapi diri kosong melompong.

Baiklah, rayakan saja. Di jalanan, di stasiun kereta, di bandara, di pelabuhan, di pusat-pusat perbelanjaan. Silakan, rayakan. Semua boleh merayakan, berhak merayakan, merasa wajib merayakan. Ya, rayakan saja.

Supaya semua turut merayakan, cara berikut ini boleh dijajal. Saya sudah, tatkala menjadi pemudik bersepeda motor Jakarta-Jogja.

“Pilih yang Kanan, Cari yang Sepi!”

Istilah tersebut saya dapat dari Sr Irmgardis, saat kami menjelajah Timor sekian tahun lalu. Sederhana, dan membekas di hati. Saya coba di sepanjang jalur mudik.

Tatkala bensin menipis, saya tak menepi ke kiri. Saya menyeberang ke kanan. Sepi, lebih cepat terlayani. Beda dengan pompa bensin sebelah kiri, yang dijubeli kendaraan, yang untuk antri saja perlu haus.

Pun saat ingin makan. Karena saya tidak puasa, makan menjadi ritual wajib untuk menjaga daya tahan tubuh. Tidak perlu menunggu lapar. 4-5 jam perjalanan, perut layak diisi. Dan selama di jalur mudik, warung makan bertebaran di mana-mana. Ada warung lawas, ada warung musiman. Semua mereka tentu berharap dagangannya laku.

Faktanya tak selalu begitu. Tak semua warung laku. Entah karena menu yang ditawarkan di spanduk tak menarik, atau tampilan warungnya yang tak mengundang selera, atau nama warung dan menunya tak direkomendasikan di situs-situs jejaring sosial, atau tempatnya tidak strategis, atau…

Setiap pedagang, saya mengingat pesan Sr Irmgardis, pasti ingin dagangannya laku. Supaya laku, mereka pasti membuat dagangannya seenak-sebagus mungkin menurut takaran mereka. Supaya laku, mereka pasti mencari lokasi paling strategis menurut cara pandang mereka.

Bahwa faktanya tak selalu begitu karena takaran mereka beda dengan takaran orang lain. Apa yang mereka yakini enak belum tentu seenak yang dibayangkan pembeli. Jadilah pembeli melengos sesuka hati.

Maka, belajar dari Sr Irmgardis itu pula, saya mencari warung yang sepi. Kali ini tujuannya untuk meratakan rejeki. Mereka juga butuh laku. Mereka juga butuh berlebaran. Yang sudah laku biarlah laku. Yang belum laku, berilah kesempatan untuk laku.

Bahwa kemudian saya mendapati menu yang mereka hidangkan tidak enak, entah keasinan, hambar, atau minumnya teh ampas yang tak puanassss, ini persoalan lain. Kali itu saya memang tak sedang berburu makan enak. Maka, mendapati makanan yang terhidang tak enak, siaplah hati saya. Toh, sesampai di kampung, begitu berlimpah makanan enak.

Pada musim lebaran kali ini, pemandangan seperti itu kiranya tetap ada. Selalu ada warung yang tak laku, berbanding terbalik dengan bus-kereta-pesawat-kapal yang berjubel penumpang meski pengelola sudah mencekik penumpang dengan tarif tinggi. Selalu ada warung di kanan jalan, yang karena orang enggan menyeberang, enggan melirik, enggan bersusah-payah, tak mendapat cipratan THR.

Pilih yang kanan, cari yang sepi. Saya percaya, ada yang mau melakukannya. Sediakan diri menjadi penumpang becak, sesampai di stasiun tujuan. Siapa tahu, Rp 20.000 tarif yang kita sodorkan cukup untuk membeli sirup dan nastar hidangan hari raya. Isi bensin di pedagang eceran, siapa tahu receh yang kita ulungkan sebagai “bathi” jualan mereka cukup untuk menebus motor yang mereka gadaikan.

Selamat berlebaran.

AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com; aakuntoa@gmail.com]

 

Tidur

Leave a comment

Teramat sering saya tidur dalam perjalanan. Juga malam itu.

