Menjadi Pelega Dahaga Pemudik

Leave a comment

diculik dari: http://cetak.kompas.com/read/2010/09/06/16462047/menjadi.pelega.dahaga.pemudik.

Forum

Menjadi Pelega Dahaga Pemudik

Senin, 6 September 2010 | 16:46 WIB

Oleh AA KUNTO A

Ritus mudik kembali datang. Tahun 2010 ini, menurut media massa, diperkirakan jumlah pemudik mencapai angka di atas 16 juta jiwa, 5 juta di antaranya ke Jawa Tengah, dan sekitar 71.000 ke Yogyakarta. Jumlah yang tidak sedikit. Angka itu menjadi istimewa untuk diperhatikan mengingat beberapa situasi yang sejatinya tidak mendukung.

Secara ekonomi, kita sedang diimpit kenaikan harga barang yang menyebabkan kemampuan berbelanja menurun. Secara politik, kita sedang bersitegang dengan Malaysia, tempat banyak saudara kita menjadi tenaga kerja di sana yang cukup menyedot perasaan nasionalisme kita. Secara sosial, sebagian di antara kita sedang dimabukkan oleh perangkat informasi teknologi berupa situs-situs jejaring sosial di internet yang senyatanya telah memudahkan kita untuk mudik kapan pun lewat pertemuan-pertemuan maya dengan kerabat kampung.

Memulangi tradisi

Baiklah, kenyataannya arus mudik fisik tidak bisa dibendung. Jalan-jalan akan kembali dipenuhi kendaraan aneka rupa seperti bus, mobil, dan sepeda motor. Stasiun kereta dan terminal bus pun akan dijubeli penumpang yang menggotong tas-tas besar dan kardus oleh- oleh. Bandara pun akan berubah tak ubahnya limpahan terminal bus.

Pun kita, orang kampung, orang “udik”, turut bersolek menyambut pulangnya kerabat. Aneka acara seperti syawalan dan reuni disiapkan untuk menyatukan kembali balung pisah. Kita berupaya sedemikian rupa supaya saudara-saudara kita merasa nyaman selama berada di kampung halaman.

Yang sebaiknya tak luput kita perhatikan, di belakang arus fisik, ada arus batin yang lebih kuat. Saya pernah merasakannya ketika jadi perantau. Mudik adalah peristiwa yang sangat menggetarkan. Ada kebutuhan yang jauh lebih dalam daripada pertemuan fisik dengan kerabat di kampung. Getaran batin inilah yang menyuntikkan energi luar biasa untuk menembus kemacetan, untuk mengantre tiket jauh-jauh hari dengan harga yang berlipat dari hari biasa, untuk berlelah-lelah menempuh perjalanan jauh. Apa saja kebutuhan tersebut?

Pertama, kebutuhan personal. Kampung adalah perwujudan dari asal, tempat kita berakar. Di kampung, semua watak kita dibentuk. Pondasi dasar hidup kita dibangun di sana. Nilai-nilai kehidupan seperti hormat kepada orangtua, belajar supaya pintar, bekerja keras agar sukses, dan etos-etos lain diproduksi di kampung halaman. Berbeda dengan produksi pabrik yang massif, produksi nilai-nilai tersebut berlangsung begitu personal. Prosesnya sangat berbeda pada setiap orang, maka hasilnya pun begitu khas, tak ada yang sama. Heart made, meminjam pengertian hand made untuk barang kerajinan. Dan, ini bukan barang.

Kedua, kebutuhan sosial. Walaupun begitu personal, ingatan akan kampung halaman adalah juga mengenai ingatan kolektif. Kampung halaman adalah kerumunan, kebersamaan, kebersatuan. Nilai-nilai tenggang rasa (tepa selira), gotong royong, kepekaan terhadap yang miskin papa, dipupuk dalam pengalaman interaktif sesama warga kampung.

Ketiga, kebutuhan spiritual. Lebih dari sekadar personal dan sosial, mudik adalah perjalanan spiritual. Imanen. Semua yang diciptakan dari tanah akan kembali menjadi tanah. Semua yang berasal dari debu akan kembali menjadi debu. Yang semua yang ada akan kembali kepada ketiadaan. Semua yang lahir akan mati, dan lahir kembali sebagai makhluk baru. Fitri, kembali suci. Kepercayaan ini begitu kokoh mengingat hubungannya transendental dengan Sang Pemilik Hidup. Maka, mudik menjadi laku peziarahan yang sublim.

Di perantauan, kebutuhan-kebutuhan tersebut tak selalu tersedia. Bisa jadi hilang, atau setidaknya tersaput nilai-nilai baru yang mengkristal dari perjumpaan dengan perantau-perantau lainnya. Lama- kelamaan mereka menjadi asing terhadap nilai-nilai asalinya. Lebih- lebih yang merantau ke kota besar, semangat kebersamaan tergerus oleh individualisme, solidaritas sosial tergilas konvensi batas- batas hak privat, gotong royong diempas rezim pertukaran ekonomis, dan seterusnya. Atas nama modernitas, mau tak mau mereka tunduk dalam tata nilai yang baru tersebut. Bahkan, tak sedikit di antaranya justru menjadi agen reproduksi nilai-nilai baru tersebut.

Penyembuh dahaga

Sebagai pengembara, pemudik adalah orang-orang haus. Jauh merantau, hati mereka dahaga. Pulang kampung, bagi mereka, sebentuk cara mencari kelegaan. Ada yang tidak cukup justru ketika mereka sudah terjamin kehidupan ekonominya, mapan status sosialnya, melejit karier profesionalnya. Yang tidak cukup adalah ketiga kebutuhan di atas.

Maka, sebagai orang kampung, ada cara pandang yang perlu kita benahi soal pemudik ini. Pembenahan ini perlu kita lakukan supaya kita tidak terjangkiti sindroma inferior-complex, yakni penyakit mental tahunan yang merasa kalah kelas dengan para perantau. Hanya gara-gara kita tinggal di kampung. Hanya gara-gara halaman rumah kita ketamuan mobil mewah. Hanya gara-gara bahasa kita tidak segaul mereka. Jangan keliru. Tidak semua penampilan itu otentik. Tak sedikit yang palsu, yang dikemas sedemikian rupa untuk menjaga gengsi supaya mereka tampak sukses.