Usai keliling kota Medan dengan pengangkut kota (bukan angkutan kota seperti telanjur orang pakai), saya merapatkan diri ke pangkalan bus Anugerah di bilangan Pondok Kelapa. Sore menjelang, namun gelap masih enggan datang.

Penjaga loket menyodorkan tiket bernomor kursi 8. “Yang di belakang sopir sudah habis, Bang!” ujarnya. Tak mengapa, toh masih di deretan depan. Cukup untuk sedikit mengintip pemandangan di depan.

Ransel yang memeluk di punggung segera saya lorot ke bawah kursi. Tak cukup saat hendak saya selipkan di bagasi atas tempat duduk. Padahal, isinya tak seberapa banyak. Hanya sekotak komputer jinjing, kamera, satu celana panjang jeans, dua baju berkerah, 3 kaos, dan 3 pasang pakaian dalam. Oh ya, ada koran nasional yang saya beli pagi itu di Bandara Adisutjipto Jogja, yang tak sempat saya baca karena sejak pesawat meninggalkan apron, belum lepas landas, saya sudah lepas kandas ke alam tidur.

Sejak dari Jogja saya sudah tidur. Duduk di kursi “emergency exit”, kebiasaan saya, membuat saya bisa leluasa mematut diri. Kaki bisa selonjor tanpa perlu mengantukkan lutut ke kursi depan. Namanya juga naik pesawat murah, kenyamanan itu ada di dalam kepala. Dan, di dalam dada, alias seberapa besar kita mau bersyukur.

Toh saya tetap bisa tidur. Seperti biasa, urusan tidur tak memerlukan alasan. Dalam segala hal, sedih-gembira, hujan-panas, saya bisa tidur. Seperti tertawa, tak juga memerlukan alasan untuk meledakkannya. Hanya lapar yang bisa membatalkan kantuk.

Tapi pagi itu memang melelahkan. Wajar jika saya tidur. Saya baru tiba dari Semarang, langsung ke bandara. Pagi sekali. Hanya sempat mandi dan—syukurlah—makan.

Kamis, 9 Juni, saya sedang di warung ketika berita itu datang. “Mas Aji stroke, aku harus ke Semarang,” pamit Probo dari seberang telepon. Probo adalah Direktur Nareswari Group, pemilik merek Ayam Bakar Larasati yang sedang kami persiapkan pembukaan cabangnya di Sleman, Yogyakarta. Aji adalah kakak kandung Probo. Pria 35 tahun itu bekerja di Bank Internasional Indonesia di Semarang. Ini serangan stroke pertamanya.

Saya tetap di Jogja, mendampingi tim yang sedang berbenah. Padahal, mestinya kami berbenah bersama mengingat 3 hari lagi warung ke-9 ini akan kami buka.

Nyata, pukul 16.00, setiba di Semarang dari Magelang, usai menempuh perjalanan sekira 2 jam, saat saya menelepon Probo, jawaban yang mencuat, “Nyuwun doane wae, Kun. Pembuluh darah batang otake Mas Aji pecah.” Ups, kami sama-sama terdiam, tahu apa yang tidak kuat kami katakan. Dua jam sesudah itu, kabar menghentak datang. Probo menelepon, “Mas Aji seda.” Babi, begitu kami memanggil Mas Aji, tidur untuk selamanya.

Usai disemayamkan di rumah duka di Semarang, tempat Mas Aji tinggal beserta istri dan dua jagoan kecil, jenazah akan diusung ke rumah orangtua di Magelang. Tengah malam nanti berangkat, berarti subuh tiba.

Tapi rencana berubah. Baru akan esok pagi jenazah diberangkatkan dari Semarang. Aduh, bakal tak bisa melihat wajah Mas Aji untuk terakhir kalinya, batin saya. Akan tidak tenang hati saya kalau itu terjadi. Pribadi kocak, konyol, nan sederhana itu meninggalkan banyak kenangan selama hidupnya.

Jumat pagi saya mesti terbang ke Aceh. Tak mungkin menghadang jenazah di Magelang. Ke Semarang malam itu juga? Sudah 2 hari saya nyaris tidak tidur. Bagaimana jika mengantuk di perjalanan?

Saya punya waktu 3 jam untuk menempuh jarak sekira 220 km. Berangkat 3 jam, pulang 3 jam. 1 jam di sana. Cukup! Cukup! Cukup! Rasa kantuk saya abaikan.

Pulang, ambil mobil, berangkat. Bapak saya ajak untuk menemani, dan mengganti pegang kemudi jika saya mengantuk. Nyatanya, saya tak mengantuk. Ingatan akan Mas Aji seperti menjaga mata saya untuk tak terpejam. Pukul 02.00 wib, tibalah di Semarang. Pribadi yang begitu hangat itu terlelap sudah.

“Selamat jalan, Mas. Damailah dalam tidur panjangmu. Terima kasih atas persaudaraan kita,” batin saya sembari memegang kedua tangannya yang memeluk rosario. Lega hati saya. Lega pula hati saya merangkul Probo yang berusaha tabah atas peristiwa ini. Lega hati saya menjumpai Bapak-Ibu mendaraskan doa tiada henti di samping peti. Kedua anak Mas Aji, tidur pulas di kamar bersama Mbak Lucy, ibu mereka.

Merasa cukup, saya pamit. Langsung kembali ke Jogja, menyibak subuh bersama truk-truk yang berburu pasir di lereng Merapi.

Sampai rumah, mandi, sarapan, dan menyambar tas yang isinya sudah saya siapkan malam sebelumnya, saya langsung meluncur ke bandara. Capek, mengantuk, namun lega. Maka, sepanjang penerbangan Jogja-Jakarta dan Jakarta-Medan saya tidur.

Bahkan, saat bus Anugerah jurusan Medan-Banda Aceh yang saya tumpangi baru berpamitan di gerbang keluar kota Medan, mata saya sudah lebih dulu berpamitan. Tahu-tahu sudah sampai Kota Langsa. Bus menepi, dan menyilakan penumpang bersantap malam. Rupanya di tengah jalan tadi bus menaikkan penumpang sehingga begitu menoleh ada orang di kursi sebelah saya. Sebelumnya kosong.

“Sekitar 3 jam lagi,” jawab sopir saat saya tanya pukul berapa bus tiba di Lhokseumawe. Saya belum pernah ke kota itu. Ini perjalanan pertama saya. Sendiri, hanya mengandalkan informasi dari panitia pelatihan menulis kreatif yang mengundang saya. Saya belum pernah kenal panitia, toh percaya saja pada informasi mereka.

Kelar makan, saya kembali merem. Pendingin udara tak bisa diatur, saya memilih pasrah saja mendekap tas. Dan mendekap malam, sampai ketika terbangun saya terkejut. Jam digital di samping kiri-atas sopir menunjukkan angka 01:15 wib. Sudah lewat 3 jam dari waktu yang disebutkan sopir di perhentian tadi.

Semua lelap. Kondektur yang saya minta membangunkan pun membujurkan diri di belakang kursi paling belakang. Saya melangkah ke depan, bertanya pada sopir.

“Sudah lewat. Tadi kondektur sudah teriak-teriak, Abang tidak bangun,” ah kenapa jadi sopir yang panik.

“Kota terdekat saya turun, Bang,” pinta saya.

Kota terdekat segera menyambut. Bukan kota besar, hanya semacam pasar. Deretan kios yang halamannya terang menunjukkan itu. Saya turun dan menyeberang jalan. Tak tahu saya ada di mana. Tak satu pun papan nama terpampang. Tak ada orang di sekitar itu. Tak ada satu pun warung tampak buka. Tak ada yang bisa saya tanyai.