Kita adalah oasis di tengah padang gurun perantauan. Sungguh berharganya kita bagi mereka. Sederhana saja yang bisa kita suguhkan kepada mereka, yakni mengembalikan keaslian identitas mereka. Ajak mereka sungkem kepada orang yang lebih tua atau dihormati, walau orang tersebut bukan siapa-siapa; untuk mengimbangi kebiasaan profesional-egaliter yang dominan berlaku di tempat kerja. Juga untuk me-nyata-kan jalinan silaturahmi yang sudah terbangun di jejaring sosial maya.

Ajak mereka berbelanja ke pasar tradisional, dan harus menawar harga; sebagai silih atas kebiasaan mereka bertransaksi kaku lewat uang plastik alias kartu. Ajak mereka berjalan kaki atau bersepeda ke kebun-kebun dan sawah petani, serta membasuh muka di mata air, supaya mereka beroleh kesegaran jiwa yang sempurna.

Selamat menyambut pemudik. Selamat memberi kelegaan.

AA KUNTO A

Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Yogyakarta

Gowes Merdeka: Menaklukkan Tanjakan Terakhir

1 Comment

Pengalaman mengalahkan bayangan. Demikian kata-kata bisa diracik.

Semula, sebagian teman peserta Gowes Merdeka Jogja-Borobudur berniat untuk cukup memancal sepeda sampai di Ancol. Separo jalan. Dalam bayangan mereka, Borobudur teramatlah jauh. Sedari awal, mereka sudah yakin tidak akan sanggup menempuh. “Bolehkah kami ikut jika tidak sampai tujuan?” pinta mereka saat menyodorkan pendaftaran nir formulir.

Tentu saja boleh. Yang tidak boleh, seperti yang saya tulis di pengumuman fesbuk, adalah berhenti di tengah jalan. Kalau mau berhenti harus minggir. Jika di tengah, bisa tertabrak!

Maka, berbondong-bondonglah teman-teman itu ke Bundaran UGM, pagi 17 Agustus 2010, petang sebelum matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 05.00 wib ketika satu per satu mereka menampakkan hidung.

Sudah ada Bang Ugartua Rumahorbo saat saya tiba. Setelan kostum merah-merah khas atlet sepeda lintas nusantara menandai keseriusan abang yang hobi sepedaan ke kantor ini. Masih gelap, dari kejauhan saya tak mengenalinya. Beda sekali penampilannya dengan keseharian sebagai eksekutif Penerbit Erlangga yang termasyur itu.

Dari ujung telpon, Danu Primanto memberi kabar sedang dalam perjalanan setelah memastikan mendapatkan pinjaman sepeda. Entah teman yang mana yang ia perdaya. Yang terang, fotografer situs berita Jogja http://www.tourjogja.com ini datang secara sumringah, dengan wajah sendunya yang senantiasa tampak teduh.

Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ngebut dari arah selatan. “Saya khawatir ditinggal,” bisiknya mendapati jumlah sepeda yang tidak sebanyak yang ia bayangkan. Ia pikir ini event akbar yang bakal diikuti ratusan atau ribuan peserta layaknya acara sepeda gembira yang kerap digelar di Jogja.

Dari arah punggung, turun dari lereng Merapi, dengan satu-satunya sepeda lipat yang ikut, datang Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku Pak Beye dan Istananya (Penerbit Kompas, 2010). Berkaos “45 Tahun Kompas Merajut Nusantara”, ia seperti hendak melanjutkan keikutsertaan dalam gowes Surabaya-Jakarta tempo hari yang sempat diikutinya di sepenggal rute saat peserta melintas di Jogja.

Berturut-turut teman-teman lain datang. Chandra Sena, Laga, Haris, Sugeng, Wompy, dan Bayu, dari Komunitas Gowes Koprol Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ada yang penuh semangat sejak beberapa hari lalu, ada yang baru semalam memutuskan ikut gara-gara dibujuk kiri-kanan.

Ada kejutan. Dua teman cewek ikut serta pula. Kejutannya bukan karena mereka cewek. Bukan pula karena mereka belum pernah bersepeda jauh. Lalu?

Mereka datang tergopoh-gopoh. Dari arah timur. Saya pikir, mereka sedang berpacu dengan matahari –dan mereka menang. Masih gelap saat mereka datang. Saya tidak lekas menyapa karena mereka, Anka dan Yuyut, langsung duduk di bibir boulevard. Anka menyelonjorkan kedua kakinya. Ia menambal kedua lututnya dengan kapas. Ups, ternyata habis terjatuh. “Tadi waktu lewat Jalan Solo, ada orang gila nglempar batu ke kami. Kami jatuh. Yuyut tak luka. Orang gila itu lari mendekat, kami pun lebih dulu lari,” ungkap Anka tanpa meminta iba. Hebat, mereka memutuskan untuk maju terus!

Alhasil, kami pun bersiap. 13 orang bergabung. Beberapa teman lain urung karena berbagai alasan. Ada yang mendadak mendapat tugas kantor. Ada yang lembur mengerjakan tugas ibunya. Ada yang kakinya pegal duluan. Ada yang tak memberi kabar.

Karena belum semua saling mengenal, kami berdiri melingkar. Saling mengenalkan diri sambil menatap wajah-wajah yang belum terbasuh sinar mentari. Pemimpin perjalanan dan penyapu di buntut rombongan pun kami tentukan.

Berangkat!

Kami memasuki kompleks Universitas Gadjah Mada. Terus ke utara, melewati samping Grha Sabha Pramana, lalu berfoto bersama di halaman Balairung. Arsitek kantor pusat UGM tersebut adalah Ir Soekarno, yang memilih untuk meninggalkan karir keinsinyurannya –dan ini tidak pernah dipertanyakan di pelajaran sejarah sekolah kita– untuk  menjadi aktivis kemerdekaan republik, menjadi presiden pertama republik, dan mati sebagai orang buangan presiden kedua republik.

Usai menjunjung sepeda melompati celah pintu pejalan kaki di pagar Balairung, kami menuju Selokan Mataram. Susur selokan pun kami mulai. Ke arah barat. Matahari sudah semburat. Melewati jembatan baru yang melangkahi Kali Code, kami terus menggowes santai ke barat, menyeberangi Jalan Magelang dan Jalan Lingkar Barat.

Begitu lepas dari sana, pemandangan alam mulai dominan menghampiri mata kami. Tidak lagi permukiman yang kami susuri, melainkan bentangan sawah yang menghijau. Air selokan yang coklat pekat, yang mengalir melawan arah kami, seperti mengiringi deras aliran darah di tubuh kami. Penuh semangat!

Di simpang Jalan Cebongan, kami berhenti sejenak di sebuah bengkel sepeda motor yang baru buka seintip pintu. Kami butuh pinjam kunci pas untuk membetulkan roda sepeda Yuyut yang nggesut gara-gara jatuh tadi. Beres!

Jalan beraspal di pinggir Selokan Mataram mulai naik turun sejak itu. Permukaannya mengikuti kontur tanah di sekitar aliran kali irigasi buatan zaman Jepang itu. Sedikit tanjakan memaksa kami menekan pedal lebih tegas. Sedikit turunan memanjakan kami pada udara sangat segar yang boleh kami hirup.

Sampai di ruas Seyegan, sekitar pukul 06.30 wib, kami mulai beriringan dengan adik-adik SMP yang hendak berangkat ke sekolah. Ini tanggal merah. Mereka masuk untuk ikut upacara bendera tujuh belasan. Bangga melihat mereka mau naik sepeda. Hare geneee masih ada yang mau ke sekolah keringetan?

Karena sudah hobi bersepeda, Mas Inu, Bang Ugar, dan Mas Bambang, melaju cepat di depan.  Sedang teman-teman yang lain, karena tidak pernah bersepeda, atau tidak terbiasa melaju di jalan raya (on road), tercecer di belakang. Alhasil, pada titik-titik tertentu kami saling menunggu.

Weh, pit-e antik… pit-e antik,” teriak anak-anak SMP 2 Tempel saat menggumuni sepeda lipat Mas Wisnu, saat kami berhenti di persimpangan selokan dengan jalan raya penghubung Tempel-Klangon. Mungkin ana-anak itu membatin, ada orang sudah gede kok masih mainan sepeda anak-anak.

Usai melewati jalan kampung, karena jalan tepian selokan sudah “habis” kami memasuki kawasan Ancol. Di sini, di Kali Progo ini, kepala Selokan Mataram terletak, sedang ujung ekornya ada Sungai Opak sana, sejengkal dari Candi Prambanan di timur sana.

Semula, sebagian teman hendak berbalik kanan di sini. Namun, pengalaman asyik sepanjang jalan tadi, plus komporan dari kami, mendidihkan adrenalin mereka untuk melanjutkan perjalanan. “Itu tanjakan terakhir kita,” tunjuk saya pada ruas jalan terjal di seberang sungai, menjawab keingintahuan seorang teman yang hendak meyakinkan niatnya. “Tanggung, masa udah sampai sini nggak sekalian ke Borobudur,” teman yang lain tak kalah garang memanas-manasi.

Akhirnya, ditambah bergabungnya dua teman, Andon dan Dedy Kristanto, yang menyusul, tak satu pun penggowes mengayuh mundur pedalnya. Semua maju, tak terkecuali Anka yang lecet lututnya merembeskan darah. Mas Bambang yang puasa saja bersemangat, masa yang lain loyo.

Sepenggal jalan bebatuan menanjak segera kami tempuh untuk meninggalkan Kali Progo ini. Ini tanjakan terjal pertama yang kami hadapi sejak 25 km pertama. Sebagian besar kami terpaksa memperlakukan sepeda kami layaknya sapi yang hendak disembelih. Menuntun sepeda.

Di ujung tanjakan, kelezatan lintasan halus menyambut kami. Dalam nafas yang tersengal-sengal usai menuntun, kembali saya yakinkan teman-teman bahwa di depan sana datar-datar saja. Hanya ada sedikit tanjakan. Bersemangatlah mereka melaju, melewati plang petunjuk arah tempat ziarah “Sendang Sono”.

Tahun lalu, di tanggal yang sama, saya bersepeda sendirian ke kompleks peziarahan Maria itu. Juga melewati sebagian penggal Selokan Mataram. Kali ini, melalui ajakan “iseng-iseng berhadiah” di fesbuk, saya mengajak teman-teman bergabung. Dan ternyata banyak yang berminat.

Ternyata, tanjakan terjal dan turunan curam kembali menyambut kami. Sebagian besar peserta terpaksa kembali bergelayut di samping sepeda. Gigi pedal tak ada lagi yang mau menolong. Gir paling enteng pun sudah putus asa.

Gerutu mulai terlontar. Gerutu yang justru memacu hasrat untuk terus melaju. “Kunto kurang ajar. Katanya tadi tanjakan terakhir. Nggak tahunya masih ada tanjakan lagi,” kami tertawa lepas di sebuah warung kecil di seberang Pasar Japuan-Tanjung Magelang. Jarak peserta terdepan dan terbelakang begitu jauh. Maka kami putuskan beristirahat di sana. Hanya Mas Bambang yang puasa, dan tetap puasa hingga kembali pulang nanti. Kami makan dan minum di warung soto milik ibu berkerudung itu. Ber-14 cuma habis Rp 50.000. Bang Ugar yang traktir.

Rambu-rambu di tengah jalan itu melegakan kami. “Borobudur 7 km”. Saya yakinkan teman-teman jika trek terakhir ini datar-datar saja. Tak ada lagi tanjakan. Nyatanya, sampai di Borobudur, tanjakan terakhir itu tak pernah ada. Walau kemiringannya kecil, tetap saja ada tanjakan.