Saya hanya yakin, pasti ada bus ke arah Medan. Ini kan jalan antarprovinsi, 24 jam ada pengangkut umum. Pengalaman berjalan-jalan ke berbagai daerah seorang diri mengerem jantung untuk tidak usah deg-degan dalam keadaan seperti itu. Bukan kali pertama saya tertidur dalam perjalanan. Bukan kali pertama kali saya nyasar ke tempat entah. Dan bukan kali pertama saya tenang-tenang saja. Inilah kenapa saya memilih perjalanan tengah malam. Esok kan pagi.

Tak berselang lama, datang sebuah bus Anugerah jurusan Banda Aceh-Medan. Saya lambaikan tangan supaya berhenti. Naik lewat pintu belakang, kondektur yang sedang tidur bangun menyambut.”

“Tidak, berdiri saja. Lhokseumawe saya turun,” jawab saya ketika ia menunjukkan bangku kosong di tengah. Ia mengangguk tanda paham ketika saya menunjukkan alamat sebuah hotel tempat saya menginap. “Setengah jam,” katanya. Wow, setengah jam di malam hari, lalu lintas sepi, dan bus melaju seperti kuda troya… jauh juga saya kebablasan.

“Itu di seberang,” tunjuk abang kondektur saat bus berhenti untuk menurunkan saya. Selembar uang bergambar Sultan Mahmudi Badaruddin II berpindah ke tangan abang kondektur.

Sampai juga saya di tempat menginap. Resepsionis segera mengulungkan kunci kamar 318 begitu saya menyebut nama diri. Rupanya panitia sudah memesankan kamar.

Sudah pukul 02.00 ketika saya memasuki kamar. Membilas tubuh secukupnya, saya memutuskan tak tidur. Selain khawatir kesiangan, tidur sepanjang jalan sudah saya anggap cukup. Lebih baik membuka laptop dan menulis. Nomor restoran saya hubungi untuk memesan minum dan makanan ringan. Teh panas seduh plus kentang goreng seporsi besar menemani saya sampai pagi. Tak tidur.

Paginya saya bergegas ke lokasi pelatihan. Bukan di hotel itu. Bukan di kota itu. Tapi di Panton Labu, kota kecamatan di timur Lhokseumawe. Sejam perjalanan naik kendaraan umum. Saya berusaha tak tidur, supaya tak kebablasan lagi.

Sorenya, usai pelatihan, saya kembali ke Kota Lhokseumawe. Mampir sebentar di hotel, sekadar mandi, saya pergi ke tengah kota. Naik becak dengan ongkos Rp 7.000 wib, saya minta diantar ke lapangan Hiraq. Sekadar berjalan-jalan, makan mie aceh, dan minum “Ulee Kareng” khas kota di Aceh Utara itu. Sekadar merasakan suasana kota yang tak pernah tidur karena di mana-mana bertebaran warung kopi. Sekadar merasakan obrolan remeh-temeh sampai serius. Sekadar menyingkap sedikit tabir Aceh yang konon sulit disingkap.

Saya tak tidur sampai subuh. Kopi aceh menjaga mata saya. Bahkan, saat mengisi pelatihan hari kedua pun tak tersapa rasa kantuk. Baru saya tertidur saat menumpang bus malam ke Medan. Baru saya tidur ketika kembali ke Jogja naik tabung ajaib bercap singa mengaum.

 

Akhir Mei

Leave a comment

cek

Lomba Menulis untuk Generasi HTML

Leave a comment

Menjelang lipatan malam, waktu telah mengunci kami untuk selekas mungkin menggunggung angka-angka yang telah kami pungut. Kami menjadi juri Lomba Menulis Cerita Sekolah Tinggi Menulis Jogja (STMJ). Ah, belagu benar kami ini. Tak seorang pun dari kami sastrawan. Alih-alih, kami pembaca partikelir belaka, yang tak saban pagi menengok karya pujangga.

Kami hanya sekumpulan pekerja kreatif. Pekerjaan kami berkutat di seputaran ide. Constantinus Elang seorang desainer logo. Banyak logo rancangannya memenangi kontes internasional. Demikian juga Jr Wahyu, yang selain menggumuli desain buku, juga langganan memenangi kontes desain luar negeri. Albert Deby adalah seorang yogi yang memperdalam ilmu soal nama. Ia konsultan nama, baik untuk pribadi maupun korporasi. Di lembaganya, sebuah LSM kemanusiaan, ia menjadi komunikator.