Namun, syukurlah, walau tak pernah mendapati tanjakan terakhir, tak satu pun peserta menyerah. Tepat pukul 10.00 wib, kami tiba di pintu masuk Borobudur. Sesuai target. Dan untuk turut merayakan hari jadi Republik Indonesia, kami berfoto bersama sembari mengepalkan tangan kiri di atas-depan kepala. Tanpa kibaran bendera merah putih, kecuali bendera milik pengelola. Juga, tanpa sedikit pun emblem atau embel-embel keindonesiaan lain. Kami bercelana pendek, berkaos oblong, jauh dari layak jika harus upacara bendera.

Kelar berfoto di depan papan nama Taman Wisata Candi Borobudur, kami menyusuri jalan kampung di samping kompleks candi Buddha tinggalan Dinasti Syailendra abad ke-8-9 ini. Kami tidak berfoto di dalam kompleks, mendekati candi, karena oleh petugas kami dilarang masuk mengendarai sepeda. Ironis memang, di negara agraris ini, pola hidup orang-orang agraris justru disingkirkan. Tentang pelarangan sepeda ini, silakan baca tulisan saya di sini.

Ya, sudah. Yang penting kami sudah mencapai tujuan. Setelah cukup berpantas muka dengan jepretan kamera, kami pun bergegas kembali ke Jogja. Mampir Candi Mendut. Di siang yang sangat terik. Lewat rute yang minim “tanjakan terakhir”.

Yogyakarta, 18 Agustus 2010

Salam Gowes Merdeka,

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Candi Borobudur TAK ASYIK Dikunjungi

5 Comments

“Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi.”

PS: silakan sebarkan catatan ini ke teman-teman penggowes dan pengelola obyek wisata. mari kita perjuangan supaya Candi Borobudur, dan obyek wisata lain milik bangsa Indonesia merdeka ini, ramah kepada moda transportasi ramah lingkungan.

—————

Tepat pukul 10.00 wib 17 Agustus 2010 tadi, barisan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tiba di tujuan. Di depan papan nama “Taman Wisata Candi Borobudur” kami ber-15 merayakan 65 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Tangan kiri mengepal ke udara.

Hanya di depan papan nama saja. Tidak masuk ke dalam. Sebab, sepeda tidak boleh dibawa serta ke dalam. Harap parkir di luar, di tempat sembarangan penitipan kendaraan.

Menurut petugas jaga, sudah setahun larangan itu berlaku. Ia tidak tahu alasannya. Ah, kemunduran jika begitu. Sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Tidak menyebabkan polusi, selain bau keringat pengendaranya. Ups, bukankah pohon-pohon yang bijaksana itu bersedia menghisap bebauan polutif ini?

Saya kecewa tentu saja. Entah teman yang lain. Memang, peraturan seperti itu kewenangan pengelola lokasi. Silakan saja. Namun, saya punya harapan, ijinkanlah sepeda masuk ke kompleks candi. Tentu, tidak naik sampai ke puncak candi.

Semoga pengelola Candi Borobudur, juga Candi Prambanan dan Ratu Boko membaca ungkapan hati saya ini. Soal ini, saya memperjuangkan betul. Mari kembali hargai sepeda. Juga kendaraan-kendaraan lain yang ramah lingkungan seperti andong dan becak. Hmmm, saya harap Mas Harry van Yogya, tukang becak aktivis fesbuk, membaca ini dan mendukung desakan ini. Turunkan itu rambu-rambu yang melarang andong dan becak masuk kompleks candi. Ini kekayaan negeri kita, negeri yang sudah merdeka 65 tahun! Kok malah disingkang-singkang.

Kalau memang di dalam ada persewaan sepeda, seperti kata teman saya Agustinus Danardono, yang tadi bersama keluarga berkunjung di Borobudur, itu baik. Tetapi melarang sepeda luar masuk hanya supaya orang menyewa sepeda, menurut saya, kuranglah baik. Saya punya saran, kalau penyelenggara berdalih melarang sepeda luar masuk supaya tidak bikin semrawut, “tukar” sepeda kami dengan sepeda sewaan. Bebaskan biaya. Gratis? Ya!

Saya punya alasan, yakni supaya orang senang bersepeda. “Penukaran gratis” tadi hanya sebagai insentif atas kesadaran itu. Jogja-Borobudur hanya 40 km, dan cukup 2 jam saja mengawil pedal, lewat rute-rute yang asyik, betapa menarik jika ada kebijakan semacam ini. Jogja-Prambanan hanya 15 km (10 km dari bandara), 30 menit menggowes, juga bisa lewat rute perkampungan yang asri, asyik buat penduduk lokal dan wisatawan. Ratu Boko hanya 3 km dr Prambanan, dengan medan yang menantang bagi pendepak sepeda gunung.

Ada banyak alternatif yang bisa dipikirkan. Jangan hanya cari uang dengan sedikit-sedikit bayar. Parkir bayar, masuk bayar, pakai sepeda bayar, nyengklak kereta wisata bayar. Ribet amah! Memang, pengunjung harus ditarik bayaran untuk ongkos mengelola obyek wisata. Namun, kembalikanlah pertukaran uang-tiket itu dalam bentuk pelayanan yang mengesankan. Selain candi yang megah berdiri, yang dapat disentuh (tangible), Borobudur adalah obyek wisata yang menjual jasa intangible, yang hanya bisa dirasakan, yang hanya bisa diceritakan. Niscaya, jika cara-cara seperti ini dilakukan, para pengunjung akan dengan rela hati suka cita super gembira ria menjadi juru warta, menjadi juru kampanye obyek wisata kebanggan bangsa ini.

Kalau tidak, celakalah kita akan stempel buruk yang akan melekat. Satu pengunjung, seperti saya, kecewa, kabarnya bisa ke mana-mana. Apalagi jika yang kecewa pengunjung yang punya media, seperti Johanes Waskita Utama, wartawan olahraga Kompas, yang meninggali komentar di status saya “Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi” demikian, “cek ke prambanan juga, le, kayaknya sama aturannya. kalo lagi lomba trus rest di yogya, atlet yg rolling ke prambanan kalo gak salah selalu batal masuk krn gak bisa bawa sepedanya…” Nah lu!

Bersama kami dalam rombongan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tadi ada 2 teman wartawan. Yang satu Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku bagus yang sedang hangat jadi perbincangan “Pak Beye dan Istananya”. Satunya lagi Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen. Belum lagi ada Ugartua Rumahorgo, kepala cabang Penerbit Erlangga. Belum lagi Danu Primanto, fotografer pengelola situs wisata http://www.tourjogja.com/. Belum lagi Dedy Kristanto, peneliti di Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma. Belum lagi Anka, yang ibunya mengelola jaringan wisata Ubud-Bali. Belum lagi Andon, Chandra Sena, Sugeng, Bayu, Yuyut, dan teman-teman lulusan dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang hidup mereka sudah sangat akrab dengan internet dan jejaring sosial, yang kelak mereka akan jadi orang penting di tempatnya masing-masing….

Hmmm, sengaja saya sebut nama-nama mereka untuk menunjukkan betapa penyuka sepeda saat ini berasal dari kalangan-kalangan yang sejatinya justru bisa jadi pemasar potensial. Kepada mereka saya hembuskan kampanye “Candi Borobudur obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi”, terutama oleh pesepeda.

Karena tidak asyik, maka tadi kami memilih untuk melihat Candi Borobudur dari luar, dari kampung sebelah kompleks. Kami berpose di kejauhan, dengan latar belakang Candi Borobudur yang tersohor itu, dengan LATAR DEPAN, sepeda yang kami sohorkan.

——

Untuk bangsaku yang kabarnya sudah merdeka ini, aku rindu mendengar kabarmu sudah benar-benar merdeka.

Salam Gowes Merdeka,

Candi Borobudur TIDAK ASYIK dikunjungi, 17 Agustus 2010 AA Kunto A

[http://www.aakuntoa.wordpress.com/; aakuntoa@gmail.com]

Pergi, Mencari Tantangan Baru

2 Comments

Banyak orang terkejut ketika mendengar saya keluar dari Penerbit Galangpress. Mereka menyatakan keheranannya atas keputusan saya. Bukan sekadar karena begitu mendadak, namun juga karena saya mengambil keputusan tidak lazim: keluar dari kemapanan.

Memang, saya menyatakan keluar dari Galangpress secara mendadak. Sangat mendadak. Namun, ancang-ancang sejatinya telah saya ambil jauh hari. Bagi saya, segala sesuatu harus saya antisipasi. Sikap independen berdiri di atas semuanya. Seorang yang merdeka adalah ia yang berani mengambil keputusan, sekaligus merebut risikonya. Dan saya mengambil keduanya. Baik pada saat keluar dari Galangpress atau ketika 3,5 tahun lalu bergabung dengannya.

Saya ambil keputusan itu Sabtu, 26 Juni. Pada sebuah pagi. Pada sebuah ruang dingin berpenyejuk udara.

Alasan internal tidak akan saya ungkap di sini. Tidak istimewa. Hanya tentang ketidaksesuaian tujuan dan cara antara pekerja dan perusahaan. Dan itu biasa terjadi dalam relasi profesional. Salah satu atau keduanya bisa memutuskan hubungan kerja atas alasan profesionalitas pula. Dalam hal ini, saya yang memutuskan hubungan. Saya mengundurkan diri sebagai karyawan.

Dinamit ini tidak meledak tiba-tiba. Percikan apinya telah bergesek-gesek sedari lama. Ini juga biasa. Dalam relasi apa pun, gesekan itu sesuatu yang lumrah. Bahwa kemudian sumbunya bisa dilipat, dan karenanya api tidak menjalar ke pangkal picu, itu juga biasa.

Begitu pun dalam soal pekerjaan. Gesekan adalah santapan sehari-hari. Kenyang merasakan semua bentuk gesekan. Ada yang bermutu, ada yang kacangan.

Gesekan pula yang mendewasakan. Tinggal bagaimana sudut pandang kita tempatkan. Tinggal bagaimana sudut rasa kita bisikkan. Tinggal bagaimana sudut makna kita letakkan.

Galangpress menyediakan semuanya. Sebagai perusahaan yang sedang dan terus bertumbuh dan berkibar, beragam gesekan menghiasi menu pekerjaan saban waktu. Silih bertukar. Organisasinya masih sangat muda, demikian juga pasukannya –meski dari sisi usia biologis ada yang sudah tua.

Saya menikmati setiap gesekan yang menghunus-hunus. Atas refleks yang dimunculkannya. Atas tepis yang menghardiknya. Juga, atas luka yang diwariskannya. Sangat biasa, apalagi penerbit ini intim sekali bercumbu dengan aneka isu sensitif. Penerbit ini gandrung memantik gesekan. Besutan gesekannya acap menjambak jidat penguasa.

Kadang menegangkan, kadang menggelikan. Menegangkan ketika respon di masyarakat begitu menggulung bagai gelombang tsunami. Menggelikan ketika lemparan gosip murahan dimuntahkan kepada publik pembaca. Terasa sekali, mana yang digarap dengan kesungguhan detil dan mana yang digoreng dengan semangat bermain-main. Juga terasa sekali mana yang ditempa sebagai idealisme dan mana yang ditempa sebagai pragmatisme sekadar mencari keuntungan materi.

Semua saya tahu bobotnya. Sebab, saya terlibat di dalamnya.