Danu Primanto lain lagi. Basis keilmuannya arsitektur. Basis keahliannya fotografi. Hobinya berjalan-jalan. Foto-foto dan tulisan-tulisan perjalanan ke berbagai daerah di tanah air terpampang di berbagai media. Lara Roselina, satu-satunya perempuan di keanggotaan dewan juri, adalah pembaca sastra yang kuat. Ia menulis buku. Juga menjadi editor dan desainer buku sekaligus.

Sedangkan saya tak jauh-jauh dari mereka. Selain menulis dan menyunting buku, saya juga pelatih penulisan buku. Juga pelatih penulisan jurnalistik, berkat pengalamannya sebagai jurnalis media cetak.

Toh, kecintaan kami pada karya tulis tak perlu diragukan. Setidaknya, keseharian kami di tengah-tengah pusaran arus karya tulis. Jika tak lewat media cetak, kami gemar berselancar di samudera maya.

“Aku pernah baca cerita ini! Hei! Bahkan aku pernah menceritakan ini!” Elang memecah keheningan. Ia mengingat, di mana cerita itu pernah dijumputnya.

Tombol ponsel segera dipencetnya. Ia bergegas ke luar kantor. Sinyal di dalam ruang penjurian seolah turut membeku. Di luar, ia terdengar bercakap-cakap dengan seseorang di seberang. Ia ingin memastikan ingatannya.

“Benar! Ini soal dalam sebuah psikotes!” wajah Elang berbinar. Tidak dengan kami. Kami tertegun, ada peserta yang hendak mengecoh. Nyaris saja naskah itu lolos ke podium pemenang.

Di seberang sambungan telpon yang lain, Albert Deby, yang tidak bisa hadir di sidang penentuan pemenang karena tersandera pekerjaan kantor, menyalakan sinyal peringatan.

“Kurasa, naskah itu terjemahan,” sungutnya. Kami pun menelisik kembali naskah yang ditunjuknya. Penulisnya seorang pelajar SMP. Bahasanya bagus, jauh lebih matang dari bahasa remaja seumurannya. Bukan remaja tak boleh dewasa, sebagaimana pula kaum dewasa banyak juga yang menjadi penulis remaja, namun sebuah ketidakwajaran mencubit kepekaan kami.

Kami, sebisa mungkin, mencermati setiap naskah dari kemungkinan penjiplakan. Sangat besar harapan kami, setiap peserta menyodorkan hasil karya mereka.

Saya memiliki banyak catatan tentang penyelenggaraan lomba ini. Banyak yang menarik, tak sedikit yang menjengkelkan. Dan beberapa di antaranya boleh saya bagikan di sini.

Para pemalas

Bagian menjengkelkan dulu. Begitu publikasi lomba kami sebarkan lewat jejaring internet, email ke redaksi di penuhi pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu. Mereka menanyakan hal-hal remeh-temeh, seperti: minimal tulisan berapa halaman, kapan batas waktu penyerahan naskah, atau …

Pemalas benar orang-orang ini. Sungguh menjengkelkan. Mereka menanyakan hal-hal yang sudah jelas terpapar di pengumuman yang kami sebar. Saya bersungut-sungut, inikah wajah “generasi gadget” yang serba cepat, terburu-buru, dan tidak cermat? Jika iya, betapa memprihatinkan. Malu bertanya sesat di jalan. Asal bertanya, memalukan!

Belum lagi, pertanyaan-pertanyaan tidak kreatif seperti ini: bagaimana kalau tidak punya kartu pelajar, bagaimana cara mengirimkan foto lewat email, atau boleh-tidaknya mengirimkan tulisan yang sudah dipublikasikan di blog/FB. Ini pulakah wajah “generasi html” yang serba mudah, lalu kehilangan daya kreativitas?

Older Entries Newer Entries