Dan setelah semua saya bungkus, saya pamit. Jenuh dengan gesekan yang berdaur ulang, saya pergi mencari tantangan baru.

salam hangat,

AA Kunto A

kunto@nareswari.com

www.aakuntoa.wordpress.com

tantangan baru: www.nareswari.com

Katak Menembus Tempurung

3 Comments

Viktor E Frankl: Man's Search for Meaning

Bagi sebagian orang, penjara tak ubahnya TPA (tempat pembuangan sampah akhir). Laiknya TPA, semua ada di sana: potongan rumput taman, tulang ayam bakar, bangkai tikus, hingga tai anjing. Kotor dan menjijikkan. Bau dan bikin sesak nafas.

Begitu pun penjara. Semua ada di sana: maling knalpot, penipu arisan berantai, pembunuh bayaran, penghisap shabu, hingga koruptor. Stempel “pelaku kejahatan” melekat di jidat mereka. Tak ada yang mau mendekat, kecuali keluarga yang sudah tercoreng mukanya, atau teman karib yang jatuh iba. Cuh… cuh… cuh…

Penjara adalah comberan masyarakat, yang berisi orang-orang buangan. Mereka terhempas dari sangkakala, terompet kabar kematian. Mereka tertimpa palu hukum yang dijatuhkan di meja hijau. Pula, mereka terkucil dari habitat sosialnya.

Dan mereka seperti tak punya hak bersuara. Tak ada saluran kata untuk membela, alih-alih meluruskan. Sudah terkepung tembok tebal, mulut mereka pun disumpal. Bisik-bisik lirih pun tak terdengar dari balik jeruji tembus angin itu.

Di dalam semakin sunyi, di luar makin bergemuruh. Bahwa penjara memang kuburan hidup bagi para pecundang.

Meski begitu, sayup-sayup tetap terkisik kabar bahwa ada nyanyian bisu dari dalam penjara. Viktor Frankl salah satunya. Dalam bukunya Man’s Search for Meaning (1946), ia menuliskan bagaimana pergulatan batinnya di dalam penjara. Baginya, penjara adalah kegelapan yang tak berujung. Tak kelihatan di sana di mana pintu kebebasan itu, jika ada. Dalam kegelapan itu, yang ada justru keterpurukan. Keterkejutan akan kenyataan berada di penjara lama-lama menjadi sikap apatis bahwa memang hanya penjaralah kehidupan yang ada. Alih-alih membayangkan bebas kelak di waktu yang tidak bisa ditentukan, bisa bertahan saja jauh dari harapan.

Toh, bagi Frankl, selalu ada makna yang bisa dipetik dari kegelapan itu. “Then I grasped the meaning of the greatest secret that human poetry and human thought and belief have to impart: The salvation of man is through love and in love,” tulisnya.

Adakah selain Frankl?

Wilson, narapidana politik kasus 27 Juli 1996, mencoba memaknai pengerangkengan tubuhnya dari aspek kemanusiaan. Secara khusus ia mengamati sosok Xanana Gusmao, tokoh fretilin yang diterkam rezim Soeharto karena memimpin gerakan makar pembebasan Timor Timur dari aneksasi Indonesia.

Kamp Nazi: penjara Wirogunan lebih manusiawi

“Ketika saya melihat seorang pemimpin rakyat Timor Timur di penjara, saya melihat bagaimana seorang pemimpin hidup dalam kesederhanaan. Saya mencatat kehidupan sehari-harinya yang tidak diketahui orang lain karena Xanana kan image-nya pejuang gerilyawan, angkat senjata AK 47 atau M16, bawa radio komunikasi, jadi dia seperti membawa simbol-simbol yang menyeramkan. Nah saya menampilkan Xanana sebagai sosok yang lain dalam tulisan-tulisan saya. Misalnya sosok Xanana dalam hal melukis, bermain bola, merawat bonsai, hubungannya dengan napi kriminal, bagaimana dia belajar bahasa Indonesia dari mereka, bagaimana hubungannya dengan petugas administrasi, bagaimana dia membela napi-napi kriminal agar mendapat pelayanan kesehatan yang lebih baik, agar mendapatkan jatah makanan yang lebih baik kualitasnya. Yang dia lakukan jauh lebih banyak ketimbang kami tapol/napol dari Indonesia. Menurut saya hal-hal seperti itu penting untuk diketahui, inilah tipe seorang pemimpin sejati, tidak banyak bicara soal dirinya namun bicara bagaimana dapat membantu orang semaksimal mungkin dalam kondisi yang sangat terbatas. Hal semacam itu tidak banyak saya temui bahkan dari kawan-kawan sendiri walaupun kami sudah mencoba berbuat seperti Xanana,” ujarnya kepada Faizol Reza (Sinar Harapan, 2 April 2005).

Berbekal mesin ketik, yang dicumbuinya 8 jam sehari, ia pun menulis buku penelitian sosial tentang kehidupan di penjara.

Arswendo Atmowiloto pun layak disebut. Napi kasus “Monitor” ini pun mampu menembus tembok penjara lewat mesin ketik yang boleh dibawanya. Ia tetap menulis dari balik teralis. Alhasil, Sebutir Mangga di Halaman Gereja (1994) boleh kita petik. Di penjara pun ia tunai Menghitung Hari (1994).

Katak Menembus Tempurung

Penjara ibarat tempurung. Penghuninya ibarat katak. Orang Belanda punya istilah “Kijken tussen de bomen” untuk mereka yang cara pandangnya sempit, kita mengenal pepatah “bagai katak dalam tempurung”. Demikianlah, penghuni penjara pun ibarat katak dalam tempurung. Hidup mereka terkurung dalam tembok tinggi-berlapis dan berpenjagaan ketat. Mereka tak boleh ke mana-mana. Jadwal keluar sel ditentukan, jadwal makan diatur, jadwal dikunjungi pun dibatasi.

Seperti pagi tadi. Bersama beberapa teman kantor, saya berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta. Kami kerap menyebutnya LP Wirogunan. Kami bertemu Santosa Heru Irianto, kepala lapas, untuk membicarakan rencana pelatihan menulis bagi warga binaan (napi), pekan depan.

Saya mengusulkan tema “Katak Menembus Tempurung” untuk pelatihan menulis yang baru pertama kali diselenggarakan di LP Kelas II A ini. Penjelasan saya seperti uraian di depan. Bahwa penghuni lapas bolehlah terbelenggu fisiknya, namun tidak dengan hati dan pikirannya. Tidak dengan kreativitasnya.

Lewat menulis, para napi bisa menyuarakan kehidupannya secara leluasa. Mereka bisa bercerita bagaimana keseharian di hotel prodeo. Mereka bisa bertutur tentang harapan sehabis masa hukuman dijalani. Mereka bisa bercerita tentang cinta, air mata, dan tawa.

Angkat topi untuk Lapas Yogyakarta yang mulai terbuka akan perubahan zaman. Mereka mulai mengundang beberapa elemen masyarakat untuk terlibat dalam pembinaan para napi. Pintu masuk sudah diubah. Tak perlu lagi menggedor dari pinggir jalan untuk memanggil petugas. Masuk saja. Pelayanan pun dipoles. Lebih ramah.

Paradigma telah mereka ubah. Penjara bukan lagi Alcatras atau Guantanamo. Juga bukan lagi Nusakambangan. Tempat-tempat itu, bahkan, menyiksa katak dalam tempurung, dan membuang bangkai katak.

Tapi penjara adalah Wirogunan, tempat napi boleh menari-nari dengan penanya. Mereka boleh menulis apa saja. Wirogunan bukan tempat sampah, tempat bangkai katak, tapi tempat katak menari-nari menembus tempurung.(*)

Jogja, 9 Maret 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Menggosok Batu Berlian

3 Comments

singgah di museum ullen sentalu, kaliurang, november tahun lalu. kemarin nyepeda, tapi tak motret.

Kamis-Minggu, 25-28 Februari kemarin, saya diundang oleh Signis Indonesia untuk mendampingi pengelola media paroki se-Keuskupan Agung Semarang dalam pelatihan menulis Basic Media and Journalism Training for Community Empowerment di Kaliurang, Jogja, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Komisi Komsos KAS. Saya buatkan catatan sebagai oleh-oleh.

Dengan kacamata baru, batu kerakal bisa jadi berlian. Jumput batu itu, usap debunya. Gosok keras, lagi, dan lagi. Tentu debu berhamburan, mengganggu pernafasan. Tapi tahanlah nafas sebentar dan terus menggosok. Lupakan berkedip. Tekan dengan ujung jari jika permukaan batu telah meramping. Tidak harus keras. Lembut, namun pasti. Ya, bila menggosok melibatkan hati.

Seperti Sabtu pagi tempo hari. Tiga puluhan orang menyerbu kawasan wisata Kaliurang, Jogja. Bukan untuk bikin onar, tetapi untuk menggali kesunyian. Bukan untuk menari-nari menikmati libur panjang akhir pekan, tetapi untuk mengasah kepekaan dalam menemukan batu kerakal yang pantas jadi berlian. Batu itu berserakan di jalanan, juga di pelataran rumah-rumah penginapan. Sebagian lagi terselip di antara rerumputan yang tak pernah dicukur.

Mereka, teman-teman saya dari Sragen, Solo, Klaten, Semarang, dan Jogja itu, tak tahu mana batu yang bisa jadi berlian. Tampak dari kejauhan tak ada kilau di sana. Semua sama saja.

Syukurlah mereka mau mendekat. Melihat lebih dekat. Lebih dekat lagi. Toh tak juga kelihatan. Di tempat asal mereka, batu-batu seperti itu sama saja berserakannya. Kalau beruntung, batu itu diusung lalu ditanam sebagai pondasi rumah. Terkubur selamanya. Kalau sedikit beruntung, batu itu disorong ke halaman rumah sebagai penghias taman, yang jika pemiliknya sedang malas merawat, batu itu terselimuti perdu. Dan kalau apes, batu itu akan disampar ke tengah jalan, jadi sandungan bagi pelintas.

Syukurlah, mereka mau bertekun untuk menemukan batu yang jauh lebih beruntung ketimbang batu-batu itu. Batu berlian. Belum tentu batu itu ada. Jika ada, belum tentu pula batu itu tahu bahwa dalam dirinya ada berlian. Jika pun berlian, belum tentu kualitas nomor satu. Jika bukan nomor satu, siapa yang mau mengempu?

butuh proses mendalam untuk menghasilkan berlian berkualitas

Di Kaliurang, batu itu mewujud dalam rupa penjual jadah-tempe, pisang, sate kelinci, pengelola penginapan, penjaga loket taman bermain, peternak sapi perah, sopir kereta wisata, dan masih banyak lagi. Mereka bertebaran di mana saja, hanyut dalam kesibukan masing-masing. Kadang, mereka pun kadung menyapa orang lewat dalam relasi transaksional. “Jadah-tempenya, Mbak.” “Mari, coba sate kelincinya.” “Salak pondoh, Bu, asli Turi.” “Ampyang kacang, Pak, khas Kaliurang.” “Butuh berapa kamar?” “Kamar mandi dalam, pakai air hangat.” “Dewasa/anak-anak Rp 5.000.” Hanya jika mendatangkan hubungan ekonomis mereka mau membuka diri.

Tak mengapa. Beberapa teman saya justru menjadikan cara itu sebagai pintu masuk untuk mengetahui apakah di dalam diri orang-orang tersebut terdapat berlian. Mereka berperan sebagai pembeli. Membayar, mencicipi, dan menikmati. Sambil duduk, untuk kemudian berbincang. Duduk bersebelah-sebelah, supaya tak saling asing.

Sambil duduk, teman-teman saya mulai menggali informasi. Lewat pertanyaan, pernyataan, pengamatan, pendengaran, penciuman, dan perasaan. Seperti pencari berlian, teman-teman itu mencari siapakah di antara penjual produk wisata itu yang menyimpan pengalaman dan pendalaman hidup berkualitas. Dan tak semua pencari itu menemukan buruannya. Ada yang puas ketika lapisan debu tersingkap, ada yang mentok ketika isi dalam batu makin mengeras, namun ada beberapa yang bersikeras untuk menggosok lebih dalam lagi.

Benar saja, ada berlian di antara batu-batu itu. Baru nyata ketika digerinda dan diamplas. Ada berlian yang berjualan jadah tempe sejak usia menstruasi hingga sekarang di usia senja. Benar-benar berlian. Bahkan di zaman ketika masyarakat sudah terbenam dalam pola konsumsi makanan pabrikan, ia masih mengemas tempe dan tahu bacemnya dengan daun pisang. Ketika barang di mal hanya laku jika SPG-nya memakai rok mini, ibu bercucu ini masih pakai kebaya saat jualan di pinggir jalan berdebu. Tapi ia seperti tak peduli. Yang ia tahu, barang jualannya enak, khas Kaliurang, dan cocok dijadikan oleh-oleh. Pula, tidak mengandung bahan pengawet.

Penjual pisang di bawah pohon beringin arah Telaga Putri juga demikian. Dari rumahnya di Deles, Klaten, punggung timur Merapi, perlu waktu 5 jam untuk sampai di Kaliurang, dada selatan Merapi. Jalan kaki, setiap hari. Baru berangkat, belum pulangnya. Jika laku, belum jika layu karena tak ada pembeli. Menyusuri jalan setapak yang licin, naik-turun, dan tak berpenerangan lampu. Tanpa asuransi, jika jatuh terpeleset. Tanpa kepastian. Toh, ia tetap melakoni jalan hidupnya itu berpuluh tahun lamanya. Untuk sekolah anak-anak, untuk menanak nasi bagi keluarga yang harga berasnya kini jauh melampaui harga pisang jualannya.

Satu lagi berlian ada di penginapan tempat kami berkegiatan. Bukan kebetulan, lagi-lagi seorang ibu. Ia bekerja di dapur, memasak untuk para tamu yang umumnya rombongan. Juga hari itu, memasak untuk kami. Menurut tuturannya, kini tempatnya bekerja makin dijauhi tamu. Sepi. Banyak tamu lebih memilih penginapan yang bangunannya baru. Kenelangsaan ini menindih sejak ibu pemilik wisma itu meninggal beberapa tahun lalu. Ada kenyamanan yang tak lagi dirasakan tamu begitu wisma dikelola oleh sang anak. Keramahan, keluwesan, dan pelayanan prima tak lagi ada. Toh si ibu tetap bertahan. Satu-dua tamu yang ada ia layani dengan penuh syukur. Kekeluargaan sesama karyawanlah yang menguatkannya untuk tak lekas pulang ke kampung halaman menjadi petani.

Siapa sungguh-sungguh berlian?

Belanja batu itu mengasyikkan. Pesona para ibu yang berhasil mereka korek kehidupannya menggiring mereka untuk yakin bahwa para ibu itu sungguh-sungguh berlian. Maka, mereka membungkus kisah para ibu itu dalam tulisan bergaya feature. Tulisan itu mereka tempelkan di dinding kelas untuk dibaca teman-teman yang lain. Menarik, apresiasi sesama teman. Ada kekaguman di antara para peserta karena tidak semua dari mereka dapat melihat batu berharga itu sebagai potensi berlian.

Saya ajak mereka duduk mengendapkan. Bilakah batu-batu itu sungguh berlian? Bilakah batu-batu itu berlian palsu? Yang berkilau di permukaan, namun di dalamnya hanya abu?

Di sinilah ketekunan itu hadir. Sebagaimana berlian yang dihasilkan dari proses penempaan yang keras, dengan tekanan temperatur yang tinggi, proses pengujiannya pun sama kerasnya. Butuh ketekunan untuk menyingkap kejernihan, kadar karat, warna, dan bentuk potongan. Satu kesatuan. Supaya tidak terjebak pada kilaunya saja.

Jogja, 1 Maret 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Hidup Tanpa Belajar?

3 Comments

Hidup untuk belajar. Belajar untuk hidup.

Bagaimana memecahkan rahasia ini? “Untuk apa kita hidup?” tanya manusia muda. Untuk belajar. “Untuk apa kita belajar?” tanya manusia muda lainnya. Untuk hidup.

Kepada orang-orang muda, kerap didengungkan jargon-jargon tentang perlunya belajar. Belajar membaca. Belajar menulis. Belajar berhitung. Belajar menggambar. Belajar mewarnai. Belajar merangkai.

Supaya kelak jadi orang. Orang yang dewasa. Orang yang bijaksana, lebih dari sekadar cerdik pandai. Orang yang wicaksana, lebih dari sekadar wasis.

Belajar di sekolah. Belajar di perguruan tinggi. Dengan buku. Dengan mesin hitung. Beroleh ijazah. Beroleh status sosial.

Padahal sekolah mahal. Padahal harga buku tak selalu terjangkau. Padahal angka kerap dimanipulasi. Padahal tidak banyak guru yang layak digugu dan ditiru.

Di luar sekolah ada juga tempat belajar. Ada sanggar. Ada sekadar sekumpulan orang yang berbincang-bincang. Pada warung kopi. Pada pos ronda. Juga di bawah tenda angkringan. Ah, yang di dalam penjara pun ikut belajar.

Pengetahuan hasil belajar mengendap di kepala, mendarah daging dalam tindakan, dan mengalir dalam olah rasa. Tak berwujud, namun bisa diwariskan. Orang bisa dikenali dari wawasannya. Orang bisa dikenali dari buku yang dibacanya. Kelihatan, siapa belajar siapa hidup sekadarnya.

Lalu, kembali lagi, untuk apa manusia belajar? Hanya untuk dikenali? Hanya untuk tidak hidup sekadarnya?

Apakah keliru jika hidup dijalani sekadarnya? Jika tanpa belajar?

Rahasia kehidupan, siapa yang mau menjawab?

Kaliurang, 26 Februari 2010

AA Kunto A

[aakuntoa@gmail.com; http://www.aakuntoa.wordpress.com]

Older Entries Newer Entries